Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha Volume. 3 Nomor. 3 September 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 51-67 DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpab. Tersedia: https://journal. id/index. php/jbpab Pengaruh Tradisi Puja Bhakti Keliling terhadap Keaktifan Umat Buddha dalam Kegiatan Keagamaan di Desa Sumogawe Ruwadi1* Kementerian Agama Kabupaten Semarang. Indonesia *Penulis Korespondensi: ruwadiratananamo@email. Abstract. Local religious traditions play a crucial role in maintaining spirituality, cultural identity, and social cohesion within communities, particularly in rural areas that continue to uphold traditional values. This study aims to examine in depth the influence of the Puja Bhakti Keliling tradition on the level of participation of Buddhist devotees in various religious activities in Sumogawe Village. The study employs a quantitative approach with an associative design, involving 60 purposively selected respondents, and the data were analyzed using simple linear The findings indicate that this tradition contributes significantly to the active engagement of the devotees, with an RA value of 0. 634 and a regression coefficient of 0. 756, confirming its positive effect. Dimensions of togetherness, social interaction, and spiritual meaning were identified as the main factors driving active The results also reveal low participation in Dhamma learning sessions, highlighting the need for innovation in educational methods and more engaging learning approaches within lay communities. The Puja Bhakti Keliling tradition has proven to serve as a spiritual, social, and educational medium that holistically supports community resilience and the sustainability of religious practices. This study recommends strengthening this traditional model through intergenerational support, innovative participatory learning methods, and contextual approaches that align with community needs. Keywords: Buddhist Community. Collective Tradition. Puja Bhakti Keliling. Religious Activity. Religious Participation. Abstrak. Tradisi keagamaan lokal memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga spiritualitas, identitas budaya, dan kohesi sosial masyarakat, khususnya di daerah pedesaan yang masih memegang teguh nilai-nilai Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam pengaruh tradisi Puja Bhakti Keliling terhadap tingkat keaktifan umat Buddha dalam berbagai kegiatan keagamaan di Desa Sumogawe. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif, melibatkan 60 responden yang dipilih secara purposif, dan data dianalisis menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini memberikan kontribusi signifikan terhadap keaktifan umat, dengan nilai RA sebesar 0,634 dan koefisien regresi sebesar 0,756, yang menegaskan pengaruh positifnya. Dimensi kebersamaan, interaksi sosial, dan makna spiritual menjadi faktor utama yang mendorong partisipasi aktif. Temuan juga mengungkap rendahnya partisipasi dalam sesi pembelajaran Dhamma, yang menjadi dasar perlunya inovasi dalam metode edukatif dan pendekatan pembelajaran yang lebih menarik di komunitas umat awam. Tradisi Puja Bhakti Keliling terbukti berperan sebagai sarana spiritual, sosial, dan edukatif yang secara holistik mendukung ketahanan komunitas serta keberlanjutan praktik keagamaan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan model tradisi ini melalui dukungan lintas generasi, inovasi metode pembelajaran partisipatif, dan pendekatan kontekstual yang sesuai dengan kebutuhan Kata Kunci: Keaktifan Umat. Kegiatan Keagamaan. Komunitas Buddhis. Puja Bhakti Keliling. Tradisi Kolektif. LATAR BELAKANG Tradisi keagamaan lokal telah lama menjadi fondasi kehidupan spiritual dan sosial masyarakat pedesaan di Asia Tenggara. Di tengah arus modernisasi dan urbanisasi yang terus berkembang, praktik keagamaan seperti Puja Bhakti Keliling tetap memainkan peran vital dalam mempertahankan kohesi sosial dan memperkuat jati diri komunitas. Di lingkungan pedesaan, ritual-ritual Buddhis yang berakar pada nilai merit-making bukan hanya dipahami sebagai bentuk pengabdian spiritual, tetapi juga sebagai perekat sosial yang mendorong kerja Naskah Masuk: 31 Juli 2025. Revisi: 28 Agustus 2025. Diterima: 25 September 2025. Tersedia: 30 September Pengaruh Tradisi Puja Bhakti Keliling terhadap Keaktifan Umat Buddha dalam Kegiatan Keagamaan di Desa Sumogawe sama, rasa tanggung jawab kolektif, dan partisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat (OAoLemmon, 2. Pentingnya Puja Bhakti Keliling terlihat dalam kemampuannya menghidupkan kembali semangat kebersamaan di tengah keterbatasan akses ke institusi keagamaan formal seperti Dalam konteks geografis seperti Desa Sumogawe, di mana jarak dan keterbatasan infrastruktur menjadi tantangan, tradisi ini muncul sebagai solusi komunitas untuk menjaga kesinambungan kehidupan spiritual umat. Melalui pelaksanaan ritual yang bergiliran di rumahrumah umat, terjadi pertukaran nilai, penanaman moral Buddhis, serta pembentukan solidaritas sosial yang tidak hanya memperkuat kehidupan keagamaan, tetapi juga memperkuat ikatan kekeluargaan dan komunitas (OAoLemmon, 2. Namun demikian, komunitas Buddhis pedesaan menghadapi tantangan besar dalam menjaga keberlangsungan praktik spiritual tersebut. Akses yang terbatas terhadap vihara dan bimbingan monastik menjadi kendala utama yang menyebabkan menurunnya keterlibatan umat, khususnya di kalangan generasi muda. Urbanisasi dan migrasi kaum muda ke kota-kota besar menyebabkan kekosongan peran dalam ritual keagamaan tradisional, sehingga keberlangsungan tradisi mengalami tekanan yang signifikan (Chandrasoma, 2. Selain itu, perpindahan para biksu ke daerah perkotaan juga mengurangi sumber daya spiritual yang tersedia di desa, memperlemah jaringan religius lokal (Chandrasoma, 2. Lebih jauh, jarak fisik dari pusat kegiatan keagamaan mempersulit umat dalam mengikuti kegiatan ritual secara teratur, serta mengurangi kesempatan mereka untuk mendapatkan bimbingan langsung dari pemuka agama. Keterbatasan ini, dikombinasikan dengan tantangan ekonomi dan sosial, berdampak pada melemahnya transmisi ajaran dan praktik Buddhis secara turun-temurun (Lynch et al. , 2. Jika tidak diantisipasi, hal ini dapat menyebabkan kerenggangan spiritual dan sosial dalam komunitas, memperburuk kesenjangan dan mengancam keberlanjutan nilai-nilai Buddhis yang selama ini menjadi perekat masyarakat. Dalam kerangka yang lebih luas, kegiatan kolektif dalam komunitas Buddhis TheravAda, seperti halnya Puja Bhakti Keliling, memiliki dampak edukatif dan sosial yang sangat Melalui ritual bersama, umat diajarkan prinsip-prinsip etika, tanggung jawab sosial, dan spiritualitas yang memperkuat karakter serta rasa hormat terhadap sesama (Lin et al. Vihara, dalam hal ini, berfungsi sebagai pusat pembelajaran yang menyatu antara dimensi keagamaan dan sosial, membentuk identitas spiritual sekaligus mendukung pembangunan masyarakat melalui penguatan moral kolektif. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. SEPTEMBER 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 51-67 Pelaksanaan tradisi keagamaan juga berdampak pada peningkatan modal sosial Kegiatan seperti festival perolehan jasa . erit-makin. memperkuat hubungan antarpersonal dan mendorong kerja sama lintas individu dan keluarga dalam komunitas. Hal ini menciptakan jaringan sosial yang kokoh dan dapat dimobilisasi untuk kepentingan bersama, seperti penyelenggaraan pendidikan informal, bantuan sosial, atau kegiatan kemasyarakatan lainnya (Arzi et al. , 2. Partisipasi aktif dalam ritual ini mempertegas identitas kolektif serta memperkuat rasa memiliki terhadap komunitas. Selain dampak internal komunitas, interaksi lintas iman yang terjadi selama kegiatan keagamaan Buddhis turut mendorong toleransi dan pemahaman antaragama. Dalam banyak kasus, ritual Buddhis yang terbuka dan inklusif mengundang partisipasi atau setidaknya kehadiran dari individu yang berbeda latar belakang agama, menciptakan ruang dialog dan saling pengertian (Pradubmook-Sherer & Sherer, 2. Interaksi semacam ini memfasilitasi pengenalan nilai-nilai universal seperti kasih sayang, kedamaian, dan harmoni yang memperkuat kohabitasi damai di wilayah multikultural. Keterlibatan dalam ritual keagamaan bersama lintas iman tidak hanya mengurangi prasangka, tetapi juga membangun relasi pribadi yang mendalam yang melampaui batas-batas Relasi ini membantu menciptakan empati dan pengakuan atas kemanusiaan yang sama, membuka jalan bagi kerja sama dalam isu-isu sosial yang lebih luas. Dalam konteks seperti ini, tradisi keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai alat transformasi sosial yang memperkuat kohesi dan stabilitas sosial di tingkat akar rumput. KAJIAN TEORITIS Dalam studi agama, tradisi dipahami sebagai mekanisme vital dalam mentransmisikan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Tradisi ini umumnya dimanifestasikan dalam bentuk ritual, narasi, dan praktik komunal yang memperkuat keberlangsungan nilai-nilai spiritual dan identitas kolektif. Tradisi memungkinkan terjaganya keyakinan dan norma sosial di tengah dinamika perubahan sosial yang cepat, menjadikannya fondasi bagi keberlangsungan komunitas keagamaan (Maulidia, 2. Durkheim mengembangkan teori ritual kolektif untuk menjelaskan bagaimana praktik keagamaan bersama menciptakan kesadaran kolektif yang memperkuat identitas sosial dan solidaritas antaranggota masyarakat. Menurut Durkheim, melalui ritual kolektif, masyarakat membentuk kesadaran bersama yang menjadi landasan kohesi sosial dan penguatan struktur moral komunitas (Kamirudin, 2. Dalam konteks ini, partisipasi dalam kegiatan keagamaan Pengaruh Tradisi Puja Bhakti Keliling terhadap Keaktifan Umat Buddha dalam Kegiatan Keagamaan di Desa Sumogawe seperti Puja Bhakti Keliling dapat dipahami sebagai sarana pengikat yang tidak hanya memperkuat iman personal, tetapi juga memperkuat ikatan sosial. Penerapan teori Durkheim telah dibuktikan melalui berbagai studi empiris. Power . menunjukkan bahwa partisipasi dalam ritual bulanan di komunitas pedesaan di India Selatan tidak hanya meningkatkan rasa kebersamaan, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan Dalam kerangka yang serupa. Sosis & Bressler . mengembangkan teori sinyal keagamaan, di mana ritual yang bersifat mahal atau menuntut pengorbanan tinggi meningkatkan kepercayaan dan kerja sama dalam komunitas. Ini menunjukkan bahwa partisipasi aktif dalam ritual tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga memiliki fungsi pragmatis dalam memperkuat keutuhan dan keberlanjutan komunitas. Kerangka interaksionisme simbolik yang dikembangkan oleh Blumer turut menjelaskan pentingnya makna yang dibentuk melalui interaksi sosial dalam konteks keagamaan. Blumer menekankan bahwa makna-makna dalam kehidupan sosial tidak bersifat statis, melainkan dikonstruksi melalui proses interaksi antara individu (Schwalbe, 2. Dalam ritual keagamaan, simbol-simbol, bahasa, dan praktik bersama menciptakan pemahaman kolektif yang terus-menerus dinegosiasikan oleh anggota komunitas. Proses ini memungkinkan individu untuk menemukan makna personal dalam kerangka kolektif, menciptakan dinamika antara agensi individu dan struktur sosial keagamaan (Rusdiana & Utari, 2. Contoh nyata dari penerapan interaksionisme simbolik dalam konteks keagamaan dapat ditemukan dalam praktik komunitas Tablighi Jamaat. Anggota komunitas ini secara aktif membangun dan merekonstruksi keyakinan mereka melalui keterlibatan dalam aktivitas dakwah dan ritual harian, memperlihatkan bahwa interaksi sosial berperan penting dalam memperkuat makna spiritual dan identitas komunal (Rusdiana & Utari, 2. Hal ini menggarisbawahi bahwa keterlibatan dalam ritual bukan hanya tentang mengikuti tradisi, tetapi juga tentang partisipasi aktif dalam proses pembentukan makna kolektif. Cohen & Uphoff dalam Jan et al. menyajikan dimensi partisipasi dalam konteks pembangunan sosial dan keagamaan yang mencakup derajat keterlibatan, bentuk partisipasi . ktif atau pasi. , serta motivasi yang melatarbelakangi partisipasi individu. Keterlibatan yang aktif dalam kegiatan keagamaan cenderung berkontribusi pada komitmen yang lebih mendalam terhadap nilai-nilai komunitas, menciptakan rasa memiliki yang kuat. Dalam konteks pembangunan komunitas, partisipasi yang aktif juga berkorelasi dengan keberlanjutan program karena melibatkan rasa tanggung jawab kolektif. Zhao et al. menambahkan bahwa dukungan institusional dan akses terhadap sumber daya turut menentukan keberhasilan partisipasi dalam program berbasis komunitas. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. SEPTEMBER 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 51-67 Ritual kolektif juga berperan sebagai sarana edukatif dalam antropologi agama. Whitehouse & Lanman . menyatakan bahwa ritual merupakan wahana sosialisasi dan transmisi nilai-nilai budaya serta kepercayaan yang memperkuat kesadaran identitas kolektif. Dengan mengikuti ritual, individu tidak hanya memperkuat keyakinan pribadi, tetapi juga memperkuat kesadaran sosial terhadap norma dan tanggung jawab komunal. Dalam konteks ini, ritual menjadi ruang pembelajaran tentang etika, tanggung jawab, serta solidaritas yang sangat penting dalam menjaga harmoni sosial. Contoh peran edukatif ritual dapat ditemukan dalam praktik lagu-lagu ritual Nanyue di Tiongkok. Zhou & Chuangprakhon . menunjukkan bahwa melalui nyanyian ritual, masyarakat tidak hanya belajar tentang ajaran agama, tetapi juga tentang literasi dan sejarah budaya lokal. Dengan demikian, ritual berperan sebagai sarana pendidikan multifungsi yang melampaui dimensi spiritual, menjadikannya instrumen sosial yang efektif dalam membentuk karakter dan kesadaran budaya. Selain sebagai sarana edukatif, ritual kolektif juga berfungsi sebagai bentuk dialog komunal yang memungkinkan anggota komunitas untuk merundingkan makna dan mengontekstualisasikan pengalaman mereka dalam kerangka spiritual yang lebih luas (Whitehouse & Lanman, 2. Hal ini memperkuat proses pembelajaran sosial dan spiritual, memperdalam hubungan antarpersonal, dan memperkuat rasa tanggung jawab terhadap kesejahteraan kolektif. Hubungan antara modal sosial dan partisipasi dalam ritual keagamaan sangat mencolok dalam komunitas Buddhis. Swart . menegaskan bahwa keterlibatan dalam ritual berfungsi sebagai medium pembentukan dan penguatan jaringan sosial melalui peningkatan rasa percaya dan kerja sama. Kegiatan seperti festival keagamaan dan Puja Bhakti memungkinkan anggota komunitas untuk membentuk relasi sosial yang mendukung struktur solidaritas dan keberlanjutan spiritual komunitas. Dalam konteks Buddhisme, ritual sering kali dipahami sebagai bentuk penegasan komitmen terhadap nilai-nilai komunitas dan sarana untuk membangun identitas kelompok. Levy & Razin . mengemukakan bahwa ritual keagamaan juga berfungsi sebagai sinyal sosial yang memperkuat posisi seseorang dalam komunitas, meningkatkan rasa keterhubungan, dan memperbesar daya jangkau institusi keagamaan dalam memenuhi kebutuhan emosional dan sosial anggotanya. Dengan demikian, tradisi ritual kolektif seperti Puja Bhakti Keliling tidak hanya penting dari sisi spiritual, tetapi juga dari sisi edukatif, sosial, dan kultural. Kajian teori dan studi empiris yang telah diuraikan mendukung relevansi dan urgensi pelestarian praktik ini sebagai Pengaruh Tradisi Puja Bhakti Keliling terhadap Keaktifan Umat Buddha dalam Kegiatan Keagamaan di Desa Sumogawe fondasi pembentukan komunitas Buddhis yang tangguh dan inklusif, terutama dalam konteks pedesaan yang menghadapi tekanan modernisasi dan keterbatasan akses ke institusi keagamaan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif untuk menilai pengaruh tradisi Puja Bhakti Keliling terhadap keaktifan umat Buddha dalam kegiatan Desain ini dipilih karena mampu menguji hubungan antara dua variabel utama, yakni tradisi keagamaan sebagai variabel independen dan keaktifan religius sebagai variabel Secara teknis, metode ini memberikan dasar kuat untuk memahami hubungan sebabakibat secara statistik melalui penggunaan regresi linier sederhana. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposif di Desa Sumogawe. Kecamatan Getasan. Kabupaten Semarang. Desa ini dipilih karena praktik Puja Bhakti Keliling masih berlangsung secara aktif dan menjadi salah satu tradisi khas dalam keberagamaan umat Buddha setempat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juni 2025, mengikuti siklus waktu kegiatan keagamaan komunitas yang cenderung stabil. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh umat Buddha yang aktif mengikuti tradisi Puja Bhakti Keliling. Dari populasi tersebut, ditetapkan 60 responden dengan teknik purposive sampling. Teknik ini memungkinkan peneliti memilih responden berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan studi, seperti frekuensi keterlibatan dalam kegiatan keliling sedikitnya tiga kali dalam sebulan terakhir. Pendekatan ini dinilai efektif dalam penelitian berbasis komunitas religius di wilayah pedesaan karena memungkinkan peneliti menggali informasi dari partisipan yang memiliki pengalaman langsung dan relevan (Rix et , 2. Purposive sampling memberikan keunggulan dalam menggali kedalaman makna sosial dan keagamaan dari individu yang memahami konteks lokal. Dengan menyertakan tokoh agama, penyuluh, serta umat yang terlibat aktif maupun yang memiliki pandangan berbeda, pendekatan ini menghadirkan keragaman perspektif yang memperkaya pemahaman terhadap praktik keagamaan komunitas (Koen & Robertson, 2. Dalam konteks penelitian ini, teknik sampling tersebut mendukung analisis yang kontekstual, relevan, dan mewakili kompleksitas dinamika spiritual masyarakat desa. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner tertutup dengan skala Likert lima poin. Kuesioner ini dikembangkan berdasarkan indikator-indikator variabel tradisi Puja Bhakti Keliling (X) dan keaktifan umat dalam kegiatan keagamaan (Y). Indikator variabel X meliputi Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. SEPTEMBER 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 51-67 frekuensi keterlibatan, intensitas sebagai tuan rumah, persiapan kegiatan, makna spiritual, rasa kebersamaan, dan persepsi manfaat. Sedangkan indikator variabel Y mencakup kehadiran di vihara, partisipasi dalam sesi Dhammadesana, kontribusi dana . An. , keterlibatan dalam kegiatan sosial-keagamaan, peran dalam hari besar keagamaan, serta dukungan dari penyuluh Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan profil umum responden serta distribusi nilai pada masingmasing dimensi variabel. Selanjutnya, dilakukan analisis regresi linier sederhana guna menguji pengaruh variabel X terhadap variabel Y. Model ini dipilih karena dapat menjelaskan arah dan kekuatan hubungan antara dua variabel kuantitatif, serta memberikan kemudahan interpretasi hasil kepada pembaca dari berbagai disiplin ilmu (Hemming, 2. Penggunaan regresi linier sederhana dalam studi perilaku keagamaan memiliki beberapa Pertama, metode ini efektif untuk mengidentifikasi hubungan antara variabelvariabel, seperti keterlibatan dalam ritual dan tingkat partisipasi sosial-keagamaan (Trani et al. Kedua, regresi linier sederhana mudah digunakan dan hasilnya dapat dijelaskan dengan jelas, menjadikannya metode yang relevan untuk penelitian interdisipliner di bidang sosiologi, psikologi, dan studi agama. Ketiga, model ini memfasilitasi pengujian hipotesis secara langsung dan mendukung presentasi hasil kepada khalayak luas dengan cara yang ringkas dan Meski demikian, terdapat sejumlah keterbatasan dalam penerapan regresi linier Model ini mengasumsikan hubungan linear antara variabel bebas dan terikat, padahal dalam realitas sosial, hubungan tersebut bisa lebih kompleks dan bersifat non-linear (Ashraf, 2. Sederhananya model dapat menimbulkan bias atau menutup-nutupi faktor penting lain yang turut mempengaruhi perilaku keagamaan. Di sisi lain, regresi linier sederhana hanya mempertimbangkan satu variabel independen, sehingga kurang optimal dalam menjelaskan fenomena keagamaan yang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti lingkungan sosial, pendidikan, atau dukungan keluarga (Arcury et al. , 2. Selain itu, metode kuantitatif semata berisiko mengabaikan aspek kualitatif dari pengalaman keagamaan seperti makna spiritual, emosi, atau narasi komunitas yang sering kali menjadi kunci dalam pemahaman perilaku religius (Han et al. , 2. Meskipun memiliki keterbatasan, regresi linier sederhana tetap menjadi alat yang berguna dalam tahap awal analisis kuantitatif dan dalam konteks studi eksploratif. Ketika digunakan secara hati-hati dan dilengkapi dengan pemahaman kontekstual yang kuat, metode Pengaruh Tradisi Puja Bhakti Keliling terhadap Keaktifan Umat Buddha dalam Kegiatan Keagamaan di Desa Sumogawe ini mampu menyumbangkan wawasan penting tentang hubungan antara keterlibatan dalam tradisi keagamaan dan tingkat keaktifan spiritual umat. Dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangannya, pemilihan metode dan teknik sampling dalam studi ini memberikan dasar yang valid untuk menguji hipotesis mengenai pengaruh tradisi Puja Bhakti Keliling terhadap keaktifan umat Buddha di Desa Sumogawe. Kombinasi pendekatan kuantitatif, instrumen yang disusun berdasarkan indikator empiris, dan pemilihan partisipan secara purposif menjadikan metodologi ini selaras dengan konteks lapangan dan relevan untuk menjawab tujuan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini menyajikan hasil penelitian mengenai pengaruh tradisi Puja Bhakti Keliling terhadap keaktifan umat Buddha dalam kegiatan keagamaan di Desa Sumogawe. Analisis dilakukan secara kuantitatif dengan memanfaatkan statistik deskriptif dan inferensial, khususnya regresi linier sederhana, untuk menguji hubungan antara keterlibatan dalam tradisi keagamaan dan tingkat partisipasi umat dalam aktivitas spiritual. Karakteristik Responden Sebanyak 60 responden terlibat dalam penelitian ini, dengan rentang usia 15 hingga 72 tahun dan rerata usia sekitar 41,3 tahun. Mayoritas responden berasal dari kelompok usia 45 tahun ke atas . ,7%), diikuti oleh kelompok usia 25Ae44 tahun . ,3%), dan 15Ae24 tahun . ,0%). Penyebaran usia ini menunjukkan keterlibatan lintas generasi dalam tradisi Puja Bhakti Keliling. Statistik Deskriptif Pengukuran dilakukan terhadap dua variabel utama: Tradisi Puja Bhakti Keliling (X) dan Keaktifan Umat dalam Kegiatan Keagamaan (Y). Skala Likert lima poin digunakan untuk menilai setiap dimensi. Rata-rata skor untuk variabel X adalah 3,86, yang termasuk dalam kategori tinggisedang. Dimensi "kebersamaan" menempati posisi tertinggi dengan mean 4,37 dan SD 0,71, menunjukkan bahwa rasa persaudaraan dan keterikatan sosial menjadi aspek paling dominan dalam pelaksanaan tradisi ini. Sementara itu, dimensi "makna spiritual" mencatat rata-rata 3,85, yang menunjukkan adanya internalisasi nilai ajaran Buddha oleh para partisipan. Untuk variabel Y, rerata skor keaktifan umat adalah 3,67, yang diklasifikasikan dalam kategori sedangAetinggi. Kehadiran di vihara . ean 4,. menjadi bentuk partisipasi paling tinggi, diikuti oleh kontribusi dana . dan dukungan dari penyuluh . Dimensi "partisipasi Dhammadesana" . ean 3,. , mengindikasikan bahwa aspek pembelajaran formal masih menjadi tantangan dalam keterlibatan umat. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. SEPTEMBER 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 51-67 Analisis Inferensial Pengujian regresi linier sederhana menghasilkan persamaan regresi Y = 0,757 0,756X. Nilai koefisien regresi . sebesar 0,756 menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu unit skor keterlibatan dalam Puja Bhakti Keliling berkorelasi positif dengan peningkatan 0,756 unit skor keaktifan keagamaan. Hasil uji t menghasilkan nilai t = 10,027 dengan signifikansi p < 0,001, yang mengonfirmasi bahwa pengaruh tersebut sangat signifikan secara statistik. Koefisien determinasi (RA) sebesar 0,634 mengindikasikan bahwa 63,4% variasi dalam keaktifan umat dijelaskan oleh intensitas keterlibatan dalam tradisi Puja Bhakti Keliling. Sisanya sebesar 36,6% diduga dipengaruhi oleh faktor lain seperti dukungan keluarga, latar pendidikan agama, jarak geografis, atau keberadaan tokoh agama. Interpretasi Statistik Penggunaan indikator statistik seperti mean dan standar deviasi (SD) penting untuk menggambarkan pola umum dan keragaman partisipasi umat. Mean mencerminkan kecenderungan umum keterlibatan dalam kegiatan keagamaan, sedangkan SD menggambarkan variasi atau penyebaran perilaku antarindividu (Jamal, 2. Dalam penelitian ini, variasi relatif kecil pada dimensi kebersamaan dan spiritual menunjukkan adanya konsistensi persepsi dan keterlibatan di antara responden. Nilai RA yang cukup tinggi mengonfirmasi bahwa tradisi ritual memainkan peran penting dalam mendorong keterlibatan keagamaan. Hasil ini sejalan dengan temuan (Jamal, 2. yang menyebutkan bahwa partisipasi dalam ritual berkorelasi positif dengan kepuasan hidup dan kesejahteraan spiritual. Di sisi lain, nilai t yang tinggi mengindikasikan bahwa hubungan tersebut bukan sekadar kebetulan statistik, tetapi mencerminkan realitas yang signifikan dalam praktik komunitas (Lorenz et al. , 2. Framework Skor dan Kategori Likert Penggunaan skala Likert lima poin dalam mengukur aktivitas keagamaan telah terbukti efektif untuk membedakan tingkat keterlibatan Skala ini memungkinkan pengukuran partisipasi secara bertingkat dari "tidak pernah" hingga "selalu". Pendekatan ini memberikan pemahaman yang lebih rinci atas perilaku keagamaan (Leung et al. , 2. Selain itu, dalam analisis hasil, skor dirata-ratakan dan dikategorikan sebagai berikut: skor < 3,00 dianggap sebagai partisipasi rendah, 3,00Ae3,74 sebagai sedang, dan > 3,75 sebagai tinggi (Ahmad et al. , 2. Reliabilitas instrumen diukur melalui analisis internal, termasuk perhitungan alpha Cronbach untuk memastikan konsistensi antaritem. Hal ini penting untuk menjamin validitas pengukuran terhadap dimensi keagamaan yang bersifat kompleks dan multidimensional (Leung et al. , 2. Pengaruh Tradisi Puja Bhakti Keliling terhadap Keaktifan Umat Buddha dalam Kegiatan Keagamaan di Desa Sumogawe Penyesuaian skala dengan konteks lokal juga menjadi perhatian penting. Seperti yang disarankan Leung et al. , skala yang dimodifikasi sesuai konteks komunitas target akan menghasilkan data yang lebih akurat dan bermakna. Dalam studi ini, instrumen dirancang khusus berdasarkan indikator budaya lokal dan nilai-nilai Buddhis komunitas Sumogawe. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan signifikan antara partisipasi dalam tradisi Puja Bhakti Keliling dengan tingkat keaktifan umat dalam kegiatan Temuan ini memberikan pijakan untuk mengeksplorasi lebih jauh peran tradisi keagamaan kolektif dalam memperkuat modal sosial, ketahanan komunitas, serta keberlanjutan partisipasi spiritual dalam konteks komunitas Buddhis pedesaan. Pengaruh Ritual Keagamaan Kolektif terhadap Modal Sosial dan Ketahanan Komunitas Ritual keagamaan kolektif, seperti Puja Bhakti Keliling, memainkan peran sentral dalam memperkuat modal sosial dan meningkatkan ketahanan komunitas. Keterlibatan bersama dalam kegiatan keagamaan memperkuat ikatan emosional dan rasa kebersamaan di antara anggota komunitas, menciptakan identitas kolektif yang menjadi fondasi bagi stabilitas sosial. Dalam konteks Buddhis, praktik bersama ini tidak hanya mempererat solidaritas tetapi juga meningkatkan kapasitas komunitas untuk menghadapi tantangan kolektif (Bonk et al. , 2019. Partelow, 2. Pelaksanaan tradisi secara bergilir di rumah-rumah umat menciptakan ruang perjumpaan dan dukungan sosial, membangun kepercayaan dan keterbukaan antarindividu. Dalam kondisi krisis seperti bencana alam atau tekanan sosial, komunitas dengan jaringan sosial yang kuat cenderung lebih resilien, mampu berbagi sumber daya, dan memberikan dukungan emosional yang lebih efektif (Alfitri et al. , 2024. Chen et al. , 2024. Karmila & Madrah, 2. Fungsi coping kolektif yang terbentuk melalui ritual bersama ini menunjukkan bahwa dimensi budaya dan spiritual dari modal sosial memainkan peran penting dalam meningkatkan ketahanan sosial masyarakat (Hikichi et al. , 2. Faktor-faktor yang Memediasi Pengaruh Tradisi terhadap Keberlanjutan Partisipasi Keagamaan Keberlanjutan partisipasi dalam kegiatan berbasis keagamaan tidak semata-mata dipengaruhi oleh pelaksanaan tradisi itu sendiri, melainkan dimediasi oleh sejumlah faktor. Jaringan sosial dan dukungan komunitas memiliki peran sentral dalam memotivasi individu untuk terus terlibat. Ketika individu merasa diterima dan didukung oleh komunitas keagamaannya, mereka cenderung memiliki komitmen yang lebih tinggi untuk berpartisipasi secara aktif (Wakefield et al. , 2. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. SEPTEMBER 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 51-67 Selain itu, keselarasan antara nilai-nilai pribadi dengan ajaran agama menjadi faktor Individu yang merasa bahwa praktik keagamaan mencerminkan nilai dan keyakinan mereka akan memiliki kecenderungan lebih besar untuk mempertahankan partisipasi. Studi menunjukkan bahwa tingkat religiositas yang tinggi berkorelasi dengan keterlibatan sukarela yang lebih besar dalam kegiatan keagamaan, menandakan bahwa keyakinan yang kuat mendorong tindakan nyata dalam konteks sosial keagamaan (Robinson et al. , 2. Kesejahteraan psikologis juga menjadi mediator penting. Kegiatan keagamaan yang meningkatkan kepuasan hidup dan stabilitas mental. Dalam jangka panjang, pengalaman positif ini memperkuat keterikatan terhadap aktivitas spiritual dan komunitasnya (SalmoiragoAa Blotcher et al. , 2011, 2. Faktor budaya dan nilai-nilai tradisional juga memainkan peran dalam membentuk intensitas partisipasi. Pemahaman terhadap makna spiritual serta dimensi komunal dari suatu tradisi agama dapat memperdalam rasa keterikatan terhadap praktik tersebut. Dalam konteks Puja Bhakti Keliling, penanaman nilai kebersamaan, tanggung jawab moral, dan penghormatan terhadap ajaran Buddha menjadi landasan yang mendorong keterlibatan yang berkelanjutan (Khang, 2. Inovasi Pedagogis dalam Meningkatkan Pembelajaran Dhamma Terstruktur di Komunitas Umat Awam Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi dalam sesi Dhammadesana tergolong rendah, meskipun keterlibatan dalam aspek ritual lainnya cukup tinggi. Temuan ini membuka peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Dhamma melalui pendekatan pedagogis yang inovatif. Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah pembelajaran berbasis proyek . roject-based learnin. , di mana peserta dilibatkan dalam aktivitas nyata yang merefleksikan ajaran Buddha. Metode ini tidak hanya meningkatkan pemahaman konseptual, tetapi juga mendorong kolaborasi dan penerapan ajaran dalam konteks kehidupan sehari-hari (Hasan et , 2. Pendekatan lain yang efektif adalah penggunaan digital storytelling untuk menyampaikan ajaran Dhamma. Melalui media interaktif, konsep-konsep Buddhis yang kompleks dapat disampaikan secara naratif dan visual, menjadikannya lebih mudah dipahami, khususnya oleh generasi muda (Purnama et al. , 2. Selain itu, gamifikasi dalam pembelajaran spiritual seperti pemberian penghargaan untuk keterlibatan aktif dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan umat dalam kegiatan belajar (White et al. , 2. Pengaruh Tradisi Puja Bhakti Keliling terhadap Keaktifan Umat Buddha dalam Kegiatan Keagamaan di Desa Sumogawe Keterlibatan anggota komunitas lokal dalam proses pembelajaran juga sangat penting. Dengan melibatkan umat dalam berbagi pengalaman praktik Dhamma, suasana belajar menjadi lebih partisipatif dan relevan secara kontekstual. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman ajaran, tetapi juga mempererat ikatan sosial antarumat ((Kwon et al. , 2. Inovasi-inovasi ini, apabila diterapkan secara sistematis, dapat meningkatkan partisipasi dalam pembelajaran spiritual dan mendukung regenerasi umat yang memiliki pemahaman mendalam terhadap ajaran Buddha. Secara keseluruhan, diskusi ini menegaskan bahwa Puja Bhakti Keliling bukan sekadar praktik keagamaan rutin, tetapi juga merupakan instrumen sosial dan edukatif yang mampu membentuk kohesi sosial, ketahanan komunitas, serta komitmen spiritual yang berkelanjutan. Keberhasilan praktik ini bergantung pada sinergi antara tradisi, nilai-nilai komunitas, dan inovasi dalam pembinaan umat, menjadikannya model potensial untuk diterapkan di wilayah lain dengan karakteristik serupa. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini membuktikan bahwa tradisi Puja Bhakti Keliling memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan keaktifan umat Buddha dalam kegiatan keagamaan di Desa Sumogawe. Melalui keterlibatan dalam ritual kolektif yang dilaksanakan secara bergiliran di rumah-rumah umat, tercipta ruang partisipatif yang tidak hanya menguatkan aspek spiritual, tetapi juga mempererat relasi sosial dan membentuk identitas kolektif komunitas. Tradisi ini terbukti efektif dalam meningkatkan kehadiran umat di vihara, kontribusi sosial, dan partisipasi dalam perayaan keagamaan, sebagaimana dibuktikan oleh hasil analisis regresi linier sederhana dengan nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 0,634. Temuan ini memperkuat teori-teori sosiologis yang menekankan pentingnya ritual keagamaan dalam pembentukan modal sosial dan kohesi komunitas. Tradisi Puja Bhakti Keliling tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah, tetapi juga sebagai instrumen edukatif dan mekanisme coping kolektif dalam membangun ketahanan sosial. Aspek kebersamaan dan makna spiritual menjadi dimensi dominan yang mendorong umat untuk terus berpartisipasi dalam praktik keagamaan. Namun, terdapat tantangan dalam aspek pembelajaran struktural seperti rendahnya partisipasi dalam sesi Dhammadesana. Hal ini membuka peluang untuk inovasi pedagogis dalam penguatan pemahaman Dhamma melalui pendekatan berbasis proyek, narasi digital, atau gamifikasi yang relevan dengan konteks umat awam di pedesaan. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. SEPTEMBER 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 51-67 Berdasarkan temuan ini, disarankan agar pengurus vihara dan tokoh agama terus mendorong keberlanjutan tradisi ini dengan memperkuat pendekatan partisipatif, melibatkan generasi muda dalam perencanaan kegiatan, serta membuka ruang pembelajaran Dhamma yang lebih interaktif dan inklusif. Dukungan dari penyuluh, keluarga, dan komunitas lokal juga menjadi kunci dalam menjaga relevansi dan keberlanjutan tradisi Puja Bhakti Keliling sebagai model pembinaan spiritual berbasis komunitas. DAFTAR REFERENSI Ahmad. Bhayat. Zafar. , & Al-Samadani. The impact of hyposalivation on quality of life (QoL) and oral health in the aging population of Al Madinah Al Munawarrah. International Journal of Environmental Research and Public Health, 14. , 445. https://doi. org/10. 3390/ijerph14040445 Alfitri. Taqwa. Budiyanto. Nadjib. , & Santoso. Uniting communities: Harnessing social capital for community resilience during coronavirus International Journal of Public Health Science (IJPhS), 13. , 744. https://doi. org/10. 11591/ijphs. Arcury. Stafford. Bell. Golden. Snively. , & Quandt. The association of health and functional status with private and public religious practice among rural, ethnically diverse, older adults with diabetes. The Journal of Rural Health, 23. , 246Ae253. https://doi. org/10. 1111/j. Arzi. Fahmi. Faraghita. Oktasari. , & Effendi. Implementasi proker KKN dalam membangun nilai sosial dan keagamaan Desa Air Periukan. Semar, 2. , 48Ae52. https://doi. org/10. 59966/semar. Ashraf. Effects of demographic factors on womenAos participation in the Islamic microfinance scheme: An analysis using the theory of bounded rationality. Journal of Islamic Accounting Business Research, 13. , 1018Ae1037. https://doi. org/10. 1108/jiabr-09-2020-0275 Bonk. Leprince. Tamminen. , & Doron. Collective rituals in team sports: Implications for team resilience and communal coping. Movement & Sport Sciences Science & Motricity, 105, 27Ae36. https://doi. org/10. 1051/sm/2019007 Chandrasoma. Contemporary dynamics in religious practices: Community multiple embeddedness and conflicting encounters between Buddhist monks and the laity in Sri Lanka. Peace and Conflict Journal of Peace Psychology, 29. , 326Ae334. https://doi. org/10. 1037/pac0000640 Pengaruh Tradisi Puja Bhakti Keliling terhadap Keaktifan Umat Buddha dalam Kegiatan Keagamaan di Desa Sumogawe Chen. Liu. Lin. Wang. Zhang. , & Feng. The impact of social capital on community resilience: A comparative study of seven flood-prone communities in Nanjing. China. Land, 13. , 1145. https://doi. org/10. 3390/land13081145 Han. Zhou. , & Meng. -Y. The impact of religious beliefs on the health of the residentsAiEvidence from China. The International Journal of Health Planning and Management, 35. , 378Ae393. https://doi. org/10. 1002/hpm. Hasan. Arisah. Ratnah. Ahmad. , & Miranda. Experiential learning model for the development of collaborative skills through project based learning JPI (Jurnal Pendidikan Indonesia, 12. , 340Ae349. https://doi. org/10. 23887/jpiundiksha. Hemming. Faith schools, community engagement and social cohesion: A rural Sociologia Ruralis, 58. , 805Ae824. https://doi. org/10. 1111/soru. Hikichi. Aida. Tsuboya. Kondo. , & Kawachi. Can community social cohesion prevent posttraumatic stress disorder in the aftermath of a disaster? A natural experiment from the 2011 Tohoku earthquake and tsunami. American Journal of Epidemiology, 183. , 902Ae910. https://doi. org/10. 1093/aje/kwv335 Jamal. Life satisfaction and religiosity among college teachers. Journal of Education and Vocational Research, 5. , 186Ae190. https://doi. org/10. 22610/jevr. Jan. Ashraf. , & Shah. Khamosh Pani: Partition trauma, gender violence, and religious extremism in Pakistan. Liberal Arts and Social Sciences International Journal (LASSIJ), 5. , 16Ae27. https://doi. org/10. 47264/idea. lassij/5. Kamirudin. Agama dan solidaritas sosial: Pandangan Islam terhadap pemikiran Emile Durkheim. Al-Fikra Jurnal Ilmiah Keislaman, 5. , https://doi. org/10. 24014/af. Karmila. , & Madrah. Culture and faith: Timbulsloko community adaptation and strategy in facing tidal flood disaster. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1524. , https://doi. org/10. 1088/1755- 1315/1524/1/012008 Khang. The Myng Sn Thy Thc ritual in the context of contemporary Vietnamese culture: Social role, spiritual significance, and cultural value. Keuangan Islam Peran Kesejahteraan, https://doi. org/10. 20885/millah. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. SEPTEMBER 2025 733Ae778. e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 51-67 Koen. , & Robertson. A qualitative exploration of psychosocial wellAabeing experiences in a South African rural community. Journal of Community Psychology, 49. , 1195Ae1211. https://doi. org/10. 1002/jcop. Kwon. Kim. Jung. , & Son. Unravelling the influence of Buddhist liberal studentsAo self-reflection. Religions, 15. , https://doi. org/10. 3390/rel15060647 Leung. Ho. Yung. , & Tang. Reimagining human dissection in preclinical medical education using studio-based learning: A retrospective pilot study. Anatomical Sciences Education, 17. , 1198Ae1214. https://doi. org/10. 1002/ase. Levy. , & Razin. Religious beliefs, religious participation, and cooperation. American Economic Journal: Microeconomics, 4. , 121Ae151. https://doi. org/10. 1257/mic. Lin. Bolton. Bacon-Shone. , & Khan. EMI (English-medium instructio. Cambodian World Englishes, 42. , 405Ae423. https://doi. org/10. 1111/weng. Lorenz. Doherty. , & Casey. The role of religion in buffering the impact of stressful life events on depressive symptoms in patients with depressive episodes or adjustment disorder. International Journal of Environmental Research and Public Health, 16. , 1238. https://doi. org/10. 3390/ijerph16071238 Lynch. Schaffnit. Sear. Sosis. Shaver. Alam. Blumenfield. Mattison. , & Shenk. Religiosity is associated with greater size, kin density, and geographic dispersal of womenAos social networks in Bangladesh. Scientific Reports, 12. https://doi. org/10. 1038/s41598-022-22972-w Maulidia. Relasi agama dan masyarakat dalam perspektif Emile Durkheim dan Karl Marx. Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikas. , 13. , 183Ae200. https://doi. org/10. 24815/jsu. OAoLemmon. Merit-making activities and the latent ideal of the Buddhist Wat in southwestern Cambodia. Journal of Current Southeast Asian Affairs, 33. , 27Ae57. https://doi. org/10. 1177/186810341403300202 Partelow. Social capital and community disaster resilience: Post-earthquake tourism recovery on Gili Trawangan. Indonesia. Sustainability Science, 16. , 203Ae220. https://doi. org/10. 1007/s11625-020-00854-2 Pengaruh Tradisi Puja Bhakti Keliling terhadap Keaktifan Umat Buddha dalam Kegiatan Keagamaan di Desa Sumogawe Power. Collective ritual and social support networks in rural South India. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 285. , 20180023. https://doi. org/10. 1098/rspb. Pradubmook-Sherer. , & Sherer. Victimization among high school students in Thailand. Australian & New Zealand Journal of Criminology, 49. , 370Ae388. https://doi. org/10. 1177/0004865815585389 Purnama. Ulfah. Ramadani. Rahmatullah. , & Ahmad. Digital storytelling trends in early childhood education in Indonesia: A systematic literature JPUD Jurnal Pendidikan Usia Dini, 16. , 17Ae31. https://doi. org/10. 21009/jpud. Rix. Barclay. Wilson. Stirling. , & Tong. Service providersAo perspectives, attitudes and beliefs on health services delivery for Aboriginal people receiving haemodialysis in rural Australia: A qualitative study. BMJ Open, 3. , e003581. https://doi. org/10. 1136/bmjopen-2013-003581 Robinson. Bolton. Rasic. , & Sareen. Exploring the relationship between religious service attendance, mental disorders, and suicidality among different ethnic groups: Results from a nationally representative survey. Depression and Anxiety, 29. , 983Ae990. https://doi. org/10. 1002/da. Rusdiana. , & Utari. The ethnography study of Tablighi JamaatAos DaAowah communication in the symbolic interactionism perspective. Islamic Studies Journal for Social Transformation, 104. https://doi. org/10. 28918/isjoust. Salmoirago-Blotcher. Fitchett. Leung. Volturo. Boudreaux. Crawford. Ockene. , & Curlin. An exploration of the role of religion/spirituality in the promotion of physiciansAo wellbeing in emergency medicine. Preventive Medicine Reports, 3, 189Ae195. https://doi. org/10. 1016/j. Salmoirago-Blotcher. Fitchett. Ockene. Schnall. Crawford. Granek. Manson. Ockene. OAoSullivan. Powell. , & Rapp. Religion and healthy lifestyle behaviors among postmenopausal women: The WomenAos Health Initiative. Journal Behavioral Medicine, 34. , 360Ae371. https://doi. org/10. 1007/s10865-011-9322-z Schwalbe. The spirit of BlumerAos method as a guide to sociological discovery. Symbolic Interaction, 43. , 597Ae614. https://doi. org/10. 1002/symb. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. SEPTEMBER 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 51-67 Sosis. , & Bressler. Cooperation and commune longevity: A test of the costly Cross-Cultural Research, 37. , 211Ae239. https://doi. org/10. 1177/1069397103037002003 Swart. Social capital, religious social capital and the missing element of religious Religion and Theology, 24. Ae. , 221Ae249. https://doi. org/10. 1163/1574301202403008 Trani. -F. Vasquez-Escallon. , & Bakhshi. The impact of a community based rehabilitation program in Afghanistan: A longitudinal analysis using propensity score matching and difference in difference analysis. Conflict and Health, 15. https://doi. org/10. 1186/s13031-021-00397-y Wakefield. Bowe. , & Kyllezi. Thy will be done: Exploring the longitudinal rewards of religious group membership enactment during volunteering. British Journal Social Psychology, 61. , 253Ae275. https://doi. org/10. 1111/bjso. White. Santo. Copley. Mustchin. , & Jones. Designing gamified branching scenarios on a technological platform to enhance clinical reasoning in dental Pacific Journal of Technology Enhanced Learning, 7. , 35Ae36. https://doi. org/10. 24135/pjtel. Whitehouse. , & Lanman. The ties that bind us. Current Anthropology, 55. , 674Ae695. https://doi. org/10. 1086/678698 Zhao. Bloom. , & McBride. A sacred symbol for modern warriors: Social Sociology Compass, 19. https://doi. org/10. 1111/soc4. Zhou. , & Chuangprakhon. The role of Nanyue ritual songs in promoting literacy and cultural education in Longhui County. Hunan. China. International Journal of Education Literacy https://doi. org/10. 7575/aiac. Studies, 11. , 264Ae270.