NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Volume 5. Issue 2. Mei 2024 DOI: https://doi. org/10. 55681/nusra. Homepage: ejournal. id/index. php/nusra p-ISSN: 2715-114X e-ISSN: 2723-4649 PERAN GURU BERKOMPETENSI SOSIAL EMOSIONAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA UNTUK MEMBANGUN SCHOOL WELL-BEING DI SMA NEGERI 5 SEMARANG Indah Susilowati1*. Titik Haryati1 Program Studi Pendidikan Profesi Guru PPKn. Universitas PGRI Semarang. Indonesia *Corresponding author email: indahsusilowati2801@gmail. Article History ABSTRACT Received: 24 April 2024 Revised: 19 May 2024 Published: 29 May 2024 This study aims to analyze the role of socially emotionally competent teachers in Pancasila Education learning to build school well-being at SMA Negeri 5 Semarang. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The results showed that teachers with social emotional competence play an important role in implementing Pancasila Education learning to build school well-being at SMA Negeri 5 Semarang. Teachers with social emotional competence are able to create a safe and comfortable learning environment, build positive relationships with students, and encourage students to develop character and national insight. Social emotional competencies that are important for teachers in implementing Pancasila Education learning include self-awareness, social awareness, self-regulation, relationship skills, and responsible decision-making. Teachers with high social emotional competence are able to manage their own emotions, build positive relationships with students, and create a conducive learning This study recommends that teachers at SMA Negeri 5 Semarang continue to improve their social emotional competence in order to effectively implement Pancasila Education learning and build school well-being. Keywords: Teacher. Social Emotional Competences. Civic Education. School Well-Being Copyright A 2024. The Author. How to cite: Susilowati. , & Haryati. Peran Guru Berkompetensi Sosial Emosional dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila untuk Membangun School Well-Being di SMA Negeri 5 Semarang. NUSRA : Jurnal Penelitian Dan Ilmu Pendidikan, 5. , 735Ae742. https://doi. org/10. 55681/nusra. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Volume 5. Issue 2. Mei 2024 LATAR BELAKANG Pendidikan mengembangkan potensi individu secara Proses ini meliputi pengajaran, pembelajaran, dan pemberdayaan individu agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan, baik dalam hal pengetahuan, keterampilan, sikap, maupun kepribadian. Pengembangan potensi secara utuh berarti tidak hanya menekankan pada intelektual, juga pada ranah spiritual, emosional, dan Pada konteks ini. Pendidikan termasuk hal-hal seperti kreativitas, berpikir secara kritis, kerja sama, dan pertukaran Pendidikan mengajarkan keterampilan tetapi juga menanamkan etika dan nilai moral. Namun, untuk mencapai tujuan ini, peran guru sosial-emosional menjadi krusial. Hal ini mengingat dalam implementasi pembelajaran tidak hanya memerlukan pemahaman konseptual, tetapi juga kemampuan untuk membangun hubungan empati, mengelola konflik, dan meningkatkan kesejahteraan sekolah. Guru yang memiliki kompetensi sosial emosional (KSE) yang baik berperan penting dalam membangun lingkungan pembelajaran positif dan kondusif, sehingga siswa dapat berkembang maksimal. Melihat era society 5. 0, penggunaan teknologi terikat peradaban manusia, khususnya bagi Gen Z, kurikulum merdeka mendapatkan informasi lebih mudah (Jamila, 2. Maka. Pekerjaan guru masih sangat penting karena bertindak sebagai mentor yang membantu siswa belajar (Kurniawan, 2. Penting bagi proses pembelajaran memiliki standar profesional guru, terutama untuk membangun The 21st Century Competencies . yaitu critical thinking, communication, collaboration, creativity, computational dan compassion mengatasi transisi ke pembelajaran lebih baik (Inganah et al. , 2. Mendidik adalah proses membantu anak berkembang menjadi dewasa secara fisik dan rohani (Ibtida & Trianingsih. Mengajar tidak hanya proses pertukaran informasi dan nilai, tidak hanya itu, perlu juga mempertimbangkan aspek karakteristik peserta didik. (Umam, 2. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga role model sebagai inspirator bagi siswanya. Perilaku, sikap, dan cara berkomunikasi guru dapat mempengaruhi perkembangan karakter dan kepribadian peserta didik. Pendidik harus memiliki soft skill untuk membangun dan mengembangkan karakter siswa (Ekonomi, 2. Kompetensi sosial dan emosional (KSE) menjadi kompetensi yang perlu ditingkatkan oleh guru sebagai pusat transformasi pendidikan. Tujuan pembelajaran sosial emosional adalah agar menggapai target, perhatian, bertanggung jawab dan meningkatkan hubungan positif dengan lingkungannya, terutama keluarga, pendidikan, dan sosial (Sulaeman et al. Pendidikan Pancasila merupakan mata pelajaran yang siswa harus pahami sesuai dengan muatan kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Pendidikan Pancasila menjadi Materi yang harus dipelajari siswa karena dengan ini peserta didik diberi bekal untuk menjadi warga negara yang baik. Selama proses pendidikan yang menyeluruh, mendapatkan pengetahuan, prinsip-prinsip memaksimalkan potensi mereka. Oleh karena itu, diharapkan dapat mengatasi Peran Guru Berkompetensi Sosial Emosional dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila untuk Membangun . Oe 736 Susilowati et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan tuntutan dan perubahan zaman, serta berkontribusi pada masyarakat global. Stres akademik adalah fenomena pendidikan yang umum. yaitu merupakan keadaan di mana, seseorang mengalami Ujian adalah termasuk penyebab stres akademik, kemampuan atau kinerja yang buruk, prokrastinasi atau menunda tugas, beban kerja di rumah, kurangnya sistem pembelajaran atau teknologi, atau kurangnya minat dan keinginan, ini pasti harus dihindari dan dicegah (Yuliandri, 2. Keterlibatan guru dalam mendukung School Well-Being mempengaruhi keberhasilan akademis peserta didik, tetapi juga mempengaruhi lingkungan belajar yang inklusif dan Guru atau pendidik dapat membuat lingkungan pembelajaran yang menyenangkan, dan guru harus sehat secara Dalam konteks sekolah, kebahagiaan sekolah merujuk pada gagasan Allard (Konu 2002, n. Dalam konteks ini, well-being adalah terpenuhinya manusia memiliki kebutuhan tertentu. Ada tiga dimensi wellbeing yaitu having, loving dan being. Konsep well-being kemudian dikonstruksi oleh Konu dan Rimpela . dalam konteks sekolah . chool well-bein. , keadaan seseorang dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka, yang terdiri dari empat dimensi: . ondisi sekola. , . enciptakan hubungan sosia. , . emenuhan dir. , dan . esehatan guru dan siswa keseluruha. METODE PENELITIAN Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu Volume 5. Issue 2. Mei 2024 (Sugiyono. Studi menggunakan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi tentang Peran Guru Berkompetensi Sosial Emosional dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila untuk Membangun School Well-Being di SMA Negeri 5 Semarang. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Guru Guru, baik sebagai pendidik maupun sebagai pengajar, adalah kunci kesuksesan Karena itu, ketika seseorang berbicara tentang pengembangan kurikulum. SDM diperoleh pembicaraan berpusat pada guru yang mempunyai peran penting. Karena perannya sebagai pendidik menjadi pengelola pembelajaran utama. KBM di kelas paling sering dihadapi oleh guru. Tidak ada yang dapat melakukan profesi guru karena banyaknya beban dan kompleksitas tugas Seorang guru harus memiliki pengetahuan dasar pendidikan. Hal ini terutama karena guru, seperti yang dinyatakan Usman . 1, pp. 6Ae. merupakan pekerjaan mencakup mengajar dan melatih. Selain itu, bahwa pekerjaan dan posisi guru di masyarakat, pada hakikatnya, guru berpartisipasi dalam strategi, memilih peran penting dalam menentukan jalan kehidupan Pendidik adalah elemen penting dalam kehidupan bangsa sejak lama, terutama di zaman sekarang, yang tidak dapat digantikan oleh elemen lain. Akibatnya, guru telah menjadi pendorong masyarakat sejak lama. Guru diperlukan bukan hanya oleh siswa di kelas, tetapi juga diperlukan oleh komunitas di sekitarnya Peran Guru Berkompetensi Sosial Emosional dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila untuk Membangun . Oe 737 Susilowati et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan untuk menyelesaikan berbagai masalah pada masyarakat. Sejalan dengan asumsi sebelumnya. Syah . 2, p. bahwa peran utama guru dalam PBM pada dasarnya adalah director of learning. Singkatnya, guru harus memiliki kemampuan siswanya untuk mencapai keberhasilan dalam tujuan Pentingnya peran guru dalam pelaksanaan pembelajaran pada pekerjaan mereka, baik perspektif profesi, tanggung jawab sosial dan Tugas guru adalah mengajar dan melatih. Dia memiliki tanggung jawab sosial selain terlibat dalam ketiga hal itu dan Berhubungan diberikan kepada guru sebagaimana disebutkan. Watten B. alam Sahertian, 1994, p. mengusulkan 14 tugas pendidik, yakni sebagai: . individu yang dihormati dalam masyarakat karena tampaknya memiliki otoritas, . penilaian, ia membuat keputusan, . referensi, yaitu memberikan informasi, . pembantu, . wasit, . investigator, . objek yang diidentifikasi, . penangkal ketakutan, . individu mendukung pemahaman diri, . leader tim, . wali, . individu yang mengembangkan dan menyediakan layanan, . rekan kerja, dan . penyebar cinta Sedangkan. Oliva (Sahertian, 1. menguraikan 10 tugas seorang guru sebagai: pembicara, . pendorong, . pendidik dan konselor, . narasumber, . ketua kelompok, . instruktur, . manajer, . kepala laboratorium, . perancang program, dan . pengendali, memiliki kemampuan untuk mengubah kondisi belajar. Kompetensi Sosial Emosional Pembelajaran kompetensi sosial emosional pada seseorang merupakan kegiatan mengajarkan cara mengidentifikasi dan mengelola emosi. Volume 5. Issue 2. Mei 2024 berinteraksi dengan orang lain, memecahkan masalah, membuat keputusan yang bijak, dan mengembangkan hubungan sosial (Widiastuti, 2. Sehubungan dengan itu. SEL (Social emotional learnin. berguna bagi siswa dalam mengendalikan emosi, mental, perilaku dan interaksi sosial (Yuliandri & Wijaya, 2. Berdasarkan itu, bahwa kemampuan sosial emosional yang signifikan dimiliki oleh semua orang, terutama pendidik yang membantu anak didiknya mencapai potensi mereka. Collaborative for Academic. Social and Emotional Learning (CASEL) mengelompokan 5 kemampuan sosial emosional dalam (Widiastuti, n. Self-awareness, merupakan kemampuan seseorang mengidentifikasi emosinya sendiri, baik dalam hal perasaannya konsekuensi dari yang dilakukan setiap situasi dan kondisi. Self-management, kemampuan mengelola diri sendiri, mengendalikan perasaan, pemikiran dan tindakan dalam setiap keadaan. Misalnya, menunjukkan bahwa orang dapat mengelola stres ketika mereka tertekan dan mampu mengungkapkan emosi mereka dengan tepat. Responsible decision making, merupakan kemampuan membuat keputusan yang bijaksana dan bertanggung jawab. Social awareness, adalah kapasitas memahami kesadaran sosial perspektif berbeda dari orang lain, karena itu diperlukan empati, bersikap ramah dan menghargai perbedaan. Relationship Peran Guru Berkompetensi Sosial Emosional dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila untuk Membangun . Oe 738 Susilowati et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan hubungan sehat dengan berbagai latar belakang. orang dari Pembelajaran Pendidikan Pancasila Pembelajaran Pendidikan Pancasila memiliki peran yang penting dalam generasi berikutnya yang berkarakter, nasionalisme, dan menganut prinsip Pancasila. Pembelajaran Pendidikan Pancasila yang diimplementasikan dengan memperhatikan aspek sosial emosional peserta didik akan membantu untuk membangun school well-being, yaitu menggambarkan keadaan kampus yang menyediakan dukungan kesehatan mental dan emosional seluruh warga sekolah, termasuk peserta didik, guru, dan staf. School well-being yang baik akan membantu siswa belajar dan mencapai potensi terbaik mereka secara maksimal. Pendidikan Pancasila bukan hanya mata pelajaran untuk menumbuhkan generasi berkarakter dan berwawasan kebangsaan, tetapi berperan penting membangun school well-being. School well-being menggambarkan ruang kelas aman, nyaman, dan suportif, di mana peserta didik merasa bahagia, terhubung, dan memiliki tujuan. Implementasi Pendidikan Pancasila dapat berkontribusi pada school well-being dengan membangun rasa aman dan nyaman, meningkatkan rasa memiliki dan terhubung, mengembangkan rasa tujuan dan makna, meningkatkan keterampilan sosial dan emosional, serta memupuk patriotisme dan cinta tanah air. Nilai-nilai Pancasila seperti Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemanusiaan yang Adil Beradab. Persatuan Indonesia. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dapat membuat tempat belajar aman dan nyaman. Rasa aman Volume 5. Issue 2. Mei 2024 dan nyaman ini penting untuk mendukung pembelajaran dan perkembangan peserta didik secara optimal. Pendidikan Pancasila membantu peserta didik merasa memiliki dan terhubung dengan sekolahnya. Nilai-nilai seperti gotong royong, persatuan, dan kesatuan dapat mendorong peserta didik untuk saling membantu, bekerja sama, dan membangun hubungan positif dengan sesama peserta didik dan guru. Pendidikan Pancasila juga membantu peserta didik mengembangkan rasa tujuan dan makna dalam hidup mereka. Nilai-nilai seperti beriman, bertakwa, bermoral, dan berbudi pekerti tinggi memberikan arahan dan menjadi lebih baik. Pembelajaran Pendidikan Pancasila membantu peserta didik mengembangkan keterampilan sosial dan emosional seperti toleransi, empati, komunikasi, dan kerja Keterampilan ini penting untuk membantu peserta didik membangun hubungan positif dengan orang lain dan mengatasi stres dan tantangan dalam hidup. Pendidikan Pancasila juga membantu menumbuhkan rasa cinta tanah air dan Nilai-nilai Pancasila seperti persatuan, kesatuan, dan cinta tanah air dapat mendorong peserta didik untuk menjadi warga yang berpartisipasi dan bertanggung jawab. Implementasi Pendidikan Pancasila ada banyak cara untuk melakukannya, seperti memasukkan prinsip Pancasila ke dalam kurikulum, melibatkan siswa dalam pembelajaran, dan menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif dan Dengan implementasi yang efektif, pembelajaran Pendidikan Pancasila dapat memberikan kontribusi besar pada school Peran Guru Berkompetensi Sosial Emosional dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila untuk Membangun . Oe 739 Susilowati et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan well-being dan membantu siswa mencapai potensi mereka secara optimal. School Well-Being Well-being atau kesejahteraan adalah ketika semua sumber daya dari perspektif dan mampu mmecahkan masalah psikologis, dihadapi secara sosial dan fisik (Beausaert et , 2. (Diener, 1. menanggapi wellbeing adalah konstruksi multidimensional yang mempengaruhi optimisme, seperti perasaan positif dan semangat. Jika wellbeing negatif maka berdampak negatif pada emosi, seperti ketakutan. Pada dasarnya, tingkat well-being yang tinggi adalah orang mengalami emosi positif. School well-being mengarah model teoritis konsep oleh Alldart (Konu 2002, n. Teori school well-being Alldart . alam Konu & Rimpela, 2. merupakan keadaan di mana individu dapat memenuhi kepentingan dasar mereka. Teori well-being Alldart membagi kebutuhan menjadi 3: having, menggambarkan dan impresional. Kategori loving, karena membentuk identitas sosial dan hubungan interpersonal. Kategori being yaitu mencakup memenuhi Selanjutnya gagasan well-being Konu dan Rimpela . bertambah status . ealth menyesuaikan keadaan sekolah. School well-being adalah kondisi di Siswa memenuhi kebutuhan dasar di sekolah (Konu 2002, n. Sekolah memiliki empat komponen pemenuhan kebutuhan siswa: having, loving, being, and health. Berdasarkan itu, school well-being adalah terpenuhinya kesejahteraan berdasar having, loving, being, dan health. Peran Guru Berkompetensi Sosial Emosional Pembelajaran Volume 5. Issue 2. Mei 2024 Pendidikan Pancasila untuk Membangun School Well-Being di SMA Negeri 5 Semarang Guru memiliki peran sentral dalam memfasilitasi pembelajaran Pendidikan Pancasila. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga berperan sebagai model dan fasilitator dalam membentuk karakter peserta didik. Seperti yang disampaikan oleh seorang guru yang diwawancara, "Sebagai guru Pendidikan Pancasila, saya harus mengimplementasikan prinsip Pancasila di "Kompetensi sosial-emosional guru memainkan peran kunci dalam Pendidikan Pancasila. Guru dapat memahami dan merespons emosi peserta didik dapat membuat tempat belajar yang aman dan Seorang guru mengungkapkan, "Saya selalu berusaha untuk memahami perasaan peserta didik dan menjaga hubungan yang baik dengan mereka. Hal ini membantu saya dalam mengajarkan nilainilai Pancasila dengan lebih efektif. Penelitian ini mengkaji peran guru berkompetensi sosial emosional dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila untuk menciptakan school well-being. Hasilnya KSE dapat memainkan perkembangan sosial emosional siswa. Pertama, guru dengan KSE dapat membangun hubungan positif dengan siswa. Mereka dengan efisien, membangun kepercayaan dengan peserta Ini menghasilkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman di mana siswa dapat belajar dan berkembang. Guru yang ramah dan membantu mendorong siswa untuk Peran Guru Berkompetensi Sosial Emosional dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila untuk Membangun . Oe 740 Susilowati et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan terbuka dan berani berbicara, sehingga tercipta interaksi positif di kelas. Kedua, guru dengan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) yang baik mampu mengelola emosi diri sendiri dengan baik. Mereka mampu mengendalikan stres dan emosi negatif dengan cara yang sehat. Hal ini membantu guru untuk tetap tenang dan fokus dalam mengajar, serta menciptakan suasana belajar yang positif. Guru yang terampil dalam mengelola emosi mampu menjadi contoh bagi peserta didik dalam menangani situasi sulit dengan tenang dan Ketiga, guru dengan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) yang baik membantu peserta didik untuk memahami dan mengelola emosi mereka. Mereka mengajarkan peserta didik tentang berbagai mengidentifikasi dan mengelola emosi dengan cara yang sehat. Hal ini membantu peserta didik untuk lebih siap dalam menghadapi berbagai tantangan dalam Guru dapat memberikan strategi coping efektif untuk membantu peserta didik mengatasi stres, kecemasan, dan emosi negatif lainnya. Keempat, guru dengan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) yang baik menjadi contoh bagi peserta didik. Mereka bertindak dengan baik dan bertanggung jawab dalam Hal ini membantu peserta didik untuk mengembangkan karakter dan budi pekerti luhur. Guru yang berperilaku baik dan konsisten menjadi teladan bagi peserta didik dalam bertindak sesuai nilainilai Pancasila. Implementasi Pendidikan Pancasila yang didukung oleh peran guru dengan kompetensi sosialemosional berdampak positif terhadap School Well-Being. Tempat belajar yang Volume 5. Issue 2. Mei 2024 inklusif, di mana peserta didik merasa didengar, dihormati, serta diterima, menciptakan kondisi yang mendukung keberhasilan akademis dan kesejahteraan peserta didik secara keseluruhan. Seperti yang diungkapkan oleh (Jones et al. , 2. "Keterampilan sosial dan emosional guru memiliki dampak yang signifikan terhadap lingkungan belajar yang kondusif untuk pembelajaran yang efektif. KESIMPULAN Penelitian ini mengkaji peran guru berkompetensi sosial emosional dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila untuk menciptakan school well-being. Hasilnya menunjukkan pendidik dengan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) yang baik sangat penting dalam membentuk lingkungan belajar yang menyenangkan dan mendukung perkembangan sosial emosional peserta didik, serta berkontribusi membangun school well-being. Guru dengan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) yang baik mampu membangun hubungan positif dengan peserta didik, menunjukkan empati. Hal menciptakan tempat belajar aman dan nyaman bagi peserta didik untuk belajar dan Guru yang terampil dalam mengelola emosi diri mampu menjadi contoh bagi peserta didik dalam menangani situasi sulit dengan tenang dan rasional. Kemampuan guru dalam memahami dan mengelola emosi membantu mereka dalam membimbing peserta didik untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi mereka sendiri. Guru dapat memberikan strategi coping efektif untuk membantu peserta didik mengatasi stres, kecemasan, dan emosi negatif lainnya. Selain itu, guru dengan Kompetensi Sosial Peran Guru Berkompetensi Sosial Emosional dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila untuk Membangun . Oe 741 Susilowati et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Emosional (KSE) yang baik menjadi contoh bagi peserta didik dengan berperilaku baik Hal ini membantu peserta didik untuk mengembangkan karakter dan budi pekerti luhur, sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Kompetensi Sosial Emosional (KSE) guru juga memiliki dampak positif terhadap school well-being. Guru dengan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) yang meningkatkan prestasi belajar peserta didik. DAFTAR PUSTAKA