JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 109-117 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Journal Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski doi :x/x. PEMAKNAAN FILSAFAT NILAI SANTRI DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT: (STUDI DI PONDOK PESANTREN HIDAYATUL MUBTADIIEN NGUNUT TULUNGAGUNG) Muhammad Fauzi Ridwan1 Izzatul Amalina2 Riyanto3 STAI KH. Muhammad Ali Shodiq Tulungagung1 UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung2 STAI KH. Muhammad Ali Shodiq Tulungagung3 rfaouzie@gmail. izzatulamalina333@gmail. riyan22@gmail. Abstract As an educational institution, pesantren certainly have unique values compared to other educational This article aims to describe the meaning and implementation of the value philosophy of santri at Hidayatul Mubtadi-ien Islamic Boarding School (PPHM) Ngunut Tulungagung in social life. The author takes the subject of Ngunut boarding school students who have lived in society. This article uses a qualitative approach in the form of phenomenology. The data collection methods used include observation, interviews and documentation. Researchers use descriptive analysis which aims to explain aspects relevant to the observed phenomenon. Furthermore, researchers use triangulation techniques to test the validity of the data obtained. The results of this study that: Ngunut hut students interpret value philosophy as uswah or exemplary value, discipline value, akhlakul karimah value and togetherness value. The implementation of the value philosophy of the Ngunut boarding school students in community life by being tolerant, morally good, independent in meeting the economic needs of the family, being uswah in the community and the next generation of religious leaders in the community. Keywords: Meaning. Value Philosophy. Santri. Pesantren. Community Life Abstrak Sebagai lembaga pendidikan, pesantren tentu memiliki nilai-nilai yang khas dibandingkan lembaga pendidikan lainnya. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemaknaan dan Implementasi filsafat nilai santri di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien (PPHM) Ngunut Tulungagung dalam kehidupan bermasyarakat. Penulis mengambil subjek santri pondok Ngunut yang telah hidup Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berbentuk fenomenologi. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan meliputi, observasi, wawancara dan dokumentasi. Peneliti menggunakan analisis deskriptif yang bertuan menjelaskan aspek yang relevan dengan fenomena yang diamati. Selanjutnya peneliti menggunakan teknik trianggulasi untuk menguji keabsahan data yang diperoleh. Hasil dari penelitian ini bahwa: Santri pondok Ngunut memaknai filsafat nilai sebagai nilai uswah atau teladan, nilai kedisiplinan, nilai akhlakul karimah dan nilai Implementasi filsafat nilai santri pondok Ngunut di kehidupan masyarakat dengan bersikap toleransi, akhlakul karimah, kemandirian dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, menjadi uswah di masyarakat dan generasi penerus pemimpin agama di masyarakat. Kata Kunci: Makna. Filsafat Nilai. Santri. Pesantren. Kehidupan Bermasyarakat Muhammad Fauzi Ridwan. Izzatul Amalina. Riyanto 110 Pendahuluan Agama banyak dikaji karena merupakan salah satu jalan untuk mencapai kebahagiaan. Banyak yang beranggapan bahwa tujuan dari hidup adalah meraih kebahagian. Ketika ia bahagia, kehidupan akan semakin bermakna. Adapun kajian mendalam tentang pengalaman religius . ditulis oleh William James dalam bukunya the varieties of religious experience. James melihat dan memahami agama secara terbatas harus diartikan sebagai perasaan, tindakan, dan pengalaman setiap orang dalam Semua itu seiring dengan pemahaman orang tersebut dalam bersikap yang berhubungan dengan Tuhan. (William James, 2. Dalam mengkaji pengalamaan keagamaan yang lebih terstruktur dan terlembaga, di Indonesia memilki banyak pondok pesantren yang menarik untuk digali dan melakukan penelitan disana. Pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang memiliki kekhasan tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Peserta didik di pesantren disebut santri. Pada umumnya santri menetap di pesantren. Adapun pendidikan yang diajarkan pesantren meliputi pendidikan Islam, dakwah, pengembangan kemasyarakatan dan pendidikan sejenisnya. (Cliffort Geertz, 1. Defisini lain pondok pesantren menurut Mujamil Qomar adalah suatu tempat pendidikan dan pengajaran yang menekankan pelajaran agama Islam dan didukung asrama sebagai tempat tinggal santri yang bersifat permanen. (Mujamil Qomar, 2. Pesantren merupakan sebuah sistem yang membuat proses internalisasi ajaran Islam kepada santri secara penuh. Melalui kepemimpinan atau keteladanan para kyai dan ustadz serta pengelolaannya yang khas, dalam Pesantren terdapat semua aspek kehidupan seperti ekonomi, budaya dan organisasi. (Achmad Patoni, 2. Singkatnya pesantren merupakan tempat santri belajar agama dengan peraturan ketat dan Tujuannya adalah membentuk karaketer santri yang ber-akhlakul karimah. Dengan adanya dinamika sosial di pesantren yang menjadi contoh bentuk kecil dari masyarakat, maka penelitian di pesantren menjadi menarik untuk dilakukan. Secara statistik. Kementerian Agama mencatat hingga saat ini jumlah pesantren di seluruh Indonesia sudah mencapai sekitar 36. Sedangkan jumlah santri aktif sebanyak 3,4 juta dan jumlah pengajar . iai/usta. sebanyak 370 ribu. Sejak dahulu pesantren tidak hanya berfungsi dalam proses pendidikan, melainkan juga dakwah dan pemberdayaan masyarakat. ttps://w. Pesantren memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman keagamaan santri. Berada dalam pesantren, santri harus mampu beradaptasi dengan rutinitas kegiatan yang padat. Apabila santri tidak mampu menjalani rutinitas padat tersebut, ia akan mudah boyong. Maka benar bila merupakan tempat untuk mempelajari agama secara mendalam. Karena porsi pembelajaran agama . lebih besar dan sangat ditekankan dalam rutinitas harian pondok Sejak terbitnya karya Gerzz, tentang Abangan Santri dan Priyayi kajian tentang santri menjadi Barangkali santri begitu menarik sehingga membuat Gerzz (Antlopolog asal Amerik. Penelitian lebih lanjut yang merupakan respon atas Gerzz dilakukan oleh Ahmad Najib Burhani (LIPI) dengan judul GeertzAos Trichotomy Of Abangan. Santri. And Priyayi Controversy and Continuity. Santri menurut Zamakhsyari Dhofier dibagi menjadi dua tipe. Yaitu santri mukim dan santri (Zamakhsyari Dhofier, 1. Santri mukim adalah mereka yang tinggal atau menginap di Pesantren dan umumnya adalah santri yang berasal dari daerah yang jauh. Sedangkan satri kalong adalah istilah santri yang tidak menetap di pesantren, mereka pulang-pergi dari rumahnya sendiri. Umumnya santri kalong berasal dari desa-desa di sekitar pesantren. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 109-117 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Pemaknaan Filsafat Nilai Santri dalam Kehidupan Bermasyarakat: Studi di Pondok Pesantren hidayatul Mubtadi-ien Ngunut Tulungagung 111 Masalah nilai adalah suatu hal yang mendasar dalam zaman global saat ini. Setiap negara, setiap kelompok orang, bahkan setiap orang ingin orang lain menganut nilai yang diyakininya benar. Dimana pun dan kapan pun. Berbagai alat digunakan dan banyak cara dilakukan untuk memenuhi keinginan agar nilainya dianut semua orang. Proses globalisasi ialah globalisasi nilai-nilai. Pesantren termasuk turut serta dalam proses penanaman nilai-nilai. Tentunya dengan identitas dan Nilai secara umum diartikan sebagai harga yang diberikan seseorang terhadap sesuatu. Nilai erat kaitannya dengan afektif manusia. Penilaian atas esuatu misalnya ditentukan baik atau buruknya. Nilai merupakan sebuah ide atau konsep yang penting bagi manusia. Dengan adanya sebuah nilai, perilaku manusia menjadi teratur dan beretika. Filsafat bermuara pada kebijaksanaan. Filsafat nilai disini penulis artikan sebagai sebuah nilai-nilai kebijaksaan yang merupakan sesuatu yang berharga dan penting bagi kehidupan manusia. Penulis mengambil dua fokus utama penelitian yakni tentang bagaimana proses pengambilan nilai itu diambil dan selanjutnya bagaimana filsafat nilai tersebut dalam memaknai kehidupan. Kebermaknaan hidup juga merupakan hal yang penting bagi manusia. Makna hidup boleh jadi dihasilkan juga oleh nilai-nilai di pesantren. Tokoh yang populer mengkaji tentang makna hidup salah satunya adalah Viktor E. Frankl. Menurutnya kebermaknaan hidup dapat dicapai melalui pengalaman Frankl menekankan bahwa pengalaman spiritual membentuk dan memuaskan will to mean . ehendak untuk hidup bermakn. Manusia yang kehilangan makna . erasaan tanpa makn. akan dalam kondisi kevakuman eksistensial yang dapat membuatnya frustasi. Selanjutnya bisa berakibat pada kondisi sakit bahkan berujung pada kematian. Penderitaan melahirkan felling of meaningless yang dapat menimbulkan penyakit eksistensial yang disebut Frankl sebagai noogenic neuroses. (Izura Rochma. Penulis menduga dan penasaran bahwa barangkali ada keterkaitan antara filsafat nilai santri dengan kebermaknaan hidupnya. Oleh karena rasa penasaran yang mendalam itulah yang menjadi salah satu alasan penelitian ini dilakukan. Tema yang peneliti ambil dalam pelitian ini adalah tentang pemaknaan filsafat nilai santri dalam kehidupan masyarakat dan implementasinya. Tema ini menjadi penting diangkat karena bedasarkan penjelasan pada paragraph sebelumya bahwa masalah nilai adalah suatu hal yang mendasar dalam zaman global saat ini. Setiap negara, setiap kelompok orang, bahkan setiap orang ingin orang lain menganut nilai yang diyakininya benar. Peneliti mencoba menggali nilai-nilai yang berasal dari santri pondok pesantren sebagai tawaran nilai yang baik untuk dianut masyarakat. Penulis memilih lokasi penelitian di pondok pesantren Hidayatul Mubtadiien (PPHM) Ngunut karena merupakan pondok yang terbesar di Tulungagung. Saat ini PPHM kurang lebih berusia 53 tahun sejak awal berdirinya. Tentu memiliki alumni yang banyak dan tersebar luas di Indonesia. Dari ribuan santri dan alumni banyak yang tersebar atau berasal dari pulau Sumatera. Kalimantan. Sulawesi dan mayoritas Jawa. Dengan demikian, memilih PPHM Ngunut sebagai tempat penelitian penulis berharap apa yang ditemukan dapat bermanfaat secara luas. Selain dari jumlah santri yang begitu banyak, penulis memilih pondok Ngunut dikarenakan banyak alumninya yang menjadi tokoh di masyarakat. Salah satu alumni yang terkenal seperti K. Muhson Hamdani yang menjadi Rais Syuriah PCNU Kabupaten Tulungagung. Juga alumni lainnya yang kebanyakan berperan menjadi tokoh agama di lingkungan masyarakat tempat ia tinggal. Pemaknaan nilai santri yang berkembang di pondok pesantren Ngunut adalah tentang akhlakul Nilai ini barangkali sangat mendominasi dikarenakan kuatnya figur KH. Muhammad Ali Shodiq dalam memberikan teladan setiap harinya semasa hidup. Perkembangan pondok setiap tahunnya juga mengalami peningkatan. Jumlah santri yang mukim berkisar 3000 anak yang terbagi atas lima unit. Serta ribuan alumni yang tersebar di penjuru nusantara. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 109-117 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Muhammad Fauzi Ridwan. Izzatul Amalina. Riyanto 112 Berangkat dari khasanah khas pesantren yang menjadi tempat belajar para santri dan merupakan lembaga pendidikan asli Indonesia. Hal ini menjadi menarik untuk digali dan dikaji khasanah filsafat nilai / nilai-nilai filosofis di dalamnya. Melalui wawancara yang mendalam penelitian dengan judul AuPemaknaan Filsafat Nilai Santri dalam Kehidupan Bermasyarakat: (Studi di Pondok Pesantren Hidayatul MubtadiAoien Ngunut Tulungagun. Ay ini dilakukan. Besar harapan penelitian ini memberikan sumbangsih dan bermanfaat bagi masyarakat. Metode Penelitian ini mengambil jenis penelitian kualitatif. Sedang pendekatan yang digunakan adalah Penelitian kualitatif adalah sebuah penelitian yang tidak berbasis angka. Adapun fenomenologi merupakan penelitian yang mencoba menjelaskan . engungkap makna konse. fenomena pengalaman yang disadari oleh kesadaran dan terjadi pada individu. (Moleong, 2. Studi fenomenologi mempelajari sebuah fenomena atau konsep bedasarkan sudut pandang dan keyakinan langsung dari individu. Bisa juga dari kelompok individu dimana mereka sebagai subjek yang mengalaminya langsung. Penulis memilih subjek santri, agar mendapatkan pemahaman mengenai kebermaknaan hidup bedasarkan sudut pandang dan proses pengambilan nilai yang mereka jalani di pondok pesantren. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipan, wawancara mendalam, dan Teknik analisis data menggunakan teori Miles dan Huberman yaitu diawali tahap reduksi data, penyajian data, kemudian verifikasi data. Teknik ini disebut pula teknik analisis induktif. Dalam proses analisis data, penulis menyeleksi data yang terkumpul. Setelah dilakukan seleksi, peneliti memulai pengkodean sesuai dengan pembahasan dan topik kemudian ditarik kesimpulan. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi, diskusi sejawat, dan perpanjangan Hasil Penelitian dan Pembahasan Pemaknaan Filsafat Nilai Santri di PPHM Ngunut dalam Kehidupan Bermasyarakat Nilai adalah suatu hal yang mendasar bagi manusia. Setiap manusia punya kehendak untuk menganut nilai yang diyakininya benar. Bahkan banyak pula yang ingin orang lain juga ikut menyakini nilai tersebut. Berbagai upaya dan alat digunakan agar nilai tersebut mudah dianut banyak orang. Proses globalisasi saat ini turut serta menyebarkan nilai-nilai secara global. Arus perkembangan zaman yang demikian cepat menyebarkan informasi ini menyeret semua elemen untuk ikut menghadapinya. Mau tak mau, pesantren yang termasuk Lembaga penanaman nilai harus mengikuti arus globalisasi nilai-nilai tersebut. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga keagamaan yang khas yang justru menyediakan kedamaian dan ketenangan di tengah mayarakat yang dinamis. Begitulah pengertian Gus Dur dalam salah satu kolomnya yang dimuat dalam buku Tuhan tidak perlu dibela (Lkis, 2. Pendidikan di pondok pesantren sarat dengan nilai-nilai normatif yang didorong oleh orientasi serba fiqh. Selain itu sikap kemandirian menjadi watak utama pada sistem pendidikan di Upaya menemukan makna merupakan hal yang penting bagi manusia. Karena apabila makna hidup berhasil ditemukan dan dipenuhi, seseorang akan merasakan kehidupan yang berharga dan (Bastaman, 2. Dalam makna hidup terdapat pula tujuan hidup. Ketika sebuah tujuan hidup benar-benar sudah mantap dan dihayati, maka orang akan menjalani hidup penuh makna. Makna hidup ini didapatkan dari kesadaran akan nilai setiap kegiatan yang santri lakukan. Semakin santri sadar bahwa apa yang ia lakukan adalah untuk mencapai tujuan hidup, maka semakin yakinlah santri bahwa apa yang ia lakukan itu bernilai dan bermakna. (Mujiburrahman, 2. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 109-117 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Pemaknaan Filsafat Nilai Santri dalam Kehidupan Bermasyarakat: Studi di Pondok Pesantren hidayatul Mubtadi-ien Ngunut Tulungagung 113 Pemaknaan filsafat nilai adalah upaya menggali lebih mendalam atas nilai-nilai pemikiran yang berhasil peneliti temukan di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Ngunut. Salah satu ciri nilai merupakan kualitas. (Risieri Frondizi, 2. Ada kadar atau tingkat baik buruknya sesuatu. Berikut ini penulis paparkan dan bahas beberapa pemaknaan nilai santri PPHM Ngunut. Pemaknaan filsafat nilai yang pertama yakni sebagai nilai uswah atau teladan dari seorang kyai kepada santrinya. Hal ini direalisasikan dengan melihat kehidupan keseharian santri yang selalu dan tinggal bersama kyai di dalam pondok. Kyai adalah uswatun hasanah. Dari perilaku kyai, santri belajar untuk mengikutinya. Seperti bagaimana akhlak kyai, semangatnya belajar dan mengajar, dan sifat-sifat lain yang ditampakkan. Uswah juga menjadi sarana dakwah. Seperti cerita yang disampaikan oleh subjek satu, melalui uswah kyai, mampu membuat orang lain mengikutinya dan masuk Islam. Ada ungkapan ulama adalah pewaris Nabi. Maka tugas Nabi berupa menjadi uswatun hasanah . eladan yang bai. juga diwariskan atau dilanjutkan oleh para Kyai. Pemaknaan yang pertama ini sesuai denagn karakteristik makna hidup menurut Bastaman, bahwa makna hidup yang ditemukan oleh santri akan memberikan pedoman dan arah terhadap kegiatan-kegiatan yang (Bastaman, 2. Pemaknaan filsafat nilai kedua sebagai wujud kesabaran santri atas proses pembelajaran di pondok pesantren yang dijauhkan dari segala macam hal yang mengganggu belajar. Sabar adalah kemampuan manajemen mental agar kuat menahan diri. Dalam kehidupan bermasyarakat sikap sabar juga memiliki peran yang banyak. Semisal ketika dihadapkan pada kondisi ekonomi sulit, sabar bisa obat hati untuk terus optimis. Orang yang sabar selalu memiliki harapan yang optimis pasti akan dicapainya. Bagi santri, sabar menahan diri juga bermakna untuk bisa fokus belajar. Terlebih santri yang berasal dari daerah yang jauh seperti Sumatera, ia harus sabar tidak berjumpa dengan orangtuanya dalam waktu lama. Kesabaran terdiri dari pengetahuan, keadan dan amal. Pengetahuan di dalamnya seperti pohon, keadaan seperti ranting, dan amal seperti buah. Maka diketahui bahwa maslaht keagamaan terdapat dalam kesabaran. Adapun kesabaran dalam ibadah diketahui bahwa seseorang bersabar beberapa hari dan akan bahagia selama-lamanya sebagai Kesabaran terbesar adalah sabar dalam menahan diri dari melampiaskan syahwat dan berlarut-larut dalam melakukannya. (Imam Ghazali, 2. Pemaknaan ketiga sebagai nilai kedisiplinan santri karena adanya aturan pondok yang mengikat erat dan ada hukuman bagi santri yang melanggar. Serta jadwal kegiatan pondok yang Kedisiplinan menjadikan masyarakat tertib dan tertata. Adanya peraturan pondok yang ketat dan jadwal kegiatan pondok yang padat melatih santri agar disiplin. Salah satu ciri kedisiplinan adalah menghargai waktu. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Setiap waktu santri terjadwal ikut kegiatan yang bermanfaat untuk belajar. Jadwal yang padat tersebut juga sebagai upaya melatih dan menanamkan kegiatan positif pada diri santri agar tebiasa melakukannya. Pemaknaan keempat sebagai nilai akhlakul karimah berupa sikap tawaduAo, rendah hati, sopan santun, keramahan dan adab yang baik. Cara bertutur kata seringkali menjadi sorotan pertama menilai budi pakerti atau akhlak seseorang. Pemaknaan kelima sebagai nilai kebersamaan santri atau wujud dari gotong royong dan kepedulian sosial. Hal ini direalisasikan dari kehidupan santri yang dijalani di pondok selalu tampak bersama-sama. Semisal ketika ada kegiatan pembangunan di pondok, ada tradisi bernama ro'an. Kebersamaan ini sesuai dengan ciri khas pesantren menurut Ahmad Syamsu Rizal tentang asas interaksi yakni kekeluargaan. Asas kekeluargaan mernjadi kuat di pesantren karena adanya kesamaan kepercayaan, kesamaan misi dan tujuan. Kebersamaan santri setiap harinya di pesantren menjadikan semakin erat hubungan interaksi santri. (Ahmad Syamsu Rizal, 2. Implementasi Filsafat Nilai Santri di PPHM Ngunut dalam Kehidupan Bermasyarakat JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 109-117 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Muhammad Fauzi Ridwan. Izzatul Amalina. Riyanto 114 Implementasi bedasarkan kamus aplikasi KBBI V memiliki arti pelaksan atau penerapan. Implementasi filsafat nilai santri PPHM Ngunut di kehidupan masyarakat peneliti rumuskan sebagai berikut. bersikap toleransi, akhlakul karimah, menjadi uswah di masyarakat dan generasi penerus pemimpin agama di masyarakat. Santri bersikap toleransi dalam arti menghormati segala perbedaan dan tetap memegang teguh persatuan umat dengan mengajak musyawarah terlebih dahulu sebelum memutuskan solusi problematika di masyarakat. Pondok pesantren merupakan miniatur kecil kehidupan Di pondok adalah tempat bertemunya segala macam perbedaan. Satu santri dengan yang lainnya punya perbedaan latar belakang. Terlebih santri yang berasal dari luar daerah. Toleransi berasal dari bahasa latin yakni AutolerantiaAy dan berarti kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran. Dengan kata lain, toleransi merupakan satu sikap untuk memberikan sepenuhnya kepada orang lain agar bebas menympaikan pendapat, kendati pendapatnya belum tentu benar atau berbeda (Moh Yamin, 2. Kehidupan di pesantren juga berbeda dengan ketika di rumah. Ada aturan yang mengikat Ia tidak bisa lagi bebas melakukan apapun, sebab di pondok ada peraturan wajib dan jadwal kegiatan yang padat. Tantangan pertama yang dialami santri adalah adaptasi. Ada semacam seleksi alam yang menguji ketahanan santri di pondok. Santri yang terus bertahan di pondok, ia telah belajar toleransi. Baik toleransi pada dirinya maupun dengan santri lainnya. Toleransi santri pada dirinya sendiri, ia wujudkan dengan menerima dan mengikuti kegiatan yang baru baginya di Santri harus taat peraturan dan wajib mengikuti kegiatan di pondok. Apabila melanggar, akan ada punisment yang diberikan. Istilahnya di-takzir. Sedang sikap toleransi dengan santri lainnya diwujudkan dengan rasa saling menerima dan Secara sosial, kehidupan santri di pondok selalu bersama-sama. Dalam kegiatan apapun, santri selalu bersama-sama menjalaninya. Satu kamar berisi sekitar dua puluh santri. Jadi, jarang sekali ditemui santri yang sendiri. Kalau pun dijumpai santri yang sendiri, boleh jadi ia kurang pandai bergaul. Barangkali juga belum bisa bersikap toleransi dengan santri lainnya. Sikap toleransi dan kebersamaan yang dilatih di pesantren ini akan bermanfaat ketika kembali ke Ketika ada sebuah problem di masyarakat, sedang ia diminta memutuskan solusinya, seorang santri tidak terburu-buru memutuskannya. Seperti yang diceritakan oleh subjek satu bahwa keputusan harus diambil bedasarkan musyawah dulu, yakni diputuskan ketika dalam forum Contoh kegiatan santri yang sangat erat dengan sikap kebersamaan dan toleransi adalah saat batsul masail dan ro'an. Kehidupan pesantren yang sedemikian rupa memiliki ciri khas watak norma dan nilai religius. Setiap norma yang berlaku di peasantren bersumber dari nilai agama Islam. Maka akan dapat dirasakan begitu kentalnya suasana religius dalam setiap ruang dan waktu di pesantren. (Ahmad Syamsu Rizal, 2. Implementasi filsafat nilai santri selanjutnya adalah bersikap akhlakul karimah sebagai upaya dirinya menjaga nama baik pondok pesantren. Menyandang sebutan santri, tentu ada semacam pertanggungjawaban atas sebutan itu. Bagaimana agar sebutan tersebut bisa dinilai pantas disematkan kepadanya. Selama ini santri digambarkan sebagai seorang yang belajar agama di pondok pesantren. Tentu sebagai seorang pelajar, ada sikap dan perilaku yang harus dilaksanakan. Seperti menjaga adab berpakaian, berbicara dengan sopan dan berperilaku santun. Akhlak yang baik adalah bentuk batin. Sifat-sifat tercela digantikan dengan sifat-sifat terpuji merupkan akhlak yang baik. Akhlak baik yang sempurna ada pada diri Rasulullah Saw, karena dalam makna ini beliau mencapai derajat sempurna. Nabi Saw bersabda AuBaguskanlah akhlakmuAy. Beliau mengingatkan bahwa akhlak dapat berubah dengan terpengaruh di bawah tindakan manusia. Maka hendaknya berusaha menundukkan amarah dan syahwat. (Imam Ghazali, 2. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 109-117 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Pemaknaan Filsafat Nilai Santri dalam Kehidupan Bermasyarakat: Studi di Pondok Pesantren hidayatul Mubtadi-ien Ngunut Tulungagung 115 Akhlakul karimah menjadi tujuan pembelajaran di pesantren. Mendidik adab lebih Santri dilatih untuk jujur, disiplin, sabar, ulet, tekun, mandiri dan akhlak-akhlak baik Pembelajaran ini tidak hanya diajarkan dalam kitab, namun juga dengan meniru apa yang diteladankan oleh sang kyai dan para ustaz. Akhlaqul karimah adalah budi pekerti atau tata krama yang baik dalam berhubungan sesama makhluk. Menata bagaimana seseorang itu bersikap sopan pada yang lebih atas dan santun pada yang dibawahnya. Menjadi seorang yang berakhlaqul karimah itu tidak mudah. Harus melawan nafsu ego yang suka berpolah tingkah. Zaman dulu, diutus seorang Rasulullah Muhammad saw sebagai penyempurna akhlak manusia. Seiring kemajuan kehidupan menuju zaman akhir. Nilai-nilai akhlak semakin terkikis dan semakin rusak budi pekerti manusia. Ada pesan yang disampaikan oleh KH. Adib Minannurrohman Ali. "sebenarnya sekolah itu untuk melatih akhlak bukan untuk menjadikan seseorang itu pintar". Sekolah merupakan tempat dimana akhlak seseorang dilatih. Pembentukan karakter yang baik menjadi point utama. Pembelajaran melatih akhlaq juga dapat diperoleh di pondok. Dengan segenap peraturannya bisa membuat nafsu ego untuk sedikit menahan polah tingkah seseorang yang melampaui batas. Predikat santri membawa seseorang pada sebuah nama baik pondok. Gelar tersebut akan selalu dijaganya seperti menjaga nama baik orang tuanya. Terakhir. Implementasi filsafat nilai santri berperan sebagai kader generasi pemimpin agama di masyarakat selanjutnya. Mendidik agama pada anak adalah tanggungjawab orang tua. Anak adalah penerus orangtuanya. Cita-cita anak kelak menjadi apa, juga dipengaruhi dukungan Ketika orang tua menjadi tokoh masyarakat, kebanyakan anaknya dididik agar kelak bisa melanjutkan perjuangan dakwah orangtuanya. Setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya Ada perjuangan mengalahkan hawa nafsu agar mampu memimpin diri. Tingkat kedewasan juga dilihat dari bagaimana cara ia memimpin. Dalam sebuah kelompok masyarakat, sosok pemimpin merupakan hal pokok yang harus dimiliki. Pemimpin adalah penunjuk jalan. Kemana dan bagaimana kehidupan masyarakat kedepannya sebagian ditentukan oleh kepemimpinan Ia juga menjadi seorang panutan bagi masyarakat. Santri dinilai mampu menjadi penerus pemimpin di masyarakat. Khususnya memimpin dalam kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Pengalaman belajar mengaji agama di pondok diaplikasikannya dengan turut serta mengamalkannya di masyarakat. Semisal ketika di pondok belajar mengaji al-Qur'an, pulang di masyarakat membantu di TPQ dan semacamnya. Santri menjadi sorotan masyarakat atau uswah sehingga menjadi pemantik masyarakat untuk ikut memondokkan anaknya dengan harapan dapat berperilaku seperti santri tersebut. Uswah adalah keteladanan yang baik. Dari kyai, santri mengambil uswah. Istilah uswah merupakan sebutan untuk kata teladan dalam term Al-QurAoan yang memiliki ari suatu keadaan ketika sesorang manusia mengikuti manusia lain, apakah dalam kebaikan dan kejelekan. (Arief Armani, 2. Uswah ibarat magnet yang menarik orang untuk mendekat dan mengikutinya. Kebesaran pondok Ngunut yang memiliki ribuan santri boleh jadi karena uswah dari sang kyai pendiri pondok. Hal ini sama dengan tugas diutusnya Nabi sebagai uswatun hasanah. Sedang ulama adalah pewaris para Nabi. Kesimpulan Bedasarkan paparan data hasil penelitian dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, yakni tentang pemaknaan filsafat nilai santri dalam kehidupan bermasyrakat, maka dapat disimpulkan sebagai JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 109-117 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Muhammad Fauzi Ridwan. Izzatul Amalina. Riyanto 116 Pemaknaan filsafat nilai santri dalam kehidupan masyarakat Santri pondok Ngunut memaknai filsafat nilai sebagai nilai uswah atau teladan, nilai kemandirian dalam bekerja atau berwirausaha, nilai kedisiplinan, nilai akhlakul karimah dan nilai kebersamaan. Implementasi filsafat nilai santri dalam kehidupan bermasyarakat. Implementasi filsafat nilai santri pondok Ngunut di kehidupan masyarakat dengan bersikap toleransi, akhlakul karimah, menjadi uswah di masyarakat dan generasi penerus pemimpin agama di masyarakat. Daftar Rujukan Armai. Arief. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2. Bastaman. Logoterapi: Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2. , hlm 3 Dhofier. Zamakhsyari. Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai, (Jakarta: LP3ES, 1. , hlm. Nafsi. Filzatun. Retno Intan Kuswari, and Muhammad Saiqul Huda. "IMPLEMENTASI KARAKTER SOPAN SANTUN MELALUI PROGRAM TAHFIDZ KELAS VI DI MI AL QURAoAN JABALKAT TULUNGAGUNG. " JIPSKi: JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE AND ISLAMIC STUDIES 1. : 52-56. Maulida. Fahma, and Achris Achsanudtaqwin. "PERNIKAHAN BEDA AGAMA (Tafsir Tematik Alquran Tentang Hubungan Sosial Antar-Umat Beragama Karya Muhammadiya. " JIPSKi: JOURNAL OF EDUCATION AND ISLAMIC STUDIES 1. : 57-74. James. William. The varieties of religious experience, (Yogyakarta. IRCiSoD, 2. , hlm. ,41 Geertz. Cliffort. Abangan. Santri. Priyayi dalam Masyarakat Jawa, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1. , hlm. Ghazali. Imam. Ringkasan IhyaAo Ulumuddin, (Jakarta: Pustaka Amani, 2. hlm 356 Moleong. Metodelogi penelitian kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2. , hlm. Mujiburrahman. Humor Perempuan dan Sufi, ( Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2. Patoni. Achmad. Kyai Pesantren dan Dialektika Politik Kekuasaan, (Tulungagung: IAIN Tulungagung Press, 2. Qomar. Mujamil. Pesantren. Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokrasi Institusi, (Jakarta: Erlangga, 2. , hlm. Risieri Frondizi. Pengantar Filsafat Nilai, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. Rochma. Izura. Skripsi: Hubungan Antara Kebersyukuran Dengan Makna Hidup Pada Pensiunan, (UII Yogyakarta. , hlm 11-12 Ro'uf. Muhammad Fathur. Riyanto. "KEPEMIMPINAN PROFETIK KEPALA SEKOLAH DALAM MEMBANGUN LOYALITAS TENAGA PENDIDIK DAN KEPENDIDIKAN. " JIPSKi: JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE AND ISLAMIC STUDIES 1. : 102-108. Syamsu Rizal. Ahmad. UPI Bandung. Pendidikan Nilai secara Active Learning dalam Tradisi Pondok Pesantren. Jurnal Pendidikan Agama Islan. TaAolim. Vol. 10 No. 1, tahun 2012, hlm. Ulvia. Ulvia Fatkurin Fuad, and Retno Intan Kuswari. "Efektifitas Penerapan Kegiatan Tahfidz JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 109-117 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Pemaknaan Filsafat Nilai Santri dalam Kehidupan Bermasyarakat: Studi di Pondok Pesantren hidayatul Mubtadi-ien Ngunut Tulungagung 117 QurAoan Dalam Pembentukan Karakter Siswa Mi Al-Ishlah Pondok Pesantren Tulungagung. " JIPSKi: JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE AND ISLAMIC STUDIES 1. : 1-13. Wahid. Abdurrahman. Tuhan Tidak Perlu Dibela, (Yogjakarta: Lkis, 2. Yamin. Moh. Vivi Aulia. Meretas Pendidikan Toleransi Pluralisme dan Multikulturalime Keniscayaan Peradaban, (Malang: madani Media, 2. hlm 5 https://w. id/opini/pesantren-dulu-kini-dan-mendatang-ft7l9d, diakses pada 3 Januari 2024 pukul 12. 00 WIB. Zunaidah. Anis. Siti Aisyah Yusuf, and Siti Henik Luluk Badriyah. "STRATEGI PEREMPUAN DALAM PEMBELAJARAN FONETIK ARAB SEBAGAI UPAYA PEMBERANTASAN BUTA HURUF ARAB DI TAMAN PENDIDIKAN ALQURAoAN (TPQ). " JIPSKi: JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE AND ISLAMIC STUDIES 1. : 84-92 JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 1. Nomor 1. Desember 2023, 109-117 E-ISSN x-x. P-ISSN x-x Published: -. Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski