KESKOM. 2019;5(1):13-18 J JURNAL KESEHATAN KOMUNITAS ( J O U R N A L O F C O M M U N I T Y H E A LT H ) http://jurnal.htp.ac.id Pengalaman Psikologis Ibu Merawat Anak dengan Retardasi Mental di SLB Negeri Rokan Hulu Riau The Psychological Mother Experiences in Caring their Children with Mental Retardation in a Special needs Schools Rokan Hulu Regency Riau Province Nia Aprilla1, Marjoan2, Basmanelly3 1 2 3 Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Universitas Negeri Padang Universitas Andalas ABSTRACT ABSTRAK Amount 59,26% mothers with mental retarda on childrens are faced several problems in caring of their children. The aim of this study was find out the psychological mother experiences in caring their children with mental retarda on in a special needs school at Rokan Hulu Regency, Riau Province. This was a qualita ve research with phenomenology approach. The phenomena ini this study was the psychological mother experiences in caring their children with mental retarda on. This research was conducted from 12 May un ll 11 June 2017. And the number of informants we interviewed were 5 mothers. Informants were mothers who's having the children with mental retarda on who send their children to special need schools at Rokan Hulu Regency Riau Province. Informants were chosen by purposive sampling technique. The data were collected by home visit the informants for 30-60 minutes in 2-3 mes with in-depth interview The data were analyzed by applying the Colaizzi technique. The results showed that 6 themes were iden fied on this study:(1) the mother's ini al response when known their children having mental retarda on; (2) the a tude of parents in caring for their children; (3) sibling rivalry; (4) the burden when caring children with mental retarda on; (5) the efforts to get health services and (6) mother's expecta ons. The nurses are expected to facilitate in created a peer groups of mothers who have children with mental retarda on as a community to share the experiences in caring for children, including suppor ng group, self-help group, and cogni ve behavior therapy. Sebanyak 59,26% ibu yang memiliki anak dengan retardasi mental bermasalah dalam merawat anaknya tersebut. Peneli an ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman psikologis ibu merawat anak dengan retardasi mental di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Rokan Hulu, Provinsi Riau. Peneli an ini menggunakan rancangan peneli an kualita f dengan pendekatan fenomenologi. Fenomena dalam studi ini adalah pengalaman psikologis ibu merawat anak dengan retardasi mental. Peneli an dilakukan pada tanggal 12 Mei -11 Juni 2017. Jumlah informan dalam peneli an ini adalah berjumlah 5 orang. Informan adalah ibu-ibu yang mempunyai anak retardasi mental dan menyekolahkan anaknya tersebut di SLB Negeri Rokan Hulu, Provinsi Riau. Informan diambil dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan mengunjungi rumah informan selama 30-60 menit se ap 2-3 kali pertemuan dengan melakukan wawancara mendalam pada informan. Data dianalisis dengan menerapkan teknik Colaizzi. Diperoleh hasil teriden fikasinya 6 tema dalam peneli an ini yaitu (1) respon awal ibu mengetahui anaknya retardasi mental; (2) sikap orangtua dalam merawat; (3) kecemburuan saudara /sibling rivalry; (4) beban merawat anak retardasi mental; (5) usaha mencari layanan kesehatan dan (6) harapan ibu. Perawat diharapkan memfasilitasi membentuk peer group ibu-ibu yang memiliki anak retardasi mental sebagai tempat sharing pengalaman merawat mereka, diantaranya suppror f group, self-help group, dan cogni ve behaviour therapy. Keywords : Children, Mental Retarda on, Mother, Psychological Experience, Caring the Children Kata Kunci : anak, retardasi mental, ibu, pengalaman psikologis, perawatan anak Correspondence : Nia Aprilla, JJl. Sisingamangaraja Bangkinang Email : niaaprilla.ariqa@gmail.com, 0852 7171 3592 • Received 12 Oktober 2018 • Accepted 28 Januari 2019 • p - ISSN : 2088-7612 • e - ISSN : 2548-8538 • DOI: h ps://doi.org/10.25311/keskom.Vol5.Iss1.272 Copyright @2017. This is an open-access ar cle distributed under the terms of the Crea ve Commons A ribu on-NonCommercial-ShareAlike 4.0 Interna onal License (h p://crea vecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/) which permits unrestricted non-commercial used, distribu on and reproduc on in any medium 14 Keskom, Vol. 5, No. 1 April 2019 PENDAHULUAN Hasil survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang dilakukan oleh Biro Pusat Sta s k (BPS) pada tahun 2012, di Indonesia terdapat penyandang disabilitas sebanyak 6.008.661 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 6,701 % adalah penyandang tuna grahita/retardasi mental (Tula, 2015). Retardasi mental adalah suatu keadaan yang dimulai sebelum usia 18 tahun, dengan intelektual yang rendah pada anak dan memerlukan bantuan khusus dalam hidupnya (Stuart, 2013). Penger an lain tentang retardasi mental adalah ke dakmampuan yang ditandai dengan fungsi intelektual yang rendah (IQ < 70) dalam hubungannya dengan keterbatasan yang signifikan dari fungsi adap f (Kumar, Simh & Scie, 2014). Orang tua, terutama Ibu, memiliki peran yang sangat pen ng dalam merawat dan mendidik anak dengan keterbelakangan mental. Namun diantara para orang tua tersebut, ada yang menerima kondisi anak dan ada juga yang menolak (Ali, 2010). Padahal penerimaan seorang ibu terhadap anak yang mengalami retardasi mental sangat mendukung perkembangan anak tesebut (Benny, 2014). Merawat anak dengan retardasi mental dapat menimbulkan tantangan dan beban. Beban disini diar kan sebagai keadaan akibat ke dakseimbangan antara kebutuhan dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan yang menimbulkan stressor atau penyebab stress (Napolion, 2010). Adanya stressor ini dapat menimbulkan respon berupa respon fisik atau jasmani dan respon psikologis. Respon psikologis dapat berupa kecemasan, keputusasaan, depresi, gampang marah atau perasaan dak mampu menghadapi hidup (Widyarini, 2009). Ada s gma sosial bagi keluarga yang memiliki anak retardasi mental dan keluarga dapat mengalami depresi terkait kondisi anaknya. Hal ini dikarenakan orangtua (ibu) mempunyai tanggungjawab tambahan dan memerlukan keterampilan khusus untuk merawat anak-anak dengan retardasi mental dibandingkan dengan anak yang sehat lainnya (Kumar, 2016). Hasil peneli an yang dilakukan oleh Norhidayah (2013) menunjukkan bahwa 59,26% ibu penderita retardasi mental mengalami kecemasan. Para ibu ini mengalami tantangan secara psikologis dan emosional, sosial dan ekonomi. Tantangan psikologis dan emosional diantaranya stress terhadap tugas perawatan dan masa depan anaknya, stres finansial, stres fisik dan ketakutan tentang kehidupan anak-anak yang sekarang dan di masa depan (Norhidayah, dkk, 2013). Mereka juga memiliki masalah untuk berkomunikasi karena anak-anak tersebut sulit untuk mengungkapkan sesuatu yang diinginkan (Ambikile & Outwater, 2012). Peneli an yang dilakukan oleh Prasa (2012) mengenai stres dan koping orangtua dengan anak retardasi mental, menunjukkan bahwa stres yang dialami keluarga karena adanya h p://jurnal.htp.ac.id perbedaan harapan dan kenyataan. Kelahiran anak dengan retardasi mental memupuskan harapan orang tuanya, kecemburuan karena perbedaan perilaku antara anak yang normal dengan yang mengalami retardasi mental. Pengalaman psikologis yang dak menyenangkan yang dialami ibu dalam merawat anak retardasi mental beresiko bagi ibu untuk mencederai dirinya sendiri maupun anaknya sehingga peran dia sebagai ibu dak berjalan dengan baik (Prasa, 2012). Rokan Hulu merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Riau yang berbatasan dengan propinsi Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Di Rokan Hulu terdapat 3 SLB. 2 SLB swasta dan 1 SLB Negeri. Jumlah murid di SLB Negeri jauh lebih banyak dibandingkan di SLB swasta tersebut. Data yang diperoleh dari SLB Negeri Rokan Hulu Riau pada tanggal 23 Januari 2017 jumlah siswa SLB Negeri Rokan Hulu yaitu sebanyak 104 siswa. Jumlah siswa yang mengalami retardasi mental sebanyak 64,42%. Jumlah siswa yang mengalami retardasi ringan sebanyak 83,58% dan yang mengalami retardasi mental sedang sebanyak 16,42% (Data SLB Negeri Rokan Hulu, 2017). Dengan adanya kasus retardasi mental di SLB Negeri tersebut,maka penulis tertarik untuk melakukan peneli an untuk menganalisis pengalaman psikologis ibu dalam merawat anak yang mengalami retardasi mental di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Rokan Hulu Riau. Tujuannya yaitu diketahuinya pengalaman psikologis ibu merawat anak dengan retardasi mental di SLB Negeri Rokan Hulu, Riau. Peneli an ini dilakukan dengan metode kualita f karena bisa menggali pengalaman ibu dalam merawat anaknya dengan retardasi mental. METODE Peneli an ini menggunakan rancangan peneli an kualita f dengan pendekatan fenomenologi. Dalam studi ini yang dipelajari adalah pengalaman psikologis ibu merawat anak dengan retardasi mental. Dengan pendekatan fenomenologi diperoleh gambaran secara menyeluruh mengenai pengalaman psikologis ibu yang merawat anak dengan retardasi mental. Peneli an ini dilakukan pada tanggal 12 Mei -11 Juni 2017. Populasi dalam peneli an ini sebanyak 67 orang, kemudian peneli melakukan teknik pengambilan informan dengan purposive sampling. Dari 67 populasi, ada sebanyak 26 ibu yang sesuai dengan kriteria peneli . Selanjutnya peneli memberi nomor urut pada informan dari angka 1 sampai 26. Selanjutnya peneli melakukan pencabutan lot. Angka yang keluar itulah yang menjadi informan pertama peneli . Kemudian peneli menemui informan dan menjelaskan tentang peneli an melipu tujuan, manfaat, prosedur serta hak-hak informan. Setelah itu peneli membina hubungan saling percaya. Setelah terbina hubungan saling percaya, peneli dan par sipan menetapkan kontrak waktu untuk dilakukan peneli an. Selanjutnya peneli melakukan wawancara mendalam pada informan pertama as Nia, et al Psikologis Ibu Merawat Anak Dengan Retardasi Mental Psychological Mother Caring for Children with Mental Retarda on hingga tercapai saturasi data. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam (indepth interview) pada informan selama 30-60 menit sebanyak 2-3 kali pertemuan. Hal yang sama peneli lakukan hingga tercapai saturasi data pada informan ke lima. Tidak ada informan kunci dalam peneli an ini. HASIL Peneli an ini mengambil data dengan cara melakukan wawancara terhadap 5 orang ibu yang merawat anak dengan retardasi mental. Tabel 1. Karakteris k Par sipan yang Merawat Anak Retardasi Mental di SLB Negeri Rokan Hulu, Riau Tahun 2017 Pada peneli an ini ditemukan enam tema yaitu (1) respon awal ibu mengetahui anaknya retardasi mental; (2) sikap orangtua dalam merawat; (3) kecemburuan saudara/sibling rivalry; (4) beban merawat anak retardasi mental; (5) usaha mencari layanan kesehatan dan (6) harapan ibu. Semua tema tersebut terkait erat dengan pengalaman psikologis ibu dalam merawat anak dengan retardasi mental. 15 memperlakukannya, harus perha an yaitu penuhi keinginannya, dan jangan pemarah. Jika par sipan marah, maka anaknya akan jauh lebih marah. Par sipan juga mengatakan bahwa harus lebih perha an kepada anak retardasi mental dibandingkan dengan anak yang normal terkait dengan kekurangan yang dimilikinya. Tabel 3. Sikap Orang Tua Dalam Merawat Anak Dengan Retardasi Mental Tema 3: Kecemburuan Saudara/sibling rivalry Kecemburuan saudara merupakan tema dan terbentuk dari sub-tema cemburu dan dak cemburu. Subtema cemburu dengan kategori keinginan dituru , pembelaan,pilih kasih, dan penger an. Tabel 4. Sikap Cemburuan Terhadap Saudara yang Lain Tema 1: Respon Awal Ibu Mengetahui Anaknya Retardasi Mental Respon awal ibu mengetahui anaknya retardasi mental merupakan tema dan terbentuk dari sub-tema respon ibu. Berdasarkan hasil peneli an ini, ditemukan pada umumnya respon ibu yang memiliki anak retardasi mental seper sedih, menyangkal, dan pasrah. Tabel 2. Respon Awal Par sipan Ke ka Mengetahui Anaknya Mengalami Rertardasi Mental Tema 4: Beban Merawat Anak Retardasi Mental Beban merawat anak retardasi mental merupakan tema dan terbentuk dari sub-tema beban fisik dan beban psikologis. Subtema beban fisik dengan kategori lelah, dan beban psikologis dengan kategori khawa r, stress, dan sedih. Tabel 5. Beban Orang Tua Ke ka Merawat Anak Dengan Retardasi Mental Tema 2: Sikap Orangtua Dalam Merawat Sikap orangtua dalam merawat merupakan tema dan terbentuk dari sub-tema perawatan khusus dengan kategori sabar, lembut, dan perha an. Par sipan mengatakan harus sabar dengan kondisi anaknya yang kekurangan, harus lembut J j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS 16 Keskom, Vol. 5, No. 1 April 2019 Tema 5 : Usaha Mencari Layanan Kesehatan Usaha mencari layanan kesehatan merupakan tema dan terbentuk dari sub-tema medis dan tradisional. Subtema medis dengan kategori RS/Puskesmas/Posyandu/Balai Pengobatan. Sedangkan subtema tradisional dengan kategori dukun. Tabel 6. Usaha Par sipan Dalam Mencari Layanan Kesehatan Tema 6 : Harapan Ibu Harapan ibu merupakan tema dan terbentuk dari harapan. Subtema harapan dengan kategori mandiri. Semua par sipan mempunyai harapan agar anaknya bisa mandiri diantaranya bisa bekerja dan mencari uang, bisa baca tulis mempunyai keterampilan untuk kehidupannya sendiri. Subtema harapan dengan kategori dirawat saudaranya. Par sipan mempunyai harapan jika dia meninggal, anaknya yang mengalami retardasi mental akan dirawat oleh saudaranya. Subtema harapan dengan kategori menikah. Par sipan mempunyai harapan agar kelak ada orang yang mau menikahi anaknya. Tabel 7. Harapan Par sipan Terhadap Anak Dengan Retardasi Mental PEMBAHASAN Para Ibu yang memiliki anak dengan retardasi mental akan merasakan kesedihan dan sakit karena keterbatasan yang h p://jurnal.htp.ac.id dialami oleh anak-anak mereka (Ambikile & Outwater, 2012). Respon awal para Ibu ke ka mengetahui keterbatasan anak mereka adalah terkejut, penolakan terkait kelahiran anaknya. Perasaan yang muncul seper panik, cemas, menyesal, dan malu terhadap keadaan anaknya (Ghoniyah & Savira, 2015). Hal ini dikarenakan mereka belum siap menerima keadaan anak mereka sehingga orang tua berusaha untuk menyembuhkan anaknya walaupun disertai dengan rasa malu (Sari, dkk, 2010). Namun dak semua orang tua seper yang digambarkan diatas, sebagian orang tua dapat menerima kondisi anak dengan melewa semua tahapan penerimaan diri. Penerimaan itu dapat terjadi didukung oleh adanya faktor internal dan eksternal yang terdapat pada diri subyek. Faktor internal yang mendukung adalah adanya keyakinan posi f mengenai peris wa yang dialaminya. Kepercayaan yang kuat kepada Tuhan membuat orangtua yakin bahwa mereka diberikan cobaan sesuai dengan porsi yang mampu mereka hadapi (Senkeyta, 2012). Makna pengasuhan orangtua yang memiliki anak retardasi mental yaitu harus selalu bersyukur, menerima keadaan anak, memberikan perha an khusus dan memiliki keyakinan dan kepercayaan yang kuat kepada Tuhan (Supatri, 2014). Adanya penyakit gangguan mental di dalam keluarga dapat menimbulkan stress atau krisis bagi anggota keluarganya. Gangguan mental di masa kecil dan remaja dapat menjadi kronis dan mengganggu, sehingga membutuhkan perha an yang tepat, bantuan dan dukungan dari orang tua. Dengan demikian, orangtua atau caregiver mempunyai tanggungjawab tambahan untuk merawat anak-anak dengan retardasi mental dibandingkan dengan anak yang sehat lainnya (Ambikile & Outwater, 2012). Dukungan emosional memberikan individu perasaan nyaman, merasa dicintai, bantuan dalam bentuk semangat, e m p a , ra s a p e rc aya , p e r h a a n , d i d e n ga r ka n d a n mendengarkan. Dukungan penilaian merupakan dukungan yang terjadi bila ada ekspresi penilaian yang posi f terhadap individu. Individu mempunyai seseorang yang dapat diajak bicara tentang masalah mereka, terjadi melalui ekspresi pengharapan posi f individu kepada individu lain, penyemangat, persetujuan terhadap ide-ide atau perasaan seseorang dengan orang lain (Friedman, 2010). Dalam hubungan kakak beradik, sering terjadi persaingan. Penyebab adanya Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan, atau kompe si dan pertengkaran antarsaudara atau adik kakak dan terjadi pada hampir semua orang tua yang memiliki anak lebih dari satu. Ada special needsatausick kidsyaitu anak berkebutuhan khusus atau memiliki masalah emosional memerlukan lebih banyak waktu orangtua. Hal ini membuat saudara-saudaranya melihatnya sebagai perbedaan sikap orang tua, sehingga mereka melakukan beberapa perlakuan sebagai bentuk upaya untuk mendapatkan perha an orang tua (Nurcaya, Nia, et al Psikologis Ibu Merawat Anak Dengan Retardasi Mental Psychological Mother Caring for Children with Mental Retarda on 2015). Dalam beberapa kasus, sebagian orang tua merasakan kekecewaan akan hasil diagnosisyang berasal dari ahli sekaligus muncul kecemasan akan masa depan anak. Ke ga subjek marah akan kejadian yang dialaminya. Sering kali muncul pernyataan yang menyalahkan keadaan, merasa dak adil kenapa keluarganya yang mengalami hal tersebut (Rachmawa & Masykur, 2016). Berdasarkan Hasil peneli an Gambaran Kejadian Kecemasan pada Ibu Penderita Retardasi Mental Sindromik di SLB-C Banjarmasin, menunjukkan 59,26% ibu penderita retardasi mental mengalami kecemasan. Permasalahan yang banyak dialami oleh ibu yang mempunyai anak retardasi mental mengacu pada ngkah laku dan emosi anak retardasi mental, masalah keuangan, kemandirian anak, masa depan anak, kesempatan bagi anak retardasi mental melanjutkan pendidikan dan pengasuhan anak retardasi mental setelah ke dakhadiran mereka (Norhidayah, dkk, 2013) Pengasuhan orangtua yang memiliki anak retardasi mental yaitu saat anak tersebut didiagnosis mengalami retardasi mental, orang tua akan berusaha mencari bantuan medis dan pengobatan alterna f (Supatri, 2014). Selain itu, harapan merupakan sesuatu yang pen ng dan merupakan sebuah indikator penerimaan orangtua terhadap disabilitas anak mereka (Lidanial, 2013). KESIMPULAN Jumlah informan dalam peneli an ini adalah 5 orang ibu yang mempunyai anak retardasi mental.Tema-tema yang ditemukan dalam peneli an ini adalah respon awal ibu mengetahui anaknya retardasi mental, sikap orangtua dalam merawat, kecemburuan saudara/sibling rivalry, beban merawat anak retardasi mental, usaha mencari layanan kesehatan dan harapan ibu. Saran yaitu bagi perawat di klinik tumbuh kembang anak hendaknya meningkatkan wawasan dalam memberikan dukungan bagi orangtua yang mempunyai anak retardasi mental yang mengalami gangguan tumbuh kembang (memberikan psikoedukasi) sehingga orangtua menger kemana mereka melakukan pemeriksaan dan terapi dalam upaya memandirikan anak dengan retardasi mental. Perawat memfasilitasi membentuk peer group ibu-ibu yang memiliki anak retardasi mental sebagai tempat sharing pengalaman merawat anak retardasi mental, diantaranya suppor f group, self-help group dan cogni ve behaviour therapy serta menanamkan kesadaran kepada orangtua agar selalu memonitor anak dengan retardasi mental. Hasil peneli an ini hendaknya digunakan sebagai evidence based dalam memberikan asuhan keperawatan bagi ibu-ibu yang baru mempunyai anak dengan retardasi mental. Serta diharapkan sekolah dapat memfasilitasi dalam menyalurkan 17 bakat yang dimiliki oleh anak retardasi mental sehingga anak retardasi mental mempunyai suatu hal yang bisa dibanggakan dalam hidupnya. Sekolah memfasilitasi dalam memandirikan anak dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari serta sekolah bekerja sama dengan psikolog dalam pemeriksaan IQ anak-anak yang sekolah di SLB Negeri Rokan Hulu Riau. Konflik Kepen ngan Peneli an ini dak mengandung konflik kepen ngan disebabkan karena peneli an ini memenuhi kriteria dan tahapan ilmiah dalam peneli an. Ucapan Terima Kasih Peneli mengucapkan terima kasih kepada Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Andalas, Ketua Prodi S2 Keperawatan Univeritas Andalas, Pembimbing, Kepala Sekolah SLB Negeri Rokan Hulu, ayah (alm) H Arsyad dan Ibu (almh) Hj Murni, mertua peneli (H. Muhammad Aminuddin dan Hj Usmah Rais) , suami (Muhammad Abduh) dan anak-anak tercinta (Fathina, Umar dan Al Fa h). Semoga peneli an ini bermanfaat bagi khalayak banyak dan terkhusus bagi orangtua yang memiliki anak dengan retardasi mental. DAFTAR PUSTAKA Ali, Z (2010). Pengantar Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC. Ambikile, J. S., & Outwater, A. (2012). Challenges of caring for children with mental disorders: Experiences and views of caregivers a ending the outpa ent clinic at Muhimbili Na onal Hospital, Dar es Salaam Tanzania, 1–11. Benny F, Nurdin AE, Chundraye E. Ar kel Peneli an Penerimaan Ibu yang Memiliki Anak Retardasi Mental di SLB YPAC Padang. 2014;3(2):159-162. Data SLB Negeri Rokan Hulu (2017). Tidak Dipublikasikan. Friedman (2010). Buku Ajar Keluarga Riset, Teori dan Praktek Edisi 5. Jakarta: EGC. Ghoniyah, Z & Savira, S (2015). Gambaran Psychological Well Being pada Perempuan yang Memiliki Anak Down Syndrome. Character, Volume 03 Nomor 02 Tahun 2015. Kumar D, Simh N, Scie M. Study of Burden in parents of children with mental retarda on. 2016;(January 2014). Lidanial (2013). Problema ka yang Dihadapi Keluarga dari Anak dengan Intellectual Disability (Etnographic Study). Mangunsong, F. (2009). Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Jilid I. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3)Kampus Baru UI, Depok. J j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS 18 Keskom, Vol. 5, No. 1 April 2019 Napolion, K (2010). Studi Fenomenologi : Pengalaman Keluarga Merawat Anak dengan Tunagrahita di Kecamatan Bogor Barat. Tesis, FIK UI. Diakses pada tanggal 5 Maret 2017. Norhidayah, Wasilah, S & Husein, AN (2012). Gambaran Kejadian Kecemasan pada Ibu Penderita Retardasi Mental Sindromik di SLB-C Banjarmasin. Nurcaya, I (2015). Pertengkaran Antarsaudara: Kenali 4 Faktor Penyebab Sibling Rivalry Berikut. Diunduh d a r i h p://lifestyle.bisnis.com/read/20150518/236/43 4277/pertengkaran-antarsaudara-kenali-4-faktorpenyebab-sibling-rivalry-berikut. Diakses pada tanggal 20 Juni 2017. Prabowo, E. (2010). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Edisi 6. Jakarta: EGC. Prasa, BA (2012). Stres dan Koping Orangtua dengan Anak Retardasi Mental. Rachmawa dan Masykur (2016). Pengalaman ibu yang memiliki anak down sindrom. Jurnal Empa , Oktober 2016, Volume 5(4), 822-830 Sari, A. P., Jumaini., Hasanah, O. (2010). Hubungan Konsep Diri Orang Tua dengan Mo vasi dalam Merawat Anak Retardasi Mental. Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau. Senkeyta, Y (2012). Proses Penerimaan Diri Ayah terhadap Anak yang Mengalami Down Syndrome. Universitas Brawijaya. Stuart, G.W (2013). Principles and Prac ce of Psychiatric Nursing (10 th Ed). St.Louis : Mosby. Supatri, A (2014). Pengasuhan Orangtua yang Memiliki Anak Retardasi Mental. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Stuart, G.W (2013). Principles and Prac ce of Psychiatric Nursing (10 th Ed). St.Louis : Mosby. Tula, JJ (2015). Pelayanan Penyandang Disabilitas Dalam Menggunakan Berbagai Sarana Aksebilitas. Diunduh m e l a l u i : h p://www.kemsos.go.id/modules.php?name=Ne ws&file=ar cle&sid=18765. Diakses pada tanggal 27 April 2017. Widyarini, N (2009). Kunci Pengembangan Diri. Jakarta: PT Elex Media Kompu ndo. h p://jurnal.htp.ac.id