Early Child Research and Practice - ECRP, 2023: 4. , 27-32 JalanMeranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 Upaya Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Pada Anak B Menggunakan Media Gambar Seri Yuni Yuliarti. Rika Partika Sari. Asnawati Affiliation: PAUD HARAPAN BUNDA Desa Dusun Tengah Kecamatan Lubuk Sandi Kabupaten Seluma Corresponding Author: Yunnibkl2019@gmail. rkpar85@gmail. Abstract Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah melalui media gambar seri dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritis pada anak di PAUD Harapan Bunda Kecamatan Lubuk Sandi Kabupaten Seluma. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang difokuskan pada situasi kelas, atau lazim dikenal dengan classroom action research prosedur yang digunakan berbentuk siklus . Subjek utama dalam penelitian ini adalah anak usia 5-6 tahun yang berhumlah 15 orang anak. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan model jhon Elliot dimana setiap siklus terdiri dari empat kegiatan pokok yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Tekhnik pengumpulan data menggunkan metode observasi dan Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif-kuantitatif dengan penekannya digunakan untuk menentukan peningkatan proses yang dinyatakan dalam sebuah predikat, sedangkan analisi data kuantitatif digunakan untuk menentukan peningkatan hasil dengan menggunkan persentase. Hasil peninggkatan kemampuan berfikir kritis pada anak PAUD Harapan Bunda pada siklus I dengan persentase 68%. Sedangkan di siklus II dengan persentase 96%. Simpulan penelitian bahwa penerapan melalui media gambar seri dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritis pada anak di PAUD Harapan Bunda Kecamatan Lubuk Sandi Kabupaten Seluma. , terbukti pada siklus II terjadi peningkatan signifikan, hasil persentase pencapaian sebesar 96% dengan kriteria berkembang sangat baik (BSB). Keyword: Berfikir Kritis. Media Gambar Seri Pendahuluan Pendidikan merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan oleh sesorang untuk mengembangakan kemampuan atau potensi yang dimiliinya kearah yang lebih baik lagi. Perubahan zaman yang tidak pernah berhenti dan bergerak cepat membuka babak baru bagi dunia pendidikan. Pembelajar abad 21 memiliki tuntutan lebih tinggi untuk dapat menghadapi revolusi industri 4. Sebagaimana tujuan khusus dari pendidikan anak usia dini adalah agar anak mampu berpikir secara kritis, memberi alasan, memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat (Upadani, 2021: . Berpikir kritis adalah kemampuan dalam mengambil keputusan rasional tentang apa yang harus dilakukan atau apa yang harus diyakini4. Untuk itu kemampuan berpikir kritis ini sangat penting untuk diajarkan sejak dini, karena anak usia dini berada pada masa yang sangat strategis untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya (Sumayani, 2018: . Pengembangan kemampuan berpikir kritis dapat dibelajarkan untuk anak usia dini dengan menggunakan metode yang sesuai dengan tahapan kemampuan berpikir anak yang masih bersifat konkrit. Kemampuan berpikir kritis anak usia dini tidak seperti kemampuan berpikir kritis orang dewasa karena struktur pengetahuan yang dimiliki antara keduanya sangatlah berbeda. Pada prinsipnya orang yang mampu berpikir kritis adalah orang yang tidak begitu saja menerima atau menolak sesuatu. Mereka akan mencermati, menganalisis, dan mengevaluasi informasi tersebut. Pada anak-anak prinsip tersebut pun juga berlaku, dimana kemampuan berpikir kritis anak dapat dilihat melalui kegiatan mengobservasi, dalam kegiatan ini anak yang berpikir kritis dapat menemukan dan mempertanyakan hal-hal yang tidak diketahuinya, anak yang berpikir kritis secara konstruktif dapat memberikan komentar-komentar, anak mampu e-ISSN 2723-5718 menemukan perbedaan dan persamaan dari gambar yang diperlihatkan kepadanya, dan lain Dengan mempunyai kemampuan berpikir kritis dapat mengarahkan anak agar mampu membuat keputusan yang tepat, cermat, sistematis dan logis dan mampu mempertimbangankan berbagai sudut pandang. Berdasarkan hasil observasi awal pada anak kelompok B peneliti menemukan bahwa sebagian besar kemampuan berpikir kritis anak masih belum dapat berkembang. Masih banyak anak yang sulit memahami penjelasan guru jika tidak diulang beberapa kali, anak juga masih selalu bertanya tentang apa yang harus dikerjakannya padahal guru sudah menyampaikan apa yang harusnya dilakukan seperti menulis dengan cara dikelang antar baris. Anak juga masih sulit dalam menyimpulkan sesuatu dengan rinci misalnya ketika ditanya apa yang terjadi jika banyak sampah berserakan, rata-rata hanya menjawab kotor. Padahal jauh dari itu bisa menjadi sarang utama kuman penyakit. Pada sisi lain, kemampuan berpikir kritis dapat dilihat dari aktivitas anak bertanya. Namun pada sebagian besar anak tidak terlihat aktivitas bertanya terkait dengan aktivitas pembelajaran. Sebagian besar anak belum mampu memberikan komentar atas apa yang telah dilakukan teman di kelas. Pada kegiatan memperhatikan perbedaan gambar, masih banyak anak yang belum mampu membedakan dengan jelas perbedaan yang ada, dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan masih berpusat pada guru, metode yang digunakan lebih cenderung menggunakan metode ceramah sehingga anak kurang terlibat secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran. Pada saat kegiatan bercakap-cakap ataupun tanya jawab terlihat hanya beberapa anak yang merespon pertanyaan guru. Selain itu, terlihat ada sebagian anak tidak antusias untuk berbicara atau mengungkapkan idenya. Pada kriteria yang lain seperti kemampuan mengobservasi, menganalisis, membuat hipotesis, belum terlihat Guru sebagai tenaga pendidik memiliki peranan penting dalam mengembangkan proses berpikir anak. Salah satu karakteristik anak usia dini adalah memiliki rasa antusias dan ingin tahu yang kuat terhadap banyak hal di sekitarnya. Rasa ingin tahu tersebut dapat dimunculkan dengan menggunakan media. Media merupakan sarana pembelajaran yang dapat memunculkan minat siswa untuk belajar karena media merupakan segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat terlibat dalam proses pembelajaran (Aprinawati, 2017: . Media gambar seri memiliki suatu urutan gambar sehingga dapat merangsang pikiran anak untuk berbicara dan menghasilkan cerita yang Pengembangan kemampuan berpikir kritis sangat penting dalam pendidikan karena dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan meningkatkan daya pikir Berpikir kritis hendaklah dipupuk sejak dini karena dengan mendidik anak untuk berpikir kritis akan membantu anak untuk secara aktif membangun pertahanan diri terhadap serangan informasi di sekelilingnya. Metode Penelitian Penelitian Tindakan Kelas difokuskan pada situasi kelas atau lazim dikenal dengan classroom action research prosedur yang digunakan berbentuk siklus. Wardhani . 3: . penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat. Dalam PTK ini peneliti menggunakan model Jhon Elliot, setiap siklus terdiri dari empat kegiatan pokok yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah berjumlah 15 orang anak pada kelompok bermain. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa lembar lembar observasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data deskriptif kualitatif-kuantitatif. Early Child Research and Practice - ECRP, 2023: 4. , 27-32 JalanMeranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 Analisis dilakukan pada setiap siklus menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Ngalim Purwanto . 0: . Hasil Penelitian Berdasarkan hasil reflesi dari 15 anak di Satuan PAUD HARAPAN BUNDA Kabupaten Seluma berdasarkan aspek yang diamati pada siklus I persentase yang didapat yaitu 68% dengan kriteria (BSH). Dari hasil refleksi diatas melalui kegiatan menggunting pola dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis menggunakan media gambar seri di PAUD HARAPAN BUNDA Kabupaten Seluma setelah tindakan pada siklus II menunjukkan bahwa sudah mengalami peningkatan dengan baik, terlihat 15 orang anak dari aspek yang diamati menunjukkan kriteria penilaian Berkembang Sangat Baik (BSB). Hal ini dikarenakan adanya jeda waktu yang diberikan untuk membantu anak memahami konsep permainan yang diberikan sebelum memasuki siklus II. Persentase keberhasilan secara keseluruhan yang diperoleh pada Siklus II Pertemuan ke I sebesar 96% . riteria BSB) Sehinnaga mencapai sesuai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, maka penelitian dihentikan. Pembahasan Penelitian tindakan dilakukan untuk mengetahui peningkatkan kemampuan berpikir kritis menggunakan media gambar seri pada kelompok B di PAUD HARAPAN BUNDA Kabupaten Seluma. Hasil penelitian pada Siklus I, dapat diketahui meningkat secara bertahap. Peningkatan yang dicapai pada Siklus I belum mencapai indikator keberhasilan yang telah Pada Siklus 1 motorik halus melalui kegiatan menggunting pola baru mencapai 68% dengan kriteria Berkembang Sesuai Harapan. Hasil persentase pencapaian yang diperolah pada Siklus I belum mencapai persentase yang diharapkan menurut Anas Sudjiono, 2010 . alam Zuhut Ramdani, 2021: . sebesar 80% - 100% atau kriteria BSB, sehingga penelitian dilanjutkan pada Siklus II. Hasil penelitian pada Siklus II, dapat diketahui kemampuan anak meningkat dratis. Peningkatan yang dicapai pada Siklus II mampu mencapai indikator keberhasilan yang telah Hasil persentase pencapaian yang diperoleh pada Siklus II berhasil mencapai kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB) dengan peningkatan prosentase mencapai 96%. Pada siklus ini anak sudah mampu secara keseluruhan melalukan kegiatan menggunting pola dengan Hal ini sesuai dengan indikator keaksaraan menurut Permendikbud No. 137 Tahun 2014 yaitu anak dapat memahami persamaan dan perbedaan, anak dapat memahami konsep menghubungkan, anak dapat mengklasifikasikan berdasarkan bentuk, ukuran, dan warna, anak dapat memahami konsep sebab-akibat. Pelaksanaan tindakan pada Siklus I persentase perolehan sebesar 68% . riteria BSH) belum mencapi kriteria yang diharapkan sehingga perlu dilakukan pada siklus ke II. Pada Siklus ke II menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan dengan tindakan pada Siklus I, persentase hasil pencapaian pada Siklus II sebesar 96% dan . riteria BSB) Berdasarkan persentase hasil pencapaian pada Siklus II, sudah mencapai indikator keberhasilan terjadi peningkatan terhadap kemampuan berpikir kritis pada anak kelompok B melalui penggunaan media gambar seri di PAUD HARAPAN BUNDA Kabupaten Seluma. e-ISSN 2723-5718 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka peneliti menarik kesimpulan bahwa melalui kegiatan menggunting pola dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis menggunakan media gambar seri pada anak kelompok B di PAUD HARAPAN BUNDA Kabupaten Seluma. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari adanya peningkatan persentase setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I dan siklus II. Pelaksanaan tindakan pada siklus I, persentase yang ditunjukkan dari siklus I sebesar 68%. Pelaksanaan tindakan pada Siklus II menunjukkan adanya peningkatan terhadap kemampuan berpikir kritis pada anak kelompok B melalui penggunaan media gambar seri di PAUD HARAPAN BUNDA Kabupaten Seluma dibandingkan dengan tindakan pada Siklus I. Persentase hasil pencapaian pada Siklus II sebesar 96% dalam kriteria Berkembang Sangat Baik Artinya mencapai kriteria ketuntasan keberhasilan penelitian 75% - 100%. Daftar Pustaka