TERAPI AFIRMASI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT SOEHARTO HEERDJAN JAKARTA Abstract STUDI KASUS Salwa Harmalia 1 Sri Atun Wahyuningsih2 * Isnayati3 Buntar Handayani 4 1,2,4 Departemen Keperawatan Jiwa Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia 3Departemen Keperawatan Medikal Bedah. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia Korespondensi: Sri Atun Wahyuningsih *email: sri. atun@akper-pelni. Harga diri rendah merupakan kondisi ketika individu merasa tidak berharga, tidak berarti, dan rendah diri secara berkepanjangan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kurangnya dukungan sosial, ekonomi tidak stabil, kegagalan berulang, serta kehilangan anggota tubuh yang menimbulkan perasaan tidak berguna dan penilaian negatif terhadap diri sendiri. Terapi afirmasi positif merupakan intervensi penting bagi pasien harga diri rendah, di mana individu mengulangi kalimat positif kepada diri sendiri baik secara lisan maupun dalam hati untuk menumbuhkan pikiran positif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh terapi afirmasi positif terhadap peningkatan harga diri pada pasien harga diri rendah. Menggunakan metode penelitian pendekatan deskriptif studi kasus pada dua responden yang diberikan terapi selama lima hari dengan durasi 10 menit setiap sesi. Instrumen penelitian meliputi lembar observasi tanda dan gejala harga diri rendah serta kuesioner Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES). Hasil observasi menunjukkan peningkatan pada Responden I dari skor 10 . menjadi 7 . pada hari ke-3 dan 5 . pada hari ke-5. Responden II meningkat dari skor 12 . menjadi 8 . pada hari ke-2 dan 5 . pada hari ke-5. Skor RSES juga meningkat pada Responden I dari 14 . menjadi 25 . , dan Responden II dari 14 . menjadi 23 . Penelitian ini membuktikan bahwa terapi afirmasi positif efektif meningkatkan harga diri pasien dengan harga diri rendah, serta direkomendasikan untuk diterapkan oleh perawat jiwa dalam praktik keperawatan di rumah sakit jiwa. Kata Kunci: Harga Diri Harga Diri Rendah Afirmasi Positif Diterima: 2 Januari 2026 Diperbaiki: 19 Januari 2026 Dipublikasikan: 31 Januari 2026 E-ISSN Sitasi artikel ini: Harmalia. Wahyuningsih. Isnayati. Handayani. , . Terapi Afirmasi Positif Untuk Meningkatkan Harga Diri Rendah Di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan Jakarta. Volume 2 . , 39-49. https://journal. id/index. php/jkpp PENDAHULUAN Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), merujuk pada individu yang mengalami gangguan kesehatan mental. Sehat jiwa merupakan sehat yang tidak bisa terpisahkan dari kesehatan umum atau fisik, jika tidak sehat jiwa maka akan dapat mempengaruhi kesehatan umum, kesehatan fisik, serta Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 HARMALIA. WAHYUNINGSIH. ISNAYATI. HANDAYANI. , . e-ISSN: 3089-34337 kesehatan pikiran yang tidak bisa berkembang secara baik. (Winarno, 2. Berdasarkan hasil riset Riskesdas tahun 2018 dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Terdapat terjadinya penurunan prevalensi sebesar 2,7% ODGJ di Indonesia dari sekitar 6,7% hingga menurun ke 4,0%. Peringkat ODGJ di Indonesia berdasarkan hasil survei SKI . di peringkat ke 5, dan pada laporan Riskesdas . terdapat di peringkat ke 14 (RI 2018. SKI 2. , berarti terjadi penurunan yang signifikan ODGJ di Indonesia. Harga diri rendah merupakan kondisi yang mencerminkan perasaan negatif terhadap diri sendiri, yang dapat berakibat pada berkurangnya kepercayaan diri, pandangan pesimis, dan rasa tidak berharga dalam kehidupan. Maka dari itu terapi tambahan yang dapat diterapkan dalam asuhan keperawatan kepada pasien dengan harga diri rendah adalah terapi afirmasi positif, terapi ini merupakan teknik yang melibatkan pengucapan, penulisan, atau pendengaran terhadap suatu afirmasi yang dilakukan secara berulang-ulang, dengan tujuan untuk mengubah reaksi negatif menjadi positif dalam diri individu tersebut (Suharli, 2. Pada penelitian Septyanti et al . menunjukkan adanya peningkatan pada skor harga diri. Hal ini dibuktikan dengan adanya kenaikan skor yang terukur. Berdasarkan pengalaman praktik lapangan yang pernah dilaksanakan di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan Jakarta. Peneliti mengamati beberapa pasien ODGJ memiliki harga diri yang rendah, namun mereka belum mampu mengatasi masalah harga diri tersebut melalui intervensi terapi afirmasi positif, peneliti tertarik melakukan penelitian AuAnalisis Intervensi Terapi Afirmasi Positif Untuk Meningkatkan Harga Diri Rendah Dirumah Sakit Soeharto Heerdjan JakartaAy. Tujuan membantu individu yang mengalami rendahnya harga diri secara kronis agar dapat membentuk pola pikir yang positif tentang diri mereka sendiri. METODE Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian dilaksanakan pada 2 orang responden pasien yang mengalami harga diri rendah dirumah Sakit Soeharto Heerdjan Jakarta, selama 5 hari, dimulai pada tanggal tanggal 22-26 Juli 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien dirumah sakit soeharto heerdjan Jakarta yang mengalami harga diri Kriteria inklusi meliputi: . Pasien yang tidak memiliki penyakit pada masalah pendengaran ataupun dalam berbicara, . Pasien berusia 19-55 Tahun, . Pasien yang memiliki skor dari lembar Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) dengan skor <15, . Pasien yang memiliki skor harga diri rendah dengan skor 9-12, . Pasien yang sudah mampu berkomunikasi secara kooperatif, . Pasien yang berada diruang tenang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar kuesioner Rosenberg Self-esteem Scale yang terdiri dari 10 item pernyataan dengan pilihan sangat setuju . , setuju . , tidak setuju . , sangat tidak setuju . untuk pertanyaan favorable atau positif, dan untuk pertanyaan unfavorable atau negatif diantaranya sangat tidak setuju . Poi. , tidak setuju . , setuju . , sangat setuju . Yang berisikan pernyataan tentang penerimaan diri, keyakinan terhaap Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 HARMALIA. WAHYUNINGSIH. ISNAYATI. HANDAYANI. , . e-ISSN: 3089-34337 kemampuan, kepuasan terhadap diri sendiri, dan perasaan rendah diri atau ketidakberhargaan. Validitas instrument telah diuji menggunakan Confirmatory Factir Analysis (CFA) dengan nilai Chi-Square = 15,18. df = 17. p = 0,582. RMSEA = 0,000, yang berarti sesuai dengan teori satu faktor Rosenberg. Prosedur intervensi dilakukan dengan membuat dan memberikan kalimat positif kepada pasien harga diri rendah dan dilakukan berulang-ulang kali berdurasi 10 menit. Pengukuran tanda dan gejala dilakukan sebelum intervensi . re-tes. pada hari pertama dan setelah intervensi . ost-tes. pada hari ketiga dan kelima. Kemudian pengukuran harga diri dilakukan sebelum intervensi . re-tes. pada hari pertama dan setelah intervensi . ost-tes. pada hari kelima. Perlindungan hak responden dilakukan dengan meminta persetujuan tertulis melalui informed consent, menjaga kerahasiaan identitas pasien, serta memastikan tidak ada paksaan selama partisipasi penelitian. HASIL Karakteristik Responden Tabel 1. Karakteristik responden Karakteristik Usia Jenis Kelamin Agama Status Perkawinan Pekerjaan Responden I 27 Tahun Laki-laki Islam Belum Menikah Karyawan Responden II 36 Tahun Perempuan Islam Sudah Menikah Karyawan Sumber : Data Primer . 1 Responden I Responden I bernama Tn. F berusia 27 tahun jenis kelamin laki-laki, lahir di Tanggerang, 24 Mei 1998, beragama islama, suku Sumatera Barat, pendidikan terakhir S1 Kriminologi, pekerjaan sebagai karyawan, status perkawinan belum menikah. Responden I bekerja sebagai karyawan, responden I memiliki hobi dance dan merias wajah, responden I merupakan anak ke-6 dari 10 bersaudara dan tinggal bersama keluarga, responden I memiliki riwayat Human Immunodeficiency Virus (HIV) sejak tahun 2014. 2 Responden II Responden I bernama Ny. P berusia 36 tahun jenis kelamin Perempuan, lahir di Banten, 03 Mei 1989, beragama Islam, suku Banten, pendidikan terakhir S2 Bahasa Indonesia, pekerjaan sebagai karyawan, status perkawinan sudah menikah. Responden II bekerja sebagai pegawai negri, responden II memiliki hobi memasak, responden II merupakan anak ke-1 dari 3 bersaudara dan tinggal bersama keluarga. Kondisi Sebelum Intervensi 1 Responden I Responden I mengatakan bahawasannya jika responden I memiliki masalah ia lebih memilih memendam masalah tersebut dan tidak menceritakan kepada orang sekitarnya karna takut orang lain mengatakan ia tidak mampu menghandel atau menyelesaikan masalahnya sendiri, padahal responden I suka membantu temannya atau lingkungan sekitar yang sedang Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 HARMALIA. WAHYUNINGSIH. ISNAYATI. HANDAYANI. , . e-ISSN: 3089-34337 banyak masalah untuk memberikan solusi atau motivasi, responden I juga mengatakan bahwa dia merasa tidak puas dengan kehidupannya dan tidak puas menjadi laki-laki, dikarenakan responden I tidak bisa memenuhi ekpetasi orang tuanya untuk menjadi dokter, dan responden I tidak puas menjadi laki-laki karena ia pernah dilecehkan pada saat sekolah menengah pertama (SMP). 2 Responden II Dari hasil observasi wawancara kepada Ny. P sebelum dilakukan intervensi terapi afirmasi positif pada responden II didapatkan hasil yaitu responden II merasa bahwa dirinya bodoh, tidak berguna, dan tidak berharga, reponden II juga menyendiri, kontak mata tidak ada, bicara pelan dan lirih, tidak bersemangat, enggan melakukan kegiatan di ruangan. Dikarenakan reponden II dirundung di tempat kerjanya sehingga ia merasa dan sellau berfikir seperti itu kepada dirinya. Kondisi Setelah Intervensi 1 Responden I Tabel 2. Pengajian Konsep Diri Responden I Pengkajian Konsep Diri Gambaran Diri Identitas Diri Peran Ideal Diri Harga Diri : Responden I mengatakan merasa tidak puas dengan tubuhnya, dikarenakan pernah dilecehkan pada saat sekolah menengah pertama (SMP), bagian tubuh yang Responden sukai ialah rambutnya. Responden I sangat suka berhias, dan memasak dirumah. : Responden I mengatakan merasa tidak puas sebagai laki-laki, hubungan dengan teman bermain, kelompok sosial, dan lingkungan sangat baik, peran utama saat sebelum dirawat menjadi tulang punggung keluarga, dan Responden I mengatakan tidak puas dengan kehidupa dan kondisi sekarang karena masih merasa bersalah tidak memenuhi keinginan orang tua yaitu untuk menjadi dokter. Responden mengatakan ia gemar sekali berdandan, dan dance. : sebelum sakit Responden I berperan sebagai seorang anak dan tulang punggung keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, setelah dirawat Responden I merasa sedih dan terus kepikiran soal kebutuhan keluarganya dan Resonden I juga sedih harus istirahat dari kantor : harapan Responden I terkait penyakitnya ingin cepat lebih baik lagi. Responden juga berharap ingin sembuh total dari penyakitnya : Hubungan Responden dengan orang lain sangat baik, tetapi pada orang tua terutama ayahnya, karena tidak mau memenuhi harapan ayahnya untuk menjadi dokter Responden menjadi renggang hubungan dengan ayahnya yang membuat Responden sedih dan merasa bersalah. Responden I diberikan terapi afirmasi positif selama 5 hari. Hasil observasi menunjukkan skor harga diri rendah menurun pada pengukuran observasi tanda dan gejala di hari pertama sebelum dilakukan terapi afirmasi positif diapatkan skor 10, kemudian pada hari ke 3 menjadi 7, dan di hari kelima menjadi 5. Sementara itu, skor Rosenberg self-esteem scale meningkat Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 HARMALIA. WAHYUNINGSIH. ISNAYATI. HANDAYANI. , . e-ISSN: 3089-34337 pada hari pertama ditunjukkan skor 14 kemudian menjadi 23 pada hari ke lima. Yang berarti menandakan peningkatan harga diri menjadi sedang. 2 Responden II Tabel 3. Pengajian Konsep Diri Responden II Pengkajian Konsep Diri Gambaran Diri Identitas Diri Peran Ideal Diri Harga Diri : Responden II mengatakan merasa puas dengan seluruh tubuhnya, dan juga merasa bangga dan menyukai berhias. : sebelum dirawat aktivitas atau peran yang di jalankan sebagai ibu rumah tanggan dan pekerja kantoran, hubungan dengan teman bermain sangat baik, tetapi hubungan dengan keluarga dan teman kantor sangat tidak baik. Responden di kantornya dilakukan tindakan perundungan oleh teman-teman kantornya, dan dirumah Responden tidak memiliki tempat cerita karena suaminya meng-anggap permasalahan yang Responden alami hanyalah sepele. Dan Responden merasa puas sebagai perempuan. Responden II mengatakan gemar memasak, mengurus diri, dan mengurus anak-anak dirumah. : Tugas dan peran dalam keluarga sebelum sakit sebagai ibu rumah tangga dan pekerja kantoran, tetapi saat dirawat Responden merasa sedih dan kangen karena tidak bisa bertemu dengan anak-anaknya. Responden II bangga karena bias mengrus anak dirumah, bias memasak, bisa melakukan pekerjaan rumah dan : Responden hanya ingin di perlakukan oleh orang lain sebagai orang yang berharga, sebagai orang yang di hargai, sebagai orang yang di terima apa adanya oleh lingkugan atau teman kantornya, harapan Responden mengenai penyakitnya saat ini hanya cukup ingin menjalankan aktivitas seperti biasa : Responden II memandang orang lain selama ini memperlakukan Responden seenaknya dan tidak baik terutama teman kantornya. Responden merasa sangat tidak dihargai oleh temannya dan tidak di dengar oleh keluarganya. Responden II diberikan terapi afirmasi positif selama 5 hari. Hasil observasi menunjukkan skor harga diri rendah pada mengukuran observasi tanda dan gejala harga diri rendah di hari pertaman sebelum dilakukkan terapi afirmasi positif diapatkan skor 12, kemudian pada hari ke 3 menjadi 8, dan di hari kelima menjadi 5. Sementara itu, skor Rosenberg self-esteem scale meningkat pada hari pertama ditunjukkan skor 14 kemudian menjadi 25 pada hari ke lima. Yang berarti menandakan peningkatan harga diri menjadi sedang. Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 HARMALIA. WAHYUNINGSIH. ISNAYATI. HANDAYANI. , . e-ISSN: 3089-34337 Perbandingan Skor Pre dan Post Observasi Tanda Dan Gejala Harga Diri Rendah Respoden I Pre Hari Ke-1 Responden II Post Hari Ke-3 Post Hari Ke-5 Gambar 1. 1 Skor Pre dan Post Observasi Tanda Dan Gejala Harga Diri Rendah Berdasarkan gambar 1. 1 menunjukan hasil pada responden I dan II sebelum dilakukan intervensi terapi afirmasi positif dilakukan pengukuran observasi tanda dan gejala harga diri rendah didapatkan hasil responden I pada pertemuan pertama didapatkan hasil skor 10 (Harga Diri Renda. , kemudian pada Responden II pada pertemuan pertama didapatkan hasil skor 12 (Harga Diri Renda. Selanjutnya pada hasil observsi tanda dan gejala harga diri rendah setelah dilakukan intervensi terapi afirmasi positif di hari ke-3 pada responden I didapatkan hasil skor 7 (Harga Diri Sedan. , lalu pada Responden II didapatkan hasil skor 8 (Harga Diri Sedan. Dan selanjutnya pada hasil observasi tanda dan gejala harga diri rendah setelah dilakukan intervensi terapi afirmasi positif pada pertemuan ke-5 pada responden I didapatkan hasil skor 5 (Harga Diri Sedan. , dan pada responden II Skor Pre dan Post Peningkatan Harga Diri. Menggunakan Rosenberg SelfEsteem Scale Responden I Resonden II Pre Post didapatkan hasil skor 5 (Harga Diri Sedan. Gambar 1. 2 Skor Pre dan Post Harga Diri Pada gambar 1. 2 menunjukkan hasil dari kedua responden sebelum dilakukan intervensi terapi afirmasi positif pada hari pertama saat dibandingkan menunjukkan skala yang sama yaitu dengan skor 14 (Harga Diri Renda. , yang mengartikan responden berada pada tingkat kualitas hidup yang rendah berdasarkan penilaian dari Kesioner Rosenberg Self-Esteem. Kemudian dari kedua responden setelah dilakukan intervensi terapi afirmasi positif saat di bandingkan menunjukkan Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 HARMALIA. WAHYUNINGSIH. ISNAYATI. HANDAYANI. , . e-ISSN: 3089-34337 pada responden I didapatkan point 23 (Harga Diri Norma. , dan pada responden II menunjukkan point 25 (Harga Diri Norma. , yang menunjukkan berada pada tingkat kualitas hidup yang tinggi berdasarkan Kuesioner Rosenberg Self-Esteem Scale yang dapat disimpulkan pada grafik di atas menggambarkan pada responden I dan II mengalami peningkatan yang signifikan setelah dilakukan intervensi terapi afirmasi positif dari hari pertama sampai dengan hari kelima. PEMBAHASAN Pada pembahasan dalam penelitian ini akan menyajjikan perbedaan dan perbandingan antara 2 responden untuk menghasilkan kesimpulan mengenai terjadinya harga diri rendah . Karakteristik Responden Usia Responden dalam penelitian ini berada pada usia dewasa awal, yaitu 27 dan 36 tahun. Menurut Ogihara et al, . , harga diri umumnya meningkat pada usia ini, namun kedua responden justru memiliki harga diri rendah. Kondisi ini mungkin dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal seperti pengalaman hidup, tekanan sosial, dan kurangnya dukungan Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan harga diri pada dewasa awal dapat berbeda pada setiap individu. Jenis kelamin Pada karakteristik responden pada penelitian ini Responden I berjenis kelamin laki-laki, dan Responden II berjenis kelamin Perempuan. Menurut penelitian MaAoshum et al, . perempuan cenderung memeiliki harga diri lebih tinggi dibandingkan laki-laki karena lebih terbuka dalam megekspresikan perasaan secara aktif mencari dukungan social ketika menghadapi masalah. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa perempuan lebih sering melakukan perbandingan diri berdasarkan pendapat dan kemampuan, yang dapat berdampak positif maupun negative terhadap harga diri. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perbedaan jenis kelamin berpengaruh terhadap pembentukan dan perkembangan harga diri, karena laki-laki dan perempuan memiliki cara yang berbeda dalam menilai dan merespon pengalaman hidupnya. Status Perkawinan Responden I berjenis kelamin laki-laki dan Responden II perempuan. Menurut Taufiqah . , perempuan cenderung memiliki harga diri lebih tinggi karena lebih terbuka dan aktif mencari dukungan sosial. Kedua responden bekerja sebagai karyawan. Responden I mengalami kesuksesan karier, sedangkan Responden II mengalami perundungan di tempat kerja yang menurunkan harga dirinya. Hal ini sejalan dengan Sejalan dengan penelitian (Friendrich et al, 2. pada penelitian ini mejelaskan bahwasannya perubahan harga diri saat memasuki dunia kerja dapat memengaruhi harga diri pada setiap individu, terkait dengan kesuksesan, lingkungan, dan investasi sosial dalam pekerjaan. Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 HARMALIA. WAHYUNINGSIH. ISNAYATI. HANDAYANI. , . e-ISSN: 3089-34337 Peran Orang Tua (Responden I) Peran orang tua penting dalam pembentukan harga diri, responden I merasa bersalah dan berhutang budi karena ayahnya marah serta mengabaikan saat ia tidak mengikuti keinginan untuk mennjadi dokter. Menurut (Ulya Dkk 2. bahwa dukungan orang tua, seperti memahami keinginan, menghargai keputusan, serta memberikan kesempatan memilih minat, berpengaruh terhadap harga diri anak, kemudian menurut (Han et al 2. tekanan prestasi akademik dapat menurunkan harga diri anak, meningkatkan risiko kegagalan, serta memicu masalah mental seperti depresi dan kecemasan. Lingkungan Sosial (Responden II) Responden II menyebut dirinya mengalami perundunga di tempat kerja secara verbal dan fisik. Akibatnya, ia merasa tidak berguna, bodoh, dan mengalami harga diri berkepanjangan. Hal ini sejalan dengan (Ambarwati dkk 2. bahwa perundungan dapat menurunkan harga diri dan menimbulkan gangguan mental seperti stress, kecemasan, depresi, dan rasa malu. Selain itu menurut (Kurniasari et al 2. menambahkan bahwa perundungan di tempat kerja yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan stres jangka panjang dan hilangnya kepercayaan Konsep Diri Negatif (Responden I dan II) Responden I mengaku lelah mengonsumsi obat angka panjang dan pernah muncul keinginan bunuh diri. hal ini sesuai dengan temuan (Pradipta dkk 2. bahwa konsep diri negatif dapat memicu ide bunuh diri. Sementara itu, responden II merasa tidak aman dirumah maupun dikantor karena tidak memiliki tempat untuk berbagi cerita, ditambah pengalaman perundungan membuatnya semakin tertekan. Selanjutnya pada penelitian (Rompas dkk, 2. menegaskan bahwa perundungan dari teman sebaya atau lingkungan eksternal dapat memunculkan konsep diri yang negatif. Mekanisme Koping (Responden I dan II) Mekanisme koping yang digunakan kedua responden senderung berupa penarikan diri. Mereka memilih mengurung diri, tidur, atau menghindari masalah sebagai bentuk perlindungan. hal ini sesuai dengan (Listiana dkk 2. bahwa menarik diri adalah upaya menghindari komunikasi dengan orang lain. Kemudian (Cruz et al 2. menyebutkan bahwa individu dengan harga diri rendah dapat menggunakan koping positif maupun negatif. Pada koping negatif, strategi yang sering muncul adalah penghindaran dan penarikan diri sosial, sebagaimana ditunjukkan pada kedua responden. Pendidikan (Responden I dan II) Hasil wawancara dan observasi terhadap responden I (S. dan Responden II (S. berpendidikan tinggi, namun keduana tetap mengalami harga diri rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian (Stevani et al 2. yang menemukan gejala harga diri rendah pada responden berpendidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). dengan demikian. Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 HARMALIA. WAHYUNINGSIH. ISNAYATI. HANDAYANI. , . e-ISSN: 3089-34337 tingkat pendidikan tinggi tidak menjamin individu terhindar dari perasaan negatif atau harga diri Faktor Yang Mempengaruhi Faktor Predisposisi Repsonden I faktor predisposisi adalahan harapan orang tua yang realistis. (Setyaningrum et al 2. menjelaskan bahwa tuntutan akademk yang tidak realistis dapat menimbulkan tekanan, ketakutan terhadap kegagalan, stress, depresi, dan menurunnya rasa percaya diri. Pada responden II faktorpredisposisinya adalah pengalaman perundungan di tempat kerja serta faktor biologis, yaitu riwayat gangguan jiwa pada ayahnya. (Safaruddin et al 2. menyatakan bahwa perundungan dtempat kerja adalah tindakan negatif berulang yang menimbulkan rasa tidak berdaya dan tekanan psikologis. Sementara itu menurut (Hariyadi et al 2. skizofrenia tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan dipengaruhi faktor somatogenik, psikogenik, dan sosiogenik. Dalam kasusu responden II, faktor somatogenik berupa keturunan menjadi salah satu pemicu. Faktor Presipitasi Faktor presipitasi pada responden I adalah penyakit HIV yang diderita akibat pelecehan seksual . saat SMP. (Lindayani et al 2. menemukan bawa individu dengan HIV sering mengalami harga diri rendah karena merasa malu, citra tubuh negatif, dan kehilangan peran sosial. KESIMPULAN Hasil penelitian penerapan terapi afirmasi positif pada pasien harga diri rendah di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan Jakarta menunjukkan bahwa awalnya responden mengalami gejala harga diri rendah, seperti perasaan bersalah, penilaian diri yang negatif, serta konsep diri negatif akibat faktor keluarga, dan tekanan sosial. Setelah diberikan intervensi terapi afirmasi positif selama lima hari berturut-turut, tampak perubahan signifikan pada kedua responden, yaitu penurunan tanda serta gejala harga diri rendah dan peningkatan skor Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES). pada responden I meningkat dari 14 menjadi 23, sedangkan responden II meningkat dari 14 menjadi 25. Ini membuktikan bahwa terjadi perbaikan kondisi, di mana harga diri meningkat dari kategori rendah menjadi sedang. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada ibu Ns. Sri Atun Wahyningsih. Kep. Sp. Kep. J selaku dosen pembimbing atas bimbingan dan motivasi yang diberikan. Terimakasih juga disampaikan kepada akademi keperawatan pelni dan Rumah Sakit Soeharto Heerdjan Jakarta yang telah memberikan dukungan, izin, dan fasilitas penelitian. Ucapan terimakasih turut penulis sampaikan kepada pembimbing lapangan atas pendampingan, serta kepada responden I dan responden II yang telah beredia Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 HARMALIA. WAHYUNINGSIH. ISNAYATI. HANDAYANI. , . e-ISSN: 3089-34337 meluangkan waktu, berbagi pengalaman, serta memberikan informasi yang sangat berharga sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. PERNYATAAN BEBAS KONFLIK KEPENTINGAN Pada saat melakukan penelitian tidak terdapat konflik yang timbul. PENDANAAN Peneliti menggunakan dana pribadi untuk kepentingan penelitian. KONTRIBUSI PENULIS Salwa Harmalia: Penulis utama. Konseptualisasi,metodologi,analisis, dan refrensi Sri Atun Wahyuningsih: Menghasilkan ide, konseptualisasi, analisis formal, dan kurasi data. Isnayati: Validasi, analisis formal, dan kurasi data Buntar Handayani: Validasi, analisis formal, dan kurasi data ORCiD ID Salwa Harmalia ORCiD ID: Tidak Tersedia Sri Atun Wahyuningsih ORCiD ID: 0009-0005-7316-0130 Isnayati ORCiD ID: 0009-0005-6290-6785 Buntar Handayani ORCiD ID: 0000-0001-9452-8807 REFERENSI