Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 5 No. February 2025, pp. ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346. DOI: 10. 57163/almuhafidz. Journal Homepage: https://jurnal. stiq-almultazam. id/index. php/muhafidz/index THE NUSANTARA INTERPRETATION BY BUGIS SCHOLARS: SOCIAL AND LOCAL DIMENSIONS OF AL-MUNIR TAFSIR BY AGH. DAUD ISMAIL Abd. Haris,1* Nurfaika2 1 Universitas PTIQ Jakarta. Indonesia 2 Universitas Islam AsAoadiyah Sengkang. Indonesia Article Info ABSTRACT Article history: This essay explains the Nusantara interpretation, specifically the AlMunir Tafsir authored by AGH Daud Ismail, a prominent Bugis scholar from South Sulawesi. The interpretation plays a significant role in conveying Quranic messages in alignment with the social conditions surrounding the exegete. This study aims to investigate and analyze selected Quranic verses, subsequently examining their significance within the local societal context. The research employs a qualitative methodology utilizing literary review techniques, with a focused analysis of the Bugis Al-Munir Tafsir. Moreover, a phenomenological approach is utilized to establish connections between textual interpretation and social contexts. The articleAos findings reveal that AGH. Daud Ismail developed a contextual interpretation model that demonstrates profound sensitivity to the social dynamics of Bugis society. This is evident in the strategic selection of Lontarak linguistic expressions readily comprehensible to the Bugis community. This research discovered that the Al-Munir Tafsir transcends mere translation and interpretation of the Quran based on the exegete's immediate requirements. instead, its interpretative approach facilitates the community's understanding of the Quranic text. Specifically, this research highlights the author's utilization of local language and linguistic expressions as a methodological strategy to transform Quranic messages into the cultural reality of Bugis society. This study is anticipated to contribute to enriching the scholarly landscape of Nusantara tafsir studies by presenting an interpretation model that is responsively attuned to the social contexts of the Bugis community in South Sulawesi, with broader implications for advancing more contextual and inclusive interpretation methodologies. Received Dec 5, 2024 Revised Jan 28, 2025 Accepted Jan 28, 2025 Published Feb 25, 2025 Keywords: Bugis Locality Nusantara Social Tafsir How to Cite Haris. Abd. , and Nurfaika. AuThe Nusantara Interpretation by Bugis Scholars: Social and Local Dimensions of Al-Munir Tafsir by Agh. Daud IsmailAy. Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir, 5. , https://doi. org/10. 57163/alm This is an open access article under the CC BY license. Corresponding Author: Abd. Haris Universitas PTIQ Jakarta. Jalan Batan 1 No. Kelurahan Lebak Bulus. Kecamatan Cilandak. Jakarta Selatan. Indonesia Email: abd. haris@unisad. Copyright . 2025 Abd. Haris. Nurfaika Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 PENDAHULUAN Masyarakat Bugis mengalami kesulitan dalam memahami kandungan dan makna Al-QurAoan yang bersumber langsung pada Tafsir Al-QurAoan dalam konteks bahasa Bugis Lontrak. Tafsir Al-Munir karya AGH. 1 Daud Ismail ini hadir di tengah-tengah masyarakat Bugis agar memudahkan mereka paham terhadap kandungan Al-QurAoan langsung dari 2 Untuk memahami sebuah teks Al-QurAoan tidak hanya dibutuhkan suatu upaya untuk mempelajarinya, tetapi juga dibutuhkan Al-QurAoan yang utuh untuk kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Bugis. AGH. Daud Ismail menulis karya tafsirnya untuk memenuhi tujuan-tujuan itu agar masyarakat tidak sulit dalam memahami Al-QurAoan dengan menggunakan bahasa daerahnya masing-masing. Apalagi tidak semua masyarakat tahu dan paham maksud Al-QurAoan. Pembacaan terhadap ayat-ayat Al-QurAoan menyimpan makna dan hikmah yang harus dipahami dan diamalkan. Membaca sejarah para sahabat-sahabat Nabi saw. menggiring manusia untuk lebih bersemangat dalam memahami. Riwayat dari Abu Abdirrahman As-Sulami bahwa orang-orang yang biasa membacakan Al-QurAoan kepada kami, seperti Utsman bin Affan dan Abdullah bin MasAoud, serta yang lainnya. mereka belajar sepuluh ayat dari Nabi saw. mereka enggan melewatinya sebelum memahami dan mengamalkannya. Dewasa ini, konteks pemaknaan ayat-ayat terus mengalami perkembangan utamanya dalam penafsiran Al-QurAoan. Penafsiran di Arab tentu berbeda dengan penafsiran Al-QurAoan di Indonesia. Kawasan Arab yang menjadi tempat turunnya AlQurAoan sekaligus sebagai tempat kelahiran tafsir Al-QurAoan. Perbedaan itu tidak lebih dari karena perbedaan latar belakang budaya dan bahasa. Karena bahasa Arab adalah bahasa mereka, maka hampir tidak mengalami kesulitan. Secara mutlak dapat dipahami bahwa seiring dengan perkembangan penafsiran Al-QurAoan mengalami proses penafsiran yang relatif cepat dan pesat. Dalam proses pemahamannya tentu membutuhkan waktu untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan selanjutnya mengarah kepada penafsiran yang lebih terinci dan terarah, berdasarkan corak dan penafsiran yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri dalam tahap penafsiran Al-QurAoan merupakan suatu langkah dan proses dialektika bagi para mufassir dengan berbagai macam hal yang melingkupinya, misalnya konteks sosial 1Istilah AuAGHAy adalah singkatan dari anregurutta. Dalam suatu diskusi seminar buku sejarah keAoasadiyahan bulan desember lalu 2021. Dr. Ahmad Muktamar, sebagai tim penulis buku sejarah keasAoadiyahan menyampaikan bahwa gelar disandang dalam dua ranah yaitu. tokoh yang pernah memimpin AsAoadiyah dan Tokoh yang memiliki peran penting dalam lembaga dan memiliki sebuah karya. Anronguru (Makssa. Anregurutta (Bugi. berarti bapak dari segala guru. Ini adalah gelar kultural bersifat Secara umum dipahami bahwa gelar AuAGHAy adalah sesuatu hal yang sangat mendalam dan sangat sakral maknanya, utamanya relevansinya dengan ketokohan dan keulamaan suku Bugis. Dan hal ini sudah membudaya bagi warga AsAoadiyah secara spesifik dan Sulawesi selatan pada umumnya. Gurutta Haji, atau Haji. Kyai Haji dalam peristilahan Jawa. Lihat. Muhammad Adlin Sila. AuAsAoAdiyah Pencetak Ulama Dan Pesantren Di Sulawesi Selatan,Ay EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Dan Keagamaan, 2017, https://doi. org/10. 32729/edukasi. 2 Daud Ismail. Tafsir Al-Munir. Jlid 1 bab muqaddimah (Ujung P andang: CV. Bintang Selatan, n. 3 Winceh Herlena and Muads Hasri. AuUnsur Lokalitas Dalam Tafsir Berbahasa Bugis Karya AGH. Daud Ismail (Studi Analisis Psychological Hermeneutics Terhadap QS. Al-Maidah 5:. ,Ay El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Tafsir Hadis 9, no. : 239, https://doi. org/10. 29300/jpkth. 4 Syaikh MannaAo Al-Qaththan. Pengantar Studi Ilmu Al-QurAoan, ed. LC Abduh Zulfidar Akaha. LC. Muhammad Ihsan. Cet. IV (Jakarta Timur: Pustaka AL-Kautsar, 2. 5 Abdul Rouf. Mozaik Tafsir Indonesia Kajian Ensiklopedis Karya Tafsir Nusantara Dari Abdur Rauf AsSingkili Hingga Muhammad Quraish Shihab. I (Depok. Jawa Barat: Sahifa Publishing, 2. The Nusantara Interpretation by Bugis ScholarsA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 budaya, basis sosial dan intelektual, hingga pada persoalan spiritualitasnya. Penafsiran Al-QurAoan di Indonesia misalnya, umumnya sudah tampak ragam corak penafsiran yang dilakukan para mufasir Nusantara. Semenjak zaman kerajaan Islam hingga pasca reformasi saat ini. Karya tafsir Nusantara memberikan kontribusi yang sangat luas dan seiring dengan perkembangan zaman dan menjadikan problematika sosial semakin kompleks, sehingga menjadi tuntutan zaman, tidak terkecuali para mufassir untuk menafsirkan Al-QurAoan sesuai dengan konteks. Eksistensi tafsir di era modern ini tentu tidak bisa lepas dari peran akal dan potensi dasar yang dimiliki manusia sebagai pembentuk kebudayaan serta transformasi sosial. Perkembangan sosial budaya yang ada di Jawa misalnya, tentu memiliki perbedaanperbedaan yang begitu signifikan, baik budaya di Bali. Sumatera, termasuk Sulawesi. Sulawesi terdapat beberapa suku yang lingkup sosial dan budayanya berbeda. Misalnya suku Bugis Makassar, berbeda dengan suku Bugis Mandar, dan Tanah Toraja. 8 Dalam tahap pengajaran Al-QurAoan sejak abad 16 sudah ada ulama yang menulis tafsir yang bertebaran di bumi termasuk bumi Selebes, meskipun belum dalam bentuk sempurna 30 Sejak awal itu juga banyak diperkenalkan oleh Kyai dari berbagai daerah di tanah air misalnya Kyai dari Aceh. Minangkabau. Kalimantan Selatan. Jawa. Semenanjung Melayu, dan Timur Tengah. Hanya saja, waktu itu Al-QurAoan diajarkan terbatas dalam kalangan istana dan objek kajiannya hanya seputar permasalahan keluarga dan disatukan dalam adat istiadat yang dikenal dalam lokal suku Bugis adalah pangadarang atau Di Sulawesi Selatan sendiri ada beberapa karya ulama Bugis di antaranya adalah tafsir Al-Munir karya AGH. Daud Ismail. Abd. Min Yusuf . Tafesere Akorang Mabbahasa Ogi. Makmur Ali . 5-2000 M). Makmur Ali. AGH. Hamzah Manguluang. AGH. Abduh Pabbaja. Berdasarkan ragam tafsir tersebut, tulisan ini hendak menelusuri dari pola penafsiran AGH. Daud Ismail terhadap pemilihan diksi dalam penafsirannya yang dianggap memudahkan masyarakat paham maknanya yang memang sesuai dengan bahasa Bugis Lontarak. Penelitian ini berangkat dari spesifik penafsiran yang tidak hanya pada aspek lokalitas, namun penulis juga melirik sampel ayat yang diuraikan oleh AGH. Daud Ismail pada konteks pemaknaan yang erat kaitannya dengan sosial sebagai bentuk penyampaian yang diartikulasikan oleh AGH. Daud Ismail dalam tafsirnya agar memudahkan masyarakat lokal Bugis menangkap pesan-pesan dan makna Al-QurAoan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dimensi dan unsur-unsur lokalitas dalam kitab tafsir AlMunir ini sebagai bentuk realitas lokal masyarakat Bugis. Dengan demikian, asas manfaat dari teks-teks Al-QurAoan yang dicontohkan di dalam kitab ini dapat berkontribusi bagi peneliti yang lain untuk lebih jauh menelusuri sisi-sisi yang belum diungkap secara sempurna dalam kajian ini. 6 Sayyidah Khalifah. AuTipologi Tafsir Alquran Di Indonesia Pasca Reformasi: Telaah Pribumisasi Al- QurAoan Karya M. Nur. Kholis Setiawan,Ay Mutawatir. Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith 126, no. : 1Ae7. 7 Alfin Nuri Azriani. Inter Relasi Al-QurAoan Dan Budaya Jawa Dalam Tafsir Al-Ibriz Karya Bisri Mustofa (Surabaya: Repository UIN Sunan Ampel, 2. 8 Muhammad Yusuf. AuRelevansi Nilai-Nilai Budaya Bugis Dan Pemikiran Ulama Bugis: Studi Atas Pemikirannya Dalam Tafsir Berbahasa Bugis Karya MUI Sulsel,Ay El-Harakah 15, no. : 201, https://doi. org/10. 18860/el. 9 Muhsin Mahfudz. AuTafsir Al- QurAoan Berbahasa Bugis,Ay Al-Fikr 14, no. : 34. Vol. 5 No. February 2025, pp. Abd. Haris. Nurfaika Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 TINJAUAN PUSTAKA Salah satu penelitian yang mirip dengan kajian ini adalah terkait dengan aspek Kesamaan sampel yang diuraikan pun serupa namun penelitian tersebut lebih spesifik ke satu surah saja dan ditinjau dari aspek studi analisis psycological hermeneutics terhadap QS. Al-Maidah 5: 10. Kajian ini ditulis oleh Winceh Herlena dan Muh. MuAoads Hasri. 10 Namun, penelitian tersebut menggunakan pendekatan Hermeneutika Schleiermacher yang berkaitan dengan psikologi hermeneutika dan mengurai penelitiannya menggunakan metode deskriptif-analitik. Dalam penelitian tersebut tidak mengkaji secara mendalam aksara Lontarak dalam tafsir Al-Munir, bagaimana tafsir AlMunir menggunakan aksara Lontarak yang menjadi aspek krusial hari ini, terutama melestarikan tafsir dengan cara mengkaji dan tetap melestarikan pembahasalokalan etnis Bugis. Yang menjadi pembeda penelitian penulis ini, yaitu penulis akan menganalisis sampel ayat-ayat yang ditafsirkan AGH. Daud Ismail kemudian mencoba untuk melihat fenomena dan kondisi sosial masyarakat Bugis. Tulisan ini juga menguraikan contoh lain yang terdapat di dalam kitab tafsir Bugis ini untuk melengkapi dan menambah sampel lokalitas-sosial yang dapat membuktikan konteks penafsiran AGH. Daud Ismail, kecenderungan penafsirannya ingin memberikan pemahaman yang mudah bagi masyarakat Bugis agar tidak jauh dari teks agama. yaitu Al-QurAoan untuk kemudian diamalkan dalam kesehariannya. Selain itu, agar kandungan-kandungannya tersampaikan kepada masyarakat dengan jelas, dan tetap menggarap bagaimana aksara Lontarak menjadi hal penting bagi masyarakat Bugis untuk tetap merujuk dan paham, serta tidak jauh dari pemahaman Al-QurAoan. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan Fenomenologi menurut Hasan Hanafi yang mengadopsi teori Husserl, dalam mencari realitas, kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam aspek penafsiran. Menurut Hasan Hanafi. Fenomenologi dalam konteks penafsiran dapat dilihat dari beberapa hal. Yaitu teori tafsir merupakan teori yang dihubungkan antara wahyu dan Maksudnya adalah makna teks Al-QurAoan tidak hanya sebatas mendeduksi makna dari teks Al-QurAoan, tetapi sebaliknya. Al-QurAoan juga dapat berfungsi dalam menginduksi makna dari realitas ke dalam teks. Selain itu, penerapan fenomenologi dalam penafsiran Al-QurAoan berperan penting untuk mengetahui dan mencapai makna yang objektif dari sebuah teks, tanpa ada otoritas dari pemilik pendapat. 11 Metode kualitatif deskriptif tentunya fokus pada pengumpulan dan analisis data non-numerik, dengan fokus pada tafsir Al-Munir yang bertujuan untuk menggambarkan, mengeksplorasi, dan memahami pola penafsiran AGH. Daud Ismail secara mendalam. Dalam hal ini, mendeskripsikan secara komprehensif penafsiran AGH. Daud Ismail yang berkaitan dengan aspek sosial dan lokalitas masyarakat Bugis. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomenologi ini bertujuan untuk memahami makna dan pandangan subjektif AGH. Daud Ismail dalam menafsirkan Al-QurAoan yang relevan dengan masyarakat Bugis termasuk bagaimana lokalitas memengaruhi penafsiran. 10 Herlena and Hasri. AuUnsur Lokalitas Dalam Tafsir Berbahasa Bugis Karya AGH. Daud Ismail (Studi Analisis Psychological Hermeneutics Terhadap QS. Al-Maidah 5:. Ay 11 Hasan Hanafi. Hermeneutika Al-QurAoan?, (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2. , hal. The Nusantara Interpretation by Bugis ScholarsA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 HASIL DAN DISKUSI Sejarah Tafsir di Bumi Nusantara Bila membaca sejarah sosial dan intelektual Islam di Nusantara 20 tahun terakhir, penulisan tafsir di kawasan ini sangat dinamis. Secara singkat, terkait dengan Al-QurAoan di Indonesia dirintis oleh Abdur Rauf Singkili yang menyusun Al-QurAoan ke dalam bahasa Melayu pada abad XVII. Lalu diikuti oleh Munawar Chalil (Tafsir QurAoan Hidayatur Rahma. Hassan Bandung . l-Furqan, 1. Mahmud Yunus (Tafsir QurAoan Indonesia, 1. Halim Hasan (Tafsir Al-QurAoan al-Karim, 1. Zainuddin Hamidi (Tafsir a-QurAoan, 1. Iskandar Idris (Hibarn. , dan Kasim Bakri (Tafsir Al-QurAoan al-Hakim, 1. Hamka (Tafsir Al-Azhar, 1. Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab. Menurut Islah Gusmian, sejak era Abdur Rauf Singkili . 5-1693 M) pada abad 17 M hingga era M. Quraish Shihab era awal abad 21 M di rentang waktu itulah karya-karya tafsir Indonesia lahir dari tangan intelektual muslim dengan basis sosial yang beragama. Dalam tahap perkembangan tafsir tersebut, menurut Federspiel berkesimpulan bahwa terjadinya pergeseran dan perubahan yang signifikan di periode tersebut sistematisasi Al-QurAoan studi tafsir yaitu Mahmud Yunus. Tafsir ini sangat berpengaruh terhadap literature tafsir di Indonesia. Penafsiran tidak hanya sebatas penafsiran berbahasa Indonesia, tetapi juga pada abad ke-20 hingga abad ke-21 ulama Nusantara banyak yang mengkaji dengan menggunakan bahasa-bahasa daerah. Kamajuan Islam sangat terlihat di beberap kota dan daerah seperti Yogyakarta (QurAoan Kejawen dan QurAoan Sundawiya. Bisri Mustafa Rembang . l-Ibriz, 1. Muhammad Adnan (Al-QurAoan Suci Basa Jawi, 1. dan Bakri Syahid . l-Huda, 1. Bahkan sebelumnya, pada tahun 1310 H. Kiai Muhammad Sholeh Darat Semarang menulis sebuah tafsir dalam bahasa Jawa huruf Arab. AGH. Daud Ismail menulis tafsir Al-QurAoan bahasa Bugis Ugi. 14 Pada awal abad ke-XIX terkait tafsir dalam bahasa Lontarak Bugis. Stamford Raffles memperoleh suatu teks dari temannya. Dr. Leyden keliru dalam mengidentifikasi sebagai teks yang ditulis dalam bahasa Bugis. Ternyata yang dimaksud dalam teks tersebut adalah teks yang ditulis ke dalam bahasa Makassar dan merupakan parafrase Al-QurAoan dalam bahasa tersebut. Keragaman bahasa yang digunakan dalam tafsir Nusantara hingga bahasa lokal seperti Jawa. Sunda dan Bugis, tentu kekhasan yang melekat dalam corak penafsiran itu memberikan model atau nuansa yang bisa meneguhkan identitas ke-Indonesia-an layaknya tafsir berbahasa Arab. Kekhasan ini kemudian dapat dikembangkan di Nusantara. Upaya-upaya ini akan menuntun masyarakat yang memiliki ikatan batin untuk terus mengkaji dan menggali hikmah yang terdapat di dalam Al-QurAoan. Misalnya, mengundang para cendikiawan untuk menulis dan menerjemahkan Al-QurAoan. Karena kajian ke-Islaman dan tafsir-tafsir yang bermunculan sekarang ini, menjadi ramai dan dianggap strategis dan efektif utuk membumikan nilai-nilai Al-QurAoan. Nusantara pernah menjadi perbincangan di bumi pertiwi Indonesia, diskusi ini bukan hanya di kalangan masyarakat, tetapi juga di kalangan akademisi dan ulama, baik 12 Rouf. Mozaik Tafsir Indonesia Kajian Ensiklopedis Karya Tafsir Nusantara Dari Abdur Rauf As- Singkili Hingga Muhammad Quraish Shihab. Cet. 1 Cilacap: Sahifa Publishing, 2020, hal. 13 Mabrur. AuEra Digital Dan Tafsir Al QurAoan Nusantara: Studi Penafsiran Nadirsyah Hosen Di Media Sosial,Ay Prosiding Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam Dan Sains 2 . 14 Rouf. Mozaik Tafsir Indonesia Kajian Ensiklopedis Karya Tafsir Nusantara Dari Abdur Rauf AsSingkili Hingga Muhammad Quraish Shihab. 15 R Michael Feener. AoNotes towards the History of QurAoanic Exegesis in Southeast AsiaAo. Studi Islamika, 5 . 8AD). 16 Mabrur. AuEra Digital Dan Tafsir Al QurAoan Nusantara: Studi Penafsiran Nadirsyah Hosen Di Media Sosial. Ay Vol. 5 No. February 2025, pp. Abd. Haris. Nurfaika Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 nasional hingga kalangan internasional. Misalnya, koran harian berbahasa Arab di London memuat tulisan secara panjang lebar dengan judul Islam Nusantara Madkhal Indonesia li MujtamaAo Mutasamih (Islam Nusantara adalah gerbang Indonesia menuju masyarakat toleran. 17 Keberadaan Islam di Nusantara menjadi kontestasi para pakar dalam tiga hal utama, yaitu tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya, dan waktu Sejumlah cendekiawan dari Belanda berpegang pada teori asal muasal Islam di Nusantara adalah anak benua India, bukannya Persia atau Arabia. Teori ini dikemukakan pertama kali oleh Pinapple, asli dari universitas Leiden. Hal ini relevan dengan asal muasal Islam di Nusantara Gujarat dan Mulabbar. Menurutnya, orang-orang Arab bermazhab SyafiAoi yang bermigrasi dan menetap di wilayah India saat itu, kemudian membawa ke Nusantara. Setelah melihat perkembangan tafsir di Nusantara yang berkembang, hal tersebut memunculkan respon sebagai pertimbangan bahwa meskipun jarak tempuh antara Indonesia dengan Arab (Tanah Suc. , ilmu tafsir sudah muncul dan dikenal di kalangan masyarakat muslim Nusantara sejak abad ke-17 Masehi. Akan tetapi keberadaannya masih tergolong lamban, jarang atau bahkan bisa dihitung jari. Perkembangannya jauh lebih berkembang di abad ke 20. Ulama dan Budaya Bugis Al-QurAoan selalu menyesuaikan dengan zaman . halihun likulli zaman wa maka. , yaitu Al-QurAoan memiliki keistimewaan terlebih kemukjizatannya untuk terus Tidak terbatas oleh ruang, zaman dan waktu. Kompleksitas Al-QurAoan terletak bagaimana kapabilitas dalam menghidangkan ungkapan yang bisa diartikan ke berbagai ragam arti, juga menggunakan bahasa yang beragam, selama arti itu masih selaras dan sejalan dengan konsep serta prinsip-prinsip Islam, termasuk di dalamnya tidak ada yang kontradiksi dengan kaidah bahasa Arab. Dalam catatan sejarah, misalnya abad ke-20 di mana para ulama Nusantara tidak merasa tertinggal dalam mengungkapkan pesan-pesan Al-QurAoan dan mengkajinya secara Sehingga para intelektual muslim memperlihatkan kelincahannya dalam mentransformasikan tradisi tafsir hingga terus berkembang. Di Nusantara ini cukup banyak ulama-ulama yang menekuni bidang tafsir, penerjemahan Al-QurAoan hingga membuat suatu karya yang sangat monumental. Tidak hanya di tulis ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab, tetapi juga banyak ditemukan karya tafsir menggunakan bahasa lokal daerah. Di antaranya adalah H. Ahmad Sanusi bin Abdurrahman dari Sukabumi. Jawa Barat dengan karyanya Raudhat al-AoIrfani fi maAorifati Al-QurAoan. Beliau termasuk ulama produktif dalam berkarya yang berisi tentang ajaran agama Islam. Selanjutnya. Tafsir Al-QurAoan lengkap 5 jilid karya Moh. Amin bin Ngabdul Muslim, menggunakan aksara Jawa dan masih banyak lainnya. Di kawasan Arab juga terus bergeliat di abad ke-20 seperti Prof. Dr. Syaikh Wahbah al-Zuhaili. Tafsir Al-Munir fi AlAoAqidah wa Al-SyarAoiyah wa Al-Manhaj. Karakter khusus yang ada di dalam kitab ini cukup sistemasis, mulai dari qiraatnya. IAorab, balaghah, mufradat, lughah, hingga asbab an-Nuzul 17https://w. id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/12/28/p1nunc313- dunia-internasional-melirik-islam-nusantara. diakses pada hari Selasa, 08 Juni 2022. 18 Anggi Wahyu Wahyu Ari. AoSejarah Tafsir NusantaraAo. Jurnal Studi Agama, 3. , 113Ae27 19https://w. id/berita/dunia-islam/islam-digest/18/02/21/p4hlim313-sejarahtafsir-alquran-dan-perkembangannya-di-indonesia. diakses pada tanggal 21 Juni 2022 pukul 22. WIB. 20 Ahsin Sakho Muhammad. Ilmu Al-QurAoan . emahami ilmu Qiraat, ilm Rasm Usmani, ilmu Tafsir dan Relevansiny. Jakarta: PT Qaf Media Kreativa. Cet. I, 2020. 21 Edi Komaruddin, dkk. Tafsir QurAoan Berbahasa Nusantara (Studi Historis terhadap Tafsir Berbahasa Sunda. Jawa, dan Ace. Al-Tsaqafah: Jurnal Peradaban Islam. Vol. 15 No. Desember 2018, hal. The Nusantara Interpretation by Bugis ScholarsA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 dan munasabahnya, dengan kandungan-kandungan hukum setiap pembahasan atau tema dan seterusnya. Demikian pula dengan ulama-ulama tafsir yang lainnya hingga kontemporer terus mengalami pertumbuhan. Dalam fase selanjutnya, geliat dan semangat dalam menafsirkan Al-QurAoan juga terlihat dari seorang ulama Bugis. Dalam tafsir berbahasa Bugis Lontarak sendiri secara spesifik telah dilakukan beberapa penelitian oleh para akademisi, baik sifatnya tematik hingga pada persoalan corak dan konteks penafsirannya. Misalnya tafsir bahasa Bugis karya AGH. Abd. Muin Yusuf Tafsir Al-QurAoan (Tafsere Akoran. yang terbit pada tahun 2010 dalam Jurnal Al-Fikr. Mufid Syakhlani melakukan penelititan terhadap kitab tafsir berbahasa Bugis lainnya seperti Tafsir Al-Munir karya AGH. Daud Ismail. Dalam sejarah, suku Bugis juga memiliki kekhasan budaya dan peradaban tersendiri seperti halnya suku lain di Indonesia. Awalnya orang Bugis hanya mendiami daerahnya di tanah Bugis dan Makassar dan tahap selanjutnya meninggalkan kampung halamannya untuk merantau. Merantau tidak hanya berkreasi dalam mengembangkan budayanya juga untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Meski kebudayaan sulit dipertahankan, tetapi substansial dari nilai-nilai kebudayaan itu yang penting dijaga. Setidaknya dua hal yang menjadi suatu alasan mengapa kebijaksanaan lokal sangat perlu dijaga yaitu, identitas dan orientasi hidup yang dibutuhkan manusia. Seorang antropolog. Mattulada dalam A. B Takko Bandung mengungkapkan bahwa jika seorang raja berbuat sewenang-wenang, maka rakyat dapat menurunkan raja atau meninggalkan daerahnya. 24 Di sisi lain orang Bugis juga memiliki kemampuan merantau untuk mencari pengalaman dan ilmu pengetahuan . enuntut ilm. Hal ini terlihat dari sosok ulama Bugis yang mengenyam pendidikan agama di kota Makkah. Salah satu ulama yang masyhur adalah AGH. Muhammad AsAoad al-Bugisy. Setelah mengenyam pendidikan di Makkah saat itu, ia kembali memenuhi panggilan masyarakat Bugis Wajo, mengingat masyarakat setempat saat itu menganut paham takhayyul, khurafat dan syirik. Dan masa itu pula mengajarkan pendidikan agama kepada murid-muridnya. Salah satu muridnya adalah AGH. Daud Ismail yang memiliki karya yang dapat dilihat hingga saat ini. Karyanya adalah tafsir Lontarak bahasa Bugis kitabnya adalah tafsir Al-Munir. Dalam catatan sejarah literatur kuno masyarakat Sulawesi Selatan. Bugis . uga Makassa. sudah dikenal dengan AuLontarakAy. Secara umum menceritakan asal muasal kejadian manusia, adanya aturan dan tatanan kehidupan manusia, dan lain-lain. Kehidupan Pra Islam hingga saat ini dapat diungkap melalui sumber-sumber tertulis pada abad XIV M. hingga Islam diterima sebagai agama yang dianut masyarakat pada abad XVII. Dalam zaman tersebut mendeskripsikan situasi dan kondisi masyarakat Bugis dengan Lontarak. Salah satu tujuan dari tafsir Al-Munir karya AGH. Daud Ismail ini adalah untuk memudahkan masyarkat Bugis dalam memahami dan mempelajari pesan-pesan AlQurAoan yang notabene kala itu AGH. Daud Ismail melihat masyarakat awam kesulitan dalam memahami makna dan kandungan Al-QurAoan, sehingga AGH. Daud Ismail beriAotiqad 22 Muhammad Yunus, dkk. Tafsir Bahasa Bugis AG. Daud Ismail: Aplikasi Penafsiran dengan Metode HidaAoI tentang Al-Rijs. Jurnal Tafsere, vol. 10 Nomor 1, 2022, hal. 23 Andi Muhammad Akhmar. Burhanuddin Arafah, and Wahyuddin Pardiman. AuStrategi Budaya Orang Bugis Pagatan Dalam Menjaga Identitas Ke-Bugis-an Dalam Masyarakat Multikultur,Ay Kapata Arkeologi 13, no. : 73, https://doi. org/10. 24832/kapata. 24Gusti Ngurah Mayun Susandhika. AoGlobalisasi Dan Perubahan Budaya: Perspektif Teori Kebudayaan ModernAo. Jurnal Ilmiah Cakrawarti, 1. 25 Yusuf. AuRelevansi Nilai-Nilai Budaya Bugis Dan Pemikiran Ulama Bugis: Studi Atas Pemikirannya Dalam Tafsir Berbahasa Bugis Karya MUI Sulsel. Ay Vol. 5 No. February 2025, pp. Abd. Haris. Nurfaika Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 untuk menerjemahkan dan menafsirkan Al-QurAoan dengan menggunakan bahasa lokal masyarakat Bugis, dengan menggunakan bahasa Lontarak ogi. Selain itu, dibubuhi dengan penjelasan-penjelasan singkat dalam penafsirannya. Hal itu. AGH. Daud Ismail memberikan penjelasan singkat tentang kitabnya tersebut. Tafsir Al-Munir cukup sistematis mewujudkan suatu pemahaman yang sahih dalam mengutip pesan Al-QurAoan melalui uraian dan penjelasan ayat. 26 Dalam kajian tafsir tentu memiliki spesifikasi-spesifikasi yang menjadi perhatian utama ketika mengkaji sebuah tafsir baik teknik, bentuk dan coraknya. Di antaranya adalah bagaimana penafsiran dan pembahasan menggunakan teknik tahlili . , ijmali . , muqaran . , dan juga mauduAoi . Lebih jauh dalam kajian tafsir menggunakan sumber-sumber yang digunakan dalam penafsiran, baik menggunakan riwayat israiliyyat, atau menggunakan bi ar-raAoyi hingga bi al-maAotsur. Biografi Singkat AGH. Daud Ismail AGH. Daud Ismail salah satu di antara ulama Bugis di Sulawesi Selatan dikenal sebagai sosok karismatik, tidak hanya dikenal di tengah-tengah masyarakat Sulawesi tetapi juga secara nasional. AGH. Daud Ismail lahir pada 30 Desember di Cenrana Soppeng. Kedua orang tuanya adalah tokoh terpandang dan memiliki peran penting dalam memutuskan suatu persoalan. AGH. Daud Ismail berguru langsung dari AGH. AsAoad al-Bugisy, masyarakat setempat menyebutnya Puang aji SadeAo perintis Madrasatul Al-Arabiyah Al-Islamiyah 1930. Madrasah ini mengalami perubahan nama hingga tiga kali dan kemudian terakhir dinisbahkan menjadi pondok pesantren AsAoadiyah. Pesantren ini banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka. Pondok pesantren ini merupakan pondok pesantren tertua di Sulawesi Selatan. AGH. Daud Ismail adalah salah satu murid yang sangat beruntung bisa belajar dan menimba ilmu dari sosok Anregurutta yang pernah belajar di Makkah. Bahkan karena warisan keilmuan banyak di antara murid-murid AGH. AsAoad al-Bugisy menjadi pimpinan pondok yang tersebar di Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah AGH. Daud Ismail, diangkat menjadi guru bantu pada saat itu, disamping menjadi santri di Madrasatul Al-Arabiyah Al-Islamiyah. Diantara posisi-posisi yang pernah diemban AGH. Daud Ismail selain menjadi guru bantu pada tahun 1942, juga pernah diminta menjadi imam besar Masjid Raya Lalabata pada tahun 1943 hanya satu tahun. AGH. Daud Ismail pernah diminta oleh Datuk Pattojo untuk memberkan pemahaman dan kajian agama di keluarga bangsawan. Selanjutnya pernah menjadi KUA Bone yang kemudian berpindah ke Soppeng sebagai (Qadh. penghulu syaraAo. Selang beberapa lama dipindahkan lagi ke Bone sebagai (Qadh. hingga Dan pada akhirnya pada tahun 1953-1961 dipercayakan untuk menjadi pimpinan Madarasatul Al-Arabiatul Al-Islamiyah selama delapan . Di antara santri-santri AGH. AsAoad al-Bugisy . erintis pondok pesantren AsAoadiya. terlama dalam menimbah ilmu adalah AGH. Daud Ismail. Dan tidak kalah hebatnya adalah pernah menjadi penasehat Komando Daerah Militer Sulawesi pada tahun 1966-2006. Pada 26Harun Nasution. Pembaharuan dalam Islam. Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang. 1975, hal. 27 M. Mufid Syahklani. Kajian Tafsir Nusantara. Tafsir Al-QurAoan Berbahasa Bugis . karangan AGH. Daud Ismail. Muharrik. Jurnal Dakwah dan Sosial. V ol. 1 No. 2, 2018, hal. The Nusantara Interpretation by Bugis ScholarsA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 akhirnya saat diminta jadi Qadhi di Soppeng, saat-saat itu menjelang kematiannya dan kembali ke Ilahi Rabbi. Pendidikan dan Karya Monumental AGH. Daud Ismail Buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, pribahasa ini mengibaratkan sosok AGH. Daud Ismail semasa kecilnya belajar Al-QurAoan dari orang tua yang melahirkannya yang dikenal dengan H. Ismail alias Katte Maila . ama gela. Ia dan temannya yang bernama Maryam belajar bersama di bawah rumah . umah panggung khas Bugi. di bawah asuhan orang tuanya sendiri. Dari sejak kecil terlihat kecerdasan, ketekunan dan perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan. Kedalaman pengetahuannya di berbagai ilmu agama Islam yang diperolehnya tidak terlepas dari jasa guru-gurunya, baik dari guru ke guru hingga dari satu tempat ke tempat yang lain. Silsilah gurunya yaitu. pertama Haji Muhammad Shaleh. Imam Lompo di Cangadi. Kecamatan Liliriaja Kabupaten Soppeng. Kedua H. Ismail (Qadi Soppen. ketiga Guru Tengnga di Ganra Kabupaten Soppeng. Keempat Haji Syamsuddin Imam Sengkang. Kelima Haji Daeng Sumange di Kampung Ceppie Kabupaten Soppeng. Riaja. Keenam Haji Kitta Qadhi Kabupaten Soppeng. Riaja. Ketujuh. Muhammad AsAoad Kabupaten Wajo. Sengkang. Perjalanan keilmuan AGH. Daud Ismail dimulai ketika beliau mendapatkan informasi tentang kehadiran seorang ulama Bugis yang baru kembali dari Mekkah dan mengadakan pengajian . di Sengkang. Kabupaten Wajo. 29 atau mangaji kittaAo, atau mangaji tudang . stilah Bugi. Pada akhirnya AGH. Daud Ismail tidak bersabar untuk segera ke Sengkang demi belajar dari sosok AGH. Muhammad AsAoad 30. Madrasah yang digagas AGH. Muhammad AsAoad bernama MAI (Madrasah Arabiyah al-Islamiya. pada bulan Mei 1930 di Kota Sengkang. Kabupaten Wajo yang sekarang dinisbahkan dengan namanya menjadi Pondok Pesantren AsAoadiyah Sengkang. Pada mulanya AGH. Muhammad AsAoad membuka halaqah atau pengajian di kediamannya sendiri di Sengkang, pada akhirnya santri-santri di bawah asuhan dan pengajarannya langsung menarik minat santri lokal khususnya di daerah Sengkang untuk belajar dan semakin hari santrinya pun bertambah banyak, hingga pengajian atau halaqahnya dipindahkan dan dipusatkan di samping Masjid Jami Sengkang atas ide dan inisiatif Penguasa Kerajaan Wajo. Andi Cella yang didukung oleh Petta Ennengnge. Keilmuan AGH. Daud Ismail juga beliau rasakan setelah banyak belajar langsung kepada AGH. Muhammad AsAoad. Misalnya progresif ilmu yang dirasakan beliau kuasai seperti ilmu qawaid, ilmu ushul fiqh, ilmu mantiq dan lain-lainnya. Bukan hanya AGH. Daud Ismail yang merasakan hal tersebut tetapi turut dirasakan oleh teman-teman atau santrisantri yang lain. Dan apa yang telah diajarkan oleh AGH. Muhammad AsAoad sangat berbekas dan mudah diserap santri-santrinya. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sosok AGH. Muhammad AsAoad merupakan ulama karismatik, dan keilmuan yang 28 Muhammad Yunus. Ghalib, and Muhammad Sadik Sabry. AuTafsir Bahasa Bugis AG. Daud Ismail: Aplikasi Penafsiran Dengan Metode HidaAoi Tentang Al-Rijs,Ay Jurnal Tafsere 10, no. : 78Ae103, https://doi. org/10. 24252/jt. 29 Muhammad Ruslan dan Waspada Sinting, eds. Ulama Sulawesi Selatan. Biografi Pendidikan dan Dakwah (Cet. Makasar: Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Sulawesi Selatan, 2. , h. 30 AGH. Muh. AsAoad dilahirkan di Mekkah pada tahun 1907 M, beliau besar dan dididik di lingkungan ulama Mekkah, di samping memperoleh pendidikan langsung dari kedua orang tuanya yang dikenal sebagai ulama pula. Pada usia 14 tahun . 1 M) telah tamat menghafal Al-QurAoan 30 juz. Karena ketekunanya dalam menelaah pelajaran sehingga pada usia 21 tahun, beliau menjadi ulama besar yang sangat disegani. Pimpinan Pusat AsAoadiyah. Setengah Abad AsAoadiyah 1930-1980 (Sengkang: t. , t. ), h. 31 Muhyiddin Thahir. Pemikiran Akhlak AG. Daud Ismail Dalam Tafsir Al-Munir. , ed. Disertasi UIN (Makasar: (Universitas Islam Negeri Makassa. , n. Vol. 5 No. February 2025, pp. Abd. Haris. Nurfaika Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 dimiliknya menjadi keberkahan bagi santri-santrinya. Pengakuan AGH. Daud Ismail sebagai murid menjadi informasi akurat atas keulamaan dan keilmuan sosok ulama di Sulawesi Selatan itu dan menjadi cikal bakal pondok-pondok pesantren di Sulawesi Selatan sendiri. 32 Menurut pengakuan AGH. Daud Ismail, aura keilmuan AGH. Muhammad AsAoad membuat santri-santrinya cepat menguasai apa yang diajarkannya. Setelah AGH. Daud Ismail melihat keilmuan yang dimiliki AGH. Muhammad AsAoad, maka Ia mulai tinggal di Sengkang. Dari hasil ketekunan dan antusias AGH. Daud Ismail menghasilkan beberapa karya yang monumental dan bisa dikonsumsi oleh santri-santri pondok pesantren AsAoadiyah hari ini tidak terkecuali tafsir Al-Munir. AGH. Daud Ismail meninggalkan warisan intelektual yang sangat berharga melalui karya-karyanya yaitu: Pengetahuan Dasar Agama Islam sebanyak tiga . Buku ini menarasikan tentang pengetahuan dasar agama Islam yang meliputi rukun iman dan rukun Islam. Al-TaAorif al-Aoalim-al-AoAllamah al-Syaikh al-Haj Muhammad AsAoad al-Bugisi. Buku ini berisi tentang biografi hidup AGH. Muhammad AsAoad, salah satu guru AGH. Daud Ismail. Bicaranna Nikkae (Bugi. atau (Perkara Nika. buku ini mengupas hukum-hukum nikah. Bicaranna Sempajangnge (Bugi. atau (Perkara Shala. mengupas perkara-perkara Kumpulan doa-doa harian. Kumpulan khutbah jumat berbahasa Bugis. Tafsir Bugis Lontarak Mengenal karya tafsir ulama Nusantara yang telah mampu menafsirkan Juz 30 lengkap patut dihargai dan disyukuri misalnya dalam khazanah tafsir nusantara, banyak karya ulama yang sangat memberikan sumbangsih luar biasa dalam penafsiran Al-QurAoan. Karya-karya monumental seperti Abdul Rauf al-Sinkili dengan karya Tajumanul QurAoan. Hamka dengan kitab Tafsir al-Azhar, dan Quraish Shihab dengan kitab Tafsir al-Misbah. Merambah ke kajian tafsir di Indonesia ternyata memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri bagi Indonesia untuk mengenal tafsir lokal Nusantara, misalnya di Sulawesi Selatan, terdapat banyak karya ulama Bugis yang memiliki kekhasan dan juga menjunjung tinggi nilai budaya yang ada. Kekhasan yang digunakan oleh ulama Bugis tersebut menjadi corak serta gaya bahasa dalam transformasi lokal yang cukup berkontribusi dalam membangun insan yang berkarakter atau melihat hal-hal yang terjadi di tengahtengah masyarakat sendiri khususnya masyarakat Wajo. Tafsir lokal yang dimaksudkan adalah tafsir Al-Munir. Tafsir ini adalah tafsir 30 Juz yang ditulis dengan bahasa Bugis Lontarak. AGH. Daud Ismail juga memiliki karya tentang biografi singkat gurunya. AGH. Muhammad AsAoad al-Bugisy dengan tiga bahasa, bahasa Bugis Lontarak, bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Gambar 1 Cover Tafsir Al-Munir Versi Cetakan Baru Lontarak Bugis 32 Syamsuddin Arief. AuAktor Pembentuk Jaringan Pesantren Di Sulawesi Selatan 1928-1952,Ay Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan . 185Ae95, https://doi. org/10. 24252/lp. 33Hasil wawancara Muhyiddin Tahir dengan Amin Bakke wawancara pada tanggal 25 April 2011 di Ganra Kabupaten Soppeng. The Nusantara Interpretation by Bugis ScholarsA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Gambar 2 Aksara Lontarak Bugis Tafsir Al-Munir aksara Lontarak . ini juga dikenal dengan istilah Urupu Sulapa Eppa . uruf segi empa. istilah klasik lebih dikenal lagi dengan istilah sureq, aksara Lontarak . ini dipakai pada abad ke-XIV. Aksara Lontarak ini memiliki nilai kesusasteraan Bugis dan adapula dalam bentuk syair-syair yang menggambarkan situasi dan kondisi keseharian masyarakat Bugis pada saat itu. Hal ini dianggap urgen bagi masyarakat setempat dan pada akhirnya Islam masuk di Sulawesi Selatan. Seiring perkembangan zaman. Lontarak bisa dikatakan sudah ada pergeseran, utamanya bagi pendidikan di sekolah atau pun di pesantren. Sekalipun Lontarak ini masih dipelajari di sekolah-sekolah yang dijadikan sebagai muatan lokal. Namun generasi milenial sekarang sudah bergeser dan seolah-olah tidak tertarik dan mempelajari di sekolah. Melihat pengaruh-pengaruh dalam konteks modern Lontarak ini bisa dikatakan hampir punah. Di pondok pesantren di Sulawesi Selatan, bisa dikatakan masih di hitung jari yang melakukan halaqah atau pengajian pesantren yang menggunakan bahasa dan aksara Bugis, terlebih kepada santri-santri ketika menerjemahkan kitab yang dipelajari, justru cenderung menggunakan tulisan melayu. Di dalam tafsir Al-Munir, aksara Lontarak ini menjadi alasan AGH. Daud Ismail menerjemahkan dan menafsirkan dengan aksara Lontarak Bugis sebagai bentuk pelestarian aksara Lontarak mengingat keprihatinan terhadap perkembangannya di zaman ini. 34 Tentunya akan menjadi catatan sejarah bagi generasi-generasi mendatang ketika mampu menjaga aksara ini. Tafsir Al-Munir ini ditulis sendiri oleh AGH. Daud Ismail dengan sepuluh . jilid, setiap jilid berisikan 2 atau 3 juz dengan tujuan agar memudahkan masyarakat untuk memahami dan memaknai kandungan Al-QurAoan. Atas dasar inisiatif AGH. Daud Ismail harus diapresiasi. Tujuan yang selanjutnya yakni adanya harapan besar dari sosok anregurutta agar Lontarak Bugis ini tetap terjaga hingga akhir zaman. Setelah karya tafsir ini rampung. AGH. Daud Ismail menginginkan masyarakat setempat ikut bergabung dalam istilah Bugis adalah tellu mpoccoe, artinya tiga daerah gabungan yaitu BOSOWA (Bone. Soppeng, dan Waj. untuk dikaji, dipahami dan diamalkan. Bahkan AGH. Daud Ismail menginginkan agar tulisan tafsir aksara Lontarak ini disimpan di masjid. Agar tersebar luas dan bisa dipelajari oleh berbagai kalangan. Niat dasar ini memberikan nilai yang harus dipahami bahwa apa yang dipikirkan oleh AGH. Daud Ismail belum tentu bisa kita pahami, karena dari sisi kemaslahatan, tulisan ini sangat berkontribusi dalam melestarikan aksara Lontarak. Oleh karena itu, keberadaan tafsir bahasa Bugis ini adalah salah satu cara untuk memelihara Lontara Bugis agar tidak 34 Yunus. Ghalib, and Sabry. AuTafsir Bahasa Bugis AG. Daud Ismail: Aplikasi Penafsiran Dengan Metode HidaAoi Tentang Al-Rijs. Ay 35 Mursalim Mursalim. AuPemikiran Teologi Ulama Bugis Dalam Tafsir Al-QurAoan Bahasa Bugis,Ay AlUlum 18, no. : 317Ae40, https://doi. org/10. 30603/au. Vol. 5 No. February 2025, pp. Abd. Haris. Nurfaika Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Unsur Lokalitas Tafsir Al-Munir Konsep lokalitas memiliki akar etimologis dari kata bahasa Inggris AulocalAy berarti Dalam perkembangan pemaknaannya, istilah lokal telah dipahami secara lebih luas sebagai segala aspek yang berkaitan dengan karakteristik kedaerahan. Pemahaman yang lebih komprehensif dikemukakan oleh Abrams bahwa lokal atau lokalitas mencakup berbagai dimensi kehidupan masyarakat dalam suatu wilayah, meliputi sistem adat istiadat, kekhasan dialek bahasa, keunikan tempat, kompleksitas latar belakang sosial budaya, serta cara pandang . oint of vie. terhadap wilayah tertentu dengan unsur-unsur perbedaan terhadap kondisi daerah-daerah lainnya. Di dalam suatu penafsiran, tentunya terdapat banyak perbedaan-perbedaan penafsiran yang dikaitkan dengan era, konteks serta orientasi penafsir dalam menafsirkan Al-QurAoan karena aspek Manifestasi lokalitas ini tercermin dalam dinamika budaya setempat serta sistem adat-istiadat yang telah mengakar dalam masyarakat. Sehingga jika disandingkan dengan ilmu tafsir, maka perbedaan itu akan terlihat beberapa kondisi lokal, budaya, dan adatistiadat yang berkaitan dengan tafsir Al-Munir yaitu. pertama aksara Lontarak Bugis menjadi aspek penting dalam penafsiran tafsir Al-Munir, mengingat bahwa orientasi AGH. Daud Ismail agar di dalam tafsirnya dapat memudahkan masyarakat setempat, utamanya masyarakat awam untuk memahami kandungan dan makna Al-QurAoan. Kedua aspek lokalitas di dalam tafsir Al-Munir yang menuangkan unsur-unsur budaya dan sosial kemasyarakatan khususnya masyarakat Bugis yang kemudian direspon di dalam Menurut Amin Al-Khulli, untuk memperoleh suatu pemahaman yang lebih komprehensif terhadap Al-QurAoan, setidaknya tidak meninggalkan dua aspek krusial dan utama, yaitu dirasah ma haula Al-QurAoan dan ma fi Al-QurAoan. Dalam arti bahwa penekanan pertama harus lebih cermat dan melihat realitas eksternal, termasuk sosiokultural yang melingkupi Al-Quran. Pada aspek kedua, lebih menekankan pada pembacaan Al-QurAoan itu sendiri. 36 Oleh karena itu, pola penafsiran AGH. Daud Ismail cukup signifikan dalam penerapan teori ini, di mana AGH. Daud Ismail melihat waqiAoiyah . sosial masyarakat Bugis . a haula Al-QurAoa. , selanjutnya bagaimana penafsirannya disesuaikan dengan maksud dan pesan-pesan Al-QurAoan agar mudah Metodologi dan Karakteristik Tafsir Al-Munir Melihat suatu karya tafsir, akan menjadi sangat jelas ketika melihat sisi pendekatan penafsiran, corak hingga kepada metodologi tafsir. Karakteristik tafsir Al-Munir dapat dilihat dan diketahui teknik penafsirannya. Di dalam suatu tafsir tentu akan melihat apakah termasuk tahlili, ijmali, muqaran atau maudhuAoi. Selain itu, harus memperhatikan uraian ayat-ayat yang ditafsirkan apakah menggunakan sumber-sumber penafsirannya, baik itu dari ayat Al-QurAoan, riwayat-riwayat atau boleh jadi dalam penafsirannya itu menggunakan israiliyyat dan al-raAoyi. Tentu hal ini memiliki dua kriteria. yaitu tafsir bilmaAotsur dan tafsir bi al-raAoyi. Pertama, tafsir bi al-maAotsur yang mendasarkan penafsirannya pada sumber-sumber yang otoritatif berupa ayat-ayat Al-QurAoan sendiri, hadis Nabi Muhammad Saw, serta periwayatan yang berasal dari para sahabat dan tabiAoin. Kedua, tafsir bi al-raAoyi yang bertumpu pada daya nalar dan pemikiran mendalam dalam memahamai ayat-ayat Al-QurAoan. Dari pendekatan inilah kemudian muncul berbagai penafsiran yang memperkaya khazanah pemahaman Al-QurAoan . orak penulisan tafsi. 36 Amin Al-Khulli. Manahij Al-Tajdid (Mesir: An-Nadhlah Al-Mishriyah Al-AoAmmah li Al-Kitab, 1. The Nusantara Interpretation by Bugis ScholarsA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Di satu sisi, ulama berbeda pendapat mengenai raAoyu sebagai sumber penafsiran yang menjadi diskursus penafsiran ulama. Dalam hal ini, misalnya menghasilkan dua pandangan yang berbeda. Pertama, sebagian ulama memandang tafsir bi al-raAoyi sebagai tafsir yang terpuji . ketika penafsirannya didasarkan pada ijtihad yang selaras dengan prinsip-prinsip fundamental Al-QurAoan. Kedua, tafsir yang tercela . , yaitu tafsir yang mengabaikan kaidah-kaidah tersebut dianggap tidak valid dan ditolak dalam tradisi keilmuan Islam. Tafsir Al-Munir ini juga menggunakan muqaran meskipun hanya sekali. Ketika AGH Daud Ismail menafsirkan dengan merujuk kepada mufassir ternama misalnya Ahmad Musthafa al-Maragi dan Jalaluddin Muhammad bin Ahmad alMahalli, dan Jalaluddin AoAbd arrahman bin Abi Bakr as-Suyuti. Al-QurAoan dan terjemahannya Departemen Agama Republik Indonesia, penulis Muhammad AsAoad alBafhy. Pare-pare. Tafsir Al-Munir ini lebih cenderung disebut dengan tafsir bi al-maAotsur. Hal ini bisa dilihat dalam ungkapannya AuNaiyya Akorangnge Saisanna Mato Tafserei SaisannaAy secara detail bahwa tafsir ini dijelaskan dengan ayat dengan ayat yang lainnya. Hal tersebut tampak jelas dalam metode dalam menafsirkan ayat-ayat Al-QurAoan al-Karim. Sementara karakteristik tafsir Al-Munir ini adalah karakter Tahlili moderat, karena dalam tafsir AlMunir ini tidak menampilkan kosa kata sebagaimana tafsir yang lain menggunakan tafsir Justru yang menjadi menarik dalam tampilan tafsir ini adalah menampilkan kosa kata yang memang betul-betul membutuhkan bayan atau penjelasan secara terinci dan menghubungkan dengan kearifan lokal dan bahkan menjelaskan kosa kata itu yang ada kaitannya dengan kondisi masyarakat. Boleh dikatakan bahwa tafsir ini mensinergikan dengan keadaan yang sifatnya perlu dijelaskan secara panjang lebar, agar masyarakat setempat bisa lebih memahaminya. Unsur-unsur bahasa, kebalagahannya tidak ditampilkan sebagaimana tafsir-tafsir Atau tafsir yang bercorak fikih. Di dalam tafsiran AGH. Daud Ismail terlihat sangat jelas ketika memberikan penafsiran terkait dengan ayat-ayat hukum, utamanya dalam persoalan fikih. AGH. Daud Ismail dengan usaha menjelaskan ayat tersebut dengan pendekatan-pendekatan fikih. Uraian di dalam tafsir Al-Munir juga tampak jelas ketika menguraikan persoalan shalat misalnya. AGH. Daud Ismail juga menampilkan riwayatriwayat terkait kewajiban shalat, puasa, zakat, waris, wasiat dan lain sebagainya. Sekalipun hadis yang ditulis tidak mencantumkan rentetan-rentetan sanad hadisnya. Adabi al-ijtimaAoI. Justru AGH. Daud Ismail lebih cenderung menggunakan bahasa yang sederhana agar dapat dipahami nantinya bagi semua kalangan terutama memahami makna dan penafsirannya. Di dalam tafsir Al-Munir di dalam QS. Al-Maidah/5:90. a ca a AeEaI OEeIO a OeEaIeA OeEaeaeEI aA caa AaIaa eONa Ea aEac aE eI a eAEa a eO aIA e aA caI eI a aI aE EeacO e aI AA U e a a a a a a e a a a e e AeOaOac aN EOe aI e aIIa eO acIaA Terjemahnya: Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, . erkurban untu. berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah . erbuatan-perbuata. itu agar kamu (Al-Ma'idah/5:. Di dalam tafsir Al-Munir AGH. Daud Ismail menerjemahkan dan memberikan penjelasan singkat, namun padat maknanya. Penjelasannya tidak begitu luas, akan tetapi sangat erat kaitannya dengan keadaan dan kondisinya. Secara sepesifik dari ayat-ayat 37 M. Mufid Syakhlani. AuKajian Tafsir Nusantara: Tafsir Al-Quran Berbahasa Bugis (Ug. Karangan AGH Daud Ismail,Ay Muharrik-Jurnal Dakwah Dan Sosial 1, no. : 1Ae25. Vol. 5 No. February 2025, pp. Abd. Haris. Nurfaika Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 yang termuat kalau memang penting untuk dijelaskan. AGH. Daud Ismail menjelaskan dan mensinergikan dengan lingkungan sekitar yang dianggap penting untuk disampaikan. Gambar 3 Contoh Lokalitas ayat dalam Tafsir Al-Munir Misalnya instruksi dari ayat al-Maidah . di atas. AGH. Daud Ismail menjelaskan karena unsur lokalitas dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat setempat. Terkait instruksi dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Khamr dalam bahasa arab merupakan minuman yang haram. Secara lokal masyarakat Bugis menamai Khamr itu dengan unsur bahasa yang berbeda namun maknanya sama. Tuak Pai (Tuak Pahi. Salah satu jenis minuman yang memabukkan khas Sulawesi Selatan. Bahkan nama lain dari Tuak Pai disebut dengan BalloAo atau sejenis minuman yang memabukkan dan minuman ini boleh dikatakan masih banyak di tengah-tengah masyarakat yang kurang memahami bahwa Tuak Pai atau BalloAo itu sama saja yang ditafsirkan AGH. Daud Ismail dalam term kata Khamr. Dari hal ini sangat jelas sekali bahwa AGH. Daud Ismail menafsirkan bahasa Al-QurAoan dengan bahasa beragam demi untuk memudahkan masyarakat setempat. Secara spesifik AGH. Daud Ismail tampak mempunyai ciri khas yang menjadi kuat dan efektif untuk menuntun umat Islam. Hal ini terlihat ketika AGH. Daud Ismail menafsirkan kata-kata khamr yang sesuai dengan istilah bahasa Bugis. Contoh lain penafsiran AGH. Daud Ismail di dalam QS. Az-Zalzalah/99: 7-8 n aAE a acs a Uc OacaNA a AE a acs a UeO OacaNa aOaI eI Oac e aI eE aIe aCA a a aI eI Oac e aI eE aIe aCA Terjemahnya: Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat . -nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat . -nya. Di dalam terjemahan Al-QurAoan oleh Kementerian Agama bahwa lafal Aumitsqala zarrahAy diartikan sebagai seberat zarrah. Dalam terjemahan bahasa Bugis. AGH. Daud Ismail menerjemahkan sebagai: SimperreAo zarrae atau simperreAo kama-kamae. Penafsirannya bahwa nigi-nigi tau pugau mappegauAo deceng namuni pada-padami renniAona zarrae, naita ritu nenniya nalolongi ritu pamaleAona. Artinya barang siapa yang mengerjakan sesuatu seberat zarah, sekecil itu pula akan ada ganjarannya. Bahasa dan terjemah lokal yang digunakan AGH. Daud Ismail dapat memudahkan masyarakat Bugis. Karena ketika menerjemahkan mistqala zarratin sebagai Auseberat zarrahAy, masih membutuhkan pemahaman dan deskripsi zarrah itu seperti apa dan sekecil apa. Tetapi karena bahasa lokal ketika diartikan simperreAo kama-kama atau simperre zarrae secara tidak langsung maknanya terbayang simperreAo kama-kama ketika dicontohkan misalnya, cahaya matahari yang tembus di sela-sela papan rumah yang menembus ruang kamar atau rumah, katakanlah rumah panggung di lokalitas orang 38 Daud Ismail. Tafsir Al-Munir. Jilid 3 (Ujung P andang: CV. Bintang Selata. The Nusantara Interpretation by Bugis ScholarsA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Bugis di pagi hari, maka terlihatlah zarrah itu, atau simperreAo kama-kama. 39 Oleh karena itu dalam aspek penerjemahan dan penafsiran AGH. Daud Ismail sangat gamblang. Contoh lain di dalam QS. Ali-Imran/3:110 a AaEeI I eO aacI s a aA a Aac aeIO aI aaEeIOA a AA aOa eI aN eO aI a aI Ee aIeI aE a aOa eaIIa eO aI aa ecacEEa aOEa eO e aI aI a eNE eaA Ae Ea aE aIA e a e e a e a e a a a A EEIA a a ea Aa UeO acacEaeI aIeI aN aI Ee aI eaIIa eO aI aOa eEa aaN aI Ee eA a aC eO aIA Terjemahnya: Kamu . mat Isla. adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, . arena kam. yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. (Ali 'Imran/3:. Kementerian Agama menerjemahkan lafal Aukhaer ummahAy Auumat terbaikAy sementara di dalam tafsir Al-Munir diterjemahkan dengan AuummaAo kaminang madecengAy. 40 dalam sisi bahasa lokal Bugis misalnya ketika dikatakan terbaik, unsur lokalitas bahasa Bugis bermakna ganda, sesuai dengan sukunya, tetapi maknanya sama. Misalnya dalam suku Bugis yang ada di kabupaten-kabupaten kota aksen atau logatnya pun berbeda. Misalnya kata AubaikAy dalam suku Bugis Bone dikatakan AumagelloAy, suku Bugis Soppeng dikatakan Aumakanja atau kanjaAonaAy, dalam bahasa Sidrap dikatakan Aumabello atau BellonaAy. Dan bahkan terkadang dikatakan AumakessingAy. Dalam hal ini kata Aukhaer ummahAy Auumat terbaikAy atau dalam lokalitas suku Bugis kata AuummaAo kaminang madecengAy secara umum semua aksen atau logat suku-suku bisa terwakilkan menjadi Aukhaer ummahAy atau Auumat terbaikAy. Dapat dipahami bahwa transformasi sosial budaya dalam konteks penafsiran itu cukup menentukan unsur lokal yang menjadi kekhasan dalam penafsiran, termasuk unsur gramatikal, struktur lafadz atau kalimat yang dianggap penting untuk dieksplorasi bagi masyarakat yang ada relevansinya dengan budaya lokal. Transformasi sosial dan budaya ini memang harus menjadi nilai positif yang harus dilestarikan, perubahan-perubahan sosial yang lebih baik sebab mengimplementasikan khara ummah sebagaimana disandangkan kepada Nabi Saw sebab kepeduliannya dalam ber amar makruf dan nahi mungkar. 41 Menurut Gillin dalam sebuah artikel bahwa perubahan sosial merupakan variasi dan life style masyarakat yang harus diterima. Baik situasi dan kondisi, georgrafis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi hingga pada persoalan baru yang ditemukan masyarakat. 42 Perubahan menunjukkan adanya modifikasi-modifikasi yang tidak bisa dihindari dan terus terjadi dalam kehidupan manusia. Dan bahkan para pemikir studi kontemporer tidak jarang dalam penelitian itu menggunakan pendekatan ilmu modern, semisal sosiologi, antropologi dsb. Indonesia yang sudah menjadi negara multikultural dengan kebudayaan yang bervariatif dari Merauke hingga Sabang, pasti memiliki tradisi dan budaya daerah. Unsur nilai yang ada dalam suatu daerah akan menjadi titik tujuan dari berbagai daerah, nasional bahkan internasional. Nilai adalah sifat-sifat . al-ha. yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. 39 Ismail. Tafsir Al-Munir. Jilid 10 (Ujung P andang: CV. Bintang Selata. 40 Ismail. Tafsir Al-Munir. Jilid 2 (Ujung P andang: CV. Bintang Selata. 41 M. Darwis Hude. Logika Al-QurAoan. Pemaknaan Ayat Dalam Berbagai Tema, 1st ed. (Cawang. Kramat Jati Jakarta Timur: Penerbit Eurabia PT Nagakusuma Media Kreatif, 2. , hal. 42 Jamiluddin. AuTransformasi Sosial QurAoanik Dalam Tafsir Al-Azhar,Ay Repositori Institut PTIQ Jakarta 8, no. : 55. 43 https://kbbi. id/entri/nilai Vol. 5 No. February 2025, pp. Abd. Haris. Nurfaika Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 KESIMPULAN Tafsir Lontarak bahasa Bugis karya AGH. Daud Ismail memiliki kekhasan dan keunikan dalam menafsirkan lafadz atau kalimat yang memang membutuhkan penjelasan, tentunya dikaitkan dengan transformasi sosial budaya masyarakat setempat yang bertujuan agar umat Islam dan masyarakat Bugis secara spesifik bisa memahami terjemahan dan tafsirnya dengan mudah. Oleh karena itu, artikel ini berkesimpulan: pertama, tafsir Al-Munir memiliki kekhasan dalam menafsirkan Al-QurAoan baik dalam bentuk pemilihan diksi serta kalimat dengan mempertimbangkan transfomasi sosial dan budaya masyarakat Bugis, sehingga memudahkan umat Islam, khususnya masyarakat Bugis memahami terjemahan dan tafsir Al-QurAoan tanpa menghilangkan makna asli kitab Kedua, tafsir ini memiliki orientasi yang cukup kuat dalam melestarikan nilai-nilai budaya lokal, dengan menggunakan aksara Lontarak Bugis yang mudah dipahami masyarakat setempat serta direncakan disimpan di masjid-masjid agar dapat dikaji secara luas. Ketiga, konteks lokalitas sangat menonjol dalam tafsir Al-Munir, dengan tujuan memberikan pemahaman keagamaan yang akrab dan mudah dicerna oleh masyarakat Bugis melalui pendekatan bahasa dan budaya mereka sendiri. BATASAN Sudah pasti bahwa penelitian ini memiliki kekurangan dan kekeliruan di dalamnya. Tentu sebagai manusia biasa, penulis mengakui bahwa segala bentuk-bentuk kekurangan dan kekeliruan di dalam tulisan ini, sangat membutuhkan kritik dan saran. Semoga dari kekurangan-kekurangan tersebut menjadi pelajaran berharga ke depannya untuk senantiasa dapat penulis perbaiki. Penelitian ini tentu memiliki banyak keterbatasan-keterbatasan di dalamnya. antaranya adalah mungkin kurang fokus, kajian literatur yang perlu dikaji lebih jauh lagi, agar dapat menemukan keakuratan dan hubungan yang lebih baik lagi. Oleh karena itu, jika pembaca menemukan kekurangan-kekurangan itu, mohon dimaklumi. KONTRIBUSI PENULIS Tulisan ini mencoba untuk mendemonstrasikan contoh ayat-ayat yang disajikan AGH. Daud Ismail dalam tafsirnya, di mana beliau sangat memperhatikan relasi teks dengan konteks dalam penafsirannya. Sebagaimana salah satu tujuan karya tafsirnya, diharapkan masyarakat Bugis dapat merujuk dan mempelajari agama (Al-QurAoa. secara langsung dengan baik. Hadirnya karya tafsir ini memiliki kontribusi yang cukup berpengaruh dalam dunia tafsir Nusantara, khususnya suku Bugis tidak terkecuali karyakaraya tafsir lain yang dikarang oleh para Anregurutta di Sulawesi Selatan. Oleh karena itu, kehadiran tafsir ini menjadi sangat urgen untuk dikembangkan ke depannya, di mana karya tafsir berbahasa Bugis ini harus dikaji dan dieksplorasi sehingga pada akhirnya berkontribusi penuh dalam menggarap kajian agama (Al-QurAoa. utamanya dalam konteks dan pemahaman agama masyarakat Bugis. Itulah sebabnya, penulis akan berupaya untuk terus mengkaji tafsir ini agar senantiasa menemukan keunikan-keunikan tersendiri, agar kelak nanti tafsir ini tidak hilang ditelan zaman. REFERENSI