Leni Wijaya. Fudjie Juniarti ANALISIS PENGETAHUAN PERAWAT TERHADAP PENERAPAN DOKUMENTASI ASUHAN KEPERAWATAN BERBASIS SDKI. SIKI DAN SLKI Leni Wijaya1. Fudjie Juniarti2 Program Studi Pendidikan Profesi Ners Tahap Akademik STIKES Mitra Adiguna Palembang Komplek Kenten Permai Blok J No. 9-12 Bukit Sangkal Palembang 30114 Rumah Sakit Pusri Palembang Komplek PT. PUSRI Jl. Mayor Zen Sei Selayur Palembang 30119 Email : leniwijaya1408@gmail. com 1, fudjiejune@gmail. Abstrak Kualitas pendokumentasian asuhan keperawatan melalui standar penerapan 3S (SDKI. SIKI. SLKI) masih banyak yang belum sesuai standar. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi pelaksanaan dokumentasi keperawatan berbasis 3S adalah pengetahuan perawat. Tujuan penelitian adalah ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan perawat terhadap penerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis 3S. Metode penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross Sampel pada penelitian ini adalah perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Pusri yang berjumlah 60 orang, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Analisa penelitian ini menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian ini adalah terdapat hubungan antara pengetahuan perawat terhadap penerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI dan SLKI dengan nilai p-value 0,000 < 0,05. Saran bagi perawat agar dapat termotivasi untuk meningkatkan pengetahuan tentang standar penerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis 3S dengan cara melakukan bedah buku atau mengikuti seminar tentang penerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis 3S serta supervisi rutin dan inhouse training dapat dilaksanakan oleh komite Sehingga perawat dengan pengetahuan yang baik disertai dengan penerapan dokumentasi asuhan keperawatan yang sesuai standar SDKI. SIKI dan SLKI dapat meningkatkan kualitas mutu pelayanan kesehatan yang optimal. Kata kunci: Pengetahuan. Dokumentasi Keperawatan. SDKI. SIKI. SLKI Abstract The quality of nursing care documentation through the implementation of 3S standards (SDKI. SIKI. SLKI) is still largely not in accordance with the standards. One of the main factors that influences the implementation of 3S-based nursing documentation is nurses' knowledge. The purpose of this study was to determine the relationship between nurses' knowledge and the implementation of 3S-based nursing care documentation. This research method uses a correlational design with a cross-sectional approach. The sample in this study were 60 nurses in the Inpatient Room of Pusri Hospital, the sampling technique used was total sampling. The analysis of this study used the Chi-Square test. The results of this study were that there was a relationship between nurses' knowledge and the implementation of SDKI. SIKI and SLKI-based nursing care documentation with a p-value of 0. 000 < 0. Suggestions for nurses to be motivated to increase their knowledge of the implementation of 3S-based nursing care documentation standards by conducting book reviews or attending seminars on the implementation of 3S-based nursing care documentation as well as routine supervision and in-house training can be carried out by the nursing committee. So that nurses with good knowledge accompanied by the implementation of nursing care documentation according to SDKI. SIKI and SLKI standards can improve the quality of optimal health services. Keywords: Knowledge. Nursing Documentation. SDKI. SIKI. SLKI Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Leni Wijaya. Fudjie Juniarti PENDAHULUAN Dokumentasi keperawatan merupakan bagian dari kewajiban perawat, sebab dokumentasi merupakan alat bukti tanggung jawab dan tanggung gugat perawat dalam Sehingga penulisan, pencatatan dan penyusunan dokumentasi keperawatan harus jelas, baik dan benar (Jaya, 2. Dokumentasi keperawatan adalah salah satu wujud bukti kinerja perawat. Pelayanan dokumentasi keperawatan yang berisi pelaksanaan proses keperawatan dan catatan tanggapan atau respon klien terhadap tindakan medis dan tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Pendokumentasian asuhan keperawatan yang tepat waktu, akurat dan lengkap tidak hanya penting untuk melindungi perawat tetapi penting juga untuk membantu pasien mendapat asuhan keperawatan yang lebih baik. Dokumentasi keperawatan yaitu wujud kualitas yang diberikan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan untuk Dokumentasi keperawatan ini luaran dan menyusun intervensi atau rencana tindakan keperawatan (PPNI, 2. Kualitas pendokumentasian asuhan keperawatan secara global masih rendah. Penelitian yang dilakukan di Amerika. Eropa dan Australia masing-masing menunjukkan kualitas pendokumentasian yang rendah dibawah 50%. Penelitian menunjukkan Amerika sebesar 32,7%. Eropa sebesar 32,3% dan Selandia Baru sebesar 52% (Perez Rivas et al. , 2. Rendahnya kualitas dokumentasi asuhan keperawatan di Eropa disebabkan oleh beban kerja 42,8%, kurang pengetahuan 25,5% dan kurangnya pengawasan manager 11,2% (Nora et al. , 2. Asuhan keperawatan merupakan suatu proses keperawatan yaitu suatu metode sistematis dan ilmiah yang digunakan perawat untuk memenuhi kebutuhan klien dalam mencapai atau mempertahankan keadaan biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang optimal melalui tahapan perencanaan keperawatan, melaksanakan mengevaluasinya (Aini & Maryam, 2. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK. 07MENKES/425/2020 standar profesi perawat, dijelaskan bahwa dalam pembuatan asuhan keperawatan sebagai bentuk pendokumentasian merujuk pada Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) untuk menentukan diagnosis keperawatan dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) untuk menentukan intervensi keperawatan. Namun selain kedua sumber ini Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) juga membuat Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) dalam menentukan luaran atau hasil yang ingin dicapai, dengan merujuk pada ketiga standar tersebut mendokumentasikan asuhan keperawatan dengan mutu yang baik (Sudaryanti, 2. Standar dokumentasi keperawatan yang keperawatan berdasarkan pada Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) pada tahun 2018. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) dicetak untuk kali pertama di Desember 2016 dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)serta Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dikeluarkan pada Maret Hal ini membuat ketiga standar tersebut menjadi suatu yang baru untuk dunia keperawatan Indonesia dan penerapan ketiga standar ini menjadi hal penting yang Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Leni Wijaya. Fudjie Juniarti harus dilakukan dalam pendokumentasian asuhan keperawatan. Namun dalam kurun waktu beberapa tahun ini, dokumentasi keperawatan menjadi suatu masalah yang urgent di seluruh dunia (Hananti, 2. Menurut Tasew et al. , . bahwa sebesar 47,8%. Sedangkan menurut Norkasiani et al. , . pelaksanaan dokumentasi keperawatan dengan kriteria baik hanya di angka 47,4%. Beberapa dokumentasi keperawatan. Menurut Febriani dalam penelitian Agustina et al. , . menunjukkan hasil asuhan keperawatan di Indonesia belum optimal dilihat dari pelaksanaan pengkajian 45,5%, pembuatan diagnosa 37,70%, 22,22%, implementasi 29,26%, evaluasi 15,38% dan pendokumentasian 31,70%, sehingga dapat keperawatan di Indonesia belum optimal. Padahal menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Blair & Smith, . menyebutkan bahwa perawat dapat menghabiskan hingga 25-50% dari waktu mereka untuk melakukan dokumentasi. Perawat di Indonesia memiliki peran keperawatan, yang mana 57,2% perawat melakukan kegiatan adalah dokumentasi keperawatan di pelayanan primer dan 46,8% kegiatan di rumah sakit perawat melaksanakan dokumentasi keperawatan. Dalam melakukan pendokumentasian, perawat berdasarkan keilmuan masingmasing dengan referensi yang dimiliki terkadang menggunakan referensi tidak jelas, ruangan tidak memiliki referensi terbaru sebagai standar dan panduan asuhan terdokumentasi lebih pada tindakan medis (Tunny & Soullisa, 2. Perawat merupakan tenaga kesehatan yang paling sering dan paling lama Asuhan keperawatan yang diberikan pun sepanjang rentang sehat-sakit. Pelayanan keperawatan masih menjadi permasalahan, karna banyak masyarakat yang merasakan ketidakpuasan dan beranggapan kualitas pelayanan yang diberikan belum optimal. Pelayanan keperawatan digunakan dalam memecahkan masalah yang sering disebut pelaksanaan asuhan keperawatan (Agustina, et al. ,2. Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas kepada pasien mempunyai kerangka kerja yang disebut dengan proses keperawatan. Proses keperawatan merupakan metode sistematis yang digunakan oleh prawat untuk memberikan asuhan keperawatan kepada Setiap tahapan dalam proses keperawatan mulai dari pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi dan evaluasi harus didokumentasikan oleh perawat sesuai dengan standar. Dokumentasi keperawatan yang berkualitas tinggi sangat penting untuk menunjukkan kualitas dan kontinuitas asuhan keperawatan (Saraswasta et al. , 2. Pengetahuan merupakan hasil AutahuAy dan ini terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan pendokumentasian harus dimiliki oleh berbagai profesi tenaga kesehatan salah satunya adalah perawat (Nuryani et al. Seorang perawat mempunyai peran dalam melaksanakan pendokumentasian asuhan keprawatan dalam rekam medis (Sari & Siwi, 2. Kurangnya disebabkan karena ketidakpahaman dan menyebabkan mutu dokumentasi dan pelayanan keperawatan rendah (Rum. Perawat dalam melakukan proses keperawatan sebagian besar masih belum pelaksanaan tindakan, edukasi kesehatan yang diberikan belum terstruktur (Elvahra. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Leni Wijaya. Fudjie Juniarti Berdasarkan hasil penelitian oleh Kimalaha et al. , . yang berjudul pengetahuan dan beban kerja perawat pendokumentasian asuhan keperawatan di Bangsal Penyakit Dalam dan Bedah, didapatkan bahwa perawat dengan dokumentasi asuhan keprawatan dalam kategori lengkap sejumlah 34 perawat . ,30%) dan 31 perawat dalam kategori kurang lengkap . ,7%). Menurut hasil penelitian Nora et al. yang berjudul hubungan pengetahuan perawat terkait SDKI. SLKI. SIKI . S) dengan pendokumentasian dalam asuhan keperawatan di RSUD Kota Tanjung Pinang. Hasil penelitian didapatkan ada hubungan antara pengetahuan perawat terkait SDKI. SLKI. SIKI . S) dengan keperawatan di RSUD Kota Tanjung Pinang dengan nilai p value 0,043. Hasil penelitian Herwawan et al. yang berjudul analisis pengetahuan perawat terkait penggunaan 3S (SDKI. SLKI dan SIKI) dan aplikatifnya dalam asuhan keperawatan di RSUP dr. Leimena Ambon. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan perawat dengan penggunaan 3S dengan p value 0,047 (< 0,. , serta terdapat hubungan antara pengetahuan perawat dengan aplikatif 3S dalam asuhan keperawatan dengan p- value 0,041 (< 0,. Sedangkan hasil penelitian Aini & Maryam . yang berjudul hubungan pengetahuan perawat tentang SDKI. SIKI SLKI pendokumentasian di Rumah Sakit Dr. Soedarsono Pasuruan. Hasil penelitian ini menunjukkan dari 48 responden, perawat dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 22 responden . ,8%) dengan tingkat kelengkapan pendokumentasian diagnosis responden . ,2%). Terdapat hubungan positif yang signifikan antara pengetahuan pendokumentasian diagnosis keperawatan berbasis SDKI . -value Ae 0,024, -0,024 < 0,. Hasil survei pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di 5 Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Pusri pada Ruang ICUICCU. Ruang Mawar. Ruang Flamboyan. Ruang Kusuma dan Ruang Nusa Indah didapatkan bahwa jumlah perawat seanyak 69 perawat yang terdiri dari 23 perawat berpendidikan D3 keperawatan, 15 perawat berpendidikan S1 keperawatan dan 31 perawat berpendidikan Profesi Ners. Berdasarkan hasil studi pendahuluan pada tanggal 11 Oktober 2024 melalui wawancara terhadap 7 orang peawat yang bekerja di Instalasi Rawat Inap tersebut didapatkan hasil bahwa sebagian perawat belum memahami langkah Ae langkah menggunakan buku SDKI. SIKI dan SLKI dalam penerapan pendokumentasian asuhan keperawatan yang sesuai dengan SDKI. SIKI. SLKI. Serta dari observasi peneliti didapatkan disetiap ruang rawat inap telah memiliki buku SDKI. SIKI dan SLKI dan buku panduan yang dibuat oleh bidang keperawatan untuk pendokumentasian asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI dan SLKI, namun dari hasil evaluasi dokumentasi pada berkas rekam medis pasien sebagian diagnosa dan intervensi pada asuhan keperawatan belum sesuai dengan SDKI. SIKI dan SLKI. Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuAnalisis Pengetahuan Perawat Terhadap Penerapan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Berbasis SDKI. SIKI. SLKI di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Pusri Tahun 2025Ay. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang merupakan metode analitik Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Leni Wijaya. Fudjie Juniarti dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah perawat yang bekerja di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Pusri Palembang. Sampel penelitian ini adalah perawat yang sedang bertugas di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Pusri yang termasuk dalam kirteria inklusi. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Pusri, pada tanggal 10 Januari 2025 - 10 Februari 2025. Target dan Subjek Penelitian Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perawat yang bekerja di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Pusri yang termasuk dalam kriteria inklusi berjumlah 60 orang. Sampel pada penelitian ini adalah menggunakan teknik sampel jenuh atau total Prosedur Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner yang berupa pertanyaan sebagai alat bantu dalam pengambilan data pengetahuan perawat tentang SDKI. SIKI dan SLKI dan lembar obeservasi untuk melihat penerapan dokumentasi keperawatan berbasis SDKI. SIKI dan SLKI. Tehnik pengolahan data setelah data terkumpul secara manual kemudian akan dilakukan uji statistik secara komputerisasi dengan menggunakan program SPSS dan uji Chi Square. Data. Instrumen Teknik Pengumpulan Data Teknik Analisis Data Analisa Univariat dilakukan terhadap variabel dari hasil penelitian yaitu variabel independen . engetahuan perawa. dan variabel dependen . enerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI, dan SLKI) Analisa Bivariat mengetahui ada tidak hubungan antara variabel independen . engetahuan perawa. enerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI dan SLKI). Penelitian ini menggunakan uji statistik Chi Square. Menggunakan Statistical Program for Social Science (SPSS) versi 24 dengan batas kemaknaan pada = 0,05. Jika p value < = 0,05 artinya ada hubungan yang bermakna . antara variabel independen dan variabel dependen, jika p value > = 0,05 artinya tidak ada hubungan yang bermakna . antara variabel independen dan variabel dependen. HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN Analisa Univariat Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Usia Jumlah Ou 40 tahun Jumlah Persentase (%) Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa distribusi frekuensi dari 60 responden sebagian besar beusia 31-40 tahun sebanyak 40 responden . ,7%), berusia 20-30 tahun sebanyak 12 responden ( 20%) dan berusia Ou 40 tahun sebanyak 8 responden . ,3%). Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Laki-Laki Persentase (%) Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Leni Wijaya. Fudjie Juniarti Perempuan Jumlah Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa distribusi frekuensi dari 60 responden sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebanyak 51 responden . %) sedangkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 9 responden . %). Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan Jumlah D-3 Keperawatan S-1 Keperawatan Profesi Ners Jumlah Persentase (%) Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa distribusi frekuensi dari 60 responden sebagian besar responden berpendidikan Profesi Ners sebanyak 27 responden . %), berpendidikan D-i Keperawatan sebanyak 19 responden . ,7%) dan berpendidikan S1 Keperawatan sebanyak 14 responden . ,3%). Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja Masa Kerja Jumlah < 1 tahun 1-5 tahun 6-10 tahun > 10 tahun Jumlah Persentase (%) Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa distribusi frekuensi dari 60 responden sebagian besar responden rentang masa kerja > 10 tahun sebanyak 36 responden . %), masa kerja 1-5 tahun sebanyak 14 responden . ,3%), masa kerja 6-10 tahun sebanyak 8 responden . ,3%) dan masa kerja < 1 tahun sebanyak 2 responden . ,3 %). Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Responden Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Pengetahuan Perawat Baik Cukup Kurang Jumlah Frekuensi Persentase (%) Berdasarkan tabel di atas diketahui sebagian besar pengetahuan perawat pada kategori baik sebanyak 45 responden . %), kemudian pengetahuan perawat pada kategori cukup sebanyak 10 responden . ,7%) dan hanya 5 responden . ,3%) dengan pengetahuan kurang. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Penerapan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Berbasis SDKI. SIKI dan SLKI Tabel 6. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Penerapan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Berbasis SDKI. SIKI dan SLKI Penerapan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Berbasis 3S Baik Cukup Kurang Jumlah Frekuensi Persentase (%) Analisa Bivariat Analisa ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen . engetahuan perawat tentang SDKI. SIKI dan SLKI) dan variabl dependen (Penerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI dan SLKI). Penelitian ini menggunakan uji statistik Chi Square. Menggunakan Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Leni Wijaya. Fudjie Juniarti Statistical Program for Social Science (SPSS) versi 24 dengan batas kemaknaan pada = 0,05. Jika p value < = 0,05 artinya ada hubungan yang bermakna . antara variabel independen dan variabel dependen, jika p value > = 0,05 artinya tidak ada hubungan yang bermakna . antara variabel independen dan variabel dependen Hubungan Pengetahuan Perawat Terhadap Penerapan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Berbasis SDKI. SIKI. SLK Tabel 7. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Perawat Terhadap Penerapan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Berbasis SDKI. SIKI. SLKI Pengetahuan Perawat Baik Cukup Kurang Penerapan Standar Askep Berbasis SDKI. SIKI dan SLKI Baik Cukup Kurang 42 93,3 Total 0,000 Berdasarkan tabel di atas diketahui dari 45 responden pengetahuan perawat yang baik sebagian besar penerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI, dan SLKI baik sebanyak 42 responden . ,3%). Dari 10 responden pengetahuan perawat yang cukup sebagian besar penerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI. SLKI cukup sebanyak 5 responden . %). Dari 5 responden pengetahuan perawat yang dokumentasi asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI. SLKI kurang sebanyak 3 responden . %). Dari hasil uji Chi-Square didapatkan nilai p-value 0,000 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan perawat terhadap penerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI dan SLKI di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Pusri Tahun 2025. PEMBAHASAN Pengetahuan Perawat Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa distribusi frekuensi sebagian besar pengetahuan perawat terkait SDKI. SIKI dan SLKI pada kategori baik sebanyak 45 responden . %), pada kategori cukup sebanyak 10 responden . ,7%) dan hanya 5 orang . ,3%) dengan pengetahuan kurang. Diketahui bahwa jumlah perawat di Ruang Rawat Inap rumah sakit Pusri terbesar pada rentang usia 31-40 tahun yaitu sebesar 66,7%. Menurut (Dewina & Dinie, 2. rentang usia tersebut merupakan kategori usia dewasa madya yang menjelaskan bahwa masa dewasa madya ini merupakan penyesuaian diri terhadap polapola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Hal ini sejalan dengan penyataan Saputra et al. , . bahwa kategori dewasa madya ini juga mampu menyesuaikan diri secara mandiri. Hal ini juga sesuai dengan penyataan Agustina et al. , . yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pelaksanaan dokumentasi keperawatan. Hal yang sama diungkapkan oleh Amin Yanuar . bahwa perawat sebagai salah satu tenaga medis yang berperan penting dalam pemberian pelayanan keperawatan serta pelayanan asuhan keperawatan yang holistik dan komprehensif dituntut untuk memiliki pengetahuan yang tinggi dalam profesi Dalam penelitian ini sebagian besar berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar Menurut Tunny. & Soulissa F. jenis kelamin perempuan lebih berorientasi pada tugas dan kompetitif, lakilaki dan perempuan memiliki tingkat pengetahuan atau secara kognitif yang Hal ini menunjukkan bahwa dengan pengetahuan seperti itu maka Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Leni Wijaya. Fudjie Juniarti perempuan memiliki tingkat pengetahuan atau kognitif lebih baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar berpendidikan Profesi Ners yaitu sebesar 45%. Hal ini sesuai dengan penyataan Notoatmodjo, . bahwa pendidikan mempengaruhi proses dalam seseorang, maka semakin mudah seseorang tersebut menerima sebuah informasi. Berdasarkan hasil penelitian masa kerja perawat rumah sakit Pusri menunjukkan sebagian besar perawat bekerja > 10 tahun . %). Menurut Awaliyani, et al. , . yang menyatakan bahwa pengetahuan yang baik didasari oleh sumber yang tepat dan pengalaman yang ia alami, dengan begitu untuk menghadapi situasi tertentu ia sudah mempunyai pengetahuan yang memadai juga dapat belajar dari pengalamanpengalaman yang telah ia dapatkan Sejalan dengan penelitian oleh Chrisnawati et al. , . yang berjudul Pengetahuan Perawat Pelaksana Tentang SDKI. SLKI. SIKI di Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin, hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan perawat pelaksana tentang SDKI. SLKI dan SIKI mayoritas pada kategori cukup 81% dan kurang 19%. Pengetahuan perawat satu dengan yang lain tidak jauh berbeda dalam hal 3S dan masih perlu ditingkatkan lagi untuk pemahaman dan pelaksanaan dokumentasi keperawatan berbasis 3S. Oleh sebab itu perlu peningkatan pengetahuan yang optimal dalam pemahaman 3S serta penerapannya di lima tahap proses Berdasarkan uraian di atas peneliti menyatakan bahwa pengetahuan perawat tentang SDKI. SIKI dan SLKI di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Pusri tergolong kategori baik. Hasil dari memahami, mengevaluasi terhadap objek yang telah tertuang di dalam kuesioner sudah diisi dengan baik oleh perawat dimana didapatkan dari 45 dari 60 responden memiliki pengetahuan baik. Dengan pengetahuan yang baik akan memberikan pelayanan kesehatan terutama pada asuhan keperawatan secara optimal. Akan tetapi ada 5 responden yang memiliki pengetahuan kurang, karena merasa kesulitan untuk memahami ketiga buku tersebut, sehingga peneliti menyatakan bahwa faktor kebiasaan yang membuat para perawat enggan untuk belajar beradaptasi dengan sesuatu yang Penerapan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Berbasis SDKI. SIKI dan SLKI Berdasarkan tabel di atas diketahui sebagian besar penerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI dan SLKI pada kategori baik sebanyak 46 responden . ,7%), pada kategori cukup 8 responden . ,3%) dan hanya 6 responden . %) dalam kategori kurang. Hasil penelitan ini menjelaskan bahwa karakteristik usia perawat sebagian besar pada rentang 31-40 tahun . ,7%). Sejalan dengan pernyataan Aini & Maryam, . rentang emosi pada usia tersebut ada pada rentang emosi yang matang dapat dikategorikan sudah mencapai tingkat kedewasaan sehingga memberikan respon yang tepat sesuai situasi yang dihadapinya dalam hal ini sebagai perawat yang bertugas mendokumentasikan asuhan keperawatan berdasarkan teori SDKI. SIKI dan SLKI. Proporsi terbesar responden perempuan menunjukkan jumlah perawat yang tersebar di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Pusri lebih banyak didominasi oleh perempuan. Menurut Rusnawati, . keperawatan merupakan jenis pekerjaan yang formal yang berjenjang dalam birokrasi dan harus ditempuh melalui jalur pendidikan formal. Tugas-tugas keperawatan saat ini masih diberi label "feminin" dan identik dengan perempuan, namun perawat laki-laki tidak merasa canggung menjalani perannya. Fisik Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Leni Wijaya. Fudjie Juniarti perawat laki-laki yang kuat memang dibutuhkan dalam tugas-tugas keperawatan, dan hal ini sangat membantu bagi perawat Tugas-tugas keperawatan dalam hal medis seperti mendiagnosis data, mengumpulkan data, dan tugas medis lainnya merupakan tugas utama yang dilakukan oleh perawat. Dari tugas-tugas tersebut tidak ada perbedaan yang menonjol dalam penugasan antara perawat laki-laki dan perawat perempuan. Tugas-tugas tersebut adalah tugas secara umum, perawat laki-laki membedakan pasien dalam perawatannya, karena tidak mengandung unsur pribadi. Tugas-tugas keperawatan, yang paling penting bukan aspek-aspek yang menjadikan hubungan yang tidak setara dalam relasi penyesuaianpenyesuaian yang harus dijalani oleh lakilaki dan perempuan dalam meleburkan nilainilai maskulinitas dan feminitas yang dikonstruksikan oleh Masyarakat. Dalam penelitian ini perawat laki-laki dan perempuan mempunyai kewajiban yang sama dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan berdasarkan SDKI. SIKI dan SLKI. Dilihat berdasarkan tingkat pendidikan responden, responden dengan tingkat pendidikan S1 Keperawatan/ Profesi Ners memiliki tingkat penerapan dokumentasi asuhan keperawatan yang baik. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Rizki Nurhafizah, et al. , . menyebutkan bahwa pendidikan yang dicapai seseorang menjadi faktor determinan produktivitas antara lain: knowledge, skills, abilities, attitude dan behavior. Menurut Tuharea . dinyatakan bahwa dalam melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan dibutuhkan ketelitian dan kelengkapan dalam menuliskan Beberapa mempengaruhi proses pendokumentasian adalah masa kerja, pelatihan dan beban Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar rentang masa kerja perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Pusri adalah > 10 tahun . %). Hal ini sesuai dengan pernyataan Awaliyani et al. , . masa kerja merupakan lama seseorang menyumbang tenaganya pada perusahaan Semakin lama masa kerjanya maka akan semakin berpengalaman juga dalam keperawatan dan akan semakin terampil sehingga lebih teliti dalam melaksanakan dokumentasi asuhan keperawatan. Hal ini sejalan dengan penelitian Aini & Maryam . yang berjudul Hubungan Pengetahuan Perawat Tentang SDKI. SIKI SLKI Dengan pendokumentasian di Rumah Sakit Dr. Soedarsono Pasuruan. Hasil penelitian ini menunjukkan dari 48 responden, perawat dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 22 responden . ,8%) dengan tingkat kelengkapan pendokumentasian diagnosis responden . ,2%). Terdapat hubungan positif yang signifikan antara pengetahuan pendokumentasian diagnosis keperawatan berbasis SDKI . -value - 0,024 < 0,. Sebagai tenaga kesehatan profesional, perawat memiliki kesempatan terbesar dalam pemberian pelayanan kesehatan terlebih pada asuhan keperawatan untuk membantu dan memenuhi kebutuhan dasar Sejalan dengan pernyataan Tunny. Rumaloat. , . dalam melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan dibutuhkan ketelitian dan kelengkapan dalam menuliskan informasi. Beberapa pendokumentasian adalah masa kerja, pelatihan dan beban kerja. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas peneliti menyatakan bahwa penerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI dan SLKI pada perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Leni Wijaya. Fudjie Juniarti Sakit Pusri sebagian besar berada pada kategori baik dengan persentase 76,7%. Namun masih ada penerapan dalam kategori kurang yaitu sebesar 10%. Dari hasil analisa penerapan pada berkas rekam medis, nilai terendah ada pada aspek intervensi, terutama aspek intervensi kolaborasi yang harus Hal ini menunjukkan perawat memerlukan supervisi dan motivasi untuk peningkatan pengetahuan akan penerapan proses asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI dan SLKI Hubungan Pengetahuan Perawat Terhadap Penerapan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Berbasis SDKI. SIKI dan SLKI Dari hasil uji Chi-Square didapatkan nilai p-value = 0,000 < 0,05 hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan perawat terhadap penerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI dan SLKI di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Pusri Tahun 2025. Artinya sebagian besar perawat dengan pengetahuan baik akan menerapkan dokumentasi asuhan keperawatan yang baik Hal ini didukung oleh pernyataan Saraswasta et al. , . bahwa perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas kepada pasien mempunyai kerangka kerja yang disebut dengan proses Proses merupakan metode sistematis yang digunakan oleh perawat untuk memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Setiap tahapan dalam proses keperawatan mulai dari pengkajian, diagnosis, perencanaan, didokumentasikan oleh perawat sesuai dengan standar. Dokumentasi keperawatan yang berkualitas tinggi sangat penting untuk menunjukkan kualitas dan kontinuitas asuhan keperawatan. Hal ini sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Sulaeman . bahwa pengetahuan seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya. Dengan demikian pengetahuan terjadi setelah terhadap suatu objek tertentu. Tanpa mempunyai dasar untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Sulistyawati Susmiati . menyebutkan bahwa implementasi dengan standar asuhan keperawatan 3S sebesar 60,7% dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa sebelumnya rumah sakit tempat penelitian melakukan sosialisasi tentang SDKI. SIKI dan SLKI kepada seluruh tenaga keperawatan dan memastikan semua tenaga keperawatan memiliki dasar pengetahuan yang sama. Kemudian pihak manajemen SPO berdasarkan standar 3S. Dilanjutkan dengan menyiapkan standar asuhan keperawatan (SAK) dengan format yang sesuai standar Dari hasil penelitian ini diketahui ada hubungan antara pengetahuan perawatan terhadap penerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI dan SLKI peneliti menyatakan hal ini terjadi karena dengan pengetahuan yang baik seorang perawat dapat menerapkan dokumentasi asuhan keperawatan yang baik juga. Begitu juga sebaliknya, pengetahuan perawat yang kurang tentu kan mempengaruhi kualitas dokumentasi asuhan keperawatan. Dan juga akan mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan terutama asuhan keperawatan. Namun tidak menutup kemungkinan perawat dengan pengetahuan yang baik dapat menerapkan dokumentasi asuhan keperawatan yang kurang optimal, hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya konsentrasi saat menerapkan dokumentasi asuhan KESIMPULAN Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Leni Wijaya. Fudjie Juniarti Ada hubungan antara pengetahuan perawat terhadap penerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI dan SLKI di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Pusri Tahun 2025 dengan nilai p-value = 0,000 < . SARAN Dari hasil penelitian ini diharapkan tenaga perawat dapat termotivasi untuk meningkatkan pengetahuan tentang standar penerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI dan SLKI dengan cara melakukan bedah buku atau mengikuti seminar tentang penerapan dokumentasi asuhan keperawatan berbasis SDKI. SIKI dan SLKI. Serta supervisi rutin dan inhouse training dapat dilaksanakan oleh komite keperawatan Sehingga perawat dengan pengetahuan yang baik disrtai dengan penerapan dokumentasi asuhan keperawatan yang sesuai standar SDKI. SIKI dan SLKI pelayanan kesehatan yang optimal. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada instansi yang telah memberi dukungan baik terhadap pelaksanaan penelitian ini : Kepada Direktur Rumah Sakit Pusri Kepada seluruh perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Pusri Ketua STIKES Mitra Adiguna Ketua Prodi Program Studi Pendidikan Profesi Ners Tahap Akademik STIKES Mitra Adiguna Seluruh staf dan dosen STIKES Mitra Adiguna DAFTAR PUSTAKA