140 HEME : Health and Medical Journal pISSN : 2685 Ae 2772 eISSN : 2685 Ae 404x Available Online at :https://jurnal. id/index. php/heme/issue/view/88 Identifikasi Korban Balita Banjir Bandang: Sebuah Laporan Kasus Cesella Cornelia1. Muhammad Alif Bari1. Siti Zahra Rahmania1. Trisa Suci Rahmadani1. Noverika Windasari2* Program Studi Profesi Dokter/ Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Padang. Indonesia Departemen Forensik dan Medikolegal/ Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Padang. Indonesia E-mail : windasari@med. Abstrak Banjir bandang merupakan bencana alam yang termasuk bencana terbuka dan umumnya menimbulkan kesulitan dalam proses identifikasi korban, khususnya pada korban anak. Kondisi jenazah yang terendam, mengalami pembusukan, serta keterbatasan data ante-mortem menjadi tantangan utama sehingga diperlukan pendekatan identifikasi yang sistematis dan ilmiah sesuai pedoman Disaster Victim Identification (DVI) INTERPOL tahun Laporan kasus ini melaporkan salah satu kasus korban anak perempuan tanpa identitas yang ditemukan meninggal dunia pascabencana banjir bandang di Sumatera Barat. Korban ditemukan pada hari ketiga Korban ditemukan dalam kondisi terendam lumpur dan telah mengalami perubahan postmortem. Pemeriksaan forensik dilakukan meliputi pemeriksaan luar, penilaian antropometri, dan odontologi forensik. Proses identifikasi dilakukan dengan mengkombinasikan metode identifikasi primer dan sekunder. Pendekatan multimodal sangat diperlukan pada korban anak dengan data ante-mortem terbatas untuk memperoleh hasil identifikasi yang akurat, sah, dan dapat dipertanggungjawabkan secara etis dan hukum. Kata kunci : Identifikasi forensik. Banjir Bandang. Anak. DVI. Odontologi Forensik Abstract Flash floods are natural disasters that are classified as open disasters and generally cause difficulties in the victim identification process, especially for child victims. The condition of the bodies submerged, decomposing, and limited ante-mortem data are major challenges, requiring a systematic and scientific identification approach in accordance with the 2023 INTERPOL Disaster Victim Identification (DVI) guidelines. This case report describes one case of an unidentified female victim who was found dead after a flash flood disaster in West Sumatra. The victim was found on the third day after the disaster. The victim was found submerged in mud and had undergone postmortem changes. A forensic examination was conducted including an external examination, anthropometric assessment, and forensic odontology. The identification process was carried out using a combination of primary and secondary identification methods. A multimodal approach is essential for child victims with limited ante-mortem data to obtain accurate, valid, and ethically and legally accountable identification results. Keywords : Forensic Identification. Flash Flood. Children. DVI. Forensic Odontology Email : heme@unbrah. Heme. Vol Vi No 2 May 2026 PENDAHULUAN Bencana mengakibatkan korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, serta dampak psikologis akibat faktor alam dan/atau manusia. Bencana diklasifikasikan oleh Interpol menjadi bencana terbuka dan Bencana terbuka adalah peristiwa di mana tidak diketahui berapa banyak orang yang tewas. Bencana terbuka berkaitan dengan bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, dan serangan teroris besar yang menyebabkan jumlah korban yang banyak. Bencana tertutup adalah bencana di mana jumlah korban tewas kemungkinan besar dapat segera ditentukan, seperti kecelakaan Korban meninggal dalam bencana harus dikembalikan kepada keluarga. Identifikasi korban bencana tidak hanya memiliki dimensi kemanusiaan, tetapi juga aspek hukum, sosiologis, dan ekonomi. Hal ini esensial untuk penerbitan surat kematian, identifikasi sesuai dengan Pasal 86 KUHAP, penghapusan dari daftar penduduk, serta proses hukum, seperti pembagian warisan, perceraian, asuransi, dan kredit bank. Selain itu, proses identifikasi juga dibutuhkan untuk melaksanakan upacara pemakaman yang sesuai dengan tradisi agama dan budaya Kelompok kerja Interpol menerbitkan "Panduan Identifikasi Korban Bencana (DVI)" yang merupakan standar protokol Pertama kali diterbitkan pada tahun 1984, panduan ini diperbarui setiap lima tahun dan baru-baru ini diterbitkan pada Metode identifikasi korban bencana diklasifikasikan menjadi metode primer dan sekunder. Metode primer, seperti analisis sidik jari, pemeriksaan gigi, dan profil DNA, diakui sebagai metode identifikasi yang valid dan definitif. Metode sekunder tidak bersifat definitif, tetapi berfungsi sebagai pelengkap metode primer. Temuan yang diperoleh berguna untuk mempersempit populasi, seperti menentukan jenis kelamin korban dapat mengeliminasi jumlah individu untuk diidentifikasi hingga setengah populasi. Petunjuk lain yang bermanfaat dalam identifikasi sekunder, meliputi informasi medis pribadi, pakaian, seragam, tato, tanda lahir, bekas luka pada kulit, dan tanda khas individu lainnya. Ketika identifikasi visual oleh keluarga korban tidak mungkin dilakukan atau tidak menghasilkan hasil, atau dalam kasus ketidakpastian maka analisis sidik jari, pemeriksaan gigi, dan profil DNA harus Identifikasi pada korban bencana, khususnya korban banjir terdapat banyak tantangan. Studi kualitatif menunjukkan bahwa proses identifikasi karena kondisi mayat bisa pencampuran sisa tubuh, serta keterbatasan waktu, sumber daya, dan koordinasi antar Selain itu, dalam kasus korban anakanak, tantangan ini bisa lebih besar karena fitur anatomi yang berbeda, kurangnya data ante-mortem . isalnya catatan gigi, sidik jari atau data medi. yang tersedia, serta urgensi emosional bagi keluarga untuk segera memperoleh identitas korban. II. METODE PENELITIAN Penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan laporan kasus. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan temuan pemeriksaan luar pada jenazah serta mengaitkannya dengan aspek medikolegal. Pemeriksaan luar dilakukan di Posko Postmortem pada hari ketiga pasca banjir bandang. Subjek penelitian adalah satu jenazah anak korban banjir bandang. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari data primer berupa hasil Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 2 May 2026 pemeriksaan luar jenazah yang dilakukan secara langsung dan sistematis oleh dokter pemeriksa, serta data sekunder yang meliputi surat permintaan pemeriksaan dari penyidik, identitas jenazah apabila diketahui, dan informasi singkat mengenai kronologi Pemeriksaan luar dilakukan sesuai dengan standar prosedur kedokteran forensik, mencakup pemeriksaan identitas umum, kondisi umum jenazah, tanda-tanda kematian, serta pemeriksaan permukaan tubuh dari kepala hingga ekstremitas tanpa tindakan invasif. Seluruh temuan dicatat secara objektif dan terperinci. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan memaparkan temuan pemeriksaan luar dan mengaitkannya dengan literatur serta teori kedokteran forensik yang relevan untuk mendukung interpretasi medikolegal. Penelitian ini tidak menggunakan analisis statistik karena berbentuk laporan kasus tunggal. Aspek etika tetap diperhatikan dengan menjaga pemeriksaan dan penggunaan data dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan etika kedokteran forensik. PEMERIKSAAN LUAR C Label jenazah: PM XX terikat pada jempol kaki kanan. C Pembungkus jenazah: kantong jenazah bahan terpal warna biru. C Perhiasan: sepasang anting warna kuning berbentuk segitiga pada daun telinga kanan dan kiri. C Pakaian dan benda sekitar mayat: tidak C Mayat adalah seorang anak perempuan, ras mongoloid, warna kulit sawo matang, panjang tubuh: 77 cm. C Kondisi postmortem: tubuh tampak sebagian besar epidermis mengalami C Kaku mayat: tidak dapat dinilai C Lebam mayat: tidak dapat dinilai C Jari tangan dan kaki tampak keriput . asherwomanAos han. konsisten dengan i. HASIL KRONOLOGI PENEMUAN Pada tanggal 27 November 2025 terjadi bencana banjir bandang di wilayah Sumatera Barat yang menyebabkan banyak korban Pada tanggal 30 November 2025, salah satu korban adalah seorang anak perempuan yang ditemukan di kawasan Lubuk Basung. Kabupaten Agam oleh tim SAR dalam kondisi telah meninggal dunia. Jenazah ditemukan dalam keadaan terendam lumpur, tidak berpakaian, tanpa identitas, dan selanjutnya dievakuasi ke Posko Postmortem Email : heme@unbrah. GAMBAR 1. KONDISI JENAZAH TAMPAK DEPAN CIRI FISIK C Rambut berwarna hitam, panjang A10 cm, tumbuh sedang. C Alis dan bulu mata berwarna hitam lurus. C Mata kanan terbuka 8 mm, mata kiri terbuka 10 mm. sklera putih. iris coklat. konjungtiva pucat. Heme. Vol Vi No 2 May 2026 LUKA-LUKA Luka memar berwarna merah kehijauan pada punggung, dada, lengan kanan, lengan kiri, tungkai kanan, tungkai kiri, dan pipi kanan. Luka memar berwarna kemerahan pada puncak kepala. Luka lecet disertai memar berwarna merah kehitaman pada dahi. Luka terbuka pada dahi, bibir atas, dan perut kiri. PATAH TULANG Tidak ditemukan pemeriksaan luar. GAMBAR 2. IDENTIFIKASI RAMBUT JENAZAH ANTROPOMETRI C Panjang lengan atas kiri 13 cm, kanan 13,5 cm. C Panjang lengan bawah kiri 12,4 cm, kanan 12,2 cm. C Panjang tungkai bawah kiri 15 cm, kanan 15 cm. C Lingkar kepala: 46 cm. C Panjang siasAetumit kiri dan kanan masingmasing 32,5 cm. C Panjang telapak kaki kiri dan kanan masing-masing 11 cm. GIGI GELIGI C Tampak gigi 1 dan 2 pada rahang atas dan bawah kanan. C Tampak gigi 1 dan 2 pada rahang atas dan bawah kiri. (Sesuai dentisi usia A1Ae2 GAMBAR 3. IDENTIFIKASI GIGI JENAZAH INTERPRETASI FORENSIK Kondisi pembusukan awalAemenengah, distensi abdomen, perubahan warna kehijauan, dan deskuamasi kulit menunjukkan lama WasherwomanAos hand pada jari tangan dan kaki konsisten dengan jeda waktu perendaman yang cukup panjang. Keluar usus halus dan usus besar merupakan fenomena postmortem yang umum terjadi pada jenazah yang mengalami tekanan intraabdomen oleh pembusukan serta efek dilatasi. Pola memar pada banyak area tubuh kemungkinan merupakan efek trauma tumpul postmortem akibat benturan selama terbawa arus banjir ataupun akibat penanganan. Tidak ditemukan tanda kekerasan tajam maupun patah tulang. UPAYA IDENTIFIKASI Metode identifikasi yang dapat dilakukan pada korban anak meliputi: Identifikasi primer: C Odontologi forensik . tadium erupsi gigi, pola dentisi anak usia 13Ae18 C Pemeriksaan DNA . erlu sampel Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 2 May 2026 Identifikasi sekunder: C Antropometri . inggi badan, lingkar kepala, panjang ekstremita. C Ciri . nting C Pencocokan laporan anak hilang Disaster Victim Identification (DVI). Dalam laporan kasus anak korban banjir, penggunaan prosedur DVI menjadi sangat krusial untuk menjamin bahwa identitas korban dapat dikonfirmasi secara ilmiah dan Dalam DVI, dilakukan melalui pengumpulan data postmortem (PM) dan dibandingkan dengan data ante-mortem (AM) dari keluarga atau catatan rekam medis sebelumnya. Data primer yang bisa membantu proses identifikasi, yaitu sidik jari . , catatan gigi/ pemeriksaan odontologi forensik, dan analisis DNA. Untuk korban anak, metode odontologi forensik dan DNA menjadi sangat penting terutama jika tubuh telah perendaman di air, pembusukan, atau kerusakan jaringan. Pada korban anak, data sidik jari tidak bisa diandalkan karena anak belum mempunyai e-KTP sehingga tidak ada data sidik jari. GAMBAR 4. KONDISI JENAZAH TAMPAK BADAN GAMBAR 5. KONDISI JENAZAH TAMPAK BELAKANG IV. PEMBAHASAN Identifikasi korban bencana massal, seperti banjir memerlukan pendekatan sistematis dan ilmiah karena kondisi jenazah yang fragmentasi, hingga kontaminasi lingkungan sehingga identifikasi visual sulit dinilai. Oleh karena itu, prosedur identifikasi korban bencana umumnya merujuk pada pedoman INTERPOL tahun 2023 melalui sistem Email : heme@unbrah. Peran odontologi forensik dalam konteks bencana telah banyak dibuktikan dari data gigi karena strukturnya yang kuat sehingga dapat bertahan dibandingkan sampel dari jaringan lunak atau kulit ketika tubuh terkena air, panas, atau pembusukan. Selain itu, catatan gigi memungkinkan perbandingan yang akurat terhadap korban. Bila catatan antemortem lengkap . isalnya dari rekam medis gig. , pencocokan bisa dilakukan dengan cepat dan dapat menjadi dasar identifikasi positif. Identifikasi tubuh anak korban banjir memiliki tantangan spesifik, yaitu data antemortem yang tidak tersedia atau terbatas, terutama dalam situasi di mana korban belum pernah diperiksakan secara formal atau tidak memiliki catatan gigi/medis. Dalam kondisi demikian, tim DVI harus mengandalkan kombinasi metode odontologi dengan analisis DNA untuk meningkatkan tingkat keberhasilan identifikasi. Heme. Vol Vi No 2 May 2026 Penggunaan DNA identifikasi tambahan sangat penting ketika kondisi jasad korban sudah sangat rusak atau terfragmentasi, contohnya setelah tenggelam di air dalam waktu lama. Dengan teknik ekstraksi modern dari gigi atau tulang. DNA meskipun jaringan lunak telah hilang. Namun demikian, keberhasilan analisis DNA bergantung pada kondisi sampel, prosedur pengumpulan dan penyimpanan yang benar, serta ketersediaan DNA pembanding dari Kasus korban anak dari banjir juga menuntut perhatian etis dan legal identifikasi bukan hanya soal memberikan nama, tetapi juga hak keluarga untuk memperoleh kepastian, melakukan pemakaman dengan martabat, . Dalam konteks ini, penerapan DVI resmi, seperti aturan kedokteran kepolisian di Indonesia penting untuk memastikan identifikasi dilakukan dengan Identifikasi usia pada jenazah anak lebih akurat dilakukan melalui analisis skeletal dan dental dibandingkan metode eksternal seperti visual, terutama bila kondisi tubuh rusak, terendam, atau tidak utuh. Identifikasi jenazah anak korban banjir bandang yang tubuhnya masih utuh, tetapi mulai membusuk dan menggembung maka odontologi forensik menjadi metode identifikasi primer yang sangat penting karena gigi dan struktur rahang relatif tahan terhadap proses degradasi biologis. Penilaian pada gigi, yaitu terkait jumlah dan tahap erupsi gigi, ciri khas struktur gigi, seperti bentuk mahkota, susunan gigi, kelainan pertumbuhan, restorasi gigi, maupun karakteristik anatomi rahang dapat menjadi data tambahan yang bernilai individual untuk membantu proses identifikasi, terutama bila tersedia data antemortem dari keluarga atau rekam medis. Apabila identifikasi melalui odontologi masih belum memberikan Identifikasi alternatif lainnya, yaitu pemeriksaan DNA menjadi metode paling akurat, dengan membandingkan sampel genetik jenazah dengan orang tua biologis atau keluarga inti. Dalam proses identifikasi DNA jenazah pencocokan biasanya dilakukan dengan profil DNA dari keluarga dekat untuk mendapatkan kecocokan genetik yang dapat memastikan identitas korban. Ketika orang tua biologis jenazah sudah meninggal dunia, sampel DNA dari kedua orang tua tidak dapat digunakan sebagai pembanding sehingga perlu mencari kerabat dekat lain yang masih hidup dan memiliki hubungan biologis dengan korban. Berdasarkan praktik forensik dan pedoman identifikasi korban, sampel pembanding dapat diambil dari saudara kandung . isalnya kakak atau adik kandun. karena mereka berbagi bagian DNA yang signifikan dengan korban, atau dari nenek, kakek, dan keluarga dekat lain yang memiliki garis keturunan yang jelas karena meskipun tingkat kecocokan genetik menurun, tetapi masih dapat digunakan dalam analisis statistik untuk identifikasi. Bila korban sudah memiliki anak . ada kasus dewas. , sampel anak juga bisa digunakan, tetapi pada jenazah anak seperti pada laporan kasus ini, pilihan terbaik adalah saudara kandung atau kerabat biologis dekat lainnya untuk mendapatkan kecocokan profil DNA. Proses ini merupakan bagian standar prosedur Disaster Victim Identification (DVI) yang mengandalkan pencocokan DNA dari jaringan postmortem dengan sampel antemortem dari keluarga demi memastikan identitas korban secara medikolegal. Penentuan usia pada jenazah anak menggunakan data antropometri bergantung pada pengamatan perkembangan dan kematangan struktur tulang. Indikator yang sering digunakan adalah status penyatuan epifisis pada tulang panjang dan panjang tulang dengan memperkirakan tinggi tubuh. Data tinggi tubuh tersebut dapat dimasukkan ke kurva pertumbuhan yang disesuaikan juga dengan jenis kelamin untuk mengetahui Health and Medical Journal HEME. Vol Vi No 2 May 2026 estimasi usia anak. Selain itu, estimasi usia pada jenazah anak dapat berdasarkan perkembangan/ jumlah gigi . , erupsi, dan mineralisasi gigi. Pemeriksaan radiologis rahang dan gigi melalui radiografi panoramik dapat membantu memperkirakan Auusia dental,Ay yang mewakili kematangan gigi korban dan dapat dikorelasikan dengan usia biologis. 9,10 Berdasarkan laporan kasus pada jurnal ini, identifikasi odontologi dinilai dari jumlah gigi korban yang ditemukan sehingga dapat menilai usia pertumbuhan dari gigi. Pada korban ini, tampak gigi 1 dan gigi 2 pada rahang atas dan bawah bagian kanan dan kiri. Erupsi gigi 1 rahang atas kanan dan kiri akan muncul pada usia 8-12 bulan, sedangkan erupsi gigi 2 rahang atas kanan dan kiri akan muncul pada usia 9 -13 bulan. Erupsi gigi 1 rahang bawah kanan dan kiri akan muncul pada saat usia 6-10 bulan. Erupsi gigi 2 rahang bawah kanan dan kiri akan muncul pada usia 10-16 bulan. Berdasarkan rentang usia yang didapatkan, yaitu 8-12 bulan, 9-13 bulan, 6-10 bulan, 10-16 bulan. Maka akan didapatkan rentang usia anak A1Ae2 tahun. Berdasarkan pemeriksaan yang didapatkan dari laporan kasus ini bahwa tinggi badan 77 cm dan lingkar kepala 46 cm. Identifikasi antropologi pada bagian-bagian tulang Hal yang dapat diperoleh pada saat pemeriksaan identifikasi tulang adalah jenis kelamin, ras, tinggi badan, dan perkiraan usia korban juga dapat dilakukan dengan melihat gambaran epifisis. GAMBAR 7. PANJANG BADAN ANAK MENURUT WHO Pada janin, bayi baru lahir dan anak-anak hingga masa puber, umur dapat ditentukan . berdasarkan WHO. Menurut WHO, pada bayi usia 1 tahun, panjang badan bayi ideal 74 cm, dan usia 14 bulan panjang badan bayi 75 cm, dan usia 16 bulan ideal panjang bayi 76,5 cm. Berdasarkan laporan yang didapatkan panjang badan bayi 77 cm, artinya umur bayi sekitar rentang 12 -18 GAMBAR 6. PERIODE PERTUMBUHAN GIGI GAMBAR 8. LINGKAR KEPALA MENURUT WHO Email : heme@unbrah. Heme. Vol Vi No 2 May 2026 Perkiraan usia bayi juga dapat ditentukan pada lingkar kepala. Menurut WHO, pada bayi usia 12 bulan, didapatkan lingkar kepala sekitar 43,5Ae46 cm. Sedangkan, bayi dengan usia 18 bulan didapatkan lingkar kepala sekitar A 45Ae47,5 cm. Berdasarkan laporan yang didapat, perkiraan usia pada lingkar kepala, yaitu sekitar rentang 12 bulan - 18 Pemeriksaan analisis DNA dapat digunakan apabila korban atau barang bukti sudah sangat rusak, hancur, dan sulit Hal ini disebabkan susunan DNA manusia memiliki khas untuk setiap individu membedakan antar individu lainnya. Sampel pada pemeriksaan analisis DNA dapat menggunakan rambut, kuku, kulit, sperma, air liur, tulang dan gigi. Tulang dan gigi merupakan bagian keras dari tubuh manusia karena memiliki kandungan hydroxyapatite pada matriks ekstraseluler yang memberi perlindungan DNA (DNA inti dan DNA Gigi memiliki kandungan dibandingkan tulang, tetapi tidak dapat memberikan perlindungan yang optimal terhadap DNA yang terdapat di dalamnya. Pemeriksaan analisis DNA dapat dilakukan dengan cara mencocokkan antara DNA Pemeriksaan DNA dapat membantu dalam menentukan identitas individu pada kasus jenazah tanpa identitas dan pada jenazah yang sudah mengalami pembusukan. Pemeriksaan pada gigi geligi atau tulang dapat membantu dalam menemukan profil DNA. Ciri khusus atau identifikasi sekunder memanfaatkan ciri-ciri medis, pakaian, perhiasaan yang melekat ditubuh dan deskripsi personal korban, seperti tato, parut, dan lain-lainnya. Penilaian identifikasi sekunder terpenuhi apabila ditemukan minimal 2 tanda pada korban. Berdasarkan dari hasil laporan kasus ini, identifikasi sekunder korban dapat berupa tinggi badan 77 cm, usia 12-18 bulan, anting berbentuk segitiga, deskripsi rambut, dan karakteristik Pencocokan pascabencana dapat dilakukan dengan cara membandingkan data postmortem dan data Namun, laporan kasus ini terdapat tantangan pada data antemortem bahwa satu keluarga korban inti menjadi korban juga sehingga kesulitan dalam mendapatkan data antemortem yang detail. Peranan dokter spesialis forensik dan odontologi forensik sangat diperlukan dalam mendapatkan data postmortem yang lengkap dari tubuh korban. Tim antemortem juga perlu mengumpulkan data berupa data spesifik terkait korban yang bisa membantu menyimpulkan identitas korban. KESIMPULAN Identifikasi jenazah anak perempuan pada laporan kasus ini memiliki tantangan karena tidak adanya identifikasi khusus pada tubuh anak sebagai data sekunder. Data antemortem sebagai pembanding sangat minimal, karena diperkirakan seluruh keluarga inti juga menjadi korban banjir Pemeriksaan DNA melalui kerabat menjadi pilihan dalam upaya identifikasi DAFTAR PUSTAKA