JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Tahun . Vol. No. Halaman . - . E-ISSN: PENERBIT IPI PRESS PELATIHAN PENANGANAN CEREBRAL PALSY (CP) BAGI ORANG TUA DI KECAMATAN KLOJEN KOTA MALANG Sri Wahyuni. Sekolah Tinggi Pastoral Yayasan IPI. Malang. Indonesia Corresponding Autor: Name : Sri Wahyuni E-mail : sriwahyuni19370@gmail. Article History: Submit : April 2024 Revision : August 2024 Accepted : December 2024 Published : March 2025 semnas@stp-ipi. Copyright A 2025 STP- IPI Malang Penulis Koresponden: Nama : Sri Wahyuni Surel : sriwahyuni193702gmail. Histori Artikel: Submit : April 2024 Revisi : Agustus 2024 Diterima : Desember 2024 Terbit : Maret 2024 semnas@stp-ipi. Copyright A 2025 STP- IPI Malang Abstract Therapy activities by parents of persons with disabilities in Klojen Subdistrict have been running, but this activity is not maximized due to limited experts. The purpose of this service is to train parents to be able to handle people with cerebral palsy accordingly so that they can develop according to their abilities. The training method used is the case discussion method, lectures, questions and answers and practice. The results obtained are parents are able to train people with cerebral palsy in the field of gross motor development and joint mobilization. This result can be seen from the difference in pre-test and post-test scores and the value of practical results. The conclusion is that there are many things obtained by parents because so far they have only relied on therapists to treat their children but since receiving training they have tried to train themselves so they can save on therapy costs. The author's suggestion is that participants who have attended the training should be able to practice the results of this training so that they can help people with Cerebral Palsy to develop according to their circumstances Keywords: Cerebral Palsy. Parents. Training Abstrak Kegiatan terapi oleh orang tua penyandang disabilitas di Kecamatan Klojen sudah berjalan hanya saja kegiatan ini kurang maksimal pelaksanaanya karena terbatasnya tenaga ahli. Tujuan dari pengabdian ini adalah melatih orang tua agar bisa menangani para penyandang cerebral palsy sesuai sehingga mereka dapat berkembang sesuai dengan kemampuan yang Metode pelatihan yang digunakan adalah metode pembahasan kasus, ceramah, tanya jawab dan praktek. Hasil yang didapat adalah orang tua mampu melatih penyandang cerebral palsy dalam bidang perkembangan motorik kasar dan mobilisasi sendi. Hasil ini dapat dilihat dari selisih nilai pretest dan posttest serta nilai hasil praktek. Kesimpulannya bahwa banyak hal yang didapat oleh orang tua karena selama ini mereka hanya mengandalkan tenaga terapis saja untuk menangani anak-anaknya tetapi sejak mendapat pelatihan mereka berusaha melatih sendiri dengan demikian bisa menghemat biaya terapi. Saran penulis, peserta yang telah mengikuti pelatihan harus bisa mempraktekkan hasil pelatihan ini agar banyak menolong penyandang Cerebral Palsy untuk bisa berkembang sesuai dengan keadaannya Kata Kunci: Cerebral Palsy. Orang tua. Pelatihan Sri Wahyuni | Pelatihan Penanganan CP Tahun . Vol. No. Halaman . E-ISSN: 26543214 PENDAHULUAN Data penyandang disabilitas di kecamatan Klojen sampai tahun 2020 menurut Dinas Sosial kota Malang ada 254 penyandang disabilitas dan tersebar di beberapa kelurahan. Dari 254 penyandang disabilitas ini 104 diantaranya adalah penyandang tunadaksa dan 15 diantaranya adalah cerebral palsy . Cerebral Palsy atau biasa disingkat CP adalah suatu kelainan gerak yang tidak progresif yang disebabkan oleh kerusakan atau gangguan pada sel-sel motorik dari susunan saraf pusat . saat otak masih dalam proses perkembangan akibat permasalahan saat kehamilan, trauma proses kelahiran dan trauma setelah lahir sampai usia lima tahun. Gangguan ditandai dengan perkembangan motorik yang abnormal atau terlambat, seperti athetoid paraplegia, spastic atau tetraplegic, yang sering disertai dengan retardasi mental, kejang atau ataksia(Sri Wahyuni, 2. Karena kerusakan otak yang dideritanya, penyandang Cerebral Palsy membutuhkan intervensi terapi seumur hidup sehingga jika dihentikan maka akan memperburuk keadaan fisiknya. Tidak seluruh otak rusak, hanya bagian-bagian tertentu terutama bagian yang mengontrol gerakan. Keadaan fisik yang bisa memburuk ini antara lain adalah mundurnya kemampuan motorik atau kemampuan motorik tidak berkembang, munculnya kontraktur atau pemendekan pada otot maupun jaringan sendi serta mundurnya keseimbangan. Penanganan sejak dini biasanya memberi hasil baik, namun adanya gangguan perkembangan mental dapat menghalangi tercapainya tujuan penanganan. Otot-otot menerima instruksi yang salah dari bagian otak yang rusak, hal ini menimbulkan kekakuan atau justru lemasnya otot-otot, tetapi otot tersebut tidak lemah. Begitu rusak, bagian-bagian otak tidak pulih, dan juga tidak bertambah parah. Namun gerakan-gerakan, posisiposisi tubuh dan masalah-masalah yang berkaitan dapat membaik atau bertambah parah tergantung dari bagaimana kita merawat anak dan seberapa parah kerusakan yang terjadi pada otak. Semakin dini kita mulai, semakin banyak perbaikan yang dapat dilakukan. Pentingnya pendekatan multidisiplin dalam penanganan penderita cerebral palsy, seperti dokter saraf, dokter mata, ahli mata. THT, bedah tulang, bedah saraf, psikolog, ahli wicara, fisioterapi, pekerja sosial, guru sekolah luar biasa Para orang tua dari penyandang disabilitas yang ada di kecamatan Klojen telah membentuk satu paguyuban orang tua penyandang disabilitas yaitu paguyuban orang tua AuSinar MuliaAy. Paguyuban ini ada sejak tahun 2016 untuk mewadahi para orang tua agar bisa berkumpul untuk mengadakan kegiatan. Salah satu kegiatan mereka adalah kegiatan terapi yang dipusatkan di salah satu ruangan di kantor kecamatan Klojen tetapi kegiatan ini kurang begitu maksimal pelaksanaannya karena terbatasnya tenaga yang berkompeten. Selain kegiatan terapi seminggu sekali yaitu setiap hari sabtu, juga ada kegiatan fasilitasi terapi yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial bagian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos- P3AP2KB). Staf Pengelola dan Pelayanan Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Malang. Ahmad Fauzi mengatakan bahwa penyelenggaraan terapi ini diikuti 50 anak yang didampingi keluarganya. 50 anak penyandang disabilitas tersebut antara lain disabilitas tunarungu wicara, tunagrahita, tunadaksa/CP, autis dan hiperaktif. Dengan adanya fasilitas terapi. Ahmad Fauzi berharap penyandang disabilitas bisa terbantu dan memaksimalkan bantuan dari pemerintah Kota Malang melalui Dinsos-P3AP2KB. Sementara itu bu Nur Puskesos Kelurahan Kasin menyampaikan bahwa penyandang disabilitas di Kecamatan Klojen sebenarnya cukup banyak namun ada prioritas bagi penyandang disabilitas yang tidak mampu untuk diberikan pelayanan terapi (Klojen, 2. Kegiatan terapi ini dilaksanakan setiap satu bulan sekali dengan tujuan untuk melatih orang tua tetapi kegiatan ini telah dihentikan sejak bulan Juni 2021. Penghentian kegiatan fasilitasi terapi ini tentu berdampak pada tidak terkontrolnya orang tua dalam menangani putra-putrinya di rumah terutama pada penyandang disabilitas tuna daksa jenis Cerebral Palsy karena penyandang disabilitas ini membutuhkan intervensi seumur hidup. Memiliki putra-putra yang menyandang cerebral palsy memang memerlukan intervensi yang bermacammacam karena biasanya problem sekunder yang mengikuti sangatlah banyak antara lain masalah penglihatan, masalah pendengaran, masalah makan dan bicara, masalah pertumbuhan badan dan masalah keterlambatan perkembangan kognitif (Wahyuni, n. Cara mengatasi problem-problem sekunder ini dibutuhkan keahlian khusus yang biasanya hanya dimiliki oleh orang-orang ahli sementara penyandang Cerebral Palsy lebih banyak waktunya bersama dengan orang tua dan orang tua seringkali Sri Wahyuni | Pelatihan Penanganan CP Tahun . Vol. No. Halaman . - . E-ISSN: 2654-3214 tidak memiliki keterampilan itu. Orang tua terutama Ibu biasanya yang memiliki peran besar dalam mengembangkan kemampuan anak nya. Hampir di semua kehidupannya, anak Cerebral Palsy membutuhkan orang lain untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Keluarga menjadi orang yang utama di untuk membantu penyandang Cerebral Palsy, oleh karena itu keluarga terutama Ibu harus mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum merawat, melatih dan mendidik anaknya(Prasetyaningrum. Melihat situasi ini penulis tergerak untuk mengaplikasikan mata kuliah pastoral tunaganda yang selama ini merupakan mata kuliah pokok di STP IPI Malang yang memang dirancang untuk membantu para penyandang disabilitas bisa berkembang. Penulispun bekerjasama dengan Ketua paguyuban orang tua Sinar Mulia mengajukan proposal pelatihan kepada Bapak Camat kecamatan Klojen melalui Musrembang untuk mengadakan pelatihan bagi para orang tua penyandang disabilitas maupun orang tua penyandang disabilitas lain yang dianggap cukup cakap dan memiliki komitmen untuk mau menangani penyandang disabilitas cerebral palsy dengan harapan mereka nanti bisa melaksanakan kegiatan terapi yang akan diadakan satu minggu sekali setiap hari sabtu secara bergantian sesuai dengan jadual yang ditentukan. Selain karena kurangnya tenaga ahli dan kegiatan terapi dari Dinas Sosial yang sudah diberhentikan, alasan lain adalah mahalnya biaya terapi bagi para penyandang disabilitas karena mayoritas orang tua yang masuk dalam paguyuban adalah orang tua dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Dalam kegiatan pelatihan ini tidak semua materi penanganan Cerebral Palsy diberikan mengingat terbatasnya waktu dan pemateri. Adapun materi-materi yang diberikan adalah . Pengantar tunadaksa . Cerebral Palsy . Latihan mobilisasi sendi . Latihan perkembangan gerak atau motorik kasar. Agar peserta semakin memahami siapa saja yang termasuk tunadaksa maka diberikan pengantar terlebih Tunadaksa merupakan gangguan atau kerusakan pada otot, tulang dan persendian yang dapat mengakibatkan gangguan pada koordinasi, komunikasi, adaptasi dan mobilisasi sendi (Satria Kamal Ahmad. Cholicul Hadi. Adelina, 2. Salah satu gangguan yang disebutkan dari definisi tersebut adalah gangguan mobilisasi sendi. Mobilisasi sendi adalah teknik manual terapi yang terdiri dari rangkaian kemampuan gerak pasif dari suatu sendi atau jaringan lunak . tau keduany. yang digerakkan dengan kecepatan dan amplitudo yang bervariasi (Mirza, 2. Latihan mobilisasi diberikan kepada anak Cerebral Palsy yang mengalami kontraktur atau pemendekan otot karena posisi yang menetap dalam jangka waktu lama atau mengalami ketidaknormalan tonus otot. Kontraktur adalah kelainan atau pemendekan permanen dari otot atau sendi yang terjadi saat jaringan lunak di bawah kulit berkurang kelenturannya dan tidak dapat meregang. Kondisi ini juga dapat mengenai tendon dan ligamen, dan dapat terjadi di seluruh bagian tubuh. Selain masalah mobilisasi sendi, penyandang Cerebral Palsy juga akan mengalami masalah dengan perkembangan geraknya. Motorik kasar atau perkembangan gerak merupakan gerak motorik yang melibatkan otot besar dalam tubuh meliputi otot tungkai kaki dan otot lengan(Suhartini, 2. Perkembangan gerak atau motorik akan mengalami keterlambatan atau bahkan tidak bisa dilakukan oleh anak Cerebral Palsy jika tidak mendapatkan rangsangan dari luar akibat kerusakan otak tersebut. Perkembangan gerak atau motorik kasar yang harus dilalui oleh setiap anak tidak terkecuali anak Cerebral Palsy adalah dimulai dari kontrol kepala, berguling, duduk, merangkak, berdiri, berjalan serta pengembangan aktivitas berjalan seperti melompat, berjalan mundur dan lain-lain. Tidak semua anak Cerebral Palsy akan melalui tahap-tahap perkembangan motorik di atas karena semua tergantung dari tingkat berat ringannya kasus, oleh karena itu dengan pelatihan ini diharapkan orang tua lebih memahami masalah yang dialami oleh anaknya. METODE Metode yang digunakan dalam kegiatan pelatihan ini adalah dengan mix method. Yaitu di awali dengan pretest untuk mengetahui apakah para orang tua yang ikut pelatihan sudah paham dengan apa yang dimaksud dengan tunadaksa. Cerebral Palsy, mobilisasi sendi dan perkembangan gerak. Metode yang kedua adalah pembahasan kasus dengan cara berdiskusi. Metode yang ketiga adalah ceramah kemudian tanya jawab dan praktek antar peserta serta praktek dengan penyandang Cerebral Palsy. Setelah pelatihan maka diberikan posttest untuk mengetahui seberapa banyak materi yang diserap atau dipahami oleh peserta. Sri Wahyuni | Pelatihan Penanganan CP Tahun . Vol. No. Halaman . - . E-ISSN: 2654-3214 PROSES KEGIATAN Identifikasi kebutuhan/masalah Untuk mengetahui permasalahan yang ada, penulis mengadakan pembicaraan dengan beberapa orang tua penyandang disabilitas Cerebral Palsy yaitu Ibu Siti Fauziah. Ibu Iswanti dan Ibu Sunarsih selaku ketua Paguyuban serta Bapak Robiansyah selaku sie bidang penanganan penyandang disabilitas wilayah kecamatan Klojen. Adapun permasalahan yang bisa dirangkum adalah sebagai berikut: Orang tua merasa bahwa biaya terapi saat ini sangat mahal. Kurangnya tenaga pelaksana kegiatan terapi yang sudah diselenggarakan oleh paguyuban sehingga kegiatan terapi selama ini kurang lancar sementara para penyandang disabilitas fisik khususnya Cerebral Palsy harus mendapatkan terapi seumur hidup. Kegiatan terapi yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial diberhentikan sejak bulan Juni 2022. Banyak orang tua yang berminat sebagai tenaga pelaksana terapi tetapi mereka minim pengetahuan. Penyandang Cerebral Palsy memerlukan berbagai jenis penanganan sesuai dengan problem sekunder yang mereka alami Permasalahan kunci Adapun permasalahan kunci yang sangat membutuhkan solusi segera adalah bahwa intervensi pada penyandang Cerebral palsy ini harus tetap diberikan karena jika mereka tidak mendapatkan intervensi maka akan terjadi kemunduran kondisi baik secara fisik maupun yang lainnya sehingga membuat anak tidak bisa mengembangkan kemampuan yang masih dimilikinya. Langkah Perencanaan Kegiatan Melihat permasalahan yang ada maka Bapak Robiansyah mengadakan pembicaraan dengan pihak-pihak terkait di Kecamatan Klojen untuk merencanakan kegiatan pelatihan dengan meminta kegiatan ini dimasukkan dalam musrembang kecamatan Klojen dan akhirnya mendapatkan persetujuan oleh Bapak Camat untuk diadakan pelatihan. Agar pelaksanaan kegiatan berjalan lancar maka penulis. Ibu Sunarsih dan Bapak Robiansnyah mengadakan pembagian tugas. Penulis bertugas memberikan materi sehingga yang penulis siapkan adalah jadual kegiatan serta materi yang akan diberikan. Kemudian Ibu Sunarsih bertugas untuk mendata peserta yang terdiri dari orang tua penyandang Cerebral Palsy serta orang tua penyandang disabilitas lain yang bersedia dan mendapatkan 15 orang tua dan 5 yang lain yaitu 1 TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Tingkat Kecamata. , 1 tenaga kesos (Kesejahteraan socia. dan 3 PSM (Pekerja Sosial Masyaraka. dan, sedangkan Bapak Robiansyah dibantu staf nya menyiapkan fasilitas tempat dan konsumsi Tabel 1. Jadual kegiatan pelatihan penanganan Cerebral Palsy Hari dan Tanggal Waktu Materi Pemateri Senin 27 Juni 2022 Selasa 28 Juni 2022 Rabu 29 Juni 2022 Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Kamis 30 Juni 2022 08,00-12. Pre tes. Analisa kasus dan masalah CP Teori tunadaksa dan Cerebral Palsy Perkembangan motorik kasar dan mobilisasi sendi Praktek dengan penyandang CP Jumat 1 Juli 2022 Pembahasan kasus dan post test Sri Wahyuni Sri Wahyuni Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan pelatihan diadakan selama 5 hari dengan pembagian jadwal sebagai berikut: Pada hari pertama kegiatan diawali dengan melakukan pretest terhadap seluruh peserta yang berjumlah 24 peserta kemudian ditampilkan foto-foto para penyandang Cerebral Palsy yang berada di wilayah kecamatan Klojen kemudian peserta diminta untuk menganalisa kasus dan masalah-masalah yang dialami oleh para penyandang Cerebral Palsy tersebut baik secara fisik maupun non fisik. Ada sekitar 4 foto Sri Wahyuni | Pelatihan Penanganan CP Tahun . Vol. No. Halaman . - . E-ISSN: 2654-3214 penyandang Cerebral Palsy yang dianalisa kasus juga masalah-masalahnya dan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan kemudian dilanjutkan dengan pengantar tunadaksa secara umum meliputi definisi, faktor penyebab dan jenis-jenis tunadaksa. Hari kedua mulai masuk dengan teori tunadaksa dan teori cerebral palsy yang berisi tentang definisi, jenis-jenis, problem yang menyertai cerebral palsy. Hari ketiga masuk dengan teori latihan perkembangan motorik kasar pada cerebral palsy dan mobilisasi sendi untuk spastik dan kontraktur. Pada hari keempat melihat video perkembangan motorik kasar dan praktek mobilisasi sendi bersama dengan penyandang Cerebral Palsy. Hari kelima pembahasan kasus dengan cara penyelesaiannya dan diakhiri dengan post test HASIL KEGIATAN Berikut ini akan penulis laporkan hasil kegiatan pelatihan penanganan Cerebral Palsy. Hasil pretest dan posttest materi perkembangan mottorik kasar dan mobilisasi sendi untuk cerebral Tabel 2. Hasil pretest dan posttest peserta pelatihan penanganan Cerebral Palsy Nama Peserta Masirah Nurul Aini Ismawati Hartiningsih Riyamah Sunarsih Chotimah Diyah Irawati Nur Hidayah Istiqomah Siti Salamah Indah Puji Astutik Ruza R Yane C Siti Aminah Sikka Nur Siti Fauziah Irawati Fatmawati Titing Rara Sekar Ajeng Rifki Fadilah Diyah Mugi R Lucky Mega Rata-rata Nilai Pre Test 16,25% Nilai Post Test 87,04 Sri Wahyuni | Pelatihan Penanganan CP Tahun . Vol. No. Halaman . - . 8080 8080 8080 80 9090 90 9090 90 90 85 85 8585 E-ISSN: 2654-3214 Mobilisasi Sendi 80 8080 80 80 80 8080 80 8080 8080 80 Perkembangana Motorik Grafik 1. Hasil praktik mobilisasi sendi dan perkembangan motoric Gambar 1. Praktik mobilisasi sendi Gambar 2. Praktik mobilisasi sendi Sri Wahyuni | Pelatihan Penanganan CP Tahun . Vol. No. Halaman . - . E-ISSN: 2654-3214 PEMBAHASAN Pada hari pertama pelatihan saat diadakan pretest ada 7 peserta yang tidak mengerjakan soal dikarenakan tidak tahu menjawab pertanyaan. Mereka sama sekali tidak mengenal Cerebral Palsy. 2 peserta mendapat nilai 5, 7 peserta mendapat nilai 20 dan 8 peserta mendapatkan nilai 30. Kemudian ketika diberikan posttest setelah pelatihan nilai peserta meningkat dimana 6 peserta mendapat nilai 80 dan 18 peserta mendapat nilai 90. Jika melihat hasil pretest ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang Cerebral Palsy memang belum begitu dimengerti oleh masyarakat terutama orang tua sendiri. Yang mereka kenal adalah anaknya mengalami tunadaksa. Dengan diberikannya materi tunadaksa sebagai pengantar ternyata bisa membantu orang tua lebih mengerti bermacam-macam jenis tunadaksa dan Cerebral Palsy adalah salah satu jenisnya. Orang tua memahami bahwa penyandang Cerebral Palsy memiliki problem-problem yang banyak sehingga membutuhkan intervensi yang bermacam-macam karena saat ini mereka hanya fokus pada fisiknya saja. Untuk nilai praktek perkembangan motorik ada 11 peserta yang mendapatkan nilai 80, 4 peserta mendapatkan nilai 85 dan 9 peserta mendapatkan nilai 90. Ini menunjukkan bahwa mereka sungguh-sungguh belajar bagaimana mempraktekkan tahap-tahap perkembangan motorik sehingga ketika mereka nanti menjadi tenaga pelatih sudah tahu latihan apa yang harus diberikan sesuai dengan masalah perkembangan motorik yang dialami anak. Untuk latihan mobilisasi sendi 10 peserta mendapatkan nilai 80, 4 peserta mendapatkan nilai 85 dan 10 peserta mendapatkan nilai 90. Sama seperti praktek latihan perkembangan motorik, pada praktek latihan mobilisasi sendi peserta bisa mempraktekkan dengan baik. Praktek dilakukan pertama-tama dengan peserta sendiri kemudian dengan penyandang Cerebral Palsy. Di hari Terakhir penulis juga memberikan beberapa kasus dan peserta diminta untuk menganalisa masalah kemudian mencari solusi terapi yang sesuai dan hasilnya mereka mampu menganalisa dan mencari solusi yang sesuai. KESIMPULAN Dari hasil pelatihan, dapat disimpulkan bahwa banyak hal yang didapat oleh para peserta karena selama ini mereka hanya mengandalkan tenaga terapis saja untuk menangani anak-anaknya tetapi sejak mendapat pelatihan mereka berusaha melatih sendiri dengan demikian bisa menghemat biaya terapi. Walaupun praktek penanganan yang mereka lakukan belum begitu lancar tetapi mereka berjanji untuk mempraktekkan setiap hari. Untuk orang tua yang mengikuti pelatihan tetapi bukan orangtua penyandang Cerebral Palsy, mereka bersedia menjadi tenaga sukarela untuk memberikan terapi pada anak-anak yang datang ke posko sehingga paguyuban orangtua yang telah dibentuk akan tetap hidup dengan adanya tenaga-tenaga yang telah mendapatkan pelatihan. Tentunya pelatihan ini harus di-follow up praktek kelanjutannya mengingat terbatasnya waktu pelatihan dan tentunya walaupun disebut sama-sama penyandang Cerebral Palsy pada kenyataannya antara satu dengan yang lainnya memiliki permasalahan yang berbeda. Saran penulis, untuk para orang tua maupun tenaga lain yang telah mengikuti pelatihan harus bisa mempraktekkan hasil pelatihan ini agar banyak menolong penyandang Cerebral Palsy untuk bisa berkembang sesuai dengan keadaannya. Jika mengalami kesulitan bisa menghubungi penulis selaku Program kegiatan terapi setiap hari sabtu harus tetap dilanjutkan agar paguyuban orang tua yang sudah dibentuk semakin hidup dan berkualitas karena tidak hanya sekedar berkumpul tetapi kegiatan yang dilakukan betul-betul bermanfaat bagi penyandang disabilitas. UCAPAN TERIMA KASIH