P-ISSN: 2774-5007 | E-ISSN: 2774-499X Vol. 7 No. 2 Oktober 2025 | Hal. PEMBERDAYAAN KADER: SIGAP DAN POJOK BERMAIN TINGKATKAN KUNJUNGAN POSYANDU MAYANG WANGI SAMARINDA. KALIMANTAN TIMUR Siti Julaikhah. Eny Dwy Astuty. Angelita Novia Debora. Fiyeri Suraini. Andi Disyanataly. Elaine Keisha Syahputri Nuradi. Meylita Andini. Nailah Khalisha. Rizky Khoirun Nisa. Windy Marsyanti. Lies Permana*. Nur Rohmah. Annisa Nurrachmawati. Rina Tri Agustini Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Mulawarman Jalan Sambaliung Gn. Kelua. Samarinda. Indonesia julaikhahsiti6@gmail. com, enydwyastuty@gmail. com, noviadeboraangelita@gmail. fiyeri3103@gmail. com, andidisyanataly@gmail. com, elaine. 06@gmail. andini2004@gmail. com, nailahkhlsh1028@gmail. com, rizkykhoirunnisa41@gmail. qfa@gmail. com, liespermana@fkm. id*, nurrohmah@fkm. annisanurachmawati@fkm. id, rinatriagistini@fkm. (*) Corresponding Author Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial 4. 0 Internasional. Abstract Posyandu is a village level of health service that plays a role in improving public health, especially maternal and child health. The existence of posyandu makes an easier access for the community to basic health services without having to travel long distances. However, the implementation of posyandu still faces various challenges, especially in how low the level of community participation is. Community empowerment with AuSIGAP (Sosialisasi Gerakan Aktif Posyand. Ay and AuPlay CornerAy programs aims to increase infant and toddler visits to Posyandu Mayang Wangi through cadre empowerment and community education. The methods used include problem awareness through Focus Group Discussion (FGD), socialization planning and implementation, and evaluation using pre-test and post-test. This socialization was carried out by posyandu cadres and public health faculty students as facilitators. The socialization provided information on the importance of visiting the posyandu and nutritional problems in toddlers, as well as a "play corner" to attract The enthusiasm of the participants in the discussion session and evaluation through pre-test and posttest showed an improvement in knowledge of the participants, which reflected the effectiveness of the socialization presented by the cadres. The provision of a "play corner" also improved the skills and creativity of cadres in creating educational game media from used goods. This activity succeeded in building community awareness and concern for the importance of posyandu, as well as successfully empowering cadres in raising community awareness of maternal and child health. Keywords: cadre training. community empowerment. maternal and child health. Abstrak Posyandu merupakan layanan kesehatan tingkat desa atau kelurahan yang berperan dalam peningkatan kesehatan masyarakat terutama kesehatan ibu dan anak. Keberadaan posyandu mempermudah masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar tanpa harus menempuh jarak yang jauh. Namun, pelaksanaan posyandu masih menghadapi berbagai tantangan terutama rendahnya tingkat partisipasi Pemberdayaan masyarakat dengan program SIGAP (Sosialisasi Gerakan Aktif Posyand. dan Pojok Bermain ini bertujuan untuk meningkatkan kunjungan bayi dan balita ke Posyandu Mayang Wangi melalui pemberdayaan kader dan edukasi masyarakat. Metode yang digunakan meliputi penyadaran masalah melalui Focus Group Discussion (FGD), perencanaan dan implementasi sosialisasi, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Kegiatan sosialisasi ini dilakukan oleh kader posyandu dan mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat sebagai fasilitator. Sosialisasi tersebut memberikan informasi mengenai pentingnya kunjungan ke posyandu dan masalah gizi pada balita, serta pojok bermain untuk menarik minat Lisensi CC Atribusi-NonKomersial 4. 0 Internasional https://doi. org/10. 33480/abdimas. P-ISSN: 2774-5007 | E-ISSN: 2774-499X Vol. 7 No. 2 Oktober 2025 | Hal. anak-anak. Antusiasme peserta dalam sesi diskusi dan evaluasi melalui pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan dari peserta yang mencerminkan efektivitas materi sosialisasi yang disampaikan oleh kader. Pengadaan pojok bermain juga meningkatkan keterampilan dan kreativitas kader dalam menciptakan media permainan edukatif dari barang bekas. Kegiatan ini berhasil membangun kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya posyandu, serta berhasil memberdayakan kader dalam meningkatkan kesadaran masyarakat sebagai upaya kesehatan ibu dan anak. Kata kunci: pelatihan kader. pemberdayaan masyarakat. kesehatan ibu dan anak. PENDAHULUAN Dalam upaya mewujudkan visi AuIndonesia SehatAy, pemerintah Indonesia terus melakukan berbagai inovasi di bidang kesehatan. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pembangunan kesehatan berbasis masyarakat, atau yang dikenal sebagai pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi aktif dalam mendukung program kesehatan di Indonesia. Pemberdayaan diwujudkan melalui berbagai program, salah satunya adalah Posyandu (Pos Pelayanan Terpad. yang berperan sebagai pusat pelayanan kesehatan dasar . Posyandu (Pos Pelayanan Terpad. merupakan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat yang dilakukan di tingkat desa atau Layanan yang diberikan meliputi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), imunisasi, keluarga berencana (KB), pemantauan gizi balita, hingga penanggulangan diare . Keberadaan Posyandu mempermudah akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke Puskesmas atau rumah sakit. Fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat, khususnya kepada ibu hamil, bayi, balita, dan lansia . Profil Kesehatan Indonesia mencerminkan kondisi kesehatan masyarakat, termasuk indikator kesehatan, fasilitas layanan, serta tantangan yang dihadapi . Salah satu tantangan utama adalah angka kematian ibu (AKI) yang mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan Data Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat pada 2021, tercatat 7. 389 kematian ibu, meningkat 56,69% dibanding tahun sebelumnya yang 627 jiwa. Angka ini menurun menjadi 005 jiwa pada 2022, tetapi kembali naik menjadi 129 jiwa pada 2023. Sementara itu, berdasarkan data proyeksi angka kelahiran juga menunjukkan tren penurunan, dengan total fertility rate (TFR) dari 2,141 pada 2020 menjadi 2,14 pada 2023, serta jumlah kelahiran yang diproyeksikan turun dari 4,65 juta pada 2022 menjadi 4,62 juta pada 2023 . Untuk menekan angka kematian ibu dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, pemerintah menargetkan AKI turun menjadi 183 000 kelahiran hidup pada 2024. Salah satu Posyandu memberikan layanan kesehatan ibu dan anak. Saat ini terdapat beberapa jenis Posyandu yang diselenggarakan di Indonesia, dua diantaranya yaitu Posyandu Balita dan Posyandu Lansia. Posyandu Balita merupakan pusat layanan kesehatan masyarakat yang berfokus pada anak usia 0-5 tahun dengan tujuan memantau pertumbuhan, memberikan imunisasi, serta mendeteksi dini masalah gizi seperti stunting . Sementara itu. Posyandu Lansia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan lanjut usia melalui pemeriksaan kesehatan rutin, edukasi kesehatan, serta deteksi dini penyakit degeneratif seperti hipertensi dan diabetes. Posyandu ini juga berperan dalam membangun kemandirian lansia dalam menjaga kesehatannya . Program Posyandu telah memberikan kontribusi besar dalam mengurangi angka kematian ibu dan bayi serta menurunkan tingkat kelahiran. Selain itu, program ini juga mempercepat penerapan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS), yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Posyandu juga membantu masyarakat mencapai Keluarga Sadar Gizi (Kadarz. , dengan mendorong pemahaman dan penerapan pentingnya gizi seimbang dalam sehari-hari, pertumbuhan dan perkembangan anak-anak . Melalui berbagai program, salah satunya yaitu kampanye "Isi Piringku". Posyandu membantu meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya pola makan yang sehat guna mencegah stunting dan masalah gizi lainnya. Hasil ini menunjukkan bahwa intervensi edukasi berbasis kampanye dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan kesadaran gizi di masyarakat . Meskipun memiliki peran yang sangat strategis, pelaksanaan Posyandu masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait rendahnya tingkat partisipasi masyarakat Tingkat partisipasi masyarakat di posyandu Mayang Wangi menunjukkan penurunan yang signifikan pada tahun 2020 hingga 2024. Selama pandemi COVIDLisensi CC Atribusi-NonKomersial 4. 0 Internasional https://doi. org/10. 33480/abdimas. P-ISSN: 2774-5007 | E-ISSN: 2774-499X Vol. 7 No. 2 Oktober 2025 | Hal. 19, kunjungan ke posyandu terhenti total dari 2020 hingga 2022, yang mengurangi akses terhadap layanan kesehatan. Meskipun kunjungan meningkat menjadi 406 pada tahun 2023, jumlahnya kembali menurun menjadi 330 pada tahun 2024. Tingkat partisipasi masyarakat indonesia menurut laporan SKI (Survei Kesehatan Indonesi. tahun 2023 pada Bayi/anak memantau kenaikan berat badan dan tinggi badan setiap bulan di posyandu/faskes hanya mencapai 34,3% yang masih sangat tergolong Hal ini terjadi partisipasi ibu yang memiliki balita ke posyandu dipengaruhi oleh faktor predisposisi seperti pekerjaan, pendidikan, pengetahuan, sikap, motivasi yang dimiliki ibu. Faktor pemungkin yaitu jarak ke posyandu sedangkan faktor penguat yaitu peran kader dan petugas kesehatan serta dukungan keluarga . Indikator keberhasilan Posyandu adalah cakupan kehadiran minimal 85% balita dalam setiap kegiatan . Sayangnya, capaian ini sering kali belum terpenuhi, seperti yang terjadi di Posyandu Mayang Wangi. Kelurahan Lok Bahu. Kota Samarinda. Tingkat kunjungan balita di Posyandu ini hanya mencapai 62%, disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat, kurangnya kepercayaan terhadap kader, serta kejenuhan masyarakat dalam mengikuti kegiatan Posyandu. Untuk meningkatkan cakupan kehadiran balita di Posyandu, diperlukan strategi yang mencakup peningkatan kesadaran masyarakat dan peningkatan kualitas kader Posyandu. Edukasi menjadi faktor utama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang Posyandu, yang dapat dilakukan melalui pemanfaatan media sosial oleh kader dalam menyebarkan informasi kesehatan yang relevan dan mudah dipahami. Penelitian menunjukkan bahwa media sosial merupakan alat komunikasi yang efektif dalam menjangkau masyarakat luas, membangun interaksi, serta meningkatkan kesadaran dan kepercayaan terhadap layanan kesehatan, termasuk Posyandu . Pelatihan rutin dan pendampingan oleh tenaga kesehatan memberikan layanan yang berkualitas serta membangun hubungan kepercayaan dengan Dengan kader yang terampil dan memiliki pemahaman yang baik tentang kesehatan ibu dan anak, masyarakat akan lebih yakin untuk membawa balita mereka ke Posyandu secara rutin . Berbagai upaya telah dilakukan oleh kader untuk meningkatkan kunjungan, tetapi hasilnya belum sesuai dengan harapan. beberapa solusi berkelanjutan yang dapat di terapkan adalah penyuluhan dan edukasi kesehatan, melakukan kunjungan rumah ke rumah, menyediakan fasilitas tambahan seperti pojok bermain, memberikan insentif sederhana, mengadakan pelatihan berkala untuk meningkatkan pengetahuan, menjalin kemitraan dengan pemerintah desa setempat, dan menggunakan platform media sosial untuk menyebarkan jadwal posyandu. Kondisi ini menunjukkan perlunya kolaborasi lintas sektor dan penguatan strategi pemberdayaan masyarakat guna memastikan keberlanjutan dan efektivitas program Posyandu. Sektor masyarakat berperan penting dalam keberlanjutan Posyandu, terutama dalam mendukung akses layanan kesehatan bagi ibu dan anak. Kesejahteraan ekonomi keluarga memengaruhi pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk makanan bergizi. Kondisi ekonomi yang lebih baik mendorong partisipasi aktif dalam Posyandu berkat akses yang lebih mudah terhadap transportasi, waktu, dan informasi kesehatan. Program bantuan sosial, seperti PKH dan usaha mikro, turut meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam layanan kesehatan Selain itu, dukungan pemerintah dalam menciptakan peluang usaha bagi masyarakat dan Posyandu Sinergi ini tidak hanya meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi yang berkelanjutan . Pemberdayaan masyarakat dengan program SIGAP (Sosialisasi Gerakan Aktif Posyand. dan Pojok Bermain ini bertujuan untuk meningkatkan kunjungan bayi dan balita ke Posyandu Mayang Wangi melalui pemberdayaan kader dan edukasi Upaya yang dilakukan meliputi sosialisasi tentang pentingnya kunjungan ke Posyandu dan pemenuhan gizi seimbang bagi bayi dan balita. Selain itu, dibuat pojok bermain dari barang bekas yang dapat didaur ulang, seperti permainan tebak gambar dan alat bantu berhitung, untuk merangsang kreativitas serta perkembangan anak saat berada di Posyandu. Lisensi CC Atribusi-NonKomersial 4. 0 Internasional https://doi. org/10. 33480/abdimas. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan melalui pemberdayaan kader Posyandu Mayang Wangi di RT. 07 Kelurahan Lok Bahu. Kota Samarinda. Provinsi Kalimantan Timur. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Oktober hingga bulan November Tahun 2024. Adapun tahapan pelaksanaan kegiatan sebagai berikut. Analisis situasi melalui observasi dan wawancara dengan kader posyandu dan ketua P-ISSN: 2774-5007 | E-ISSN: 2774-499X Vol. 7 No. 2 Oktober 2025 | Hal. RT. informasi serta pemetaan sosial terkait Posyandu Mayang Wangi. Pengenalan masalah dengan metode observasi dan wawancara mendalam dengan kader posyandu, ketua RT dan perwakilan peserta posyandu untuk mengetahui masalah-masalah apa saja yang terdapat di Posyandu Mayang Wangi. Penyadaran masalah melalui metode Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan langsung para kader posyandu, ketua RT dan perwakilan peserta posyandu. Perencanaan dan implementasi pemecahan masalah berupa Sosialisasi Gerakan Aktif Posyandu (SIGAP) dan Pembuatan Pojok Bermain. Evaluasi berupa pre-test dan post-test menggunakan metode benar/salah yang terdiri dari tujuh pernyataan dan simulasi penyuluhan oleh kader posyandu pada program Sosialisasi Gerakan Aktif Posyandu (SIGAP) serta lembar observasi pada program pembuatan pojok bermain. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Situasi Posyandu memiliki peran yang signifikan dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak di desa dengan menyediakan layanan kesehatan dasar yang mudah dijangkau oleh masyarakat . Dengan pemeriksaan rutin, penyuluhan, dan deteksi dini. Posyandu dapat membantu menekan angka kematian ibu (AKI). Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, jumlah kematian ibu di Indonesia pada tahun 2021 389 jiwa, meningkat 56,69% dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah 4. 627 jiwa . Pada tahun 2022, angka kematian ibu menurun 005 jiwa, namun kembali meningkat 129 jiwa pada tahun 2023. Sementara itu, data tahun 2024 belum tersedia, namun pemerintah menargetkan penurunan AKI sebesar 183 per 000 kelahiran hidup . Posyandu Mayang Wangi berlokasi di RT. 07 Gang Poksay. Kelurahan Lok Bahu, sebuah kawasan dengan keberagaman komunitas yang tinggi. Wilayah ini dihuni oleh 586 jiwa, terdiri dari 274 laki-laki dan 312 perempuan. Sebagian besar penduduk RT. 07 bekerja sebagai pegawai swasta. Pegawai Negeri Sipil (PNS), maupun wiraswasta. Posyandu Mayang Wangi terletak di tengah permukiman warga, sehingga mudah diakses oleh masyarakat. Bangunannya luas dan berdiri sendiri, bukan di rumah warga, sehingga memberikan keleluasaan dalam menjalankan berbagai kegiatan posyandu. Selain itu, tersedia ruang yang nyaman bagi anak-anak untuk bermain. Namun dalam pelaksanannya posyandu tersebut keterbatasan SDM dan beberapa alat pemeriksaan kesehatan seperti tensimeter belum ada. Posyandu Mayang Wangi telah berdiri selama kurang lebih 24 tahun. Dengan jumlah bayi balita mencapai sekitar 56 jiwa. Berdasarkan data primer yang diperoleh dari wawancara bersama kader, jumlah bayi balita yang terdaftar di Posyandu Mayang Wangi relatif tinggi pada 2020-2021 . dan meningkat pada 2022 . karena cakupan layanan mencakup dua RT. Namun, terjadi penurunan signifikan pada 2023 . akibat kebijakan pembatasan cakupan ke RT 07 serta tingginya mobilitas penduduk. Tren penurunan berlanjut pada 2024, dengan hanya 56 bayi balita terdaftar. Posyandu Mayang Wangi menjadi salah satu fasilitas yang vital bagi masyarakat setempat. Saat ini, sekitar 30-35 peserta aktif yang menghadiri Posyandu. Waktu pelaksanaan Posyandu ditentukan oleh pihak Puskesmas untuk memastikan layanan dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Anggaran untuk pelaksanaan UKBM Posyandu Mayang Wangi kini didukung program probebaya, sebagaimana diatur dalam Kesehatan . Program ini dirancang untuk meningkatkan partisipasi masyarakat serta kualitas layanan kesehatan, termasuk penyediaan alat ukur dan fasilitas pendukung Posyandu. Posyandu Mayang Wangi memiliki enam kader, beberapa di antaranya sudah berusia lanjut, namun hingga saat ini belum ada menggantikan posisi kader yang sebelumnya. Sehingga keberlanjutan layanan di Posyandu Mayang Wangi menjadi perhatian utama. Pengenalan Masalah Hasil observasi menunjukkan adanya sejumlah kendala yang menghambat pelayanan kesehatan di Posyandu ini. Salah satu masalah utama adalah rendahnya partisipasi peserta. Dari sekitar 56 bayi dan balita yang terdaftar, hanya 3035 anak yang rutin mengikuti kegiatan Posyandu. Beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya partisipasi ini antara lain kurangnya kepercayaan diri sebagian ibu karena anak mereka mengalami masalah berat badan, serta kurangnya pemahaman tentang pentingnya Posyandu. Banyak ibu hanya datang untuk menimbang berat badan anak tanpa menyadari manfaat lain dari kegiatan ini. Selain itu, ibu-ibu muda cenderung lebih memilih mencari informasi kesehatan anak melalui internet, sehingga mengurangi kunjungan mereka ke Posyandu. Upaya Lisensi CC Atribusi-NonKomersial 4. 0 Internasional https://doi. org/10. 33480/abdimas. P-ISSN: 2774-5007 | E-ISSN: 2774-499X Vol. 7 No. 2 Oktober 2025 | Hal. yang dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut meliputi sosialisasi tentang pentingnya mengunjungi Posyandu serta pemenuhan asupan makanan bergizi seimbang bagi bayi dan balita. Selain itu, dilakukan pembuatan media pojok bermain dari barang bekas yang dapat didaur ulang, seperti permainan tebak gambar dan alat bantu berhitung, guna merangsang kreativitas dan perkembangan anak saat berada di Posyandu. Kesadaran ibu-ibu mengenai pentingnya Posyandu juga masih rendah, terutama di kalangan pendatang yang sifatnya sementara. Hal ini menyulitkan kader untuk mengetahui jumlah bayi dan balita yang sebenarnya di wilayah tersebut. Beberapa ibu menganggap pemeriksaan kesehatan yang dilakukan bersamaan dengan penimbangan anak tidak terlalu penting, sehingga enggan hadir. Rasa malu karena masalah gizi atau berat badan anak yang kurang juga menjadi hambatan. Selain itu, ada keraguan terhadap kompetensi kader Posyandu, yang menyebabkan informasi yang diberikan kurang dipercaya. Untuk meningkatkan partisipasi di Posyandu, diperlukan edukasi dan sosialisasi intensif melalui media sosial, radio, serta poster di tempat umum, disertai seminar atau penyuluhan komunitas . Pendekatan personal seperti kunjungan rumah oleh kader Posyandu menghilangkan rasa takut. Pemberian insentif, seperti makanan tambahan bergizi. Selain itu, pelatihan dan sertifikasi kader perlu ditingkatkan untuk meningkatkan kompetensi mereka. Diskusi kelompok dan kegiatan sosial dapat membantu dukungan bagi para ibu dalam menjaga kesehatan anak merek eralatan bayi, juga dapat mendorong kehadiran rutin . Berbagai faktor memengaruhi tingkat kunjungan ke Posyandu, seperti pengetahuan dan sikap ibu, dukungan keluarga, serta fasilitas yang Ketidaknyamanan atau rasa takut terhadap prosedur medis juga dapat menjadi penghalang . Faktor sosial ekonomi, seperti status pekerjaan ibu, turut memengaruhi, di mana ibu bekerja sering kali memiliki keterbatasan Kurangnya pemahaman mengenai manfaat dan tujuan Posyandu juga menjadi penyebab rendahnya partisipasi masyarakat . Data status gizi bayi dan balita di RT. belum teridentifikasi secara menyeluruh, sehingga intervensi hanya dilakukan untuk anak-anak yang sudah terdata, sementara anak lainnya terabaikan. Kondisi ini semakin diperburuk oleh pandemi COVID-19 tahun 2020Ae2021, menyebabkan pelaksanaan Posyandu tidak berjalan optimal dan pemantauan status gizi tidak dapat dilakukan dengan maksimal. Setelah situasi membaik, data stunting mulai tercatat lebih baik, dengan 3 kasus stunting pada tahun 2022 hingga Pada tahun 2024, angka stunting mengalami penurunan menjadi 2 kasus, menunjukkan adanya perbaikan dalam pemantauan dan intervensi gizi. Namun, untuk memastikan seluruh bayi dan balita mendapatkan perhatian yang tepat, diperlukan pendataan yang lebih menyeluruh agar intervensi dapat menjangkau seluruh anak di RT. 07 tanpa ada yang terabaikan. Prosedur pengukuran yang dilakukan kader juga kurang akurat, dan meja lima yang belum maksimal terutama karena banyak dari mereka sudah lanjut usia. Meskipun telah mendapatkan membutuhkan peningkatan keterampilan dan ketelitian dalam melakukan pengukuran. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menyediakan poster atau buku panduan yang mudah dipahami sebagai referensi, sehingga kader dapat melakukan pengukuran dengan lebih tepat dan hasilnya lebih Masalah regenerasi kader menjadi isu Saat ini, terdapat enam kader yang sebagian besar telah bertugas dalam waktu lama. Upaya perekrutan kader baru terhambat oleh dukungan, serta larangan dari beberapa suami. Banyak yang merasa menjadi kader bukanlah prioritas, sementara kader yang sudah lanjut usia mulai kesulitan menjalankan tugas mereka secara Ketidakpastian jadwal kegiatan Posyandu juga menjadi kendala. Jadwal yang ditentukan oleh puskesmas biasanya diumumkan hanya seminggu sebelumnya, sehingga menyebabkan kebingungan di kalangan ibu-ibu dan berdampak pada tingkat Sebelumnya, melakukan pemeriksaan tekanan darah bagi lansia, tetapi kunjungan tersebut kini berkurang, menambah tantangan bagi Posyandu. Solusi untuk jadwal Posyandu yang tidak pasti dapat dilakukan dengan beberapa langkah strategis. Pertama, pemanfaatan teknologi dengan mengembangkan aplikasi ponsel yang dapat memberikan informasi jadwal Posyandu secara real-time, serta pengingat kegiatan . Kedua menciptakan komunikasi yang efektif dengan melibatkan kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan untuk menyosialisasikan jadwal melalui masjid atau aparat desa . Lisensi CC Atribusi-NonKomersial 4. 0 Internasional https://doi. org/10. 33480/abdimas. Penyadaran Masalah Penyadaran masalah dilakukan dengan FGD (Focus Group Discussio. FGD (Focus Group P-ISSN: 2774-5007 | E-ISSN: 2774-499X Vol. 7 No. 2 Oktober 2025 | Hal. Discussio. adalah pengumpulan data kualitatif mendalam melalui suatu diskusi kelompok mengenai suatu isu sosial atau topik spesifik merupakan metode pengumpulan data kualitatif yang dilakukan melalui diskusi kelompok tentang suatu masalah sosial atau tema tertentu . Penyadaran masalah dalam pemberdayaan ini dilaksanakan di Posyandu Mayang Wangi yang ada di RT. 07, dihadiri delapan orang peserta pemberdayaan termasuk kader posyandu, ibu ketua RT. 07, dan ibu-ibu bayi/balita di Posyandu Mayang Wangi. Proses diskusi tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan pada tanggal 19 Oktober 2024 di Posyandu Mayang Wangi telah mengidentifikasi tiga masalah utama: kunjungan posyandu rendah, pengetahuan kader yang masih terbatas dalam memberikan edukasi, dan waktu pelayanan posyandu yang singkat. Berdasarkan analisis menggunakan metode USG (Urgency. Seriousness. Growt. , kunjungan posyandu yang rendah menjadi prioritas utama dengan skor tertinggi. Analisis lebih lanjut menggunakan diagram Fishbone penyebab rendahnya partisipasi masyarakat dalam kunjungan posyandu. Dari aspek Man . , ditemukan kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya posyandu akibat rendahnya pendidikan kesehatan dan terbatasnya informasi. Faktor Method menunjukkan kurangnya sosialisasi program dan prosedur yang dianggap rumit. Aspek Environment dipengaruhi oleh kondisi cuaca, sementara dari segi Machine terdapat keterbatasan peralatan medis seperti tensimeter. Aspek Material menunjukkan kurangnya fasilitas pendukung seperti area bermain anak dan media informasi yang menarik. Sedangkan dari sisi Management, koordinasi jadwal antara puskesmas dan posyandu masih belum efektif. Berdasarkan hasil analisis tersebut, tim mengimplementasikan dua program intervensi utama sebagai solusi konkrit. Program pertama adalah SIGAP (Sosialisasi Gerakan Aktif Posyand. yang dilaksanakan melalui beberapa tahapan sistematis, dimulai dari penyusunan materi sosialisasi dan pembuatan media leaflet tentang pentingnya posyandu dan asupan gizi seimbang. Program ini dilanjutkan dengan serangkaian evaluasi dan simulasi untuk meningkatkan kemampuan edukasi kader, yang diukur melalui pre-test dan post-test untuk memastikan efektivitas Program kedua adalah Pembuatan Pojok Bermain yang fokus pada pembuatan media bermain edukatif untuk anak-anak. Program ini tidak hanya bertujuan menciptakan lingkungan posyandu yang lebih ramah anak, tetapi juga meningkatkan kemampuan kader dalam membuat dan mengelola media bermain yang edukatif. Keberhasilan program ini dievaluasi melalui pengamatan langsung terhadap kemampuan kader dan respons dari para pengunjung posyandu. Lisensi CC Atribusi-NonKomersial 4. 0 Internasional https://doi. org/10. 33480/abdimas. Sumber: (Dokumentasi Penulis, 2. Gambar 1. Penyadaran Masalah Perencanaan Program Perencanaan program di Posyandu adalah kegiatan-kegiatan bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu hamil, menyusui, bayi, dan balita. Perencanaan program disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat dan mengacu pada standar pelayanan kesehatan yang berlaku. Menurut WHO, perencanaan program merupakan suatu ketelitian dalam pelaksanaan program, kemudian proses pelaksanaannya dengan mengombinasikan ilmu pengetahuan dengan pengalaman yang dimiliki sehingga terpenuhi kebutuhan dalam pelaksanaan program pengembangan masyarakat dengan sumber daya yang tersedia. Sebagai upaya dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, maka dibutuhkan intervensi program. Ada beberapa tahapan intervensi yang direncanakan, agar tercapainya tujuan pengembangan masyarakat yang dilakukan dengan harapan bermuara pada terealisasinya proses pemberdayaan masyarakat khususnya para kader. Perencanaan program di Posyandu Mayang Wangi dilakukan secara langsung bersama dengan sasaran yaitu kader posyandu dan juga para ibu bayi Koordinasi perencanaan program juga dilakukan melalui grup whatsApp. Berdasarkan hasil diskusi bersama terkait perencanaan program, maka didapatkan hasil berupa program SIGAP (Sosialisasi Gerakan Aktif Posyand. Pembuatan pojok bermain di Posyandu. Kemudian untuk tahap perencanaan program ini dituangkan dalam bentuk POA (Plan of Actio. dengan menetapkan prosedur untuk mencapai tujuan. Adapun proses pemecahan masalah dilakukan bersama dengan pihak RT juga P-ISSN: 2774-5007 | E-ISSN: 2774-499X Vol. 7 No. 2 Oktober 2025 | Hal. para kader dan disepakati untuk dilaksanakan. Pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai memberikan kekuasaan dan kewenangan kepada pihak yang memiliki otoritas, serta memberikan otonomi kepada tingkat bawah . Tujuan utamanya adalah untuk mengaktifkan semua potensi yang ada guna mencapai tujuan tertentu. Pemberdayaan kepada para kader ini bertujuan agar para kader dapat menjadi lebih mampu dan mandiri untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam mengatasi permasalahan yang ada di Posyandu Mayang Wangi. Implementasi Kegiatan Implementasi kegiatan yang dilaksanakan di Posyandu Mayang Wangi, terdapat dua tahap yakni pelaksanaan kegiatan SIGAP (Sosialisasi Gerakan Aktif Posyand. dan pembuatan pojok bermain. Sebelum melakukan kegiatan SIGAP, terlebih dahulu dilakukan kegiatan pembuatan pojok bermain selama dua hari pada tanggal 20 Oktober dan 22 Oktober 2024 di Posyandu Mayang Wangi. Kegiatan ini dihadiri oleh kader posyandu Mayang Wangi dan PKK RT 07. Pembuatan Media Bermain Hari Kedua. Media bermain yang dibuat berasal dari barang bekas dan diubah menjadi permainan edukatif seperti puzzle berbentuk buah-buahan, puzzle dua potong untuk mencocokkan asal makanan dan menyatukan potongan gambar, media angka untuk melatih berhitung dan menulis, media berbentuk mobil untuk mencocokkan warna roda, serta media abjad berbentuk landak. Selain berfungsi sebagai media bermain edukatif yang pembuatannya juga praktis dan bahan-bahan yang digunakan mudah ditemukan. (Sumber: Dokumentasi Penulis, 2. Gambar 2. Pembuatan Media Bermain Hari Pertama Lisensi CC Atribusi-NonKomersial 4. 0 Internasional https://doi. org/10. 33480/abdimas. (Sumber: Dokumentasi Penulis, 2. Gambar 3. Pembuatan Media Bermain Hari Kedua Dokumentasi proses pembuatan media bermain selama dua hari sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2 dan Gambar 3 mencerminkan keterlibatan aktif masyarakat dalam kegiatan Bentuk pembelajaran berupa media bermain yang sesuai seharusnya diberikan pada anak sesuai dengan kebutuhannya . Adapun bahan-bahan pembuatan media bermain disiapkan oleh ibu-ibu kader posyandu dan PKK RT 07. Proses pembuatan dilakukan langsung oleh ibu-ibu kader posyandu dan PKK RT. 07 dengan sistem pembagian menjadi tiga kelompok. Metode edukasi ini efektif sebagai bentuk promosi kesehatan karena mendorong perubahan perilaku dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan . Hasil akhir dari media bermain edukatif yang telah dibuat ditampilkan pada Gambar 4. Selain itu, penggunaan bahan bekas yang biasanya disebut sebagai sampah dapat berupa plastik, kertas, dan kardus yang ketika dikreasikan akan menghasilkan benda baru, yang memiliki fungsi lain, dan dapat dimanfaatkan untuk alat permainan dalam pembelajaran anak usia dini dan dapat dimanfaatkan menjadi sebuah benda yang memiliki nilai tinggi . Prinsip recycle dalam konsep 3R . educe, reuse, dan recycl. diwujudkan dengan mendaur ulang sampah, dalam hal ini berupa plastik, kertas, dan kardus menjadi media bermain yang bermanfaat. Recycle artinya mendaur ulang, mengubah fungsi produk menjadi produk yang dapat dimanfaatkan lebih lama atau berfungsi lain . Langkah ini tidak hanya membantu mengurangi limbah, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan kualitas P-ISSN: 2774-5007 | E-ISSN: 2774-499X Vol. 7 No. 2 Oktober 2025 | Hal. (Sumber: Dokumentasi Penulis, 2. Gambar 4. Hasil Media Bermain Edukatif Implementasi kegiatan selanjutnya adalah SIGAP (Sosialisasi Gerakan Aktif Posyand. yang pentingnya datang ke posyandu dan pemenuhan asupan makanan bergizi yang seimbang bagi bayi dan balita, serta sosialisasi pojok bermain. Kegiatan SIGAP dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 25 Oktober dan 26 Oktober 2024 di Posyandu Mayang Wangi. Kegiatan ini dihadiri oleh kader posyandu Mayang Wangi dan ibu bayi/balita sebagai sasaran kegiatan. Sumber: (Dokumentasi Penulis, 2. Gambar 5. Pemaparan Materi Sosialisasi Penyampaian materi edukasi yang terlihat pada gambar 5 dilakukan oleh kader posyandu dengan power point dan media bantu berupa leaflet, agar memudahkan peserta memahami materi yang Materi dan media leaflet yang disampaikan adalah hasil penyusunan pada hari sebelum sosialisasi oleh kader posyandu dan fasilitator yakni mahasiswa. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Herlinadiyaningsih . bahwa untuk memudahkan melakukan suatu edukasi kesehatan, maka perlu didukung oleh komunikasi kesehatan, yaitu proses penyampaian pesan kesehatan oleh komunikator melalui saluran/media tertentu salah satunya adalah leaflet yang dapat menggambarkan suatu proses secara tepat dengan dapat dibaca dan dilihat secara berulang-ulang mempraktekkan dan menambah pengetahuan . Penelitian yang dilakukan oleh Nurmadinisia et al. juga menunjukkan bahwa edukasi dengan kombinasi media power point dan leaflet efektif dalam meningkatkan pemahaman . Selain itu, penelitian lain yang dilakukan oleh Wahyuni et al. juga menunjukkan bahwa penggunaan media cetak seperti leaflet dan slide power point berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan . Evaluasi Evaluasi dilakukan untuk mengukur keberhasilan suatu program dengan melihat input, proses, dan output, serta dampaknya terhadap Pada kegiatan pemberdayaan ini, evaluasi menunjukkan kebermanfaatan program melalui analisis pada ketiga aspek tersebut baik pada program SIGAP (Sosialisasi Gerakan Aktif Posyand. dan Pembuatan Pojok Bermain di Posyandu. Input yang baik, seperti keterlibatan ibuibu bayi, balita, dan kader posyandu. Proses pelaksanaan berjalan lancar dengan antusiasme peserta yang tinggi, terlihat dari keaktifan dalam diskusi dan pembuatan pojok bermain. Pada output, posyandu dan masalah gizi balita terlihat melalui pre-test dan post-test. Evaluasi ini juga mengindikasikan bahwa kegiatan pembuatan media permainan, yang melibatkan para kader dan ibu-ibu PKK, berhasil meningkatkan keterampilan mereka dalam menciptakan mainan sederhana dari barang bekas, sesuai dengan instruksi dan video referensi yang diberikan. Pelaksanaan edukasi dimulai dengan pre-test sebanyak tujuh pernyataan dalam bentuk games benar/salah menggunakan kertas warna merah dan hijau, yang difasilitasi oleh Edukasi oleh kader Posyandu dilakukan di Posyandu Mayang Wangi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, dan diakhiri dengan post-test yang sama seperti pre-test. Lisensi CC Atribusi-NonKomersial 4. 0 Internasional https://doi. org/10. 33480/abdimas. P-ISSN: 2774-5007 | E-ISSN: 2774-499X Vol. 7 No. 2 Oktober 2025 | Hal. Tabel 1. Pre-test dan Post-test program SIGAP (Sosialisasi Gerakan Aktif Posyand. Pre-test No. Pertanyaan Posyandu adalah bentuk upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) Kegiatan pokok di Posyandu hanya meliputi imunisasi dan gizi Meja satu di Posyandu berfungsi untuk memberikan edukasi kepada orang tua Pentingnya datang ke Posyandu termasuk untuk deteksi dini masalah Kesehatan anak Stunting adalah kondisi ketika anak memiliki berat badan rendah dibandingkan dengan tinggi badannya Anak yang tidak dibawa ke Posyandu berisiko mengalami masalah gizi dan keterlambatan Gizi seimbang hanya diperlukan untuk pertumbuhan fisik anak Benar n(%) Post-test Salah n(%) Benar n(%) Salah n(%) . (Sumber: Olahan Penulis, 2. Berdasarkan Tabel 1, hasil pre-test menunjukkan bahwa sebagian besar peserta sudah memahami konsep dasar Posyandu, seperti pada pertanyaan mengenai Posyandu sebagai Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) dan pentingnya deteksi dini masalah kesehatan anak, yang semuanya dijawab benar oleh peserta. Terdapat peningkatan pemahaman pada topik stunting dan gizi seimbang Pada pre-test, semua peserta belum mengetahui tentang stunting namun setelah diberikan materi pengetahuan, terdapat empat peserta dengan jawab yang benar atau sebesar 36%. Selain itu pada pernyataan ketujuh tentang pentingnya gizi seimbang, yang tidak hanya untuk pertumbuhan fisik anak. Pada pre-test, hanya 54% peserta yang menjawab benar, sementara sisanya menjawab salah. Setelah post-test, semua peserta menjawab dengan benar, menunjukkan bahwa materi tambahan berhasil meningkatkan pemahaman mereka tentang pentingnya gizi seimbang bagi aspek lain dari perkembangan anak. Keberhasilan kegiatan juga terlihat dari penilaian simulasi terhadap kader Posyandu yang menunjukkan efektivitas edukasi dan sosialisasi yang diberikan. Penilaian simulasi dalam program SIGAP (Sosialisasi Gerakan Aktif Posyand. melibatkan evaluasi terhadap kinerja kader Posyandu dalam menyampaikan materi, yang mencakup aspek komunikasi, pengetahuan materi, respons terhadap masalah, dan umpan balik. Pelaksanaan program juga menghadapi beberapa hambatan, seperti terbatasnya dana untuk mendukung kegiatan, keterbatasan waktu saat proses perencanaan program sehingga perencanaan saat offline hanya membahas perencanaan umum. Selain itu, partisipasi ibu bayi dan balita juga terhambat oleh kondisi cuaca yang buruk, serta masalah teknis seperti gangguan mikrofon dan pencahayaan yang kurang memadai untuk tampilan materi presentasi. Hambatan lainnya termasuk kesulitan bagi kader usia lanjut ketidakhadiran peserta yang menyebabkan penundaan kegiatan. Hambatan-hambatan ini menghambat kelancaran pelaksanaan program, sebagaimana dijelaskan oleh Sutrisno . yang menyatakan bahwa faktor eksternal seperti cuaca dan kendala sumber daya dapat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan program . Untuk mengatasi hambatan ini, solusi yang dapat diterapkan antara lain adalah dengan membuat media permainan menggunakan barang bekas seperti kardus dan botol air minum guna mengurangi pengeluaran. Selain itu, alternatif diskusi melalui grup WhatsApp antara kader dan anggota kelompok bisa dilakukan untuk membahas lebih rinci mengenai POA program. Ibu RT juga dapat berperan dalam mengingatkan masyarakat serta menyebarkan informasi melalui grup WhatsApp. Bagi peserta yang tidak dapat hadir, kader posyandu akan membagikan poster yang telah dibuat selama kegiatan posyandu. Untuk masalah teknis, dapat digunakan latar belakang untuk mengurangi intensitas cahaya dari luar, serta mengganti mikrofon yang dapat digunakan secara bergantian dan pemateri melantangkan suara. Lisensi CC Atribusi-NonKomersial 4. 0 Internasional https://doi. org/10. 33480/abdimas. KESIMPULAN Rendahnya partisipasi masyarakat dalam melakukan kunjungan ke posyandu menjadi salah satu permasalahan yang dialami oleh Posyandu Mayang Wangi saat ini. Melalui Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan bersama Kader dan Ketua RT setempat, terdapat dua program intervensi sebagai solusi konkrit dan berkelanjutan. P-ISSN: 2774-5007 | E-ISSN: 2774-499X Vol. 7 No. 2 Oktober 2025 | Hal. yaitu SIGAP (Sosialisasi Gerakan Aktif Posyand. dan Pembuatan Pojok Bermain. Program pertama. SIGAP (Sosialisasi Gerakan Aktif Posyand. merupakan kegiatan sosialisasi yang efektif mengenai pentingnya datang ke posyandu dan pemenuhan asupan makanan bergizi yang seimbang bagi bayi dan balita dapat meningkatkan pengetahuan kader mengenai kesehatan dan menjadikan masyarakat sadar akan pentingnya kunjungan ke posyandu. Kegiatan sosialisasi ini disertai dengan pre-test dan post-test dalam bentuk games benar-salah sebagai bentuk evaluasi yang diukur melalui peningkatan pengetahuan pada Pada program kedua, pembuatan pojok bermain di posyandu dapat meningkatkan keterampilan kader dan menjadi fasilitas yang menarik bagi anak-anak. Program ini berfokus pada pembuatan media bermain edukatif untuk anakanak dari bahan bekas yang dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan keterampilan motorik Kedua program intervensi yang dijalankan ini dapat memperkuat peran kader dalam memberikan pelayanan dan edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat ke posyandu sebagai upaya mendukung kesehatan ibu dan anak. DAFTAR PUSTAKA