BASMAT Al IKHSAN: JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. No. 1 Juni . , pp:23-32 . DOI: https://doi. org/10. 35888/basmat. https://ejournal. id/index. php/basmat/index Pendampingan pada Guru MI Al HIKAM dalam Implementasi Program Literasi Pagi Yakup 1. Nur Fitriani 2 STAI Nahdlatul Ulama Madiun STAI Nahdlatul Ulama Madiun yakuptarbiyah@gmail. com, 2nurfitriani090492@gmail. ABSTRACT This community service program aims to enhance the literacy culture at MI Al Hikam. Geger District. Madiun Regency, through teacher mentoring in implementing the Morning Literacy Program. The background of this activity lies in the low reading and writing interest among elementary school students and the lack of optimal integration of literacy activities into the learning process. The implementation method employed participatory, collaborative, and educational approaches through several stages: needs analysis, planning, teacher training, practical mentoring, and evaluation with reflection. Strategies included learning by doing, mentoring, and utilizing local potential as reading materials and literacy media. The results indicate a significant improvement in studentsAo reading interest, writing ability, and critical thinking skills. Teachers became more creative and reflective in managing contextual literacy activities, while the school successfully built a literate learning ecosystem through daily reading routines. Socially, the program also raised awareness among parents and the community about the importance of literacy as part of the learning culture. Therefore, this mentoring activity contributes to developing studentsAo reading habits, critical thinking, and competitiveness, while strengthening teacher professionalism and fostering collaboration between schools and the community. Keywords: teacher mentoring, morning literacy, literacy culture, elementary school, educational empowerment ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan budaya literasi di lingkungan MI Al Hikam. Kecamatan Geger. Kabupaten Madiun, melalui program pendampingan bagi guru dalam implementasi Program Literasi Pagi. Latar belakang kegiatan ini adalah rendahnya minat baca dan menulis siswa sekolah dasar serta belum optimalnya integrasi kegiatan literasi dalam proses pembelajaran. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif, kolaboratif, dan edukatif dengan tahapan: analisis kebutuhan, perencanaan, pelatihan guru, pendampingan praktik literasi, serta evaluasi dan refleksi. Strategi yang diterapkan meliputi learning by doing, mentoring, serta pemanfaatan potensi lokal sebagai bahan bacaan dan media literasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam minat baca, kemampuan menulis, dan keterampilan berpikir kritis siswa. Guru menjadi lebih kreatif dan reflektif dalam mengelola kegiatan literasi yang kontekstual, sementara sekolah berhasil membangun ekosistem belajar yang literat melalui pembiasaan membaca di setiap Secara sosial, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran masyarakat dan orang tua terhadap pentingnya literasi sebagai bagian dari budaya belajar. Dengan demikian, pendampingan ini berkontribusi dalam membentuk karakter peserta didik yang gemar membaca, berpikir kritis, dan memiliki daya saing, sekaligus memperkuat profesionalisme guru serta kolaborasi antara sekolah dan masyarakat. Kata Kunci: Pendampingan guru. Literasi pagi. Budaya literasi. Pemberdayaan pendidikan. PENDAHULUAN Isu utama yang menjadi latar belakang pelaksanaan program pengabdian masyarakat ini adalah berangkat dari rendahnya budaya membaca dan menulis di kalangan peserta didik pada jenjang pendidikan dasar. Anakanak sekolah usia sekolah dasar (SD) atau dalam tingkat madrasah adalah MI lebih memilih untuk melihat handphone, bermain games atau berselancar di dunia maya. Kegiatan literasi di sekolah umumnya belum menjadi kebiasaan harian yang menyenangkan, melainkan masih bersifat formal dan terikat pada jam pelajaran. Hal ini tentu berdampak pada lemahnya kemampuan memahami teks, berpikir kritis, serta menulis secara terstruktur di kalangan peserta didik. Selain itu, pendidik terlihat belum melakukan integrasi kegiatan literasi secara kreatif dan proses pembelajaran. Aktivitas membaca sering kali hanya dilakukan untuk memenuhi tuntutan administratif, bukan sebagai bagaian dari strategi pemebelajaran yang menumbuhkan minat dan daya imajinasi peserta didik. Maka dari itu, dukungan dari lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar terhadap pembiasaan literasi juga terlihat masih terbatas, sehingga budaya literasi belum berkembang menjadi tradisi belajar yang hidup di lingkungan pendidikan. MI Al Hikam adalah salah satu madrasah ibtidaiyyah atau setara dengan sekolah dasar dibawah naungan yayasan pendidikan Islam Al Hikam Mlaten yang terletak di desa Geger. Kecamatan Geger. Kabupaten Madiun ini menjadi subjek dampingan yang penulis pilih dikarenakan beberapa hal seperti, kondisi literasi peserta didik yang masih cukup rendah, hal tersebut bisa dilihat dari hasil observasi awal yang telah penulis lakukan, selain itu juga didasari oleh laporan salah satu guru kelas di sekolah mengeluhkan kemampuan literasi peserta Melihat kondisi tersebut, maka fokus pemberdayaan dalam program ini diarahkan pada penguatan budaya literasi melalui Program Literasi Pagi yang melibatkan pendidik, peserta didik dan masyarakat sekolah secara aktif. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis sebelum proses belajar dimulai, dengan pendekatan yang menyenangkan, kontekstual dan berbasis potensi lokal. Program ini juga menekankan kapasitas pendidik dalam mengelola kegiatan literasi yang kreatif dan berkelanjutan, misalnay seperti membaca bersama, menulis refleksi dan berbagai cerita Maka, kegiatan literasi bukan hanya meningkatkan kemampuan bahasa dan pemahaman peserta didik di MI Al Hikam, tetapi juga untuk membentuk karakter gemar membaca, berpikir kritis dan mencintai Melalui fokus pemberdayaan ini, diharapkan dampingan kepada guru di MI Al Hikam dalam implementasi program literasi pagi dapat menjadi gerakan bersama untuk membangun ekosistem pendidikan yang literat, partisipatif dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik yang mandiri, cerdas, serta berbudaya baca yang tinggi. METODE Strategi yang Digunakan Dalam pendampingan guru MI Al Hikam dalam implementasi Program Literasi Pagi, strategi yang digunakan oleh penulis dirancang secara sistematis dan partisipatif agar kegiatan dapat berjalan efektif, berkelanjutan, serta sesuai dengan kebutuhan sekolah. Pendekatan yang pembelajaran kontekstual, serta pemberdayaan guru dan siswa sebagai subjek utama Pertama, partisipatif dengan melibatkan seluruh unsur sekolah sejak tahap perencanaan hingga evaluasi program. Melalui diskusi, observasi, dan wawancara, tim pengabdian bersama pihak sekolah mengidentifikasi kebutuhan dan potensi yang ada, sehingga strategi yang disusun benar-benar relevan dengan kondisi Kedua, diterapkan strategi pendampingan berbasis pelatihan dan praktik langsung . earning by doin. Guru dan siswa tidak hanya menerima teori tentang literasi, tetapi juga diajak untuk langsung mempraktikkan kegiatan literasi pagi seperti membaca bersama, menulis refleksi, menceritakan kembali isi bacaan, serta membuat jurnal literasi harian. Pendekatan ini membantu membentuk kebiasaan baru secara alami dan Secara praktik, program ini dilakukan secara bertahap, jadi tim pengabdian akan menyusun rancangan program literasi Karena dilakukan jam ke 0 pembelajaran maka akan dibuat jadwal terkait dengan literasi membaca, menulis maupun menceritakan Untuk buku bacaan, selain berasal dari pihak sekolah, tim pengabdian juga berupaya untuk menambah koleksi bacaan peserta didik di MI Al Hikam. Ketiga, digunakan pendekatan kolaboratif dan mentoring. Tim pengabdian berperan sebagai fasilitator yang mendampingi guru MI Al Hikam dalam merancang kegiatan literasi kreatif, menyusun jadwal rutin, serta Kolaborasi ini juga melibatkan orang tua dan masyarakat agar kegiatan literasi tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi berlanjut di rumah dan lingkungan sekitar. Keempat, strategi ini juga menekankan pemanfaatan potensi lokal dan media Buku bacaan, cerita rakyat, atau hasil karya siswa digunakan sebagai sumber belajar yang kontekstual. Hal ini bertujuan menumbuhkan rasa memiliki terhadap kegiatan literasi serta memperkuat identitas lokal dalam proses pembelajaran. Selain itu, proses pendampingan disertai dengan monitoring dan evaluasi berkala, untuk menilai perkembangan kendala, serta memberikan umpan balik yang konstruktif bagi guru dan siswa. Melalui strategi-strategi tersebut, kegiatan pendampingan diharapkan mampu membangun kemandirian sekolah dalam melanjutkan Program Literasi Pagi, sekaligus menciptakan budaya literasi yang hidup, menyenangkan, dan berkelanjutan di lingkungan pendidikan. Langkah-langkah dalam Pendampingan Pelaksanaan pendampingan guru MI Al Hikam dalam implementasi program Literasi Pagi dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang terencana dan sistematis, agar kegiatan memberikan hasil yang berkelanjutan. Setiap keterlibatan aktif seluruh pihak, mulai dari tenaga pendidik, peserta didik, hingga masyarakat sekitar sekolah. Tahap Persiapan Analisis Kebutuhan Langkah awal pendampingan diawali dengan kegiatan koordinasi bersama pihak sekolah dan pemangku kepentingan terkait. Pada tahap ini dilakukan observasi awal, wawancara, dan identifikasi kebutuhan dari tim pengabdian untuk mengetahui kondisi literasi di sekolah MI Al Hikam. Tim pengabdian juga memetakan potensi dan permasalahan yang dihadapi, baik dari sisi siswa, guru, maupun fasilitas pendukung kegiatan literasi. Hasil analisis ini menjadi dasar dalam penyusunan program pendampingan yang relevan dan tepat Tahap Perencanaan Program Setelah kebutuhan teridentifikasi, tim pengabdian bersama pihak sekolah menyusun rencana kegiatan Literasi Pagi. Tahapan ini pembagian peran antara guru dan tim Perencanaan juga mencakup penyediaan media literasi sederhana, seperti pojok baca kelas, jurnal literasi siswa, dan lembar refleksi membaca. Tahap Pelaksanaan Pendampingan Tahap ini merupakan inti dari kegiatan Penulis melaksanakan pelatihan dan pendampingan kepada guru MI Al Hikam untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola kegiatan Literasi Pagi. Guru dan siswa kemudian melaksanakan kegiatan literasi setiap pagi, seperti membaca bersama, menulis ringkasan, menceritakan isi bacaan, atau berbagi cerita inspiratif. Dengan jadwal tertentu penulis atau tim pengabdian kepada STAINU Madiun memastikan pelaksanaan berjalan lancar, serta memberikan contoh strategi literasi yang kreatif dan menyenangkan melalui games kelompok atau memberikan reward sebagai apresiasi pendidik terhadap peserta didik yang aktif dalam kegiatan literasi pagi. Tahap Monitoring dan Evaluasi Monitoring dilakukan secara berkala untuk menilai sejauh mana kegiatan literasi berjalan sesuai rencana. Evaluasi dilakukan melalui observasi, wawancara, dan pengumpulan data hasil kegiatan siswa. Tahap ini bertujuan mengidentifikasi keberhasilan, kendala, serta memberikan umpan balik bagi guru dan siswa. Hasil evaluasi juga menjadi bahan perbaikan dalam pelaksanaan kegiatan berikutnya. Untuk tahap monitoring dan evaluasi dilakukan oleh tim pengabdian masyarakat STAINU Madiun secara berkala, yakni 1 minggu setelah program berjalan, kemudian 1 bulan setelah program berjalan. Tahap Refleksi dan Keberlanjutan Program Pada tahap akhir, dilakukan kegiatan refleksi bersama guru di MI Al Hikam dan siswa untuk menilai manfaat program serta merumuskan langkah keberlanjutan setelah pendampingan berakhir. Sekolah didorong untuk menjadikan Literasi Pagi sebagai program rutin dan bagian dari budaya sekolah. Tim pengabdian juga memberikan panduan dan modul sederhana agar program dapat dijalankan secara mandiri oleh sekolah. Dengan melalui tahapan-tahapan tersebut, pendampingan diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi siswa, tetapi juga memperkuat kapasitas guru dan sekolah dalam membangun ekosistem belajar yang literat, mandiri, dan berkelanjutan. Khalayak Sasaran Adapun khalayak sasaran dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan fokus pada pendampingan Guru MI Al Hikam Kecamatan Geger. Kabupaten Madiun ini adalah para tenaga pendidik, peserta didik dan seluruh stake holder sekolah MI Al Hikam serta orang tua dan warga sekitar. Melalui mereka program litarasi pagi ini diharapkan dapat terselenggara dengan maksimal dan dapat menghasilkan output sebagaimana yang diharapkan bersama. Orang tua dan masyarakat sekitar dilibatkan dalam program pengabdian ini karena monitoring pada peserta didik tidah berhenti pada gerbang sekolah, melainkan di dalam rumah mereka juga perlu untuk dimonitoring bagaimana kemampuan literasinya. Metode Kegiatan Metode kegiatan pengabdian masyarakat ini dirancang dengan pendekatan partisipatif, kolaboratif, dan edukatif, yang menempatkan guru, siswa, serta masyarakat sekolah sebagai mitra aktif dalam setiap tahapan kegiatan. Pendekatan ini dipilih agar program Literasi Pagi tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi dapat bertransformasi menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan di lingkungan Secara umum, metode kegiatan terdiri atas beberapa bentuk kegiatan utama sebagai Observasi dan Analisis Kebutuhan Tahap awal dilakukan dengan observasi langsung di sekolah mitra untuk mengidentifikasi kondisi awal budaya literasi, ketersediaan sarana, serta tingkat partisipasi guru dan siswa dalam kegiatan Hasil analisis kebutuhan ini menjadi dasar dalam penyusunan strategi dan materi pendampingan yang sesuai dengan karakteristik sekolah. Pelatihan dan Workshop Literasi Metode pelatihan digunakan untuk meningkatkan kapasitas guru dalam mengelola kegiatan literasi yang kreatif dan Melalui workshop, guru dibimbing dalam merancang kegiatan Literasi Pagi, membuat media literasi sederhana, dan mengembangkan pendekatan pembelajaran yang menyenangkan. Kegiatan ini juga memberikan ruang diskusi dan berbagi pengalaman antar guru. Dalam hal ini tim pengabdian masyarakat STAINU Madiun melakukan pelatihan awal dengan para guru di MI Al Hikam tentang pentingnya literasi. Pendampingan dan Mentoring Pendampingan langsung di sekolah melalui kegiatan praktik Literasi Pagi. Tim pengabdian berperan mendampingi guru dan siswa dalam pelaksanaan kegiatan membaca, menulis, dan berbagi cerita. Pendekatan mentoring ini memungkinkan terjadinya transfer pengalaman dan pembelajaran yang kontekstual sesuai kebutuhan lapangan. Evaluasi dan Refleksi Kegiatan Evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas kegiatan dan mengidentifikasi dampak yang telah dicapai. Data wawancara, serta dokumentasi hasil karya Selanjutnya, dilakukan refleksi bersama antara tim pengabdian dan pihak keberlanjutan program Literasi Pagi secara Melalui kombinasi metode pelatihan, pendampingan, dan kolaborasi ini, kegiatan pengabdian masyarakat diharapkan dapat menciptakan perubahan nyata dalam membangun budaya literasi yang kuat di Metode ini menekankan bahwa pemberdayaan pendidikan harus bersifat partisipatif, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan lokal agar mampu memberikan dampak yang berkelanjutan. HASIL DAN PEMBAHASAN Dampak Perubahan Pelaksanaan masyarakat dengan pendampingan Guru MI Al Hikam dalam implementasi Program Literasi Pagi telah memberikan berbagai dampak perubahan positif berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan baik pihak sekolah maupun tim pengabdian, baik pada peserta didik, guru, maupun lingkungan sekolah secara keseluruhan. Perubahan ini tidak hanya terlihat dalam peningkatan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga dalam terbentuknya kebiasaan, sikap, dan budaya belajar yang lebih aktif dan reflektif. Bagi peserta didik, pendampinan ini menumbuhkan semangat dan minat baca yang lebih tinggi. Siswa mulai terbiasa meluangkan waktu setiap pagi untuk membaca dan menulis ringkasan sederhana dari buku yang mereka pilih. Mereka juga mengungkapkan pendapat, menceritakan isi bacaan, serta menulis gagasan secara Selain itu, mading sekolah terlihat penuh oleh tulisan-tulisan hasil karya siswa-siswi di MI Al Hikam. Perubahan ini menunjukkan tumbuhnya karakter gemar membaca, rasa ingin tahu, dan kemampuan berpikir kritis yang semakin berkembang. Bagi pendidik, kegiatan pendampingan memberikan dampak berupa peningkatan kreativitas dan profesionalisme dalam proses pembelajaran. Guru menjadi lebih terampil dalam mengintegrasikan kegiatan literasi ke dalam pelajaran, serta mampu memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar sederhana untuk mendukung kegiatan Literasi Pagi. Selain itu, guru menunjukkan sikap lebih reflektif dan kolaboratif dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan literat. Dari sisi lingkungan sekolah, perubahan yang paling menonjol adalah tumbuhnya ekosistem literasi yang lebih hidup. Sekolah mulai memiliki pojok baca di setiap kelas, dinding-dinding dihiasi karya tulis siswa, dan kegiatan literasi menjadi bagian dari rutinitas harian sebelum pembelajaran Interaksi antara guru, siswa, dan orang tua pun semakin erat karena literasi kini menjadi kegiatan bersama yang membawa nilai edukatif dan moral. Selain itu, muncul dampak sosial yang lebih luas, yaitu meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya Orang tua mulai terlibat dalam mendukung kebiasaan membaca anak di rumah, sementara komunitas lokal ikut serta menyediakan bahan bacaan dan kegiatan literasi sederhana. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi bukan hanya pada individu, tetapi juga pada sistem sosial di sekitar sekolah. Secara keseluruhan, pendampingan guru MI Al Hikam dalam implementasi program Literasi Pagi telah menciptakan perubahan nyata dari kebiasaan membaca yang semula bersifat instruksional menjadi kegiatan yang menyenangkan dan membudaya. Dampak perubahan ini memperlihatkan bahwa melalui pendekatan pendampingan partisipatif dan berbasis kebutuhan lokal, literasi dapat menjadi motor penggerak pembentukan karakter peserta didik yang cerdas, mandiri, dan berdaya saing. Diskusi Keilmuan Literasi memegang peran kunci dalam pendidikan, dan kemampuan membaca adalah salah satu fondasi utama bagi kesuksesan akademis. Gerakan literasi sekolah merupakan salah satu inisiatif pemerintah Indonesia saat ini, seiring dengan perubahan kurikulum yang ada di Di era informasi ini, kemampuan membaca bukan hanya soal mengenali huruf dan kata, tetapi juga soal memahami dan menganalisis informasi yang kompleks. Program membaca atau literasi setiap pagi adalah kegiatan yang mengajak seluruh siswa untuk meluangkan waktu sejenak membaca buku sebelum memulai kegiatan Setiap pagi, sebelum bel sekolah berbunyi, siswa diberi kesempatan untuk membaca buku pilihan mereka selama sekitar 15-20 menit. Buku-buku yang tersedia mencakup berbagai genre sehingga setiap siswa dapat menemukan bacaan yang menarik dan sesuai dengan minat mereka. Guru dan staf perpustakaan berperan aktif dalam merekomendasikan buku dan memantau kemajuan membaca siswa. Program Literasi Pagi merupakan salah satu bentuk kegiatan pemberdayaan penguatan budaya literasi di lingkungan Secara konseptual, literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup keterampilan berpikir kritis, kehidupan sehari-hari. Menurut UNESCO . , literasi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, mencipta, berkomunikasi, dan menghitung menggunakan bahan cetak dan tulisan yang Dengan demikian, literasi pembentukan sumber daya manusia yang Literasi memiliki banyak manfaat, salah satunya yakni dapat melatih diri untuk dapat terbiasa dalam membaca serta juga dapat membiasakan seseorang untuk dapat menyerap informasi yang dibaca dan dirangkum dengan menggunakan bahasa yang dipahaminya. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa literasi merupakan menggunakan potensi serta keterampilan dalam mengolah dan juga memahami informasi saat melakukan kegiatan atau aktivitas membaca dan menulis (Alif Lukmanul Hakim, dkk: 2. Dalam konteks pendidikan dasar, kegiatan Literasi Pagi menjadi strategi efektif untuk menanamkan kebiasaan Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek, 2. melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS) membaca 15 menit sebelum pelajaran Aktivitas ini diyakini mampu meningkatkan kemampuan memahami teks, memperluas wawasan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap pengetahuan. Secara keilmuan, program ini berakar pada teori pembelajaran konstruktivistik, di mana proses belajar dipandang sebagai hasil konstruksi aktif peserta didik terhadap pengalaman nyata. Kegiatan literasi pagi memberikan ruang bagi siswa untuk membangun pemahaman melalui aktivitas membaca, menulis, dan berdiskusi yang Dengan demikian, literasi tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi juga proses membangun makna yang melibatkan pengalaman pribadi, sosial, dan budaya peserta didik. Dari pendekatan konstruktivistik memberikan pijakan penting: siswa sebagai subjek aktif pengalaman membaca, menulis, dan berdiskusi . erinspirasi dari Piaget. Vygotsk. Dalam program literasi pagi, siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan membaca bersama, menulis refleksi, atau berbagi cerita maka pembelajaran bukan hanya rutinitas pasif tetapi aktivitas bermakna yang menghubungkan teks, pemikiran, dan kehidupan sosial. Di sisi pemberdayaan masyarakat, pendekatan (Aucommunity-based educationA. menekankan pentingnya partisipasi aktif guru, siswa, orang tua, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem belajar yang inklusif dan berkelanjutan . erinspirasi dari Freire Program literasi pagi bukan hanya untuk siswa, tetapi memposisikan sekolah sebagai agen komunitas yang mendorong budaya baca bersama dan kolaborasi antara sekolah rumah komunitas. Dari sisi pemberdayaan, program Literasi Pagi selaras dengan pendekatan community based education, di mana pendidikan dikembangkan berdasarkan partisipasi dan kebutuhan masyarakat setempat (Freire, 1. Pendampingan dalam kegiatan literasi tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga memberdayakan guru dan siswa sebagai agen perubahan yang berperan aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang literat. Hal ini sejalan dengan pandangan Tilaar . bahwa pendidikan berbasis masyarakat merupakan upaya strategis untuk menumbuhkan kesadaran kritis dan kemandirian sosial. Selain itu. Program Literasi Pagi memiliki relevansi dengan konsep school as learning community, yaitu sekolah sebagai komunitas belajar yang saling berbagi dan tumbuh bersama (Sato, 2. Melalui kegiatan literasi bersama, guru, siswa, dan orang tua membentuk interaksi yang Pendekatan ini memperkuat iklim sekolah yang kolaboratif dan berorientasi pada pembentukan karakter. Dengan dasar keilmuan tersebut, kegiatan Literasi Pagi tidak hanya menjadi kegiatan teknis membaca sebelum belajar, melainkan bagian dari gerakan pendidikan Program ini berkontribusi dalam menumbuhkan budaya berpikir reflektif, memperkuat nilai-nilai karakter, dan membangun ekosistem pendidikan yang literat dan inklusif. Oleh karena itu, pengabdian masyarakat dalam bidang ini merupakan wujud nyata sinergi antara teori pendidikan, praktik pembelajaran, dan pemberdayaan masyarakat sekolah. Gambar: Pelaksanaan Pendampingan pada Guru MI Al Hikam dalam Implementasi Program Literasi Pagi (Sumber: gambar asli peneliti ) dengan mata pelajaran, serta terampil Hal ini memperkuat peran guru sebagai fasilitator literasi di kelas sekaligus agen perubahan dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang literat. Secara pemberdayaan pendidikan melalui literasi pagi meningkatkan mutu pendidikan di tingkat Literasi bukan hanya kegiatan membaca, melainkan proses membentuk pola pikir, karakter, dan kemampuan adaptif siswa terhadap perubahan zaman. Keberhasilan pengembangan kegiatan literasi di sekolah lain, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan generasi yang cerdas, kritis, dan berdaya saing. UCAPAN TERIMA KASIH SIMPULAN Sebagaimana penjelasan di atas dan hasil pengabdian kepada masyarakat yang telah tim pengabdian masyarakat STAINU Madiun lakukan di salah satu sekolah ibtidaiyyah swasta yang berada di Kecamatan Geger. Kabupaten Madiun yakni MI Al Hikam, maka dapat disimpulkan bahwa pengabdian ini telah memberikan kontribusi nyata terkait dengan budaya literasi di sekolah yang bersangkutan sebagaimana hasil laporan dan monitoring pihak sekolah dan tim pengabdian Pendampingan terhadap guru memberikan dampak positif terhadap peningkatan profesionalisme dalam pembelajaran berbasis literasi. Guru menjadi lebih kreatif dalam memilih bahan bacaan, mampu mengintegrasikan kegiatan literasi Berdasarkan kegiatan pengabdian masyarakat melalui Program Literasi Pagi, terdapat beberapa saran dan rekomendasi yang dapat menjadi acuan bagi keberlanjutan dan pengembangan program di masa mendatang: Bagi Sekolah Mitra Sekolah diharapkan dapat menjadikan kegiatan literasi pagi sebagai program rutin dan terintegrasi dalam budaya sekolah. Kegiatan ini sebaiknya tidak hanya dilaksanakan secara seremonial, tetapi Sekolah menyediakan pojok baca atau sudut literasi di setiap kelas, memperkaya bahan bacaan sesuai tingkat kemampuan siswa, dan mengadakan kegiatan literasi tematik yang menarik seperti story telling day, reading challenge, atau book talk. Bagi Guru Guru diharapkan terus meningkatkan digitalnya agar mampu merancang kegiatan literasi yang kreatif, variatif, dan relevan dengan konteks kehidupan siswa. Pelatihan rutin dan forum berbagi praktik baik . haring sessio. antar guru perlu digalakkan untuk saling bertukar ide dan strategi pembelajaran literasi yang efektif. Guru juga dapat memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses terhadap bahan bacaan dan sumber belajar digital. Bagi Siswa Siswa diharapkan dapat mempertahankan kebiasaan membaca setiap pagi baik di sekolah maupun di rumah. Kegiatan literasi bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup belajar sepanjang hayat . ifelong learnin. Diharapkan siswa semakin aktif dalam menulis, berdiskusi, dan mengekspresikan pemahaman mereka melalui berbagai media kreatif seperti jurnal harian, poster literasi, atau vlog edukatif. DAFTAR PUSTAKA