Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 2 Oktober 2025. Hal. BPPM STAK Terpadu Pesat Implementasi Ilmu Teologi melalui Proyek Praktek Pengalaman Lapangan: Studi pada Pelayanan Perintisan Jemaat GPIAI Efata Sejowet Wilayah Kalimantan Barat Yefta Yan Mangoli 1*. Yosua Trapen 2 Sekolah Tinggi Teologi Efata Salatiga . ,2,. yeftapastoral1@gmail. Article History Abstract Submitted: 29 September 2025 Accepted: 17 Oktober 2025 Published: Oktober 2025 This study aims to describe and analyze the implementation of the Field Practice Project (PPL) by students of Sekolah Tinggi Teologi Efata Salatiga in the church planting ministry at GPIAI Efata Sejowet. This research employs a descriptive qualitative method with a field study approach, conducted over six months, from January to July 2025. Data were collected through direct observation, interviews with church members and local community leaders, and documentation of ministry activities. The results show that the PPL significantly contributes to shaping the character and ministry competencies of the students, while also directly impacting the growth of the local church. The ministry began by reaching two families and grew to include six families with a total of 32 members. Activities included home visits. Sunday worship services, small group fellowships (Komse. , and involvement in social activities within the community. Tangible outcomes of this ministry include baptisms, marriage renewal ceremonies, and child dedications. These results reflect the relevance of a relational, contextual, and holistic approach to ministry. This study affirms the importance of PPL as a means of spiritual and social transformation, both for the students and the communities they serve. Keywords: church planting, field ministry practice, practical theology, remote Kalimantan. GPIAI Efata Sejowet Kata-kata kunci: perintisan jemaat, ppl, teologi praktis, pedalaman Kalimantan. GPIAI Efata Sejowet. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan Proyek Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Efata Salatiga dalam pelayanan perintisan jemaat di GPIAI Efata Sejowet. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi lapangan, yang dilaksanakan selama enam bulan, dari Januari hingga Juli 2025. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara dengan jemaat dan tokoh masyarakat, serta dokumentasi kegiatan pelayanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PPL memberikan kontribusi signifikan dalam membentuk karakter dan kompetensi pelayanan mahasiswa, serta berdampak langsung pada pertumbuhan jemaat lokal. Pelayanan dimulai dengan menjangkau dua keluarga dan berkembang menjadi enam keluarga dengan total 32 jiwa. Kegiatan yang dilakukan meliputi kunjungan rumah, ibadah Minggu. Komunitas Sel (Komse. , serta partisipasi dalam aktivitas sosial masyarakat. Hasil nyata dari pelayanan ini adalah pelaksanaan baptisan, pembaharuan nikah, dan penyerahan anak. Keberhasilan ini mencerminkan relevansi pendekatan pelayanan yang relasional, kontekstual, dan Studi ini menegaskan pentingnya PPL sebagai sarana transformasi spiritual dan sosial, baik bagi mahasiswa maupun komunitas yang dilayani. Copyright: @2025. Authors. 114 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga PENDAHULUAN Sekolah Tinggi Teologi Efata Salatiga memiliki visi untuk menjadi lembaga yang menghasilkan lulusan dengan kompetensi unggul dalam bidang Penggembalaan. Pemuridan. Pengutusan. Penginjilan, dan Pembangunan Jemaat. Misi ini diwujudkan melalui pembekalan pengetahuan teologi Pantekosta Injili yang kuat, guna membentuk para pelayan Tuhan yang siap melayani secara holistik dan kontekstual. Dengan dasar tersebut, tujuan akhirnya adalah mencetak lulusan yang mampu mewujudkan Amanat Agung Yesus Kristus melalui pertumbuhan dan pengembangan gereja, sehingga kehadiran mereka dapat membawa dampak nyata bagi pelayanan dan pertumbuhan iman umat di berbagai tempat. Sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi, misi, dan tujuan tersebut. Sekolah Tinggi Teologi Efata Salatiga merancang berbagai program pembelajaran yang aplikatif dan kontekstual, salah satunya melalui Proyek Praktek Pengalaman Lapangan (PPL). Proyek Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan bagian integral dalam kurikulum pendidikan tinggi, khususnya pada program studi teologi. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam menerapkan ilmu teologi secara praktis di lapangan, sehingga mereka dapat menghubungkan teori dengan praktik pelayanan nyata. PPL bukan hanya sekadar persyaratan akademik, melainkan juga proses pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa mengembangkan keterampilan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan jemaat dan komunitas di sekitar mereka (Tanhidy, 2. Di Sekolah Tinggi Teologi Efata Salatiga. PPL menjadi salah satu syarat wajib kelulusan bagi mahasiswa program studi Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (PAK), yang menuntut keterlibatan aktif mahasiswa dalam pelayanan gereja maupun lembaga keagamaan yang telah ditentukan. Sekolah tinggi teologi Efata Salatiga memberikan kesempatan kepada mahasiswa semester enam untuk melakukan PPL selama enam bulan sebagai upaya menyeimbangkan antara teori dan praktek pelayanan. Pelaksanaan PPL yang berlangsung selama enam bulan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengalami langsung dinamika pelayanan di lapangan, dengan bimbingan dari pembina atau gembala gereja setempat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami dan menghadapi berbagai tantangan dalam pelayanan jemaat, khususnya dalam konteks perintisan jemaat baru. Kegiatan seperti pencarian lokasi pelayanan, penyampaian Firman Tuhan, memimpin ibadah, dan pengembangan jejaring pelayanan menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi mahasiswa (Wainarisi et al. , 2. Dengan keterlibatan aktif ini, mahasiswa dapat mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan rohani, serta manajemen pelayanan yang sangat dibutuhkan dalam tugas pelayanan mereka kelak. Studi ini berfokus pada pelayanan perintisan GPIAI Efata Sejowet sebagai jemaat baru di dusun Sejowet Wilayah Kalimantan Barat, yang dibangun dari kondisi awal tanpa adanya gereja atau pelayanan sebelumnya. Tempat pelayanan ini memiliki karakteristik sosial dan kultural yang Wilayah ini menawarkan peluang sekaligus tantangan tersendiri dalam pelaksanaan pelayanan, sehingga menjadi tempat yang tepat untuk mengaplikasikan ilmu teologi yang telah diperoleh secara akademis. Pelayanan perintisan jemaat merupakan langkah strategis dalam 115 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga memperluas keberadaan gereja dan membangun komunitas iman Kristen. Melalui pengalaman ini, mahasiswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga mengimplementasikan nilai-nilai Kristiani dalam pelayanan dan pengembangan jemaat, sekaligus membangun jejaring dengan tokoh masyarakat dan hamba Tuhan lain di wilayah tersebut (Astriana Wati, 2. Implementasi ilmu teologi dalam pelayanan perintisan jemaat mencakup aspek teoritis dan praktis yang melibatkan pengembangan spiritual, sosial, dan kegiatan pelayanan dengan baik (Paulus Surya, 2. Keterlibatan mahasiswa dalam pelayanan secara langsung dengan mentoring yang intensif akan mendorong mereka untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam pelayanan, serta mengembangkan pendekatan pelayanan yang relevan dan efektif. Pengalaman ini juga memperkuat internalisasi nilai-nilai pelayanan seperti pengabdian, kesabaran, dan ketekunan yang merupakan landasan utama dalam menjalankan tugas pelayanan Kristen (Tabrani, 2. Oleh karena itu. PPL menjadi sarana penting untuk membentuk karakter dan kompetensi calon pelayan Tuhan yang siap menghadapi tantangan pelayanan masa depan (Jayawijaya, 2. Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan kekuatan yang diberikan selama pelaksanaan PPL hingga selesai dengan baik. Melalui program PPL ini, penulis akan memaparkan pengalaman pelayanan selama enam bulan di GPIAI Efata Sejowet serta mendeskripsikan bagaimana ilmu teologi yang diperoleh selama masa perkuliahan diterapkan secara praktis dalam konteks pelayanan perintisan jemaat. Studi ini diharapkan dapat memberikan gambaran pentingnya PPL sebagai wahana pembelajaran sekaligus pengembangan kompetensi pelayanan mahasiswa teologi, serta kontribusinya dalam membangun gereja yang hidup dan berkembang di wilayah Kalimantan Barat. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi lapangan, yang bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam proses implementasi ilmu teologi dalam pelayanan perintisan jemaat (Agus subagiyo dan indra kristian. Penelitian ini dilakukan selama enam bulan, dari Januari hingga Juli 2025, di Dusun Sejowet. Kalimantan Barat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui, wawancara mendalam, serta dokumentasi kegiatan pelayanan seperti ibadah, kunjungan rumah, dan kegiatan lainnya. Data yang diperoleh dianalisis secara induktif dengan menelaah pola-pola keterlibatan mahasiswa dalam pelayanan, respons masyarakat, serta perkembangan jumlah dan kualitas jemaat. Proses analisis dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan temuan-temuan di lapangan. Penarikan kesimpulan dilakukan secara reflektif dan naratif untuk menilai efektivitas PPL sebagai sarana implementasi ilmu teologi serta kontribusinya terhadap pertumbuhan jemaat dan transformasi sosial masyarakat setempat. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Dasar Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh secara 116 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga teori di lingkungan nyata. Dalam konteks pendidikan tinggi, khususnya pada program studi yang berorientasi pelayanan seperti Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. PPL menjadi media penting untuk menghubungkan antara teori dan praktik pelayanan gerejawi secara langsung. PPL bukan hanya sekadar aktivitas formal yang menjadi persyaratan akademik, tetapi juga merupakan wahana pembentukan karakter, keterampilan, dan pengalaman nyata yang memperkaya kemampuan mahasiswa sebagai calon pelayan Tuhan. Menurut Harahap . PPL merupakan metode pembelajaran yang menuntut keterlibatan aktif mahasiswa di dalam kegiatan pelayanan di lapangan sehingga mampu mengasah kemampuan praktis sekaligus menumbuhkan sikap profesionalisme dan tanggung jawab moral dalam pelayanan (R. Sinaga & Warni, 2. Dengan kata lain. PPL menjadi sarana transformasi ilmu teologi yang bersifat konseptual menjadi tindakan nyata yang berdampak positif pada masyarakat jemaat dan lingkungan pelayanan. Dasar Alkitab Pelaksanaan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dalam pendidikan teologi merupakan sarana penting yang menghubungkan teori dengan realitas pelayanan di tengah masyarakat. Dasar biblika yang kokoh dari Perjanjian Lama menegaskan bahwa pelayanan bukan hanya sebuah aktivitas formal, tetapi sebuah panggilan ilahi yang berakar sejak awal penciptaan manusia. Dalam Kejadian 1:28. Allah memberikan mandat budaya kepada manusia untuk Auberanakcuculah dan bertambah penuhilah bumi dan taklukkanlah itu. Ay Mandat ini tidak sekadar berbicara tentang reproduksi biologis, melainkan merupakan amanah ilahi untuk mengelola dan memelihara ciptaan Tuhan dengan penuh tanggung jawabAitermasuk di dalamnya jiwa-jiwa yang perlu dijangkau dan Pelayanan menjadi wujud nyata dari tanggung jawab ini, sebagai sarana menjaga kehidupan rohani agar terus bertumbuh dan terpelihara dalam kasih dan kebenaran Tuhan (Butarbutar, 2. Dengan kata lain, pelaksanaan PPL merupakan bagian dari pelaksanaan mandat ilahi untuk menjaga dan memelihara kelangsungan ciptaan Tuhan agar senantiasa berjalan selaras dengan Firman-Nya. PPL adalah upaya nyata dalam melayani umat manusia secara spiritual, agar mereka dapat hidup memuliakan Tuhan sesuai dengan kehendak-Nya. Selanjutnya, pendidikan iman yang bersifat kontekstual dan berkelanjutan menjadi prinsip penting yang diambil dari ajaran Shema Israel dalam Ulangan 6:4-9. Dalam ayat ini, umat Israel diperintahkan untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengajarkan hukum-Nya dalam segala situasi kehidupan, baik saat duduk di rumah, berjalan, berbaring, maupun bangun (Tade Bengu et al. , 2. John Calvin dalam Commentaries on the Old Testament menekankan bahwa hukum Allah harus dihayati dalam seluruh aspek kehidupan. Artinya, iman bukan sekadar pengetahuan, tetapi harus dilakukan melalui tindakan nyata. Hal yang sama juga disampaikan oleh Tremper Longman dalam Old Testament Commentary Survey, bahwa ajaran Shema mendorong agar pendidikan iman terus di sampaikan kepada semua orang (Arastamar et al. , 2. Oleh sebab itu. PPL menjadi kesempatan bagi mahasiswa teologi untuk menerapkan firman Tuhan dalam berbagai bidang pelayan. Selain itu, teladan nabi dan imam dalam Perjanjian Lama menguatkan konsep pelayanan yang hadir dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan umat (J. Sinaga et al. , 2. Nabi Samuel, 117 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga misalnya, dalam 1 Samuel 7:15-17 secara konsisten berkeliling untuk mengawasi dan membimbing umat Israel di berbagai tempat. Kehadiran nabi bukan sekadar pengajar hukum, tetapi juga pendamping yang memberi arahan, teguran, dan penghiburan. Walter Brueggemann dalam The Prophetic Imagination menyoroti peran nabi sebagai agen perubahan sosial dan spiritual yang berinteraksi langsung dengan umat di lapangan. Demikian pula. Gerald Janzen dalam Old Testament Theology menjelaskan bahwa pelayanan nabi adalah pelayanan kontekstual yang menghubungkan antara firman Tuhan dan realitas kehidupan umat (Mawikere et al. , 2. Konsep ini menjadi dasar penting bagi PPL, di mana mahasiswa diajak untuk tidak hanya menyampaikan materi, tetapi hadir secara empatik dan kontekstual di tengah jemaat dan masyarakat untuk membawa injil sebagai kabar baik. Dalam menyampaikan Injil tentunya seorang mahasiswa juga harus memperhatikan kehidupan yang etis dan moral ditengah masyarakat agar dapat menjadi teladan dalam perkataan maupun perbuatan (Surjantoro, 2. Tuntutan moral yang Tuhan sampaikan dalam Mikha 6:8 menjadi prinsip etis utama yang mengarahkan pelayanan dalam PPL. Ayat ini menuntut pelayan untuk Auberlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Ay Matthew Henry dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat ini menyerukan implementasi iman melalui tindakan nyata yang merefleksikan keadilan, kasih setia, dan kerendahan hati dalam pelayanan sehari-hari. Pendapat serupa disampaikan oleh J. Alec Motyer dalam The Prophecy of Micah, yang menekankan bahwa ketiga prinsip ini adalah landasan moral yang harus hidup dalam setiap aspek pelayanan, terutama ketika berhadapan dengan masyarakat yang beragam latar belakang dan tantangan. Prinsip-prinsip ini dipertegas pula oleh Amsal 21:3 dan Zefanya 2:3 yang menempatkan keadilan dan kerendahan hati sebagai inti dari hubungan dengan Tuhan dan sesama (Susanty, 2. Dengan demikian, dasar biblika dari Perjanjian Lama memberikan fondasi yang kuat bagi PPL sebagai wadah pembentukan karakter, keterampilan, dan spiritualitas pelayan Tuhan. Melalui mandat budaya, prinsip pendidikan iman kontekstual, teladan nabi yang hadir di tengah umat, dan tuntutan moral yang jelas, mahasiswa teologi dibentuk untuk melayani secara bertanggung jawab dan penuh kasih di lapangan. PPL bukan hanya sebuah kewajiban akademis, melainkan panggilan hidup yang mengintegrasikan iman dan praktik, sehingga pelayanan dapat benar-benar memberdayakan dan membawa dampak bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja di tengah masyarakat. Dalam Alkitab Perjanjian Baru menyajikan dasar pelayanan yang harus menjadi perhatian dalam melakukan pelayanan yang penuh dengan pergumulan dan tantangan. Pelayanan lapangan (PPL) bukan hanya sekadar pengaplikasian teori pelayanan, melainkan sebuah kesempatan bagi mahasiswa untuk mengalami dan mencontoh teladan utama pelayanan, yaitu Yesus Kristus sendiri. Salah satu aspek paling esensial dari pelayanan Kristus yang perlu dipahami secara mendalam adalah inkarnasi-Nya, yakni Firman yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita (Yohanes 1:. Inkarnasi bukan hanya sebuah doktrin teologis yang abstrak, melainkan suatu panggilan hidup yang konkret untuk menghadirkan kasih dan kehadiran Allah secara nyata di tengah dunia (Tidball, 1. Dalam PPL, mahasiswa diajak untuk melatih diri menjadi Aukomunitas inkarnasionalAy sebagaimana yang digagas oleh John Stott, di mana kehadiran Kristus diwujudkan melalui perkataan dan perbuatan yang mencerminkan kasih dan kerendahan hati (Stevanus, 2. 118 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Dalam Injil Yohanes 1:14 menyatakan. AuFirman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Ay Ayat ini menegaskan bahwa pelayanan Kristus adalah pelayanan yang hadir secara nyata dan personal. Inkarnasi menuntut kehadiran secara fisik dan emosional, bukan hanya sekadar pengajaran dari jauh (Giawa, 2. Dalam konteks PPL, mahasiswa dipanggil untuk menghidupi spiritualitas inkarnasi dengan menghadirkan diri secara utuh di tengah jemaat dan masyarakat, sebagaimana Kristus telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Melalui kehadiran yang penuh empati, mahasiswa belajar untuk mendengarkan secara aktif, merasakan penderitaan dan harapan umat, serta membagikan kasih dan Injil melalui tindakan nyata yang relevan dengan konteks. Dengan demikian. PPL menjadi ruang pembentukan rohani dan praksis bagi pelayanan perintisan jemaat yang menyentuh kebutuhan riil dan membangun komunitas yang hidup dalam terang Kristus. Lebih lanjut, dalam Filipi 2:5-8. Rasul Paulus menulis tentang sikap Kristus yang menjadi teladan: AuHendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba. Ay Sikap rendah hati dan pengosongan diri ini adalah kunci utama dalam pelayanan (Kustiati & Baskoro, 2. Mahasiswa dalam PPL tidak sekadar mengajar atau melayani dari posisi superioritas, melainkan belajar untuk menjadi pelayan yang rendah hati, siap Aumengosongkan diriAy demi melayani jemaat dengan kasih yang tulus. Pelayanan inkarnasional berarti berani turun ke level yang sama dengan yang dilayani, berbagi suka dan duka mereka, dan hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan John Stott dalam bukunya The Contemporary Christian menekankan bahwa gereja sebagai komunitas harus menjadi Aukomunitas inkarnasional,Ay yakni komunitas yang menampilkan wajah Kristus yang penuh kasih di dunia ini (Harefa, 2. Dalam praktiknya, hal ini berarti gereja tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi juga mewujudkan kasih tersebut melalui tindakan nyata. Kasih yang sejati tercermin dalam kepedulian terhadap sesama, seperti memberikan bantuan sosial, mendampingi mereka yang tertindas, serta hadir secara konsisten di tengah kebutuhan masyarakat (Handoko, 2018. Program PPL (Praktik Pelayanan Lapanga. menjadi sarana yang sangat strategis dalam proses ini. Melalui PPL, mahasiswa teologi tidak hanya belajar mengaplikasikan teori pelayanan, tetapi juga menjalin hubungan personal, mendengarkan cerita hidup jemaat, serta menunjukkan kasih Kristus melalui tindakan konkret, seperti mengunjungi orang sakit, membantu anak-anak yang kurang mampu, mendukung kegiatan sosial gereja, dan terlebih lagi, melalui kehadiran mereka yang aktif dalam perintisan jemaat baru. Bahkan melalui semua tindakan kasih ini, mahasiswa tidak hanya melayani, tetapi juga menjadi alat Tuhan untuk memenangkan jiwa-jiwa baru. Kasih yang diwujudkan secara nyata menjadi jembatan untuk membawa orang mengenal kasih Kristus, mengalami pemulihan, dan menerima keselamatan (Handoko, 2018. Dengan demikian, pelayanan yang dilakukan tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga evangelistik, membawa dampak rohani yang nyata bagi pertumbuhan Kerajaan Allah. 119 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Dalam 1 Yohanes 4:11-12, ditegaskan: AuSaudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, kita juga harus saling mengasihi. Tidak pernah orang melihat Allah. jika kita saling mengasihi. Allah tinggal di dalam kita, dan kasih-Nya menjadi sempurna di dalam Ay Ayat ini mempertegas bahwa kasih Allah menjadi nyata dan sempurna ketika dihidupi melalui kasih antar sesama. Praktik pelayanan lapangan menjadi sarana bagi mahasiswa untuk membuktikan bahwa mereka mengasihi bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan yang nyata. Kehadiran mereka di tengah jemaat dan masyarakat adalah wujud nyata bahwa Allah tinggal di dalam mereka dan memampukan mereka untuk melayani dengan kasih yang tulus (Soegiarto, 2. Selain itu, inkarnasi juga mengandung dimensi kehadiran yang menyembuhkan dan membangun. Yesus dalam pelayanan-Nya tidak hanya hadir untuk mengajar, tetapi juga untuk menyembuhkan, menghibur, dan membangun harapan baru. Ini terlihat dalam Lukas 4:18-19, di mana Yesus membaca nubuat Yesaya: AuRoh Tuhan ada pada-Ku, sebab Ia telah mengurapi Aku. untuk memberitakan kabar baik kepada orang miskin. untuk membebaskan orang yang tertindas. untuk memberikan kelepasan kepada orang yang terbelenggu. Ay Selaras dengan ayat tersebut, mahasiswa PPL belajar untuk meneladani pelayanan Kristus yang holistik ini, tidak hanya fokus pada aspek spiritual, tetapi juga peduli pada kebutuhan sosial dan emosional Pelayanan lapangan menjadi laboratorium nyata di mana mahasiswa mengintegrasikan firman dengan tindakan kasih yang membebaskan dan membangun (Susanto, 2. Dengan demikian. PPL bukan sekadar kewajiban akademik atau rutinitas pelayanan, melainkan sebuah panggilan hidup untuk meneladani Kristus dalam inkarnasi-Nya: hadir di tengah dunia dengan kasih yang nyata, merendahkan diri, dan melayani dengan sepenuh hati. Dalam konteks perintisan jemaat, mahasiswa PPL dipanggil untuk menghadirkan Injil di tempat-tempat yang belum terjangkau, menjadi tanda kehadiran Allah di tengah komunitas baru yang sedang dibentuk. Melalui pengalaman ini, mereka belajar bahwa pelayanan yang efektif tidak lahir dari strategi semata, melainkan dari perjumpaan yang mendalam dengan Kristus. Dari sanalah tumbuh panggilan untuk menjadi saksi dan pembawa kasih Allah yang hidup, memulai dan membina komunitas iman yang baru sebagai wujud nyata dari misi Allah di dunia. Pelaksanaan PPL: Perintisan GPIAI Efata Sejowet Kalimantan Barat Di Sekolah Tinggi Teologi Efata Salatiga. PPL dijalankan sebagai bagian integral kurikulum dengan durasi minimal enam bulan sebagai persyaratan kelulusan. Mahasiswa ditempatkan di berbagai gereja atau lembaga pelayanan yang sudah ditetapkan sebagai mitra, termasuk gereja-gereja lokal. Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) dilaksanakan selama enam bulan, yaitu satu semester penuh, mulai dari bulan Januari hingga Juli 2025. Jangka waktu ini telah disesuaikan dengan ketentuan dan jadwal resmi yang ditetapkan oleh pimpinan Sekolah Tinggi Teologi (STT) Efata Salatiga, sehingga mahasiswa dapat menjalankan kegiatan PPL secara terstruktur dan terorganisir. Pelaksanaan PPL dilakukan dalam lingkup Sinode Gereja Protestan Injili di Asia Indonesia (GPIAI), yang menjadi tempat utama bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu teologi secara langsung dalam pelayanan gerejawi. Dengan berada di lingkungan sinode GPIAI, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai 120 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga aktivitas pelayanan yang nyata dan kontekstual sesuai dengan kebutuhan jemaat serta masyarakat Penempatan ini juga mendukung proses pembelajaran praktis yang mendalam, sehingga mahasiswa dapat memperkaya pengalaman pelayanan sekaligus memperkuat hubungan antara teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan realitas di lapangan. Deskripsi Lokasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Tempat pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) berlokasi di Dusun Sejowet. Desa Sejowet. Kecamatan Kuala Behe. Kabupaten Landak. Provinsi Kalimantan Barat. Dusun ini merupakan salah satu wilayah terpencil yang berada di pedalaman Kalimantan, dengan aksesibilitas yang masih tergolong terbatas. Secara geografis, wilayah Dusun Sejowet memiliki kontur yang relatif datar, namun kondisi infrastruktur jalan yang belum memadai menyebabkan wilayah ini cukup sulit dijangkau oleh kendaraan bermotor, terutama saat musim hujan. Gambar 1. Kondisi Infrastruktur Jalan Menuju Kampung Sejowet Dusun Sejowet dihuni oleh 42 Kepala Keluarga (KK), dengan 40 KK beragama Katolik dan 2 KK memeluk Kristen Protestan. Mayoritas warga menjalankan tradisi dan budaya Katolik, seperti perayaan hari besar keagamaan dan kegiatan doa bersama. Secara ekonomi, penduduk menggantungkan hidup dari pertanian dan penambangan emas ilegal skala kecil. Pertanian dilakukan secara tradisional untuk kebutuhan sendiri, dengan sebagian hasil dijual. Komoditas utama yang ditanam meliputi padi ladang, singkong, dan sayur-sayuran. 121 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Gambar 2. Suasana di Ladang/Kebun dari Masyarakat Dusun Sejowet Dusun Sejowet mencerminkan tantangan yang umum ditemui di wilayah pedalaman Kalimantan, di mana keterbatasan infrastruktur, ekonomi subsisten, serta minimnya akses terhadap layanan sosial mendasar menjadi isu utama. Namun demikian, semangat kebersamaan dan nilainilai kekeluargaan tetap menjadi kekuatan sosial masyarakat setempat dalam menghadapi berbagai keterbatasan tersebut. Keberadaan PPL di wilayah ini, kedepan diharapkan dapat memberikan kontribusi positif, baik dalam hal pembinaan iman, pendidikan, maupun pemberdayaan potensi Tantangan dan Peluang dalam Perintisan Jemaat di Dusun Sejowet Perintisan jemaat di wilayah pedalaman seperti Dusun Sejowet. Desa Sejowet. Kecamatan Kuala Behe. Kabupaten Landak. Provinsi Kalimantan Barat, tidak terlepas dari berbagai tantangan yang kompleks, baik secara sosial, budaya, maupun geografis. Meskipun demikian, terdapat pula sejumlah peluang yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang keberhasilan pelayanan dan penginjilan di wilayah tersebut. Tantangan Penolakan Terhadap Injil Salah satu tantangan utama yang dihadapi dalam proses perintisan jemaat di Dusun Sejowet adalah adanya penolakan dari sebagian kalangan masyarakat terhadap ajaran Kekristenan, khususnya terhadap keberadaan Gereja Katolik. Penolakan ini bukan semata-mata didasari oleh perbedaan keyakinan, tetapi juga erat kaitannya dengan faktor historis, kultural, dan persepsi negatif terhadap agama yang dianggap sebagai "asing" atau "pendatang". Dalam beberapa kasus, warga yang sudah lebih dahulu memeluk kepercayaan lokal atau sistem kepercayaan adat merasa terancam dengan kehadiran ajaran baru yang dinilai dapat mengikis identitas budaya mereka. Akibatnya, proses pendekatan dan pelayanan kepada masyarakat harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan sensitivitas budaya. Dominasi Ritual Berhala dan Praktik Okultisme Budaya lokal di Dusun Sejowet masih sangat kental dengan praktik-praktik kepercayaan tradisional, termasuk pemujaan terhadap roh-roh leluhur, penggunaan jimat, dan berbagai ritual 122 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga yang mengarah pada praktik okultisme. Hal ini mencerminkan kuatnya pengaruh animisme dan dinamisme dalam kehidupan spiritual masyarakat setempat. Banyak warga yang merasa bergantung pada praktik-praktik tersebut untuk memperoleh keselamatan, kesembuhan, atau keberuntungan, dan enggan melepaskannya meskipun telah mengenal ajaran Kekristenan. Tantangan ini menjadi semakin berat ketika praktik-praktik tersebut sudah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat. Upaya penginjilan dan pelayanan harus mampu menghadirkan pemahaman iman yang kontekstual dan membangun kesadaran akan kasih dan kuasa Allah tanpa secara frontal menolak nilai-nilai lokal, tetapi secara perlahan mengarahkan kepada transformasi iman yang sehat. Kondisi Geografis yang Terisolasi Tantangan lainnya adalah kondisi geografis wilayah Dusun Sejowet yang masih sangat Akses jalan yang belum memadai membuat mobilitas sangat terbatas, terutama pada musim hujan di mana jalanan menjadi becek dan sulit dilalui. Hal ini tidak hanya menyulitkan aktivitas pelayanan, tetapi juga menghambat distribusi bahan-bahan logistik, kitab suci, dan alat pendukung liturgi lainnya. Selain itu, keterbatasan infrastruktur komunikasi juga membuat koordinasi dengan gereja induk maupun lembaga pelayanan menjadi terhambat. Ketergantungan pada transportasi tradisional menuntut daya tahan fisik dan mental yang kuat dari para pelayan yang melayani di daerah ini. Peluang Dukungan dari Keluarga yang Sudah Dimenangkan Meskipun menghadapi berbagai tantangan, perintisan jemaat di Dusun Sejowet juga memiliki peluang yang cukup signifikan. Salah satu kekuatan terbesar adalah adanya dukungan dari keluarga-keluarga yang telah lebih dahulu menerima Injil dan mengalami pertobatan. Mereka tidak hanya menjadi anggota jemaat yang setia, tetapi juga berperan aktif dalam mengajak anggota keluarga lainnya serta masyarakat sekitar untuk mengikuti ibadah dan kegiatan pelayanan. Kehadiran mereka menjadi pintu masuk yang strategis bagi perintisan gereja karena hubungan kekerabatan yang erat di desa memungkinkan penyebaran pengaruh yang positif secara perlahan namun pasti. Melalui kesaksian hidup yang nyata, keluarga-keluarga ini mampu menjadi alat penginjilan yang efektif di tengah masyarakat yang masih ragu atau menolak Kekristenan. Dukungan Pemerintah Lokal terhadap Pelayanan Gereja Selain dukungan dari masyarakat internal, pemerintah setempat juga menunjukkan sikap terbuka terhadap kegiatan keagamaan, termasuk perintisan pelayanan jemaat. Dukungan ini dapat berupa izin operasional, fasilitasi kegiatan keagamaan, atau sekedar memberikan ruang aman bagi para pelayan Tuhan untuk melaksanakan misinya tanpa gangguan. Dalam beberapa kesempatan, aparat desa bahkan turut hadir dalam kegiatan ibadah atau perayaan hari besar keagamaan sebagai bentuk dukungan moral. Sikap ini membuka peluang bagi gereja untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam program-program sosial, seperti pendidikan karakter, penyuluhan kesehatan, atau pelatihan keterampilan yang juga dapat menjadi bagian dari pelayanan misi gereja di tengah 123 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Jadi, perintisan jemaat di Dusun Sejowet adalah panggilan pelayanan yang sarat tantangan, namun juga penuh harapan. Tantangan berupa penolakan terhadap Kekristenan, dominasi praktik okultisme, dan kondisi geografis yang sulit, memang menjadi hambatan nyata yang harus dihadapi dengan kesabaran dan strategi yang tepat. Namun demikian, keberadaan keluarga-keluarga yang telah menerima iman Kristen dan dukungan dari pemerintah lokal memberikan fondasi yang kuat bagi kelangsungan dan pertumbuhan pelayanan di wilayah ini. Oleh karena itu, pendekatan yang bersifat relasional, kontekstual, dan holistik sangat diperlukan agar pelayanan gereja tidak hanya diterima, tetapi juga berdampak nyata dalam transformasi hidup masyarakat secara menyeluruh. Kegiatan Perintisan Jemaat di Dusun Sejowet Proses perintisan jemaat di Dusun Sejowet dimulai secara sederhana namun penuh semangat dan dedikasi. Pada tahap awal pelayanan, perintisan dimulai dengan menjangkau dua kepala keluarga (KK) yang berjumlah sepuluh jiwa. Kedua keluarga ini menjadi dasar mula dari pelayanan yang terus berkembang. Mereka menerima Injil dengan hati terbuka dan bersedia menjadi bagian dari persekutuan kecil yang dibentuk untuk memulai ibadah bersama secara rutin. Seiring berjalannya waktu dan melalui pendekatan yang konsisten, jumlah kepala keluarga yang tergabung dalam jemaat bertambah sebanyak empat kepala keluarga. Dengan demikian, hasil dari pelayanan perintisan selama enam bulan masa PPL adalah terbentuknya persekutuan jemaat baru yang saat ini mencakup enam kepala keluarga dengan total tiga puluh dua jiwa. Pertambahan ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan hubungan yang dibangun secara personal dan kekeluargaan dengan warga setempat. Salah satu metode utama dalam perintisan adalah kunjungan dari rumah ke rumah untuk menjalin relasi akrab dengan warga. Dalam kunjungan, pelayan jemaat berbincang santai, mendoakan kebutuhan keluarga, dan menyampaikan Injil dengan bahasa sederhana. Pendekatan ini dilakukan dengan rendah hati dan menghormati keyakinan serta tradisi lokal. Beberapa keluarga merespons positif dan tertarik mengenal ajaran Kristiani. Namun, penolakan juga terjadi dan dipahami sebagai bagian dari dinamika pelayanan tanpa mengurangi semangat membangun hubungan baik. Gambar 3. Pelayanan Kunjungan ke Rumah Warga Dusun Sejowet 124 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Ibadah raya dilaksanakan secara rutin setiap hari Minggu. Rata-rata jumlah kehadiran dalam ibadah ini berkisar antara tiga puluh jiwa, terdiri dari anggota jemaat tetap dan simpatisan. Ibadah berlangsung secara sederhana namun penuh semangat, diiringi dengan pujian, doa, dan penyampaian firman Tuhan. Ibadah ini menjadi pusat dari kegiatan rohani jemaat dan menjadi sarana utama untuk membangun iman dan persekutuan. Selain ibadah Minggu, diadakan juga ibadah Komunitas Sel (Komse. setiap malam Rabu. Kegiatan ini difokuskan pada pendalaman Alkitab secara lebih mendalam dalam suasana yang lebih santai dan terbuka. Jemaat diajak untuk bertanya, berdiskusi, dan saling membangun iman satu sama lain. Pendalaman Alkitab ini juga menjadi ajang pembinaan rohani dan penguatan karakter Kristiani di tengah tantangan kehidupan sehari-hari. Untuk menjalin kedekatan yang lebih kontekstual, dilakukan juga kunjungan ke ladangladang atau kebun milik warga. Pelayan gereja tidak hanya hadir untuk menyapa, tetapi juga ikut membantu dalam kegiatan berkebun seperti menanam, membersihkan lahan, atau memanen hasil Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan membangun relasi yang lebih akrab dan menunjukkan kasih Kristus secara nyata melalui tindakan. Kehadiran dalam aktivitas keseharian warga menjadi jembatan yang efektif untuk menyampaikan Injil secara relevan dan membumi. Dengan demikian, melalui rangkaian kegiatan ini, perintisan jemaat di Dusun Sejowet terus bertumbuh secara perlahan namun stabil. Upaya pelayanan dilakukan secara menyeluruh, menyentuh aspek spiritual, sosial, dan budaya masyarakat, sehingga Injil tidak hanya disampaikan secara verbal, tetapi juga dihidupi dalam tindakan sehari-hari. Hasil Pelayanan Selama enam bulan pelaksanaan Praktik Pelayanan Lapangan (PPL) di Dusun Sejowet, telah terjadi perkembangan pelayanan yang signifikan, yang berpuncak pada terbentuknya sebuah jemaat baru (GPIAI Efata Sejowe. Pencapaian ini merupakan hasil nyata dari proses perintisan yang intensif dan terarah, serta menjadi bagian dari upaya pengembangan pelayanan GPIAI di wilayah pedalaman yang memiliki tantangan tersendiri. Hal ini mencerminkan adanya penerimaan dari sebagian warga terhadap kehadiran gereja dan aktivitas rohani yang dibawa oleh para pelayan Tuhan. Ibadah raya yang diadakan setiap Minggu dan kegiatan Komunitas Sel (Komse. pada hari Rabu menjadi bukti nyata bahwa pelayanan bukan hanya berjalan, tetapi juga diterima dengan antusias oleh jemaat dan simpatisan. Keterbukaan ini menjadi landasan kuat untuk pembangunan pelayanan yang berkelanjutan ke depan, baik dari sisi pembinaan iman jemaat maupun perluasan jangkauan pelayanan kepada warga lain yang belum mengenal Kristus. Dalam suasana keterbatasan infrastruktur dan kondisi sosial yang menantang, fakta bahwa pelayanan dapat berjalan secara konsisten dan membuahkan hasil menjadi kesaksian tentang karya Tuhan yang nyata di tengah-tengah jemaat. 125 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga Gambar 4. Kegiatan Ibadah Jemaat yang Baru Dirintis Beberapa buah pelayanan yang telah terjadi di antaranya adalah pelaksanaan sakramen baptisan bagi empat orang jemaat yang telah menyatakan iman percaya mereka kepada Kristus. Baptisan ini bukan hanya merupakan ritual formal, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam perjalanan rohani individu dan komunitas jemaat secara keseluruhan. Selain itu, pelayanan juga menjangkau aspek pastoral melalui adanya rehabilitasi pernikahan, di mana satu keluarga mengambil komitmen untuk memperbarui janji pernikahan mereka di hadapan Tuhan dan jemaat. Hal ini menjadi contoh yang baik bagi keluarga-keluarga lain tentang pentingnya hidup berumah tangga yang didasarkan pada nilai-nilai Kristiani. Tak kalah penting, telah dilaksanakan pula penyerahan anak terhadap dua orang anak jemaat, sebagai bentuk pengakuan iman dari orang tua untuk menyerahkan pertumbuhan dan masa depan anak-anak mereka kepada pemeliharaan Tuhan. Semua kegiatan ini menunjukkan bahwa pelayanan tidak hanya menyentuh sisi penginjilan, tetapi juga membangun kehidupan rohani dan sosial jemaat secara menyeluruh. Dengan adanya baptisan, pembaharuan nikah, dan penyerahan anak, dapat dikatakan bahwa pelayanan telah menyentuh berbagai dimensi kehidupan umat, mulai dari individu, keluarga, hingga komunitas secara Hasil-hasil ini menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan gereja lokal yang sehat, kontekstual, dan berdampak dalam jangka panjang. Gambar 5. Kegiatan Baptisan dan Pembaharuan Janji Nikah 126 | Published by BPPM Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga KESIMPULAN Pelaksanaan Proyek Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di Dusun Sejowet menjadi bukti nyata dari pentingnya integrasi antara teori teologi dengan praktik pelayanan di lapangan. Dalam konteks pelayanan perintisan jemaat, mahasiswa tidak hanya diuji secara akademik, tetapi juga secara spiritual, emosional, dan sosial. Tantangan berupa penolakan terhadap Injil, dominasi kepercayaan lokal, dan keterbatasan infrastruktur, tidak menjadi penghalang, melainkan menjadi ladang pembelajaran iman dan karakter. Pendekatan pelayanan yang dilakukan dengan menjalin relasi personal, membangun kepercayaan, dan menghormati budaya lokal terbukti efektif dalam menjangkau masyarakat. Keberhasilan pelayanan ditandai dengan pertumbuhan jemaat dari dua menjadi enam keluarga, pelaksanaan baptisan, pembaharuan pernikahan, dan penyerahan anak. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan ilmu teologi secara kontekstual dan holistik dapat membawa dampak transformasi yang nyata bagi komunitas setempat. PPL bukan hanya sebagai syarat akademik, tetapi menjadi panggilan pelayanan yang membentuk karakter, meningkatkan kompetensi, dan memperluas dampak Injil dalam konteks pedalaman. Oleh karena itu. PPL diharapkan terus dikembangkan sebagai sarana strategis dalam menyiapkan pelayan Tuhan yang relevan dan berdampak bagi masa depan gereja, khususnya di wilayah perintisan seperti Kalimantan Barat. DAFTAR PUSTAKA