Jurnal Konstruksia | Volume 12 Nomer 2 | [Jojok Ae Hanafi - Sri_Jul. SISTEM PENGAMBILAN KEPUTUSAN METODE KONSTRUKSI BERBASIS ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS Jojok Widodo Soetjipto1. Muhammad Nur Hanafi2, dan Sri Sukmawati3 1Prodi Teknik Sipil. Universitas Jember. Jl. Kalimantan 37. Jember, 68120 Email korespondensi: jojok. teknik@unej. 2Prodi Teknik Sipil. Universitas Jember. Jl. Kalimantan 37. Jember, 68120 Email : nur. hanafi277@gmail. 3Prodi Teknik Sipil. Universitas Jember. Jl. Kalimantan 37. Jember, 68120 Email : srisukmawati67@gmail. ABSTRAK Proyek Apartemen Grand Shamaya Surabaya merupakan salah satu proyek gedung tinggi di Surabaya yang dibangun di atas lahan yang memiliki kondisi tanah yang buruk dan sempit serta berada di antara gedung tinggi yang berdekatan. Pada pekerjaan basement gedung ini memerlukan metode pelaksanaan yang tepat karena metode pelaksanaan ini sangat berpengaruh terhadap ketercapaian tujuan proyek . iaya, mutu dan wakt. Oleh karena itu perlu adanya analisa yang mendalam dengan mempertimbangkan semua variabel yang berpengaruh dalam penentuan metode konstruksi. Salah satu metode yang dapat diaplikasikan untuk membantu dalam pengambilan keputusan metode konstruksi yang tepat adalah Metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Metode ini memiliki kemampuan dalam menyusun skala prioritas . ebagai faktor bobo. dari variabel yang kompleks dan mudah diaplikasikan, sehingga metode ini dapat dijadikan alat untuk pengambilan keputusan penentuan metode konstruksi yang mudah dan cepat. Pengambilan data dilakukan melalui kuisioner dan indepth interview dengan responden yang memiliki kepakaran . engetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang baik dalam penyusunan metode konstruks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode AHP ini dapat disusun sebagai sistem pengambilan keputusan penentuan metode konstruksi pekerjaan basement dengan tepat. Bobot prioritas yang dihasilkan dari AHP dapat dijadikan parameter untuk menentukan nilai keputusan penentuan metode konstruksi berdasarkan ketersediaan sumber daya yang dimiliki pada proyek tersebut. Kata kunci: Sistem pengambil keputusan. Metode konstruksi. AHP. Tujuan proyek. Pekerjaan Basement. ABSTRACT The Grand Shamaya Surabaya Apartment Project is one of the high-rise building projects in Surabaya, built on-site with poor and narrow soil conditions and is located between close the highrise buildings. In basement work, this building requires an appropriate implementation method because this implementation method greatly influences the achievement of project goal . ost, quality, and tim. Therefore it is necessary to have an in-depth analysis by considering all the variables that influence the construction method's determination. One method that can be applied to assist in making decisions about the appropriate construction method is the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. This method has the ability to arrange a priority scale . s a weighting facto. of complex variables. It is easy to apply so that this method can be used to make decisions about construction methods both easily and fastly. Data were collected through questionnaires and in-depth interviews with respondents who have expertise . ood knowledge, experience, and skills in construction method. The results showed that the AHP could become a decision support system for determining the basement construction method exactly. The priority weight generated from AHP can be used as a parameter to determine the value of the decision to determine the construction method based on availability of project's existing resources. Keywords: Decision Support System. Construction method. AHP. Project goals. Basement K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 12 Nomer 2 | [Jojok Ae Hanafi - Sri_Jul. PENDAHULUAN Proyek Pembangunan Apartemen Grand Shamaya Surabaya merupakan salah satu proyek gedung tinggi di Kota Surabaya. Proyek ini memiliki kompeksitas pekerjaan yang tinggi dengan anggaran yang sangat besar serta memiliki alokasi waktu pelaksanaan yang sangat ketat. Data menunjukkan bahwa proyek ini sudah mengalami keterlambatan dengan deviasi sebesar 12,29% terhitung per minggu ketiga Januari 2020. Hal ini dikarenakan adanya kendala pada produktivitas tenaga kerja yang rendah, kinerja dari subkontraktor yang kurang memuaskan, ruang lingkup pekerjaan yang sangat komplek, site proyek yang terbatas, pelaksanan yang kurang terstruktur, finansial proyek yang terganggu dan lain-lain. Kinerja proyek ini akan selalu mengalami gangguan jika tidak segera dilakukan perbaikan perencanaan pekerjaan dengan Kinerja ini akan mempengaruhi capaian tujuan proyek yaitu biaya, waktu, dan mutu. Capaian tujuan proyek ini akan sangat tergantung pada pelaksanaan pekerjaan tersebut dapat Perencanaan pelaksanaan pekerjaan harus disusun berdasarkan kemampuan proyek dalam menyelesaian semua faktor permasalahan yang akan terjadi pada proyek tersebut. Faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab permasalahan pekerjaan di proyek sangat banyak dan memiliki hubungan yang sangat Oleh karena itu diperlukan sebuah sistem pengambilan keputusan dalam penentuan rencana pelaksanaan pekerjaan Sistem pengambilan keputusan (Decision Support System/DSS) dapat membantu menentukan pemilihan metode konstruksi DSS mempertimbangkan kesesuaian antara ketersediaan sumber daya yang dimiliki dengan kondisi variabel permasalahan yang diperkirakan dapat terjadi di proyek. Sumber daya yang diperlukan dalam proyek meliputi sumber daya manusia, peralatan konstruksi, material konstruksi, kebutuhan keuangan dan metode konstruksi. Variabel permasalahan proyek selalu dihubungkan dengan tujuan proyek yaitu biaya, mutu dan Setiap proyek diharuskan dapat melaksanakan semua scope of work yang telah ditetapkan dalam kontrak sesuai dengan anggaran biaya yang tersedia, waktu yang telah ditetapkan dan kualitas yang telah disepakati. Berdasarkan data dan permasalahan yang telah dijelaskan di atas, maka pada penelitian ini akan mendiskusikan tentang: Bagaimana AHP dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan pemilihan berdasarkan variabel yang sangat Bagaimana menyusun DSS berbasis AHP keputusan pemilihan metode konstruksi di proyek? Bagaimana cara review dan validasi luaran DSS melalui penilaian keputusan pemilihan metode konstruksi di proyek? KERANGKA KONSEPTUAL PENELITIAN Penelitian ini memiliki tujuan untuk menyusun model DSS berbasis AHP dalam rangka menentukan metode konstruksi yang tepat. Model DSS disusun dengan mempertimbangkan tujuan/goal proyek yang diselaraskan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi metode pelaksanaan Keputusan yang dihasilkan dari model DSS ini harus dapat memasukkan data sumber daya yang dimiliki proyek dengan potensi permasalahan yang diperkirakan dapat terjadi. Kerangka konseptual penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 12 Nomer 2 | [Jojok Ae Hanafi - Sri_Jul. 2021 Project Goal Definition Sumber Daya Proyek Faktor Pelaksanaan DSS berbasis AHP Potensi Masalah Proyek Metode Konstruksi Gambar 1. Kerangka Konseptual METODE KONSTRUKSI Metode konstruksi disusun berdasarkan landasan filosofi yang terbentuk dari hasil studi ilmu pengetahuan dan seni . Unsurunsur yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan metode konstruksi meliputi: Rasional Tanggap melihat bagian-bagian yang Sistematik Pragmatis/berwawasan luas Praktis Berkemampuan menilai Dapat melihat tingkat prioritas Mengantisipasi permasalahan dan Berorientasi pada tingkat dan variasi Berlandaskan sistem struktur dan metode konstruksi dengan persyaratan dan limitasinya. KONSTRUKSI BASEMENT Basement adalah perluasan ruang pada bangunan gedung bertingkat secara vertikal yang terdiri dari satu lantai atau lebih yang memaksimalkan lahan dan konstruksi bawah sebagai salah satu penopangnya. Basement bertingkat umumnya dimanfaatkan sebagai lahan parkir. Selain itu, basement juga bisa dimanfaatkan sebagai utilitas utama atau tambahan dari bangunan itu sendiri . Secara umum metode konstruksi pada pekerjaan basement memiliki 2 metode Metode Konstruksi Bottom Up: Metode konstruksi ini dilaksanakan dengan galian tanah sampai dengan elevasi terendah sesuai dengan perencanaan. Pelat basement yang paling bawah dicor dan diselesaikan terlebih dahulu sehingga terbentuk Raft Foundation, kemudian pekerjaan struktur basement diselesaikan dari bawah ke atas. Kolom dan balok dilakukan dengan cor in situ . Metode Konstruksi Top Down: Metode konstruksi ini dilakukan dengan pelaksanaan pekerjaan yang bersamaan antara struktur atas dengan struktur Pada metode ini, pekerjaan galian basement dilaksanakan bersamaan dengan pekerjaan struktur atas seperti kolom, balok dan pelat yang dikerjakan lantai per lantai kebawah sampai dengan elevasi basement yang direncanakan. Selama proses pekerjaan kolom, balok dan pelat, didukung oleh tiang kolom baja yang disebut dengan king post . , . ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) merupakan sebuah metode pendukung untuk membantu menentukan sebuah keputusan atas beberapa alternatif pilihan. Metode ini akan menguraikan masalah multi kriteria yang kompleks menjadi satu struktur hirarki. Hirarki merupakan representasi dari permasalahan yang kompleks pada multi kriteria di dalam suatu struktur multilevel. Level pertama adalah tujuan, kedua adalah level faktor/kriteria, sub kriteria, dan seterusnya hingga level yang terakhir dari alternatif . Metode AHP sudah diaplikasikan pada penelitian pemilihan kontraktor . , metode seleksi suplier . , analisis prioritas pembangunan embung . , dan lain-lain. K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 12 Nomer 2 | [Jojok Ae Hanafi - Sri_Jul. 2021 Secara garis besar, tahapan-tahapan dalam metode AHP adalah sebagai berikut . Mendefinisikan permasalahan dan solusi yang dibutuhkan. Membuat struktur hirarki berdasarkan Membuat berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh tiap elemen terhadap kriteria yang satu tingkat di atasnya. Mendefinisikan matriks perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah penilaian keseluruhan sebanyak n x [. , dengan nilai n adalah banyaknya jumlah kriteria atau elemen yang Menghitung konsistensinya, apabila dinilai tidak konsisten, maka pengambilan data dapat ditinjau kembali. Mengulangi langkah-langkah pada poin c, d dan e untuk semua tingkat struktur Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan untuk menentukan prioritas elemen pada setiap tingkat hirarki dari terendah sampai dengan tujuan utama. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian bertujuan untuk menemukan suatu metode AHP faktor-faktor berpengaruh terhadap penyusunan metode Faktor-faktor dihubungkan dengan tujuan proyek yaitu biaya, mutu dan waktu. DSS dapat dibentuk berdasarkan data pengamatan dan pendapat dari responden. Variabel dan data penelitian akan dikonfirmasikan kepada expert/pakar untuk memastikan bahwa variabel penelitian memang benar-benar terjadi pada proyek. Jika variabel tersebut sudah terkonfirmasi, maka data dari variabel tersebut akan dikumpulkan melalui pengisian kuisioner untuk melihat perilaku dan sebaran pandangan responden. Untuk memastikan bahwa semua perilaku dan hasil penelitian sesuai dengan pengalaman di proyek, maka dilakukan validasi model melalui indepthinterview kepada para pakar yang berkompeten pada proyek studi kasus. Penentuan metode purposive sampling pada karyawan Karyawan yang dipilih memiliki jabatan minimal sebagai site enginer dengan pengalaman di proyek minimal 5 tahun. Jumlah responden yang dipilih adalah 8 Sedangkan penentuan pakar pengalaman dan keterampilan yang dimiliki berkaitan dengan penyusunan rencana pelaksanaan proyek konstruksi. Pakar yang dipakai pada penelitian untuk proses validasi yaitu Project Manager. Site Manager dan Site Engineer. Seluruh variabel dalam penelitian ini diukur menggunakan skala saaty . esuai dengan metode AHP) dengan membandingkan dua Penilaian dilakukan dengan memberikan nilai berdasarkan skala intensitas kepentingan kedua variabel Penilaian ini akan menghasilkan nilai prioritas yang selanjutnya dapat dijadikan nilai bobot . suatu variabel dalam menentukan pilihan. Pakar akan melakukan validasi atas penilaian variabel dari setiap metode Metode konstruksi dengan nilai terbesar merupakan pilihan yang tepat karena sudah sesuai dengan prioritas dan penilaian variabel. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini, analisis dilakukan menggunakan metode penelitian yang telah diuraikan di atas. Pada setiap tahapan pembahasan akan dilakukan diskusi dan penjelasan terhadap hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut. K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 12 Nomer 2 | [Jojok Ae Hanafi - Sri_Jul. 2021 Kriteria penyusunan metode konstruksi Variabel yang mempengaruhi penyusunan metode konstruksi sudah didefinisikan berdasarkan studi literatur. Namun variabel ini dilakukan konfirmasi kepada pakar melalui wawancara untuk menentukan variabel yang sesuai dengan studi kasus ini. Hasil wawancara dengan para pakar diperoleh variabel yang mempengaruhi penyusunan metode konstruksi adalah sebagai berikut: Biaya Produktivitas tenaga kerja Kenaikan harga material Kerusakan material Pengetahuan dan pengalaman Metode kerja kurang tepat Perubahan desain Respon masyarakat Mutu Pengkajian gambar Inspeksi alat Pengujian sampling Monitoring pekerjaan Supervisi Pemilihan vendor Ketepatan metode kerja Waktu Produktivitas tenaga kerja Ketersediaan material Ketersediaan peralatan Karakteristik lingkungan proyek Manajerial proyek Finansial proyek Kecelakaan kerja Penerapan teknologi Intensitas hujan Penyusunan hirarki AHP metode Hirarki AHP metode konstruksi merupakan bentuk penyederhanaan variabel penentu metode konstruksi yang komplek menjadi struktur multilevel dengan berdasarkan tujuan dari setiap level tersebut. Level pertama merupakan tujuan . , level kedua merupakan kriteria, dan level ketiga sub kriteria. Setiap level memiliki variabel sesuai perilaku dan struktur dengan pendekatan perilaku sesungguhnya. Bentuk hirarki AHP metode konstruksi berdasarkan variabel terkonfirmasi dapat dilihat pada Gambar 2. AHP Metode Konstruksi Level 1: goal Biaya Level 2: Kriteria Mutu Waktu Level 3: Sub Kriteria b A 1. b A 2. b A 3. Gambar 2. Hirarki AHP Metode Konstruksi Matriks . airwase compariso. jawaban responden Dari data kuisiner yang sudah dikumpulkan dan diakumulasikan menggunakan rata-rata geometri . ihat persamaan . , diperoleh matriks perbandingan berpasangan untuk level kriteria seperti pada Tabel 1 berikut. dengan G = rata-rata geometri dari respon responden, xn = respon responden. Tabel 1. Matriks Perbandingan Berpasangan Kriteria Kriteria Waktu Biaya Mutu Waktu Biaya Mutu Sedangkan untuk level sub kriteria biaya, sub kriteria mutu dan sub kriteria waktu dapat dilakukan dengan cara yang sama pada level kriteria. Setelah diperoleh matrik perbandingan berpasangan dari masing-masing kriteria dan sub kriteria, langkah selanjutnya adalah . K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 12 Nomer 2 | [Jojok Ae Hanafi - Sri_Jul. 2021 matriks untuk memperoleh hasil nilai eigen. Nilai eigen akan digunakan untuk menentukan bobot dan urutan prioritas dari kriteria dan sub kriteria. Adapun hasil bobot dan prioritas kriteria, sub kriteria biaya, sub kriteria mutu dan sub kriteria waktu dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4 dan Tabel 5. Ranking Inspeksi alat Supervisi Tabel 5. Bobot dan Prioritas Sub-faktor Waktu Tabel 2. Bobot dan Prioritas Kriteria Item Eigen Bobot (%) Ranking Ranking Item Item Eugen Bobot (%) Manajerial proyek 0. Eigen Bobot (%) Kecelakaan kerja Mutu Finansial proyek Waktu Ketersediaan Biaya Ketersediaan Tabel 3. Bobot dan Prioritas Sub-faktor Biaya Penerapan Ranking Item Ketepatan metode Produktivitas tenaga kerja Kenaikan harga Karakteristik Pengalaman dan Intensitas curah Perubahan desain Kerusakan material 0. Respon masyarakat 0. Produktivitas tenaga kerja Eigen Bobot (%) Tabel 4. Bobot dan Prioritas Sub-faktor Mutu Ranking Item Setelah bobot dan prioritas tiap elemen kriteria dan sub kriteria sudah diperoleh, melakukan uji konsistensi tiap-tiap elemen untuk mengetahui tingkat konsistensinya. Hasil uji konsistensi dapat dilihat pada Tabel Dari tabel ini dapat dilihat bahwa semua perhitungan pembobotan sudah memiliki uji konsistensi yang sesuai ketentuan yaitu < Eigen Bobot (%) Pengkajian Monitoring Pengujian Ketepatan Pemilihan Tabel 6. Uji Konsistensi Matriks Kriteria dan Sub Kriteria Variabel Kriteria Sub Sub Sub Kriteria Kriteria Kriteria Waktu Biaya Mutu maks . K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 12 Nomer 2 | [Jojok Ae Hanafi - Sri_Jul. 2021 Sub Sub Sub Kriteria Kriteria Kriteria Waktu Biaya Mutu Konsistensi Luaran metode AHP Analisa AHP dapat memberikan nilai bobot prioritas setiap variabel yang terkofirmasi mempengaruhi dalam pemilihan metode konstruksi tersebut. Nilai bobot ini diperoleh dari penilaian para pakar yang memiliki pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang baik dalam menyusun metode konstruksi. Luaran AHP dapat dilihat pada Tabel 7. Pada luaran analisa AHP ini diperoleh nilai bobot prioritas kriteria dan sub kriteria yang digabungkan dalam satu kolom. Nilai prioritas pada kriteria dan sub kriteria ini akan dijadikan faktor bobot variabel yang dihitung secara simultan agar prioritas setiap level dapat dihitung pengaruhnya. Tabel 7. Luaran AHP Metode Konstruksi Variabel Bobot (%) Sub Kriteria: waktu Manajerial proyek Kecelakaan kerja Finansial proyek Ketersediaan Ketersediaan material Penerapan teknologi Produktifitas tenaga Karakteristik lingkungan proyek Intensitas curah hujan Sub Kriteria: biaya Ketepatan metode Kenaikan harga Variabel Bobot (%) Pengalaman dan Perubahan desain Kerusakan material Respon masyarakat Produktifitas tenaga Sub Kriteria: mutu Pemeriksaan dan pengkajian gambar Monitoring pekerjaan Pengujian sampling Ketepatan metode Pemilihan vendor Inspeksi alat Supervisi Variabel Kriteria Hasil analisis AHP menunjukkan bahwa dalam menyusun metode konstruksi pekerjaan basement, para pakar menilai bahwa mutu merupakan kriteria utama yang harus diperhatikan dengan nilai bobot 75% sedangkan yang kedua dan ketiga adalah kriteria waktu dan biaya masingmasing 26. 65% dan 9. Pekerjaan basement merupakan starting point dari pekerjaan gedung karena semua pekerjaan lain sangat tergantung dari keberhasilan pekerjaan ini. Sehingga tim proyek cenderung memberikan respon untuk mengutamakan mutu dan waktu dibanding Pada sub kriteria waktu, biaya dan mutu memiliki variabel prioritas yang berbedabeda. Sub kriteria waktu memiliki variabel utama yang harus diperhatikan yaitu variabel manajerial proyek dan variabel kecelakaan kerja. Sub kriteria biaya menempatkan variabel ketepatan metode pelaksanaan dan variabel kenaikan harga material sebagai variabel yang sangat berpengaruh terhadap biaya. Sedangkan sub kriteria mutu, variabel pemeriksaan dan pengkajian gambar dan variabel monitoring . K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 12 Nomer 2 | [Jojok Ae Hanafi - Sri_Jul. 2021 pekerjaan merupakan variabel prioritas yang harus dikendalikan. Selanjutnya, hasil dari penilaian prioritas pada AHP akan dijadikan alat untuk membantu mengambil keputusan dalam pemilihan alternatif metode konstruksi yang diusulkan dalam pekerjaan basement. Hasil AHP akan dimodifikasi dan diverifikasi agar dapat dijadikan sebagai Model Sistem Pengambilan Keputusan/Decision Support System (DSS). Model sistem pengambilan keputusan/ Decision Support System (DSS) berbasis AHP DSS merupakan sebuah sistem yang sangat diperlukan oleh pengambil kebijakan untuk membantu menentukan variasi pilihan yang memiliki variabel yang kompleks dan membutuhkan penilaian yang rumit. Penelitian DSS secara umum menghasilkan sebuah sistem yang dapat dijadikan sebagai berdasarkan fenomena/perilaku variabel yang sangat banyak dan kompleks. Beberapa penelitian terkait DSS sudah dilakukan meliputi penggunaan DSS dalam penyelesaian konflik pada konstruksi . DSS pada proses tender konstruksi . , . , penentuan siswa berprestasi . , dan lainlain. Untuk menyusun DSS, maka diperlukan hubungan antara pengambil keputusan, manajemen data, sistem pengolah data, dan data eksternal . ebagai varian piliha. Hubungan antar bagian dalam DSS dibuat dalam bentuk diagram agar dapat disusun dengan baik. Skematik DSS pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3. Input Metode Konstruksi Metode Konstruksi Metode Konstruksi Recommendation User Interface Queries Recommendation Store Data Model Management analisis data Extract System DSS Environment Gambar 3. Skematik Penyusunan Model DSS DSS pada penelitian ini didesain untuk membantu pengambil keputusan dalam menentukan metode konstruksi yang tepat agar dapat mencapai tujuan proyek dengan Tujuan proyek yang dimaksud meliputi memenuhi biaya yang dianggarkan, mutu yang telah ditetapkan dan alokasi waktu yang sudah disepakati. Berdasarkan Gambar 3, maka susunan DSS ini meliputi: Pengambil Keputusan Pihak ini akan memberikan input sebagai intepretasi data sumber daya yang Selain itu mereka juga akan menilai dan mereview hasil rekomendasi dari luaran DSS tersebut. User Interface Bagian menterjemahkan data yang diinputkan ke manajemen data dan proses analisis Dan sebaliknya, bagian ini juga akan memberikan penjelasan atas luaran rekomendasi yang dihasilkan oleh DSS. Data Management System Data manajemen sistem adalah hasil variabel-variabel berdasarkan ketersediaan sumber daya yang dimiliki sesuai dengan pilihan metode konstruksi yang diusulkan. Dalam penelitian ini, penilaian variabel berdasarkan ketersediaan sumber daya secara berulang-ulang sesuai jumlah metode konstruksi yang diusulkan. K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 12 Nomer 2 | [Jojok Ae Hanafi - Sri_Jul. 2021 Penilainya juga membutuhkan pakar yang berpengalaman di bidang metode konstruksi yang diusulkan. Model Analisis Data Model analisis data merupakan model AHP dimodifikasi/verifikasi. Model ini akan memproses data yang terdapat pada manajemen data dan divalidasi oleh pakar/ahli. Metode Konstruksi Metode Konstruksi yang dimaksud dalam karakteristik, perilaku, dan sifat dari metode konstruksi yang diusulkan untuk diselaraskan dengan penilaian variabel pada metode konstruksi tersebut. Hasil analisis sistem pengambilan keputusan/Decision Support System (DSS) berbasis AHP Pada penelitian ini akan membandingkan 2 metode konstruksi pada pekerjaan basemen yaitu: . metode konstruksi top-down. metode konstruksi bottom-up. Variabelvariabel pada kedua metode konstruksi tersebut akan dinilai sesuai ketersediaan sumber daya pada proyek tersebut. Metode konstruksi eksisting pada proyek yang dijadikan studi kasus adalah menggunakan metode konstruksi top-down. Sehingga data ini akan dijadikan validasi model DSS yang sudah disusun. Input data model DSS adalah pemberian nilai setiap variabel pada sub kriteria sesuai dengan ketersediaan sumber daya yang dimiliki oleh proyek. Pada penelitian ini, penilaian masih dilakukan secara manual sehingga memerlukan analisa berulang sesuai jumlah metode konstruksi yang Selain itu, penilaian ini masih mengintepretasikan ketersediaan sumber daya terhadap karakteristik/perilaku/sifat yang dibutuhkan oleh setiap metode konstruksi yang diusulkan. Hasil penilaian variabel yang dijadikan input data DSS dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Penilaian Ahli Terhadap Variabel Metode Konstruksi Variabel Penilaian Sub Kriteria: waktu Top Down Bottom Manajerial proyek Kecelakaan kerja Finansial proyek Ketersediaan Ketersediaan Penerapan teknologi Produktifitas tenaga Karakteristk lingkungan proyek Intesnsitas curah Sub Kriteria: biaya Ketepatan metode Kenaikan harga Pengalaman dan Perubahan desain Kerusakan material Respon masyarakat Produktifitas tenaga Sub Kriteria: mutu Pemeriksaan dan pengkajian gambar Monitoring Pengujian sampling Ketepatan metode Pemilihan vendor Inspeksi alat Supervisi . K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 12 Nomer 2 | [Jojok Ae Hanafi - Sri_Jul. 2021 Penilaian pada Tabel 8 dilakukan melalui indepth-interview dengan project manager, site manager dan site engineer. Pada wawancara ini ahli/praktisi diminta intepretasi kesesuaian metode konstruksi yang diusulkan . op-down dan bottom-u. dengan keberadaan sumber daya yang dimiliki pada proyek yang sedang Pada penelitian ini, penilaian dilakukan dengan menggunakan skala linkert, yaitu 1 . aling tidak sesua. sampai dengan 5 . aling sesua. Sebagai contoh pada variabel manajerial proyek, para ahli/praktisi diminta untuk memberikan nilai kesiapan manajemen proyek di lapangan saat ini dalam menjalankan metode konstruksi top-down dan bottom-up. Manajemen proyek yang dimaksud meliputi tim proyek, kondisi site proyek, peralatan dan lain-lain. Dari hasil interview diperoleh nilai rata-rata bahwa secara manajerial proyek mereka memberikan nilai 3. untuk top-down dan 3. 11 untuk bottom-up. Hal ini menunjukkan bahwa para praktisi lebih memilih menggunakan metode konstruksi top-down dari pada bottom-up. Pada variabel kecelakaan kerja, para ahli/praktisi menilai bahwa metode topdown memiliki kemungkinan kecelakaan yang relatif lebih kecil dari pada metode bottom-up, sehingga hasil penilaian ratarata masing-masing metode konstruksi 31 dan 3. op-down dan bottomu. Demikian seterusnya dilakukan penilaian pada semua variabel pada sub kriteria yang terdapat pada Tabel 8. Model analisis data merupakan sistem komputasi untuk membantu memberikan nilai yang terbaik dalam memilih alternatif metode konstruksi yang diusulkan. Sistem komputasi ini menggunakan bobot nilai hasil luaran AHP pada Tabel 7. Selanjutnya, luaran model DSS dapat diperoleh setelah memasukkan input pada data management system berdasarkan data pada alternatif metode konstruksi untuk dianalisis lebih lanjut dengan model analisis Adapun rekapitulasi kriteria hasil luaran model DSS dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Luaran Model DSS Konstruksi Pekerjaan Basement Kriteria Metode Nilai Top down Bottom up Waktu Biaya Mutu Total Nilai Model DSS merekomendasi bahwa metode konstruksi top-down lebih sesuai jika dibandingkan dengan metode konstruksi bottom-up. Hal ini dapat dilihat dari total nilai yang dihasilkan untuk metode konstruksi top-down sebesar 370. sedangkan metode konstruksi bottom-up memiliki nilai 368. Jika dianalisa lebih mendetail, maka dapat disimpulkan bahwa top-down mengutamakan kriteria waktu dan biaya, diprioritaskan pada metode konstruksi bottom-up. Hal ini menunjukkan bahwa metode konstruksi top-down diprediksi dapat mempercepat penyelesaian pekerjaan dan pembiayaan yang lebih terkontrol, sedangkan mutu pekerjaan metode konstruksi top-down dinilai relatif lebih kecil karena pengendalian mutu lebih sulit dibandingkan metode konstruksi bottomup. Validasi model sistem pengambilan keputusan/Decision Support System (DSS) berbasis AHP Validasi model DSS dilakukan dengan menggunakan data metode pelaksanaan proyek eksisting yang dijadikan studi kasus. Validasi ini dilakukan berdasarkan penilaian dari project manager, site manager dan site engineer pada proyek tersebut terhadap hasil luaran model DSS. Adapun hasil validasi tersebut dapat dijelaskan sebagai Metode konstruksi yang digunakan adalah top-down dan sesuai dengan rekomendasi luaran model DSS. 10 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 12 Nomer 2 | [Jojok Ae Hanafi - Sri_Jul. 2021 Tinjauan alasan pemilihan metode topdown di proyek berdasarkan interview dengan tim proyek adalah: . faktor keselamatan pada saat pekerjaan galian basement dikarenakan oleh kondisi tanah yang sangat buruk. site proyek yang relatif sempit serta berhimpitan dengan gedung tinggi disekitarnya. keberadaan sumber daya yang sudah Jika dibandingkan dengan luaran model DSS pada Tabel 8 dan 9 yaitu kecelakaan kerja dan pengaturan site termasuk dalam kriteria waktu sedangkan keberadaan sumber daya masuk dalam kriteria biaya, dimana pada kedua kriteria tersebut metode konstruksi top-down. Dengan demikian maka model DSS ternyata sesuai dengan aplikasi pelaksanaan metode pelaksanaan di proyek. KESIMPULAN Metode AHP dapat digunakan untuk menentukan nilai bobot prioritas kriteria variabel penyusun metode konstruksi dengan kriteria mutu . 75%) sebagai prioritas utama diikuti waktu . dan biaya . 60%). Model DSS dapat disusun menggunakan luaran AHP yang dimodifikasi dan User Interface. Data Management System dan Model Analisis Data. Luaran hasil model DSS berbasis AHP dapat menghasilkan keputusan yang sama pada proyek yang dijadikan studi kasus berdasarkan hasil validasi model. DAFTAR PUSTAKA