Analisis Implementasi Kurikulum Kecakapan Dasar Keagamaan (KDK) Dalam Meningkatkan Ketaatan Beribadah Siswa SMPN 2 Mojokerto AuliyaAo Nabila. Iksan ANALISIS IMPLEMENTASI KURIKULUM KECAKAPAN DASAR KEAGAMAAN (KDK) DALAM MENINGKATKAN KETAATAN BERIBADAH SISWA SMPN 2 MOJOKERTO AuliyaAo Nabila UIN Sunan Ampel Surabaya 06030121075@student. Iksan UIN Sunan Ampel Surabaya Iksankamil. sahri@uinsa. Abstract: Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Kurikulum Kecakapan Dasar Keagamaan (KDK) di SMPN 2 Mojokerto dan dampaknya terhadap peningkatan ketaatan beribadah siswa. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan, melibatkan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen sebagai teknik pengumpulan data. Subjek penelitian mencakup guru Pendidikan Agama Islam, siswa, dan pihak manajemen Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi KDK di SMPN 2 Mojokerto dilakukan secara terstruktur dan efektif. Kurikulum ini berkontribusi positif terhadap ketaatan beribadah siswa, terlihat dari peningkatan kesadaran diri, disiplin, dan kemampuan mengendalikan emosi. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan KDK dalam sistem pendidikan sebagai upaya membentuk generasi yang unggul secara akademik dan religius. Implikasi dari hasil ini menggarisbawahi perlunya dukungan berkelanjutan terhadap program kurikulum berbasis keagamaan untuk membangun karakter siswa yang berintegritas. Keywords: KDK. Ketaatan beribadah. Kurikulum. PENDAHULUAN Sebuah survei yang dilakukan oleh Kementerian Agama1 menunjukkan bahwa 65% siswa SMP di Indonesia melaporkan menjalankan ibadah dengan tidak konsisten, terutama di luar lingkungan sekolah. Hal ini disebabkan oleh Kementerian Agama RI. Survei Ketaatan Beribadah Siswa SMP di Indonesia. Jakarta: Kementerian Agama RI Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 311 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy AuliyaAo Nabila berbagai faktor, seperti kurangnya pengawasan orang tua, pengaruh pergaulan, serta lemahnya internalisasi nilai-nilai keagamaan. Pengembangan ketaatan beribadah melibatkan kemampuan seseorang untuk memahami makna hidup, menemukan tujuan hidup, serta mengembangkan hubungan yang harmonis dengan Tuhan, diri sendiri, dan lingkungan sosialnya. 2 Di Indonesia, aspek spiritualitas telah lama menjadi bagian integral dari sistem pendidikan nasional, yang tercermin dalam kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan. Fenomena ini terlihat jelas pada Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembentukan karakter spiritual sebagai salah satu kompetensi inti. Kegiatan keagamaan seperti doa bersama, pembacaan Al-Quran di sekolah-sekolah, serta pengembangan sikap religius di setiap mata pelajaran menunjukkan betapa pentingnya dimensi spiritualitas dalam pendidikan Indonesia. Misalnya, di banyak sekolah, terutama yang berafiliasi dengan agama, kegiatan seperti peringatan hari-hari besar keagamaan . eperti Maulid Nabi. Isra Mi'raj, dan Idul Fitr. dilakukan sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran spiritual siswa. Pendidikan agama Islam (PAI) di sekolah-sekolah juga menekankan pentingnya sholat, zakat, dan puasa sebagai praktik ibadah yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh siswa. Selain itu, di beberapa daerah, program seperti pesantren kilat selama bulan Ramadan diadakan untuk lebih memperdalam pemahaman siswa mengenai pentingnya ibadah dan hubungan dengan Tuhan. Dunia pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk generasi yang religius dan berakhlak mulia. Menurut Tilaar3, pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk kepribadian yang kuat dan berkarakter. Pendidikan agama, dalam hal ini, menjadi salah satu sarana penting untuk menanamkan nilai-nilai spiritual, moral, dan sosial yang akan terus berkembang seiring dengan pertumbuhan siswa. Di tingkat sekolah menengah pertama, penerapan aspek spiritual menjadi sangat penting mengingat masa remaja adalah fase krusial dalam perkembangan moral dan spiritual siswa. Problem karakter peserta didik umumnya dapat dilihat dari sikap dan perilaku mereka, seperti halnya kurangnya sopan santun, tawuran, bullying, suka melihat gambar pornografi, suka bolos, berbohong dan Beberapa kondisi itu menunjukkan pengetahuan saja tidak cukup berdampak terhadap perubahan perilaku peserta didik. Pemilihan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai subjek penelitian didasarkan pada masa perkembangan siswa yang berada dalam fase transisi dari anak-anak menuju remaja, di mana nilai-nilai agama dan ketaatan Zohar. , & Marshall. SQ: Spiritual Intelligence, the Ultimate Intelligence. London: Bloomsbury. 3 Tilaar. Pendidikan. Kebudayaan, dan Masyarakat: Teori Pendidikan untuk Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta. Halaman 312 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Analisis Implementasi Kurikulum Kecakapan Dasar Keagamaan (KDK) Dalam Meningkatkan Ketaatan Beribadah Siswa SMPN 2 Mojokerto AuliyaAo Nabila. Iksan beribadah mulai terbentuk dengan lebih kuat. Menurut Gunawan,4 fase ini merupakan masa yang krusial bagi pembentukan karakter, termasuk aspek religius, karena siswa SMP mulai mengalami perkembangan kognitif dan afektif yang lebih kompleks. SMP Negeri 2 Mojokerto sebagai salah satu sekolah negeri di Indonesia, yang turut serta dalam upaya pemerintah untuk menerapkan kurikulum Kecakapan Dasar Keagamaan (KDK) yang mengacu pada pasal 48 Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam. Kurikulum Kecakapan Dasar Keagamaan (KDK) adalah salah satu bentuk implementasi kurikulum yang dirancang untuk meningkatkan kecerdasan spiritual siswa. Kurikulum ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap nilai-nilai keagamaan, yang diharapkan dapat membentuk karakter siswa yang religius dan berakhlak mulia (Mulyasa, 2. Kurikulum ini dirancang secara mandiri oleh pemerintah Mojokerto yang dituangkan dalam Perwali No 23 Tahun 2011. Namun, implementasi kurikulum KDK di sekolah-sekolah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan waktu pengajaran, ketersediaan sumber daya, hingga variasi dalam pemahaman dan penerimaan siswa terhadap materi keagamaan. 6 Menurut penelitian terbaru oleh Yuliani7, salah satu hambatan utama dalam implementasi KDK adalah kurangnya pelatihan bagi guru untuk menerapkan metode pengajaran berbasis spiritual yang kontekstual. Dalam beberapa kasus, guru cenderung menggunakan pendekatan yang monoton dan tradisional, yang tidak sepenuhnya menarik bagi siswa. Di sisi lain, peneliti juga menemukan bahwa siswa yang terlibat dalam aktivitas keagamaan yang interaktif menunjukkan peningkatan dalam kecerdasan spiritual dan keterampilan sosial. Oleh karena itu, penting untuk melakukan analisis mendalam mengenai bagaimana kurikulum ini diimplementasikan, serta sejauh mana kurikulum tersebut efektif dalam meningkatkan kecerdasan spiritual Penelitian ini berfokus pada analisis implementasi Kurikulum KDK di SMPN 2 Mojokerto, sebuah sekolah yang telah lama dikenal dengan komitmennya dalam pengembangan pendidikan karakter. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan 4 Gunawan. Psikologi Perkembangan Remaja: Implikasi Pendidikan dan Agama. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 5 IsmaAoil. AuPengembangan Kemampuan Keagamaan Peserta Didik Berbasis Pada Kecakapan Dasar Keagamaan (Studi Kebijakan Pemerintah Kota Mojokerto Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Sertifikasi Kecakapan Dasar Keagamaan Di Sekolah Dasar Negeri Pulorejo 2 Dan Madrasah Ibtidaiyah . Ay TAAoDIBIA Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam 7, no. 6 Sutrisno. Kendala dan Tantangan dalam Implementasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Pendidikan Islam, . , 157-172. 7 Yuliani. Evaluasi Implementasi Kurikulum KDK: Studi Kasus di Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Penelitian Pendidikan, 24. , 215-228 Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 313 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy AuliyaAo Nabila menghambat implementasi kurikulum tersebut serta mengevaluasi dampaknya terhadap kecerdasan spiritual siswa. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual memiliki peran penting dalam mengatasi masalah psikologis dan sosial pada Namun, masih terdapat kesenjangan penelitian terkait implementasi kurikulum yang secara khusus dirancang untuk mengembangkan kecerdasan spiritual di sekolah. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengisi kesenjangan tersebut dan memberikan rekomendasi praktis bagi pengembangan kurikulum KDK di Indonesia KURIKULUM KECAKAPAN DASAR KEAGAMAAN (KDK) Kurikulum Kecakapan Dasar Keagamaan (KDK) merupakan kurikulum yang dicetuskan oleh Pemerintah Mojokerto yang mengacu pada pengajaran agama dalam bentuk madrasah diniyah. Ini merupakan satu diantara program yang telah dipratikkan oleh Pemerintah Kota Mojokerto, seperti yang dijelaskan pada Perwali No. 23 tahun 2011. 9 KDK ini dilaksanakan setiap hari selasa dan kamis mulai pukul satu hingga dua siang. Materi yang diajarkan meliputi disiplin ilmi PAI seperti Al- QurAoan dan Hadist. Aqidah. Akhlak, dan Fiqih. Materi Ae materi tersebut diambil dari beberapa sumber kitab dan diajarkan dengan metode pembelajaran tradisional seperti metode ceramah. Tujuan dari pembelajaran KDK adalah untuk membekali anak-anak usia sekolah dasar atau Madrasah Ibtidaiyah yang merupakan masa depan bangsa dan agama dengan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur'an, serta melaksanakan syarat dan rukun Ramadhan untuk keperluan ibadah shalat dan puasa. Kurikulum KDK di kelas 7 Pendidikan akhlak atau budi pekerti bagi peserta didik sangatlah penting dalam rangka menanamkan atau menginternalisasikan nilai-nilai moral ke dalam sikap dan perilaku peserta didik agar memiliki sikap dan prilaku yang luhur . erakhlakul karima. dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berinteraksi dengan Tuhan, dengan sesama manusia maupun dengan alam/lingkungan. Kurikulum Pendidikan Islam yang telah diuraikan dirancang untuk membentuk peserta didik yang memiliki pemahaman mendalam dan aplikatif tentang ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Kurikulum ini mencakup empat bidang utama: Al Quran/Tahfidz Al 8 King. , & DeCicco. A viable model and self-report measure of spiritual intelligence. International Journal of Transpersonal Studies, . 9 ambang samsul rusdiana Arifin. AuPengembangan Kemampuan Keagamaan Peserta Didik Berbasis Pada Kecakapan Dasar Keagamaan,Ay no. : 207. Halaman 314 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Analisis Implementasi Kurikulum Kecakapan Dasar Keagamaan (KDK) Dalam Meningkatkan Ketaatan Beribadah Siswa SMPN 2 Mojokerto AuliyaAo Nabila. Iksan Quran. Aqidah. Akhlaq, dan Fiqih. Setiap bidang memiliki tujuan dan kompetensi spesifik yang ingin dicapai oleh peserta didik. Al Quran/Tahfidz Al Quran Pada bagian ini, kurikulum bertujuan untuk menanamkan keyakinan bahwa Al Quran adalah anugerah dari Allah Swt. yang harus dijadikan bacaan, sumber ilmu, dan pedoman hidup. Peserta didik diajarkan untuk memahami definisi dan kedudukan Al Quran sebagai sumber ajaran agama Islam. Mereka juga dikenalkan dengan surat-surat pendek dalam Juz Amma dan dilatih untuk membaca serta menghafalkan Al Quran dengan baik dan benar sesuai dengan hukum tajwid. Kompetensi yang diharapkan mencakup kemampuan membaca dan menghafal surat-surat pendek seperti An Naas. Al Falaq. Al Ikhlash, dan beberapa lainnya hingga surat Al Mulk yang terdiri dari 30 ayat. Aqidah (Aqidatul Awa. Bidang Aqidah bertujuan untuk memastikan bahwa peserta didik memiliki keyakinan yang benar sesuai dengan tuntunan Ahlussunnah wal Jamaah. Mereka diajarkan untuk memahami dasar-dasar ilmu tauhid, termasuk pengertian dan pentingnya mempelajari ilmu tauhid, serta konsep ASWAJA. Peserta didik juga belajar tentang sifat-sifat Allah Swt. menghafal sifat-sifat wajib Allah dan artinya, serta memahami sifat-sifat wajib, jaiz, dan mustahil bagi para nabi dan rasul. Dengan demikian, mereka diharapkan mampu menghafal dan memahami karakteristik esensial yang harus dimiliki oleh seorang muslim dalam hal keyakinan kepada Allah dan para nabi-Nya. Akhlaq (Akhlaq Lil Bani. Bidang Akhlaq menekankan pentingnya adab dan akhlak dalam Islam. Peserta didik diajarkan tentang dampak positif dari akhlak terpuji dan negatif dari akhlak tercela, serta kriteria anak yang berakhlak baik dan Kurikulum ini juga menyoroti kewajiban menerapkan akhlak terpuji sejak dini, perilaku anak yang dapat dipercaya, taat, dan pentingnya mengagungkan Nabi Muhammad Saw. Peserta didik diajak untuk memahami dan menceritakan pengalaman pribadi terkait akhlak terpuji atau tercela. Mereka juga diajarkan tentang adab di rumah, kasih sayang ibu, dan akhlak seorang anak kepada ibunya, yang diharapkan dapat membentuk pribadi yang berbakti dan penuh kasih sayang kepada orang tua. Fiqih (Safinatun Naja. Bidang Fiqih bertujuan untuk memberikan pemahaman praktis tentang rukun Islam dan iman, tanda-tanda baligh, serta ketentuan wudhu, mandi wajib, dan tayammum. Peserta didik juga diajarkan tentang najis dan cara menyucikannya. Mereka dilatih untuk mempraktikkan tata cara bersuci yang benar, yang mencakup wudhu, tayammum, dan mandi wajib. Dengan pemahaman yang baik tentang Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 315 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy AuliyaAo Nabila fiqih, diharapkan peserta didik dapat menjalankan ibadah sehari-hari dengan benar sesuai syariat Islam. Secara keseluruhan, kurikulum ini dirancang untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama yang luas, tetapi juga mampu mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari- hari, berakhlak mulia, dan menjalankan ibadah dengan benar. Kurikulum KDK di kelas 8 Kurikulum Pendidikan Islam yang dirancang ini bertujuan untuk membentuk peserta didik yang memiliki pemahaman mendalam dan kemampuan untuk mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kurikulum ini mencakup empat bidang utama: Al Quran/Tahfidz Al Quran. Aqidah. Akhlaq, dan Fiqih. Setiap bidang memiliki tujuan spesifik dan kompetensi yang diharapkan untuk dicapai oleh peserta didik. Al Quran/Tahfidz Al Quran Pada bagian ini, kurikulum menanamkan keyakinan bahwa Al Quran adalah anugerah dari Allah Swt. sebagai bacaan, sumber ilmu, dan pedoman hidup. Peserta didik diajarkan untuk membiasakan perilaku, tindakan, dan perbuatan yang mencerminkan akhlak Al Quran dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga dilatih untuk membaca dan menghafalkan Al Quran dengan benar, memahami makhraj dan tajwid, serta mampu membaca dan menghafal surat-surat tertentu seperti Al Bayyinah. Al Qadr. Al AoAlaq. At Tin, hingga surat Al Waqiah Aqidah (Aqidatul Awa. Bidang Aqidah bertujuan memastikan bahwa peserta didik memiliki keyakinan yang benar sesuai tuntunan Ahlussunnah wal Jamaah. Mereka diajarkan tentang sifat-sifat malaikat, nama dan tugas 10 malaikat, kitab-kitab Allah dan shuhuf, serta konsep nikmat dan siksa kubur. Peserta didik juga mempelajari gambaran hari kiamat, hari kebangkitan, padang mahsyar, sirath, surga, dan Dengan pemahaman ini, diharapkan peserta didik dapat menyajikan gambaran rinci tentang kehidupan setelah mati menurut ajaran Islam. Akhlaq (Akhlaq Lil Bani. Bidang Akhlaq menekankan pentingnya adab dan akhlak yang mendapatkan kedudukan tinggi dalam Islam. Peserta didik diajarkan tentang kasih sayang ayah, akhlak seorang anak kepada ayahnya, cinta kasih seorang ayah, dan sopan santun bersama saudara serta kerabat. Mereka juga belajar tentang akhlak kepada pembantu, tetangga, dan perilaku terpuji sebelum berangkat Dengan demikian, peserta didik diharapkan mampu Halaman 316 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Analisis Implementasi Kurikulum Kecakapan Dasar Keagamaan (KDK) Dalam Meningkatkan Ketaatan Beribadah Siswa SMPN 2 Mojokerto AuliyaAo Nabila. Iksan memahami dan menerapkan perilaku saling menyayangi terhadap keluarga, kerabat, dan lingkungan sekitar. Fiqih (Safinatun Naja. Bidang Fiqih memberikan pemahaman praktis tentang ibadah dan hukum-hukum Islam. Peserta didik diajarkan tentang harta yang wajib dikeluarkan zakatnya, ibadah puasa, cara menentukan awal Ramadhan, syarat sah dan wajib puasa, serta rukun puasa. Mereka juga belajar tentang qadha, kaffarat, imsak, pembatal puasa, dan hukum membatalkan puasa. Selain itu, peserta didik diajarkan tentang hikmah berpuasa dan cara mempraktikkan zakat. Secara keseluruhan, kurikulum ini dirancang untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama yang luas, tetapi juga mampu mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari hari, berakhlak mulia, dan menjalankan ibadah dengan benar sesuai syariat Islam Kurikulum KDK di kelas 9 Al-qurAoan/ tahfidz al-qurAoan Pembelajaran Al Quran/Tahfidz Al Quran bertujuan untuk membentuk peserta didik yang memiliki pemahaman mendalam dan pengamalan Al Quran sebagai anugerah Allah SWT. Tujuan ini dicapai melalui beberapa langkah pembelajaran yang meliputi: Peserta didik diyakinkan bahwa Al Quran adalah anugerah Allah SWT yang berfungsi sebagai bacaan harian, sumber ilmu pengetahuan, dan pedoman hidup yang sempurna. Peserta didik dibiasakan untuk melakukan perilaku, tindakan, dan perbuatan yang mencerminkan akhlak Al Quran dalam kehidupan sehari-hari, sehingga membentuk karakter yang sesuai dengan ajaran Islam. Peserta didik diajarkan cara membaca dan menghafalkan Al Quran dengan benar, sehingga dapat memahami dan mengamalkan isi Al Quran secara tepat. Peserta didik memahami makhraj . empat keluarnya huru. dan tajwid . turan membaca Al Qura. sehingga mampu membaca dan menghafalkan Al Quran sesuai hukum bacaan tajwid yang benar. Peserta didik diarahkan untuk mampu membaca dan menghafalkan surat surat tertentu dalam Al Quran dengan baik dan benar, meliputi: Surat Al Insyiqaaq . Surat Al Muthaffifiin . Surat Al Infithaar . Surat At Takwiir . Surat AoAbasa . Surat An NaaziAoaat . Surat An NabaAo . Surat Yasin . Aqidah . qidatul awa. Pembelajaran Aqidah bertujuan untuk memperkuat keyakinan dan pemahaman peserta didik tentang aqidah yang benar sesuai dengan tuntunan Ahlussunnah wal Jamaah. Pembelajaran ini meliputi: Peserta didik diyakinkan tentang pentingnya aqidah yang Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 317 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy AuliyaAo Nabila benar sesuai tuntunan Ahlussunnah wal Jamaah. Peserta didik memahami berbagai kewajiban yang harus dijalankan oleh seorang mukallaf, yaitu muslim yang sudah dewasa dan berkewajiban menjalankan syariat Islam. Peserta didik memahami sejarah keluarga dan sahabat Nabi serta mampu menghafalkan nama-nama mereka, yang merupakan teladan dalam kehidupan beragama. Peserta didik memahami dan mengimani peristiwa IsraAo MiAoraj Nabi Muhammad SAW, sebagai salah satu mukjizat besar dalam Islam. Peserta didik memahami pentingnya menjalankan shalat lima waktu sebagai kewajiban bagi setiap muslim, serta keutamaan dan kedudukannya dalam Islam. Peserta didik mampu menghafalkan nama keluarga dan sahabat Nabi, yang merupakan bagian penting dari sejarah Islam. Peserta didik mampu menyajikan keutamaan dan kedudukan shalat lima waktu dalam Islam, serta bagaimana pelaksanaannya dapat memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Akhlak . khlak lil bani. Pembelajaran Akhlaq bertujuan untuk membentuk pribadi peserta didik yang beradab dan berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari, melalui pembiasaan perilaku yang baik, meliputi: Peserta didik meyakini bahwa adab dan akhlak memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan penting untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik memahami bagaimana berakhlak baik saat berada di tempat umum, menjaga sikap dan perilaku yang sopan dan sesuai dengan norma-norma Islam. Peserta didik memahami bagaimana seharusnya berakhlak sebagai siswa di dalam kelas, termasuk sikap hormat kepada guru dan sesama siswa. Peserta didik memahami pentingnya menjaga dan merawat peralatan sekolah, sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan Peserta didik memahami bagaimana cara menjaga inventaris sekolah dengan baik, untuk memastikan kelangsungan dan kenyamanan dalam proses belajar mengajar. Peserta didik memahami bagaimana seharusnya bersikap kepada guru dan teman, menunjukkan akhlak yang baik dalam interaksi sehari-hari. Peserta didik mampu menyajikan akhlak yang baik dalam perilaku seharihari, baik kepada guru maupun teman, sebagai cerminan dari pendidikan akhlak yang telah diterima. Fiqih . afinatun naja. Pembelajaran Fiqih bertujuan untuk membekali peserta didik dengan pemahaman dan kemampuan praktis dalam mengurus jenazah sesuai dengan ajaran Islam. Pembelajaran ini meliputi: Peserta didik memahami tata cara mengurus jenazah, termasuk: - Kewajiban muslim terhadap saudaranya yang meninggal - Cara memandikan jenazah - Cara mengkafani jenazah - Rukun shalat janazah - Cara Halaman 318 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Analisis Implementasi Kurikulum Kecakapan Dasar Keagamaan (KDK) Dalam Meningkatkan Ketaatan Beribadah Siswa SMPN 2 Mojokerto AuliyaAo Nabila. Iksan menguburkan jenazah - Keadaan yang diperbolehkan untuk membongkar kuburan Peserta didik mampu mempraktikkan shalat jenazah dengan benar sesuai dengan tuntunan syariat Islam, sehingga dapat menjalankan kewajiban ini dengan baik saat diperlukan. Dengan mengikuti kurikulum ini, diharapkan peserta didik tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan agama, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan akhlak yang mulia dan tindakan yang sesuai dengan ajaran Islam. Kurikulum ini dirancang untuk membentuk peserta didik yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia serta mampu mengamalkan ajaran Islam dalam berbagai aspek Tidak hanya analisis dokumen kurikulum, peneliti juga melakukan wawancara kepada beberapa pihak terkait dan dihasilkan bahwa Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru PAI dan siswa di SMPN 2 Mojokerto, implementasi Kurikulum Kecakapan Dasar Keagamaan (KDK) menunjukkan dampak yang positif terhadap peningkatan kecerdasan spiritual siswa. Guru PAI menjelaskan bahwa kurikulum ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai agama yang tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Melalui berbagai kegiatan seperti diskusi kelas, program keagamaan, dan ibadah bersama, siswa diajak untuk lebih memahami dan mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan mereka. Guru juga mengungkapkan adanya peningkatan kesadaran spiritual di kalangan siswa, terutama dalam hal kepekaan terhadap nilai-nilai moral dan etika. Namun, implementasi kurikulum ini tidak lepas dari Guru menghadapi keterbatasan waktu serta perbedaan latar belakang religius di kalangan siswa yang mempengaruhi motivasi dan pemahaman mereka. Selain itu, tidak semua guru di sekolah ini sepenuhnya memahami filosofi KDK, sehingga pelaksanaan kurikulum ini belum seragam di seluruh kelas. Di sisi lain, siswa yang diwawancarai mengaku merasa lebih mudah memahami pelajaran agama dengan pendekatan KDK karena materi yang diajarkan lebih relevan dengan kehidupan nyata. Mereka merasa pelajaran ini membantu mereka dalam meningkatkan kualitas ibadah, seperti sholat dan doa, serta mengembangkan sikap yang lebih sabar dan toleran dalam menghadapi masalah. Meski demikian, siswa juga menyadari adanya tantangan dalam menghafal ayat-ayat tertentu dan menerapkan nilai-nilai agama di luar sekolah, terutama jika lingkungan sekitar tidak mendukung. Secara keseluruhan, hasil wawancara ini menunjukkan bahwa Kurikulum KDK memiliki potensi besar dalam meningkatkan kecerdasan spiritual siswa, namun diperlukan upaya lebih lanjut untuk mengatasi tantangan-tantangan yang muncul dalam implementasinya. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 319 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy AuliyaAo Nabila KETAATAN BERIBADAH Ketaatan beribadah adalah kepatuhan dalam menganut agama dengan menjalankan ajaran-ajaran agama sebagai bentuk dari pengabdian diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ini serupa dengan pengertian yang diberikan Ramayulis dalam Psikologi Agama, bahwa ketaatan beragama adalah kecenderungan manusia untuk berbakti kepada Tuhan diwujudkan dengan melaksanakan segala apa yang diperintahkan Tuhan, dan menjauhi segala apa yang Konsep Ketaatan Beribadah dalam Perspektif Agama Ketaatan beribadah merupakan inti dari kehidupan spiritual seorang individu yang tercermin dalam pelaksanaan kewajiban agama secara konsisten dan penuh kesadaran. Dalam Islam, ibadah memiliki dua dimensi, yaitu ibadah mahdhah atau ritual formal seperti salat, puasa, zakat dan ibadah ghairu mahdhah atau aktivitas sehari-hari yang bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar. Ibn Qayyim al-Jawziyah menjelaskan bahwa ketaatan dalam ibadah menunjukkan tingkat keimanan seseorang yang terintegrasi dalam tiga aspek: keyakinan hati . , pengucapan lisan . capan syahada. , dan tindakan nyata . mal sale. Menurut Al-Qur'an, surat Al-Baqarah ayat 2-3,11 ketaatan ini merupakan ciri utama orang yang bertakwa, yaitu mereka yang melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan percaya kepada hal-hal gaib. Oleh karena itu, ketaatan beribadah menjadi fondasi dalam pembentukan moral dan karakter Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketaatan Beribadah Ketaatan beribadah umumnnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik itu faktor psikologi . epribadian dan kondisi menta. , faktor umur . nak-anak, remaja, dewasa dan tu. , faktor kelamin . aki-laki dan wanit. faktor pendidikan . rang awam, pendidikan menengah dan intelektua. serta faktor stratifikasi sosial . etani, buruh, karyawan, pedagang dan sebagainy. 12 Secara lebih sistematis Jalaludin membagi faktor yang mempengaruhi ketaatan beragama ke dalam dua bagian yaitu, faktor intern dan faktor ekstern. Faktor Intern, yaitu faktor dari manusia itu sendiri, karena manusia adalah homo religius . akhluk beragam. yang sudah memiliki potensi untuk beragama. 13 Faktor yang termasuk dalam faktor intern adalah: Hereditas Kita sering mendengar peribahasa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, peribahasa ini tampaknya berlaku juga dalam jiwa Dalam penelitiaan terhadap janin terungkap bahwa 10 Ramayulis. Psikologi Agama. Jakarta: Kalam Mulia, 2002, hlm. 11 https://quran. com/al-baqarah/2-3 12 Ramayulis. Psikologi Agama. Jakarta: Kalam Mulia, 2002, hlm. 13 Ramayulis. Psikologi Agama. Jakarta: Kalam Mulia, 2002, hlm. Halaman 320 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Analisis Implementasi Kurikulum Kecakapan Dasar Keagamaan (KDK) Dalam Meningkatkan Ketaatan Beribadah Siswa SMPN 2 Mojokerto AuliyaAo Nabila. Iksan makanan dan perasaan ibu berpengaruh terhadap kondisi janin yang di kandungnya. Demikian pula Margareth Mead menemukan dalam penelitiannya terhadap suku Mundugumor dan Arapesh bahwa terdapat hubungan antara cara menyusui dengan sikap bayi. Tingkat Usia Berbagai penelitian psikologi agama menunjukan adanya hubungan antara tingkat usia dengan perkembangan jiwa keagamaan, meskipun faktor usia bukan satu-satunya faktor penentu dalam perkembangan jiwa keagamaan seseorang, yang jelas kenyataan ini dapat dilihat dari adanya perbedaan pemahaman agama pada tingkat usia yang berbeda. 38 Menurut pendekatan psikologi, keterikatan terhadap tradisi keagaman lebih tinggi pada orang-orang yang sudah berusia lanjut ketimbang generasi muda. Kepribadian Kepribadian menurut pandangan psikologi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur hereditas dan pengaruh lingkungan. Hubungan antara unsur hereditas dan pengaruh lingkungan inilah yang membentuk 16 Dalam keadaan normal, memang secara individu manusia memiliki perbedaan dalam kepribadian, dan perbedaan ini diperkirakan berpengaruh terhadap perkembangan aspek-aspek kejiwaan termasuk jiwa keagamaan. Kondisi Kejiwaan Kondisi jiwa seseorang akan berpengaruh pada pandangannya tentang agama, seseorang yang mengidap Schizopernia akan mengisolasi diri dari kehidupan social serta persepsinya tentang agama akan dipengaruhi oleh berbagai halusinasi. 18 Berbeda dengan orang yang normal, ia akan memandang agama secara sadar dan dapat berpikir sehat. Faktor Ekstern, yaitu faktor di luar diri manusia. Faktor ekstern yang dinilai berpengaruh dalam perkembangan jiwa keagamaan dapat dilihat dari lingkungan dimana seseorang hidup. Lingkungan tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu lingkungan keluarga, institusi dan masyarakat. Lingkungan keluarga Pengalaman hidup pada tahun-tahun pertama dari umur si anak lebih banyak diperolehnya dalam rumah tangga, baik yang dirasakan langsung dari perlakuan orang tuanya, maupun dari suasana hubungan antara ibu-bapak dan saudara-saudaranya. Pengalaman hidup di rumah itu merupakan pendidikan yang terjadi secara tidak 14 Ramayulis. Psikologi Agama. Jakarta: Kalam Mulia, 2002, hlm. 15 Bambang Syamsul Arifin. Psikologi Agama, (Bandung: Pustaka Setia, 2. , hlm. 16 Bambang Syamsul Arifin. Psikologi Agama, (Bandung: Pustaka Setia, 2. , hlm. 17 Jalaluddin. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016, hlm. 18 Jalaluddin. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016, hlm. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 321 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy AuliyaAo Nabila formal dan sengaja, tapi itu merupakan dasar dari pembinaan pribadi secara keseluruhan, termasuk moral dan agama. 19 Oleh karena itu keluarga dinilai sebagai faktor yang paling dominan dalam meletakkan dasar bagi perkembangan jiwa keagamaan. Lingkungan institusional Lingkungan institusional yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan dapat berupa institusi formal seperti sekolah ataupun yang nonformal seperti berbagai perkumpulan dan organisasi. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang melaksanankan pendidikan dan pengajaran dengan sengaja, teratur dan terencana. Melalui kurikulum yang berisi materi pengajaran, sikap dan keteladanan guru sebagai pendidik serta pergaulan antar teman di sekolah dinilai berperan dalam menanamkan kebiasaan yang baik. Pembiasaan yang baik merupakan bagian dari pembentukan moral yang erat kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan . Lingkungan Masyarakat Adapun lingkungan masyarakat yang dapat memberi pengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan dapat dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu: . Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama, masyarakat seperti ini menganggap bahwa persoalan agama adalah tanggung jawab pribadi masing-masing. Lingkungan yang berpegang teguh kepada tradisi agama tetapi tanpa keinsafan batin, biasanya lingkungan yang demikian menghasilkan anak-anak beragama yang secara tradisional tanpa kritik, atau dia beragama secara kebetulan. Lingkungan yang mempunyai tradisi agama yang sadar dan hidup dalam lingkungan agama. IMPLEMENTASI KURIKULUM KECAKAPAN DASAR KEAGAMAAN (KDK) DALAM MENINGKATKAN KETAATAN BERIBADAH SISWA SMPN 2 MOJOKERTO Di SMPN 2 Mojokerto, implementasi kurikulum ini dilakukan melalui kelas tambahan seperti madrasah diniyah, tepatnya mulai pada pukul satu hingga dua Adapun beberapa kitab yang digunakan antara lain : Aqidatul Awam untuk mempelajari materi Aqidah. Akhlaq Lil Banin untuk mempelajari materi Akhlak, dan Safinatun Najah untuk mempelajari materi Fiqih. Semua materi keagamaan tersebut diajarkan dengan metode tradisional atau metode lama sebagaimana yang biasa diterapkan di pondok pesantren seperti metode ceramah. 19 Zakiah Darajat. Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 2. , cet ke-17, hlm. 20 Jalaluddin. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016, hlm. 21 Jalaluddin. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016, hlm. 22 Zuhairini dkk. Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2. , hlm. Halaman 322 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Analisis Implementasi Kurikulum Kecakapan Dasar Keagamaan (KDK) Dalam Meningkatkan Ketaatan Beribadah Siswa SMPN 2 Mojokerto AuliyaAo Nabila. Iksan Implementasi lainnya juga diterapkan melalui berbagai kegiatan keagamaan, seperti sholat dhuhur berjamaah, literasi qurAoani disetiap pagi, kelas tahfidzul qurAoan, dan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya mengajarkan pengetahuan agama secara teoritis tetapi juga mendorong siswa untuk menginternalisasi nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Sutrisno dan Halim23, kurikulum berbasis agama seperti KDK harus mampu menghubungkan ajaran agama dengan tantangan kehidupan nyata agar dapat meningkatkan kesadaran spiritual dan moral siswa. Implementasi KDK di SMPN 2 Mojokerto telah menekankan pendekatan ini melalui pembelajaran yang kontekstual, di mana siswa diajak untuk memahami relevansi ajaran agama dalam menyelesaikan masalah kehidupan. Hal ini sesuai dengan konsep pendidikan spiritual yang dikemukakan oleh Zohar dan Marshall24, di mana kecerdasan spiritual melibatkan kemampuan untuk menghadapi tantangan eksistensial secara bermakna dan mendalam. Salah satu dampak positif dari implementasi Kurikulum KDK adalah peningkatan kecerdasan spiritual siswa. Berdasarkan hasil wawancara, siswa menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam hal kesadaran spiritual, seperti meningkatnya frekuensi beribadah dan kemampuan menyelesaikan masalah dengan pendekatan spiritual. Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum KDK telah memberikan pengaruh positif terhadap dimensi spiritual siswa, di mana mereka tidak hanya memahami ajaran agama secara intelektual tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai bukti, hasil observasi di beberapa kelas menunjukkan bahwa jumlah siswa yang secara konsisten melaksanakan salat lima waktu meningkat hingga 30% setelah penerapan kurikulum ini. Selain itu, kegiatan keagamaan di sekolah, seperti salat Dhuhur berjamaah dan tadarus Al-Qur'an, kini diikuti lebih antusias oleh para siswa, yang sebelumnya hanya dilakukan oleh sebagian kecil Hal ini diperkuat oleh data dari guru agama, yang mencatat peningkatan keterlibatan siswa dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di luar jam pelajaran. Selain itu. Kurikulum KDK juga berkontribusi pada peningkatan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai akhlak mulia yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Siswa menjadi lebih memahami pentingnya sikap jujur, disiplin, dan tanggung jawab sebagai bagian dari ketaatan beribadah. Peningkatan ini terlihat dari perubahan perilaku siswa dalam lingkungan sekolah, seperti lebih tepat waktu dalam mengikuti pelajaran, menjaga kebersihan lingkungan kelas, dan menghormati guru serta teman. Menurut guru PAI, ada peningkatan nyata dalam disiplin dan sikap positif siswa setelah 23 Sutrisno. Kendala dan Tantangan dalam Implementasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Pendidikan Islam, . , 157-172 24 Zohar. , & Marshall. SQ: Spiritual Intelligence, the Ultimate Intelligence. London: Bloomsbury. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 323 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy AuliyaAo Nabila penerapan Kurikulum KDK, yang mengarah pada penguatan integritas pribadi mereka sebagai wujud pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun Kurikulum KDK telah memberikan dampak positif, pelaksanaannya masih menghadapi beberapa tantangan. Salah satu tantangan yang dihadapi guru PAI di SMPN 2 Mojokerto adalah keterbatasan waktu dan padatnya kurikulum nasional, sehingga materi yang berhubungan dengan pengembangan kecerdasan spiritual tidak selalu dapat diajarkan secara Menurut Mulyasa25, salah satu kendala utama dalam implementasi kurikulum baru adalah kurangnya waktu dan sumber daya untuk menerapkan seluruh aspek kurikulum, termasuk pengembangan karakter dan peningkatan ketaatan ibadah peserta didik. Selain itu, terdapat perbedaan latar belakang religius di kalangan siswa yang mempengaruhi motivasi mereka dalam mengikuti pelajaran agama. Guru juga perlu memastikan bahwa pendekatan yang digunakan dapat menjangkau semua siswa, termasuk mereka yang mungkin kurang memiliki motivasi Syah26 mencatat bahwa perbedaan lingkungan dan latar belakang keluarga sering kali mempengaruhi penerimaan siswa terhadap pendidikan agama di sekolah, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih inklusif dan Tantangan lain dalam implementasi Kurikulum KDK adalah minimnya kolaborasi antara guru PAI dengan orang tua siswa dalam mendukung pengembangan kecerdasan spiritual di luar lingkungan sekolah. Kurangnya keterlibatan orang tua dalam memantau dan mendukung pembelajaran agama di rumah sering kali menghambat proses internalisasi nilai-nilai spiritual yang diajarkan di sekolah. Orang tua yang tidak aktif dalam mendukung pendidikan agama anaknya dapat menyebabkan kurangnya kesinambungan antara pendidikan di sekolah dan praktik di rumah. Menurut Hasan27, peran orang tua sangat penting dalam memperkuat nilai-nilai religius yang diajarkan di sekolah, sehingga diperlukan sinergi yang lebih baik antara sekolah dan keluarga. Untuk mengatasi tantangan yang ada. SMPN 2 Mojokerto perlu melakukan berbagai upaya optimalisasi dalam implementasi Kurikulum KDK. Salah satunya adalah meningkatkan pelatihan dan pemahaman guru mengenai filosofi KDK, sehingga mereka dapat menerapkan pendekatan yang lebih holistik dalam Astuti28 menekankan pentingnya pengembangan profesional guru dalam menerapkan kurikulum berbasis keagamaan agar mereka lebih siap 25 Mulyasa. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya. 26 Syah. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Remaja Rosdakarya. 27 Hasan. Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Agama dalam Keluarga. Bandung: Alfabeta . 28 Astuti. Peningkatan Kompetensi Guru dalam Mengajar Pendidikan Agama Islam. Jurnal Pendidikan Islam. Halaman 324 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Analisis Implementasi Kurikulum Kecakapan Dasar Keagamaan (KDK) Dalam Meningkatkan Ketaatan Beribadah Siswa SMPN 2 Mojokerto AuliyaAo Nabila. Iksan dalam membimbing siswa untuk mengembangkan kecerdasan spiritual secara Selain itu, sekolah dapat mengintegrasikan lebih banyak kegiatan berbasis spiritual di luar jam pelajaran formal, seperti program mentoring agama atau kegiatan ekstrakurikuler keagamaan yang lebih bervariasi. Ini akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk memperkuat pemahaman dan praktik spiritual mereka di lingkungan yang lebih kondusif. Selain upaya tersebut, peningkatan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan komunitas lokal juga penting untuk mengoptimalkan implementasi Kurikulum KDK. Dengan melibatkan orang tua dalam kegiatan keagamaan di sekolah atau melalui program parenting yang membahas pentingnya pendidikan spiritual di rumah, siswa akan mendapatkan dukungan yang lebih menyeluruh dalam pengembangan spiritualnya. Sinergi ini juga dapat diperkuat dengan menjalin kerjasama dengan tokoh agama setempat untuk memberikan bimbingan langsung kepada siswa melalui ceramah atau kegiatan keagamaan di Menurut Rahman29, keterlibatan aktif komunitas dan keluarga dalam pendidikan agama dapat memperkuat internalisasi nilai-nilai spiritual di kalangan siswa, sehingga mereka lebih konsisten dalam menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. KESIMPULAN Secara keseluruhan, implementasi Kurikulum Kecakapan Dasar Keagamaan (KDK) di SMPN 2 Mojokerto telah menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan kecerdasan spiritual siswa, meskipun masih terdapat tantangan dalam pelaksanaannya. Dengan optimalisasi dan pendekatan yang lebih inklusif, kurikulum ini dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap pengembangan karakter dan spiritualitas siswa. Upaya peningkatan kualitas guru, penyediaan waktu yang lebih fleksibel untuk kegiatan spiritual, serta pelibatan siswa dalam program keagamaan di luar kelas akan semakin memperkuat implementasi Kurikulum KDK dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual. Pengimplementasian kurikulum kecakapan dasar keagamaan terbukti dapat berkontribusi meningkatkan ketaatan beribadah dan akhlak baik pada para siswa. Berdasarkan data hasil evaluasi dari guru agama, terdapat peningkatan sebesar 30% dalam partisipasi siswa dalam kegiatan keagamaan seperti salat berjamaah di sekolah dan pelaksanaan salat tepat waktu di rumah. Selain itu, laporan dari wali kelas juga menunjukkan adanya peningkatan perilaku disiplin, kejujuran, dan rasa tanggung jawab siswa, yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di luar Studi kasus di SMPN 2 Mojokerto menunjukkan bahwa siswa yang 29 Rahman. Kolaborasi Sekolah. Keluarga, dan Komunitas dalam Pendidikan Karakter Berbasis Agama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 325 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy AuliyaAo Nabila mengikuti Kurikulum KDK cenderung lebih aktif dalam kegiatan sosial keagamaan, seperti bakti sosial dan jumAoat sedekah, yang menjadi indikator penguatan akhlak mulia melalui kurikulum ini Terbentuknya karakter spiritual yang baik pada diri seorang anak tidak dapat dipisahkan dari peran penting orang tua, guru, serta masyarakat atau lingkungan sekitarnya. Ketiga elemen ini harus berjalan selaras dan bekerja sama untuk menciptakan karakter anak yang baik. Orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam menanamkan nilai-nilai moral sejak dini, guru berperan dalam membimbing dan memperkuatnya melalui proses pendidikan formal, sementara lingkungan sosial berfungsi sebagai tempat anak mengamalkan nilainilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan sinergi yang baik antara ketiganya, karakter spiritual anak dapat berkembang secara optimal. Pentingnya melakukan evaluasi dan pengembangan terhadap kurikulum ini agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan tantangan yang dihadapi siswa. Dengan mempertimbangkan masukan dari semua pihak. SMPN 2 Mojokerto dapat melakukan penyesuaian yang diperlukan untuk meningkatkan efektivitas Kurikulum KDK. Hal ini mencakup penggunaan metode pembelajaran yang inovatif dan adaptif, serta penyediaan sumber daya yang cukup untuk mendukung kegiatan spiritual di luar jam pelajaran. Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan karakter dan spiritual tidak hanya akan berdampak pada individu siswa, tetapi juga pada masyarakat secara Generasi yang memiliki karakter baik dan kecerdasan spiritual yang tinggi akan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan, berkontribusi positif dalam masyarakat, dan menjadi teladan bagi generasi berikutnya. Dengan komitmen yang kuat dari semua elemen, implementasi Kurikulum KDK di SMPN 2 Mojokerto diharapkan dapat menghasilkan generasi yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga kaya akan nilai-nilai moral dan spiritual. DAFTAR PUSTAKA Alfiah. AuPengaruh Penerapan Kegiatan Keagamaan Terhadap Peningkatan Nilai Spiritual Siswa Di MAN 1 Watampone. Ay Jurnal Pendidikan Islam. Prodi PAI Pascasarjana IAIN Watampone, . Ani Agustiyani Maslahah. AuPentingnya Kecerdasan Spiritual Dalam Menangani Perilaku Menyimpang,Ay Jurnal Bimbingan Konseling Islam 4, no. Astuti. Peningkatan Kompetensi Guru dalam Mengajar Pendidikan Agama Islam. Jurnal Pendidikan Islam. Creswell. Research Design: Qualitative. Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Sage Publications. Emmons. Is spirituality an intelligence? Motivation, cognition, and the psychology of ultimate concern. The International Journal for the Psychology of Religion, . Halaman 326 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Analisis Implementasi Kurikulum Kecakapan Dasar Keagamaan (KDK) Dalam Meningkatkan Ketaatan Beribadah Siswa SMPN 2 Mojokerto AuliyaAo Nabila. Iksan Gunawan. Psikologi Perkembangan Remaja: Implikasi Pendidikan dan Agama. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hasan. Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Agama dalam Keluarga. Bandung: Alfabeta . Hidayatullah. Pendidikan Karakter Berbasis Kecerdasan Spiritual. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. IsmaAoil. AuPengembangan Kemampuan Keagamaan Peserta Didik Berbasis Pada Kecakapan Dasar Keagamaan (Studi Kebijakan Pemerintah Kota Mojokerto Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Sertifikasi Kecakapan Dasar Keagamaan Di Sekolah Dasar Negeri Pulorejo 2 Dan Madrasah Ibtidaiyah . Ay TAAoDIBIA Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam 7, no. Kementerian Agama RI. Survei Ketaatan Beribadah Siswa SMP di Indonesia. Jakarta: Kementerian Agama RI. King. , & DeCicco. A viable model and self-report measure of spiritual International Journal of Transpersonal Studies, . Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya. Mujib. , & Mudzakir. Ilmu Pendidikan Islam. Kencana Prenada Media Group. Mulyasa. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya. Purba. Jonny. Pengelolaan Lingkungan Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Rahman. Kolaborasi Sekolah. Keluarga, dan Komunitas dalam Pendidikan Karakter Berbasis Agama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rini Syevyilni Wisda. AuPeran Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Dalam Pembentukan Karakter. Ay Tadbir Muwahhid 7, no. : 279Ae93. https://doi. org/10. 30997/jtm. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif, dan R&D. Alfabeta. Sutrisno. Kendala dan Tantangan dalam Implementasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Pendidikan Islam, . , 157-172. Syah. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Remaja Rosdakarya. Tilaar. Pendidikan. Kebudayaan, dan Masyarakat: Teori Pendidikan untuk Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta. Toni Buzan. Kekuatan ESQ: 10 Langkah Meningkatkan Kecerdasan Emosional Spiritual. Terjemahan Ana Budi Kuswandani. Indonesia: PT. Pustaka