Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Volume. 3 Nomor. 4 Agustus 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpai. Available online at: https://journal. id/index. php/jbpai Peran Efektif Pondok Pesantren Al- Qurtuby dalam Pembentukan Karakter Santri Atania ZahroAo. Mochammad Syafiuddin Shobirin Universitas K H. Abdul Wahab Hasbullah. Indonesia. Tambakberas Jl. Garuda No. Tambak Rejo. Kec. Jombang. Kabupaten Jombang. Jawa Timur 61419 *Korespondensi penulis: ataniazah@gmail. Abstract. This study aims to analyze the effective role of the Al-Qurtuby Islamic Boarding School in shaping the character of students. As one of the oldest Islamic educational institutions in Indonesia, the Islamic boarding school holds a very strategic position in developing the morals and ethics of the younger generation, especially amidst the increasing moral crisis that is occurring in the modern era. This study uses a qualitative approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation so as to be able to describe the reality of the character formation of students in depth. The results show that the Al-Qurtuby Islamic Boarding School has three main functions: as a transmission of Islamic knowledge, a preserver of Islamic traditions, and a center for the development of prospective ulama (Islamic scholar. These three functions contribute significantly to fostering a character of peace, tolerance, independence, and a sense of responsibility in students. The character formation process is carried out through various methods, including the exemplary behavior of kyai (Islamic cleric. and ustaz (Islamic teacher. , habituation in daily activities, and the provision of educational advice and Supporting factors for the formation of students' character at this boarding school include the students' high internal motivation to learn, maintained discipline, and a conducive Islamic boarding school environment full of religious values. However, this study also identified inhibiting factors, such as student boredom due to busy schedules, limited facilities, and the challenge of adapting to changing times that demand innovation in teaching The implications of this research are that it provides information for Islamic boarding school administrators in designing more effective strategies for developing character education, while also serving as a reference for other Islamic educational institutions wishing to adopt a similar approach. Thus. Islamic boarding schools remain relevant in producing a generation with noble character capable of facing future social and moral Keywords: Character Building Methods. Character Education. Habituation. Islamic Boarding Schools. Role Model Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran efektif Pondok Pesantren Al-Qurtuby dalam membentuk karakter santri. Pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam membangun moral dan akhlak generasi muda, terutama di tengah meningkatnya krisis akhlak yang terjadi pada era modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi sehingga mampu menggambarkan realitas pembentukan karakter santri secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Al-Qurtuby memiliki tiga fungsi utama, yaitu sebagai transmisi ilmu pengetahuan Islam, pemelihara tradisi keislaman, serta pusat pembinaan calon ulama. Ketiga fungsi tersebut memberikan kontribusi signifikan dalam menumbuhkan karakter cinta damai, sikap toleransi, kemandirian, serta rasa tanggung jawab pada diri santri. Proses pembentukan karakter dilaksanakan melalui berbagai metode, antara lain keteladanan kyai dan ustaz, pembiasaan dalam kegiatan sehari-hari, serta pemberian nasihat maupun sanksi yang bersifat mendidik. Faktor pendukung pembentukan karakter santri di pondok ini meliputi tingginya motivasi internal santri untuk belajar, kedisiplinan yang terjaga, serta lingkungan pesantren yang kondusif dan penuh nilai religius. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya faktor penghambat, seperti kejenuhan santri akibat jadwal kegiatan yang padat, keterbatasan fasilitas, serta tantangan adaptasi terhadap perkembangan zaman yang menuntut inovasi dalam metode pengajaran. Implikasi dari penelitian ini adalah memberikan informasi bagi pengelola pesantren dalam merancang strategi yang lebih efektif untuk mengembangkan pendidikan karakter, sekaligus menjadi referensi bagi lembaga pendidikan Islam lainnya yang ingin mengadopsi pendekatan serupa. Dengan demikian, pesantren tetap relevan dalam melahirkan generasi berakhlak mulia yang mampu menghadapi tantangan sosial dan moral di masa depan. Kata Kunci: Keteladanan. Metode Pembentukan Karakter. Pembiasaan. Pendidikan Karakter. Pondok Pesantren Naskah Masuk: Juli 26, 2025. Revisi: Agustus 09, 2025. Diterima: Agustus 23, 2025. Terbit: Agustus 25, 2025 PERAN EFEKTIF PONDOK PESANTREN AL- QURTUBY DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI LATAR BELAKANG Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua yang tetap eksis di Indonesia. Secara langsung maupun tidak langsung, pesantren berperan penting sebagai lembaga pendidikan agama sekaligus pembentuk karakter santri(Besari, 2. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang unik, di mana santri tinggal dan belajar bersama dalam satu lingkungan dengan guru atau pengasuh. Sistem ini memungkinkan transfer ilmu dan pembentukan karakter santri secara intensif. Pendidikan di pesantren terkenal efektif dalam membina akhlak mulia dan menjadikan ajaran Islam sebagai landasan utama dalam setiap aspek kehidupan(Nurul Romdoni & Malihah, 2. Maka hal ini sejalan dengan pesantren sebagai pembentuk karakter santri. Menurunnya etika, moral, dan akhlak di Indonesia adalah sebuah keprihatinan yang nyata, dengan dampak negatif yang meluas di masyarakat. Untuk mengatasi tantangan ini, penguatan karakter dipandang sebagai solusi krusial. Upaya ini dapat dilakukan melalui berbagai jalur pendidikan, baik formal maupun non-formal, termasuk peran penting pondok pesantren(Azizah Nur Aini & Ali Rohmad, 2. Pesantren adalah pusat untuk mendidik umat agar memiliki akhlak yang mulia, dengan tujuan mencetak individu sempurna yang mengikuti akhlak Rasulullah SAW. Maka dari itu mereka berupaya mengembangkan cara berpikir santri, meningkatkan moral, melatih mental, serta menanamkan nilai spiritual dan kemanusiaan. Pesantren juga mengajarkan kejujuran dan etika yang baik, serta membimbing santri untuk hidup sederhana dan berhati bersih. Kini, di tengah gempuran globalisasi, pesantren menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter yang ideal(Firdaus & Kurrohman, 2. Pondok Pesantren Al-Qurtuby telah menunjukkan adanya peran konkret yang dilakukan dalam pembentukan karakter santri. Para santri di Pondok Pesantren Al- Qurtuby ini memiliki sikap dan perilaku yang menggambarkan karakter yang baik. Dalam berinteraksi dengan ustadz atau ustadzah para santri selalau menunduk dan bersalaman sebelum memulai pembicaraan, dan ketika bertemu dengan ustadz atau ustadzah, kakak kelas, dan orang yang lebih tua selalu berbicara menggunakan bahasa yang sopan seperti yang dikatakan oleh ustadzah Risma yang merupakan ketua Pondok Pesantren. Para santri telah diajarkan untuk mandiri dan bertanggung jawab dalam mengemban tugas. Dan pembiasaan baik yang dilakukan untuk mendukung dalam membentuk karakter para santri yaitu kesibukan para santri dengan kegiatan yang ada di Pondok Pesantren seperti setoran Al-QurAoan, les bahasa arab, banjari dll. Selain itu para santri rutin mempersiapkan kegiatan tahunan yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Kegiatan tersebut dikenal degan nama Muhadloroh. Muhadloroh adalah suatu metode dakwah lisan yang dilakukan di lingkungan pesantren. JBPAI - VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Kegiatan ini biasanya diadakan setiap bulan sebagai media bagi santri untuk berorasi, memberikan pidato, atau menyatakan pendapatnya di depan umum. Di Pondok Pesantren ini, muhadloroh termasuk ekstrakulikuler yang wajib diikuti para santri. Biasanya tema yang dipilih seputar peristiwa yang penting atau patut diperbincangkan. Selain muhadloroh Pondok Pesantren juga mengadakan kegiatan lain seperti, penampilan drama, menyanyi, baca puisi, dan lain- lain. Terlepas dari jenis kegiatannya, muhadloroh menjadi wadah santri untuk mengekspresikan dirinya. Literature review pada penelitian ini mengkaji beberapa sumber yang membahas mengenai peran pondok pesantren dalam membentuk karakter santri. Sejumlah penelitian mengindikasikan bahwa pesantren memiliki pengaruh besar dalam pengembangan moral dan etika santri. Menurut(Ayumagara, 2. yang berjudul AuPeran Pondok Pesantren Di Era Globalisasi Dalam Pembentukan Akhlakul Karimah SantriAy penelitian ini membahas tentang peran diri sebagai pengawal dan pelestari nilai- nilai agama serta pesantren juga harus menerapkan diri sebagai pengawal dan pelestari nilai- nilai agama. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh (Maghfiroh, 2. yang berjudul AuPeran Pondok Pesantren Dalam Membentuk Akhlakul Karimah Mahasiswa Santri (Mahasantr. Di Pondok Pesantren Mahasiswi Al- Husna Jember Tahun 2024Aypenelitian ini membahas tentang peran pondok pesantren dalam membentuk akhlakul karimah mahasantri dengan mengajarkan untuk hormat kepada yang lebih tua, menjaga hubungan persaudaraan dan saling tolong menolong. Kemudian penelitian dari. kk, 2. Yang berjudul AuPeranan Pondok Pesantren dalam Pembentukan Akhlak Santri di Pondok Pesantren Keresek As-Salafi Cibatu Kabupaten GarutAy juga membahas tentang peningkatan akhlak santri dilakukan dengan menanamkan pendidikan akhlak, menanamkan nilai dan norma, melalui keteladanan pimpinan pondok pesantren. Dari beberapa penelitian sebelumnya maka pembaharuan dalam penelitian kali ini fokus pada metode yang digunakan dalam pembentukan karakter santri dipondok pesantren. Menyelami secara mendalam bagaimana Pondok Pesantren Al-Qurtuby, dengan karakteristik dan metode uniknya . isalnya terlihat dari dokumentasi kegiatan seperti "Membangun Pondasi Pondok Baru,"Budidaya Ternak Hewan, "Musyawarah Program Kerja,"dll. ), secara konkret mengimplementasikan program dan aktivitas yang berkontribusi pada pembentukan karakter. Serta adanya dokumentasi kegiatan santri yang relevan (Cinta Damai. Kerjasama. Musyawarah. Tanggung Jawab. Pembiasaan Sholat Berjamaah. Muroqobah Seperempat Ju. , menunjukkan bagaimana nilai-nilai karakter diinternalisasikan melalui aktivitas sehari-hari di Secara keseluruhan, yang paling menonjol dari penelitian ini adalah kemampuannya untuk memberikan gambaran detail dan bukti empiris tentang bagaimana Pondok Pesantren PERAN EFEKTIF PONDOK PESANTREN AL- QURTUBY DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI Al-Qurtuby secara spesifik dan efektif menjalankan perannya dalam membentuk karakter santri, bukan hanya secara teoretis, tetapi melalui praktik nyata yang terukur dari berbagai sudut pandang. KAJIAN TEORITIS Pondok Pesantren Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam khas Indonesia yang tumbuh di tengah masyarakat dan telah teruji kemandiriannya. Kata "pondok" dapat diartikan sebagai kamar, gubuk, atau rumah kecil yang sederhana, atau berasal dari kata "funduq" yang berarti ruang tempat tidur . Sedangkan pesantren adalah tempat di mana santri menerima dan mengasah ilmu dari guru, ustadz, atau kyai. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang menerapkan sistem di mana peserta didik tinggal dan hidup dalam satu lingkungan yang sama dengan guru atau pengasuhnya. Pesantren memiliki fungsi sebagai penjaga dan pemelihara nilai agama, lembaga pendidikan yang mengikuti perkembangan zaman, dan agen perubahan di masyarakat. Tujuan pondok pesantren adalah mendidik santri menjadi manusia Muslim yang berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, dan keterampilan sebagai warga negara yang bertaqwa. Unsurunsur penting dalam pondok pesantren meliputi kyai, masjid, santri, pondok, dan pengajaran kitab-kitab klasik. Peran pondok pesantren mencakup sebagai lembaga pendidikan, lembaga dakwah, dan lembaga sosial. Pendidikan Karakter Karakter diartikan sebagai sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Karakter juga merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan. Pendidikan karakter adalah suatu proses pendidikan moral yang bertujuan membentuk karakter dalam diri anak menjadi pribadi yang beretika, berakhlak, bertanggung jawab, dan mandiri. Nilai-nilai pendidikan karakter bersumber dari agama. Pancasila, budaya, dan Tujuan Pendidikan Nasional. Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang konsisten dalam menanamkan nilainilai karakter, seperti cinta damai, toleransi, musyawarah, kerja sama, kepedulian, dan tanggung jawab. JBPAI - VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Penelitian Terdahulu Berikut adalah ringkasan dari penelitian terdahulu yang relevan: Ayumagara. Elda . : Skripsi berjudul AuPeran Pondok Pesantren Di Era Globalisasi Dalam Pembentukan Akhlakul Karimah SantriAy. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukan peran pesantren sebagai pengawal dan pelestari nilainilai agama. Persamaannya adalah sama-sama membahas peran pondok pesantren, namun penelitian ini berfokus pada pembentukan karakter santri. Saepulooh. Asep . : Skripsi berjudul AuPeran Pesantren Dalam Pembentukan Karakter Santri Di Pondok Pesantren As Salaam Panongan Lor CirebonAy. Penelitian ini bertujuan untuk membentuk karakter santri menggunakan metode penataran, pasaran, khitobah, dan ziaroh kubur. Persamaannya adalah sama-sama membahas peran pondok pesantren dan pembentukan karakter santri, sedangkan perbedaannya adalah metode yang digunakan. Aynaini. Qurrotul . : Skripsi berjudul AuPeran Pondok Pesantren Dalam Membentuk Karakter Santri Di Pondok Pesantren Nurul Haramain Nw PutriAy. Hasil penelitiannya menunjukkan pembentukan karakter santri didapatkan melalui pendidikan kepondokan yang mengajarkan santri tidak hanya teori, melainkan juga mempraktikkannya secara langsung. Persamaannya adalah sama-sama membahas peran pondok pesantren dalam membentuk karakter santri, sedangkan perbedaannya adalah lokasi penelitian. Maghfiroh. Lailatul . : Skripsi berjudul AuPeran Pondok Pesantren Dalam Membentuk Akhlakul Karimah Mahasiswa Santri (MAHASANTRI) Di Pondok Pesantren Mahasiswi Al- Husna Jember Tahun 2024Ay. Penelitian ini mendeskripsikan peran pondok pesantren dalam membentuk akhlakul karimah mahasantri dengan mengajarkan untuk hormat kepada yang lebih tua, menjaga hubungan persaudaraan, dan saling tolong menolong. Persamaannya adalah samasama membahas peran pondok pesantren, sedangkan perbedaannya adalah fokus pada pembentukan akhlakul karimah pada mahasantri. Nafilta. Shalicha . : Skripsi berjudul AuPeran Pendidikan Pesantren Dalam Pembentukan Karakter Di Pondok Pesantren TaAomirul Islam Surakarta Jawa TengahAy. Penelitian ini menemukan bahwa setiap pesantren memiliki cara yang bervariasi dalam mengembangkan sistem pendidikan di bawah bimbingan dan pengawasan pengasuh pondok, yang membiasakan santri untuk hidup dengan tata Persamaannya adalah sama-sama membahas peran pondok pesantren. PERAN EFEKTIF PONDOK PESANTREN AL- QURTUBY DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI sedangkan perbedaannya adalah penelitian ini berfokus pada relevansi peran pendidikan pesantren. Shaerasy. Hymnastiar . : Skripsi berjudul AuPeran Pondok Pesantren Dalam Pembentukan Karakter Pada Siswa SMA Sabilurrosyad Gasek MalangAy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi program pendidikan dalam pembentukan karakter siswa SMA. Persamaannya adalah samasama membahas peran pondok pesantren dalam pembentukan karakter, sedangkan perbedaannya adalah fokus penelitian ini pada santri, bukan pada siswa sekolah METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode ini bertujuan untuk memahami fenomena sosial atau manusia secara mendalam melalui gambaran yang komprehensif. Dalam pengumpulan datanya, penelitian kualitatif dapat menggunakan beberapa teknik, salah satunya adalah wawancara. Wawancara merupakan dialog langsung antara peneliti dan narasumber untuk menggali pemahaman lebih dalam mengenai pengalaman, pandangan, dan persepsi mereka terkait topik penelitian. Selain itu, peneliti juga melakukan observasi aktif dengan mengamati dan mencatat perilaku, interaksi, dan konteks yang terjadi di lingkungan penelitian. Penelitian ini menggunakan studi literatur untuk menganalisis dan mengeksplorasi pembentukan karakter santri di era digital pada pesantren. Data dikumpulkan dari berbagai sumber tertulis seperti buku, artikel jurnal, laporan penelitian, dan dokumen pendidikan yang Kami memanfaatkan basis data akademik, kurikulum pendidikan, dan sumber daring untuk mengidentifikasi literatur tentang peran pesantren dalam membentuk karakter santri di era digital(Sugiyono, 2. Penelitian ini menganalisis peran pesantren dalam membentuk karakter santri di era Fokus utamanya adalah bagaimana pendidikan, praktik, dan hasil pembentukan karakter santri dapat diintegrasikan dalam kurikulum dan pembelajaran. Melalui analisis literatur, penelitian ini diharapkan memberikan wawasan mendalam tentang peran pesantren dalam membentuk karakter santri di era digital, serta tantangan yang dihadapi. Pendekatan ini diharapkan menghasilkan pemahaman komprehensif mengenai peran pesantren dalam membentuk karakter santri di era digital(Sugiyono, 2. JBPAI - VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. behind the Obyek dapat dipahami dan perlu digambarkan melalui foto, video, ilustrasi, dan narasi Mengungkapkan makna di balik Makna di balik fenomena dapat diungkap melalui mendalam dan observasi partisipasif Menjelaskan fenomena yang Tabel 1. Langkah-langkah dalam Pengambilan Penelitian Tujuan penelitian kualitatif dapat dilihat dari: Penggambaran obyek penelitian . escribing objec. agar obyek dapat dipahami dan perlu digambarkan melalui foto, video, ilustrasi, dan narasi. Penggambaran ini dapat diterapkan pada peristiwa, interaksi sosial, aktivitas sosial religius, dan sebagainya. Mengungkapkan makna di balik fenomena . xploring meaning behind the phenomen. makna di balik fenomena atau fakta dapat diungkap melalui wawancara mendalam dan observasi partisipasif . articipation observatio. dan menjelaskan fenomena yang terjadi . xplaning objec. fenomena yang terlihat di lapangan seringkali berbeda dari tujuan atau inti permasalahan, sehingga diperlukan penjelasan yang detail, rinci, dan sistematis(Warsono et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil temuan di lapangan yang telah peneliti lakukan di Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah, yang berada di Mojogeneng Kecamatan Jatirejo Kabupaten Mojokerto, pada tanggal 19 Desember 2024 melalui observasi, wawancara dan dokumentasi maka berikut ini akan dipaparkan mengenai peran pondok pesantren dalam membentuk karakter santri antara lain sebagai berikut: Peran Pondok Pesantren Pesantren Al-Qurtuby Dalam Membentuk Karakter Santri Pondok Pesantren sebagai Transmisi Ilmu Pengetahuan Pondok Pesantren Al-Qurtuby fokus menanamkan nilai-nilai karakter esensial pada para santrinya, dimulai dengan cinta damai dan toleransi. Nilai cinta damai diajarkan agar santri dapat hidup rukun, mengendalikan emosi, dan menghindari konflik, sejalan dengan perintah Al-Qur'an untuk berbuat baik. Sementara itu, toleransi diimplementasikan dengan mengajarkan santri untuk menghargai perbedaan latar belakang, suku, dan bahasa. Melalui PERAN EFEKTIF PONDOK PESANTREN AL- QURTUBY DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI pertemanan tanpa diskriminasi, santri dilatih untuk bersikap dewasa dan memahami bahwa menghormati orang lain adalah perbuatan baik. Selain itu, pesantren juga menumbuhkan karakter kerjasama melalui kegiatan praktis seperti Muhadloroh. Dalam kegiatan ini, santri dilatih untuk saling tolong-menolong dan bekerja sama agar tugas dapat diselesaikan dengan cepat dan efektif. Sesuai dengan ajaran Islam, kerjasama diartikan sebagai gotong royong yang tidak melanggar agama. Berbagai kegiatan di pesantren dirancang untuk memperkuat nilai ini, memastikan santri terbiasa bekerja sama dan saling membantu dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tugas individu maupun kelompok. Dapat disimpulkan bahwa peran Pondok pesantren Al-Qurtuby sebagai transmisi ilmu pengetahuan Islam dapat ditemukan dari terdapatnya penyelenggaraan pengajaran pendidikan Islam khas pondok serta penerapan nilai-nilai Islam dalam setiap kegiatannya. Sejalan dengan pendapat dari salah satu penelitian lain bahwa Pesantren berperan penting dalam melestarikan ilmu-ilmu keislaman. Sebagai penjaga warisan ilmu, pesantren fokus pada kajian Islam dan terbukti mampu melahirkan ulama yang berkontribusi pada kemajuan pendidikan di Indonesia (Mita Silfiyasari & Ashif Az Zhafi, 2. Pondok Pesantren Sebagai Memelihara Tradisi Islam Pondok Pesantren Al-Qurtuby melestarikan tradisi Islam melalui kegiatan sehari-hari santri, yang sekaligus menjadi metode pembentukan karakter. Nilai-nilai kearifan lokal pesantren ini tercermin dari kegiatan rutin seperti salat berjamaah, makan bersama, dan kebersihan pondok. Karakter yang dibentuk meliputi kemandirian, di mana santri dilatih untuk mengurus segala keperluannya sendiri, mulai dari urusan pribadi seperti mencuci pakaian hingga melaksanakan tugas-tugas pondok. Selain itu, nilai rendah hati juga ditanamkan melalui gaya hidup sederhana yang diterapkan, mengajarkan santri untuk tidak berlebihan dan terhindar dari sifat sombong, iri, dan dengki. Gambar 1 Musyawarah Membahas Program Kerja JBPAI - VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Gambar diatas menunjukkan bahwa Di Pondok Pesantren Al-Qurtuby, musyawarah menjadi fondasi penting dalam menyelesaikan masalah dan merencanakan setiap kegiatan. Penerapan metode musyawarah ini tidak hanya sekadar formalitas, namun sudah menjadi bagian dari budaya pondok. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ning Mazidatus Saadah, seluruh pengurus pondok secara rutin mengadakan Musyawarah Kerja. Tujuan dari musyawarah ini adalah untuk mendiskusikan dan merencanakan program kerja tahunan secara bersama-sama. Hal ini menunjukkan adanya komitmen yang kuat untuk selalu mengambil keputusan secara kolektif demi kemajuan pondok pesantren. Nilai karakter lain yang penting adalah musyawarah, yang diterapkan dalam berbagai kegiatan seperti Musyawarah Kerja untuk merencanakan program-program pondok. Melalui musyawarah, santri diajarkan untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan mengambil keputusan secara kolektif dalam suasana kekeluargaan. Tradisi ini tidak hanya membantu dalam pengelolaan pondok, tetapi juga melatih santri untuk memiliki sikap Dengan demikian. Pondok Pesantren Al-Qurtuby berhasil memadukan tradisi Islam dengan nilai-nilai kearifan lokal untuk menciptakan santri yang mandiri, rendah hati, dan mampu bermusyawarah, sekaligus tetap relevan di tengah perubahan zaman. (MA Achlami, 2. Pondok Pesantren Sebagai Pusat Pembinaan Calon Ulama dan Penyiaran Islam Pondok pesantren berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam yang berfokus pada pembentukan karakter santri agar menjadi ulama dan benteng umat. Untuk mencapai tujuan tersebut, pesantren menanamkan berbagai nilai, termasuk kepedulian, yang diwujudkan melalui sikap tolong-menolong dan perhatian terhadap lingkungan. Selain itu, nilai tanggung jawab diajarkan kepada santri pengurus yang bertugas membimbing santri lainnya, melatih mereka menjadi teladan dalam hal disiplin dan manajemen waktu. Selain kepedulian dan tanggung jawab, nilai kesabaran juga menjadi fokus utama dalam pendidikan di pesantren. Nilai ini dilatih melalui kebiasaan sehari-hari seperti mengantre saat makan atau mandi, yang mengajarkan santri untuk menahan diri, bersikap teratur, dan tertib. Menurut (Khoerurotussaadah et al. , 2. mengimplementasikan kesabaran memberikan banyak manfaat, seperti membuat hidup lebih ringan, hati lebih tenang, dan tindakan lebih terkontrol. Kesabaran juga membantu individu dalam menghadapi tantangan dan memilih untuk tidak membalas perkataan yang menyakitkan. Dengan demikian, pesantren secara aktif membentuk karakter santri yang tidak hanya berilmu, tetapi juga peduli, bertanggung jawab, dan sabar. PERAN EFEKTIF PONDOK PESANTREN AL- QURTUBY DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI Gambar 2 Tanggung Jawab Budidaya Ternak Hewan Gambar diatas menjelaskan bahwa Di Pondok Pesantren Al-Qurtuby, santri diajarkan untuk bertanggung jawab melalui praktik nyata, salah satunya dengan merawat hewan ternak dan budidaya ikan. Gus Isyroqi Nur Muhammad selaku pengasuh, membimbing para santri agar melaksanakan tugas ini sebagai bentuk tanggung jawab atas amanah yang Tanggung jawab ini tidak hanya membentuk karakter santri secara umum, tetapi juga melatih mereka untuk mengelola waktu dan prioritas, seperti yang dicontohkan oleh santri senior yang berperan sebagai pengurus. Gambar 3 Sabar untuk Makan Bersama Gambar diatas menjelaskan bahwa di Pondok Pesantren Al Qurtuby, kesabaran menjadi karakter penting yang terus diasah setiap harinya. Melalui rutinitas sederhana seperti mengantre saat makan di kantin atau menanti giliran menggunakan fasilitas terbatas, para santri secara tidak langsung dilatih untuk menahan emosi dan bersabar. Semua aktivitas ini, seperti yang dijelaskan oleh Ning Mazidatus Saadah, bertujuan untuk membentuk pribadi santri yang memiliki kesabaran kuat dan mental yang tangguh. JBPAI - VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Metode Pondok Pesantren Al-Qurtuby Dalam Membentuk Karakter Santri Metode Ceramah Pondok Pesantren Al-Qurtuby menerapkan metode ceramah sebagai cara utama untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan. Metode ini dilakukan melalui penyampaian wawasan keilmuan secara lisan kepada santri, mencakup pengertian, tujuan, fungsi, dan manfaat dari setiap hal yang mereka pelajari. Dengan metode ini, pesantren bertujuan untuk mentransfer ilmu pengetahuan secara teoritis kepada santri, memberikan mereka pemahaman mendalam tentang konsep-konsep yang diajarkan. Pemberian wawasan dan ilmu pengetahuan ini penting untuk membentuk kesadaran Dengan memahami secara teoritis suatu hal, santri dapat membedakan antara perbuatan baik dan buruk, serta mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Hal ini memastikan bahwa setiap tindakan yang mereka lakukan didasari oleh pemahaman yang kuat, bukan sekadar mengikuti aturan tanpa mengerti maknanya. Sebagaimana yang telah dijelaskan (Salah et al. , 2. metode ceramah adalah penyampaian informasi atau pengajaran secara lisan dari pendidik kepada peserta didik. Dalam konteks pesantren, metode ini digunakan untuk mentransfer ilmu pengetahuan serta memberikan pemahaman dan wawasan teoritis kepada para santri. Tujuannya adalah agar santri memiliki bekal pengetahuan untuk membedakan perbuatan baik dan buruk, serta menentukan apakah suatu tindakan diperbolehkan atau tidak sebelum mereka melakukannya. Metode Keteladanan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengasuh di Pondok Pesantren Al-Qurtuby berperan sebagai teladan utama bagi para santri, sesuai dengan perannya sebagai warasatu al-anbiya . ewaris para nab. Pengasuh secara konsisten menunjukkan perilaku terpuji, seperti berpakaian sopan sesuai syariat dan menggunakan tutur kata yang santun. Pemberian teladan ini merupakan metode pendidikan yang sangat efektif, karena santri cenderung meniru figur yang mereka hormati. Hal ini secara langsung membentuk karakter moral, spiritual, dan etos sosial santri dalam kehidupan sehari-hari. Metode keteladanan ini terbukti berhasil membentuk karakter santri melalui pembiasaan perilaku baik. Melalui contoh nyata yang ditunjukkan para pengasuh, seperti mengucapkan salam dan berbicara sopan, santri secara tidak langsung menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Pemberian contoh yang konsisten dalam keseharian ini pada akhirnya menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan karakter positif pada diri santri, menjadikan mereka pribadi yang lebih baik sesuai ajaran Islam. Selaras dengan pendapat (Pamungkas, 2. Peran kyai sangat dominan dalam pembentukan karakter PERAN EFEKTIF PONDOK PESANTREN AL- QURTUBY DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI santri di pondok pesantren. Kyai menjadi teladan, serta memberikan nasihat dan motivasi agar santri bertindak sesuai nilai dan norma. Gambar 1. 4 Kegiatan Sholat Berjamaah Gambar diatas menjelaskan bahwa Pondok Pesantren Al Qurtuby menanamkan keteladanan yang kuat melalui beberapa praktik rutin. Menurut Gus Isyroqi Nur Muhammad, pembiasaan anak-anak dan santri untuk selalu memulai setiap pertemuan dengan salam dan basmallah, serta mengakhirinya dengan hamdallah, menjadi kunci dalam membentuk karakter. Selain itu, kedisiplinan dan ketepatan waktu juga sangat ditekankan, terutama dalam hal salat dan menghadiri kegiatan pembelajaran. Praktik-praktik ini bertujuan untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab sejak Metode Pembiasaan Pondok Pesantren Al-Qurtuby menggunakan metode pembiasaan untuk membentuk karakter santri. Pengurus pondok membimbing santri dalam kegiatan harian seperti salat dan bangun pagi, agar kebiasaan baik ini tertanam secara otomatis. Metode ini merupakan kelanjutan dari pendidikan sebelumnya, di mana santri sudah mendapat pemahaman dan contoh dari pengasuh. Dengan pembiasaan, karakter seperti tanggung jawab dan disiplin akan terbentuk. Lingkungan pondok yang menetap juga mempermudah pengawasan, sehingga metode ini lebih efektif. Dari penjelasan diatas disebut juga dengan pola panca jiwa dilakukan dengan pendekatan psikologi agar dalam jiwa santri selalu tertanam jiwa keikhlasan, tidak berlebih-lebihan, mandiri, toleran, dan bebas mengelola kehidupan untuk masa depan(La Hadisi. Zulkifli Musthan. Rasmi Gazali. Herman, 2. JBPAI - VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Tabel 2. Jadwal Kegiatan Keseharian Santri Waktu 00- 12. Aktivitas Sholat Tahajud. Jamaah Sholat Subuh dan Muroqobah Setoran Al- Quran Mandi. Sarapan. Sholat Dhuha Sekolah dan Jam Belajar Jamaah Sholat Dzuhur dan Muroqobah Setoran Al-Quran Pengajian Kitab Jamaah Sholat Ashar dan Muroqobah Pengajian Kitab dan Binadhor Makan Sore Jamaah Sholat Maghrib. Muroqobah dan Yasinan Sekolah Madrasah Diniyah Jamaah Sholat IsyaAo dan Yasinan Pengajian Kitab Istirahat Kegiatan keseharian santri tersebut memerlukan pengontrolan dan diawasi. Pondok Pesantren Al-Qurtuby memiliki pengurus yang mengatur dan mengontrol para santri Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ning Mazidatus Saadah dalam sesi wawancara dengan peneliti bahwa:AuNah itu proses pembiasaan dulu sebenarnya sama kayak sholat, misalnya itu kan mereka tidak bisa apalagi mereka yang baru masukkan untuk bisa membuat mereka terbiasa sholat dhuha dan sebagainya kan itu butuh. Jadi, pertama kita mewajibkan dulu kemudian kita pantau memberikan sanksi bagi yang tidak menjalankan lama-kelamaan dia akan terbentuk menjadi suatu karakter. Kebiasaankebiasaan sudah dianggap besar nanti baru dilonggarkankan itu sudah akan terbentuk tapi kita harus pakai disiplin dulu ada aturannya disiplinnya ada kontrolnya. Dan yang mengatur itu adalah pengurusAy Dari yang diungkapkan oleh Ning Mazidatus Saadah tersebut menyatakan bahwa proses pelatihan pembiasaan pada para santri itu dikontrol oleh para pengurus. Lebih khususnya untuk para santri yang baru masuk pondok mereka diberikan perhatian khusus yaitu dengan selalu dibimbing dan diawasi proses pembiasaannya. PERAN EFEKTIF PONDOK PESANTREN AL- QURTUBY DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI Gambar 5 Muroqobah Setelah Berjamaah Metode Nasihat dan Hukuman Pondok Pesantren Al-Qurtuby menerapkan metode nasihat dan sanksi sebagai strategi utama untuk mendisiplinkan santri. Menurut (Chandra, 2. Metode nasihat dianggap sangat efektif, terutama bagi santri remaja, karena pendekatan yang positif mampu membentuk pola pikir mereka sesuai dengan tujuan pendidikan. Hukuman yang diberikan pun tidak bersifat fisik atau menyiksa, melainkan ringan dan edukatif, seperti menghafal surah atau membersihkan lingkungan pondok. Tujuan utama dari sanksi ini adalah untuk memberikan efek jera, menyadarkan santri akan kesalahan, dan mendorong mereka untuk introspeksi diri agar tidak mengulangi pelanggaran di masa mendatang. Gambar 6 Hukuman Bagi Para Pelanggar Aturan Pondok Pemberian hukuman dalam pendidikan bertujuan agar peserta didik menyadari dan memperbaiki pelanggaran yang telah diperbuat sehingga tidak mengulanginya. Menurut (Nursyamsi, 2. tujuan pedagogis hukuman adalah untuk memperbaiki tabiat dan tingkah laku peserta didik, serta membimbing mereka menuju kebaikan. Penerapan metode nasihat dan hukuman ditujuankan untuk hal-hal yang baik yaitu memberikan efek jera pada santri agar tidak mengulanginya lagi. Selain itu, pemberian nasihat dan hukuman juga dimaksudkan agar para santri mampu menyadari apa kesalahannya dan sadar untuk tidak lagi melakukannya. JBPAI - VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Faktor Pendukung dan Penghambat Pondok Pesantren Al- Qurtuby dalam Membentuk Karakter Santri Faktor Pendukung Terdapat dua faktor utama yang mendukung keberhasilan pembentukan karakter santri di Pondok Pesantren Al-Qurtuby. Faktor internal berasal dari motivasi diri santri itu Berdasarkan wawancara, alasan utama santri masuk pondok adalah untuk menuntut ilmu agama dan pengetahuan. Motivasi serta tekad yang kuat ini menjadi pendorong utama bagi mereka untuk bersemangat dalam belajar dan memperbaiki diri. Keinginan yang tulus untuk mendalami ilmu agama menjadi landasan yang kokoh bagi pembentukan karakter positif mereka. Sementara itu, faktor eksternal juga memainkan peran krusial, terutama dari lingkungan pondok pesantren. Pengasuh pondok bertindak sebagai teladan dan pengganti orang tua, memberikan bimbingan dan nasihat secara intensif. Lingkungan sosial yang positif juga sangat berpengaruhkebiasaan baik seperti salat berjamaah yang dilakukan bersama-sama menciptakan norma sosial yang mendorong santri untuk ikut berpartisipasi. Interaksi sosial yang baik ini secara tidak langsung menumbuhkan rasa malu jika tidak mengikuti kegiatan positif, sehingga secara kolektif membentuk perilaku santri menjadi lebih baik. Sejalan dengan pendapat (Rohdiana et al. , 2. dalam penelitiannya bahwa Sumber daya manusia yang berkualitas, sumber belajar yang jelas dan terpercaya, serta lingkungan yang sangat mendukungakan sangat berpengaruh pada pembentukan karakter Faktor Penghambat Salah satu kendala utama dalam penerapan pendidikan karakter di Pondok Pesantren Al-Qurtuby adalah kejenuhan santri. Jadwal yang padat dan berbagai kegiatan pondok sering kali membuat santri merasa malas, mengantuk, atau bosan saat mengikuti pelajaran. Meskipun demikian, pihak pesantren menerapkan aturan ketat untuk memastikan santri tetap mengikuti kegiatan, termasuk prosedur khusus seperti surat sakit bagi mereka yang tidak bisa hadir. Masalah kejenuhan ini menjadi faktor penghambat internal yang memerlukan perhatian dalam proses pendidikan karakter. Dalam penelitian lain juga menunjukkan hal yang sama, dimana banyaknya kegiatan pondok serta waktu istirahat yang kurang membuat para santri menjadi ngantuk dan bosan ketika proses pembelajaran(Sumardi et al. , 2. PERAN EFEKTIF PONDOK PESANTREN AL- QURTUBY DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SANTRI KESIMPULAN DAN SARAN Pondok pesantren memiliki peran sentral dan berkelanjutan dalam membentuk karakter santri di Indonesia. Di era modern, peran ini menjadi semakin penting untuk menghadapi tantangan etika dan moral. Pondok Pesantren Al-Qurtuby menjadi contoh nyata bagaimana praktik-praktik harian seperti sholat berjamaah, antre, dan Muhadloroh secara efektif menanamkan nilai-nilai seperti kemandirian, tanggung jawab, dan kesabaran pada santri. Lingkungan yang kondusif dengan teladan dari pengasuh memungkinkan pesantren membimbing santri secara holistik dalam aspek moral, mental, dan spiritual. Dalam implementasinya. Pondok Pesantren Al-Qurtuby menggunakan berbagai metode yang terintegrasi. Metode ceramah memberikan pemahaman teoritis, sementara metode keteladanan diterapkan melalui perilaku sehari-hari para pengasuh. Pembiasaan dilakukan melalui jadwal kegiatan harian yang padat dan terstruktur. Untuk menegakkan disiplin, metode nasihat dan hukuman juga diterapkan secara mendidik dan tanpa kekerasan fisik, dengan sanksi terberat berupa pengeluaran dari pondok sebagai upaya terakhir. Meskipun dihadapkan pada faktor penghambat seperti kelelahan santri, penelitian ini menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Al-Qurtuby tetap efektif dalam membentuk karakter. Keberhasilan ini didukung oleh motivasi tinggi dari santri serta lingkungan pondok yang positif dengan peran aktif pengasuh. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan gambaran empiris tentang peran vital pesantren dalam pembentukan karakter santri melalui praktik nyata, yang diharapkan menjadi informasi penting bagi pihak yang berkepentingan. Peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas cakupan penelitian dengan membandingkan metode pembentukan karakter di beberapa pondok pesantren yang berbeda untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas. Selain itu, penelitian dapat dilakukan secara longitudinal untuk mengamati dampak jangka panjang pembentukan karakter santri setelah mereka kembali ke masyarakat. Penting juga untuk mendalami lebih jauh faktor-faktor eksternal, seperti pengaruh keluarga dan teknologi, terhadap pembentukan karakter santri, serta bagaimana pesantren dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan tersebut. UCAPAN TERIMA KASIH