Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM) Vol. No. Januari 2026, pages 125-132 DOI: https://doi. org/10. 58818/jpm. E-ISSN: 3024 - 9473 P-ISSN: 3024 - 9481 Perkumpulan Dosen Peneliti Indonesia (PDPI) Internalisasi Nilai Kasih: Membangun Etika Interaksi Sosial Siswa SMA Yadika Soreang Ranto Indra Pasaribu1 Sekolah Tinggi Teologi Kharisma. Bandung. Indonesia * Corresponding Author: indra1985pasaribu@gmail. Received: 18-12-2025. Revised: 23-12-2025. Accepted: 25-12-2025 Abstrak Pembentukan karakter remaja di lingkungan sekolah memerlukan pendekatan yang menyentuh aspek spiritual dan emosional untuk menghadapi tantangan interaksi sosial yang kompleks. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melakukan internalisasi nilai kasih guna membangun etika interaksi sosial yang sehat bagi siswa di SMA Yadika Soreang. Kabupaten Bandung. Alasan pemilihan topik ini didasarkan pada pentingnya empati dan solidaritas dalam mencegah konflik interpersonal serta perundungan di sekolah. Metode yang digunakan adalah gathering rohani melalui teknik ceramah dialogis, simulasi sosial, dan diskusi kelompok partisipatif dengan melibatkan 40 siswa/i. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa sebesar 92% mengenai konsep hubungan interpersonal yang harmonis. Siswa mampu mendemonstrasikan cara penyelesaian konflik secara damai dan menunjukkan peningkatan sikap empati antar sesama selama proses simulasi. Kesimpulannya, kegiatan ini berhasil memperkuat fondasi moral siswa dalam berinteraksi, yang berkontribusi positif bagi terciptanya iklim lingkungan sekolah yang lebih suportif dan inklusif. Kata kunci: Etika Interaksi. Gathering Rohani. Internalisasi Nilai. Kasih. Siswa Yadika Abstract Character building in adolescents within the school environment requires an approach that touches upon both spiritual and emotional aspects to address complex social interaction challenges. This community service aims to internalize the values of love to build healthy social interaction ethics for students at SMA Yadika Soreang. Bandung Regency. The selection of this topic is based on the importance of empathy and solidarity in preventing interpersonal conflicts and bullying in schools. The method used was a spiritual gathering employing dialogic lectures, social simulations, and participatory group discussions involving 40 students. The results indicated a 92% increase in students' understanding regarding the concept of harmonious interpersonal relationships. Students were able to demonstrate peaceful conflict resolution methods and showed increased empathy toward peers during simulation sessions. In conclusion, this activity successfully strengthened students' moral foundations in interacting, contributing positively to a more supportive and inclusive school environment. Keywords: Interaction Ethics. Spiritual Gathering. Value Internalization. Love. Yadika Students PENDAHULUAN Pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan fase krusial dimana remaja mulai membentuk identitas sosial dan membangun pola interaksi yang lebih kompleks dengan teman sebaya (Suryana. Hasdikurniati. Harmayanti, & Harto, 2. Namun, di era digital saat ini, tantangan interaksi sosial menjadi semakin dinamis. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM) 4 . Januari, 125-132 Dominasi teknologi informasi seringkali menggeser kualitas pertemuan tatap muka, yang pada beberapa kasus dapat memicu sikap individualistis, kurangnya empati, hingga potensi konflik interpersonal di lingkungan sekolah (Hakim dkk. , 2. Penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan searah antara intensitas penggunaan gawai dengan penurunan kemampuan interaksi sosial remaja, di mana kecanduan media digital berkorelasi signifikan dengan penurunan kesejahteraan psikologis dan keterampilan membaca ekspresi sosial (Albar. Muttaqin. Fatah, & Muryati, 2. SMA Yadika Soreang, sebagai salah satu institusi pendidikan di Kabupaten Bandung, menyadari pentingnya pembinaan karakter yang berlandaskan nilai-nilai spiritual untuk menghadapi tantangan Masalah konkret yang ditemukan di lapangan adalah perlunya penguatan etika interaksi yang didasarkan pada nilai-nilai kasih. Data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) tahun 2025 menempatkan Jawa Barat sebagai provinsi dengan angka kekerasan dan perundungan . tertinggi di Indonesia, dengan total mencapai 3. 033 kasus (AuPeta Sebaran Jumlah Kasus Kekerasan Menurut Provinsi. Tahun 2025,Ay 2. Fenomena ini diperparah oleh pola komunikasi digital yang cenderung agresif dan minim empati, yang kemudian terbawa ke dalam interaksi offline di sekolah (Ramadhani & Jatnika, 2. Siswa seringkali terjebak dalam pola komunikasi yang kurang menghargai sesama atau kesulitan dalam menyelesaikan perbedaan pendapat secara damai. Dampak dari krisis interaksi ini tidak hanya menurunkan iklim akademis, tetapi juga memicu stres, kecemasan, hingga depresi pada siswa (Ayu. Sabillah. Salsabila. Puriani, & Novirson, 2. Oleh karena itu, terdapat urgensi yang sangat mendesak untuk melakukan upaya sistematis dalam menginternalisasi nilai kasih sebagai fondasi interaksi sosial yang sehat. Berdasarkan urgensi tersebut, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini menetapkan tujuan utama secara eksplisit. Kesatu, untuk mentransformasi paradigma berpikir siswa mengenai relasi sosial, dari yang semula bersifat kompetitif menjadi relasi yang berbasis pada nilai kasih dan persaudaraan. Kedua, untuk membekali 40 siswa/i SMA Yadika Soreang dengan keterampilan interpersonal dan manajemen konflik, sehingga mereka mampu merespons perbedaan pendapat dengan kepala dingin dan hati yang Melalui penanaman kesadaran etika berkomunikasi yang mencerminkan karakter kristiani, kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan output nyata berupa terciptanya lingkungan sekolah yang suportif dan bebas dari diskriminasi. Hasil yang diharapkan secara eksplisit dari pengabdian ini adalah adanya peningkatan kecerdasan emosional dan solidaritas sosial di kalangan siswa. Merujuk pada penelitian Azizurrahman. Munir, dan Sabri . , budaya religius terbukti memberikan sumbangan efektif sebesar 20,6% terhadap kemampuan membina hubungan dengan orang Melalui kegiatan AoGathering Rohani KristenAo ini, diharapkan terjadi hilirisasi dari nilainilai teoritis menjadi tindakan nyata, dimana siswa mampu menjadi "Agen Kasih" yang berperan sebagai mediator perdamaian di lingkungan sekolah. Pengabdian ini diharapkan Internalisasi Nilai Kasih: Membangun Etika Interaksi Sosial Siswa SMA Yadika Soreang - Pasaribu Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM) 4 . Januari, 125-132 memberikan kontribusi jangka panjang bagi penguatan karakter dan iklim sosial yang inklusif di SMA Yadika Soreang. METODE Bagian metode penerapan ini menguraikan langkah-langkah sistematis yang digunakan untuk mencapai tujuan internalisasi nilai kasih dalam interaksi sosial siswa. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), yang menekankan pada keterlibatan aktif khalayak sasaran dalam proses transformasi perilaku (Siswadi & Syaifuddin, 2. Sasaran kegiatan ini melibatkan 40 siswa/i SMA Yadika Soreang. Secara operasional, metode yang diterapkan terbagi menjadi tiga tahapan utama: Tahap Persiapan dan Identifikasi. Pada tahap awal, dilakukan pemetaan terhadap kondisi interaksi sosial siswa di lingkungan sekolah melalui observasi awal. Pemetaan ini krusial untuk memastikan materi yang disampaikan relevan dengan dinamika pergaulan remaja saat ini, mengingat efektivitas internalisasi nilai sangat bergantung pada kesesuaian materi dengan realitas sosial sasaran (Zunaidi, 2. Koordinasi intensif dilakukan dengan pihak sekolah untuk sinkronisasi jadwal dan teknis pelaksanaan di aula SMA Yadika Soreang, guna menjamin lingkungan yang kondusif bagi proses pembelajaran rohani. Tahap Pelaksanaan (Gathering Interakti. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui teknik penyebarluasan ilmu pengetahuan dan etika praktis dengan mengadopsi metode Experiential Learning (Budiman dkk. , 2. Tahap ini meliputi: A Penyampaian Materi (Ceramah Dialogi. : Penulis memaparkan konsep "Menjalin Hubungan dengan Sesama". Pendekatan dialogis digunakan untuk menciptakan ruang komunikasi dua arah yang efektif dalam mengubah persepsi kognitif siswa mengenai empati (Fahroni, 2. A Simulasi Sosial: Siswa diberikan studi kasus mengenai konflik interpersonal. Metode simulasi terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan kecerdasan emosional karena memberikan pengalaman langsung dalam menghadapi situasi krisis (Tamami & Mijianti. A Diskusi Kelompok: Ruang dialog dibuka agar siswa dapat melakukan evaluasi diri atas keunggulan dan kelemahan pola interaksi mereka. Persekutuan atau diskusi kelompok kecil dalam bimbingan rohani berperan penting dalam menyediakan dukungan moral dan memperkuat karakter berkelanjutan (Aulia & Winingsih, 2. Tahap Evaluasi dan Pengukuran Keberhasilan. Tingkat ketercapaian tujuan pengabdian diukur menggunakan instrumen evaluasi deskriptif dan kualitatif. Penulis mengukur keberhasilan kegiatan melalui: A Indikator Perubahan Sikap: Melakukan observasi partisipatif terhadap antusiasme dan cara siswa berinteraksi selama kegiatan. Internalisasi Nilai Kasih: Membangun Etika Interaksi Sosial Siswa SMA Yadika Soreang - Pasaribu Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM) 4 . Januari, 125-132 Indikator Sosial: Menilai kemampuan siswa dalam merumuskan solusi berbasis kasih atas permasalahan sosial yang disimulasikan. A Refleksi Akhir: Peserta memberikan umpan balik mengenai kegunaan materi terhadap potensi pengembangan diri. Evaluasi melalui refleksi diri merupakan standar penting untuk mengukur internalisasi nilai dalam pendidikan karakter (Paramita. Nugrahani, & Widayati, 2. Seluruh rangkaian metode ini dirancang secara terintegrasi agar hasil pengabdian dapat diukur secara konkret, baik dari sisi perubahan perilaku individu maupun dampak kolektif bagi terciptanya iklim sosial yang positif di institusi sekolah dalam jangka pendek. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk "Gathering Rohani Kristen" ini merupakan upaya nyata dalam menyebarluaskan ilmu pengetahuan, nilai-nilai spiritual, serta etika sosial praktis kepada siswa. Pelaksanaan kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 20 September 2024 di SMA Yadika Soreang ini tidak hanya menjadi rutinitas seremonial, namun telah mampu memberikan nilai tambah yang signifikan bagi peserta. Fokus utama hasil pengabdian ini menyasar pada perubahan perilaku sosial dan transformasi cara pandang siswa dalam menjalin hubungan dengan sesama di lingkungan sekolah maupun keluarga. Secara teknis, hasil pengabdian ini diukur melalui instrumen observasi keterlibatan aktif 40 peserta dan pemantauan respons situasional mereka selama sesi berlangsung. Penulis mengidentifikasi bahwa terdapat peningkatan kesadaran yang diukur melalui dua parameter utama: kesatu, kemampuan kognitif siswa dalam membedakan interaksi yang toksik dan interaksi yang sehat. kedua, keberanian afektif siswa dalam mengutarakan permohonan maaf dan apresiasi kepada rekan sejawat. Indikator tercapainya tujuan pengabdian ini terlihat sangat jelas saat sesi diskusi kelompok, dimana siswa mampu mengidentifikasi berbagai masalah interpersonal yang sering terjadi seperti perundungan verbal dan pengabaian sosial, lalu secara mandiri merumuskan solusi berbasis prinsip kasih dan pengampunan. Selain itu, penulis mencatat adanya komitmen kolektif yang dihasilkan di akhir sesi untuk menjaga keharmonisan di SMA Yadika Soreang. Data ketercapaian sasaran berdasarkan hasil observasi, diskusi mendalam, dan evaluasi singkat selama kegiatan berlangsung disajikan secara kuantitatif dan kualitatif pada Tabel 1 sebagai berikut. Internalisasi Nilai Kasih: Membangun Etika Interaksi Sosial Siswa SMA Yadika Soreang - Pasaribu Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM) 4 . Januari, 125-132 Tabel 1. Indikator Ketercapaian Sasaran Kegiatan Indikator Keberhasilan Target Sasaran Hasil Capaian (%) Deskripsi Kualitatif Pemahaman Materi Teologis Peningkatan pengetahuan tentang dasar alkitabiah dalam menjalin Peserta mampu menjelaskan kembali konsep kasih dan pengampunan dalam sesi refleksi. Keterlibatan Interaktif Keaktifan 40 siswa/i dalam sesi tanya jawab dan simulasi Mayoritas siswa antusias memberikan pendapat dan solusi saat studi kasus. Perubahan Sikap (Afekti. Adanya peningkatan empati dan keinginan untuk Terlihat adanya inisiatif saling memaafkan dan keterbukaan antar peserta di akhir sesi. Dokumentasi kegiatan (Gambar . menunjukkan antusiasme siswa saat mengikuti materi yang disampaikan oleh Pdp. Ranto Indra Pasaribu. Gambar ini merupakan bagian relevan dari naskah yang menunjukkan proses penerapan nilai-nilai sosial secara langsung. Gambar 1. Proses Pelaksanaan Gathering Rohani di SMA Yadika Soreang Internalisasi Nilai Kasih: Membangun Etika Interaksi Sosial Siswa SMA Yadika Soreang - Pasaribu Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM) 4 . Januari, 125-132 Kegiatan pengabdian ini berhasil mengungkap bahwa kualitas interaksi sosial di lingkungan SMA Yadika Soreang sangat dipengaruhi oleh kedalaman pemahaman siswa mengenai etika interpersonal dan kecerdasan spiritual. Melalui materi "Menjalin Hubungan dengan Sesama" yang disampaikan langsung oleh penulis, dilakukan dekonstruksi paradigma kompetitif yang sering kali memicu pergesekan antar siswa. Penulis mengarahkan peserta untuk melihat teman sebaya bukan sebagai rival atau saingan dalam pencapaian akademik maupun sosial, melainkan sebagai mitra strategis dalam proses pertumbuhan karakter . artner in growt. (Rahmah, 2. Analisis hasil selama kegiatan menunjukkan transformasi signifikan pada pola respons siswa terhadap stimulasi konflik. Jika sebelumnya siswa cenderung menunjukkan sikap reaktif dan defensif saat menghadapi perbedaan pendapat, melalui sesi simulasi dan pendampingan dalam gathering ini, mereka mulai menunjukkan sikap yang lebih reflektif. Hal ini membuktikan bahwa internalisasi nilai kasih mampu meredam egosentrisme remaja dan menggantinya dengan kesadaran kolektif untuk menjaga harmoni di sekolah. Keunggulan utama dari pengabdian ini terletak pada akurasi pemilihan materi yang disesuaikan dengan kondisi psikologis perkembangan remaja di SMA Yadika Soreang yang sedang berada dalam fase pencarian identitas sosial. Penulis, sebagai perwakilan dari institusi pendidikan, mampu menjembatani teori-teori etika dengan praktik nyata yang relevan bagi siswa. Namun, penulis juga mengidentifikasi adanya batasan dalam aspek durasi waktu yang relatif singkat, yang menyebabkan pendalaman terhadap kasus-kasus interpersonal yang bersifat sistemik atau traumatis belum dapat dilakukan secara Sebagai upaya mitigasi terhadap batasan tersebut, peluang pengembangan di masa depan sangat terbuka lebar melalui integrasi kurikulum rohani ini ke dalam program bimbingan konseling rutin di sekolah. Sinergi antara SMA Yadika Soreang dan institusi asal penulis diharapkan dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara kognitif, tetapi juga kokoh secara karakter. Secara keseluruhan, program ini telah melampaui tolak ukur keberhasilan minimal, yang dibuktikan dengan adanya penguatan solidaritas dan komitmen bersama siswa untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari diskriminasi dan penuh kasih. SIMPULAN Berdasarkan pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini, dapat disimpulkan bahwa internalisasi nilai kasih melalui AoGathering Rohani KristenAo efektif dalam meningkatkan kesadaran etika interaksi sosial siswa SMA Yadika Soreang. Hasil yang diperoleh mengindikasikan adanya penguatan pemahaman teologis dan perubahan respons afektif siswa, di mana peserta mampu menunjukkan sikap empati yang lebih tinggi serta memahami cara penyelesaian konflik interpersonal secara damai sesuai nilai-nilai kristiani. Kelebihan utama dari kegiatan ini terletak pada metode pendekatan partisipatif dan suasana kekeluargaan yang dibangun, sehingga siswa merasa aman untuk terbuka mengenai permasalahan pergaulan yang mereka hadapi. Namun, kegiatan ini memiliki kekurangan Internalisasi Nilai Kasih: Membangun Etika Interaksi Sosial Siswa SMA Yadika Soreang - Pasaribu Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM) 4 . Januari, 125-132 dari sisi durasi waktu yang terbatas, sehingga pendalaman materi terhadap kasus-kasus individual yang kompleks belum dapat dilakukan secara maksimal. Sebagai tindak lanjut, kemungkinan pengembangan selanjutnya sangat disarankan berupa pembentukan kelompok diskusi kecil . elompok se. atau sesi pendampingan rutin di sekolah guna memantau konsistensi perubahan perilaku siswa dan memastikan nilai-nilai yang telah ditanamkan dapat bertahan dalam jangka panjang. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada pimpinan SMA Yadika Soreang atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada STT Kharisma atas dukungan administratif dan moral sehingga penulis dapat menyelesaikan kegiatan pengabdian masyarakat ini tepat waktu. DAFTAR PUSTAKA