Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 7 Nomor 2, Februari 2024 ISSN: 27342488 INTERNALISASI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM SERAT WEDHATAMA KARYA K.G.P.A.A MANGKUNEGARA IV Anggy Pratama Email: ikianggy@gmail.com Universitas Islam Tribakti Kediri ABSTRAK Tujuan dari penulisan adalah mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan akhlak yang termaktub dalam Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah kepustakaan (library research) dengan sumber data primer Sumber utama yaitu Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegoro IV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serat wedhatama karya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV berisi tentang landasan pembinaan akhlak, di dalamnya terdapat berbagai macam metode pembinaan akhlak yaitu mengendalikan hawa nafsu (dengan cara bertapa,semedi dan puasa), meneladadi leluhur dan mencari guru yang pandai. Adapun pendidikan akhlak yang terdapat dalam serat wedhatama yaitu pengendalian diri dari sifat egois, pengendalian diri dari berbicara dari yang tidak bermanfaat, pengendalian diri dari sifat sombong, lila(ikhlas), narima (menerima), sabar dan rendah hati (tawadhu). Sedangkan tujuan pendidikan akhlak dalam serat wedhatama yaitu untuk membentuk manusia yang berbudi pekerti luhur. Kata Kunci: K.G.P.A.A Mangkunegara IV, Serat Wedhatama, pendidikan Akhlak. ABSTRACT The purpose of this writing is to describe the values of moral education contained in Serat Wedhatama by KGPAA Mangkunegara IV. This research approach uses a qualitative approach, while the type of research used is library research with primary data sources. The main source is Serat Wedhatama by KGPAA Mangkunegoro IV. The results of the research show that the wedhatama fiber by Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV contains the foundations of moral development, in which there are various methods of moral development, namely controlling desires (by asceticism, meditation and fasting), emulating ancestors and looking for clever teachers. The moral education contained in the wedhatama fiber is self-control from selfishness, self-control from speaking things that are not useful, self-control from being arrogant, lila (sincerity), narima (accepting), patience and humility (tawadhu). Meanwhile, the aim of moral education in the wedhatama fiber is to form people with noble character. Keyword: K.G.P.A.A Mangkunegara IV, Serat Wedhatama, Moral education . 8 PENDAHULUAN Rapuhnya karakter yang dimiliki oleh generasi penerus dapat membawa kemunduran dalam peradaban suatu bangsa. Begitu juga sebaliknya, kehidipan masyarakat yang berkarakter tinggi akan semakin memperkuat eksistensi suatu bangsa dan negara. Dalam Pasal 3 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah dirumuskan : ”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Pendidikan mempunyai peran penting dalam terjadinya proses rekonstruksi sosial, pembudayaan dan sosialisasi. Pendidikan berperan juga sebagai proses interaksi manusia dengan lingkungannya, baik itu hubungannya dengan lingkungan manusia atau lingkungan alam. Pendidikan di Indinesia belum dinilai optimal apabila belum mampu membangun karakter bagi generasi-generasi penerus. Hal tersebut dikarnakan kepribadian kearifan lokal yang sudah mulai tergerus oleh modernisasi, pudarnya etika masyarakat karena mulai lemahnya pendidikan etika terutama untuk generasi muda, budaya gotong royong mulai melemah, pendidikan mengenai budi pekerti dilembaga pendidikan kurang diakomodasi. Maka, sangat dibutuhkan upaya melalui pendidikan karakter untuk membangun dan memperbaiki bangsa Indonesia yang sudah mulai lupa dengan jati dirinya. Karakter diartikan sebagai kepribadian atau tabi’at. Karakter mendefinisikan mengenai keseluruhan tata perilaku secara psikis yang akan menjadi tipikal dalam cara bertindak dan cara berpikir. Karakter kuat akan menjadikan kehidupan manusia menjadi damai, disertai dengan kebajikan, moral yang baik dan akan terhindar dari segala bentuk kekerasan. Pendidikan dalam bidang karakter merupakan pendidikan yang diberikan guna untuk membentuk kondisi peserta didik dengan karakter mulia dan mampu mengambil keputusan berdasarkan adab dengan sesamanya maupun adab dengan Tuhannya. Dalam perspektif Agama Islam, hasil dari penerapan syari’at yang menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman dasar agama, dan berlandaskan pula pada kondisi akidah yang kokoh yang dapat menghasilkan sebuah karakter dalam diri seorang insan. Usaha dalam membentuk seorang insan dengan kepribadian yang sempurna, beriman, dan senantiasa bertaqwa kepada Allah YME. Merupakan tujuan dari pendidikan Agama Islam. Adapun pembentuk kepribadian atau karakter dalam Islam meliputi sifat, sikap, perbuatan, reaksi dan perilaku. Dalam kehidupan masyarakat jawa Pendidikan karakter tersebut selalu ditekankan dalam sisi kehidupannya. Orang tua di Jawa mendidik para putra dan putrinya dengan membiasakan pada adat budaya dan kebiasaan yang telah mereka yakini secara turun temurun. Salah satunya dengan melalui pendidikan tembang macapat. Tembang macapat ini menjadi salah satu sarana orang tua di Jawa dalam mendidik dan memberikan wawasan kepada putra putrinya. Begitu banyak tembang macapat yeng berisikan nasihat-nasihat dalam menjalani kehidupan yang benar. Salah satunya yaitu tembang macapat Kinanthi pada serat Wedhatama yang begitu kaya akan pedoman-pedoman dalam menjalani kehidupan yang benar sesuai dengan tuntunan agama. Serat Wedhatama adalah buah karya dari K.G.P.A.A Mangkunegara IV. Wedhatama ini adalah sebuah karya sastra yang berisikan pengetahuan utama. Sebuah pengetahuan yang diajarkan dan dipraktikkan dalam kehidupan. Serat Wedhatama ini mengajarkan pada seorang insan bagaimana cara menempa jiwa dalam hidup didunia. Dengan jiwa yang kuat, Tangguh, dan kokoh manusia akan dapat menjalankan kehidupan beragama sesuai dengan tuntunan. Dalam serat Wedhatama juga mengajarkan bagaimana cara menghargai seseorang itu bukan hanya dari usianya, derajatnya, atau pun jabatannya. Akan tetapi juga mengajarkan 9 untuk menghargai seseorang karna ilmu yang dimilikinya. Serat Wedhatama dapat dikatakan juga sebuah karya etika, Dimana didalam karya tersebut banyak mengajarkan mengenai petunjuk hidup, tuntunan serta nasihat-nasihat kepada manusia supaya menjadi manusia yang berprilaku baik dan berakhlak mulia. Pada serat ini juga ditemukan nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat menjadi jalan upaya manusia untuk menyempurnakan akhlak dan memperbaiki karakternya, yang disampaikan melalui kesenian budaya Jawa tetapi tetap disandarkan kepada ajaran agama Islam. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Peneliti menggunakan bentuk penelitian library research (penelitian pustaka) yaitu dengan melalui menelaah buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.Pada kajian ini, serat Wedhatama memberikan kontribusi terhadap Pendidikan yang nantinya dapat pula dijadikan sebagai bahan ajar kepada peserta didik dalam mempelajari Pendidikan karakter melalui bentuk karya sastra Jawa. Berdasarkan hal-hal yang telah dijabarkan di atas, maka alasan peneliti melakukan penelitian,serta pentingnya penelitian ini dilakukan yaitu dikarenakan supaya generasi masa kini tetap dapat memahami peninggalan berupa karya sastra milik generasi sebelumnya. Pada Serat Wedhatama dapat dikatakan merupakan sebuah karya sastra, dimana di dalamnya banyak mengajarkan mengenai petunjuk hidup, tuntunan serta nasihat kepada manusia supaya menjadi manusia yang berlaku baik dan berakhlak. Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan, maka akan dikaji bagaimana internalisasi nilai Pendidikan karakter di dalam Serat Wedatama bagi generasi penerus. ME TODE PE NE LITIA N Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. peneliti menggunakan bentuk penelitian library research (penelitian pustaka) yaitu dengan melalui menelaah buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Dengan objek primer adalah kepustakaan dengan sumber primer yaitu serat Wedhatama karya K.GP.A.A Mangkunegara IV. Sumber Data Sekunder Yaitu sumber data yang diperlukan untuk menunjang proses penyelesaian tugas penelitian yang referensinya ada kesamaan dan memiliki sumber-sumber yang valid dan akurat. Proses pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan dengan metode interpretasi yakni menunjukan arti, mengungkapkan serta menyatakan esensi dari konsep pemikiran K.G.P.A.A Mangkunegara IV yang tertuang didalam Serat Wedhatama. i i i i i HASIL DAN PEMBAHASAN A. Serat wedhatama Serat Wedhatama adalah buku filsafat Jawa yang berisi ajaran-ajaran luhur, sehingga sangat baik sebagai bacaan generasi masa kini. Wedhatama dibentuk dari dua kata, yakni Wedha dan tama. Wedha artinya pengetahuan dan ajaran, sedangkan tama atau utama yang artinya baik, luhur, atau tingginya nilai. Mangkunegara IV sebagai pengarang Serat Wedhatama bertujuan memberi nasihat dan petunjuk kepada ahli warisnya untuk memakai dan tetap melaksanakan ilmu agama yang telah turun temurun menjadi pegangan para kerabat kerajaan, yaitu Agama ageming aji agama yang disandang para bangsawan. Nasihat ini dituangkan dalam empat bab, setiap bab memuat pola tembang pattern of a song yang sesuai dengan isi nasihat, pokok nasihat adalah petunjuk tata laku susila di dalam masyarakat dan di dalam menjalankan ibadat Islam, baik secara lahir maupun batin the observance of Islam in exotic and esoteric sense sehingga mencapai kenyataan dan pengetahuan tertinggi, ialah ma’rifat. Sesuai dengan judulnya Wedhatama yang berarti pengetahuan yang utama, maka Wedhatama adalah sebuah kitab wulang. Penulisan Serat Wedhatama merupakan hasil intropektif yang dalam dari kondisi kehidupan masyarakat keraton Surakarta pada khususnya 10 dan indonesisa pada umunya. Pada dasarnya isi dari serat Wedhatama ialah tentang Bagaimana cara mendidik anak yang benar dan nasihat-nasihat yang mulia. Serat Wedhatama ini terdiri dari 100 bait yang terbagi menjadi 5 pupuh (bab/bagian), yaitu Pangkur,Sinom, pucung, Gambuh,dan Kinanthi. Naskah awal dalam serat Wedhatama berupa pupuh pangkur. Kata pangkur berasal dari kata “kur“ yang membentuk kata pungkur (yang telah lalu, telah lampau). Pupuh pangkur ini bisa juga diartikan sebagai muqoddimah atau pendahuluan yang berisikan latar belakang dari suatu serat. Pupuh pangkur dalam Serat Wedhatama ingin mengajarkan ilmu yang sempurna, yang menjadi pedoman bagi setiap orang yakni berisi tentang sopan santun.dalam serat wedhatama pupuh pangkur berada di bait 1-14. Yang kedua yaitu pupuh Sinom, sinom dalam kamus jawa mempunyai arti daun muda atau daun pucuk pohon asam. Dalam serat pupuh sinom ini menunjukan makna suatu keadaan yang masih muda. Berisi tentang keberhasilan mawas diri, adegan dalam Senopati, raja Mataram yang dalam hal ini mendapat gelar wong Ngeksigondo (orang yang hambanya) seorang raja teladan, ramah dan memasyarakatkan serta secara teratur menjalankan tapa (puasa), tetapi selamanya beliau tidak pernah mengasingkan diri dari masyarakat. Dalam serat Wedhatama pupuh sinom berada pada bait ke 15-32. Pupuh Pucung, bermakna sebagai bumbu dialog, percakapan, atau nasihat, agar suasana menjadi santai, menurunkan ketegangan, hilanglah suasana keras. Dalam serat Wedhatama pupuh Pucung ini pada bait ke 33-47. Pupuh Gambuh, mengandung makna tematik yang bersifat keakraban. Pupuh gambuh dalam serat Wedhatama pada bait ke 48-82. Pupuh Kinanthi, kosa kata kinanthi berasal dari kata dasar kanthi yang bermakna gandeng. Pupuh ini mengandung makna kemesraan, dan pupuh ini digunakan sebagai penutup. Pupuh kinanthi ini pada bait ke 83-100. Serat Wedhatama adalah sebuah karya sastra yang mengajarkan tentang budi pakerti luhur, budi pakerti yang baik, akhlak mulia. Budi pakerti mulia itu merupakan kearifan lokal. Serat Wedhatama memberikan tuntunan bagi orangorang yang menghendaki kebahagian hidup di dunia dan di akhirat. Wedhatama mengajarkan kita bagaimana kita bisa menempa jiwa kita dalam menjalani kehidupan didunia ini. Dengan jiwa yang kuat,tangguh, dan kokoh kita akan dapat menjalankam kehidupan beragama yang sesuai tuntunan syari’at. Dan yang jelas Serat Wedhatama mengajarkan pada setiap manusia tentang kesucian batin dalam menjalani hidup sebagai manusia mulia, insan kamil, atau manusia sempurna. Isi ajaran yang termaktub didalam serat Wedhatama tersimpul pada enam acuan, yaitu Pertama, penting bagi setiap insan untuk menuntut ilmu lahir maupun batin. Agar hidup dan kehidupannya di dunia yang hanya berlangsung satu kali tidak mengalami kerusakan atau kepapaan. Kedua, menempa jiwa dan melaksanakan agama dengan tuntunan para ahli dalam bidangnya. Ketiga, harus menyadari, bahwa ilmu yang benar tidak selalu bersemayam pada orang yang lanjut usia, namun dapat pula pada insan yang hina papa, asalkan ia mendapat rahmat Tuhan YME. Keempat, bagi mereka yang taat dalam beragama harus mampu mencerminkan pada perkataan dan perbuatannya sebagai seorang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Kelima, yang berkeinginan menghayati ilmu, harus dibarengi dengan mengekang hawa nafsu, tawakal, berserah diri kepada Tuhan YME. Keenam, limpahan anugrah tuhan haruslah disyukuri dengan mensucikan batin dan menjauhi sifat angkara murka, dan dibarengi dengan ketekunan menjalankan sembahyang 4 macam, yakni sembahyang raga, sembahyang cipta, sembahyang jiwa, dan sembahyang rasa. Sembahyang raga, ialah sembayang lima waktu yang dilakukan umat islam pada umumnya. Sembayang cipta tidak bersuci diri seperti sembahyang raga, yang dilakukan ialah dengan melatih diri mengurangi hawa nafsu amarah secara cermat. Hasil dari sembahyang cipta ialah akan membentuk pribadi seseorang menjadi arif dan bijaksana. Sembahyang jiwa, ialah bertujuan mengenal pribadinya sendiri, dan sarana yang digunakan untuk bersuci diri ialah selalu mengolah batin dan selalu ingat akan alam baka. Sembahyang rasa, ialah suatu usaha agar manusia dapat merasakan hakikat kehidupan. 11 B. Biografi K.G.P.A.A Mangkunegara IV Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV di Surakarta adalah cicit dari K.G.P.A.A Mangkunegara I ( R.M. Said / Pangeran Sambernyowo). K.G.P.A.A Mangkunegara IV adalah putra dari K.P.H. Hadiwijoyo I yang menikah dengan putri K.G.P.A.A Mangkunegara II. Beliau adalah putra ke-7 yang lahir pada malam Ahad Legi, tanggal 1 sapar jimakir 1736 atau pada tahun 1809 M. Pada saat masih kecil beliau bernama Raden Mas Soediro. R.M. Sudira pada masa kecilnya tidak memperoleh pendidikan formal.Hal ini terjadi karena di Surakarta pada waktu itu belum ada pendidikan formal. Dengan demikian, pendidikan R.M. Sudira diberikan secara privat, yaitu dengan cara mendatangkan guru-gurunya untuk memberikan pelajaran secara pribadi di rumah. Para Bangsawan di Surakarta pada saat itu belum mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang modern. Pendidikan dan pengajaran kepada para bangsawan pada saat itu dilakukan dengan cara khas adat Jawa. Dalam artian tujuan akhir dari pendidikan dan pengajaran pada massa itu tidak mutlak untuk mentransfer suatu ilmu pengetahuan, akan tetapi lebih mengarah kepada peningkatan dan pengembagan kepribadian. Hal itu dibuktikan dengan pendidikan dan pengajaran yang dilakukan serta ruang lingkup aplikasinya yang besumber pada cerita cerita yang turun temurun dari nenek moyangnya. Pelajarannya berupa pencerminan filsafat kejawaan yang pengaruhnya besar sekali pada alam pikiran Jawa. Dengan demikian, pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada para bangsawan tinggi khususnya, bukan semata-mata pendidikan dan pengajaran seperti yang dilakukan oleh para guru sekarang.Pendidikan dan pengajaran itu dilaksanakan sesuai dengan pertumbuhan anak-anak dan orang-orang secara wajar atau berdasarkan bakat anak. R.M. Sudiro juga mendapat tuntunan dari orang-orang Belanda yang didatangkan oleh Sri Mangkunegara II, untuk mengajari bahasa Belanda, tulisan latin, dan pengetahuan lainnya. Di antara orang- orang Belanda itu antara lain J. C.F.Dr. Gericke dan C.F. Winter. Sri mangkunegara II juga seringkali ikut serta menangani sendiri dalam mendidik dan mengajar, ia mengajar ilmu kanuragan (kebatinan), sebagai usaha menyempurnakan pendidikan dan pengajaran yang dberikan oleh guru-gurunya yang didatangkan itu Pendidikan dan pengajaran yang langsung dalam pengawasan Sri Mangkunegara II, lamanya sampai R.M. Sudira berusia 10 tahun. Setelah R.M Sudiro berumur 10 tahun, oleh kakeknya K.G.PA.A Mangkunegara II diserahkan kepada sarengat alias pangeran Rio. Saudara sepupuhnya yang suatu saat akan menggantikan beliau K.G.P.A.A Mangkunegara II. Pangeran Rio diserahi tugas untuk mendidik Sudiro tentang membaca, menulis, berbagai macam kesenian dan kebudayaan, serta ilmu pengetahuan lainnya. R.M Sudiro menimbah ilmu kepada Pangeran Rio selama 5 tahun lamanya. Dibawah bimbingan Pangeran Rio inilah jiwa kepunjanggaan dan kesatria mulai ditanamkan pada diri R.M. Sudiro. R.M. Sudiro mempunyai rasa ingin tau yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan Agama Islam dengan dijadikan sebagai pegangan hidup didunia dan bekal diakhirat kelak. Seperti pengakuannya dalam Serat Wedhatama Pupuh Sinom bait ke-12, yaitu: “Saking duk maksih taruna, Sadhela wus angklakoni, Aberag marang agama, Maguru anggering kaji, Sawadine tyas mami, Banget wedine ing besuk, Pranata ngakir jaman, Tan tutug kaselak ngabdi,, Nora kober sembayang gya tinimbalan” Artinya: “Sejak masih muda, Sebentar telah mengalami, Mempelajari agama, Berguru menurut aturan haji, Sebenarnya rahasia hatiku, Sangat takut kelak kemudian, Aturan di akhir jaman, Belum sampai mengabdikan diri, Tak sempat sembayang segera dipanggil.” Pada usia beliau yang masih berumur 15 tahun, beliau telah masuk di dunia kemiliteran dan menjadi taruna infranti legion Mangkunegara. Selang tiga tahun, lalu beliau diangkat 12 menjadi kapten, lalu dinikahkan dengan puterinya KPH Surya Mataram yang sulung bernama BRA Dunuk. K.G.P.A.A Mangkunegara IV ialah orang yang berkepribadian kuat, citacitanya yang tinggi, wawasannya yang jauh, kewibawaan yaitu dalam kemiliteran, ketrampilannya dalam pemerintahannya, kedalaman perasaannya dalam agama dan seni budaya, ia diangkat menjadi pengganti Mangkunegara III setelah beliau wafat, ia diangkat dengan sebutan Prabu Prangwadana letnan kolonel infantri legiun Mangkunegaran pada tanggal 14 Rabiul Awal tahun Jimawal 1781 atau tanggal 24 Maret 1853. Adapun gelar Mangkunegara IV diraihnya pada hari Rabu Kliwon 27 Sura tahun Jimakir 1786, berdasarkan Surat Keputusan tanggal 16 Agustus 1857 dalam usia 47 tahun. Karya dan jasa K.G.P.A.A Mangkunegara IV Dalam menjalankan kepemerintahan mangkunegaraan, beliau dikenal sebagai sosok yang sangat mandiri, penuh dengan inisiatif dan daya cipta. Yaitu : Pertama, di dalam bidang kepemerintahan beliau meneliti dan mempertegas kembali batas-batas kepemerintahan mangkunegaraan, antara kadipaten mangkunegaraan dengan milik kesunanan surakarta dan kasultanan Yogyakarta (desa-desa Ngawen di dalam wilayah kesultanan Yogyakarta, adalah milik kadipaten Mangkunegaran kala itu). Kedua, beliau mewajibkan bagi keturunan mangkunegaran yang telah dewasa untuk mengikuti pamogpraja dan pendidikan militer selama 6-9 bulan. Ketiga, dalam bidang sosial ekonomi, beliau menciptakan berbagai macam usaha komersil yang menjadi sumber pendapatan pada kadipaten dan seisinya, membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi rakyat mangkunegaran. Usaha-usaha yang didirikan beliau antara lain: Pabrik-pabrik gula di berbagai daerah mangkunegaran, pabrik sisal, pabrik bungkil, pabrik batu bata dan genteng, serta perkebunan-perkebunan yang ditanami karet, kopi, teh, dan kina. Beliau juga mendirikan perumahan-perumahan untuk disewakan baik dalam kota Surakarta maupun luar kota Surakarta. Keempat, dalam bidang sosial, sebagai manifestasi daripada keluhuran para leluhurnya dan layaknya kerajaan yang berdikari (walaupun kecil), pemerintahan dilengkapi dengan berbagai macam peralatan kerajaan yang mewah, seperti perhiasan, meja kursi yang berukiran, permaidani-permaidani, arca-arca, dan berbagai macam kebutuhan rumah tangga, kesumuanya itu beliau pesan dan dibelinya dari luar negri. Dalam hal filsafah dan kesusastraan, beliau sealiran dengan pujangga besar, yaitu Sri Susuhunan PB. IX R. Ng. Ronggowarsito. Disaat beliau belum naik tahta, beliau akrab sekali dengan R. Ng Ronggowarsito, hampir setiap minggu ke-dua beliau berdua bertemu untuk bertukar wawasan dan kewaskitaan. K.G.P.A.A Mangkunegara IV, wafat pada hari Jum’at Wage, tanggal 6 Sawal Jimakir 1810 atau 8 September 1881 M, pada usia 75 tahun dan beliau menjabat selama 25 tahun. Putra-putri beliau sebanyak 32 orang, yang 10 orang diantaranya wafat waktu masih kecil, dan dua orang putranya berturut-turut naik tahta sebagai Mangkunegara V dan VI. C. Internalisasi nilai-nilai Pendidikan Akhlak dalam Serat Wedhatama 1. Landasan Akhlak dalam Serat Wedhatama Serat Wedhatam ini adalah kitab filsafat jawa yang membahas tentang ajaran-ajaran luhur yang ada pada masa kerajaan mataram islam. Pada saat itu para Raja dijawa yang beragama islam bersemangat dalam menyebarkan agama Islam dan juga memperluas kekuasaannya. Selain itu, para Raja juga mengembangkan kebudayaan jawa dengan diselipkan corak kebudayaan islam. Salah satu budaya jawa yaitu tembang. Tembang adalah sebuah syair berbahasa jawa yang disusun menurut aturan-aturan tertentu. Tembang didalam kebudayaan jawa terbagi menjadi tiga, yaitu tembang macapat, tembang tengahan, tembang gedhe. Tembang macapat adalah salah satu syair yang bercorakkan agama Islam. Tembang ini berikan tentang ajaran hidup yang sangat manusiawi. Tembang ini sangat besar pengaruhnya 13 apabila seseorang menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Pengaruhnya yaitu orang yang menerapkannya akan menemukan ketentraman dalam jiwa yang membawanya pada ketentraman hidup. Dalam Serat Wedhatama berisikan beberapa tembang macapat yang terdiri dari lima tembang, yaitu Pangkur, Sinom, Pocung, Gambuh, dan Kinanthi. Serat Wedhatama salah satu karya sastra jawa yang dipengaruhi oleh nilai-nilai agam Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Seperti yang terdapat pada bait yang ke-1 dari Serat Wedhatama, yaitu: “Mingkar-mingkuring angkara, Akarana karenan mardi siwi, Sinawung resmining kidung, Sinuba sinukarta, Mrih kretarta pakartining nglemu luhung, Kang tumprap neng tanah jawa, Agama ageming aji” Artinya: “Mencegah perbuatan angkara, Sebab cinta dalam mendidik anak bangsa, Dirangkai dalam kidung yang sangat indah, Diperindah dan digubah dengan baik, Agar terlaksana budi pakerti yang dilandasi ilmu luhur, Bagi yang hidup ditanah jawa, Agama ageing aji” Maksud dari bait pertama ini adalah mencegah setiap perbuatan angkara, angkara disini mempunyai arti tamak, loba, serakah, atau tidak bisa menerima apa yang telah dikaruniakan tuhan kepada dirinya. Akan tetapi angkara juga bisa bermakna berbuat hanya untuk memenuhi kepentingan diri sendiri. Secara prinsip angkara dan hawa nafsu itu sama. Secara normal orang hidup didunia ini terdorong untuk mempertahankan eksistensi hidupnya dengan mengedepankan kebutuhan fisiknya pribadi. Di dalam agama Islam diperintahkan bagi setiap pemeluknya untuk meninggalkan sifat-sifat tersebut. Sebab didalam Al-Qur’an telah dijelaskan, QS.Yusuf 12: Ayat 53: “karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Dalam potongan ayat tersebut menjelaskan bahwa hawa nafsu manusia selalu memerintahkan untuk berbuat keburukan karena kecondongan untuk memenuhi syahwat, dan sangat mempengaruhi tabiat seseorang, serta sangat sulit untuk ditundukkan. Diantara keduanya mempunyai makna yang sama yaitu untuk menjauhi hawa nafsu karna hawa nafsu tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada dirinya maupun orang lain. Serat Wedhatama mengajarkan pada anak-anak bangsa untuk berbudi pakerti luhur yang berlandaskan pada ilmu yang luhur dan mengandung nilai-nilai tinggi. Dalam hadits Dari Abu Darda radhiyallahu anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal seorang mukmin pada hari kiamat, daripada akhlak terpuji. Sungguh Allah benci terhadap orang yang keji perkataan dan kotor perbuatannya,”. Hadist tersebut menerangkan bahwa akhlak terpuji itu timbangan amalnya sangatlah berat disisi Allah pada hari kiamat, dan Allah sangat membenci pada seseorang yang berbuat keji dan kotor dalam perkataannya. Hadits tersebut mempunyai kesamaan dengan isi serat wedhatama pupuh pangkur pada bait pertama, yaitu “Agomo ageing aji” maksudnya adalah agama (agama), ageming aji (busana berharga). Bahwa wujud dari agama adalah perilaku yang bernilai luhur. Tiada agama, kecuali diwujudkan dalam bentuk perilaku yang mulia. 2. PEMBINAAN AKHLAK DALAM SERAT WEDHATAMA Setelah dilakukan penelitian dan pengkajian terhadap Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV serta dari berbagai sumber yang mendukung, maka ditemukan beberapa metode pembinaan akhlak dalam Serat Wedhatama, yaitu: A. Mengendalikan hawa nafsu. Nafsu adalah perasaan-perasaan kasar karena menggagalkan kontrol diri manusia dan membelenggunya secara buta pada dunia lahir. Apabila manusia sudah dikuasainya ia tidak lagi menuruti akal budinya, manusia semacam itu dapat mengancam lingkungan dan 14 menimbulkan konflikkonflik dan ketegangan dalam masyarakat dan dengan demikian membahayakan ketentraman. Dalam Serat Wedhtama pengendalian diri dari nafsu angkara terdapat dalam pupuh pangkur pada bait pertama: “Mingkar-mingkuring angkara, Akarana karenan mardi siwi, Sinawung resmining kidung, Sinuba sinukarta, Mrih kretarta pakartining nglemu luhung, Kang tumprap neng tanah jawa, Agama ageming aji” Artinya: “Menghindarkan diri darin hawa nafsu, Sebab ingin mendidik anak, Dalam bentuk keindahan syair, Dihias agar tampak indah, Agar menumbuhkan jiwa dan ilmu luhur, Yang berlaku di tanah jawa, Agama pegangan yang baik.“ Bahwa hal yang paling mendasar adalah mengendalikan diri dari hawa nafsu, terlebihlebih dalam hal mendidik anak, karena dalam mendidik anak dibutuhkan kelembutan, kesabaran jika orang tua tidak bisa mengendalikan nafsunya maka akan berdampak buruk bagi anak. Ajaran ini digubah dalam bentuk keindahan syair agar dapat menumbuhkan jiwa dan ilmu luhur di tanah Jawa (Indonesia). Pola asuh orang tua memberikan pengaruh yang besar terhadap anak. Jika cara yang digunakan oleh orang tua bersifat positif, maka akan memperoleh hasil yang positif. Namun, jika cara yang digunakan negatif maka hasilnya juga negatif. Misalnya ketika anak melakukan perbuatan salah, orang tua langsung marah-marah dan langsung memukul tanpa memberikan peingatan dan memberikan nasihat. Orang tua yang sering berbuat ceroboh dan suka marah-marah, maka ekspresi marahnya akan ditiru oleh anak. Oleh karena itu, mengendalikan nafsu dan membentuk kematangan emosional harus dilakukan dengan cara menanamkan hal-hal yang baik dan mencegah perbuatan mungkar, orang tua hendaknya juga melakukannya dengan penuh kesabaran. Nafsu manusia dianggap penting sekali, karna kemakmuran dan kehancuran suatu negara atau bangsa berdasarkan nafsu manusia. Jika seorang pemimpin berwatak mulia, maka pemimpin tersebut nafsunya tergolong baik (muthmainnah) sehingga memiliki peran Mewayu Hayuning Bawono (melestarikan dan memakmurkan bumi), Dan begitu pula sebaliknya. Nafsu angkara yang mengajak kejahatan diibaratkan seperti api yang hanya bermodalkan sebatang pentol korek api dapat membakar dan melahap apa saja. Wataknya selalu ingin ingin menang sendiri. Nafsu manusia secara sederhana dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis, yaitu: Nafsu ammarah, Nafsu lawwamah, Nafsu supiyah, Nafsu muthmainnah. Lelaku atau tata cara orang jawa dalam mengendalikan hawa nafsu ialah dengan beberapa cara: 1. Bertapa Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bertapa adalah mengasingkan diri dari keramaian dunia dengan menahan nafsu (makan, minum, tidur, birahi) untuk mencari ketenangan batin. Bertapa itu mengasingkan diri dari segala aktifitas dalam beberapa kurun waktu untuk pergi kesuatu tempat yang sunyi, sepi, jauh dari keramaian atau aktifitas orang lain dengan bertujuan menenangkan diri, mengistirahatkan pikiran, mencari ketenangan batin dan ada juga yang bertujuan selain itu semua. Seperti halnya ingin mendapatkan bisikan ghaib untuk melakukan lelaku lain. Dalam serat Wedhatama bertapa disebutkan dalam. Pupuh sinom bait ke-1, yaitu: “Nulada laku utama Tumprape wong Tanah Jawi Wong agung ing Ngeksiganda Panembahan Senopati Kepati amarsudi Sudane hawa hawa lan nepsu Pinesu tapa brata Tanapi ing siang ratri Ama-mangun karyenak tyasing sasama ‘‘ 15 Artinya: “Contohlah tindak utama Bagi kalangan Jawa (Indonesia) Orang besar di Ngeksiganda (Mataram) Yaitu Panembahan Senopati Yang tekun Mengurangi hawa nafsu Dengan jalan bertapa (prihatin)” Pupuh Sinom bait ke-3: “Saben mendra saking wisma Lelana laladan sepi Ngisep sepuhing sopana Mrih pana pranaweng kapti Tis-tising tyas Marsudi Mardawaning budya tulus Mesu reh kesudarman Neng tepining jalanidhi Sruning broto kataman wahyu dyatmiko” Artinya: “Setiap kali pergi meninggalkan rumah (istana), Untuk mengembara di tempat yang sunyi, Dengan tujuan meresapi setiap tingkatan ilmu, Agar mengerti dengan sesungguhnya dan memahami akan maknanya, Ketajaman hatinya dimanfaatkan guna menempa jiwa, Untuk mendapatkan budi pikiran yang tulus, Selanjutnya memeras kemampuan agar mencintai sesama insan, Dilakukannya ditepi samudra, Dalam semangat bertapanya yang akhirnnya mendapatkan anugerah Illahi dan terlahir berkat keluhuran budi.“ Dalam melakukan bertapa tentunya tidak asal-asalan bertapa. Ada kaidah-kaidah yang harus dipahami kerika akan melakukan bertapa. Harus memahami beberapa penghalang yang dapat mengganggu ketika melakukan proses pertapaan. Ada lima penghalang saat hendak melakukan laku bertapa, yaitu: Pertama, Rogarda, artinya sakit yang menimpa tubuh. Kalau ditimpa sakit tubuh, berusahalah sungguh-sungguh, menerima, dan rela hati. Kedua, Sangsararda, artinya sengsara yang menimpa tubuh. Kalau ditimpa sengsara badan, berusahalah menahan dan berbesar hati. Ketiga, Wiragharda, artinya sakit yang menimpa hati. Kalau ditimpa sakit hati, berusahalah tata, titi, tokoh pendirian serta berhati-hati. Keempat, Cuwarda, artinya sengsara yang menimpa hati. Jika ditimpa kesengsaraan hati, berusahalah tenang, waspada serta ingat. Kelima,Durgarda, artinya hambatan yang menimpa hati. Kalau ditimpa hambatan hati, berusahalah percaya diri dan yakin terhadap kekuasaan Tuhan. Ajaran-ajaran tersebut bertujuan untuk membuat pikiran dan hati supaya menjadi tenang dan tabah dalam melakukan semua lika-liku kehidupan. Ajaran Pancawisaya yang tediri atas lima bait tersebut sebenarnya dalam filsafat Jawa bisa dikaitkan dengan simbol bilangan lima dan ungkapan lain yang juga mengandung nilai filosofis dan mistis. 2. Meditasi dan Semedi Meditasi adalah suatu cara yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan menyatukan konsentrasi, sikap dengan tujuan untuk memohon petunjuk dan diberikan kekuatan. Meditasi dilakukan dalam waktu yang cenderung singkat hanya beberapa menit. Disebut semedi karena prosesnya memerlukan waktu yang lebih lama dalam melaksanakan ritualnya. Semedi memiliki beberapa macam bentuknya, namun para ahli spiritualis menyatakan bahwa melakukan semedi tersebut adalah suatu jalan yang lebih efektif untuk mendapatkan petunjuk dan kekuatan. Semedi juga bisa dikatakan usaha untuk menyepi dari hal-ha yang bersifat keduniwian. Hal ini sesuai dengan Serat Wedhatama Pupuh Sinom bait ke 17: ‘‘Saben mendra saking wisma Lelana laladan sepi Ngingsep sepuhing supana Mrih pana pranaweng kapt Tis-tising tyas Marsudi Mardawaning budya tulus Mesu reh kasudarman Neng tepining jalanidhi Sruning brata kataman wahyu dyatmikoi” Artinya: “setiap kali pergi meninggalkan rumah (istana) Untuk mengembara ditempat yang sunyi Dengan tujuan meresapi setiap tingkatan ilmuAgar mengerti dengan sesungguhnya dan memahami akan maknanya Ketajaman hatinya dimanfaatkan guna menempa jiwa Untuk mendapatkan budi pikiran yang tulus.” 16 Perihal bersemedi atau menyepi juga terdapat dalam bait ke 31 ‘‘Mangkono janma utamaTuman tumanem ing sepi Ing saben rikala mangsa Mangsah amemasuh budi Lahire den tetepi Ing reh kasatriyanipun Susila anorraga Wignya met tyasing sasami Yeku aran wong barek berag Agama “ Artinya: “Insan yang telah mencapai Tingkat utama Yang kebiasaannya menyatu ditempat yang sunyi Serta setiap saat berulang kali mempertajam olah budinya Dan sikap lahiriyahnya tetap berpegang Pada ketentuan jiwa kesatriyanya yang rendah hati Serta tahu benar menyenangkan hati sesama insan Sudah tentu dapat dikatakan insan yang serba baik Serta senang sekali pada ajaran Agama ‘‘ Pada kedua bait tersebut menerangkan bahwa seorang manusia harus membiasakan diri untuk menyepi atau pun semedi. Dalam agama islam semedi atau menyepi disebut dengan tafakkur (merenung). tafakkur memiliki definisi mengerahkan fikiran secara lebih, dengan membuat kegiatan berfikir mengarah dalam berbagai perasaan, persepsi, imajinasi, yang dapat membawa manusia ke dalam pembentukan perilaku, kecenderungan, dan keyakinan. Bertafakkur adalah pangkal dari segala kebaikan, bertafakkur merupakan pekerjaan hati yang paling utama. Meditasi atau semedi memang biasanya dilakukan bersama-sama dengan tapabrata. Tujuan seseorang melakukan bertapa, semedi dan meditasi yakni untuk memperoleh kekuatan iman dalam menghadapi krisis sosial ekonomi atau sosial politik, untuk mendapatkan wahyu, untuk mencari ketenangan jiwa, untuk meningkatkan pengembangan diri secara total dan untuk menyatukan diri dengan sang pencipta. Orang melakukan ketiga jalan tersebut mempunyai gambaran berbagai pengalaman batin yang dirasakannya. 1) Melihat ke dalam diri sendiri 2) Mengamati, refleksi kesadaran diri sendiri 3) Melepaskan diri dari pikiran atau perasaan yang berubah-rubah, membebaskan keinginan duniawi sehingga menemui jati dirinya yang murni dan asli. Sebagian orang Muslim yang suka bertapa atau bersemedi mendasarkan perbuatan mereka atas perbuatan yang pernah dilakukan Rasulullan SAW, bahwa semasa hidupnya sebelum diangkat menjadi Rasul. Nabi Muhammad suka sekali melakukan ibadah di Gua Hira. Dan ada juga yang mendaskan perbuatan pertapaan tersebut pada kanjeng Sunan Kalijaga bahwasanya beliau pernah melakukan amanah dari gurunya (Sunan Bonang), yaitu bertapa menunggu tongkatnya dipinggir sungai. Masyarakat Indonesia khususnya Jawa yang berdiam di lereng-lereng gunung, di goa-goa, di bebatuan cadas pegunungan, dan di hutanhutan dikenalkan kepada Allah dan Islam melalui kultur budaya mereka sendiri, salah satunya dengan tradisi bertapa atau semedi yang tentunya sudah dimasuki dengan unsurunsur atau nilai Islam di dalamnya. 3. Puasa Pada umumnya bagi orang Jawa, datangnya puasa akan disambut secara suka cita dengan penuh pernak-pernik adat istiadatnya seperti apa yang dinamakan nyadran, padusan, dan megengan. Adat istiadat tersebut lahir dari kombinasi antara ajaran sebuah agama dengan nilai atau budaya setempat. Mengenai hal puasa terdapat dalam Serat Wedhatama pupuh sinom bait ke 16. ‘‘Samangsane pasamuwan Mamangun marta martani Sinambi ing saben mangsa Kala kalaning asepi Lelana teka-teki Nggayuh geyonganing kayun Kayungyung eninging tyas Sanityasa pinrihatin Puguh panggah cegah dhahar lawan nendra‘‘ Artinya: ‘‘Dalam setiap pertemuan Menciptakan kebahagiaan lahir batin dengan sikap tenang dan sabar Sementara itu pada setiap kesempatan Dikala tiada kesibukan Mengembara bertapa Mencapai cita-cita hati Terpesona akan suasana yang syahdu Senantiasa hati dibuat prihatin Dengan berpegang teguh Mencegah makan (puasa) maupun tidur.‘‘ Bait diatas mengungkapkan bahwa untuk bisa bersifat tenang dan sabar seseorang harus 17 melakukan puasa dengan sungguh-sungguh. Berpuasa bagi orang Jawa sudah menjadi sebuah bagian dari kehidupan manusia, bahkan sebelum Islam masuk ke tanah Jawa. Jenis puasa yang dilakukan oleh masyarakat Jawa memiliki bentuk yang dilarang dalam ajaran Islam, disamping melakukan perbuatan syirik pada saat itu puasa yang dilakukan cenderung menyiksa diri mereka sendiri. Untuk itu para wali berusaha untuk mengubahnya dalam bentuk dengan suguhan ajaran Islam baik niat maupun pelaksanaan puasanya. Contoh puasa mutih (hanya makan nasi dan air putih yang hambar dan tak berasa), puasa ngrowot (hanya makan umbi-umbian), puasa weton (puasa untuk memperingati hari kelahiran). 4. Menyedikitkan tidur Setiap manusia diharuskan untuk mampu mengendalikan nafsu-nafsu yang jahat. Karna nafsu tersebut kalau tidak dikendalikan akan merugikan dirinya pribadi dan sekitarnya. Dalam Agama Islam seseorang yang ingin melakukan suatu riyadhah biasanya dengan puasa, dzikir, mengurangi makan, mengurangi tidur dan banyak melakukan hal yang bermanfaat yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam kondisi yang demikian, biasanya pejalan (salik) tadi melakukan aktivitasnya dengan memperbayak berdzikir, bertafakur merenungkan penciptaan alam semesta ini. Merenungkan hakikat kehidupan manusia, merenungkan hidup yang sejati hingga akhirnya dia menyadari kedudukan posisinya sebagai hamba Tuhan. Mengerti tugasnya sebagai hamba yaitu beribadah kepada Allah sang Khaliq. B. Mencari Guru Yang Pandai Seorang pencari ilmu harus benar dalam memilih guru. Ada etika tersendiri dalam memilih guru demi kebaikan ilmu yang didapat. Guru yang baik adalah orang yang lebih pandai, wara’ (orang yang menjauhi dosa, tidak lemah, tidak lunak hati, dan tidak penakut), dan patut menjadi teladan bagi muridnya. Sebagaimana yang terdapat dalam Serat wedhatama bait ke 10 dan 11. Serat Wedhatama bait ke 10: “Marma ing sabisa bisa Bebasane muriha tyas basuki Puruitaa kang patut Lan traping anggarina” Artinya: “Oleh karena itu sedapat-dapatnya Setidak-tidaknya berusahalah berhati yang baik Berguru yang benar Yang sepadan dengan dirimu” Serat Wedhatama bait ke 11: “Iku kaki takokena Marang para sarjana kang martapi Mring tapaking tepa tulus Kawawa nahen hawa Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu Tan mesthi neng janma wredha Tuwin mudha sudra kaki” Artinya: “Oleh karena itu sedapat mungkin Berusahalah mencapai kebahagiaan Bergurulah kepada orang yang pandai Sesuai dengan diri pribadimu.” Kedua bait diatas mengatakan bahwa jika harus belajar, belajarlah kepada orang yang lebih pandai. Disitulah bahwa peran guru memang sangat penting bagi seorang yang ingin menuntut ilmu. Peran guru yang sangat penting yaitu memberikan ilmu pengetahuannya kepada anak didiknya, sehingga anak didiknya menjadi pintar, dan pandai. Oleh sebab itu, tepatlah dikatakan orang, bahwa karena guru kita pintar, karena gurulah kita pandai, karena gurulah kita cemerlang. C. Meneladani leluhur Hampir disetiap segmen masyarakat pada jaman sekarang ini megalami krisis keteladanan. Pemimpin hanya menebar pesona dan retorika saja, tokoh agama, adat serta masyarakatpun terjerumus ke dalam kasuskasus yang membuat dirinya menjadi terhina atau bahkan harus berpaling dari masyarakat akibat ulah nafsunya untuk urusan dunia, wanita dan harta, di dunia pendidikan baik formal maupun non formal anak-anakpun sulit mencari keteteladanan dalam bersikap. Padahal keteladanan merupakan metode yang diyakini paling 18 berhasil dalam membentuk akhlak, moral dan spiritual seseorang terlebih anak didik. Prinsip keteladanan ini juga terdapat dalam Serat Wedhatama: Bait ke 15: “Nulada laku utama Tumrape wong tanah Jawi Wong agung ing Ngeksiganda Panembahan Senopati Kepati amarsudi Sudane hawa lan nepsu” Artinya: “Contohlah tindak utama Bagi kalangan orang Jawa (Indonesia) Orang besar di Ngeksiganda (Mataram) Yaitu Senopati Yang tekun Mengurangi hawa nafsu” Bait ke 21: “Ambawani tanah Jawa Kang padha jumeneng aji Satriya dibya sumbaga Tan lyan trahing Senopati Pan iku pantes ugi Tinelad labetanipun Ing sakuwasanira Enak lan jaman mangkin Sayektine tan bisa ngepleki kuna” Artinya: “Menguasai tanah Jawa (Indonesia) Yang menjadi raja Satria sakti terkenal Tak lain keturunan Senopati Hal ini pantas dicontoh jasa perbuatannya Ala kadarnya Disesuaikan dengan masa kini Tentu saja tidak mungkin persis seperti jaman dulu.” kedua bait dalam serat Wedhatama menjelaskan perintah untuk mencontoh dan meneladani pangeran senopati, yaitu pendiri Kerajaan Mataram yang gigih dalam mengekang hawa nafsunya, dan selalu menyenangkan orang lain (kasih saying). Karna keteladanan sangat penting agar seseorang dapat menjalani kehidupan dengan benar. Dengan meneladani atau mencontoh seseorang yang dianggap sebagai figur yang patut untuk dijadikan teladan. Dengan keteladanan, petunjuk kebenaran itu akan lebih mudah diaplikasikan pada perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai mana petunjuk yang benar, figur yang dicontoh pun harus benar pula. Apabila seorang yang diteladani tersebut salah, maka bisa dipastikan para pengikutnya pun akan sama denga apa yang diteladaninya. D. Membiasakan membersikan jiwa Manusia yang bijak adalah manusia yang suka bercermin dalam artian manusia yang bersungguh-sungguh memperhatikan dirinya, membuka mata hatinya dan mencari penyakit yang mengotori hatinya, lalu mencari penyembuhannya. Adapun cara untuk menyembuhkan penyakit hati terdapat dalam Serat wedhatama. Serat Wedhatama bait ke 31: “Mangkono janma utama Tuman tumanem ing sepi Ing saben rikala mangsa Masah amemasuh budi Laire anetepi Ing reh kasatriyanipun Susila anor raga Wignya met tyasing sesami Yeku aran wong barek berag agama.” Artinya: “Begitulah manusia sejati Gemar membiasakan diri berada dalam sepi Pada saat-saat tertentu Mempertajam dan membersihkan jiwa Caranya dengan berpegang pada kedudukannya sebagai satria Bertindak baik rendah hati Pandai bergaul Pandai memikat hati orang lain Itulah yang disebut orang yang menghayati/menjalankan agama.” Penyakit hati pada seseorang dapat dihilangkan atau disembuhkan dengan menanamkan dan membiasakan perilaku atau sifat-sifat yang terpuji, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Pembiasaan yang dapat menghilangkan penyakit hati antara lain dengan cara membersihkan jiwa. Adapun cara untuk membersihkan jiwa diantaranya yaitu bertindak rendah hati (tawadhu’), berdzikir, bertafakur (merenung) untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan pandai bergaul kepada teman. Apabila semuanya itu dilakukan, maka hati akan menjadi bersih yang selanjutnya mempunyai pengaruh positif, hasilnya pada tingkah laku dan perkataan. Pengaruh itu akan membekas pada lidah, mata, telinga dan anggota tubuh lainnya. Buahnya yang paling nyata adalah perlakuannya yang baik terhadap Allah dan terhadap manusia juga makhluk lain serta makhluk di muka bumi ini. 19 Jadi membersihkan jiwa pada hakikatnya yaitu proses membersihkan hati dari berbagai dosa dan sifat-sifat tercela yang mengotorinya, dan selanjutnya meningkatkan kualitas jiwa dan hati tersebut dengan mengembangkan sifat-sifat terpuji yang diridhai Allah SWT, serta potensipotensi positifnya dengan ibadah dan berbagai perbuatan baik, sehingga hati dan jiwa menjadi bersih dan baik serta berkualitas. 3. Nilai-nilai pendidikan akhlak dalam serat Wedhatama Pendidikan akhlak tersimpul dalam prinsip berpegang pada kebaikan dan kebajikan serta menjauhi keburukan dan kemungkaran, berhubungan erat dengan upaya mewujudkan tujuan pendidikan Islam, yaitu: ketaqwaan ketundukan dan beribadah kepada Allah SWT. Akhlak mulia adalah akhlak yang sejalan dengan Al-Quran dan Sunnah. Dalam Serat Wedhatama banyak dijelaskan pendidikan akhlak sebagai berikut: a. Pengendalian diri dari sifat Egois Pengendalian sifat egois dalam serat Wedhatama terdapat didalam pupuh pangkur bait ke-3, yaitu: “Nggugu karsane priyangga Nora nganggo peparah lamun angling Lumuh ingaran balilu Uger guru aleman Nanging janma ingkang wus waspadeng semu Sinamung ing samudana Sesadon ingadu manis” Artinya: “Hanya mengikuti kehendaknya diri sendiri Bila berkata tanpa perhitungan Tidak mau dianggap bodoh Hanya mabuk pujian Namun orang yang tahu gelagat (pandai) Justru selalu merendah diri Menanggapi semuanya dengan baik.” Dalam bait tersebut K.G.P.A.A Mangkunegara IV menerangkan bahwa seseorang yang tak memahami rasa kalua berbicara tampa pertimbangan akal pikiran yang dalam. Yang dianggap benar adalah yang ia katakana dan yang ia lakukan. Ia tidak mau dikatakan bodoh karena ia telah merasa bahwa dirinyalah yang paling benar. Akan tetapi, pada kenyataannya memang bodoh dan tidak mengetahui apa-apa, mintanya dipuji disanjung serta penuh dengan kepura-puraan. Bahwa orang tersebut belum bisa melihat kenyataan hidup, yang ia harapkan hanyalah pujian. Egois merupakan sifat dan keadaan kedirian yang mau menang sendiri tanpa memptimbangkan dan memperdulikan orang lain. Ego adalah keadaan individual kita, kedirian kita yang selalu berada dalam situasi konflik id dan super ego. Super ego adalah alam bawah sadar manusia yang merupakan evolusi mental tertinggi dari manusia. Dan yang dimaksud Id adalah pusat dari naluri yang menguasai seluruh daerah bawah sadar, bersifat buruk, tidak mengenal moral. timbulnya sifat egois apabila ego manusia dikuasai oleh id yang mempunyai sifat buruk. Maka yakinlah bahwa manusia bisa mengendalikan id dan bukan termasuk orang yang egois yang menang sendiri. Jangan melukai orang lain, hindari sakit hati yang akan dirasakan orang lain akibat sifat, sikap, ucapan dan perbuatan kita. b. Mengendalikan diri dari banyak bicara tidak bermanfaat Pengendalian dari banyak bicara yang tidak bermanfaat ini terdapat dalam pupuh pangkur bait yang ke-4, yaitu: “Si penggung nora nglegewa Sangsayarda denira cacariwis Ngandhar-andhar angendhukur Kandhane nora kaprah Saya elok alangka longkanganipun Si wasis waskitha ngalah Ngalingi marang si penging“ Artinya: “Si Dungu tiada peduli semakin menjadi-jadi Melantur tidak karuan Bicaranya yang hebat-hebat Mnakin aneh dan tak masuk akal Si Pandai maklum dan mengalah Menutupi ulah si Bodoh“ Dalam menjalani kehidupan manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, setiap manusia mempunyai kewajiban dalam mengendalikan faktor-faktor tersebut, agar tercapainya tujuan 20 hidupnya secara optimal. Salah satu pengendalian faktor tersebut ialah mengendalikan diri dari berkata yang tidak bermanbermanfaat. Seperti yang telah dijelaskan dalam pupuh pangkur bait ke-4, berisikan nasihat untuk mengendalikan diri dari berbicara yang tidak ada manfaatnya. Seperti pepatah yang mengatakan “tong kosong nyaring bunyinya“ banyak bicara akan tetapi tidak ada isi yang bermanfaat. Dalam bait tersebut menjelaskan Si penggung nora nglegewa, orang yang penggung (bodoh) tidak peduli dan tidak mengetahui orang yang sedang diajak bicara. Orang penggung tidak dapat diajak bicara. Kalau si penggung diajak bicara pasti berkepanjangan berbicaranya dan melantur pembicaraannya tidak masuk akal. Itu semua ia lakukan agar terlihat hebat. Pada kenyataannya bicara panjang lebar akan tetapi kosong isinya (tidak ada manfaatnya sama sekali). Jika terus ditanggapi akan bertambah aneh tidak karuan, bahkan yang diceritakan aneh-aneh dan tanpa batas. Dalam menghadapi hal yang demikian, Si wasis waskitha ngalah Ngalingi marang si penging. Orang wasis waskita (pandai atau orang yang selalu waspada dalam hidupnya) dengan bijaksana memilih untuk mengala dan menutupi kebodohan si penggung. Orang yang wasis waskito adalah orang yang selau menjaga aib kekurangan orang lain. Ada pula yang mengatakan orang wasis waskito adalah orang yang pandai, orang yang mengetahui akan tetapi ia memilih untuk diam apabila sedang berbicarah dengan orang yang bodoh. Itu dilakukannya untuk menutupi kebodohan orang yang diajak bicaranya tersebut. Demikianlah, orang yang wasis waskito dalam menghadapi orang yang bodoh yang banyak bicara yang kurang bermanfaat. c. Pengendalian diri dari sifat sombong Pengendalian diri dari sifat sombong ini terdapat didalam Serat Wedhatama pupuh pangkur bait ke-8, yaitu: “Socaning jiwangganira Jer katara lamun pocapan pasthi Lumuh asor kudu unggul Sumegah sosongaran Yen mangkono kena ingkaran katungkul Karem ing reh kaprawiran Nora enak iku kaki“ Artinya: “Cerminan dari dalam jiwa ragamu tampak jelas walau tuturkata tak mau mengalah maunya menang sendiri, penuh dengan kesombongan, bila demikian dapat disebut kalah puas diri berlagak tinggi. Maka hal tersebut tidaklah baik nak !.“ Cacatnya jiwa seseorang sangat terlihat dari bagaimana orang tersebut berbicara. Apabila ia berbicara sedikitpun ia tidak mau mengalah ia selalu ingin menang sendiri, senang membanggakan diri serta takabur. Ia selalu berbuat tanpa mempertimbangkan sebab akibat dari perbuatan tersebut, dan berlaku sombong atas apa yang telah ia capai. Sombong merupakan sikap merendahkan orang lain dan menganggap diri sendirilah yang paling unggul. Sifat seperti itu tidak baik dan mencerminkan jiwa yang sakit. Sebabsebab yang menjadikan seseorang berlaku sombong adalah merasa adanya kelebihan pada dirinya, baik itu ilmu pengetahuan, amal dan ibadah, maupun kecantikan dan ketampanan. Bahwa hal tersebut tidak lah baik untuk dimiliki pada diri. Orang yang bisanya membanggakan diri, akan hilang kewaspadaannya. Yang dimaksud membanggakan diri disini adalah membangga-banggakan agama, golongan, leluhurnya, kekayaannya, dan sebagainya. d. Selalu berusaha untuk mengendalikan hawa nafsu dan selalu berbuat baik Dalam Serat Wedhatama yang menerangkan untuk selalu bersikap rendah hati adalah pada pupuh pangkur bait ke-10, yaitu: “Marma ing sabisa-bisa Babasane muriha tyas basuki Purita kang patut Lan traping angganira Ana uga angger-ugering kaprabun Abon-aboning panembah Kang kambah ing siyang ratri“ 21 Artinya: “karna kitu sebisa bisanya, upayakan untuk selalu berbuat baik, bergurulah secara tepat, yang sesuai dengan dirimu, ada juga peraturan dan pedoman bernegara, menjadi syarat bagi yang berbakti, yang berlaku siang malam.“ Hawa nafsu tersebut dapat dikendalikan dengan mengawali kehidupan beragama yang baik. Yaitu beragama dengan dipresentasikan dalam perilaku yang baik. Kita sebagai umat beragama harus berusaha sekuat mungkin untuk selalu berhati baik. Dengan dengan langkah awal yang harus dilakukan ialah dengan menjauhkan diri dari sifat atau rasa iri dengki, membenci sesama, menghakimi orang lain, dan merasa paling benar dalam hidup. Kata tyas basuki sebernanya memiliki makna hati yang selamat atau rahayu. Dalam hati yang besuki tak mungkin memiliki rasa kebencian, kedengkian, kedustaan, dan kemarahan. Dalam bait ini kita diperintahkan untuk muriha tyas basuki. Yaitu dengan mengusahakan agar terwujudnya hidup yang selamat, Basuki atau rahayu. Kita harus bertekad untuk selalu berbuat kebaikan, kita harus menggunakan nalar yang baik, kita harus berfikir logis, matematis, dan analitis. e. Sabar Penjelasan tentang sikap sabar dalam Serat Wedhatama terdapat pada pupuh pangkur bait yang ke-5, yaitu: “Mangkono ngelmu kang nyata Sanyatane mung weh reseping ati Bungah ingaran cubluk Sukeng tyas yen den ina Nora kaya si punggung anggung gumunggung Ugungan sadina-dina Aja mangkono wong urip“ Artinya: “Itulah ilmu yang nyata, kenyataannya hanya membuat hati senang, gembira bilamana dikatakan bodoh, bila dihina dengan senang hati diterimanya, tak seperti orang yang bodoh senang disanjung, dipuji setiap hari, orang hidup hendaknya tidak seperti itu“ Bahhwa ilmu yang nyata itu adalah ilmu yang dimiliki oleh orang yang wasis waskito. Bahwasanya orang yang wasis waskito itu mempraktikkan salah satu sifat dalam Asma’ul Husna yaitu Al-‘Alim (yang maha mengetahui). Ia menyadari bahwa ilmu yang ia miliki itu semata-mata ialah pemberian dari Allah SWT. Oleh karna itu ia selalu berusaha untuk menjaga perasaan orang lain dan membuat senang hati orang lain. Orang yang wasis waskita akan selalu sabar dalam menerima sebuah penghinaan dan tdak pula merasa sakit hatinya. Ia selalu tampil gembira dan hinaan tersebut diterimanya dengan legawa atau senang hati. Karna hinaan tersebut dianggapnya sebagai suatu obat yang dapat memacu kewaspadaannya Berbeda dengan orang yang kosong akan ilmu pengetahuan (bodoh) ia lebih senang untuk disanjung, ia lebih senang apabila pujian dan sanjungan itu ia terima setiap saat. Tanpa ia sadari bahwa pujian itu adalah sebuah kebinasaan bagi dirinya. Oleh karena itu, orang hidup yang bermoral sehat tidak akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan sanjungan ataupun pujian. Dengan mental yang kuat dan moral yang sehat kita akan melakukan kebajikan dalam hidup ini, bukan hanya untuk diri kita pribadi, melainkan juga untuk kebajikan hidup bersama dengan orang-orang lainnya. f. Lila (rela) Penjelasan sifat rela ini terdapat di dalam serat Wedhatama pada pupuh pucung bait ke11, yaitu : “Lila lamun kelangan nora gegetun Trima yen ketaman Sakserik sameng dumadi Tri legawa nalangsa srah ing Bathara“ Artinya: ‘‘Ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal, sabar apabila sedang terkena sakit hati, ketiga lapang dada sambil berserah diri kepada Tuhan“ Dalam pupuh pucung bait ke-11 itu, menjelaskan pada kita bahwasanya kita hidup 22 didunia ini harus mempunyai tiga sifat tersebut yaitu, lila, trimo, dan legawa. Lila merupakan sifat rela apabila seseorang tersebut kehilangan sesuatu yang ia miliki dan ia tidak merasa menyesali apa yang telah terjadi (saat kehilangan sesuatu tersebut). sifat ini adalah sikap hidup untuk berani melihat kenyataan yang terjadi pada dirinya. Sifat inilah yang dapat membantu pelaku keprihatinan untuk menjadi semakin dekat dengan Allah SWT. Sikap hidup yang kedua adalah trimo, bisa menerima dengan lapangdada apabila terkena sesuatu yang menyakitkan hati yang dilakukan oleh orang lain. Trima ini sikap yang selalu menerima segala perbuatan hina yang dilakukan orang lain pada dirinya tidak merasa sakit hati apabila dihina, diejek, bahkan difitnah sekalipun. Yang ketiga adalah legawa. Yaitu sikap pasra, tulus Ikhlas dalam mengerjakan sesuatu hal. Semua dilakukannya dengan sikap tulus tanpa paksaan. Sikap tersebut sesuai dengan asas hidup sejahtera untuk dirisendiri, bangsa, dan negara. Dengan demikian, sikap tersebut dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sekaligus sarana untuk melepaskan diri dari berbagai tekanan hidup. 4. Tujuan pembinaan akhlak dalam serat Wedhatama Pembinaan akhlak dalam Serat Wedhatama adalah pembinaan dalam mendidik anak bangsa untuk mempunyai budi pakerti yang luhur. Yang mana budi pakerti tersebut telah mengakar di Jawa pada masa Majapahit atau sebelumnya. Akan tetapi, setelah keruntuhan kerajaan majapahit dan berdirinya kesultanan Demak hingga kerajaan Mataram ditambah kedatangan kolonial Belanda. Pengetahuan tentang budi pakerti tersebut berangsur-angsur mulai surut di Tanah Jawa (khususnya). Oleh sebab itu, K.G.P.A.A Mangkunegara IV, berkontribusi dalam memperbaiki akhlak dan budi pakerti anak bangsa. Serat Wedhatama adalah pengetahuan utama dalam hal budi pakerti yang luhur dan mulia. Budi pakerti yang mulia tersebut merupakan kearifan lokal. Serat Wedhatama ini memberikan tuntunan bagi setiap orang yang menghendaki kebahagiaan hidup didunia maupun diakhirat. Dalam Serat Wedhatama mengajarkan kita bagaimana kita bisa menempa jiwa dalam hidup di dunia ini, dengan jiwa yang kuat, kokoh, dan tangguh kita akan mendapatkan kehidupan beragama yang sesusai dengan jalan yang benar. Serat wedhatama juga mengajarkan kepada setiap seseorang untuk dapat menghargai seseorang bukan hanya karena usianya, derajatnya, atau jabatannya. Akan tetapi, kita diwajibkan menghargai seseorang juga karena ilmu yang dimilikinya. Wedhatama mendidik orang-orang yang taat dalam menjalankan agama mereka untuk menjadi orang hidup yang bisa menjalankan satunya kata dan perbuatan. Sungguh banyak pada saat ini, banyak orang yang secara formal tampak sangat taat dalam hidup beragama, tetapi tidak tercermin dalam kehidupan nyata. Yang lahir seharusnya merupakan cerminan yang batin. Pada intinya Serat Wedhatama mengajarkan pada pada kita untuk mencapai kesucian lahir dan batin dalam kehidupan. Kehidupan manusia di dunia ini sangatlah berharga. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk menjadi manusia mulia (Ihsan Alkamil). Tentunya untuk mencapai itu emua tidaklah cukup hanya dengan modal teori belaka, kita secara bertahap untuk selalu berusaha melatih diri untuk mencapai itu semua. KESIMPULAN Berdasar uraian yang telah disajikan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Serat Wedhatama merupakan karya sastra Jawa yang mengajarkan tentang budi pakerti luhur, budi pakerti yang baik, akhlak mulia. Ditulis oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (1811-1881). Keseluruhan isi Serat Wedhatama terdiri atas lima pupuh yaitu: pangkur,sinom,pucung, gambuh, dan kinanthi. Serat Wedhatama adalah serat yang di dalamnya bernilai ajaran-ajaran dalam Islam, yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Yang mengajarkan tentang nilai-nilai dalam kehidupan, akhlak, dan budi pekerti yang baik. 23 Terdapat beberapa cara untuk membina akhlak yang terdapat dalam Serat Wedhatama, yaitu: mengendalikan hawa nafsu (dengan cara bertapa, semedi, meditasi, puasa, menyedikitkan tidur), mencari guru yang pandai, meneladani leluhur dan membersihkan jiwa. Dalam Serat Wedhatama terdapat nilai-nilai pendidikan akhlak yaitu: Pertama, Pengendalian diri dari sifat egois, memberi nasihat agar manusia tidak menuruti kehendak diri sendiri tanpa perhitungan (egois), tidak mau disebut bodoh walaupun pada kenyataannya memang bodoh dan tidak mengetahui apa-apa, mintanya dipuji disanjung serta penuh dengan kepura-puraan. Kedua, Pengendalian diri dari banyak bicara tidak bermanfaat, berisi nasihat untuk mengendalikan diri dari berbicara tidak bermanfaat, melantur, panjang lebar dan bermacam-macam namun tidak berisi. Ketiga, Pengendalian dari sifat sombong, sombong merupakan sikap merendahkan orang lain dan menganggap diri sendirilah yang paling unggul. Sifat seperti itu tidak baik dan mencerminkan jiwa yang sakit. Keempat, Rendah hati, Rendah hati adalah salah satu perbuatan hati yang tidak mudah dicapai dan dimiliki oleh setiap orang, tawadlu’ merupakan salah satu akhlak terpuji atau sifat luhur karena itu merupakan ruh imannya hidup yang dapat memperkokoh persaudaraan dan perasaan lemah lembut di antara umat manusia. Kelima, Sabar, Dijelaskan bahwa manusia harus bisa bersikap sabar, ketika dikatakan bodoh dan dihina tidak marah dan tersinggung. Itulah ilmu yang nyata. Ilmu yang nyata adalah ilmu yang dapat meresap dalam hati dan memberi kesenangan hati. Jadi, ketika menghadapi permasalahan, cobaan akan selalu bersikap sabar dan lapang hati. Keenam, Lila, lila itu adalah keikhlasan hati, dalam menyerahkan semua hak milik, wewenang dan semua hasil perbuatannya kepada Allah dengan legawa, karena mengingat semua itu ada dalam kekuasaan Allah, maka harus tidak ada masing-masing yang membekas di hatinya. Ketujuh, Narima, narima ing pandum atau menerima apa yang diberikan Allah kepada kita. Membuat hati menjadi tentram. Bahwa orang yang telah menjalankan ajaran-ajaran akhlak yang terdapat dalam Serat Wedhatama telah kembali ke asal manusia, yaitu manusia yang bersih seperti ketika baru terlahir di dunia. Tidak suka keramaian dan sifat yang kuasa dan menguasai. Dapat mengendalikan hawa nafsu dan berbudi luhur. Wedhatama mendidik orang-orang yang taat dalam menjalankan agama mereka untuk menjadi orang hidup yang bisa menjalankan satunya kata dan perbuatan. Sungguh banyak pada saat ini, banyak orang yang secara formal tampak sangat taat dalam hidup beragama, tetapi tidak tercermin dalam kehidupan nyata. Yang lahir seharusnya merupakan cerminan yang batin. Pada intinya Serat Wedhatama mengajarkan pada pada kita untuk mencapai kesucian lahir dan batin dalam kehidupan. Kehidupan manusia di dunia ini sangatlah berharga. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk menjadi manusia mulia (Ihsan Al-kamil). Tentunya untuk mencapai itu emua tidaklah cukup hanya dengan modal teori belaka, kita secara bertahap untuk selalu berusaha melatih diri untuk mencapai itu semua. DAFTAR PUSTAKA Adityo Jarmiko, Tafsir Serat Wedhatama (Yogyakarta: Pura Pustaka, 2005). Agus Mulyadi, Pesona Kearifan Jawa (Yogyakarta: DIPTA, 2014). Any, Anjar. Menyingkap Serat Wedotomo.Semarang: Aneka Ilmu, 1986. Astuti, Reni. “NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM SERAT WEDHATAMA KARYA KANJENG GUSTI PANGERAN ADIPATI ARYA MANGKUNEGARA IV”. Lampung: FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG. 2018. Chodjim,Achmad. Serat Wedhatama for our time. Tanggerang: Penerbit BACA, 2016. Cokro tomo, ki, Sabdo. “Serat Wedhatama”. Yogyakarta: Penerbit Narasi, 2010. Dani Nur Saputra dkk, Landasan Pendidikan, (Bandung: Media Sains Indonesia, 2021), hlm. Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2005). Franz Magnis Suseno, Etika Jawa (Jakarta: Gramedia, 2003). 24 Hanifah, Laras, “Nilai Materi Pendidikan Akhlak Dalam Serat Wedhatama Sebagai Penguat Pendidikan Karakter”, Salatiga: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam (IAIN) Salatiga. 2018. Hery Noer Aly, Watak Pendidikan Islam (Jakarta: Friska Agung Insani, 2003). KGPAA Mangkunegara IV, Serat Wedhatama (Semarang: Dahara Prize, 1994). Malik Badri, Taafakkur Perspektif Psiklogi Islam, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, ttc). Mangkunegara IV, KGPAA. Serat Wedhatama (Semarang: Dahara Prize, 1994). Ragil Pamungkas, Lelaku dan Tirakat Cara Orang Jawa menggapai Kesempuraan Hidup (Yogyakarta: NARASI, 2006). Ragil Pamungkas, Pengendalian Hawa Nafsu Orang Jawa (Yogyakarta: NARASI, 2007). Rosidatun, Model Implementasi Pendidikan Karakter, (Kulon Gresik: Caremedia Communication, 2018). Sigmund Freud, Mempersoalkan Psikoanalisa, terj. Kees Bertens (Jakarta: Gramedia, 1979). Siswokartono, Soetomo, Sri Mangkunagara IV Sebagai Penguasa dan Pujangga (Semarang: Aneka Ilmu, 2006). Urwadi, Pengkajian Sastra Jawa (Yogyakarta: Pura Pustaka, 2009). Yana MH, Falsafah dan Pandangan Hidup Orang Jawa (Yogyakarta: Bintang cemerlang, 2012). Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter, (Jakarta: Kencana, 2011) 25