Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Indonesian Language Competence through Contextual Learning Model at MIS Kertahayu 1: A Classroom Action Research Viky Firmansyah 1. Cepi Septian Pauji 2 1 MIS Kertahayu 1 2 MIS Bantarsari Correspondence: firmansyahviky15@gmail. Article Info Article history: Received Jun 12th, 20xx Revised Aug 20th, 20xx Accepted Aug 26th, 20xx Keyword: Classroom Action Research. Indonesian Language. Contextual Learning Model. Language Proficiency. MIS Kertahayu Student Engagement. Curriculum Development. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to improve students' Indonesian language proficiency at MIS Kertahayu 1 by implementing the Contextual Learning Model. The Contextual Learning Model is an innovative teaching strategy that emphasizes real-world connections and encourages students to apply their knowledge in meaningful contexts. This study was conducted to address the challenges faced by students in understanding and using the Indonesian language effectively. The research involved a group of 30 students from grade 4 who were selected as Data was collected through observations, interviews, tests, and student feedback. The research followed a cyclical process consisting of planning, action, observation, and reflection to ensure continuous improvement in the teaching and learning process. The findings indicate that the implementation of the Contextual Learning Model significantly enhanced studentsAo engagement, understanding, and application of the Indonesian language. Students showed a better grasp of vocabulary, sentence structure, and overall communication skills. Additionally, their motivation and interest in learning increased, as the lessons were more relatable and engaging. The teacher's role shifted from being the central figure to a facilitator, guiding students in exploring language in various real-life contexts. The use of this model also fostered collaboration among students, promoting a more interactive and participatory learning environment. This study concludes that the Contextual Learning Model is effective in improving students' Indonesian language skills and should be integrated into the curriculum at MIS Kertahayu 1. It is recommended that further research be conducted to explore the long-term effects of this model on students' language competence. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan di Indonesia, terutama dalam pembelajaran bahasa Indonesia, menghadapi berbagai tantangan yang perlu segera diatasi. Salah satu masalah utama yang sering dihadapi adalah rendahnya keterampilan berbahasa Indonesia di kalangan siswa, terutama di tingkat Meskipun bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi utama di Indonesia, banyak siswa yang masih kesulitan dalam menguasai dan memanfaatkan bahasa ini secara efektif, baik dalam berbicara maupun menulis. Masalah ini umumnya disebabkan oleh metode pengajaran yang bersifat konvensional dan kurang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga membuat proses belajar bahasa Indonesia terasa membosankan dan sulit dipahami (Budi. Pada kenyataannya, di MIS Kertahayu 1, sebagian besar siswa masih merasa kesulitan untuk menguasai bahasa Indonesia meskipun telah diajarkan oleh guru yang kompeten. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan adanya model pembelajaran yang lebih inovatif dan relevan dengan kehidupan siswa. Salah satu model yang dapat diterapkan adalah Model Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Pembelajaran Kontekstual, yang berfokus pada menghubungkan materi ajar dengan situasi nyata di kehidupan siswa. Pembelajaran kontekstual memberikan kesempatan bagi siswa untuk melihat hubungan langsung antara apa yang mereka pelajari dengan dunia di sekitar mereka. Hal ini, seperti yang disampaikan oleh Siti . , dapat membuat siswa lebih tertarik dan termotivasi karena mereka dapat memahami kegunaan materi yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan model ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa di MIS Kertahayu 1. Pentingnya penguasaan bahasa Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata, terutama karena bahasa Indonesia adalah bahasa pengantar dalam semua mata pelajaran di sekolah. Kemampuan berbahasa yang baik sangat berpengaruh terhadap keberhasilan akademik siswa, tidak hanya dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, tetapi juga dalam memahami dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan di berbagai bidang lainnya. Hanafi . menegaskan bahwa keterampilan berbahasa sangat penting untuk memfasilitasi pemahaman dan keterlibatan siswa dalam mata pelajaran lainnya, seperti matematika, sains, dan studi sosial. Oleh karena itu, penguasaan bahasa Indonesia yang baik pada tingkat sekolah dasar menjadi faktor yang sangat menentukan bagi kesuksesan akademik siswa di masa depan. Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Model ini berfokus pada pengalaman belajar yang melibatkan siswa dalam konteks nyata, sehingga siswa dapat mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari mereka. Menurut Rina . , pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik kehidupan nyata ini akan membuat siswa lebih mudah memahami materi, karena mereka melihat relevansi langsung antara apa yang diajarkan dengan pengalaman mereka. Dengan demikian. Model Pembelajaran Kontekstual berpotensi untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa secara lebih efektif. Konsep dasar dari Pembelajaran Kontekstual adalah bahwa siswa belajar lebih baik jika mereka dapat menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki. Pembelajaran kontekstual ini mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi dalam pemecahan masalah dunia nyata dan berpikir kritis. Ahmad . mengungkapkan bahwa ketika siswa dapat menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan mereka, pemahaman mereka terhadap materi tersebut akan lebih mendalam dan tahan lama. Hal ini tentu saja sangat penting dalam pembelajaran bahasa, di mana siswa harus mampu menggunakan bahasa Indonesia secara tepat dalam berbagai situasi, baik di dalam maupun di luar kelas. Salah satu keunggulan dari Model Pembelajaran Kontekstual adalah peningkatan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran. Berbeda dengan metode pembelajaran tradisional yang cenderung pasif, di mana siswa lebih banyak mendengarkan dan mencatat, pembelajaran kontekstual mendorong siswa untuk berinteraksi langsung dengan materi ajar. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Sari . mencatat bahwa pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dapat meningkatkan motivasi mereka untuk belajar dan mendorong mereka untuk lebih terlibat dalam proses pembelajaran. Ketika siswa merasa bahwa mereka dapat terlibat dalam pembelajaran yang nyata dan relevan, mereka akan lebih bersemangat untuk belajar dan mengembangkan keterampilan mereka. Pembelajaran kontekstual juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar secara Dalam pembelajaran berbasis konteks, siswa sering kali diajak untuk bekerja dalam kelompok, berbagi ide, dan berdiskusi untuk memecahkan masalah yang relevan dengan kehidupan mereka. Dewi . menjelaskan bahwa melalui kerja kelompok, siswa dapat melatih keterampilan komunikasi mereka, baik dalam mendengarkan maupun berbicara. Selain itu, kerja sama ini juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan problemsolving yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran yang kolaboratif ini mengajarkan siswa untuk saling menghargai pendapat orang lain dan bekerja sama menuju tujuan yang sama. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain itu. Model Pembelajaran Kontekstual juga berfokus pada pendekatan yang lebih berpusat pada siswa. Dalam model ini, peran guru lebih sebagai fasilitator yang membantu siswa mengaitkan materi ajar dengan kehidupan nyata mereka. Guru berperan sebagai pemandu yang membantu siswa untuk mengeksplorasi dan menemukan pengetahuan mereka Menurut Joko . , pendekatan ini membuat siswa merasa lebih bertanggung jawab terhadap proses belajar mereka dan meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam menggunakan bahasa Indonesia. Sebagai hasilnya, pembelajaran menjadi lebih bermakna, karena siswa merasa terlibat langsung dalam pencapaian tujuan pembelajaran mereka. Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual di MIS Kertahayu 1 diharapkan dapat membawa perubahan positif dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Sekolah ini sudah memiliki dasar akademik yang baik, namun masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan keterampilan bahasa Indonesia mereka. Dengan mengintegrasikan model pembelajaran yang lebih kontekstual, diharapkan siswa akan merasa lebih tertarik dan termotivasi dalam belajar bahasa Indonesia. Sebagai contoh, hasil penelitian yang dilakukan oleh Widi . menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis konteks dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan memperbaiki keterampilan bahasa mereka secara Salah satu aspek yang tidak boleh diabaikan dalam penerapan Pembelajaran Kontekstual adalah pemanfaatan teknologi. Teknologi pendidikan, seperti aplikasi pembelajaran, platform daring, dan multimedia, dapat digunakan untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat membuat materi ajar lebih menarik dan interaktif. Widi . menyatakan bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran kontekstual dapat membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan memudahkan siswa untuk mengakses informasi yang relevan dengan kehidupan Teknologi juga memungkinkan adanya pembelajaran yang lebih fleksibel, di mana siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatan mereka masing-masing. Selain itu, pembelajaran kontekstual juga mendorong siswa untuk terlibat dalam kegiatan di luar kelas, seperti proyek komunitas atau kunjungan ke tempat-tempat yang relevan dengan materi yang sedang dipelajari. Hal ini tidak hanya membantu siswa untuk belajar bahasa Indonesia secara lebih praktis, tetapi juga memperkaya pengalaman mereka. Joko . mencatat bahwa dengan melibatkan siswa dalam kegiatan di luar kelas, mereka dapat mengembangkan keterampilan bahasa yang lebih terhubung dengan situasi sosial yang nyata. Sebagai contoh, siswa dapat mempraktikkan keterampilan berbicara dengan berbicara kepada masyarakat dalam bahasa Indonesia, yang membuat pembelajaran lebih bermakna dan Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual di MIS Kertahayu 1 diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa. Dengan memanfaatkan pendekatan yang lebih relevan dan berbasis pengalaman nyata, siswa akan lebih termotivasi untuk belajar dan mengembangkan keterampilan bahasa mereka. Hal ini tidak hanya bermanfaat untuk prestasi akademik mereka di sekolah, tetapi juga untuk kemampuan mereka dalam berkomunikasi di dunia nyata. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih jauh penerapan Model Pembelajaran Kontekstual dalam pembelajaran bahasa Indonesia di MIS Kertahayu 1. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa di MIS Kertahayu 1 melalui penerapan Model Pembelajaran Kontekstual. PTK dipilih karena pendekatan ini memungkinkan guru untuk melakukan refleksi dan perbaikan berkelanjutan dalam proses pembelajaran yang Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 dilakukan di kelas. Penelitian ini terdiri dari dua siklus, yang masing-masing terdiri dari empat tahapan: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Siklus pertama difokuskan pada penerapan model pembelajaran kontekstual secara umum, sementara siklus kedua bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan efektivitas pembelajaran berdasarkan hasil refleksi dari siklus pertama (Budi, 2. Subjek penelitian ini adalah 30 siswa kelas 4 di MIS Kertahayu 1 yang dipilih secara purposive, dengan pertimbangan bahwa siswa pada kelompok ini mengalami kesulitan dalam memahami dan menggunakan bahasa Indonesia secara efektif. Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan, dimulai dari persiapan perencanaan hingga evaluasi akhir. Pada setiap siklus, pengumpulan data dilakukan melalui observasi kelas, tes tertulis, wawancara dengan siswa dan guru, serta analisis dokumen hasil belajar siswa. Data ini digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan keterampilan bahasa Indonesia siswa (Rina. Dalam proses perencanaan, guru menyusun rencana pembelajaran yang mengintegrasikan situasi kehidupan nyata yang relevan dengan materi yang akan diajarkan. Pada tahap tindakan, guru menerapkan rencana pembelajaran kontekstual yang telah disusun, dengan menggunakan berbagai metode seperti diskusi kelompok, studi kasus, dan penerapan bahasa Indonesia dalam konteks sehari-hari siswa. Selama tindakan, pengamatan dilakukan untuk menilai sejauh mana siswa terlibat aktif dalam proses belajar dan bagaimana mereka mengaplikasikan bahasa Indonesia dalam situasi yang lebih relevan dengan kehidupan mereka (Ahmad, 2. Pada tahap observasi, peneliti mengamati perilaku siswa selama proses pembelajaran, mencatat tingkat keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar, serta mencatat perkembangan keterampilan bahasa Indonesia mereka. Peneliti juga mengumpulkan data melalui tes tertulis untuk mengukur peningkatan pemahaman dan penggunaan bahasa Indonesia. Selain itu, wawancara dengan siswa dan guru dilakukan untuk memperoleh informasi tentang persepsi mereka terhadap penggunaan model pembelajaran kontekstual dan dampaknya terhadap motivasi serta keterampilan bahasa Indonesia siswa (Dewi, 2. Setelah setiap siklus, tahap refleksi dilakukan untuk menganalisis data yang telah terkumpul dan mengevaluasi efektivitas model pembelajaran kontekstual dalam meningkatkan keterampilan bahasa Indonesia siswa. Berdasarkan hasil refleksi, perbaikan dilakukan pada siklus berikutnya, baik dalam hal perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran. Proses ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik dan lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan bahasa Indonesia siswa di MIS Kertahayu 1 (Siti, 2. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, pengenalan Model Pembelajaran Kontekstual menunjukkan dampak yang signifikan terhadap keterlibatan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Siswa yang awalnya kurang bersemangat mulai menunjukkan minat yang lebih besar saat materi pelajaran dihubungkan dengan situasi kehidupan nyata mereka. Sebagai contoh, ketika guru menggunakan contoh percakapan sehari-hari dalam pembelajaran, siswa lebih mudah memahami dan terlibat dalam diskusi. Hal ini sesuai dengan temuan yang dikemukakan oleh Budi . , yang menyatakan bahwa pembelajaran yang mengaitkan materi dengan kehidupan siswa dapat meningkatkan minat dan perhatian mereka. Siswa yang awalnya cenderung pasif menjadi lebih aktif dalam berdiskusi dan memberikan pendapat, yang menunjukkan adanya perubahan positif dalam keterlibatan mereka. Pada tahap observasi siklus pertama, terdapat peningkatan yang jelas dalam keterampilan berbicara siswa. Siswa yang biasanya merasa canggung dan tidak percaya diri dalam berbicara bahasa Indonesia, mulai menunjukkan keberanian untuk berpartisipasi dalam diskusi kelas. Pembelajaran yang berbasis pada konteks nyata membuat mereka merasa lebih relevan dan tidak terbebani dengan teori semata. Mereka mulai menggunakan bahasa Indonesia dalam Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 konteks yang lebih alami, seperti ketika membahas pengalaman pribadi atau kejadian seharihari yang mereka alami. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan konteks yang familiar dalam pembelajaran dapat meningkatkan keberanian siswa dalam berkomunikasi (Siti, 2. Selain itu, pada siklus pertama, penurunan signifikan terlihat pada kesulitan siswa dalam memahami kosakata dan struktur kalimat yang sebelumnya sulit mereka kuasai. Pembelajaran kontekstual memberikan siswa kesempatan untuk mengembangkan pemahaman mereka dengan cara yang lebih terstruktur dan sesuai dengan situasi yang mereka kenal. Ketika kosakata digunakan dalam konteks yang dapat mereka pahami, mereka menjadi lebih mudah untuk mengingat dan mengaplikasikannya dalam percakapan sehari-hari. Seiring dengan itu, kemampuan siswa untuk membuat kalimat yang lebih kompleks juga meningkat. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang memanfaatkan pengalaman nyata dapat membantu siswa memperluas pemahaman mereka tentang bahasa Indonesia dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari (Ahmad, 2. Pada siklus kedua, perbaikan dalam strategi pembelajaran berdasarkan hasil refleksi dari siklus pertama membawa dampak yang lebih besar. Guru mengidentifikasi beberapa aspek yang perlu diperbaiki, seperti peningkatan variasi dalam metode pembelajaran dan pemberian umpan balik yang lebih sering kepada siswa. Pada siklus kedua, lebih banyak kegiatan berbasis proyek dan kolaborasi yang dilakukan. Misalnya, siswa diminta untuk bekerja dalam kelompok untuk membuat percakapan yang terkait dengan situasi sosial atau budaya yang mereka kenal, seperti percakapan di pasar atau saat acara keluarga. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa, tetapi juga memperkuat kerja sama dan kemampuan siswa dalam menyampaikan pendapat secara tertulis maupun lisan (Dewi, 2. Selama siklus kedua, perubahan signifikan terlihat pada tingkat motivasi siswa. Mereka yang sebelumnya merasa kurang tertarik dengan pelajaran bahasa Indonesia kini menunjukkan antusiasme yang lebih besar terhadap tugas-tugas yang diberikan. Hal ini terjadi karena mereka merasa lebih diberdayakan untuk belajar melalui pengalaman nyata dan interaksi sosial. Salah satu siswa bahkan mengungkapkan bahwa mereka merasa bahasa Indonesia lebih mudah dipahami ketika mereka dapat langsung mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan seharihari mereka. Peningkatan motivasi ini sejalan dengan pendapat Rina . bahwa pembelajaran yang relevan dan kontekstual dapat memotivasi siswa untuk lebih terlibat dalam proses pembelajaran. Terkait dengan kemampuan menulis, siswa juga menunjukkan peningkatan yang signifikan pada siklus kedua. Sebelumnya, banyak siswa yang kesulitan menulis kalimat yang panjang dan struktural dengan benar. Namun, setelah mengikuti kegiatan pembelajaran yang berbasis pada konteks kehidupan mereka, siswa mulai menghasilkan tulisan yang lebih terstruktur dan lebih kompleks. Mereka mulai dapat membuat paragraf yang lebih panjang dengan penggunaan kosakata yang sesuai dan kalimat yang terorganisir dengan baik. Proyek menulis yang dilakukan siswa juga memungkinkan mereka untuk mengekspresikan diri mereka dengan lebih bebas dan kreatif, yang pada gilirannya meningkatkan kemampuan menulis mereka (Joko. Selain itu, pada siklus kedua, ada peningkatan kualitas komunikasi antar siswa. Kolaborasi dalam kelompok memberikan kesempatan bagi siswa untuk saling bertukar ide, memperbaiki kesalahan, dan belajar dari teman-teman mereka. Proses ini meningkatkan kemampuan komunikasi mereka, baik dalam berbicara maupun mendengarkan. Para siswa mulai berbicara dengan lebih lancar dan percaya diri, serta lebih aktif berinteraksi dengan sesama siswa dalam bahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual tidak hanya meningkatkan keterampilan individu, tetapi juga memperkuat keterampilan sosial siswa dalam berkomunikasi (Sari, 2. Selain keterampilan berbahasa, terdapat juga peningkatan dalam aspek sosial dan emosional Dalam pembelajaran yang berbasis konteks, siswa sering diajak untuk berbicara tentang Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 pengalaman pribadi mereka, yang membuat mereka merasa dihargai dan didengar. Proses ini membangun rasa percaya diri dan memberi siswa ruang untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka dalam bahasa Indonesia. Meningkatnya rasa percaya diri ini berkontribusi pada keberhasilan mereka dalam belajar bahasa. Seiring dengan itu, siswa juga menunjukkan empati terhadap teman-teman mereka, yang tercermin dalam cara mereka bekerja sama dalam kelompok (Widi, 2. Meskipun banyak kemajuan yang tercatat, beberapa tantangan masih tetap ada pada siklus Misalnya, beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam menerapkan beberapa kosakata yang lebih rumit dalam kalimat yang lebih panjang. Namun, kesulitan ini dapat diatasi melalui pendekatan yang lebih bervariasi dan penggunaan alat bantu visual yang mendukung pemahaman siswa. Melalui pemanfaatan teknologi, seperti aplikasi pembelajaran bahasa, siswa dapat lebih mudah memvisualisasikan penggunaan kosakata dalam konteks yang lebih konkret dan menarik. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengatasi kesulitan bahasa secara lebih efektif (Dewi, 2. Secara keseluruhan, penerapan Model Pembelajaran Kontekstual di MIS Kertahayu 1 telah menunjukkan hasil yang sangat positif, terutama dalam meningkatkan keterampilan berbicara dan menulis bahasa Indonesia. Pembelajaran yang menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari siswa terbukti lebih menarik dan efektif dalam membantu mereka memahami dan menguasai bahasa Indonesia. Siswa yang sebelumnya kesulitan dalam menggunakan bahasa Indonesia kini menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam berbagai aspek, termasuk komunikasi, kosakata, dan kemampuan menulis. Hal ini menunjukkan bahwa Model Pembelajaran Kontekstual dapat menjadi solusi efektif dalam meningkatkan keterampilan bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar (Budi, 2. Perubahan yang terjadi juga tidak hanya pada keterampilan berbahasa, tetapi juga pada perkembangan sosial dan emosional siswa. Pembelajaran yang berbasis pada konteks kehidupan mereka memberikan kesempatan bagi siswa untuk lebih mengenal diri mereka sendiri dan teman-teman mereka. Ini mengarah pada peningkatan interaksi sosial dan kerjasama antar siswa. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Indonesia tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pengembangan keterampilan sosial yang penting untuk masa depan siswa. Pembelajaran kontekstual mengajarkan siswa untuk berkomunikasi dengan lebih baik dan bekerja dalam tim, yang merupakan keterampilan penting yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari mereka (Rina, 2. Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual ini juga memberikan dampak positif pada motivasi belajar siswa. Pembelajaran yang relevan dan mengaitkan materi dengan situasi nyata membuat siswa merasa lebih terlibat dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Mereka merasa bahwa bahasa Indonesia bukan hanya sekadar pelajaran yang harus dipelajari, tetapi juga alat yang dapat mereka gunakan untuk berkomunikasi dengan lebih efektif dalam kehidupan sehari-hari. Dengan meningkatnya motivasi ini, siswa menjadi lebih aktif dalam belajar, dan ini berdampak langsung pada peningkatan hasil belajar mereka (Ahmad, 2. CONCLUSION Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa di MIS Kertahayu 1 melalui penerapan Model Pembelajaran Kontekstual. Berdasarkan hasil observasi dan refleksi yang dilakukan selama dua siklus, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran ini memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia siswa, baik dalam aspek berbicara, menulis, maupun pemahaman kosakata dan struktur kalimat. Siklus pertama menunjukkan adanya perubahan positif dalam keterlibatan siswa selama proses Pembelajaran yang mengaitkan materi bahasa Indonesia dengan situasi kehidupan nyata siswa berhasil menarik minat mereka. Siswa yang sebelumnya kurang Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 bersemangat mulai menunjukkan ketertarikan yang lebih besar terhadap pelajaran. Ketika materi ajar disajikan dengan cara yang lebih relevan dengan pengalaman sehari-hari mereka, siswa merasa lebih mudah untuk memahami dan menggunakan bahasa Indonesia dengan lebih percaya diri. Salah satu temuan utama adalah peningkatan partisipasi siswa dalam diskusi Mereka mulai lebih aktif berbicara dan memberikan pendapat dengan lancar, yang sebelumnya jarang terjadi. Pada siklus kedua, setelah adanya evaluasi dan perbaikan dari siklus pertama, dampak positif yang lebih besar terlihat pada peningkatan keterampilan berbicara dan menulis siswa. Dalam siklus ini, lebih banyak kegiatan berbasis proyek dan kolaborasi yang melibatkan siswa dalam pembuatan percakapan atau dialog yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Metode pembelajaran yang mengutamakan interaksi sosial ini terbukti efektif dalam mendorong siswa untuk berkomunikasi lebih lancar dan lebih terbuka. Mereka tidak hanya mampu menyusun kalimat dengan struktur yang lebih kompleks, tetapi juga menunjukkan kemampuan menulis yang lebih terorganisir dengan baik. Dengan demikian, pembelajaran kontekstual terbukti meningkatkan kemampuan bahasa Indonesia siswa secara menyeluruh. Selain keterampilan berbahasa, model pembelajaran kontekstual juga memberikan dampak positif terhadap aspek sosial dan emosional siswa. Melalui pembelajaran yang berfokus pada pengalaman dan situasi yang mereka kenal, siswa merasa lebih dihargai dan diberdayakan. Ini tercermin dalam peningkatan rasa percaya diri mereka dalam berbicara dan menulis, serta kemampuan mereka untuk bekerja sama dalam kelompok. Kolaborasi antar siswa juga meningkat, dengan mereka saling membantu dalam memecahkan masalah dan berdiskusi mengenai materi pelajaran. Hal ini tidak hanya meningkatkan keterampilan bahasa mereka, tetapi juga membangun keterampilan sosial yang sangat penting bagi perkembangan pribadi Di sisi lain, meskipun banyak kemajuan yang tercatat, beberapa tantangan masih ada dalam penerapan model ini. Salah satu tantangan yang muncul adalah kesulitan sebagian siswa dalam mengaplikasikan kosakata yang lebih sulit atau dalam membuat kalimat yang lebih panjang dan kompleks. Namun, tantangan ini dapat diatasi dengan penggunaan teknik pengajaran yang lebih bervariasi, termasuk penggunaan alat bantu visual dan teknologi pendidikan untuk mendukung pemahaman siswa. Dengan adanya perbaikan dan variasi dalam pendekatan pembelajaran, siswa dapat lebih mudah mengatasi kesulitan tersebut. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Model Pembelajaran Kontekstual sangat efektif dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa di MIS Kertahayu 1. Pembelajaran yang mengaitkan materi dengan kehidupan nyata siswa terbukti meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan keterampilan berbahasa siswa dalam berbagai aspek. Dengan demikian, model pembelajaran ini layak untuk diterapkan lebih lanjut di kelas-kelas lainnya, dan dapat dijadikan sebagai alternatif metode pembelajaran yang lebih menarik dan efektif. Model ini juga membuka peluang untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional siswa, yang sangat mendukung perkembangan holistik mereka sebagai Sebagai rekomendasi, perlu adanya pelatihan dan pendampingan lebih lanjut bagi guru untuk mengoptimalkan penerapan model ini, serta penggunaan teknologi sebagai alat bantu dalam mendukung pembelajaran kontekstual di masa depan. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 REFERENCES