Vol 6 No 1 . P-ISSN 2807-9205 | E-ISSN 2808-0041 DOI: 10. 54180/joeces. Meningkatkan Numerasi Anak Usia Dini 5-6 Tahun Menggunakan Sumber Lingkungan Alam di Raudhatul Athfal Nurul Yaqin Desa Simpang Sungai Duren Provinsi Jambi Tri Rahayu1. Sapriya Utami2. Nazari3 nengtri16@gmail. Sapriyautami@uinjambi. id@gmail. com2, nazarijbi60@gmail. Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin. Jambi. Indonesia ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan numerasi anak usia dini melalui penggunaan sumber lingkungan alam. Subjek penelitian berjumlah 32 anak usia 5Ae6 tahun. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dengan menggunakan kategori penilaian Belum Berkembang (BB). Mulai Berkembang (MB). Berkembang Sesuai Harapan (BSH), dan Berkembang Sangat Baik (BSB). Hasil penelitian pada tahap prasiklus menunjukkan bahwa kemampuan numerasi anak masih rendah, dengan 24 anak . %) berada pada kategori BB, 5 anak . %) pada kategori MB, dan 3 anak . %) pada kategori BSH. Setelah dilakukan pembelajaran pada siklus I pertemuan pertama, terjadi peningkatan kemampuan numerasi anak, yaitu 11 anak . %) pada kategori BB, 9 anak . %) pada kategori MB, 7 anak . %) pada kategori BSH, dan 5 anak . %) pada kategori BSB. Peningkatan kembali terjadi pada siklus I pertemuan kedua, dengan 3 anak . %) pada kategori BB, 5 anak . %) pada kategori MB, 15 anak . %) pada kategori BSH, dan 9 anak . %) pada kategori BSB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sumber lingkungan alam dapat meningkatkan kemampuan numerasi anak usia dini. Kata Kunci: Numerasi. Anak Usia Dini. Lingkungan Alam ABSTRACT This study aims to improve early childhood numeracy skills through the use of natural environmental resources. The research subjects consisted of 32 children aged 5Ae6 years. Data were collected through observation using four assessment categories: Not Yet Developed (NYD). Beginning to Develop (BD). Developing as Expected (DAE), and Very Well Developed (VWD). The results at the pre-cycle stage showed that childrenAos numeracy skills were still low, with 24 children . %) in the NYD category, 5 children . %) in the BD category, and 3 children . %) in the DAE After implementing learning activities in Cycle I, first meeting, there was an improvement in childrenAos numeracy skills, with 11 children . %) in the NYD category, 9 children . %) in the BD category, 7 children . %) in the DAE category, and 5 children . %) in the VWD category. Further improvement was observed in Cycle I, second meeting, where 3 children . %) were in the NYD category, 5 children . %) in the BD category, 15 children . %) in the DAE category, and 9 children . %) in the VWD category. The results of the study indicate that the use of natural environmental resources can effectively improve early childhood numeracy skills. Keywords: Numeracy. Early Childhood. Naturalenvironment. 1 Ae JOECES PENDAHULUAN Anak usia dini pada dasarnya belajar dari kenyataan yang mereka alami secara langsung. Segala sesuatu yang dipelajari dalam kehidupannya merupakan hasil dari pengalaman yang diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Sejalan dengan hal tersebut, anak yang memperoleh pembelajaran melalui pengalaman nyata cenderung akan lebih mudah mengingat pengetahuan yang diperoleh dalam jangka waktu yang lebih lama, serta lebih mampu memahami dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak, tentu diperlukan proses pembelajaran yang dirancang secara terencana dan sistematis. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada bagaimana anak dapat mengalami sendiri proses belajar tersebut. Oleh karena itu, pendidik memiliki tanggung jawab penting dalam membangun proses pembelajaran yang baik, menarik, serta sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini, sehingga pembelajaran dapat benar-benar bermakna dan relevan dengan kehidupan anak (Mushab Al Umairi Mushab & Lillawati, 2. Pengalaman belajar yang melibatkan interaksi langsung dengan objek, peristiwa, situasi, maupun orang di lingkungan sekitar akan membantu anak dalam memahami dunia secara lebih Melalui pengalaman tersebut, anak dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya dengan lebih optimal. Proses ini terjadi karena anak menggunakan berbagai indera yang dimilikinya, seperti melihat, mendengar, meraba, mencium, dan merasakan untuk mengumpulkan informasi dari lingkungan. Dengan demikian, penting bagi anak untuk diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, eksploratif, dan kreatif agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara lebih efektif dan menyenangkan (Suhayati & Watini. Salah satu aspek perkembangan yang diyakini memiliki peranan penting sebagai dasar awal kemampuan berhitung anak pada usia dini adalah aspek perkembangan kognitif, khususnya pada ranah berpikir simbolik. Pada tahap ini, anak mulai menunjukkan kemampuan untuk menggunakan simbol dalam mewakili suatu benda atau konsep, termasuk angka sebagai representasi kuantitas (Nasution et al. , 2. Kemampuan ini menjadi fondasi penting dalam perkembangan kemampuan numerasi anak pada tahap selanjutnya. Dalam ranah berpikir simbolik tersebut, anak mulai memperlihatkan ketertarikan yang lebih besar terhadap angka-angka sederhana dan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan kuantitas, seperti menghitung jumlah benda, membandingkan ukuran, mengukur secara sederhana, serta mengenal konsep lebih banyak dan lebih sedikit, besar dan kecil (Nursaadah et al. , 2. Aktivitas-aktivitas tersebut menunjukkan bahwa anak mulai memahami hubungan antara simbol angka dengan jumlah benda nyata di sekitarnya. Peningkatan minat anak terhadap angka biasanya mulai terlihat secara lebih jelas pada usia 5Ae 6 tahun (Madaniyah et al. , 2. Pada rentang usia ini, anak berada pada tahap perkembangan yang lebih matang dalam kemampuan berpikirnya, sehingga mereka mulai mampu menghubungkan pengalaman konkret dengan simbol-simbol yang lebih abstrak. Oleh karena itu, stimulasi yang tepat pada aspek berpikir simbolik sangat penting untuk mendukung perkembangan kemampuan numerasi anak secara optimal. 2 Ae JOECES Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di Raudhatul Athfal Nurul Yaqin Desa Simpang Sungai Duren, diperoleh temuan bahwa kemampuan literasi numerasi anak masih tergolong rendah. Dari total 32 siswa, sebagian besar belum menunjukkan kemampuan literasi numerasi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini. Seluruh anak tersebut masih mengalami kesulitan ketika mengikuti kegiatan literasi numerasi, terutama dalam memahami konsep dasar bilangan, menghitung, serta menghubungkan angka dengan jumlah benda konkret dalam kegiatan Temuan ini diperkuat oleh hasil wawancara tidak terstruktur dengan guru kelas yang menjelaskan bahwa permasalahan tersebut salah satunya disebabkan oleh keterbatasan pemahaman guru mengenai tahapan perkembangan literasi numerasi anak. Akibatnya, proses pembelajaran yang dirancang belum sepenuhnya menyesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik perkembangan anak usia dini. Hal ini berdampak pada pemilihan media pembelajaran yang kurang tepat, sehingga belum mampu memberikan pengalaman belajar yang optimal bagi anak. Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, guru lebih banyak menggunakan metode bercerita serta pemberian lembar kerja sebagai sarana utama pembelajaran (Maylia et al. , 2. Penggunaan metode tersebut cenderung bersifat abstrak dan kurang memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar melalui pengalaman langsung. Padahal, pada usia dini anak membutuhkan pembelajaran yang bersifat konkret agar lebih mudah memahami konsep yang diajarkan, khususnya dalam pengembangan kemampuan berhitung permulaan. Oleh karena itu, diperlukan adanya inovasi dalam pemilihan media pembelajaran yang lebih sesuai dengan karakteristik perkembangan kognitif anak usia dini. Dalam hal ini, penelitian ini mengarahkan penggunaan media bahan alam sebagai alternatif media pembelajaran yang diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret, bermakna, serta sesuai dengan tahap perkembangan anak, sehingga dapat membantu meningkatkan kemampuan literasi numerasi secara lebih optimal. Media bahan alam dinilai memiliki potensi yang besar dalam membantu anak memahami konsep berhitung permulaan karena sifatnya yang konkret, nyata, serta dapat disentuh dan dieksplorasi secara langsung. Karakteristik tersebut sangat sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini yang masih berada pada fase berpikir konkret, sehingga mereka lebih mudah memahami konsep yang disajikan melalui benda-benda yang dapat mereka lihat dan pegang secara langsung. Keberagaman bentuk bahan alam, seperti batu kecil, daun, ranting, biji-bijian, kerikil, dan berbagai objek alami lainnya, memberikan peluang bagi anak untuk memperoleh pengalaman belajar yang lebih kaya dan bervariasi. Melalui penggunaan media tersebut, anak tidak hanya belajar mengenal angka, tetapi juga dapat melakukan berbagai aktivitas seperti menghitung jumlah benda, mengelompokkan berdasarkan ukuran atau jenis, serta membandingkan kuantitas secara Kegiatan-kegiatan ini menjadikan proses pembelajaran lebih bermakna karena anak terlibat secara aktif dalam pengalaman belajar yang nyata. Selain itu, penggunaan bahan alam juga memungkinkan anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, sehingga proses pembelajaran tidak terbatas di dalam kelas saja. Hal ini dapat meningkatkan rasa ingin tahu anak sekaligus mendorong keterlibatan aktif 3 Ae JOECES dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, media bahan alam diharapkan dapat memberikan dukungan yang optimal dalam meningkatkan kemampuan numerasi anak, terutama pada kegiatan yang membutuhkan manipulasi objek konkret sebagai dasar pemahaman konsep berhitung Permasalahan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan perkembangan kemampuan numerasi anak usia 5Ae6 tahun dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Pada usia tersebut, anak diharapkan sudah mampu mengenal angka 1Ae10, menggunakan lambang bilangan untuk kegiatan menghitung, mencocokkan bilangan dengan lambang bilangannya, serta menirukan bentuk angka 1Ae10 dengan bantuan media yang sesuai, termasuk melalui penggunaan bahan alam sebagai salah satu sumber belajar yang konkret. Namun demikian, berdasarkan temuan di lapangan, kemampuan tersebut masih belum berkembang secara optimal. Hal ini terlihat dari masih banyaknya anak yang mengalami kesulitan dalam mengenal dan memahami konsep bilangan dasar, serta belum mampu menghubungkan antara angka dan jumlah benda secara tepat. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang berlangsung selama ini belum sepenuhnya memberikan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan kognitif anak usia dini. Salah satu penyebab utama dari permasalahan tersebut adalah pembelajaran yang masih cenderung bersifat abstrak dan kurang memberikan pengalaman konkret kepada anak. Akibatnya, anak belum memperoleh kesempatan yang cukup untuk berinteraksi langsung dengan objek-objek nyata yang dapat membantu mereka memahami konsep numerasi secara lebih mudah dan bermakna. Oleh sebab itu, peneliti memandang perlu adanya inovasi dalam proses pembelajaran dengan memanfaatkan sumber lingkungan alam sebagai media pembelajaran. Penggunaan bahan alam diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret, aktif, dan menyenangkan, sehingga mampu meningkatkan kemampuan numerasi anak usia dini secara lebih optimal serta menjadi bekal yang baik untuk jenjang pembelajaran selanjutnya. Pemanfaatan bahan-bahan alam seperti batu, daun, ranting, biji-bijian, dan bunga memberikan kesempatan yang luas bagi anak untuk belajar melalui pengalaman nyata yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari (Fadhil & Hayat, 2. Melalui media tersebut, anak tidak hanya menerima materi secara verbal, tetapi juga terlibat langsung dalam kegiatan bermain dan bereksplorasi, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, dan mudah Aktivitas yang melibatkan benda konkret ini sangat sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang masih berada pada tahap berpikir operasional konkret (Rahma et al. , 2. Penggunaan bahan alam dalam pembelajaran numerasi juga membantu anak dalam mengembangkan berbagai kemampuan dasar, seperti menyebutkan lambang bilangan 1Ae10 dengan lebih tepat, menggunakan lambang bilangan untuk kegiatan menghitung, serta mencocokkan jumlah benda dengan simbol bilangan yang sesuai. Selain itu, anak juga dapat dilatih untuk menirukan bentuk angka 1Ae10 dengan menggunakan bahan alam melalui berbagai aktivitas yang dirancang secara kreatif dan menyenangkan oleh guru. Pembelajaran yang berbasis alam tidak hanya berfokus pada pemahaman konsep bilangan semata, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pengembangan kemampuan lain, seperti 4 Ae JOECES kemampuan berpikir logis, keterampilan observasi, serta kemampuan memecahkan masalah sederhana (Putra et al. , 2. Dengan demikian, penggunaan bahan alam sebagai media pembelajaran mampu menciptakan proses belajar yang lebih aktif, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak usia dini secara menyeluruh. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan numerasi anak usia dini melalui pemanfaatan sumber lingkungan alam sebagai media pembelajaran (Arianto, 2. Pendekatan kuantitatif dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengukur peningkatan kemampuan numerasi anak secara lebih terstruktur, sistematis, dan dapat dianalisis berdasarkan data yang diperoleh selama proses penelitian berlangsung. Penelitian ini dilaksanakan di Raudhatul Athfal Nurul Yaqin yang berada di Provinsi Jambi. Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan pada adanya permasalahan yang ditemukan terkait rendahnya kemampuan numerasi anak serta kebutuhan akan inovasi dalam penggunaan media pembelajaran yang lebih sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini. Subjek dalam penelitian ini adalah anak kelompok B1 dengan rentang usia 5Ae6 tahun yang berjumlah 32 anak, yang terdiri dari 14 anak laki-laki dan 18 anak perempuan. Selain itu, guru kelas B1 juga turut dilibatkan sebagai pihak yang berperan dalam proses pelaksanaan pembelajaran di kelas. Keterlibatan guru dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai proses pembelajaran yang berlangsung serta mendukung keberhasilan penerapan media bahan alam dalam meningkatkan kemampuan numerasi anak. Rancangan penelitian difokuskan pada upaya meningkatkan kemampuan numerasi anak usia dini melalui penggunaan sumber lingkungan alam sebagai media pembelajaran. Prosedur penelitian dilakukan melalui tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam satu siklus yang terdiri dari dua pertemuan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi (Sugiyono. Observasi digunakan untuk mengamati perkembangan kemampuan numerasi anak, wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi dari guru, sedangkan dokumentasi digunakan sebagai data pendukung penelitian. Teknik analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian, tabel, dan grafik untuk memudahkan interpretasi data. Adapun untuk menghitung persentase perkembangan kemampuan numerasi anak digunakan rumus sebagai berikut: Rumus yang digunakan adalah: P = f x 100 % KAJIAN PUSTAKA Kemampuan numerasi merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan kognitif anak usia dini yang menjadi dasar bagi penguasaan kemampuan matematika pada jenjang 5 Ae JOECES pendidikan selanjutnya. Numerasi tidak hanya terbatas pada kemampuan berhitung secara mekanis, tetapi juga mencakup pemahaman yang lebih luas terhadap konsep bilangan, kemampuan mengenal dan membedakan simbol angka, serta kemampuan untuk menghubungkan konsepkonsep tersebut dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari (Putra et al. , 2. Dengan demikian, numerasi lebih menekankan pada pemahaman konsep yang bermakna daripada sekadar hafalan angka atau operasi hitung. Pada anak usia 5Ae6 tahun, perkembangan kemampuan numerasi berada pada tahap awal yang sangat dipengaruhi oleh pengalaman konkret dan aktivitas yang bersifat langsung. Pada fase ini, anak belajar melalui interaksi dengan benda-benda nyata di sekitarnya, seperti menghitung jumlah benda, mengelompokkan objek berdasarkan ukuran atau warna, serta mengenali pola sederhana yang terdapat dalam lingkungan. Pengalaman belajar yang bersifat konkret tersebut membantu anak membangun pemahaman yang lebih kuat karena sesuai dengan tahap perkembangan berpikir mereka yang masih berada pada tahap operasional konkret. Selain itu, stimulasi yang diberikan melalui kegiatan bermain yang terarah dan penggunaan media pembelajaran yang dekat dengan kehidupan anak sangat berperan dalam mengoptimalkan perkembangan numerasi. Lingkungan sekitar, termasuk lingkungan alam, dapat menjadi sumber belajar yang efektif karena memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar secara langsung melalui pengamatan dan eksplorasi. Dengan demikian, kemampuan numerasi pada anak usia dini tidak berkembang secara instan, tetapi melalui proses bertahap yang melibatkan pengalaman nyata, pengulangan, serta dukungan dari lingkungan belajar yang sesuai. Pembelajaran pada anak usia dini pada dasarnya menekankan pentingnya pemberian pengalaman belajar yang bersifat nyata, konkret, dan bermakna (Maghfiroh et al. , 2. Pada tahap perkembangan ini, anak belum sepenuhnya mampu berpikir secara abstrak, sehingga mereka akan lebih mudah memahami suatu konsep apabila disajikan melalui benda-benda yang dapat dilihat, disentuh, dan dialami secara langsung. Dengan kata lain, proses pembelajaran yang melibatkan interaksi langsung dengan objek nyata akan lebih efektif dalam membantu anak membangun pemahaman dibandingkan dengan pembelajaran yang hanya bersifat teoritis atau Selain itu, karakteristik perkembangan anak usia dini yang cenderung belajar melalui bermain juga menjadi dasar penting dalam merancang kegiatan pembelajaran. Anak akan lebih tertarik, aktif, dan antusias ketika proses belajar dikemas dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan dan tidak membebani. Melalui aktivitas yang melibatkan benda konkret, anak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengalami sendiri proses belajar tersebut, sehingga pemahaman yang diperoleh menjadi lebih kuat dan tahan lama. Oleh karena itu, penggunaan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak sangat diperlukan untuk mendukung optimalisasi kemampuan numerasi. Media yang dekat dengan kehidupan anak, seperti benda-benda di lingkungan sekitar atau lingkungan alam, dapat membantu anak memahami konsep bilangan, pengelompokan, serta pola secara lebih mudah. Dengan pemilihan media yang tepat, proses pembelajaran numerasi tidak hanya menjadi lebih efektif, tetapi juga mampu menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak usia dini. 6 Ae JOECES Salah satu media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran anak usia dini adalah sumber lingkungan alam. Lingkungan alam memiliki kekayaan objek yang sangat beragam dan mudah dijumpai di sekitar anak, seperti batu, daun, ranting, bunga, tanah, serta bijibijian. Berbagai benda tersebut dapat digunakan sebagai media konkret yang membantu anak dalam memahami konsep-konsep dasar numerasi secara lebih nyata dan mudah dipahami. Penggunaan bahan alam dalam pembelajaran memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar secara langsung melalui kegiatan eksplorasi (Putri, 2. Anak dapat mengamati, menyentuh, mengelompokkan, menghitung, serta membandingkan benda-benda tersebut sesuai dengan arahan guru. Kegiatan seperti ini tidak hanya membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang bermakna karena anak terlibat secara aktif dalam menemukan konsep yang dipelajari. Selain itu, pemanfaatan lingkungan alam sebagai media pembelajaran juga dapat meningkatkan pemahaman konsep numerasi secara lebih efektif. Anak tidak hanya mengenal angka secara simbolik, tetapi juga memahami makna dari jumlah, ukuran, dan perbandingan melalui benda-benda nyata yang mereka gunakan. Dengan demikian, lingkungan alam berperan penting dalam menciptakan proses pembelajaran yang lebih kontekstual, menyenangkan, dan sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak usia dini. Pemanfaatan bahan alam dalam kegiatan pembelajaran juga memiliki peran penting dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, menarik, dan tidak membosankan bagi anak usia dini (Ramadhani et al. , 2. Hal ini disebabkan karena anak diberikan kesempatan untuk belajar sambil bermain dengan benda-benda yang ada di lingkungan sekitarnya, sehingga proses pembelajaran terasa lebih alami dan dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Melalui bahan alam tersebut, anak dapat melakukan berbagai aktivitas yang mendukung perkembangan kemampuan numerasi secara lebih konkret. Misalnya, anak dapat menghitung jumlah batu, daun, atau biji-bijian yang tersedia, mencocokkan bilangan dengan jumlah objek yang sesuai, serta membedakan bentuk dan ukuran dari berbagai benda yang mereka temukan. Aktivitas-aktivitas tersebut tidak hanya melatih kemampuan berhitung, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir logis dan pemahaman konsep dasar matematika secara bertahap. Selain itu, penggunaan media dari lingkungan alam juga membantu menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual, karena materi yang dipelajari berkaitan langsung dengan pengalaman nyata anak. Dengan demikian, anak lebih mudah memahami konsep yang diajarkan karena sesuai dengan dunia mereka. Pembelajaran yang demikian tidak hanya meningkatkan aspek kognitif, tetapi juga membuat anak lebih aktif, antusias, dan terlibat secara langsung dalam proses Selain itu, pembelajaran berbasis lingkungan alam juga memiliki manfaat yang lebih luas karena dapat mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak secara bersamaan. Tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, khususnya kemampuan numerasi, tetapi juga mendukung perkembangan aspek lain yang saling berkaitan dalam diri anak usia dini. Melalui kegiatan yang memanfaatkan lingkungan alam, anak dapat melatih kemampuan berpikir logis, misalnya saat mereka mengelompokkan benda berdasarkan ukuran, warna, atau jumlah, serta saat 7 Ae JOECES membandingkan dan mengurutkan objek tertentu. Di samping itu, aktivitas yang dilakukan secara langsung di lingkungan sekitar juga turut mengembangkan keterampilan motorik anak, baik motorik halus maupun motorik kasar. Misalnya, ketika anak memungut batu, menyusun daun, atau mengelompokkan biji-bijian, mereka secara tidak langsung melatih koordinasi antara mata dan tangan serta ketepatan gerakan. Aktivitas sederhana tersebut sangat penting dalam mendukung kesiapan anak untuk kegiatan belajar yang lebih kompleks di masa mendatang. Pembelajaran berbasis lingkungan alam juga berperan dalam mengembangkan kemampuan sosial anak. Ketika kegiatan dilakukan secara berkelompok, anak belajar untuk bekerja sama, berbagi, menunggu giliran, serta menghargai pendapat teman. Interaksi ini menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter sosial anak sejak usia dini. Selain itu, kegiatan yang melibatkan eksplorasi lingkungan juga mampu merangsang rasa ingin tahu anak, sehingga mereka menjadi lebih aktif, antusias, dan terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran berbasis lingkungan alam tidak hanya meningkatkan satu aspek perkembangan, tetapi memberikan kontribusi yang menyeluruh terhadap tumbuh kembang anak. Berdasarkan kajian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan sumber lingkungan alam merupakan salah satu alternatif yang efektif dalam meningkatkan kemampuan numerasi anak usia Hal ini disebabkan karena lingkungan alam menyediakan berbagai media konkret yang dekat dengan kehidupan anak, sehingga memudahkan mereka dalam memahami konsep bilangan, pengelompokan, serta perbandingan secara lebih bermakna dan menyenangkan. Selain itu, pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan alam juga memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar secara aktif melalui kegiatan eksplorasi langsung. Proses pembelajaran yang demikian tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep numerasi, tetapi juga membuat anak lebih terlibat, antusias, dan termotivasi dalam mengikuti kegiatan belajar. Dengan pengalaman belajar yang konkret dan kontekstual, anak dapat menghubungkan materi yang dipelajari dengan situasi nyata di sekitarnya. Oleh karena itu, penerapan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan alam diharapkan mampu memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan kemampuan numerasi anak usia dini, sekaligus mendukung perkembangan aspek kognitif, motorik, dan sosial secara lebih optimal. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, terlihat adanya perkembangan yang signifikan terhadap kemampuan numerasi anak usia dini. Hasil pengukuran yang dilakukan melalui penilaian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berhitung anak secara bertahap setelah diberikan kegiatan pembelajaran. Peningkatan ini tidak hanya terlihat dari hasil penilaian, tetapi juga didukung oleh hasil pengamatan langsung selama proses pembelajaran berlangsung serta informasi yang diperoleh dari guru kelas. Penelitian yang dilakukan pada anak-anak di Taman Kanak-kanak Fania Salsabilah Barokah. Muaro Jambi. Provinsi Jambi, menunjukkan adanya peningkatan persentase perkembangan kemampuan numerasi anak pada setiap tahapan Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan metode pembelajaran yang tepat mampu 8 Ae JOECES memberikan dampak positif terhadap perkembangan kemampuan anak, khususnya dalam aspek berhitung permulaan. Adapun perkembangan kemampuan berhitung anak melalui penerapan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dapat dilihat berdasarkan capaian perkembangan anak yang disajikan dalam bentuk tabel berikut. Tabel 1. Perbandingan Peresentase Perkembangan Peserta Didik No. Pertemuan BSH BSB Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase Anak Prasiklus Siklus I n ke-1 Siklus I n ke-2 Anak Anak Total Jumlah Anak Anak Diagram 1. Perkembangan Kemampuan Numerasi Anak Berdasarkan tabel perbandingan persentase perkembangan peserta didik, terlihat adanya peningkatan perkembangan kemampuan numerasi anak dari tahap prasiklus hingga siklus I pertemuan kedua. Data tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran yang diberikan mampu memberikan perubahan positif terhadap perkembangan kemampuan berhitung anak secara Perkembangan ini menjadi indikator bahwa proses pembelajaran yang dilakukan mulai memberikan dampak terhadap pemahaman konsep numerasi pada anak usia dini. Pada tahap prasiklus, kondisi awal kemampuan numerasi peserta didik masih tergolong rendah dan belum berkembang secara optimal. Hal ini terlihat dari dominasi kategori Belum 9 Ae JOECES Berkembang (BB) sebesar 75% atau sebanyak 24 anak. Selain itu, terdapat 16% . yang berada pada kategori Mulai Berkembang (MB), serta 9% . pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH). Pada tahap ini, belum terdapat peserta didik yang mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), yang menunjukkan bahwa sebagian besar anak masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep dasar numerasi seperti mengenal angka, mencocokkan jumlah benda dengan lambang bilangan, serta melakukan kegiatan berhitung sederhana. Rendahnya capaian perkembangan pada tahap prasiklus ini mengindikasikan bahwa kemampuan numerasi anak masih perlu mendapatkan stimulasi yang lebih optimal melalui kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang sebelumnya digunakan belum sepenuhnya mampu membantu anak dalam memahami konsep numerasi secara konkret dan bermakna. Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya perbaikan melalui penerapan kegiatan pembelajaran yang lebih menarik, kontekstual, dan melibatkan pengalaman langsung agar kemampuan numerasi anak dapat berkembang secara lebih maksimal. Pada siklus I pertemuan pertama, terlihat adanya perubahan yang cukup signifikan pada perkembangan kemampuan numerasi peserta didik dibandingkan dengan kondisi pada tahap Hal ini ditunjukkan dengan menurunnya persentase peserta didik pada kategori Belum Berkembang (BB) menjadi 34% atau sebanyak 11 anak. Penurunan ini mengindikasikan bahwa sebagian anak mulai menunjukkan perkembangan dalam memahami konsep numerasi setelah diberikan kegiatan pembelajaran. Di sisi lain, terjadi peningkatan pada kategori Mulai Berkembang (MB) sebesar 28% atau sebanyak 9 anak, serta kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) sebesar 22% atau sebanyak 7 anak. Selain itu, mulai muncul kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) sebesar 16% atau sebanyak 5 anak, yang sebelumnya belum terlihat pada tahap Munculnya kategori BSB ini menunjukkan bahwa beberapa anak telah mampu memahami konsep numerasi dengan lebih baik dan mulai mencapai tingkat perkembangan yang Peningkatan pada setiap kategori tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran yang diberikan mulai memberikan dampak positif terhadap perkembangan kemampuan numerasi anak. Anak terlihat mulai mampu mengenal angka, mencocokkan jumlah benda dengan simbol bilangan, serta melakukan kegiatan berhitung sederhana melalui aktivitas yang melibatkan penggunaan sumber lingkungan alam. Keterlibatan anak secara langsung dalam proses pembelajaran juga turut mendukung peningkatan pemahaman mereka terhadap konsep yang dipelajari. Dengan demikian, hasil pada siklus I pertemuan pertama menunjukkan adanya perkembangan yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi prasiklus, meskipun masih terdapat beberapa anak yang berada pada kategori Belum Berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran perlu terus dilanjutkan dan ditingkatkan agar seluruh anak dapat mencapai perkembangan yang Selanjutnya, pada siklus I pertemuan kedua terlihat adanya perubahan yang cukup signifikan dibandingkan pertemuan sebelumnya. Persentase peserta didik pada kategori Belum Berkembang (BB) kembali mengalami penurunan menjadi 9% atau sebanyak 3 anak. Kondisi ini menunjukkan 10 Ae JOECES bahwa hambatan awal dalam proses pembelajaran mulai dapat diatasi, sehingga hanya sedikit peserta didik yang masih berada pada tahap perkembangan paling awal. Pada kategori Mulai Berkembang (MB), juga terjadi penurunan menjadi 16% atau 5 anak. Penurunan ini mengindikasikan bahwa sebagian peserta didik yang sebelumnya masih berada pada tahap mulai berkembang telah berhasil berpindah ke tahap yang lebih tinggi. Sementara itu, pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) terjadi peningkatan yang cukup besar menjadi 47% atau 15 anak. Peningkatan ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari jumlah peserta didik sudah mampu mencapai indikator perkembangan yang diharapkan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Lebih lanjut, kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) juga mengalami peningkatan menjadi 28% atau 9 anak. Hal ini memperlihatkan adanya perkembangan yang positif, di mana sejumlah peserta didik tidak hanya mencapai target yang diharapkan, tetapi juga mampu melampauinya dengan sangat baik. Secara keseluruhan, hasil pada siklus I pertemuan kedua ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang diterapkan mulai memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan perkembangan peserta didik, yang ditandai dengan dominasi kategori BSH dan BSB dibandingkan kategori BB dan MB. Berdasarkan data tersebut, terlihat adanya kecenderungan perubahan yang cukup jelas dari waktu ke waktu, yaitu adanya penurunan pada kategori Belum Berkembang (BB) dan Mulai Berkembang (MB), serta peningkatan yang cukup signifikan pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dan Berkembang Sangat Baik (BSB). Pola ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang diterapkan tidak hanya berdampak pada peningkatan jumlah peserta didik yang mencapai kategori lebih tinggi, tetapi juga secara bertahap mampu mengurangi jumlah peserta didik yang masih berada pada kategori awal perkembangan. Perubahan tersebut mengindikasikan bahwa peserta didik mulai menunjukkan pemahaman yang lebih baik terhadap konsep-konsep numerasi yang diajarkan. Mereka tidak hanya mampu mengikuti kegiatan pembelajaran dengan lebih aktif, tetapi juga menunjukkan peningkatan dalam kemampuan mengenal, memahami, dan menerapkan konsep numerasi dalam kegiatan yang Hal ini dapat dilihat dari semakin berkurangnya peserta didik pada kategori BB dan MB, yang kemudian diikuti oleh meningkatnya jumlah peserta didik pada kategori BSH dan BSB. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan sumber lingkungan alam dalam proses pembelajaran memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan kemampuan numerasi anak usia dini. Lingkungan alam sebagai media pembelajaran mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih konkret, menarik, dan bermakna, sehingga membantu anak dalam memahami konsep numerasi secara lebih mudah dan menyenangkan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data penelitian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan berhitung dengan memanfaatkan sumber lingkungan alam mampu meningkatkan kemampuan numerasi anak secara signifikan dan menunjukkan hasil yang memuaskan. Peningkatan tersebut terlihat secara bertahap pada setiap siklus dan pertemuan pembelajaran yang dilaksanakan, di mana terjadi perubahan positif pada kemampuan anak dalam memahami konsep bilangan, menghitung, 11 Ae JOECES serta mencocokkan jumlah benda dengan simbol angka. Selain itu, penggunaan media berbasis lingkungan alam juga memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret dan bermakna bagi Anak menjadi lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran karena mereka belajar melalui benda-benda nyata yang ada di sekitar mereka, seperti batu, daun, dan biji-bijian. Kondisi ini membuat proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada pengalaman belajar yang dialami oleh anak. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa kegiatan berhitung menggunakan sumber lingkungan alam tidak hanya meningkatkan kemampuan numerasi anak, tetapi juga menciptakan proses pembelajaran yang lebih menyenangkan, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini. Pada tahap prasiklus, hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar anak masih berada pada kategori Belum Berkembang . %), kemudian diikuti oleh kategori Mulai Berkembang . %), dan hanya sebagian kecil yang berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan . %). Kondisi ini menggambarkan bahwa kemampuan numerasi anak masih belum optimal, terutama dalam mengenal konsep bilangan, menghitung, serta mencocokkan jumlah benda dengan simbol angka. Setelah dilakukan tindakan pembelajaran pada siklus I pertemuan pertama, mulai terlihat adanya perubahan yang positif. Hal ini ditunjukkan dengan menurunnya persentase anak pada kategori Belum Berkembang menjadi 34%. Pada saat yang sama, kategori Mulai Berkembang berada pada angka 28%, kategori Berkembang Sesuai Harapan meningkat menjadi 22%, dan kategori Berkembang Sangat Baik mulai muncul sebesar 16%. Perubahan ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang diberikan mulai memberikan dampak terhadap peningkatan kemampuan numerasi anak, meskipun masih perlu optimalisasi lebih lanjut. Selanjutnya, pada siklus I pertemuan kedua terjadi peningkatan yang lebih signifikan. Hal ini ditandai dengan meningkatnya persentase anak pada kategori Berkembang Sesuai Harapan menjadi 47% dan kategori Berkembang Sangat Baik menjadi 28%. Di sisi lain, kategori Belum Berkembang mengalami penurunan yang cukup besar hingga mencapai 9%. Perkembangan ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak telah menunjukkan kemajuan yang baik dalam kemampuan numerasi, serta adanya peningkatan pemahaman konsep bilangan melalui proses pembelajaran yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan sumber lingkungan alam dalam pembelajaran memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan numerasi anak usia dini. DAFTAR PUSTAKA