Abdimas Langkanae ISSN 2808-7682 Vol. No. Digitalisasi Seni Musik Makassar Gambusu Mendukung Green Ekonomi dan Pariwisata Indonesia Timur Ilma Rahim1. Kembong Daeng2. Ita Rosvita3. Hasbi4 Universitas Negeri Makassar rahim@unm. daeng@unm. hasbi@unm. Article Info Kata Kunci: Digitalisasi. Musik Makassar. Gambusu. Green Ekonomi. Pariwisata Copyright A 2026 The Author. Lisensi: cc-by-sa rosvita@unm. Abstrak Program Pengabdian kepada Masyarakat melalui skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) dengan judul Digitalisasi Kesenian Makassar Gambusu Mendukung Green Economy dan Pariwisata Indonesia Timur dilaksanakan sebagai upaya pelestarian kesenian tradisional sekaligus penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya di Kabupaten Takalar. Sulawesi Selatan. Program ini dilatarbelakang oleh rendahnya kapasitas digital pelaku seni dan terbatasnya dokumentasi serta promosi kesenian Gambusu di ruang digital. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif dan kolaboratif yang dikemas dalam bentuk pelatihan literasi digital, pendampingan produksi konten seni, digitalisasi repertoar Gambusu, serta pementasan seni berbasis hibrida. Kegiatan pelatihan dan puncak program dilaksanakan pada 22 November 2025 dengan melibatkan komunitas seni Bastrada sebagai mitra utama. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan mitra dalam dokumentasi, mengemas, dan mempublikasi konten kesenian Gambusu berbasis digital. Selain itu, program ini menghasilkan produk inovasi seni berupa digitalisasi delapan repertoar Gambusu dalam format audio-visual yang dipublikasikan melalui platform digital. Program ini berkontribusi terhadap penguatan pelestarian budaya, peningkatan keberdayaan komunitas seni, serta pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata budaya yang berkelanjutan di Indonesia Timur. Abdimas Langkanae ISSN 2808-7682 Vol. No. Pendahuluan Transformasi budaya tradisional dalam era digital merupakan kebutuhan mendesak dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya di tengah arus globalisasi. Meskipun kaya akan nilai estetika, moral, dan sosial, kesenian tradisional seperti Gambusu Makassar dan sastra lisan Kelong Makassar menghadapi tantangan serius penurunan minat generasi muda. Dominasi budaya populer berbasis digital, perubahan pola konsumsi hiburan, serta terbatasnya media dokumentasi yang menarik dan kontekstual menjadi faktor utama yang mempercepat marginalisasi kesenian tradisional di ruang publik (Riskawati et al. , 2022. Suhartina & Octavie. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pelestarian budaya yang tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga berkaitan dengan stategi adaptasi terhadap ekosistem digital yang berkembang. Permasalahan tersebut secara nyata dialami oleh mitra kegiatan, yaitu Komunitas Seni Bastrada di Kabupaten Takalar. Sulawesi Selatan. Berdasarkan hasil observasi awal dan diskusi partisipatif, ditemukan beberapa persoalan utama. Pertama, rendahnya kapasitas literasi digital anggota komunitas, terurama dalam hal dokumentasi audio-visual, pengemasan konten kreatif, serta pengelolaan platform media sosial. Sebagian besar aktivitas kesenian masih dilakukan secara konvensional tanpa dukungan dokumentasi yang sistematis dan berkualitas. Akibatnya, repertoar Gambusu yang dimiliki komunitas tidak terdokumentasi dengan baik dan berisiko hilang secara perlahan. Kedua, keterbatasan akses terhadap perangkat produksi dan pengetahuan teknis menyebabkan karya seni Gambusu belum mampu dipublikasikan secara luas di ruang digital. Konten yang tersedia masih bersifat sporadis, tidak terkurasi, dan belum dikemas sesuai dengan karakteristik audiens digital, khususnya generasi muda. Hal ini berdampak pada rendahnya eksposur kesenian Gambusu di tingkat regional maupun nasional. Ketiga, belum adanya model integrasi antara pelestarian seni tradisional dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis komunitas. Aktivitas kesenian selama ini lebih berorientasi pada pelestarian simbolik tanpa perencanaan strategis untuk penguatan nilai ekonomi. Padahal, dalam konteks pengembangan green economy dan pariwisata budaya di Indonesia Timur, kesenian lokal memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata sekaligus sumber pendapatan alternatif bagi komunitas. Sastra lisan seperti Kelong dan karya-karya lisan lainnya memiliki peran penting dalam mewariskan nilai-nilai lokal, sistem moral, serta kekayaan bahasa komunitas pesisir Nusantara (Rahim. Amir & Munirah, 2. Penelitian ini menunjukkan bahwa variasi bahasa dan fungsi sosial dalam interaksi pembelajaran memberikan pemahaman bahwa pengetahuan budaya perlu dipertahankan melalui media yang relevan bagi generasi saat ini, termasuk media digital. Dalam konteks Gambusu dan Kelong, keduanya bukan hanya ekspresi estetika, tetapi juga wahana pembelajaran nilai budaya dan karakter masyarakat pesisir yang perlu diakomodasi dalam medium pembelajaran dan kreatif yang adaptif. Abdimas Langkanae ISSN 2808-7682 Vol. No. Perkembangan teknologi digital membuka peluang strategis untuk menjawab tantangan tersebut. Digitalisasi konten budaya melalui platform multimedia, jejaring sosial, dan dokumentasi digital telah terbukti meningkatkan aksesibilitas dan pengakuan budaya lokal secara lebih luas terhadap budaya lokal (Fitriyyah et al. Transformasi digital tidak sekadar repositori informasi, tetapi juga integrasi nilai budaya ke dalam ekosistem digital yang dapat mendukung literasi budaya dan membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat lokal. Hal ini penting karena digitalisasi kesenian dan sastra tradisional tidak hanya bertujuan mempertahankan eksistensi, melainkan juga menjadikannya sumber daya ekonomi berbasis kreativitas lokal komunitas. Beragam studi menunjukkan bahwa integrasi teknologi informasi dalam pelestarian budaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mencipta, mendiseminasikan, ekpresi budaya lokal (Rahmatillah et al. , 2. Dalam konteks pengabdian masyarakat yang sejenis, digitalisasi musik tradisional terbukti mendukung penguatan ekonomi kreatif dan pariwisata lokal melalui publikasi konten di kanal digital dan modul pembelajaran multimedia (Harian Fajar, 2. Meskipun demikian, masih terdapat kesenjangan yang signifikan antara potensi budaya lokal yang komunitas pesisir dengan implementasi praktik digitalisasi yang belum optimal, dan tidak terintegrasi secara partisipatif dengan masyarakat lokal. Kesenjangan ini terlihat pada lemahnya kapasitas produksi konten digital, terbatasnya dokumentasi repertoar seni secara sistematis, serta belum adanya strategi publikasi yang berorientasi pada keberlanjutan ekonomi kreatif. Kesenian Gambus dan sastra Kelong Makassar memiliki peluang besar untuk diintegrasikan dalam program digitalisasi budaya karena kedua bentuk seni ini memiliki daya tarik estetik dan nilai sejarah yang kuat. Akan tetapi, keberhasilan transformasi budaya tersebut sangat bergantung pada keterlibatan aktif komunitas seni, pengembangan kapasitas sumber daya lokal, dan strategi publisitas yang efektif di ranah digital. Program pengabdian ini hadir sebagai respons terhadap gap tersebut dengan menawarkan pendekatan digitalisasi yang partisipatif, sekaligus memperkuat literasi budaya dan membuka peluang ekonomi kreatif inklusif bagi masyarakat pesisir. Berdasarkan uraian di atas, masalah utama yang diangkat dalam pengabdian ini adalah bagaimana model digitalisasi kesenian Gambusu dan sastra Kelong Makassar dapat dikembangkan secara partisipatif dan aplikatif, sehingga mampu memperkuat literasi budaya dan memberikan peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat lokal. Metode Pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan kualitatifpartisipatoris dengan model participatory action research (PAR) yang dipadukan dengan pendekatan community-based development. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan karakter objek pengabdian berupa kesenian tradisional Gambusu dan sastra lisan Kelong Makassar yang hidup dan berkembang dalam komunitas Abdimas Langkanae ISSN 2808-7682 Vol. No. Kegiatan dilaksanakan di Kabupaten Takalar. Sulawesi Selatan, dengan mitra utama Komunitas Seni Bastrada. Peserta kegiatan berjumlah 20 orang yang terdiri atas seniman Gambusu, pelaku budaya, dan generasi muda komunitas. Program dilaksanakan melalui empat tahapan utama sesuai siklus PAR, yaitu: . perencanaan, . tindakan, . observasi, dan . refleksi-evaluasi. Metode ini menempatkan masyarakat, khususnya seniman Gambusu, pelaku budaya, dan generasi muda, sebagai subjek aktif dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program digitalisasi. Subjek dan Lokasi Kegiatan Subjek kegiatan pengabdian meliputi: Seniman dan pelaku kesenian Gambus Makassar . Penutur dan pelaku sastra lisan Kelong Makassar . Pemuda dan komunitas budaya lokal . Tim pengabdian dari perguruan tinggi Kegiatan dilaksanakan di wilayah komunitas budaya Makassar . okasi disesuaikan dengan mitr. , yang merupakan pusat aktivitas kesenian Gambus dan pewarisan sastra Kelong. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Pelaksanaan pengabdian dilakukan melalui beberapa tahapan sistematis sebagai berikut. Tahap Persiapan dan Identifikasi Kebutuhan Tahap awal difokuskan pada: Studi awal terhadap kondisi eksisting kesenian Gambus dan sastra Kelong . Identifikasi permasalahan dan potensi melalui observasi lapangan . Wawancara mendalam dengan seniman, tokoh adat, dan komunitas budaya . Diskusi awal (FGD) untuk memetakan kebutuhan digitalisasi dan penguatan ekonomi kreatif Tahap ini bertujuan memperoleh gambaran kontekstual mengenai tantangan pelestarian, literasi budaya, serta peluang pemanfaatan teknologi digital. Tahap Perancangan Model Digitalisasi Berdasarkan hasil identifikasi awal, tim pengabdian bersama mitra menyusun: Konsep digitalisasi kesenian Gambus dan sastra Kelong . Desain konten budaya . udio, video, teks, dan visua. Skema pemanfaatan platform digital . edia sosial, kanal video, dan media pembelajaran digita. Perancangan dilakukan secara kolaboratif untuk memastikan kesesuaian dengan nilai budaya lokal dan kebutuhan komunitas. Abdimas Langkanae ISSN 2808-7682 Vol. No. Tahap Implementasi dan Pendampingan Tahap ini merupakan inti kegiatan pengabdian, meliputi: Proses dokumentasi digital kesenian Gambus dan sastra Kelong . Produksi konten digital berbasis budaya lokal . Pelatihan dan pendampingan kepada mitra terkait literasi digital, pengemasan konten, dan publikasi digital . Uji coba pemanfaatan konten digital sebagai media edukasi dan promosi Pendampingan dilakukan secara intensif agar mitra mampu mengelola dan mengembangkan konten secara mandiri dan berkelanjutan. Tahap Evaluasi dan Refleksi Evaluasi dilakukan untuk menilai: Tingkat partisipasi dan pemahaman mitra . Kualitas dan kebermanfaatan konten digital yang dihasilkan . Dampak awal terhadap literasi budaya dan peluang ekonomi kreatif Evaluasi dilakukan melalui refleksi bersama, diskusi kelompok, serta umpan balik dari mitra dan peserta kegiatan. Tahap Diseminasi dan Keberlanjutan Tahap akhir diarahkan pada: Penyebarluasan hasil kegiatan melalui seminar, pameran budaya, dan media . Publikasi hasil pengabdian dalam jurnal pengabdian kepada masyarakat . Penyusunan rekomendasi model digitalisasi kesenian tradisional berbasis Tahap ini bertujuan memperluas dampak program serta mendorong keberlanjutan inisiatif digitalisasi budaya. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: Observasi partisipatif . Wawancara mendalam . Focus Group Discussion (FGD) . Dokumentasi . udio, video, foto, dan arsip buday. Teknik Analisis Data Data dianalisis menggunakan model analisis kualitatif interaktif yang meliputi: Reduksi data . Penyajian data . Penarikan kesimpulan dan verifikasi Abdimas Langkanae ISSN 2808-7682 Vol. No. Analisis dilakukan secara simultan selama proses pengabdian untuk memastikan data tetap kontekstual dan reflektif. Hasil Program Pengabdian kepada Masyarakat melalui skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) dengan judul AuDigitalisasi Kesenian Makassar Gambusu Mendukung Green Economy dan Pariwisata Indonesia TimurAy telah dilaksanakan di Kabupaten Takalar. Sulawesi Selatan, dengan mitra utama Bastrada (Bengkel Sastra dan Buday. Hingga pelaksanaan puncak kegiatan pada 22 November 2025, program ini telah mencapai capaian 100% dan menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam aspek peningkatan kapasitas mitra, produksi karya inovasi seni, serta penguatan jejaring promosi budaya berbasis digital. Gambar. 1 Pelatihan literasi digital dan produksi konten seni musik Gambusu bersama mitra Bastrada di Kabupaten Takalar . Oktober 2. Digitalisasi Repertoar dan Produk Inovasi Seni Sebagai tindak lanjut dari kegiatan pelatihan literasi digital dan pendampingan teknis, program ini menghasilkan digitalisasi delapan repertoar musik Gambusu dalam format video beresolusi tinggi (HD). Proses digitalisasi dilakukan secara terstruktur, mulai dari tahap perekaman audio-visual, penyuntingan video, penyelarasan kualitas suara, hingga penyusunan informasi pendukung setiap karya. Setiap repertoar dilengkapi dengan metadata yang mencakup judul karya, deskripsi konteks pertunjukan, serta lirik syair Kelong. Penyertaan metadata bertujuan untuk menjaga kelengkapan informasi budaya dan memudahkan proses penelusuran, pengarsipan, serta pemanfaatan karya sebagai sumber edukasi. Dengan demikian, dokumentasi yang dihasilkan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga informatif dan Seluruh com dan terintegrasi dengan kanal YouTube Bastrada. Integrasi ini memungkinkan distribusi konten secara lebih luas, menjangkau audiens lintas daerah, serta memperkuat eksistensi kesenian Gambusu dalam ruang digital. Publikasi daring juga membuka peluang interaksi publik melalui komentar, berbagi tautan, dan jejaring promosi berbasis media sosial. Abdimas Langkanae ISSN 2808-7682 Vol. No. Secara konseptual, digitalisasi kesenian tradisional dalam program ini dipahami sebagai proses transformasi sistematis karya seni dari bentuk pertunjukan langsung ke format digital yang terdokumentasi, terkurasi, dan terdiseminasi secara Digitalisasi tidak sekadar memindahkan medium analog ke digital, melainkan mencakup tiga komponen utama, yaitu: . dokumentasi berkualitas untuk menjaga otentisitas dan keberlanjutan arsip budaya. pengemasan konten yang relevan dengan karakter audiens digital. distribusi melalui platform daring untuk memperluas akses, partisipasi, dan peluang ekonomi kreatif. Dengan pendekatan tersebut, produk yang dihasilkan berfungsi dalam tiga dimensi sekaligus, yakni sebagai arsip digital pelestarian budaya, sebagai media edukasi bagi generasi muda, dan sebagai sarana promosi seni tradisi Makassar yang mendukung pengembangan ekonomi kreatif serta pariwisata budaya di Indonesia Timur. Gambar. 2 laman website dan laman youtube mitra Peningkatan Keterampilan Digital Pelaku Seni dan Komunitas Budaya Kegiatan lanjutan yang dilaksanakan hingga 22 November 2025 menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada keterampilan digital peserta. Peserta terlibat langsung dalam praktik dokumentasi pertunjukan seni musik Gambusu dan pengemasan konten digital secara kolaboratif. Secara spesifik, peserta mampu: Melakukan dokumentasi pertunjukan seni musik Gumbusu dalam bentuk audio dan video. Menerapkan teknik dasar pengambilan gambar dan perekaman suara yang sesuai dengan karakter seni pertunjukan tradisional. Mengemas hasil dokumentasi menjadi konten digital yang layak dipublikasikan melalui media digital dan platform promosi pariwisata. Peningkatan keterampilan ini memberikan dampak langsung terhadap kemandirian komunitas. Mitra tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pihak eksternal untuk mendokumentasikan atau mempublikasikan karya mereka. Program ini dengan demikian tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi berhasil membangun kapasitas praktis dan rasa percaya diri mitra dalam mengelola kesenian berbasis teknologi digital. Abdimas Langkanae ISSN 2808-7682 Vol. No. Terbentuknya Produk Awal Digitalisasi Kesenian Gambusu Peningkatan kapasitas individu, program ini juga menghasilkan luaran konkret yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh komunitas, meliputi: Dokumentasi audio-visual pertunjukan seni musik Gambusu Makassar. Konten digital berbasis kesenian Gambusu yang siap dimanfaatkan sebagai media promosi budaya dan pariwisata. Narasi budaya yang memuat nilai, makna, dan konteks sosial kesenian . Gambusu dalam kehidupan masyarakat Makassar. Luaran tersebut menjadi fondasi penting bagi pengembangan arsip digital kesenian Makassar serta membuka peluang pemanfaatan karya seni tradisional dalam ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya. Karya yang telah terdigitalisasi dapat dimanfaatkan sebagai materi promosi acara budaya, bahan pembelajaran, konten kolaborasi lintas komunitas, hingga potensi monetisasi melalui platform Dengan demikian, manfaat program bagi mitra bersifat multidimensional, mencakup peningkatan kompetensi individu, penguatan kapasitas kelembagaan komunitas, serta terbukanya akses terhadap peluang ekonomi dan jejaring promosi budaya yang lebih luas. Penguatan Sikap Pelestarian Budaya Berbasis Digital Selain peningkatan aspek kognitif dan psikomotorik, program ini juga memberikan dampak positif pada aspek afektif peserta. Peserta menunjukkan peningkatan kesadaran dan kepedulian terhadap pentingnya pelestarian kesenian Gambusu melalui pendekatan digital yang adaptif dan berkelanjutan. Peserta menyatakan komitmen untuk: Mendokumentasikan praktik kesenian Gambusu secara berkelanjutan. Memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi dan edukasi budaya. Mengembangkan kesenian Gambusu sebagai identitas budaya daerah yang memiliki nilai sosial dan ekonomi. Sikap ini menjadi indikator penting bahwa program berhasil menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap pelestarian budaya di tengah arus modernisasi dan Kontribusi terhadap Penguatan Ekonomi Kreatif dan Pariwisata Berkelanjutan Hasil kegiatan yang berpuncak pada 22 November 2025 berkontribusi langsung terhadap penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya di Kabupaten Takalar. Digitalisasi kesenian Gambusu membuka peluang baru bagi pelaku seni untuk terlibat dalam berbagai aktivitas ekonomi kreatif, seperti produksi konten budaya, pertunjukan seni berbasis pariwisata, serta promosi destinasi budaya lokal. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip green economy, karena mengoptimalkan pemanfaatan kekayaan budaya lokal tanpa eksploitasi sumber daya alam, serta mendukung pengembangan pariwisata yang berkelanjutan di Indonesia Timur. Abdimas Langkanae ISSN 2808-7682 Vol. No. Dengan demikian, program ini tidak hanya berkontribusi pada pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat posisi kesenian Gambusu sebagai aset strategis dalam pembangunan ekonomi kreatif daerah. Simpulan Program Pengabdian kepada Masyarakat melalui skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) dengan fokus pada Digitalisasi Kesenian Makassar Gambusu telah menunjukkan bahwa transformasi kesenian tradisional berbasis teknologi digital merupakan strategi yang efektif dan relevan dalam upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan ekonomi kreatif di Indonesia Timur. Pelaksanaan program di Kabupaten Takalar dengan mitra komunitas Bastrada membuktikan bahwa pendekatan partisipatif dan kolaboratif mampu meningkatkan kapasitas komunitas seni dalam mengelola, mendokumentasikan, dan mempromosikan warisan budaya secara mandiri. Secara substantif, program ini berhasil mencapai tujuan utamanya, yaitu meningkatkan literasi dan keterampilan digital pelaku seni, menghasilkan produk inovasi seni berupa digitalisasi repertoar Gambusu dalam format audio-visual berkualitas tinggi, serta membangun platform digital sebagai sarana arsip, edukasi, dan promosi budaya. Digitalisasi delapan repertoar Gambusu yang dilengkapi metadata dan lirik syair Kelong tidak hanya memperkuat upaya pelestarian kesenian Makassar, tetapi juga memperluas akses publik terhadap seni tradisi yang sebelumnya terbatas pada ruang pertunjukan lokal. Dari perspektif keberdayaan mitra, program ini menunjukkan peningkatan signifikan pada aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif komunitas Bastrada. Mitra tidak hanya memahami konsep digitalisasi kesenian, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung dalam proses produksi dan publikasi konten budaya. Selain itu, menumbuhkan kesadaran dan komitmen mitra untuk mendokumentasikan dan mempromosikan kesenian Gambusu secara berkelanjutan menjadi indikator penting keberhasilan program dalam membangun kemandirian komunitas seni berbasis teknologi. Dalam konteks ekonomi kreatif dan pariwisata, hasil program ini memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan green economy berbasis budaya. Digitalisasi kesenian Gambusu membuka peluang ekonomi baru tanpa mengeksploitasi sumber daya alam, melainkan mengoptimalkan kekayaan budaya lokal sebagai modal utama. Integrasi karya seni tradisional ke dalam platform digital dan pementasan hybrid memperkuat posisi Gambusu sebagai identitas budaya Makassar yang memiliki nilai ekonomi, sosial, dan edukatif, serta berpotensi mendukung pengembangan pariwisata budaya berkelanjutan di Indonesia Timur. Secara keseluruhan, program ini menegaskan bahwa digitalisasi kesenian tradisional bukan sekadar proses teknis, melainkan sebuah pendekatan transformatif yang menghubungkan pelestarian budaya, pemberdayaan komunitas, dan pembangunan ekonomi kreatif. Model pengabdian yang diterapkan dalam program ini berpotensi direplikasi pada komunitas seni tradisional lainnya, dengan Abdimas Langkanae ISSN 2808-7682 Vol. No. penyesuaian konteks lokal, sebagai upaya strategis untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya Nusantara di tengah dinamika masyarakat digital. Daftar Pustaka