Nidyah Widyamurti. Jauhari. Sigied Himawan Yudhanto Kajian Sosio Semiotika Megalitikum Pada Situs Tantaduo Taman Nasional Lore Lindu Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 SOCIO SEMIOTIC STUDY OF MEGALITHICS AT THE TANTADUO SITE. LORE LINDU NATIONAL PARK KAJIAN SOSIO SEMIOTIKA MEGALITIKUM PADA SITUS TANTADUO TAMAN NASIONAL LORE LINDU Nidyah Widyamurti1. Jauhari2. Sigied Himawan Yudhanto3 Program Studi D3 Desain Komunikasi Visual Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret 1,2,3 Email: sigiedhy@staff. ABSTRACT The Tantaduo site is a megalithic site located in the Bada Valley of the Lore Lindu National Park, at the Tantaduo site there is a statue known as Watu Baula, the Watu Baula statue as a megalithic object is analysed with an ecosemiotic approach consisting of significance, code, and context to be interpreted by the method of dyadic and triadic relationships between denotation, connotation, and objects can be represented by the famous triangle The results of the research in descriptive analysis show that in the socio semiotics of the statue form there are various marker objects found on the body of megalithic artefacts at the Watu Baula statue of the Tantaduo site, such as circles of lines, patterns, strokes and holes on the body of the statue, have symbolic signs as a representation of people who have carried out farming activities in the social life of the megalithic community. The shape of the circle and the holes symbolise the symbol of the life cycle and sustainability, while the human carvings reflect respect for the ancestors. in the Bada valley always shows the existence of cultural relations or communication AolanguageAo between community groups in the region. This indicates that the local communities around the megalithic sites have similarities in the symbolic system as their AolanguageAo and beliefs. Keywords: Watu Baula statue. Socio Semiotics. Megalithic. Umberto Eco. Lore Lindu National Park ABSTRAK Situs Tantaduo merupakan situs megalitikum yang berada di Lembah Bada taman nasional lore lindu, pada situs tantaduo terdapat sebuah arca yang dikenal dengan nama Watu Baula, arca Watu Baula sebagai objek megalitikum di analisis dengan pendekatan sosio semiotika eco yang terdiri dari signifikansi, kode, dan konteks untuk kemudian di interpretasikan dengan metode hubungan diadik dan triadik antara denotasi, konotasi, dan dan objek dapat diwakili oleh skema segitiga yang terkenal. Hasil penelitian secara analisis deskriptif menunjukan bahwa secara sosio semiotika bentuk arca terdapat berbagai objek penanda yang ditemukan pada badan artefak megalitikum di arca Watu Baula situs Tantaduo, seperti lingkaran garis-garis, corak, guratan dan bolongan -bolongan pada badan arca, memiliki tanda simbolik sebagai reperesentasi masyarakat yang sudah melakukan kegiatan bercocok tanam dalam kehidupan sosial masyarakat megalitikum. Bentuk lingkaran dan bolongan melambangkan symbol siklus hidup dan keberlanjutan, sedangkan ukiran manusia mencerminkan penghormatan terhadap leluhur. di lembah Bada selalu menunjukkan adanya hubungan budaya atau AobahasaAo komunikasi antara kelompok-kelompok masyarakat di wilayah tersebut. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kondisi masyarakat lokal di sekitar situs-situs megalitikum tersebut memiliki kesamaan dalam sistem simbolik sebagai AobahasaAo dan kepercayaan mereka. Kata kunci: Arca Watu Baula. Sosio Semiotika. Megalitikum. Umberto Eco. Taman Nasional Lore Lindu Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 12 Juli 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. PENDAHULUAN Situs megalitikum Tantaduo berada di lembah Bada di Taman Nasional Lore Lindu tepatnya berada di Desa Badangkaia. Kecamatan Lore Selatan. Kabupaten Poso provinsi Sulawesi Tengah (Bpcbgorontalo, 2. Lembah Bada merupakan kawasan megalitikum Lore Lindu, di jantung Pulau Sulawesi. Tepatnya di Kabupaten Poso. Sulawesi Tengah (Paino, 2. Sebagian besar peninggalan bersejarah tersebut berada di Taman Nasional Lore Lindu. Situs megalitikum Tantaduo terdapat satu arca yang dikenal dengan sebutan arca Watu Baula. Penduduk lokal menyebutnya dengan batu Kerbau diambil dari bahasa Moma, suku Kulawi yang bermakna kepala kerbau (Suparmani & Muzakir, 2023. Swastika, 2. Istilah Watu Baula tersebut disesuaikan dengan interpretasi masyarakat setempat yang melihat arca tersebut yang tidak berdiri tegak, sebagaimana arca lainnya disekitar lembah Bada. Bentuk arca ini dilengkapi dengan wajah yang terdapat 2 . buah mata yang berbentuk bulat, sedangkan bagian atas mata terdapat beberapa tarikan garis secara random yang berukuran setengah lingkaran yang mengikuti pola bentuk mata sehingga menyerupai alis, kemudian juga terdapat hidung. Seluruh bidang punggung arca memiliki motif dengan bentuk bulatan yang menyerupai lubang dakon dan bagian belakangnya terdapat bentuk relief dengan pola bergaris-garis, serta spiral. Ukuran arca memiliki panjang 330 cm, lebar 140 cm dan tinggi rata-rata 42-54 cm. Arca Watu Baula adalah arca dengan posisi berbaring dengan wajah kerbau terdapat pada bagian depan, pada bagian atas badannya terdapat datum berbentuk torehan semacam kalender bintang tentang hitungan waktu/musim tanam (Asinamura, 2. Arca Watu Baula berada di tengah sawah dengan landscape pemandangan lembah Bada yang sangat indah (Banua, 2. Arca Watu Baula merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi. Arca Watu Baula memiliki folklore atau cerita rakyat tentang situs eksistensi arca tersebut (Ida et al. , 2. Sampai sekarang Arca Watu Baula, juga difungsikan sebagai tempat pemujaan komunal (Yuniawati-Umar et al. , 2. Situs Tantaduo hanya dengan terdapat satu objek megalitikum akan tetapi bentuk arca tersebut menjadi ikon, bersama dengan situs Sepe dengan arca Palindo yang terkenal di lembah Bada (Prasetyo, 2. Arca Watu Baula terbuat dari batu andesit (Setyawan & Yudhanto, 2. Lembah Bada menyimpan berbagai peninggalan berupa batu-batu besar yang diukir dan disusun dengan teknik pahatan yang masih menjadi misteri hingga saat ini. Keberadaan berbagai objek megalitikum di seluruh situs lembah Bada tidak hanya penting dari segi arkeologi, akan tetapi juga memiliki nilai sosio-semiotika yang menggambarkan kehidupan dan kepercayaan kehidupan massa lampau. Namun, meskipun penting, penelitian mendalam mengenai aspek sosiosemiotika pada situs megalitikum masih sangat terbatas. Secara fundamental, situs megalitikum berkaitan dengan bidang ilmu arkeologi yang harus dipahami sebagai bidang semiotika, arca sebagai alat penanda dimana semiotika tersebut menggabungkan kualitas historis dan ahistoris yang berkaitan dengan keterampilan dan pengetahuan pribadi. Hal tersebut mengarah pada aspek pembengkokan interpretasi arkeologi dan bagaimana persepsi informasi tersebut dapat diterima untuk memahami dampak sosial pada rekonstruksi kehidupan masa lalu dan, lebih jauh lagi, dampaknya pada strategi dan tujuan penelitian serta dinamika penelitian yang terjadi ketika di lapangan (Ickerodt, 2. Objek megalitikum akan selalu menjadi ubjek penelitian yang menarik di kerenakan eksistensi objek yang masih cukup terbatas serta kondisi objek yang cukup memakan waktu untuk di kunjungi. Hal tersebut tentu menjadi pertimbangan sendiri ketika melakukan penelitian terhadap objek megalitikum, terkhusus di Taman Nasional Lore Lindu. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Nidyah Widyamurti. Jauhari. Sigied Himawan Yudhanto Kajian Sosio Semiotika Megalitikum Pada Situs Tantaduo Taman Nasional Lore Lindu Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 Gambar 1. Arca Watu Baula di situs Tantaduo Lembah Bada Taman Nasional Lore Lindu Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2024 Rumusan Masalah berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini berusaha menjawab beberapa pertanyaan utama seperti: Bagaimana bentuk dan fungsi dari artefak-artefak megalitikum yang terdapat di Situs Tantaduo? Apa makna simbolis yang terkandung dalam artefakartefak tersebut dari perspektif sosio-semiotika? Bagaimana arca Watu Baula tersebut mencerminkan kehidupan sosial dan kepercayaan masyarakat pada masa masa lampau?. Kajian pustaka penelitian ini mengacu pada berbagai literatur yang membahas tentang megalitikum, semiotika, dan khususnya sosio-semiotika. Objek Megalitikum telah banyak dibahas dalam penelitian arkeologi, seperti literatur yang berjudul AuIndonesian Megaliths: A Forgotten Cultural HeritageAy karya Steimer-Herbet . yang mengkaji berbagai peninggalan objek megalitikum di seluruh Indonesia yang berhasil di temukan. Kajian semiotika yang di paparkan oleh Peirce . dan Saussure . memberikan dasar teoritis untuk memahami simbol dan tanda dalam artefak. Sementara itu, kajian sosio-semiotika oleh Eco . proses semiologi . roses penafsiran tand. Eco menawarkan instrumen untuk mengenali apa yang dilakukan oleh sains, yang untuk bisa melakukan observasi dengan belajar untuk melihat dunia sebagai kumpulan objek peristiwa yang dapat memberi tanda (Randall E, 2. Ketika menjumpai sebuah objek, atau patung, orang pasti bertanya: AoTentang apakah itu? dan saat melihatnya, perasaan tertentu mungkin akan muncul, seperti rasa hormat, kekaguman, ketidakpedulian, atau penghinaan. Benda, atau objek struktur buatan berfungsi sebagai artefak semiotik, mewakili dunia serta memberlakukan hubungan sosial (Bowcher & Yameng Liang, 2. Analisis arca Watu Baula dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang - sejarah, estetika, sosial, politik, arkeologi. Landasan Teori Penelitian ini menggunakan pendekatan sosio-semiotika untuk menganalisis artefak-artefak megalitikum di Situs Tatanduo. Pendekatan ini mengkombinasikan teori semiotika klasik Umberto Eco dengan analisis sosial yang populer dengan sebutan sosio semiotika. Kress & van Leeuwen dalam Reading Images: The Grammar of Visual Design . mengatakan megnatakan bahwa sosio semiotika menganalisis aspek sosial pada sebuah makna (Husseini & Aljamil, 2. dan begitu pulan pernyataan dari Eco bahwa Aubegitu masyarakat ada, setiap fungsi secara otomatis berubah menjadi tanda dari fungsi tersebutAy (Lorusso, 2. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 12 Juli 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. Teori semiotika dari Peirce dan Saussure akan digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tanda-tanda pada artefak megalitikum dan menganalisis semiotika pada objek megalitikum. Peirce pertama kali menciptakan AoSemiotikaAo yang menjadi istilah dominan dalam bentuk kata, gambar, isyarat atau objek. Akan tetapi, seperti yang dinyatakan oleh Peirce bahwa. Autidak ada sesuatu yang merupakan tanda kecuali jika ditafsirkan sebagai tanda Saussure kemudian mengusulkan modelnya untuk menganalisis tanda yang menyatakan bahwa sebuah tanda terdiri dari elemen penanda (Aocitra suaraA. dan petanda (AokonsepA. (Husseini & Aljamil, 2. yang harus selalu digabungkan untuk membangun makna serta bagaimana mencari cara terbaik dalam menyelidiki signifikansi arca terhadap interpretasi sebagai struktur bangunan prasejarah sehingga dapat membantu dalam membangun imajinasi arkeologi modern (Helen & Martyn, 2. Sementara teori sosio-semiotika dari Eco akan membantu dalam memahami bagaimana tandatanda ini berfungsi dalam konteks sosial dan budaya masyarakat pada masa itu, sosio-semiotika, muncul sebagai sebuah repertoar interpretasi yang mana penerima tanda dapat memilih mana yang paling tepat dalam, mengungkapkan tanda dalam proses yang berbeda dalam setiap kegiatan penafsiran tanda, penerjemahan melalui penerjemah yang bersifat parsial dan dikondisikan oleh berbagai faktor, terutama yang berasal dari referensi budaya yang melingkupinya (Bianchi, 2. Tinjauan Literatur Penelitian sebelumnya telah banyak membahas tentang megalitikum dari berbagai Penelitian oleh Andrea Cossu . yang mengeksplorasi aspek sosial dari situs megalitikum serta bagaimana sebuah pergeseran budaya dalam ilmu-ilmu sosial serta hubungan antara semiotika dan sosiologi akan berdampak pada proses membaca tanda secara denotatif dan konotatif, dimana hal tersebut akan menciptakan hubungan yang cukup bermanfaat dalam hal metodologis, akan tetapi integrasi pada tingkat umum dari teori semiotika dan teori sosiologi sering kali mengalami konstruksi yang ketat dari perspektif yang saling terpadu. Semiotika juga mempelajari proses-proses penandaan, yaitu produksi, kodifikasi, dan komunikasi tanda dimana produksi grafis material tersebut juga merupakan produksi kognitif dalam arti bahwa objek-objek megalitikum dihasilkan dari hasil dari interpretasi penulis terhadap realitas (Defrasne, 2. Objek arkeologi telah berproses dengan lewat perantara semiosis yang mengubah objek-objek tersebut menjadi sebuah symbol (Iliopoulos, 2. Namun, penelitian yang secara spesifik mengkaji aspek sosio-semiotika dengan objek megalitikum sebagai subject matter dari penelitian situs megalitikum di Indonesia, khususnya di Taman Nasional Lore Lindu, masih sangat terbatas. Masalah penelitian ini berdasarkan dari tinjauan literatur dan identifikasi kesenjangan penelitian, terdapat masalah utama yang akan dipecahkan dalam penelitian dimana adalah bagaimana artefak-artefak megalitikum di Situs Tatanduo dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan sosial dan kepercayaan masyarakat pada masa itu melalui pendekatan sosio-semiotika. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan dalam literatur dengan menyediakan analisis yang komprehensif tentang makna simbolis dari artefak-artefak tersebut. Relevansi Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penting dalam bidang arkeologi dan studi budaya, khususnya dalam memahami warisan megalitikum di Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti lain yang tertarik untuk mengkaji aspek sosio-semiotika dari warisan budaya khususnya objek-objek megalitikum. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat telah menyebabkan perubahan dan perkembangan sosio semiotik pada objek yang memiliki kemungkinan untuk dilakukan interpretasi Volume 16 No. 2 Desember 2024 Nidyah Widyamurti. Jauhari. Sigied Himawan Yudhanto Kajian Sosio Semiotika Megalitikum Pada Situs Tantaduo Taman Nasional Lore Lindu Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 yang berdampak pula pada perubahan atau perkembangan makna lambang-lambang tersebut. Seiring dengan berkembangnya makna lambang-lambang bahasa, pemakai bahasa perlu mempelajari makna lambang-lambang bahasa tersebut secara terus menerus (Astuti & Tafonao. METODE PENELITIAN Metode Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosio semiotika yang dikembangkan oleh Umberto Eco. Dari sudut pandang metodologis, sosio semiotika menggabungkan metode deskriptif, interpretatif, antropologi dengan tujuan-tujuan kritis untuk mencari penafsiran tanda (Aiello, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji simbol-simbol dan makna yang terkandung dalam situs megalitikum Tantaduo dilembah Bada Taman Nasional Lore Lindu dari perspektif sosio semiotika. Prosedur penelitian yang dilakukan meliputi tahap persiapan, pengumpulan data, analisis data, dan interpretasi hasil data. Setiap tahap dirancang untuk dapat di realisasikan di lapangan serta mudah untuk direplikasi oleh peneliti berikutnya. Tahap-tahap penelitian menentukan lokasi penelitian yaitu di lokasi situs Tantaduo. Taman Nasional Lore Lindu yaitu dengan mempersiapkan bahan dan alat yang diperlukan, seperti kamera, alat tulis, dan perekam suara. Melakukan studi literatur tentang semiotika sosial dan Sejarah situs megalitikum, khusus pada studi literatur akan di lakukan di UPT Museum Negeri Sulawesi Tengah dan Balai Konservasi Taman Nasional Lore Lindu. Gambar 2. Observasi penulis di lokasi Arca Watu Baula di situs Tantaduo Lembah Bada Taman Nasional Lore Lindu Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2024 Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 12 Juli 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. Tahap pengumpulan data meliputi observasi dimana observasi pada penelitian ini merupakan pilar atau metode utama dan mejadi salah satu dari beberapa pendekatan metode kualitatif yang saling melengkapi, karena observasi dapat memberikan inspirasi, kesan dan pengalaman dari sebuah pengamatan dapat membantu merevisi masalah penelitian, yang pada yang pada gilirannya dapat menciptakan kebutuhan akan metode tambahan dan perspektif teoritis (Ciesielska et al. , 2. Observasi dengan melakukan kunjungan langsung ke situs Tantaduo untuk mendokumentasikan artefak megalitikum arca Watu Baula kemudian melakukan berbagai interaksi dengan masyarakat sekitar situs tersebut. Interaksi tersebut seperti melakukan wawancara dengan penjaga situs, ahli arkeologi, tokoh masyarakat, dan pengelola Taman Nasional Lore Lindu untuk mendapatkan informasi lebih mendalam mengenai symbol-simbol dan makna situs Dokumentasi: Mengambil foto dan video artefak megalitikum serta mencatat deskripsi rinci tentang bentuk, ukuran, dan posisi artefak. Tahap Pengolahan Data Mengkategorikan data berdasarkan jenis artefak, lokasi, dan informasi simbolik yang diperoleh dari wawancara dan Menyusun data dalam bentuk tabel dan narasi kualitatif untuk memudahkan analisis lebih lanjut. Tahap analisis data Menggunakan teknik analisis semiotika sosial Umberto Eco, yaitu: Analisis signifikansi yaitu dengan mengidentifikasi dan menginterpretasi tanda-tanda atau simbolsimbol yang terdapat pada artefak megalitikum. Analisis kode mengkaji sistem kode yang digunakan oleh masyarakat megalitikum dalam menciptakan simbol-simbol tersebut. Analisis Konteks: Menghubungkan simbol-simbol semiotika dengan konteks sosial, budaya, dan sejarah masyarakat megalitikum. Tahap Interpretasi Hasil Menafsirkan makna dan fungsi simbol-simbol dalam konteks sosial dan budaya masyarakat megalitikum di Tantaduo. Membuat kesimpulan mengenai peran simbol-simbol tersebut dalam kehidupan masyarakat pada masa Bahan dan peralatan utama seperti kamera digital yang disertai tripod untuk dokumentasi visual objek selama di lapangan. Alat tulis untuk mencatat hasil observasi dan wawancara. Perekam suara untuk merekam wawancara. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di situs Tantaduo, di Taman Nasional Lore Lindu. Sulawesi Tengah. Teknik pengumpulan data observasi partisipatif yaitu dengan mengamati dan mendokumentasikan artefak serta melakukan interaksi dengan masyarakat local yang berada di sekitara area situs megalitikum. Wawancara Mendalam: Menggali informasi dari ahli arkeologi, tokoh masyarakat, dan pengelola taman nasional. Studi dokumentasi dengan mengumpulkan dan menganalisis literatur terkait simbolisme dan megalitikum. Teknik analisis data teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan semiotika sosial Umberto Eco yang mencakup analisis signifikansi, kode, dan konteks. Kode pada gilirannya akan menopang stabilitas diakronis dan lintas-kontekstual dari signifikansi itu sendiri. Jadi, bagi Eco . engutip dari Saussur. , kode-kode simbolik dibagikan secara sosial dan ditransmisikan secara historis (Parmentier, 2. Kemudian setelah analisis tersebut di lakukan kemudian di lakukan identifikasi aspek-aspek kritis dengan semiotika social sebagai prosedur identifikasi yang biasa dilakukan dalam teori variasi dan nilai-nilai yang berbeda yang dapat diambil oleh masing-masing aspek tersebut (Fredlund et al. , 2. Pengenalan objek yang di teliti adalah proses yang terjadi ketika sebuah peristiwa atau momen tertentu ditafsirkan oleh penerima . ebagai ekspresi dari konten tertent. Aubaik melalui korelasi yang sudah ada dan terkodekan atau melalui penempatan korelasi yang mungkin oleh penerima. [Dengan demikian, tindakan pengenalan dapat membentuk kembali objek atau peristiwa sebagai sebuah jejak, gejala, atau petunjuk (Guillemette & Cossette. Penafsiran tanda harus didasarkan pada pembelajaran sebelumnya: Observasi harus dapat Volume 16 No. 2 Desember 2024 Nidyah Widyamurti. Jauhari. Sigied Himawan Yudhanto Kajian Sosio Semiotika Megalitikum Pada Situs Tantaduo Taman Nasional Lore Lindu Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 membedakan symbol-simbol tanda sebagai unit budaya. Bahkan, tanda-tanda alami pun harus memiliki kemungkinan untuk dikodifikasikan, untuk kemudian dilakukan klasifikasi tanda untuk mencari jejak yang dapat di baca. Jejak bukanlah tanda, melainkan elemen yang harus diintegrasikan sebagai bagian dari fungsi semiotic (Yudhanto et al. , 2. Jejak dapat ditafsirkan berdasarkan keistimewaannya: Tergantung pada suhu, kondisi jejak yang kurang jelas dapat menandakan bahwa entitas tertentu bisa saja melakukan sesuatu dengan menunjukan arah mengenai titik awal dan Gambar 3. Diagram pohon sosio semiotika dari Umberto Eco Sumber: Adaptasi dari Symbolicity, language, and mediality by Lars Ellestrym . Untuk menginterpretasi pada tataran hasil menggunakan analisis denotasi dan konotasi, dan objek sebagai bagian dari struktur kajian yang menyajikan pendahuluan gagasan tentang hubungan denotasi, konotasi dan objek dalam sosio semiotika yang menguraikan perspektif yang berbeda dari kedua gagasan seperti semiotika struktural dan penjelasan terhadap kognitifinterpretatif atau populer dengan sebutan hubungan diadik dan triadik. Denotasi: ungkapan/kata yang diartikan secara harfiah. Konotasi: Kode tingkat kedua yang didasarkan pada kode tingkat pertama, seperti dalam metafora, kiasan, dan makna ganda . ode tingkat kedua mengandaikan tanda polisem. Objek adalah entitas tertentu yang dibaca atau di negasikan. Denotasi adalah makna langsung atau literal dari suatu tanda sedangkan Konotasi adalah makna tambahan yang melekat pada suatu tanda yang biasanya dipengaruhi oleh lingkungan, budaya, sejarah, dan pengalaman sosial Kemudian, elemen-elemen konseptual pada hasil analisis tersebut di verifikasi dengan kedua pendekatan pohon sosio semiotika dengan mempertimbangkan dalam konteks penandaan dan objektifikasi (Veltri, 2. Eco telah menggantikan konsep tanda berdasarkan ekuivalensi . i mana ekspresi = is. , karena eco. AutandaAy lebih luas daripada tanda linguistik Eco justru mengusulkan representasi tanda berdasarkan inferensi dan sistem instruksi dengan kata lain. Autanda adalah instruksi untuk interpretasi, meski demikian, data inderawi manusia mememaikan peran, bahkan yang dimediasi oleh jejak, jejak, atau jumlah dimensi yang lebih sedikit, tetap merupakan tanda yang bisa ditafsirkan (Guillemette & Cossette, 2. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 12 Juli 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 4. Peta Lokasi observasi pengamatan penelitian di Kawasan situs megalitikum Lembah Bada Sumber: Rahim et al . Lembah Bada Taman Nasional Lore Lindu terdapat kurang lebih 10 situs megalitikum akan tetapi pada penelitian fokus pada satu situs yaitu situs Tantaduo yang berada di desa Badangkaia dengan koordinat LS. 121A 152 3,43 Ae BT. 1A 552 5,033 dan berada di ketinggian 778 Mdpl. Kecamatan Lore Selatan. Kabupaten Poso. Provinsi Sulawesi Tengah dimana objek berada dalam kondisi AusendirianAy di tengah hamparan sawah milik warga lokal yang luas, sehingga arca tersebut memiliki keunikan tersendiri dan secara topologi menjadi center of interest bagi para pendatang. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Nidyah Widyamurti. Jauhari. Sigied Himawan Yudhanto Kajian Sosio Semiotika Megalitikum Pada Situs Tantaduo Taman Nasional Lore Lindu Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 Tabel 1. Tiga Tahapan Analisis Sosio Semiotika Eco Sumber: Dokumentasi Pribadi Sumber Semiotika Tahap Analisis Deskripsi Metode ASPEK KRITIS Signifikansi Mengidentifikasi tanda-tanda atau simbol-simbol pada artefak Arca Watu Baula. Mengamati artefak secara detail. Melihat bentuk datum pada bentuk fisik arca batu yang bentuk-bentuk atau siklus musim Kode Arca Watu Baula Mengkaji sistem kode yang digunakan oleh masyarakat local setempat dalam hal ini adalah Lembah Bada dalam mencerna simbol-simbol Melakukan karakteristik visual seperti bentuk, ukuran, dan motif. Menentukan tanda atau simbol yang terdapat pada Mencatat bentuk datum pada arca manusia yang bentuk teretentu Mengidentifikasi pola atau motif yang berulang pada bagian arca Watu Baula Menemukan pola spiral yang juga ditemukan di situs lain di Sulawesi Tengah. Menganalisis hubungan antara simbol dan objek di sekitarnya. Mencatat simbol matahari yang mungkin berkaitan dengan Lembah Bada Menelusuri kesamaan simbol kebudayaan lain pada periode yang sama, dalam hal ini adalah yang terdapat di Easter Island . ulau paska. Konteks Menghubungkan simbol-simbol dengan konteks sosial, budaya, dan sejarah Mengumpulkan informasi sejarah dan budaya Volume 16 No. 2 Desember 2024 Menghubungkan simbol lingkaran dengan mitos lokal penciptaan dunia. Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 12 Juli 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. Konteks Konteks Menghubungkan simbol-simbol dengan konteks sosial, budaya, dan sejarah Mengumpulkan informasi sejarah dan budaya Menghubungkan simbol lingkaran dengan mitos lokal penciptaan dunia. Menghubungkan simbol-simbol dengan konteks sosial, budaya, dan sejarah Mewawancarai ahli dan tokoh masyarakat untuk perspektif lokal. Menghubungkan simbol lingkaran dengan mitos lokal penciptaan dunia. Menelaah literatur terkait dengan simbolisme dalam Menganalisis simbol pada tubuh arca dalam animisme yang berkembang pada masa itu. Menganalisis simbol pada tubuh arca dalam animisme yang berkembang pada masa itu. Hubungan diadik dan triadik hubungan antara denotasi, konotasi, dan dan objeknya dapat diwakili oleh skema segitiga yang terkenal (Gambar . Interpretasi ini akan memberikan wawasan mendalam tentang kehidupan sosial dan kepercayaan masyarakat megalitikum di Situs Tantaduo, sebagai objek tanda secara sosial serta kontribusi penting bagi kajian arkeologi dan semiotika sosial di Indonesia. Dalam penelitian Sosio Semiotika Megalitikum di Situs Tantaduo. Taman Nasional Lore Lindu, kita dapat menggunakan metode hubungan denotasi, konotasi, dan objek untuk menginterpretasikan analisis signifikansi, kode, dan konteks. Berikut ini adalah bagaimana tahapan dari signifikansi, kode, dan konteks dari masing-masing elemen sosio semiotika bisa diterapkan: Sebuah tinjauan terhadap kemungkinan-kemungkinan produksi tanda menunjukkan bahwa terdapat sebuah kontinum semiosis, yang bergerak dari pengkodean terkuat . atio difficili. hingga yang paling terbuka dan tak tentu . atio facili. ihat gambar di bawah ini, sebagai bentuk substitusi untuk membentuk sebuah penafsiran analisis tanda. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Nidyah Widyamurti. Jauhari. Sigied Himawan Yudhanto Kajian Sosio Semiotika Megalitikum Pada Situs Tantaduo Taman Nasional Lore Lindu Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 Gambar 5. Peta Lokasi observasi pengamatan penelitian di Kawasan situs megalitikum Lembah Bada Sumber: Social semiotics and social representations theory . Analisis Denotasi Secara deskripsi bahwa denotasi adalah makna literal atau makna yang paling dasar dari suatu tanda tanpa asosiasi tambahan yang dapat mempengaruhi interpretasinya, sedangkan Analisis Denotasi: Arca ini secara literal merupakan representasi visual dari manusia, yang terbuat dari batu, dengan fitur wajah yang dapat dikenali seperti mata, hidung, dan mulut serta terdapat tanda-tanda guratan pada punggung atas arca Watu Baula dimana tanda atau simbol antara si pembuat arca dengan simbol sebagai alat untuk AuberkomunikasiAy atau menyampaikan sebuah pesan secara lintas zaman. Dalam konteks situs megalitikum arca Watu Baula, denotasi dapat diidentifikasi kepada bentuk fisik serta fungsi dari objek bentuk arca itu sendiri. Sebagaimana penjelasan di bawah ini: A Denotasi Objek megalitikum: Objek batu besar dengan posisi berbaring yang dibentuk atau dipahat oleh manusia pada masa lampau untuk tujuan tertentu. Batu berukir berukuran cukup besar, berwarna dominan coklat karat dan hitam. Penduduk lokal menyebutnya sebagai arca Watu Baula, meski dipercaya sebagai patung kerbau, namun secara bentuk rupa cenderung memiliki bentuk wajah seperti manusia dengan kondisi tertelungkup memanjang. Punggung arca terdapat berbagai guratan aksen simbolik seperti garis-garis titik, spiral, lubang dan garis. Litologi arca terbuat dari batu andesit, dengan ukuran 331 cm, lebar 141 cm dan tinggi ratarata 43-55 cm. Arca telah menggantikan konsep tanda Karena terlalu banyak hal yang dapat menjadi penafsiran tanda seperti kesimpulan alamiah yang di dapatkan dengan lewat interpretasi bentuk, motif, gambar, lambang, target sebagai analisis denotasi yang telah meninggalkan gagasan tentang tanda sepenuhnya untuk berfokus secara eksklusif pada aktivitas pembacaan Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 12 Juli 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. serta untuk melihat bagaimana proses-proses penandaan bekerja. keberadaan interpretasi yang memungkinkan juga diperlukan. Konten yang ditafsirkan membawa kita melampaui tanda asal, dan selalu membuka diri terhadap sesuatu yang baru. Gambar 6. Motif lubang, garis garis spiral, lingkaran yang terdapat di paunggung arca Watu Baula di situs Tantaduo Lembah Bada Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2024 Denotasi Lokasi Objek: Arca Baula berada di situs Tantaduo tepatnya berada di Tengah sawah pribadi milik Bapak G Dadaha desa Badangkaia Lembah Bada di Taman Nasional Lore Lindu sebagai tempat bersemayamnya arca Watu Baula. Analisis Konotasi Secara deskripsi konotasi adalah makna tambahan atau asosiatif yang muncul dari tanda, berdasarkan konteks sosial, budaya, dan pengalaman individu secara semiotik ketika melihat objek secara langsung. Dalam hal ini, hasil observasi dengan melihat langsung bagaimana arca Watu Baula di situs Tantaduo bermakna lebih dalam bagi masyarakat lokal sekitarnya. A Konotasi Sosio Arca: Bagi masyarakat lokal sekitar, arca Watu Baula memiliki makna spiritual, religius, atau kemungkinan simbolis yang terkait dengan leluhur atau sejarah nenek moyang Arca tersebut mungkin melambangkan bentuk, tokoh, mahluk penting atau leluhur yang dihormati dalam masyarakat masa lalu. Kehadiran arca di situs utama Tantaduo menunjukkan bahwa figur rupa arca memiliki peran penting dalam upacara atau ritus sosial pada kehidupan masa lampau. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Nidyah Widyamurti. Jauhari. Sigied Himawan Yudhanto Kajian Sosio Semiotika Megalitikum Pada Situs Tantaduo Taman Nasional Lore Lindu Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 Konotasi Budaya: Situs Tantaduo yang berada pegunungan dataran tinggi dianggap sebagai tempat mitos atau tempat yang memiliki nilai historis dan budaya tinggi. Arca kerbau dengan rupa manusia dapat mencerminkan kepercayaan terhadap roh leluhur atau hewan yang bersentuhan dengan budaya astral yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari Masyarakat Penggunaan batu andesit yang terkenal sangat kuat dan tahan lama kemungkinan mencerminkan nilai masyarakat terhadap kekuatan dan keabadian dalam bentuk penokohan terhadap mahluk terntentu. Analisis Objek Secara deskripsi Analisis objek mengkaji benda atau artefak dalam konteks sosial, budaya, sejarah, dan fungsinya dalam masyarakat yang menciptakan objek tersebut. Objek dalam penelitian ini merujuk pada tanda fisik dan simbolik yang ada di situs tersebut. Ini termasuk megalitikum itu sendiri serta artefak lain yang ditemukan di sana. A Objek Sosial: Arca Baula kemungkinan digunakan sebagai ritus upacara yang berhubungan dengan penerapan musim tanam dan musim panen aktivitas pertanian Masyarakat pada zaman Lokasi Arca Baula menjadi objek sosio semiotika karena terdapat penanda yang kental dengan aktifitas keseharian yang menunjukkan bahwa arca ini kemungkinan menjadi pusat dalam aktivitas sosial yang mana eksistensi arca dapat memperoleh manfaat dari berbagai pengetahuan lokal yang hidup dalam alam pikir masyarakat lembah Bada. A Objek kontekstual: Arca Baula sebagai yang berada di tengah sawah penduduk lokal menunjukan bahwa kekayaan sumber daya alam desa Badangkaia di Lembah Bada yang masih berpegang pada aspek aturan-aturan adat yang tidak memperkenankan merusak alam, menebang pohon, termasuk merusak objek megalitikum. yang mana Artefak tersebut bertebarang di seantero Lembah Bada seperti alat-alat batu, bekas pemukiman, atau sisasisa ritual yang memberikan konteks tambahan pada makna megalitikum situs Tantaduo Signifikansi Untuk menganalisis signifikansi dari Arca Baula di situs Tantaduo, maka harus mempertimbangkan bagaimana korelasi antara denotasi dan konotasi bagaimana bekerja secara horizontal dalam memperkuat makna pada objek sebagai AupenandaAy dan AupetandaAy untuk memberikan makna pada objek Arca Baula tersebut. Seperti: A Signifikansi denotatif: Arca Baula sebagai struktur buatan manusia megalit yang menunjukkan kemampuan teknis dan budaya mereka. A Signifikansi konotatif: Arca Baula sebagai simbol spiritual dan budaya yang menunjukkan hubungan horisonltal-vertikal yang erat pada masyarakat dengan leluhur dan alam sekitar Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 12 Juli 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. Kode Kode dalam konteks sosio semiotika yang merujuk pada sistem tanda dan simbol yang digunakan dalam budaya megalitikum. A Kode fisik: Bentuk Arca Baula meliputi ukuran, ukiran, tinggi, panjang, dan volume pada bentuk arca memiliki spesifikasi dengan bentuk menghadap ke utara kea rah pegunungan telawi yang selaras dengan kepercayaan masyarakat lokal bahwa arca Watu Baula menjadi penunjuk arah angin berhembus yang bermanfaat untuk musim pertanian di masa lampau. A Kode budaya: Ritual, kepercayaan, dan narasi yang terkait dengan penggunaan dan penempatan megalitikum di desa Badangkaia Lembah Bada. Konteks Konteks mencakup latar belakang historis, geografis, dan budaya dari situs Arca Baula situs Tantaduo. A Konteks historis: Periode waktu ketika megalitikum ini dibuat dan digunakan yaitu berada di kisaran 3000- 4000 tahu SM. A Konteks geografis: Lokasi situs di Taman Nasional Lore Lindu dan bagaimana lingkungan sekitar mempengaruhi penempatan, melestarikan, menjaga, dalam penggunaan objek megalitikum tersebut. A Konteks budaya: Kebiasaan, kepercayaan, dan sejarah masyarakat serta kondisi socio cultural masyarakat setempat dalam merespon yang menggunakan situs tersebut. Dengan menggunakan metode hubungan denotasi, konotasi, dan objek, sehingga dapat di Tarik Kesimpulan yang lebih mendalam tentang makna dan signifikansi dari situs megalitikum Tantaduo. Dalam hal membantu mengungkap bagaimana masyarakat purba berinteraksi dengan lingkungannya dan bagaimana mereka mengekspresikan identitas dan kepercayaan mereka melalui pembuatan dan penempatan arca-arca tersebut di lembah Bada khususnya pada arca Watu Baula. SIMPULAN Berdasarkan analisis pada aspek hasil dan pembahasan, dan interpretasi dari kajian sosiosemiotika megalitikum pada Situs Tantaduo di Taman Nasional Lore Lindu, dapat disimpulkan beberapa poin utama sebagai berikut: bentuk arca yang ditemukan pada badan artefak megalitikum di arca Watu Baula situs Tantaduo, seperti lingkaran garis-garis dengan spiral, dan bolongan bolongan pada badan arca, memiliki tanda simbolik sebagai reperesentasi masyarakat yang sudah melakukan bercocok tanam dalam kehidupan sosial masyarakat megalitikum. Bentuk lingkaran dan bolongan melambangkan symbol siklus hidup dan keberlanjutan, sedangkan ukiran manusia mencerminkan penghormatan terhadap leluhur. Masyarakat megalitikum di lembah Bada pada masa lampau menggunakan sistem kode simbolik yang kompleks dalam menciptakan fungsi struktur pada artefak megalitikum mereka. Bentuk lubang sebagai simbol pada tubuh arca secara repetitif yang berulang menunjukkan adanya sistem simbol yang terstruktur dan terorganisir, yang mencerminkan kepercayaan dan nilai-nilai budaya mereka. Simbol-simbol pada artefak megalitikum Volume 16 No. 2 Desember 2024 Nidyah Widyamurti. Jauhari. Sigied Himawan Yudhanto Kajian Sosio Semiotika Megalitikum Pada Situs Tantaduo Taman Nasional Lore Lindu Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 di Tantaduo berhubungan erat dengan konteks sosial, budaya, dan sejarah masyarakat setempat. Mitos lokal tentang penciptaan dunia dan kepercayaan animisme menunjukkan bahwa bentukbentuk primitif tersebut bukan hanya representasi dalam bentuk artistik, akan tetapi juga memiliki fungsi penting dalam ritus dan kepercayaan masyarakat pada masa lampau. Kesamaan simbol dan pola bentuk arca pada arca Watu Baula dan di antara Situs Tantaduo dan situs-situs megalitikum lainnya di lembah Bada selalu menunjukkan adanya hubungan budaya atau AobahasaAo komunikasi antara kelompok-kelompok masyarakat di wilayah tersebut. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kondisi masyarakat lokal di sekitar situs-situs megalitikum tersebut memiliki kesamaan dalam sistem simbolik sebagai AobahasaAo dan kepercayaan mereka. Penelitian ini juga memberikan kontribusi bagi kombinasi keilmuan pada aspek kajian arkeologi dan semiotika sosial yaitu dengan mengungkap makna dan fungsi simbol-simbol megalitikum dengan situs Tantaduo sebagai sampel analisisnya. Analisis ini membantu memperkaya pemahaman tentang kehidupan sosial, kepercayaan, dan budaya masyarakat megalitikum di Indonesia. Dengan demikian, penelitian ini telah melakukan hasil identifikasi dan menginterpretasi simbol-simbol pada artefak megalitikum di Situs Tantaduo, memberikan wawasan mendalam tentang kehidupan dan kepercayaan masyarakat megalitikum, serta menegaskan pentingnya kajian semiotika sosial dalam memahami budaya dan sejarah manusia dan sebagai mana yang di ucapkan oleh Ledin dan Machin . bahwa pada akhirnya sosio semiotika secara keseluruhan, menganggap AobahasaAo sebagai sebuah sistem dengan berbagai kemungkinan pilihan yang dapat dapat dibuat tergantung pada apa yang ingin dicapai oleh pembuat tanda untuk dicapai dalam batasan atau kemampuan dari mode, media, dan konteks tertentu. UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini didanai oleh RKAT PTNBH Universitas Sebelas Maret Tahun Anggaran 2024 melalui skema Penelitian PENELITIAN HIBAH GRUP RISET Program Studi D3 Desain Komunikasi Visual DKV-MEDIA INTERAKTIF (PENELITIAN HGR-UNS) C Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret dengan Nomor Perjanjian Penugasan Penelitian : 194. 2/UN27. 22/PT. 03/2024 DAFTAR PUSTAKA