Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. Penerapan Strategi Collaborative Contextual Problem-Based Learning dalam Meningkatkan Keaktifan dan Kemampuan Berpikir Kritis Warga Belajar di PKBM Harapan Baru Tasikmalaya. Jawa Barat Aditya Salman Nurmahmudi1. Karin Noer Amalina2. Ilma Lestari3. Luscyiana Astrid Maheswarie Mulyadi4. Shinta Nuriatul Hamidah5. Nesa Ayu Lestari6. Lesi Oktiwanti7 1,2,3,4,5,6,7 Pendidikan Masyarakat. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Siliwangi. Indonesia e-mail: adityasalman@gmail. com1, noeramalinakarin@gmail. com2, ilmalestari001@gmail. lusianaamm@gmail. com4, shintanuriatul020@gmail. com5, ayulestarieca@gmail. lesioktiwanti@unsil. Artikel dikirim: 11 Mei 2026. Revisi: 24 Mei 2026. Diterima: 25 Mei 2026. Dipublikasikan : 28 Mei Abstrak Pembelajaran dalam pendidikan nonformal di PKBM masih menghadapi beberapa tantangan, seperti keterlibatan aktif warga belajar dan pemahaman materi yang belum optimal, karena proses belajar lebih fokus pada tutor. Masalah ini muncul pada warga belajar program Paket B di PKBM Harapan Baru Tasikmalaya, terutama dalam materi mengenai Dinamika dan Pelestarian Seni Budaya Indonesia. Kegiatan pengabdian ini bertujuan menerapkan strategi pembelajaran Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL) agar meningkatkan partisipasi, pemahaman materi, dan kemampuan berpikir kritis warga Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah penerapan strategi pembelajaran Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL) kepada 14 warga belajar dengan menggabungkan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Cooperative Learning, dan Problem Based Learning (PBL). Kegiatan ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu identifikasi kebutuhan belajar, penyusunan rencana pembelajaran, pelaksanaan aktivitas pembelajaran, serta evaluasi melalui observasi, pre-test, dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penerapan strategi CCPBL dapat meningkatkan partisipasi aktif warga belajar dalam proses pembelajaran, terutama dalam kegiatan berdiskusi, bekerja sama dalam kelompok, dan menyelesaikan masalah yang terkait dengan pelestarian seni budaya Indonesia. Hasil pre-test dan post-test juga menunjukkan adanya peningkatan pemahaman warga belajar terhadap materi pelajaran serta kemampuan menghubungkan materi dengan kondisi nyata budaya di sekitar mereka. Dengan demikian, strategi CCPBL dapat menciptakan proses pembelajaran yang lebih aktif, kolaboratif, dan kontekstual pada pendidikan nonformal di PKBM. Kata kunci: CCPBL, pembelajaran kontekstual, pendidikan nonformal, seni budaya Indonesia. Abstract Learning in non-formal education at PKBM still faces several challenges, such as the low active participation of learners and the lack of optimal understanding of the material, because the learning process is more tutor-centered. This problem was identified among Package B learners at PKBM Harapan Baru Tasikmalaya, particularly in the topic of Dynamics and Preservation of Indonesian Cultural Arts. This community service activity aimed to implement the Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL) strategy to improve learnersAo participation, understanding of the material, and critical thinking skills. The method used in this community service activity was the implementation of the Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL) strategy for 14 learners by integrating the Contextual Teaching and Learning (CTL). Cooperative Learning, and Problem-Based Learning (PBL) approaches. The activity was carried out through several stages, namely identifying learning needs, preparing lesson plans, implementing learning activities, and conducting evaluations through observation, pre-tests, and post-tests. The results showed that the implementation of the CCPBL strategy was able to increase learnersAo active participation in the learning process, especially in discussion activities, group collaboration, and solving problems related to the preservation of Indonesian cultural arts. The pre-test and post-test results also indicated an improvement in learnersAo understanding of the learning material and their ability to relate the material to real cultural P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. conditions in their surrounding environment. Therefore, the CCPBL strategy was able to create a more active, collaborative, and contextual learning process in non-formal education at PKBM. Keywords: CCPBL, contextual learning, non-formal education. Indonesian cultural arts. PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan individu dalam menghadapi perkembangan zaman. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi upaya dalam membentuk individu yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan sosial maupun perkembangan Menurut Sulfiani et al. , . pendidikan yang berkualitas berkontribusi terhadap terbentuknya sumber daya manusia yang produktif, inovatif, dan mampu bersaing di era global. Oleh karena itu, pendidikan menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. Pendidikan tidak hanya diperoleh melalui jalur formal, tetapi juga melalui pendidikan nonformal yang memberikan kesempatan belajar bagi masyarakat dengan latar belakang dan kebutuhan yang beragam. Keberadaan pendidikan nonformal menjadi penting karena mampu menjangkau masyarakat yang belum memperoleh layanan pendidikan secara optimal melalui jalur formal. Selain memberikan layanan pembelajaran, pendidikan nonformal juga berfungsi sebagai sarana pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan kapasitas individu agar mampu berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi (Sukri et al. , 2. Salah satu lembaga pendidikan nonformal yang memiliki peran dalam memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). PKBM menjadi wadah pembelajaran masyarakat melalui berbagai program pendidikan kesetaraan, pelatihan keterampilan, dan pengembangan diri. Dalam era Society 5. PKBM tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai sarana peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan sosial dan teknologi (Zaifullah et al. Dengan demikian, keberadaan PKBM memiliki peran strategis terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam mengakses pendidikan formal. PKBM Harapan Baru merupakan salah satu lembaga pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan kesetaraan Paket B dan Paket C. Berdasarkan hasil observasi awal, warga belajar yang mengikuti kegiatan pembelajaran berjumlah 14 warga belajar dengan karakteristik yang heterogen, baik dari segi usia, pengalaman belajar, motivasi belajar, maupun kemampuan akademik. Sebagian warga belajar memiliki pengalaman pendidikan yang berbeda serta pernah mengalami keterbatasan dalam mengakses pendidikan formal sehingga kemampuan memahami materi juga beragam. Perbedaan karakteristik tersebut menyebabkan proses pembelajaran membutuhkan strategi yang mampu melibatkan seluruh warga belajar secara aktif agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal (Carolina et al. , 2. Namun, proses pembelajaran yang berlangsung di PKBM Harapan Baru masih cenderung berpusat pada tutor. Warga belajar lebih banyak menerima materi secara pasif dan kurang terlibat dalam proses diskusi maupun pemecahan masalah. Kondisi tersebut menyebabkan keaktifan belajar warga belajar masih rendah serta kemampuan berpikir kritis belum berkembang secara optimal (Pratama et al. , 2. Selain itu, sebagian warga belajar masih kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat, keterlibatan dalam kerja kelompok belum optimal, serta pembelajaran masih cenderung satu arah sehingga warga belajar kurang memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapat, bekerja sama, dan menghubungkan materi pembelajaran dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, menurut Genius et al. pembelajaran pada pendidikan nonformal seharusnya mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual, fleksibel, dan partisipatif sesuai kebutuhan warga belajar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran yang mampu meningkatkan partisipasi aktif warga P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. Strategi pembelajaran kolaboratif dan berbasis masalah dinilai mampu meningkatkan keterlibatan warga belajar dalam proses pembelajaran sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis (Virliana & Fauziah, 2. Dalam kegiatan ini, strategi pembelajaran yang diterapkan adalah Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL), yaitu strategi pembelajaran yang mengintegrasikan Cooperative Learning. Contextual Teaching and Learning (CTL), dan Problem Based Learning (PBL) untuk menciptakan suasana pembelajaran yang lebih aktif, kolaboratif, dan kontekstual. Berdasarkan kondisi dan kajian tersebut, kegiatan pengabdian ini menerapkan strategi pembelajaran Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL), yaitu strategi pembelajaran yang mengintegrasikan Cooperative Learning. Contextual Teaching and Learning (CTL), dan Problem Based Learning (PBL). Integrasi ketiga pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan kontekstual sehingga warga belajar tidak hanya memahami materi pembelajaran, tetapi juga mampu meningkatkan keaktifan dan kemampuan berpikir kritis warga belajar. Berdasarkan uraian tersebut, rumusan masalah dalam kegiatan ini adalah bagaimana penerapan strategi pembelajaran Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL) dalam meningkatkan keaktifan, dan kemampuan berpikir kritis warga belajar di PKBM Harapan Baru. Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk menerapkan strategi pembelajaran Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL) sebagai upaya meningkatkan keterlibatan warga belajar, pemahaman materi, serta kemampuan berpikir kritis dalam proses pembelajaran di PKBM Harapan Baru. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di PKBM Harapan Baru dengan sasaran warga belajar Paket B dan Paket C yang berjumlah 14 warga belajar. Kegiatan bertujuan menerapkan strategi pembelajaran Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL) untuk meningkatkan keaktifan dan kemampuan berpikir kritis warga belajar. Kegiatan pengabdian dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 11 April 2026 dengan durasi kegiatan kurang lebih 2 jam dalam satu kali pertemuan. Selama kegiatan berlangsung, tim pengabdian melakukan pendampingan secara langsung kepada warga belajar melalui bimbingan diskusi kelompok, pengarahan pemecahan masalah, serta fasilitasi presentasi hasil diskusi. Metode pelaksanaan kegiatan terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap perencanaan diawali dengan identifikasi kebutuhan melalui observasi dan wawancara bersama tutor PKBM untuk mengetahui kondisi pembelajaran dan permasalahan yang dihadapi warga belajar. Hasil analisis menunjukkan bahwa pembelajaran masih berpusat pada tutor sehingga keaktifan dan kemampuan berpikir kritis warga belajar belum optimal. Berdasarkan hasil tersebut, ditentukan solusi berupa penerapan strategi CCPBL yang mengintegrasikan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Cooperative Learning, dan Problem Based Learning (PBL). Selanjutnya disusun perangkat pembelajaran berupa desain pembelajaran, materi ajar, lembar observasi, serta instrumen pre-test dan post-test. Perangkat pembelajaran dan instrumen evaluasi yang digunakan telah melalui proses validasi oleh dosen dan tutor PKBM untuk memastikan kelayakan materi, metode, dan instrumen pembelajaran sebelum diterapkan dalam kegiatan pengabdian. Tahap pelaksanaan dilakukan melalui implementasi strategi Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL) dalam proses pembelajaran. Penerapan strategi dilakukan melalui beberapa sintaks pembelajaran, yaitu penyampaian masalah kontekstual, penyampaian materi yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, pembentukan dan diskusi kelompok, analisis serta pemecahan masalah, dan presentasi hasil diskusi disertai refleksi pembelajaran. Metode pengabdian dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan warga belajar secara aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Tahap evaluasi dilakukan menggunakan lembar observasi, dokumentasi, serta instrumen pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan keaktifan dan kemampuan berpikir kritis P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. warga belajar. Evaluasi keaktifan warga belajar dilakukan melalui pengamatan terhadap partisipasi dalam diskusi, keberanian bertanya dan menjawab pertanyaan, kemampuan menyampaikan pendapat, serta kerja sama dalam kelompok. Tingkat ketercapaian program dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah pelaksanaan HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Kebutuhan Tahap awal kegiatan dilakukan melalui identifikasi kebutuhan melalui observasi dan diskusi bersama tutor PKBM Harapan Baru. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa proses pembelajaran sebelumnya masih cenderung berpusat pada tutor sehingga keterlibatan aktif warga belajar dalam proses pembelajaran belum optimal. Selain itu, kemampuan warga belajar dalam menghubungkan materi pembelajaran dengan realitas sosial di lingkungan sekitar masih Temuan tersebut menjadi dasar dalam penyusunan kegiatan pembelajaran yang lebih partisipatif dan kontekstual. Tahap selanjutnya dilakukan dengan menyusun strategi, metode pembelajaran, materi, serta instrumen evaluasi yang sesuai dengan hasil identifikasi kebutuhan. Metode yang diterapkan yaitu Contextual Teaching and Learning (CTL). Cooperative Learning, dan Problem Based Learning (PBL) yang diintegrasikan dalam strategi Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL). Strategi tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang lebih interaktif dan mendorong keterlibatan aktif warga belajar selama proses pembelajaran Gambar 1. Observasi pertama Gambar 2. Observasi kedua Perangkat pembelajaran dan instrumen evaluasi yang telah disusun kemudian diuji validitasnya bersama tutor PKBM, dosen pengampu mata kuliah, dan mahasiswa PLP. Uji validitas merupakan suatu uji yang digunakan untuk menguji ketepatan suatu alat ukur dalam mengukur sesuatu yang seharusnya diukur (Rosita et al. , 2. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran dan instrumen evaluasi dinyatakan layak digunakan pada tahap pelaksanaan kegiatan. P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. Gambar 3. Uji Validitas bersama tutor PKBM 2 Penerapan Strategi Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL) Penerapan strategi Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL) dilakukan pada materi Dinamika dan Pelestarian Seni Budaya Tradisional. Strategi ini mengintegrasikan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Cooperative Learning, dan Problem Based Learning (PBL) dalam proses pembelajaran. Strategi tersebut diterapkan untuk meningkatkan keaktifan, pemahaman, dan kemampuan berpikir kritis warga belajar melalui pembelajaran yang kontekstual, kolaboratif, dan berbasis pemecahan masalah. Berdasarkan hasil observasi selama kegiatan berlangsung, penerapan strategi Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL) menunjukkan adanya peningkatan keaktifan pada 14 warga belajar selama proses pembelajaran. Sebelum penerapan strategi CCPBL, proses pembelajaran masih cenderung berpusat pada tutor sehingga sebagian besar warga belajar lebih banyak menerima materi secara pasif dan belum aktif dalam menyampaikan pendapat maupun berdiskusi. Setelah penerapan strategi pembelajaran CCPBL, warga belajar terlihat lebih antusias mengikuti proses pembelajaran, aktif memberikan tanggapan terhadap materi, serta mulai berani menyampaikan pendapat selama kegiatan diskusi berlangsung. Selain itu, warga belajar juga terlihat lebih terlibat dalam proses analisis masalah dan penyampaian hasil diskusi kelompok dibandingkan sebelum penerapan strategi pembelajaran dilakukan. Adapun tahap pembelajaran penerapan strategi CCPBL dalam kegiatan pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut. Tahap Pembelajaran Penyampaian masalah Penyampaian materi Pembentukan dan diskusi kelompok Analisis dan pemecahan Presentasi dan refleksi Tabel 1. Sintaks Pembelajaran Aktivitas Pembelajaran Tutor menyampaikan materi dan pertanyaan pemantik terkait pelestarian seni budaya Tutor menjelaskan materi dengan mengaitkan kondisi budaya tradisional dengan pengalaman nyata warga Warga belajar dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mendiskusikan perubahan seni budaya di Warga belajar menganalisis studi kasus mengenai tantangan pelestarian budaya tradisional serta menyusun solusi Kelompok mempresentasikan hasil diskusi, melakukan refleksi pembelajaran, dan mengerjakan post-test Pendekatan CTL CTL Cooperative Learning PBL Diskusi dan Refleksi Pada kegiatan inti, materi pembelajaran disampaikan dengan mengaitkan kondisi budaya tradisional dengan pengalaman nyata warga belajar. Selain memaparkan materi, tutor juga P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. memberikan beberapa pertanyaan pemantik terkait kondisi budaya tradisional di lingkungan Melalui kegiatan tersebut, warga belajar mulai mampu menghubungkan materi dinamika dan pelestarian seni budaya dengan kondisi sosial budaya dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa warga belajar juga menyampaikan pengalaman pribadi terkait kegiatan budaya yang pernah mereka ikuti di lingkungan masyarakat sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih Nurjehan et al. , . menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual mampu menciptakan proses belajar yang lebih bermakna karena peserta didik dapat menghubungkan materi dengan pengalaman sehari-hari. Selama kegiatan pembelajaran, sebagian besar warga belajar mengaku jarang terlibat dalam aktivitas pelestarian budaya tradisional dan belum mengetahui adanya komunitas seni yang aktif di lingkungan sekitar. Salah seorang warga belajar menyampaikan bahwa dirinya masih mengikuti kegiatan hadroh di lingkungan masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa praktik pelestarian budaya tradisional masih ditemukan meskipun dalam lingkup yang Selain itu, warga belajar mulai menyadari bahwa budaya tradisional di lingkungan sekitar semakin jarang dijumpai dan mulai tergeser oleh budaya modern yang berkembang melalui media sosial dan teknologi. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Yorman, . yang menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual pada materi budaya dapat meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap nilai budaya yang ada di lingkungan masyarakat. Selanjutnya, warga belajar dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mendiskusikan studi kasus mengenai perubahan seni budaya di masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, warga belajar bertukar pendapat dan pengalaman mengenai kondisi budaya tradisional di lingkungan sekitar. Pembahasan studi kasus juga mengarahkan warga belajar pada berbagai permasalahan pelestarian budaya tradisional di tengah perkembangan budaya modern, seperti menurunnya minat masyarakat terhadap budaya lokal dan pengaruh budaya luar melalui media Dari kegiatan diskusi, warga belajar mampu mengidentifikasi penyebab terjadinya perubahan budaya serta menyusun solusi sederhana yang dapat dilakukan di lingkungan sekitar, seperti mengikuti kegiatan budaya lokal dan memperkenalkan budaya tradisional kepada generasi muda. Hasil diskusi kemudian dipresentasikan di depan kelas sebagai bentuk refleksi Temuan tersebut didukung oleh penelitian Wahidah dan Kristin, . yang menjelaskan bahwa metode cooperative learning mampu meningkatkan keaktifan peserta didik melalui kegiatan diskusi dan kerja sama kelompok selama proses pembelajaran. Pembelajaran kolaboratif memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk lebih aktif menyampaikan pendapat serta berbagi pengalaman selama kegiatan belajar berlangsung. Ziareta, . juga menjelaskan bahwa pendekatan CTL dan PBL mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik melalui pembelajaran yang aktif dan kontekstual. Pembelajaran yang dikaitkan dengan kondisi nyata di lingkungan sekitar membuat warga belajar lebih mudah memahami materi dan lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Tahap evaluasi dilakukan melalui refleksi pembelajaran di akhir kegiatan. Berdasarkan hasil refleksi, beberapa warga belajar menyampaikan bahwa pembelajaran membuat mereka lebih memahami pentingnya menjaga dan melestarikan budaya tradisional di tengah perkembangan budaya modern. Gambar 4. Pematerian P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Gambar 5. Pematerian Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. Hasil kegiatan ini sejalan dengan penelitian Herwina et al. , . yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis cooperative experiential learning mampu meningkatkan keterlibatan, pengalaman belajar, serta kompetensi warga belajar dalam pendidikan nonformal. Dengan demikian, penerapan strategi CCPBL dalam kegiatan pembelajaran di PKBM Harapan Baru menunjukkan hasil yang cukup positif dalam meningkatkan keterlibatan dan pemahaman warga belajar terhadap materi dinamika dan pelestarian seni budaya tradisional. Penerapan strategi Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL) membantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih partisipatif dibandingkan pembelajaran sebelumnya yang masih berpusat pada tutor. Kegiatan pembelajaran yang dikaitkan dengan kondisi nyata di lingkungan sekitar juga mendorong warga belajar lebih terlibat selama proses pembelajaran berlangsung. Warga belajar terlihat lebih berani menyampaikan pendapat, bertanya, serta berbagi pengalaman mengenai kondisi budaya tradisional di Selain itu, kegiatan diskusi dan pembahasan studi kasus membantu warga belajar menyadari pentingnya menjaga dan melestarikan budaya tradisional di tengah perkembangan budaya modern. Dalam jangka panjang, kegiatan ini berpotensi menumbuhkan kepedulian warga belajar terhadap pelestarian budaya tradisional serta mendorong keterlibatan mereka dalam kegiatan budaya di lingkungan masyarakat. Menurut Hartiyaningsih et al. , . penerapan Problem Based Learning (CPBL) mampu membantu peserta didik lebih aktif dalam proses diskusi kelompok dan pemecahan masalah selama pembelajaran berlangsung. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran kolaboratif dan berbasis masalah dapat menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan interaktif. Tingkat kesulitan pelaksanaan kegiatan tergolong sedang. Tantangan utama terletak pada upaya membangun keterhubungan antara materi pembelajaran dengan pengalaman nyata warga belajar yang relatif terbatas. Meskipun demikian, kegiatan ini memiliki peluang pengembangan yang cukup besar. Ke depan, pembelajaran dapat dikembangkan melalui kegiatan berbasis pengalaman langsung, kolaborasi dengan komunitas seni lokal, maupun kunjungan budaya sehingga dampak pembelajaran menjadi lebih konkret, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah yang lebih luas bagi masyarakat. Hal ini didukung oleh penelitian Yulianto, . yang menyatakan bahwa integrasi budaya lokal dalam pembelajaran akan lebih efektif apabila peserta didik dilibatkan secara langsung melalui observasi lingkungan masyarakat, diskusi, dan eksplorasi nilai-nilai budaya di kehidupan nyata. Hasil Pre-test dan Post-test Untuk mengetahui tingkat ketercapaian kegiatan, dilakukan pre-test dan post-test kepada warga belajar sebelum dan sesudah penerapan strategi CCPBL. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman warga belajar setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Gambar 6. Hasil Pre-test P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Gambar 7. Pelaksanaan pre-test Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Gambar 8. Hasil Post-test Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. Gambar 9. Pelaksanaan post-test Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, sebagian besar warga belajar mengalami peningkatan nilai setelah mengikuti pembelajaran menggunakan strategi CCPBL. Peningkatan yang cukup signifikan terlihat pada beberapa warga belajar, beberapa peserta yang sebelumnya telah memperoleh nilai tinggi mampu mempertahankan hasil belajarnya setelah kegiatan Hasil tersebut menunjukkan bahwa penerapan strategi CCPBL mampu membantu warga belajar memahami materi melalui pembelajaran yang kontekstual, kolaboratif, dan berbasis pemecahan masalah. Diskusi kelompok dan analisis studi kasus membuat warga belajar lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga pemahaman terhadap materi menjadi meningkat. KESIMPULAN Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian di PKBM Harapan Baru Tasikmalaya, penerapan strategi pembelajaran Collaborative Contextual Problem-Based Learning (CCPBL) mampu meningkatkan keaktifan, pemahaman materi, dan kemampuan berpikir kritis warga belajar pada materi pelestarian seni budaya tradisional. Pembelajaran yang mengintegrasikan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Cooperative Learning, dan Problem Based Learning (PBL) membantu menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif, partisipatif, dan kontekstual sehingga warga belajar lebih aktif dalam berdiskusi, menyampaikan pendapat, serta menganalisis permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Selain meningkatkan keterlibatan warga belajar selama proses pembelajaran, kegiatan ini juga membantu menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya pelestarian seni budaya tradisional. Ke depan, kegiatan serupa dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan komunitas seni lokal, pembelajaran berbasis pengalaman langsung, serta penggunaan media pembelajaran yang lebih variatif agar proses pembelajaran menjadi lebih optimal dan berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH Segala bentuk apresiasi dan terima kasih disampaikan kepada PKBM Harapan Baru Tasikmalaya yang telah memberikan izin dan dukungan dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada tutor dan seluruh warga belajar Paket B dan Paket C yang telah berpartisipasi aktif selama kegiatan berlangsung. Selain itu, penulis menyampaikan apresiasi kepada ibu Lesi Oktiwanti. Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah yang telah memberikan arahan, bimbingan, dan masukan sehingga kegiatan pengabdian ini dapat terlaksana dengan baik. Keberhasilan pelaksanaan pengabdian ini merupakan hasil dari kolaborasi, kerja sama, serta dedikasi seluruh anggota tim dalam melaksanakan kegiatan dan menyusun artikel ini. P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. DAFTAR PUSTAKA