PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. Januari 2026 e-ISSN : 2622-6383 Narasi Pengalaman Wisatawan dalam Menikmati Green Tourism di Kabupaten Poso : Studi Fenomenologi Abdi Sakti Walenta1*. Toyib2 abdisaktiw@gmail. com 1* Perencanaan Wilayah dan Perdesaan. Universitas Sintuwu Maroso. Indonesia1*. Agribisnis. Universitas Kristen Tentena. Indonesia,2 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman wisatawan dalam menikmati green tourism di Kabupaten Poso. Sulawesi Tengah. Pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi dan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) digunakan untuk menggali makna subjektif yang dibangun wisatawan melalui interaksi dengan alam, budaya, dan masyarakat lokal. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap wisatawan asing, wisatawan domestik, serta pemandu wisata lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman wisatawan di Kabupaten Poso terbentuk melalui tiga dimensi utama, yaitu keaslian alam, interaksi sosial, dan kesadaran ekologis. Wisatawan mengapresiasi keindahan alam dan keramahan masyarakat sebagai pengalaman otentik yang memberikan ketenangan dan refleksi diri. Namun, masih terdapat tantangan terkait infrastruktur dan pengelolaan kebersihan lingkungan. Inovasi lokal seperti kegiatan birdwatching atau paksiwisata menjadi potensi baru dalam pengembangan green tourism berbasis komunitas. Penelitian ini menegaskan bahwa green tourism di Kabupaten Poso memiliki peluang besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku wisata. Kata Kunci: Keaslian Alam. interaksi sosial. kesadaran ekologis. Green Tourism. Narasi Pengalaman This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Pariwisata merupakan salah satu sektor strategis dalam pembangunan ekonomi dan sosial yang berkontribusi besar terhadap pendapatan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam dua dekade terakhir, paradigma pembangunan pariwisata global telah bergeser dari eksploitasi sumber daya alam menuju prinsip keberlanjutan . ustainable touris. yang menekankan keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan (Sagala, 2. Pergeseran ini melahirkan konsep green tourism atau pariwisata hijau, yang mengedepankan pengalaman wisata ramah lingkungan, pelestarian ekosistem, serta keterlibatan aktif masyarakat lokal (Wibowo & Belia, 2. Pendekatan green tourism muncul sebagai respons terhadap dampak negatif pariwisata massal yang sering kali merusak lingkungan dan mengabaikan nilai-nilai budaya lokal. Menurut Priyanto et al. , keberhasilan pariwisata berkelanjutan sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dan penerapan prinsip konservasi di setiap lini kegiatan wisata. Di Indonesia, praktik green tourism mulai diintegrasikan dalam berbagai kebijakan daerah sebagai strategi untuk memperkuat daya saing destinasi wisata sekaligus melestarikan warisan alam dan budaya (Prasetyo. Agustina, & Aji, 2. Salah satu daerah yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan green tourism adalah Kabupaten Poso di Provinsi Sulawesi Tengah. Wilayah ini dikenal dengan keindahan alamnya yang menakjubkan seperti Danau Poso. Air Terjun Saluopa. Hutan Pinus Tentena, dan situs megalit di Lembah Bada. Keunikan lanskap dan kekayaan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 1147 budaya menjadikan Poso sebagai destinasi potensial untuk pengembangan wisata berbasis alam dan budaya (Lantu. Prang, & Montolalu, 2. Selain itu, masyarakat lokal yang ramah serta keberagaman tradisi menjadikan Poso berbeda dari destinasi wisata massal di Indonesia. Namun, potensi besar tersebut belum diimbangi dengan pengelolaan yang optimal. Berdasarkan hasil kajian Walenta . , pengembangan pariwisata di Kabupaten Poso menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan infrastruktur, kurangnya strategi promosi digital, minimnya kolaborasi antar daerah, serta rendahnya kompetensi sumber daya manusia di sektor pariwisata. Strategi promosi yang dilakukan oleh pemerintah daerah selama ini masih berfokus pada media konvensional seperti brosur dan baliho, sementara pemanfaatan media digital seperti social media marketing belum menunjukkan hasil signifikan. Menariknya, sebagian besar wisatawan asing yang datang ke Poso justru memperoleh informasi perjalanan dari panduan wisata internasional seperti Lonely Planet atau rekomendasi sesama wisatawan di Bali dan Toraja, bukan dari promosi resmi pemerintah daerah (Walenta, 2. Selain itu, pengalaman wisatawan di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara ekspektasi dan realitas destinasi. Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan wisatawan asing dan lokal, ditemukan bahwa mereka sangat mengapresiasi keaslian alam dan keramahan masyarakat Poso, namun mengeluhkan masalah kebersihan, keterbatasan fasilitas publik, dan kurangnya penunjuk arah berbahasa Inggris di kawasan wisata. Salah satu wisatawan asing menyampaikan bahwa Auwaste is the main problem of Indonesian tourismAy, menegaskan pentingnya pengelolaan lingkungan dalam menciptakan pengalaman wisata hijau yang autentik dan nyaman (Walenta, 2. Dari sisi pelaku lokal, hasil wawancara dengan pemandu wisata di Tentena menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam pengembangan pariwisata di Poso adalah minimnya dukungan pemerintah terhadap peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan kelembagaan. Banyak pemandu wisata belum memiliki sertifikasi profesional, dan sebagian besar fasilitas pendukung seperti tourist center tidak berfungsi secara optimal karena kekurangan tenaga dan koordinasi antar lembaga (Walenta. Keterbatasan infrastruktur jalan, promosi lintas daerah yang belum maksimal, serta belum adanya sinergi antara destinasi TorajaAePosoAeTojo Una-Una semakin memperlebar kesenjangan antara potensi dan realitas pariwisata Poso. Temuan ini menegaskan pentingnya capacity building dan sinergi kelembagaan antar pelaku wisata untuk mewujudkan ekosistem pariwisata berkelanjutan di Poso (Munawarah et al. , 2. Kajian yang dilakukan Walenta. Tobondo. Kawani, & Balo . memperkuat temuan tersebut, bahwa sinergi antar pihak dan promosi digital yang efektif merupakan kunci utama untuk meningkatkan daya saing destinasi green tourism di Poso. Lebih lanjut. Walenta . menegaskan bahwa pengembangan citra pariwisata berkelanjutan harus dilakukan melalui integrasi antara promosi digital, pemberdayaan masyarakat, dan praktik konservasi lingkungan. Dengan memanfaatkan User Generated Content (UGC) serta kolaborasi promosi lintas daerah seperti Bali dan Toraja. Poso dapat memperluas jangkauan pasar dan memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata hijau yang Selain tantangan manajerial, terdapat pula dimensi konseptual yang belum banyak Sebagian besar penelitian terdahulu di Poso berfokus pada potensi, strategi pemasaran, atau kebijakan pengembangan pariwisata (Walenta, 2023. Tobondo & Walenta, 2. Namun, kajian yang menggali pengalaman subjektif wisatawanAi terutama dalam konteks green tourismAimasih sangat terbatas. Padahal, pemahaman terhadap bagaimana wisatawan memaknai interaksi mereka dengan alam dan masyarakat lokal menjadi aspek penting dalam membangun citra destinasi yang Untuk mengisi kesenjangan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) (Smith. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 1148 Flowers, & Larkin, 2. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk memahami pengalaman wisatawan secara mendalam melalui penafsiran makna yang mereka berikan terhadap aktivitas berwisata. Seperti dijelaskan oleh Nurulisya & Kristiana . IPA tidak hanya menggambarkan pengalaman, tetapi juga menafsirkan proses kognitif dan emosional yang membentuk persepsi seseorang terhadap suatu fenomena. Dalam konteks penelitian ini. IPA digunakan untuk mengungkap bagaimana wisatawan memaknai konsep green tourism selama mereka menikmati destinasi wisata di Kabupaten Poso. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat kesenjangan empiris dan teoretis yang melandasi penelitian ini. Secara empiris, pengelolaan dan promosi green tourism di Kabupaten Poso belum optimal meskipun potensi alam dan budaya sangat Secara teoretis, masih terbatas kajian yang menyoroti narasi pengalaman wisatawan sebagai dasar pengembangan green tourism berbasis makna. Oleh karena itu, penelitian berjudul AuNarasi Pengalaman Wisatawan dalam Menikmati Green Tourism di Kabupaten Poso: Studi FenomenologiAy ini penting dilakukan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai pengalaman wisatawan dan merumuskan strategi pengembangan green tourism yang berkelanjutan, berbasis pada nilai-nilai lokal dan pengalaman autentik wisatawan. Metode Analisis Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, khususnya Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Pendekatan ini dipilih karena tujuan utama penelitian adalah untuk memahami dan menafsirkan pengalaman subjektif wisatawan dalam menikmati konsep green tourism di Kabupaten Poso. Menurut Creswell & Poth . , pendekatan fenomenologi berfokus pada pencarian makna pengalaman hidup . ived experienc. dari partisipan terhadap suatu fenomena tertentu. Sementara itu. Smith. Flowers, & Larkin . menekankan bahwa IPA menggabungkan deskripsi pengalaman dengan interpretasi makna yang dikonstruksi oleh partisipan dan peneliti. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menggambarkan apa yang dialami wisatawan, tetapi juga menafsirkan bagaimana mereka memaknai pengalaman tersebut dalam konteks sosial, budaya, dan ekologis. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Poso. Sulawesi Tengah, yang memiliki sejumlah destinasi wisata unggulan berbasis alam dan budaya, antara lain Air Terjun Saluopa. Danau Poso. Hutan Pinus Tentena, dan Lembah Bada. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan bahwa wilayah tersebut menjadi representasi penerapan konsep green tourism yang masih alami, sekaligus menghadapi tantangan pengelolaan keberlanjutan. Subjek penelitian ini terdiri dari yaitu Wisatawan asing dan domestik yang berkunjung ke Kabupaten Poso. Mereka dipilih karena memiliki pengalaman langsung berinteraksi dengan destinasi green tourism. Teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling, yaitu pemilihan partisipan secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu (Creswell, 2. , antara lain pernah berkunjung dan berinteraksi langsung dengan destinasi wisata alam di Poso, bersedia berbagi pengalaman secara mendalam dan memiliki pandangan reflektif terhadap makna perjalanan wisata. Jumlah informan dalam penelitian ini terdiri dari 8 orang wisatawan asing, 3 wisatawan domestik, dan 2 pemandu wisata lokal yang diwawancarai secara mendalam hingga mencapai titik kejenuhan data . ata saturatio. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa teknik: Wawancara mendalam . n-depth intervie. Dilakukan secara semi-terstruktur untuk menggali pengalaman, persepsi, dan refleksi wisatawan terhadap green tourism di Poso. Pertanyaan berfokus pada aspek pengalaman personal. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 1149 interaksi sosial, persepsi terhadap lingkungan, serta makna ekologis dari aktivitas Observasi Partisipatif. Peneliti melakukan observasi langsung di lokasi wisata untuk memahami konteks sosial, interaksi antarwisatawan, dan praktik pengelolaan lingkungan yang diterapkan pengelola wisata. Dokumentasi dan Arsip. Data pendukung seperti foto, brosur wisata, catatan lapangan, dan hasil wawancara direkam serta ditranskripsi menjadi dokumen teks untuk dianalisis. Semua wawancara dilakukan dalam bahasa Inggris dan Indonesia, kemudian ditranskripsi verbatim dan diterjemahkan untuk menjaga akurasi makna pengalaman Analisis data dilakukan menggunakan tahapan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) sebagaimana dikemukakan oleh Smith. Flowers, & Larkin . , yaitu: Membaca dan memahami transkrip secara berulang untuk menangkap esensi pengalaman partisipan. Memberi anotasi awal . nitial notin. terhadap pernyataan penting yang mencerminkan makna atau emosi tertentu. Mengembangkan tema-tema emergen . mergent theme. berdasarkan kesamaan makna antarpartisipan. Mengelompokkan tema utama dan subtema, misalnya: . makna keaslian alam, . kesadaran ekologis wisatawan, . interaksi budaya, dan . refleksi spiritual terhadap alam. Menafsirkan hasil temuan dengan mengaitkannya pada teori pariwisata berkelanjutan dan konsep green tourism. Proses analisis dilakukan secara hermeneutik ganda . ouble hermeneuti. , di mana peneliti berupaya menafsirkan cara wisatawan menafsirkan pengalaman mereka sendiri. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Penelitian ini berfokus pada pengalaman wisatawan dalam menikmati konsep green tourism di Kabupaten Poso. Berdasarkan hasil analisis terhadap wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi, ditemukan beberapa tema utama yang mencerminkan makna pengalaman wisatawan. Proses analisis mengikuti tahapan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) sebagaimana dijelaskan oleh Smith. Flowers, & Larkin . , yaitu membaca transkrip secara berulang, menandai pernyataan bermakna, mengidentifikasi tema emergen, dan menafsirkan makna pengalaman dalam konteks sosial dan budaya. Dari hasil analisis, muncul empat tema utama dan beberapa subtema yang menggambarkan narasi pengalaman wisatawan dalam menikmati green tourism di Kabupaten Poso : Keaslian Alam sebagai Sumber Ketenangan dan Refleksi Diri Hampir seluruh wisatawan asing mengungkapkan kekaguman mereka terhadap keaslian alam Poso. Mereka menggambarkan pengalaman di Danau Poso. Air Terjun Saluopa, dan Hutan Pinus Tentena sebagai bentuk Aupelarian dari hiruk-pikuk kehidupan modernAy. Seorang wisatawan asal Belanda menyatakan. AuIt feels like nature is still pure here, untouched and honest. Ay (Transcript wawancara 2. Bagi wisatawan Eropa dan Australia, pengalaman berada di Poso memberikan makna spiritual yang mendalam. Mereka merasakan hubungan yang kuat antara keindahan alam dan ketenangan batin. Pengalaman tersebut bukan hanya rekreasi. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 1150 tetapi juga refleksi eksistensial terhadap cara hidup yang lebih sederhana dan ramah Sementara wisatawan domestik menggambarkan suasana di Tentena dan Lembah Bada sebagai Autempat untuk kembali ke alamAy, di mana mereka dapat menikmati udara segar, pemandangan hijau, dan keramahan masyarakat lokal. Temuan ini menunjukkan bahwa aspek keaslian dan ketenangan menjadi dimensi utama dalam membentuk pengalaman wisata yang bermakna di Kabupaten Poso. Tantangan Infrastruktur dan Kebersihan Lingkungan Tema kedua yang muncul adalah ketidakpuasan wisatawan terhadap infrastruktur dasar dan kebersihan lingkungan. Meskipun mereka mengakui potensi besar Poso sebagai destinasi wisata alam, banyak yang menyoroti kurangnya fasilitas dasar seperti toilet bersih, akses jalan yang rusak, serta manajemen sampah yang buruk. Seorang wisatawan Jerman mengungkapkan. AuIndonesia has beautiful nature, but waste is everywhere. It hurts the eyes to see plastic near waterfallsAy. Pernyataan ini menggambarkan adanya kesenjangan antara potensi ekologis dan praktik keberlanjutan di lapangan. (Transcript wawancara 2. Menurut pemandu wisata lokal. Suade (Transcript wawancara 2. , masalah kebersihan tidak hanya disebabkan oleh pengunjung, tetapi juga oleh kurangnya sistem pengelolaan sampah dari pemerintah daerah. Ia menambahkan bahwa fasilitas wisata di sekitar Air Terjun Saluopa sering kali tidak terpelihara dengan baik, terutama saat musim sepi kunjungan wisatawan. Temuan ini memperkuat pandangan Walenta . bahwa lemahnya infrastruktur dan pengelolaan kebersihan menjadi penghambat utama penerapan green tourism di Kabupaten Poso. Interaksi Sosial dan Keaslian Budaya Wisatawan menilai interaksi dengan masyarakat lokal sebagai pengalaman paling otentik dan berkesan selama berkunjung ke Poso. Mereka merasa diterima dengan hangat dan menyukai cara masyarakat menampilkan budaya mereka dengan sederhana namun tulus. Salah satu wisatawan asal Norwegia menyebut. AuThe people here are kind, and they donAot treat tourists as money. It feels more realAy (Transcript wawancara 2. Interaksi ini memberikan kesan Aukeaslian budayaAy yang tidak mereka temukan di destinasi wisata massal seperti Bali. Pemandu wisata lokal juga menambahkan bahwa wisatawan sangat antusias saat disambut dengan tarian mutaro oleh siswa-siswi SMA Tentena, yang menggambarkan keharmonisan antara alam, manusia, dan tradisi. Bentuk interaksi ini tidak hanya memperkuat kesan positif wisatawan, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan ekologis dan budaya bagi generasi muda di daerah tersebut. Kesadaran Ekologis dan Harapan akan Green Tourism Tema keempat menggambarkan kesadaran wisatawan terhadap pentingnya pelestarian lingkungan dan keberlanjutan pariwisata. Wisatawan asing, khususnya dari Belanda dan Australia, menunjukkan kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan. Mereka berharap pemerintah dan masyarakat lokal dapat menerapkan prinsip green tourism secara nyata, misalnya melalui pembatasan jumlah pengunjung di kawasan sensitif, promosi produk lokal ramah lingkungan, dan pengelolaan sampah terpadu. (Transcript wawancara 2025 diola. Sementara itu, wisatawan domestik menyoroti pentingnya edukasi bagi pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan dan menghormati lingkungan sekitar. Mereka menganggap bahwa menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab moral saat berwisata. Pemandu wisata Antun juga menekankan perlunya pelatihan bagi pemandu dan pelaku UMKM lokal agar memahami konsep sustainable tourism. Menurutnya. AuKami butuh Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 1151 dukungan dari pemerintah untuk pelatihan dan sertifikasi, supaya bisa mendampingi wisatawan dengan lebih profesional. Ay (Transcript wawancara 2025 diola. Temuan ini menunjukkan bahwa kesadaran ekologis telah muncul baik di kalangan wisatawan maupun pelaku lokal, meskipun implementasinya masih terbatas karena faktor sumber daya dan kelembagaan. Pola Makna Pengalaman Wisatawan Analisis fenomenologis menunjukkan bahwa pengalaman wisatawan di Kabupaten Poso dibentuk oleh interaksi antara dimensi alam, sosial, dan spiritual. Alam yang autentik memberikan ketenangan, interaksi sosial menghadirkan kehangatan, dan refleksi ekologis menumbuhkan kesadaran moral terhadap keberlanjutan. Sebagaimana pengalamam wisatawan Belanda mengatakan AuIk heb echt van ieder moment van de reis in Tentena We zagen een van de endemische dieren, het spookdiertje, en verschillende vogels met prachtige kleurenAy. Birdwatching/ Paksiwisata adalah salah satu destinasi baru dikembangkan oleh inisiasi dari pemandu wisata lokal bekerjasama dengan penduduk local sekitar, menurut Suade dan Antun bahwa Birdwatching/ Paksiwisata dapat menjadi destinasi baru dan memiliki potensi untuk dapat di kembangkan guna lebih menarik minat kunjungan wisatawan ke Kabupaten Poso. (Transcript wawancara 2025 diola. Dalam konteks green tourism, pengalaman ini bukan sekadar aktivitas berwisata, tetapi menjadi proses transformasi nilai, di mana wisatawan belajar menghargai ketulusan pemberian alam, keterhubungan dengan alam, serta tanggung jawab ekologis. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pengalaman wisatawan dalam menikmati green tourism di Kabupaten Poso berpusat pada pencarian keaslian, keasrian, kedamaian alam, dan makna ekologis. Keindahan alam dan kehangatan sosial menjadi kekuatan utama, namun masih dihadapkan pada tantangan kebersihan, infrastruktur, dan profesionalitas pengelolaan destinasi. Hasil ini menegaskan bahwa green tourism di Poso bukan hanya soal destinasi yang indah, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman wisatawan dipengaruhi oleh interaksi antara lingkungan alami, masyarakat lokal, dan kesadaran ekologis. Dengan memahami narasi pengalaman tersebut, pemerintah daerah dan pelaku wisata dapat mengembangkan strategi pariwisata yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada alam dengan nilai-nilai autentik Poso. Berdasarkan hasil analisis mendalam menggunakan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), peneliti menemukan sejumlah tema utama yang menggambarkan narasi pengalaman wisatawan dalam menikmati green tourism di Kabupaten Poso. Tema-tema ini muncul dari proses interpretasi terhadap transkrip wawancara wisatawan asing, wisatawan lokal, serta pemandu wisata. Setiap tema mewakili makna yang dibangun wisatawan melalui pengalaman personal, sosial, dan ekologis selama berwisata Table 1. Temuan Utama Penelitian Berdasarkan Analisis IPA Tema Utama Keaslian Alam Sumber Ketenangan dan Refleksi Diri Interaksi Sosial Budaya Lokal Subtema / Fokus Temuan - Keindahan ketenangan alam - Pengalaman - Keramahan masyarakat dan - Kekurangan narasi budaya lokal Deskripsi Empiris dan Kutipan Representatif Sumber Data Wisatawan Eropa menggambarkan Poso sebagai tempat Autenang, jujur, dan alami. Ay Seorang wisatawan Belanda berkata. AuIk heb echt van ieder moment van de reis in Tentena We zagen een van de endemische dieren, het spookdiertje, en verschillende vogels met prachtige kleuren. Ay Alam yang belum tersentuh memberi rasa damai dan refleksi Wisatawan menilai masyarakat Tentena ramah dan jujur. Kegiatan tarian mutaro dianggap simbol keharmonisan alam dan manusia. Namun, beberapa wisatawan menyebutkan bahwa penjaga situs tidak dapat menjelaskan asal-usul batu megalit . Transcript Rangkuman Hasil Wawancara Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 1152 Transcript Rangkuman Hasil Wawancara Kesadaran Ekologis Harapan Green Tourism Tantangan Infrastruktur dan Kebersihan Lingkungan Tantangan SDM Pengelolaan Wisata Pengalaman Wisata Berkelanjutan Perjalanan Bersepeda Sulawesi Transformasi Nilai Pembelajaran Ekologis Inovasi Lokal: Birdwatching (Paksiwisat. Peran Situs Digital Internasional (Sawadee. dalam Promosi Pariwisata Poso - Kepedulian - Harapan kebijakan green - Akses dan fasilitas - Pengelolaan - Keterbatasan - Kurangnya pelaku wisata - Perjalanan ramah green travel - Interaksi langsung masyarakat lokal - Pengalaman - Kesadaran - Inisiatif pemandu dan masyarakat - Potensi - Pengaruh terhadap persepsi - Kontribusi terhadap promosi Wisatawan berharap pengelolaan lingkungan dilakukan secara berkelanjutan. Mereka menekankan pentingnya edukasi pengunjung agar menjaga kebersihan dan menghormati alam. AuTourism here should teach people to love nature,Ay ujar wisatawan Australia. Transcript Rangkuman Hasil Wawancara Wisatawan mengeluhkan kondisi jalan rusak dan kurangnya fasilitas umum seperti toilet dan tempat sampah. Seorang wisatawan Jerman menyebutkan. AuPlastic waste near waterfalls is the main problem. Transcript Rangkuman Hasil Wawancara Transcript Rangkuman Hasil Wawancara Pemandu wisata lokal menuturkan perlunya pelatihan dan sertifikasi agar pelayanan lebih profesional. AuKami butuh pendampingan dan pelatihan supaya bisa melayani wisatawan dengan standar yang lebih baik,Ay ujar Suade. Dua wisatawan Belanda yang bersepeda dari Manado menggambarkan pengalaman bersepeda di Poso sebagai cara ideal untuk menikmati alam secara perlahan dan Mereka mengapresiasi keramahan warga yang memberi makanan dan air selama perjalanan. Namun, mereka juga menyoroti masalah sampah plastik dan fasilitas umum yang kurang Wisatawan merasa perjalanan ke Poso bukan sekadar hiburan, tetapi pengalaman spiritual yang menumbuhkan kesadaran untuk hidup selaras dengan alam. AuNature teaches me simplicity,Ay ungkap wisatawan Prancis. Transcript Rangkuman Hasil Wawancara Aktivitas birdwatching/paksiwisata dikembangkan oleh pemandu wisata lokal bekerja sama dengan masyarakat. Wisatawan asing sangat menikmati aktivitas ini karena dapat melihat burung endemik dan tarsius. Menurut Suade & Antun, kegiatan ini Auberpotensi besar sebagai destinasi unggulan baru yang ramah lingkungan. Ay Kontribusi situs AuSawadeeAy memberikan informasi mendalam tentang destinasi Sulawesi, termasuk Tentena dan Danau Poso. Situs ini menjadi sumber utama bagi wisatawan Eropa untuk mengenal Poso, menggambarkannya sebagai destinasi alam yang autentik, tenang, dan ramah. Informasi tersebut membentuk persepsi positif wisatawan internasional sebelum berkunjung ke Indonesia secara khusus Kabupaten Poso. Transcript Rangkuman Hasil Wawancara Transcript Rangkuman Hasil Wawancara Transcript Rangkuman Hasil Wawancara . dan https://share. google/dCtf MMRv4iqurzZI Sumber : Transkrip Wawancara Diolah 2025 Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa pengalaman wisatawan dalam menikmati green tourism di Kabupaten Poso tidak hanya terbatas pada keindahan dan keasrian alam, tetapi juga mencakup dimensi emosional, sosial, dan ekologis. Temuan mengenai inisiatif birdwatching/paksiwisata menandai munculnya inovasi lokal berbasis komunitas, yang memperluas makna green tourism dari sekadar aktivitas rekreatif menjadi sarana edukasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman wisatawan dalam menikmati green tourism di Kabupaten Poso merupakan perpaduan antara dimensi ekologis, sosial, dan emosional. Analisis dengan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) menegaskan bahwa makna pengalaman wisata tidak hanya muncul dari aktivitas wisata semata, tetapi juga dari cara wisatawan menafsirkan hubungan mereka dengan alam dan masyarakat lokal (Smith. Flowers, & Larkin, 2. Poso sebagai destinasi yang masih Aumurni dan jujur secara alamiah. Ay Keaslian lanskap dan suasana yang tenang memberikan pengalaman reflektif dan spiritual bagi Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 1153 wisatawan asing maupun domestik. Hal ini sejalan dengan konsep green tourism yang menekankan pada pengalaman autentik dan berkelanjutan (Wibowo & Belia, 2. Wisatawan tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga ketenangan dan hubungan emosional dengan alam. Temuan ini menguatkan pandangan Pearce & Packer . bahwa interaksi langsung dengan alam dapat membentuk meaningful experiences yang mendorong kesadaran ekologis. Temuan pertama memperlihatkan bahwa wisatawan memaknai keaslian alam yang dirasakan wisatawan di Poso dapat dipahami melalui konsep authenticity dalam pariwisata berkelanjutan. Wibowo & Belia . menegaskan bahwa green tourism menempatkan keaslian lanskap dan minimnya intervensi buatan sebagai nilai utama dalam membangun pengalaman wisata yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, alam Poso berfungsi bukan hanya sebagai atraksi visual, tetapi sebagai ruang refleksi yang memungkinkan wisatawan merekonstruksi relasi mereka dengan alam. Temuan penelitian ini sejalan dengan pandangan Pearce & Packer . yang menyatakan bahwa pengalaman berbasis alam dapat menghasilkan meaningful experiences yang bersifat emosional dan spiritual. Wisatawan tidak lagi berperan sebagai konsumen pasif, melainkan sebagai subjek yang menafsirkan alam sebagai sumber ketenangan, kesederhanaan, dan pembelajaran nilai hidup. Hal ini menguatkan argumen Creswell & Poth . bahwa makna pengalaman muncul dari keterlibatan langsung individu dengan konteks sosial dan ekologis yang dialaminya. Dengan demikian, keaslian alam di Poso berfungsi sebagai modal simbolik yang memperkuat posisi destinasi dalam kerangka green tourism, sekaligus membedakannya dari destinasi wisata massal yang cenderung kehilangan nilai autentisitasnya. Interaksi wisatawan dengan masyarakat lokal di Poso menunjukkan karakteristik utama community-based tourism, di mana hubungan sosial yang setara dan nonkomersial menjadi sumber pengalaman autentik. Prasetyo. Agustina, & Aji . menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat lokal bukan hanya meningkatkan kualitas pengalaman wisata, tetapi juga memperkuat keberlanjutan sosial destinasi. Dalam penelitian ini, kehangatan masyarakat dan praktik budaya lokalAiseperti tarian mutaroAiberfungsi sebagai medium interaksi lintas budaya yang memperkaya makna perjalanan wisata. Interaksi tersebut mencerminkan apa yang disebut oleh Priyanto et al. sebagai pariwisata berbasis nilai lokal, di mana budaya tidak dipertontonkan secara artifisial, melainkan hadir sebagai bagian dari kehidupan seharihari masyarakat. Namun, keterbatasan storytelling budaya, khususnya pada situs-situs megalit, menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi budaya dan kapasitas interpretatif pelaku wisata. Temuan ini menguatkan pandangan Munawarah et al. bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi prasyarat penting dalam mengoptimalkan peran masyarakat lokal sebagai cultural interpreter, bukan sekadar penyedia jasa wisata. Dengan demikian, interaksi sosial di Poso bukan hanya memperkaya pengalaman wisatawan, tetapi juga menegaskan pentingnya penguatan kapasitas komunitas lokal agar keaslian budaya dapat ditransmisikan secara bermakna dan berkelanjutan. Kesadaran ekologis yang muncul dalam narasi wisatawan menunjukkan bahwa pengalaman green tourism di Poso memiliki potensi transformasional. Reisinger . menjelaskan bahwa transformative tourism terjadi ketika perjalanan wisata mendorong perubahan cara pandang individu terhadap diri, lingkungan, dan tanggung jawab Dalam konteks ini, pengalaman wisatawan di Poso tidak berhenti pada apresiasi keindahan alam, tetapi berkembang menjadi refleksi moral tentang hubungan manusia dan lingkungan. Kritik wisatawan terhadap persoalan sampah dan infrastruktur mencerminkan apa yang disebut Sagala . sebagai paradoks pariwisata berkelanjutan: destinasi dengan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 1154 potensi alam tinggi justru rentan terhadap degradasi akibat lemahnya tata kelola. Temuan ini sejalan dengan Walenta . yang menekankan bahwa keberlanjutan pariwisata sangat ditentukan oleh konsistensi antara narasi AuhijauAy dan praktik pengelolaan di Munculnya inisiatif birdwatching atau paksiwisata memperlihatkan bentuk konkret kesadaran ekologis berbasis komunitas. Aktivitas ini merepresentasikan prinsip green tourism yang menekankan konservasi, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi lokal secara simultan (Wibowo & Belia, 2. Inovasi lokal ini juga mendukung argumen Walenta et al. bahwa pariwisata hijau akan lebih berkelanjutan jika dikembangkan melalui inisiatif akar rumput . ottom-u. , bukan semata kebijakan top-down. Selain itu, pengalaman perjalanan bersepeda yang diungkap wisatawan menunjukkan bahwa mobilitas berkelanjutan menjadi bagian dari narasi green tourism Praktik ini memperluas makna pariwisata hijau dari sekadar destinasi menuju cara berwisata yang selaras dengan prinsip ekologis. Secara konseptual, temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa keaslian alam, interaksi sosial, dan kesadaran ekologis tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dalam membentuk pengalaman wisata yang holistik. Alam menyediakan ruang refleksi, interaksi sosial menghadirkan kehangatan dan makna budaya, sementara kesadaran ekologis mentransformasikan pengalaman wisata menjadi proses pembelajaran nilai. Sintesis ini memperkuat pandangan Smith. Flowers, & Larkin . bahwa makna pengalaman dalam penelitian fenomenologis bersifat relasional dan kontekstual. Dalam konteks Kabupaten Poso, green tourism tidak hanya dipahami sebagai strategi pengembangan destinasi, tetapi sebagai proses sosial-ekologis yang melibatkan wisatawan, masyarakat lokal, dan lingkungan secara simultan. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman wisatawan di Poso mengandung nilai reflektif dan transformasional. Wisatawan tidak hanya menikmati alam, tetapi juga memaknai perjalanan mereka sebagai proses belajar tentang harmoni antara manusia dan lingkungan. Hal ini sesuai dengan teori transformative tourism yang menyebutkan bahwa pengalaman wisata yang autentik dapat mengubah cara pandang individu terhadap alam dan keberlanjutan (Reisinger. Melalui pendekatan fenomenologis, penelitian ini mengungkap bahwa green tourism di Kabupaten Poso berpotensi menjadi model pariwisata berkelanjutan yang berbasis pada keaslian alam, pelibatan komunitas, dan kesadaran ekologis wisatawan. Namun, untuk mencapai potensi tersebut, diperlukan perbaikan pada aspek kelembagaan, infrastruktur, dan promosi digital. Dengan memahami narasi pengalaman wisatawan, pengelola destinasi dapat merancang strategi yang lebih humanis, reflektif, dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang. Simpulan dan Saran Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam bagaimana wisatawan Ai baik asing maupun domestik memaknai pengalaman mereka dalam menikmati green tourism di Kabupaten Poso. Melalui pendekatan fenomenologi dan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), penelitian ini berhasil mengungkap bahwa pengalaman wisatawan bukan hanya sekadar aktivitas rekreasi, tetapi juga merupakan proses reflektif dan emosional yang melibatkan interaksi antara manusia, alam, dan budaya lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna utama yang dibangun wisatawan dalam pengalaman berwisata di Poso berpusat pada tiga dimensi: keaslian alam, interaksi sosial, dan kesadaran ekologis. Alam yang masih asri dan tenang memberikan ruang bagi wisatawan untuk melakukan refleksi diri serta memperoleh ketenangan batin. Interaksi dengan masyarakat lokal menghadirkan kesan autentik yang memperkaya pengalaman wisata, di mana keramahan, kejujuran, dan kesederhanaan masyarakat menjadi nilai Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 1155 tambah tersendiri bagi destinasi ini. Namun, penelitian ini juga menemukan adanya tantangan yang cukup signifikan dalam penerapan konsep green tourism. Infrastruktur menuju lokasi wisata masih belum memadai, fasilitas kebersihan belum terkelola dengan baik, dan sumber daya manusia di bidang pariwisata masih membutuhkan peningkatan kapasitas melalui pelatihan Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi ekologis yang besar dengan praktik pengelolaan destinasi di lapangan. Selain itu, penelitian mengungkap inisiatif lokal yang menjanjikan berupa kegiatan birdwatching atau paksiwisata, yang muncul atas kerja sama antara pemandu wisata dan masyarakat sekitar. Aktivitas ini tidak hanya memperkaya pengalaman wisatawan, tetapi juga menjadi bentuk nyata keterlibatan komunitas dalam menjaga kelestarian alam sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis konservasi. Temuan ini menegaskan bahwa pariwisata berbasis komunitas dapat menjadi motor penggerak utama dalam pengembangan destinasi berkelanjutan di Kabupaten Poso. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa green tourism di Kabupaten Poso berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai model pariwisata berkelanjutan yang autentik, reflektif, dan inklusif. Pengalaman wisatawan yang berorientasi pada keaslian alam dan interaksi sosial yang hangat dapat menjadi fondasi bagi pembentukan citra destinasi yang kuat dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa rekomendasi yang dapat dijadikan rujukan bagi berbagai pihak: Pengelolaan pariwisata di Kabupaten Poso perlu memprioritaskan perlindungan keaslian alam sebagai inti pengembangan destinasi. Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan pariwisata disarankan untuk membatasi bentuk pembangunan yang berpotensi merusak lanskap alami serta menghindari komersialisasi berlebihan. Konsep zonasi kawasan wisata berbasis konservasi dapat diterapkan untuk menjaga keseimbangan antara akses wisata dan pelestarian lingkungan. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal menjadi kebutuhan mendesak, khususnya dalam hal interpretasi budaya, storytelling, dan pelayanan wisata. Program pelatihan bagi pemandu wisata dan pengelola destinasi perlu diarahkan tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada kemampuan naratif dan komunikasi lintas budaya. Dengan demikian, masyarakat lokal tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai penjaga dan penafsir nilai budaya lokal. Penguatan kesadaran ekologis perlu diwujudkan melalui kebijakan pengelolaan sampah yang konsisten, edukasi lingkungan bagi wisatawan, serta dukungan terhadap inisiatif wisata berbasis konservasi seperti birdwatching dan wisata Selain itu, penguatan promosi digital pariwisata hijauAimelalui situs web resmi dan platform internasionalAiperlu dilakukan dengan menekankan nilai keberlanjutan dan etika berwisata, bukan semata daya tarik visual. Dengan penerapan strategi tersebut, diharapkan Kabupaten Poso dapat berkembang sebagai destinasi wisata hijau yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga berkelanjutan secara sosial dan ekologis, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan. Ucapan Terimakasih Penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Rektor Universitas Sintuwu Maroso dan Direktur Program Pascasarjana Perencanaan Wilayah dan Perdesaan, yang telah memberikan dukungan akademik, arahan ilmiah, serta pendanaan melalui skema APBU yang memungkinkan penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dua Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 1156 pemandu wisata lokal . yang telah membantu proses pengumpulan data di lapangan serta memberikan informasi penting terkait dinamika pengembangan pariwisata di Kabupaten Poso. Apresiasi yang tulus juga diberikan kepada seluruh responden, baik wisatawan asing, wisatawan domestik, maupun masyarakat dan pelaku wisata lokal, yang telah meluangkan waktu untuk berbagi pengalaman, pandangan, dan masukan yang sangat berarti bagi kelengkapan data penelitian ini. Penulis tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada pihak institusi dan unit terkait yang telah memberikan dukungan administratif, akses lokasi penelitian, serta sarana dan prasarana pendukung selama proses studi berlangsung. Semua kontribusi tersebut memiliki peran penting dalam penyempurnaan artikel ini, dan penulis sangat menghargai setiap masukan, saran, serta bantuan yang telah diberikan. Semoga kerja sama dan dukungan ini memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta pembangunan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Poso. Referensi