Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Penguatan Growth Mindset Sebagai Strategi Pengembangan Karakter Mental Siswa SMA di SMAN 2 Kuala Kabupaten Nagan Raya Zuhrizal Fadhly1. Ikhsan2. Vellayati Hajad*3. Cut Asmaul Husna4. Sri Wahyu Handayani5. Jalaluddin6 1,2,3,4,5Program Studi Ilmu Administrasi. Universitas Teuku Umar. Indonesia 6Program Manajemen. Universitas Teuku Umar. Indonesia *Email: vellayati. hajad@utu. Abstrak Penguatan karakter mental remaja merupakan isu penting dalam konteks pendidikan menengah, khususnya di tengah tekanan akademis yang semakin kompleks, tuntutan prestasi, dan tantangan sosial. Remaja SMA berada pada tahap perkembangan yang rentan terhadap stres dan krisis kepercayaan diri, sehingga memerlukan intervensi yang mendukung ketahanan mental dan motivasi belajar. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat karakter mental siswa melalui intervensi pendidikan berbasis pola pikir berkembang di SMAN 2 Kuala. Kabupaten Nagan Raya. Metode yang digunakan adalah lokakarya partisipatif yang dirancang interaktif dan kontekstual. Kegiatan ini mencakup presentasi konseptual tentang perbedaan antara pola pikir tetap dan pola pikir berkembang, diskusi reflektif berdasarkan pengalaman siswa, simulasi perubahan sikap terhadap kegagalan, dan latihan interaktif untuk menumbuhkan keberanian mencoba dan ketekunan dalam belajar. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pemahaman siswa tentang perbedaan antara kedua pola pikir tersebut, pergeseran perspektif mereka tentang kegagalan sebagai peluang belajar, dan peningkatan kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan akademis. Pendekatan ini merupakan intervensi yang praktis, berdampak, namun mudah dipahami untuk membangun ketahanan mental remaja dan direkomendasikan untuk direplikasi secara berkelanjutan sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter di sekolah. Kata Kunci: Karakter Mental. Pengabdian Masyarakat. Pendidikan Karakter. Remaja Abstract Strengthening adolescent mental character is a crucial issue in the context of secondary education, particularly amidst increasingly complex academic pressures, achievement demands, and social challenges. High school adolescents are at a developmental stage vulnerable to stress and crises of self-confidence, necessitating interventions that support mental resilience and motivation to learn. This community service activity aims to strengthen students' mental character through a growth mindset-based educational intervention at SMAN 2 Kuala. Nagan Raya Regency. The method used was a participatory workshop designed to be interactive and contextual. It included a conceptual presentation on the differences between fixed and growth mindsets, reflective discussions based on student experiences, simulations of attitude change toward failure, and interactive exercises to foster courage to try and perseverance in learning. The results demonstrated an increase in students' understanding of the differences between these two mindsets, a shift in their perspective on failure as a learning opportunity, and increased confidence in facing academic challenges. This approach is a practical, impactful, yet easy-to-understand intervention for building adolescent mental resilience and is recommended for ongoing replication as part of strengthening character education in schools. Keywords: Community Service. Character Education. Mental Character. Teenagers PENDAHULUAN Perkembangan remaja di sekolah menengah merupakan fase strategis dalam pembentukan identitas diri, karakter, dan kesiapan menghadapi tantangan akademis dan social (Ermis Suryana et al. , 2. Pada tahap ini, siswa berada dalam periode transisi yang ditandai dengan perubahan kognitif dan sosio-emosional yang signifikan, membuat mereka lebih rentan terhadap tekanan lingkungan dan tuntutan akademis (Kumoro et al. , 2025. Qomariyah et al. Dalam konteks pendidikan, keberhasilan siswa ditentukan tidak hanya oleh prestasi akademis tetapi juga oleh sifat karakter mental seperti kepercayaan diri, ketekunan, dan kemampuan untuk mengatasi kegagalan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. beberapa siswa masih memandang kegagalan akademis sebagai indikasi ketidakmampuan permanen, bukan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Intervensi berbasis pola pikir pertumbuhan memiliki dampak positif pada motivasi siswa dan prestasi akademis. Sebuah penelitian menegaskan bahwa keyakinan individu tentang sifat kecerdasan memengaruhi bagaimana mereka menanggapi tantangan dan kegagalan (Tao et al. Sebuah studi eksperimental menemukan bahwa siswa sekolah menengah yang menerima pelatihan pola pikir pertumbuhan menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam nilai matematika dibandingkan dengan kelompok control (Carducci et al. , 2. Intervensi ini membantu siswa memahami bahwa kecerdasan dapat berkembang melalui usaha dan strategi pembelajaran yang tepat, sehingga membuat mereka lebih gigih dalam menghadapi kesulitan Temuan ini memperkuat asumsi bahwa perubahan keyakinan kognitif dapat secara langsung memengaruhi perilaku belajar dan kinerja akademis (Dong et al. , 2. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa intervensi berbasis pola pikir pertumbuhan yang singkat dapat meningkatkan ketahanan siswa, khususnya dalam menghadapi tekanan sosial dan akademis (Janssen & van Atteveldt, 2. Lebih lanjut, penelitian selanjutnya menemukan bahwa lingkungan belajar yang menekankan proses dan usaha, daripada hanya hasil, berkontribusi pada pengembangan pola pikir pertumbuhan yang lebih stabil pada remaja (Nob et , 2. Sebuah meta-analisis juga menyimpulkan bahwa intervensi pola pikir pertumbuhan memiliki efek yang lebih substansial pada siswa dengan motivasi rendah atau yang rentan secara Secara keseluruhan, studi-studi ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis pola pikir pertumbuhan tidak hanya relevan secara teoritis tetapi juga efektif secara empiris dalam memperkuat karakter mental dan meningkatkan motivasi belajar di kalangan siswa sekolah menengah (Bardach et al. , 2. Berdasarkan pengamatan awal dan komunikasi dengan pihak sekolah, ditemukan bahwa siswa di SMAN 2 Kuala masih menghadapi tantangan dalam hal kepercayaan diri dan motivasi belajar, terutama ketika dihadapkan pada mata pelajaran yang dianggap sulit dan tekanan evaluasi akademik. Beberapa siswa cenderung menghindari tantangan dan cepat berkecil hati ketika mereka mencapai hasil belajar yang kurang memuaskan. Situasi ini menunjukkan kebutuhan yang jelas untuk memperkuat karakter mental melalui pendekatan pendidikan yang Di sisi lain, sekolah memiliki potensi yang signifikan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat. Potensi ini mencakup dukungan dari manajemen sekolah, kesediaan guru untuk berkolaborasi, dan antusiasme siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan diri. Lebih lanjut, kehadiran lembaga pendidikan tinggi seperti Universitas Teuku Umar di Aceh Barat berfungsi sebagai sumber daya strategis untuk mentransfer pengetahuan dan pendekatan ilmiah kepada komunitas sekolah. Sinergi antara universitas dan sekolah menengah memberikan landasan yang kuat untuk melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yang menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Berdasarkan latar belakang tersebut, pertanyaan penelitian untuk kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat dirumuskan secara konkret sebagai berikut: . Bagaimana pola pikir siswa dalam menghadapi tantangan akademik di SMAN 2 Kuala. Bagaimana kegiatan pendidikan berbasis pola pikir berkembang dapat diimplementasikan sebagai upaya untuk memperkuat karakter mental siswa. Apa dampak kegiatan ini terhadap perubahan perspektif dan sikap siswa ketika menghadapi tantangan akademik? Pernyataan masalah ini dirancang untuk memastikan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat memiliki arah yang jelas dan terukur. Gambar 1. Sosialasi Kegiatan Pengabdian . P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah: . untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang konsep pola pikir berkembang dan perbedaannya dengan pola pikir tetap. untuk menumbuhkan motivasi, kepercayaan diri, dan ketahanan psikologis siswa dalam menghadapi tantangan akademik. untuk menganalisis perubahan pola pikir dan sikap siswa setelah berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan. Secara lebih luas, kegiatan ini bertujuan untuk mendukung pengembangan karakter mental remaja sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan tetapi juga pada pemberdayaan siswa untuk mengembangkan pola pikir adaptif dan konstruktif. Pendekatan berbasis pola pikir berkembang diharapkan menjadi strategi pencegahan dan promosi dalam membangun budaya belajar yang positif di lingkungan sekolah. Pendekatan ini dapat direplikasi di sekolah lain dengan karakteristik masalah yang serupa. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dalam format lokakarya partisipatif tatap muka di auditorium SMAN 2 Kuala pada tanggal 14 Februari 2026. Pendekatan yang digunakan bersifat edukatif dan reflektif, menekankan keterlibatan aktif siswa dalam memahami dan menginternalisasi konsep pola pikir pertumbuhan . rowth mindse. Kegiatan ini dirancang sebagai sesi terstruktur yang mengintegrasikan penyampaian materi, diskusi kelompok, dan latihan praktis untuk mendorong perubahan bertahap dan terukur dalam pola pikir siswa. Delapan puluh lima siswa kelas 11 dan 12 SMAN 2 Kuala berpartisipasi. Seleksi peserta didasarkan pada kebutuhan untuk memperkuat motivasi, kepercayaan diri, dan ketahanan mental dalam menghadapi tantangan akademik. Kelompok sasaran adalah remaja akhir, yang sedang mengembangkan identitas dan orientasi pendidikan mereka. Oleh karena itu, intervensi berbasis penguatan pola pikir dianggap relevan dan strategis. Kegiatan ini dilaksanakan melalui tiga tahap utama. Tahap pertama adalah konseptualisasi, yang mencakup penjelasan tentang definisi pola pikir, perbedaan antara pola pikir tetap dan pola pikir berkembang, dan penggunaan analogi "otak itu seperti otot" yang dapat berkembang melalui latihan dan usaha yang konsisten. Tahap kedua adalah diskusi dan refleksi, di mana siswa diundang untuk berbagi pengalaman pribadi terkait kegagalan dan tantangan belajar, dan kemudian difasilitasi untuk merefleksikan bagaimana kegagalan merupakan bagian dari proses pengembangan diri. Tahap ketiga adalah latihan interaktif dalam bentuk simulasi yang mengubah kalimat dari "Saya tidak bisa" menjadi "Saya belum bisa, tetapi saya akan belajar," bertujuan untuk mengembangkan dialog internal yang lebih positif dan konstruktif. Evaluasi kegiatan dilakukan secara deskriptif melalui pengamatan partisipasi siswa, analisis respons verbal selama sesi refleksi, dan pengumpulan umpan balik tertulis di akhir kegiatan. Tingkat keberhasilan diukur dengan indikator perubahan sikap terhadap kegagalan, peningkatan kepercayaan diri, dan keterlibatan siswa dalam diskusi dan ekspresi pendapat. Pendekatan ini memungkinkan penilaian dampak kegiatan tidak hanya pada pemahaman konseptual tetapi juga pada perubahan sikap peserta dan dinamika sosial. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan Pemahaman Konseptual Setelah presentasi, siswa menunjukkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang perbedaan mendasar antara pola pikir tetap dan pola pikir berkembang. Meskipun awalnya, beberapa siswa masih memandang kecerdasan sebagai kapasitas tetap yang ditentukan oleh bakat bawaan, setelah presentasi dan diskusi interaktif, terjadi perubahan perspektif yang Sebagian besar siswa menegaskan kembali bahwa kemampuan intelektual dapat berkembang melalui upaya yang konsisten, penggunaan strategi pembelajaran yang tepat, latihan berkelanjutan, dan keterbukaan terhadap umpan balik. Pemahaman yang lebih baik ini tercermin P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. dalam kemampuan siswa untuk memberikan contoh konkret dalam konteks akademis mereka, seperti meningkatkan nilai dengan mengevaluasi kesalahan, meningkatkan pemahaman melalui latihan tambahan, dan memanfaatkan bimbingan guru dan diskusi antar teman sebaya. Selama sesi tanya jawab, siswa juga mengidentifikasi perbedaan dalam bagaimana individu dengan pola pikir tetap atau berkembang menanggapi kegagalan. Ini menunjukkan bahwa materi tersebut tidak hanya dipahami secara konseptual tetapi juga mulai diinternalisasi dalam pemikiran siswa. Gambar 2. Kegiatan Pengabdian Masyarakat ke SMA Negeri 2 Kuala . Temuan ini selaras dengan teori (Dweck, 2. dalam (Tao et al. , 2. , yang menyatakan bahwa keyakinan tentang sifat kecerdasan memengaruhi motivasi dan respons individu terhadap Penelitian lain juga menunjukkan bahwa intervensi singkat pada pola pikir dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang plastisitas kecerdasan sekaligus meningkatkan prestasi akademik (Zhao et al. , 2. Lebih lanjut, sebuah penelitian menekankan bahwa mengubah cara siswa menafsirkan kemampuan sebagai sesuatu yang dapat dikembangkan berkontribusi pada peningkatan ketahanan dan ketekunan dalam menghadapi kesulitan (Ramos-Monsivais et al. Dengan demikian, peningkatan pemahaman siswa dalam aktivitas ini tidak hanya bersifat deskriptif, berdasarkan pengamatan lapangan, tetapi juga didukung oleh temuan empiris sebelumnya yang mengkonfirmasi efektivitas intervensi berbasis pola pikir pertumbuhan dalam mengembangkan orientasi pembelajaran yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Perubahan Cara Pandang terhadap Kegagalan Diskusi reflektif yang diadakan setelah presentasi mengungkapkan pergeseran signifikan dalam cara siswa menafsirkan kegagalan. Sebelumnya, kegagalan dianggap sebagai bukti ketidakmampuan permanen, tetapi sesi refleksi mengungkapkan pergeseran ke perspektif yang lebih konstruktif dan adaptif. Siswa mulai memahami bahwa kegagalan adalah bagian alami dari proses pembelajaran dan dapat berfungsi sebagai sarana evaluasi untuk meningkatkan strategi di masa depan. Pernyataan seperti "nilai buruk bukan berarti kamu bodoh" menjadi narasi kunci yang diterima dengan baik oleh para peserta. Ungkapan ini mencerminkan pergeseran ke arah pembicaraan diri yang lebih positif, di mana siswa tidak lagi mengaitkan hasil akademik secara langsung dengan identitas intelektual yang tetap. Beberapa siswa juga menyatakan bahwa kesalahan sebenarnya membantu mereka mengidentifikasi area untuk perbaikan. Pergeseran bahasa ini merupakan indikator awal transformasi pola pikir dari pola pikir yang berorientasi pada hasil menjadi pola pikir yang berorientasi pada proses. Temuan ini selaras dengan teori (Dweck, 2. , dalam (Tao et al. , 2. yang menyatakan bahwa individu dengan pola pikir pertumbuhan cenderung memandang kegagalan sebagai peluang belajar daripada ancaman terhadap harga diri. Penelitian oleh (Thomas, 2. , menunjukkan bahwa siswa yang memahami adanya kecerdasan lebih mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan akademis dan menunjukkan peningkatan kinerja secara bertahap. Lebih lanjut, sebuah penelitian juga menemukan bahwa intervensi pola pikir meningkatkan ketahanan di kalangan remaja, khususnya dalam konteks tekanan akademis dan social (Ramadhani & Nur. Dengan demikian, perubahan perspektif siswa tentang kegagalan dalam aktivitas ini tidak hanya bersifat observasional tetapi juga didukung oleh temuan empiris sebelumnya. Refleksi yang P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. mendorong siswa untuk menafsirkan kesalahan sebagai bagian dari proses pembelajaran merupakan fondasi penting untuk membangun ketahanan mental, mengurangi kecemasan akademis, dan menumbuhkan keberanian untuk terus mencoba menghadapi tantangan. Peningkatan Kepercayaan Diri Latihan perubahan kalimat . elf-affirmation reframin. yang diberikan dalam kegiatan ini dirancang untuk membantu siswa menyadari dan mengubah pola bahasa internal yang selama ini cenderung negatif. Dalam praktiknya, siswa diminta mengidentifikasi kalimat-kalimat yang sering mereka ucapkan kepada diri sendiri ketika menghadapi mata pelajaran yang dianggap sulit, seperti AuSaya memang tidak berbakat di matematikaAy atau AuSaya pasti gagal di pelajaran ini. Ay Kalimat tersebut kemudian diarahkan untuk direkonstruksi menjadi pernyataan yang lebih adaptif, misalnya AuSaya belum memahami materi ini, tetapi saya bisa belajar lebih giatAy atau AuSaya bisa meningkatkan kemampuan jika berlatih secara konsisten. Ay Hasil latihan menunjukkan bahwa siswa mulai menyadari pentingnya bahasa internal . elf-tal. dalam memengaruhi kondisi emosional dan kesiapan belajar mereka. Banyak siswa mengakui bahwa kata-kata negatif yang diulang secara terus-menerus membuat mereka merasa cemas, tidak percaya diri, dan enggan Sebaliknya, ketika kalimat tersebut diubah menjadi lebih konstruktif, mereka merasa lebih tenang dan termotivasi untuk berusaha. Respons ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran metakognitif, yakni kemampuan untuk merefleksikan cara berpikir dan mengelola respons psikologis secara lebih sadar. Secara teoretis, temuan ini selaras dengan konsep growth mindset yang dikembangkan oleh (Dweck, 2. dalam (Tao et al. , 2. , yang menekankan pentingnya keyakinan positif terhadap kemungkinan perkembangan kemampuan. Selain itu, penelitian mengenai selfaffirmation theory menunjukkan bahwa afirmasi diri dapat membantu individu mengurangi ancaman psikologis, meningkatkan regulasi emosi, serta mempertahankan motivasi dalam situasi yang menantang oleh (Easterbrook et al. , 2. Penelitian lain juga menegaskan bahwa intervensi singkat yang mengubah cara siswa memaknai kesulitan terbukti meningkatkan ketahanan dan performa akademik dalam jangka menengah (Kyler & Moscicki, 2. Dengan demikian, latihan self-affirmation reframing tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas linguistik semata, tetapi menjadi instrumen psikologis yang membantu siswa membangun optimisme Kesadaran bahwa kata-kata yang diucapkan kepada diri sendiri berpengaruh terhadap kondisi mental merupakan langkah penting dalam membentuk ketahanan belajar, meningkatkan kepercayaan diri, serta mendorong keberanian menghadapi mata pelajaran yang sebelumnya dianggap sulit. Pendekatan Konseptual Berbasis AuGrowth MindsetAy Pendekatan pola pikir berkembang . rowth mindse. dalam konteks pelayanan masyarakat telah terbukti efektif sebagai intervensi berbasis psikologi positif yang dapat diterapkan dan spesifik konteks. Model ini relatif sederhana secara konseptual, mudah dipahami oleh siswa sekolah menengah, dan fleksibel untuk diintegrasikan ke dalam berbagai kegiatan pengembangan sekolah, seperti konseling bimbingan, pembentukan karakter, dan proses pembelajaran di kelas. Keunggulan pendekatan ini terletak pada fokusnya tidak hanya pada peningkatan prestasi akademik tetapi juga pada transformasi keyakinan mendasar siswa tentang potensi mereka dan proses pembelajaran. Secara teoritis, konsep ini berakar yang menyatakan bahwa keyakinan tentang sifat kecerdasan memengaruhi motivasi, ketekunan, dan respons individu terhadap tantangan (Dweck, 2017. Tao et al. , 2. Individu dengan pola pikir berkembang cenderung memandang kesulitan sebagai peluang untuk berkembang, sementara mereka yang memiliki pola pikir tetap . ixed mindse. lebih cenderung berkecil hati karena Dalam konteks masa remaja, fase perkembangan yang penuh dengan tekanan akademik dan sosial, jenis intervensi ini sangat relevan (Wang et al. , 2. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa intervensi berbasis pola pikir untuk siswa sekolah menengah meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan prestasi akademik dalam matematika (Bardach et al. , 2. Lebih lanjut, penelitian yang mirip juga menemukan bahwa P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. intervensi pola pikir juga meningkatkan ketahanan psikologis, khususnya di kalangan siswa yang berada di bawah tekanan akademik yang tinggi (Faiqotul Himmah, 2. Temuan ini memperkuat argumen bahwa pola pikir pertumbuhan bukan hanya konsep teoritis tetapi strategi intervensi dengan dukungan empiris yang kuat. Dari perspektif psikologi positif, penguatan karakter mental melalui perubahan pola pikir dapat dilihat sebagai strategi pencegahan terhadap rendahnya kepercayaan diri, kecemasan akademik, dan kecenderungan untuk menyerah pada Dengan membangun keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan, siswa didorong untuk berusaha lebih keras, lebih terbuka terhadap umpan balik, dan lebih tangguh dalam menghadapi kegagalan. Intervensi ini juga berkontribusi pada terciptanya lingkungan belajar yang suportif dan kolaboratif, karena siswa tidak lagi memandang keberhasilan sebagai kompetisi berbasis bakat tetapi sebagai hasil dari proses kolaboratif. Dengan demikian, penerapan pola pikir pertumbuhan dalam kegiatan pengabdian masyarakat memiliki nilai strategis dan berkelanjutan. Selain memiliki daya tarik psikologis, pendekatan ini mudah direplikasi, efisien dalam penggunaan sumber daya, dan relevan dengan kebutuhan pengembangan karakter siswa di tingkat sekolah Integrasi yang konsisten ke dalam praktik pendidikan berpotensi memperkuat kualitas sumber daya manusia, menjadikan mereka lebih adaptif, tangguh, dan siap menghadapi dinamika tantangan akademik di masa depan. KESIMPULAN Program pengabdian masyarakat berbasis pola pikir berkembang yang diimplementasikan di SMAN 2 Kuala menunjukkan hasil yang tepat dan terukur, termasuk peningkatan pemahaman siswa tentang pola pikir berkembang, perubahan persepsi tentang kegagalan, dan penguatan kepercayaan diri serta ketekunan dalam menghadapi tantangan Hasil evaluasi mengungkapkan peningkatan pemahaman konseptual siswa tentang perbedaan antara pola pikir tetap dan pola pikir berkembang, diikuti oleh perubahan sikap mereka terhadap interpretasi kesalahan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Secara kualitatif, siswa menunjukkan pergeseran bahasa internal mereka ke tingkat yang lebih positif, peningkatan keberanian dalam diskusi, dan kesadaran yang semakin meningkat bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui upaya yang konsisten. Hasil ini menunjukkan bahwa intervensi tersebut tidak hanya berdampak pada aspek kognitif tetapi juga memengaruhi dimensi afektif dan sosial dari lingkungan belajar. Kekuatan program ini terletak pada desain partisipatif dan praktisnya serta kemudahan implementasinya, tanpa memerlukan sumber daya yang kompleks. Kombinasi penyampaian materi, refleksi pengalaman pribadi, dan latihan transformasi dialog internal telah terbukti efektif dalam menumbuhkan internalisasi nilai yang lebih dalam. Lebih lanjut, pendekatan ini relevan dengan kebutuhan perkembangan remaja saat mereka membangun identitas diri dan ketahanan Namun, kegiatan ini masih memiliki keterbatasan, terutama periode implementasinya yang relatif singkat dan kurangnya pemantauan jangka panjang untuk menilai konsistensi perubahan sikap dan dampaknya terhadap prestasi akademik. Evaluasi juga bergantung pada pendekatan deskriptif, yang membutuhkan pengukuran longitudinal yang lebih komprehensif. Ke depannya, pengembangan program dapat dilakukan dengan mengintegrasikan konsep pola pikir pertumbuhan ke dalam kurikulum sekolah, pelatihan guru, dan kolaborasi dengan layanan bimbingan dan konseling untuk memastikan dampak yang lebih berkelanjutan. Mengulangi kegiatan di tingkat kelas lain atau di sekolah yang berbeda juga dapat menjadi langkah strategis untuk memperluas manfaat program. Dengan penguatan dan dukungan kelembagaan yang berkelanjutan, pendekatan ini berpotensi menjadi model intervensi preventif dalam membangun karakter mental siswa agar lebih adaptif, tangguh, dan siap menghadapi dinamika tantangan pendidikan di masa depan. P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. UCAPAN TERIMA KASIH Tim pengabdian menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kepala Sekolah, dewan guru, serta seluruh sivitas akademika SMAN 2 Kuala Kabupaten Nagan Raya atas dukungan kelembagaan, fasilitasi sarana, dan kerja sama yang konstruktif selama pelaksanaan kegiatan pengabdian ini. Penghargaan juga disampaikan kepada para siswa yang berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Dukungan dan kolaborasi yang terjalin menjadi faktor penting dalam kelancaran dan keberhasilan program ini. DAFTAR PUSTAKA