P-ISSN 0854-3461. E-ISSN 2541-0407 MUDRA Jurnal Seni Budaya Volume 32. Nomor 1. Februari 2017 p 41 - 55 Pementasan Tari Gandrung Dalam Tradisi Petik Laut Di Pantai Muncar. Desa Kedungrejo. Banyuwangi. Jawa Timur (Suatu Kajian Filosofi. Relin D. Jurusan Teologi. Fakultas Brahma Widya. IHDN Denpasar E-mail: relin_denayu @yahoo. Tari Gandrung merupakan kekayaan budaya lokal banyuwangi dan dijadikan maskot daerah Banyuwangi. Tari gandrung banyak dipentaskan diberbagai acara publik termasuk di dalam tradisi petik laut. Pementasan Tari Gandrung dalam tradisi petik laut memiliki makna tersendiri karena tradisi ini diyakini sebagai bentuk persembahan kepada Dewa Laut agar nelayan dianugrahkan ikan yang berlimpah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk Tari Gandrung dan makna filosofi Tari gandrung yang terkandung dalam tradisi Petik laut di pantai Muncar Banyuwangi. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. dengan analisis deskriftip kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi . ata-data Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa Setiap peragaan Gandrung Banyuwangi selalu berpola jejer, paju dan seblang-seblang. Dalam pementasannya memasuki tiga babak yakni pertama jejer, gending terdiri dari lagu Padha Nonton yang terdiri dari delapan bait 32 baris setiap baitnya terbagi menjadi empat baris, baru kemudian dilanjutkan dengan gending Padha Nonton pada bait-bait berikutnya dengan gerak tari yang sesuai warna lagu yang dibawakan. Kemudian babak kedua disebut Paju gending yang dibawakan bebas sesuai permintaan yang akan ikut menari . aju gandrun. dan ketiga Seblang-seblang yang selalu diawali dengan gending atau lagu yang berjudul Seblang Lukito dan gending-gending lainnya. Pementasan tari gandrung dalam tradisi petik laut secara filosofis bila diamati dari lagu Padha nonton dengan syairnya berbentuk bebas dan pola yang berkembang ini merupakan gambaran filosofis hidup tentang manusia. Filosofis yang diekspresikan dalam bentuk tari dan nyanyi sebagai simbol pesan tentang hidup dan kehidupan. Terutama dalam adegan seblang-seblang memvisualisasikan perpaduan bentuk gerak dan nyanyian yang indah untuk menyampaikan pesan-pesan tentang hidup dan kehidupan segala suka dukanya sebagai manusia. Demikian juga ucapan rasa syukur kepada Tuhan atas kehidupan ini. Kemudian akhir dari manusia itu sendiri diaktualisasikan tentang keberadaan manusia secara hitam dan putih. Perjuangan dan pergulatan akhirnya dengan hentakan atau kelembutan dalam menjawab semua pertanyaan yang muncul, suatu pertanyaan yang tak pernah habis-habisnya, seperti memasuki dunia pengalaman sekaligus dunia kenyataan dalam satu rangkaian. Gandrung Dance Performance in Petik Laut Tradition in Muncar Beach. Kedungrejo Village. Banyuwangi. East Java Banyuwangi. East Java (A Philosophical Studie. Gandrung Dance is a wealth of Banyuwanyi local culture and used as mascots of Banyuwangi. Gandrung Dance staged in various public events, including in the tradition of Petik Laut. Staging Gandrung Dance in the tradition of Petik Laut has special meaning because the tradition is believed to be the form of an offering to the god of the sea that confers fishermen plentiful fish. This study aims at determining the shape and philosophy Gandrung Dance that contained in the tradition of Petik Laut at Muncar Beach Banyuwangi. The method used is a qualitative method with descriptive qualitative analysis. Data were collected through interviews, observation, and documentation . econdary dat. The results showed that each demonstration of Gandrung in Banyuwangi always patterned Jejer. Paju and Seblang-Seblang. The play has three rounds, the first is jejer made up of Padha Nonton musical that consists of eight stanzas 32 lines, of each stanza is divided into four lines, then continued with the Padha Nonton musical on the verses corresponding to the color dance of the songs. Relin D. E (Pementasan Tari Gandrung. MUDRA Jurnal Seni Budaya Then the second is called Paju Gending hosted free on demand that will come to dance . dvanced gandrun. and third is Seblang Seblang which always begins with the musical or song called Seblang Lukito and other Gandrung dance performances in the tradition of petik laut philosophically, it it is observed from Padha Nonton song with its verse and free-form patterns that developed a philosophical picture of human Philosophical realm is expressed in dancing and singing which is a symbol of the message about life and living. Especially the scene of Seblang-Seblang which visualizes the combination of forms of motion and a beautiful song to convey messages about life and the lives of humans, likewise thanksgiving to God for this life. Then the end of the man is about human existence that is actualized in black and white. The struggle ended with the beat or tenderness in answering all the questions, a question that is never endless, as well as enters a world of experience and reality in a series. Keywords : Petik laut, gandrung dance, jejer, paju, seblang-seblang Proses Review : 15 Januari - 5 Februari 2017. Dinyatakan Lolos : 6 Februari 2017 PENDAHULUAN Nama Banyuwangi secara historis merupakan kelanjutan dari nama Blambangan. Sedangkan Banyuwangi jika dilihat dalam atlas merupakan sebuah kota yang berada paling ujung timur pulau Jawa. Secara kultural Banyuwangi menyerap central budaya Jawa. Bali. Madura. Sumatra. Arab. Cina. Bugis, dan Aceh. Setidaknya ramuan dari berbagai budaya itu menghasilkan suatu budaya yang unik dan menarik. Hal ini disebabkan arus transformasi budaya Banyuwangi begitu lancar, posisi Banyuwangi dekat dengan bandar-bandar . yang punya hubungan timbal balik dalam kepentingan politik,ekonomi,budaya, (Armaya,2007: . Dalam perkembangannya masyarakat Banyuwangi juga dilanda globalisasi. Zaman globalisasi merupakan era informasi dalam artian bahwa arus informasi bertambah lancar melalui alat-alat komunikasi yang canggih seperti celular, telephone, internet. E-mail, faximele, hal ini tentunya mempunyai dampak positif dan negatif atau lebih tepat lagi pada dinamika masyarakat Indonesia. Pengaruh era globalisasi tidak hanya berpengaruh positif saja seperti yang dipaparkan di atas namun juga bersifat negatif. Pengaruh negatif tersebut dapat dilihat dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat Indonesia, yang mulai terpengaruh oleh budaya luar yang masuk ke Indonesia. Salah satu contoh pengaruh negatif dari budaya luar adalah terjadinya pergaulan bebas di kalangan remaja, pemakaian obat-obat terlarang dan terjadinya hubungan seks bebas diluar nikah (Hasibuan, 2002 : . Pengaruh globalisasi ini menurut Peter Beyer . alam Hasibuan, 2002:. dinamika masyarakat dan kebudayaan kelihatannya sudah tak dapat dipungkiri lagi di zaman globalisasi ini. Sebagaimana terungkapkan dari makna globalisasi tersebut memang dunia ini semakin lama semakin bertambah sempit. Mengapa demikian? Karena Globalisasi menekankan ketergantungan satu negara dengan negara lain sehingga dunia ini menjadi satu tempat . singgle plac. dan kebudayaan pun menjadi Aua single CultureAy. Dalam pengaruh globalisasi yang cepat masyarakat Banyuwangi masih memegang tradisi Petik laut sebagai salah satu tradisi masyarakat Jawa untuk menyambut tahun baru Jawa yang dimulai pada bulan Sura. Bulan Sura sebagai awal tahun Jawa, khususnya bagi masyarakat Jawa banyak melakukan kegiatan untuk menyambutnya. Kegiatan penyambutan itu dilakukan baik menjelang maupun selama bulan Sura. Kegiatan tersebut biasanya tidak terlepas dari upaya introspeksi terhadap tindakan dimasa lalu dan harapan-harapan yang lebih baik ditahun baru, namun tidak sedikit pula masyarakat yang merayakan tahun baru yang hanya bertujuan untuk bersenang-senang saja. Sebaliknya budaya dan tradisi petik laut tersebut tetap dipertahankan oleh masyarakat pantai Muncar,Banyuwangi dan disaksikan setiap tahun baru Jawa/ mulai bulan MUDRA Jurnal Seni Budaya Eksistensi budaya Jawa yang telah mengkristal dalam setiap kehidupan masyarakat Jawa sehingga melahirkan sebuah tradisi ritual atau upacara, baik upacara adat Jawa murni atau upacara yang bersifat akulturasi dan inkulturasi. Suripto . 6: 86,. Seperti halnya Tradisi Petik laut umumnya dilaksanakan setiap tahun pada awal bulan pertama tahun baru Jawa, bertepatan dengan 1 Muharam. Perhitungan bulan sura dapat ditemukan dalam Kalender Jawa yang pertama kali diterbitkan oleh Raja Mataram Sultan Agung Haryokusumo 1940 Tahun yang lalu. Tradisi Petik laut dilaksanakan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan agar selalu diberi keselamatan selama melaut dan dianugrahi ikan yang banyak. Bulan Sura dalam penanggalan Jawa diyakini memiliki kekuatan magis. Untuk menghindari pengaruh buruk, masyarakat suku Jawa di Banyuwangi menggelar upacara tradisi petik laut. Demikian juga tradisi dibulan Sura yang dilakukan oleh masyarakat Jawa adalah sebagai upaya untuk menemukan jati dirinya agar selalu tetap eling lan waspada . elalu ingat dan Eling artinya harus tetap ingat siapa dirinya dan dari mana asal mulanya . angkan paraning dumad. , kedudukannya sebagai makhluk Tuhan, tugasnya sebagai khalifah manusia di bumi baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Waspada, artinya harus tetap cermat, terjaga, dan waspada terhadap segala godaan yang sifatnya menyesatkan. Godaan yang bersifat menyesatkan itu bisa menjauhkan diri dari sang pencipta. Dalam pertahanan budaya terhadap globalisasi di Banyuwangi terdapat pementasan Tari gandrung dalam tradisi Petik laut di pantai Muncar. Pementasan ini masih tetap bertahan disetiap pelaksanaan tradisi Petik laut. Pementasan tersebut mengandung makna filosofis dan budaya sebagai warisan leluhur yang diyakini relevan sepanjang jaman. Pementasan Tari Gandrung dalam Tradisi Petik laut memiliki keunikan dan keunggulan, keunikannya nampak pada pelaksanaan tradisi yang disakralkan, tahapan pementasan dimulai dari jejer, paju dan seblang-seblang. Penari dan penabuhnya berasal dari semua lapisan masyarakat dan semua agama sebagai penari dan penabuh, mereka berbaur dalam tradisi petik laut tersebut. Penarinya ada yang beragama Islam dan Hindu sedangkan keunggulannya, meski beragam agama berpartisipasi dalam pementasan tari gadrung yang tergabung dalam sanggar tari dan pentas dalam tradisi Petik laut Volume 32. Nomor 1. Februari 2017 tetapi tidak ada konflik dalam interaksinya, bahkan sebaliknya tari gandrung sebagai perekat kekerabatan, toleransi dan kerukunan masayarakat. Tari gandrung ini walaupun penabuh dan penarinya dari berbagai agama dan pementasannya dilakukan dalam tradisi petik laut namun tidak ada pengklaiman bahwa tari gandrung dalam tradisi Petik laut menjadi milik salah satu agama. II. TRADISI PETIK LAUT Menurut Heru Satoto . 7: . sejarah perkembangan relegi orang Jawa telah dimulai sejak zaman prasejarah, di jaman pada waktu nenek moyang orang Jawa beranggapan bahwa semua benda yang ada di dunia sekelilingnya mempunyai nyawa, dan semua yang bergerak dianggap hidup dan mempunyai kekuatan gaib atau mempunyai roh yang berwatak baik maupun jahat. Berdasarkan anggapan tersebut, agar kehidupannya senantiasa aman dan tentram maka mereka melakukan berbagai ritus atau upacara untuk memuja-mujanya. Adapun bentuknya antara lain berupa : selametan, ancak, buwangan, donga, kaul, nyadran, pepunden, sajen, ziarah, dan sebagainya. Pada prinsipnya ritual tersebut adalah permohonan terhadap penguasa disitu . hang mbahureks. agar diberikan keselamatan dan kesejahteraan. Demikian halnya tradisi Petik Laut dapat dijelaskan menurut arti harfiah sebagai berikut: AuPetikAy berarti ambil, pungut, atau peroleh. AyPetik lautAy berarti memetik, mengambil, memungut atau memperoleh hasil laut berupa ikan yang mampu menghidupi nelayan Muncar dan Kemudian adanya kepercayaan turun temurun dan adat istiadat masyarakat Muncar, sebagai ucapan syukur yang pada waktu itu masyarakat Muncar mengalami kejayaan dalam mata pencaharian dipesisir Muncar serta adanya bencana pada waktu itu . Jufri. Oktober 2. Upacara tradisional 1 Sura atau sering di kenal dengan Petik Laut. Istilah Sura berasal dari bahasa Jawa yakni Suro yang mengandung arti : Bulan pertama dalam penanggalan Jawa dalam kalender Islam Hijriyah. Arti lain dari kata Suro adalah berani, arti berani disini dimaksudkan adalah diambil dari sifat benda-benda pusaka kraton yang dikenal memiliki keberanian. Menurut kepercayaan orang Jawa 1 Suro melambangkan permulaan hidup, oleh karena itu banyak orang yang menghormati dan mensakralkan 1 Suro sebagai menghormati yang hidup (Haji Selamet. Oktober 2. Relin D. E (Pementasan Tari Gandrung. Bulan Sura dalam penanggalan Jawa diyakini memiliki kekuatan magis. Untuk menghindari pengaruh buruknya, masyarakat suku Jawa di Banyuwangi menggelar upacara ruwatan massal sebagai tradisi turun-temurun. Tradisi Petik laut ini juga sebagai ungkapan puji syukur kepada penguasa alam. Karena itu, seluruh ubo rampe-nya terbuat dari hasil bumi. Bulan Sura bagi masyarakat Jawa disebut bulan yang sakral . , masyarakat Jawa melakukan kegiatan budaya yang berupa tradisi syukuran kepada Tuhan pemberi rejeki dengan melakukan labuhan dan sedekahan di pantai, labuhan di puncak gunung, merti dusun atau suran, atau Bulan Sura juga dianggap sebagai bulan yang baik untuk mensucikan diri, maka sebagian masyarakat lain melakukan kegiatan pembersihan barang-barang berharga, seperti jamasan keris pusaka, jamasan kereta, dan sebagainya. Kegiatan budaya pada bulan Sura lainnya adalah laku misalnya cara nenepi . editasi untuk merenung dir. di tempat-tempat sakral misalnya di puncak gunung, tepi laut, makam, gua, pohon tua, dan sebagainya dan ada juga yang melakukan dengan cara lek-lekan . erjaga hingga pagi har. di tempat-tempat umum seperti di perempatan jalan dan pantai Muncar . Tradisi Petik laut yaitu tradisi tradisional masyarakat Jawa pada umumnya dan masyarakat Muncar pada khususnya dengan melaksanakan sedekah bumi. Tujuan tradisi ini adalah untuk tolak bala dan ucapan syukur atas apa yang diberikan Tuhan selama 1 tahun dengan cara pelaksanaan yang bermacam-macam seperti ruwat bumi, upacara selamatan dimakam leluhur, selamatan di pesisir pantai dan lain-lain. Sehari sebelum pelaksanaan tradisi petik laut di dahului dengan ritual ngider bumi. TARI GANDRUNG Tari gandrung merupakan gabungan dari sebuah tarian dan nyanyian. Penarinya adalah perempuan yang wajib bisa menyanyi dan menari Seni tari ini jika dimiripkan dengan tari daerah lainnya adalah di Jawa Tengah bernama Ledek, di Jawa Barat disebut Ronggeng,di Bali Tari Bungbung . , semua tarian ini penonton boleh masuk dalam gelanggang dan ikut menari bersama sesuai dengan gending . yang mereka minta MUDRA Jurnal Seni Budaya dengan sekedar memberi (Armaya, 2007: . Pakaian gandrung terdiri dari hiasan kepala disebut kuluk atau omprog dibentuk demikian rupa, dari muka mirip kuluk Janger Bali, dari samping mirip kuluk Wayang orang dan di bawah melingkar dari telinga kanan dan telinga kiri, runcian . , benang emas laksana rambut dipotong pendek. Sedang rambutnya sendiri tidak terlihat karena diikat ke dalam dan sebagai gantinya runcian benang emas tersebut. Hal ini akan mengingatkan kita kepada penari Topeng Betawi di Jakarta yang rambut penarinya tidak diperlihatkan, berlainan dengan penari-penari perempuan lainnya, meskipun memakai kuluk rambutnya masih tetap diperlihatkan seperti pada tari Srimpi, penari Janger Bali, penari wanita pada wayang orang. Menurut Scholte 1927 penari gandrung memakai selendang disampirkan pada bahu kanan dan kiri,hal ini sama dengan tari gambyong ,kemben gandrung agak lebih tinggi dari kemben yang dipakai tari gambyong,di belakang punggung terdapat bagian dari kemben yang memanjang selebar tiga jari menutup bagian tengah punggung sampai tengkuk dan dihias dengan emas. Di muka dada ada semacam tutup dada mulai dari leher ke bawah sampai batas pinggul ,terbuat dari kain beludru hitam lebarnya 25 sentimeter dihias dengan benang emas pada tepinya dan gambar bunga serta daun melingkar-lingkar,tusuk konde terbuat dari uang emas talen berbentuk bulan sabit dan uang emas ringgit ,rupiah disusun sedemikian rupa sehingga kelihatan amat indah. Bentuk tutup dada semacam ini sama dengan penari janger Bali,bedanya tutup dada penari janger Bali terbuat dari kulit dihiasi dengan ukiran ditatah Janger di pinggul kiri kanan terdapat probo yang bentuknya sama dengan penari wanita wayang wong,di muka memakai probo tetapi lebih besar berbentuk fandel menutup perut demikian juga di belakang menutup bagian belakang. Hal ini sama dengan penutup perut penari laki-laki Bali dalam kesenian Arya yang berperan sebagai raja dengan hiasan makara terbuat dari benang emas. Di pinggul dihias dengan selendang pelangi tiga warna merah,putih, dan hijau melingkar tinggi rendah dari pinggul kanan ke pinggul kiri dijepit MUDRA Jurnal Seni Budaya oleh pending warna perak sebagai ikat pinggang Sedangkan kain yang dipakai batik tulis pada umumnya dasar putih bunga coklat atau hitam yang disebut Gajahuling. Memakainya di bawah lutut sedikit ,mungkin hal ini diperlukan agar gerakannya lincah tidak terhalang oleh kain panjang dan kaki memakai kaos kaki memakai hiasan berbentuk kupu atau burung dibuat dari kulit warna emas. Alat musiknya sangat sederhana, terdiri dari sebuah kendang, sebuah gong, dua buah bonang, dua buah biola dan kluncing berbentuk segi tiga, pakaian niyogo . kain panjang memakai jas tutup warna hitam dan memakai blangkon warna coklat tanpa alas kaki . aki telanjan. Seni gandrung ini selain dipentaskan dalam acara dan juga dipentaskan dalam tradisi petik laut, dipentaskan juga dalam upacara lainnya, salah satunya adalah untuk memeriahkan perkawinan, khitanan, dan upacara lainnya. Seseorang yang mempunyai hajat tertentu,sering juga dipentaskan di pasar malam sampai pukul 24. Banyak anggota kelompok kesenian Gandrung berjumlah 8 orang, terdiri dari penari, tukang rias, pemukul instrumen dan pemukul gendang, pemukul gong, bonang, kluncing, dan dua orang penggesek Adapun ketua kelompok kesenian ini biasanya pemukul kluncing atau salah satu penggesek biola. Seni Gandrung merupakan sumber . dari seni tradisional daerah Banyuwangi, kecuali Seblang. Lagu-lagu Gandrung selain indah juga memikat para pendengarnya, demikian juga tarian Gandrung yang bermacam ragam itu,indah bahkan kadang menjurus ketarian yang erotis. Tergambar disini bahwa seni Gandrung merupakan kesenian tertua di daerah Banyuwangi. Tak heran bila hal ini dikonfrrontasikan dengan cerita dari buku AuBabad Blambangan (Darusuprapta,2006:. IV. SEJARAH GANDRUNG Tari Gandrung Banyuwangi berdasarkan sumber informasi yang penulis dapat ,asal mulanya dilakukan oleh laki-laki yang menjadi Gandrung ini dari sisa-sisa pasukan Blambangan dan Bali, setelah VOC terlibat perang besar-besaran menyerbu Bayu yang terkenal dengan puputan Bayu. Volume 32. Nomor 1. Februari 2017 Sehingga pasukan Blambangan yang kocar-kacir itu,mereka membentuk kelompok kecil antara desa yang satu ke desa yang lain. Sedang sisa pasukan Bali menyebar dimana-mana, bahkan mereka ada yang menjadi penduduk Blambangan dengan cara memperistri orang Blambangan. Keturunanketurunan mereka yang meneruskan tradisi orang tuanya, mendirikan kesenian Gandrung . (Armaya,2003: . Pasukan-pasukan Blambangan yang berkelompok kecil-kecil, mereka mendirikan Gandrung sebagai alat perjuangan. Artinya mereka untuk kontak dengan kawan-kawan sisa pasukan Blambangan, dengan cara mementaskan tarian Gandrung dengan nyanyian perjuangan . Setelah mereka berkelompok makin besar,mereka mengadakan penyerangan kecil-kecilan terhadap pasukan VOC. Jadi sisa-sisa pasukan Blambangan ini menggunakan Gandrung sebagai alat perjuangan. Karena Blambangan sejak pemerintahan Raja Mas Danurejo,di bawah kekuasaan Bali, maka dengan sendirinya Bali banyak mengirim pasukannya ke Blambangan. Akulturasi budaya terjadi di Blambangan, antara Bali dan Blambangan termasuk Kebiasaan pasukan Bali jika di Bali mereka selalu mengadakan penyambutan terhadap raja-rajanya, penyambutan ini diadakan dalam bentuk pesta seni antara lain Gandrung Bali dan kesenian Bali lainnya (Darusuprapta,1993: . Kebiasaan ini dibawa ke Blambangan ,karena penari Gandrung perempuan tidak ada maka mereka gantikan dengan salah satu prajurit yang Gandrungnya. Salah satu prajurit yang melarikan diri itu bernama Ketut Kinto. Sampai di desa Cungking Ketut Kinto menikah dengan gadis Blambangan dan mempunyai anak yang diberi nama Lukito. Dahulunya desa Cungking ini merupakan tempat pedepokan Mas Bagus Wongsokaryo ini, merupakan guru dan penasehat Pangeran Mas Tawangalun . awancara Mbah Sarjono. Oktober 2. Usia Ketut semakin tua maka kegiatan kesenian dilanjutkan oleh anaknya Lukito itu,seperti diketahui Ketut adalah salah satu prajurit Bali yang mendirikan Gandrung lelaki dikesatuannya . Pada jaman Lukito inilah kesenian Relin D. E (Pementasan Tari Gandrung. Gandrung laki-laki berkembang sesuai dengan perkembangan jaman maka kesenian Gandrung ini menyesuaikan diri dengan perkembangan itu Mulai dari pakaian, kuluk dan hiasan lainnya bahkan sampai pada gending-gending dengan warna Banyuwangi. Gandrung laki-laki yang populer bernama Marzan pada jaman Pementasan Gandrung Banyuwangi selalu punya pola sebagai berikut : Jejer. Paju, dan seblang-seblang. Untuk menghormati jasa Lukito maka lagu yang selalu dibawakan dalam seblangseblang itu dinamakan AuSeblang LukitoAy. Menurut Jefri, lirik dari bagian Seblang-seblang ini biasanya dilaksanakan menjelang subuh. Secara garis besar isi dari lirik seblang-seblang itu menceritakan tentang hidup dan kehidupan manusia di dunia ini ,tentang suka duka manusia,bekerja keras ,bersenang-senang, melaksanakan kewajiban hidup suami istri,bangun pagi pergi ke sungai dan bersembahyang sebagai rasa syukur kepada Tuhan Sang Pencipta alam semesta ini. Dan juga sarat dengan nasihat-nasihat yang penuh bijak, sehingga bila direnung dalam-dalam isi dari adegan terakhir Gandrung Banyuwangi yang berupa AySeblangseblangAy itu merupakan merupakan bentuk pendidikan yang baik bagi siapa saja yang menonton tontonan Gandrung Banyuwangi (Wawancara,23 Nopember,2. MUDRA Jurnal Seni Budaya Padha Nonton. Penyesuaian ini setiap tahun atau jaman selalu ada, akan tetapi tak pernah meninggalkan bentuk aslinya. Dan ternyata bila dikaji kesenian tradisioanal Gandrung Banyuwangi ini merupakan sumber dari kesenian tradisional lainnya ,terutama dari AutariannyaAy dan AunyanyiannyaAy yang berbentuk monumental itu. Memang jika dikaji terus dari nyanyian dan tariannya yang kini berkembang ,bisa ditarik kesimpulan : kesenian Gandrung Banyuwangi merupakan kesenian tertua di kawasan Blambangan yang kini bernama Banyuwangi. Mengingat kesenian Gandrung pada awalnya dibawa oleh pasukan Blambangan /Bali sebagai bentuk hiburan yang sebenarnya merupakan alat TARI GADRUNG DALAM TRADISI PETIK LAUT Sarjono mengatakan bahwa, tradisi Petik Laut ini juga merupakan ucapan rasa syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas hasil laut yang dianugrahkan kepada masyarakat Muncar dan sekitarnya. Penghasilan ikan di laut Muncar merupakan penghasilan pokok untuk keberlangsungan hidup masyarakat Muncar. Maka tradisi ini sangat penting untuk dipertahankan dan tetap dipelihara sebagai wujud rasa syukur kehadapanNya (Wawancara 23 Nopember,2. Sejak tahun 1895 bentuk Gandrung Laki-laki digantikan oleh Gandrung Perempuan, maka sejak itulah tontonan Gandrung Banyuwangi makin marak dan banyak dipelajari orang. Pelopor Gandrung Perempuan tercatat bernama Semi anak dari Mak Midah dari desa Cungking, maka tak heran Cungking adalah daerah potensial seni di Zaman itu. Mungkin hal ini tak lepas dari pengaruh Ki Mas Bagus Wongsokaryo yang dulu mendirikan padepokan olah kanuragan, di samping ilmu tentang seni (Armaya,2007: . Tradisi Petik Laut dilaksanakan selama 3 hari dengan berbagai rangkaian acara sebagai berikut. Menurut Haji Slamet acara diawali dengan melakukan malam Tasakuran/syukuran yakni malam menjelang pelaksanaan tradisi Petik Laut. Hampir seluruh masyarakat nelayan di Muncar melakukan tirakatan sampai pagi. Dengan satu harapan semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkahi dan pelaksanaan Petik Laut di pantai Muncar pada siang harinya selamat tidak ada halangan apapun (Wawancara,24 Nopember 2. Secara garis besar perjalanan sejarah Gandrung Banyuwangi,awalnya penari Gandrungnya adalah laki-laki kemudian digantikan oleh penari perempuan. Dari perjalanan ini baik musik pengiring dan pakaian serta hiasan Gandrung selalu ada perubahan ,contohnya musik pengiring Gandrung awalnya hanya kendang,bonang. ,gong,dan mulut . ang kemudian diganti sulin. yang akhirnya diganti dengan biola. Pada adegan jejer awalnya yang dibawakan lagu . Acara Ider Bumi dilaksanakan Pagi hari lebih kurang pukul 06. 00 WIB. Sesaji yang telah siap di dalam AuGitikAy dan ditempatkan di rumah Pawang diangkut menuju ke tempat upacara sambil terlebih dahulu diarak keliling dilingkungan perkampungan nelayan, diiringi oleh perangkat kesenian pengiring berupa Terbangan. Gandrung, bersama-sama dengan kegiatan kelompok masyarakat nelayan menuju ke tempat upacara pelepasan sesaji. Penari gandrung menari yang dikelilingi penononton seperti gambar berikut MUDRA Jurnal Seni Budaya Gambar 1. Gerak Paju tari Gandrung dalam tradisi Petik Laut . umber: Dok. Relin D. November 2. Menurut Haji Slamet mengatakan Upacara Pelepasan Sesaji, secara tradisi dilakukan di tempat yang telah ditentukan, biasanya mengambil tempat di tempat pelelangan ikan (TPI) pada tanggal 15 Suro, biasanya dimulai pada pukul 09. 00 WIB. Sesaji di tempatkan di perahu membawa Gitik yang berisikan sesaji ditempatkan paling depan dan kemudian diikuti oleh iring-iringan perahu nelayan yang membawanya ke tengah laut untuk dilarung. Sebagai kelanjutan dari upacara tersebut kemudian rombongan berziarah ke Makam Sayid Yusuf yang di Sembulungan (Wawancara,23 Nopember 2. Sebelum perahu Gitik . empat sesaj. membawa iring-iringan saji ke laut dilanjutkan dengan acara serimonial yang dihadiri oleh aparat pemerintahan, keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh nelayan. Puncak serimonial tersebut dibuka oleh Bupati Banyuwangi selaku kepala daerah. Dalam acara tersebut terdapat laporan ketua panitia, sambutan, kepala Desa Kedungrejo dan sambutan bupati Banyuwangi sekaligus membuka upacara petik laut . Sebelum larung saji ke laut ada pementasan tari gandrung. Tari ini dipentaskan di depan para pejabat dan undangan lainnya diareal pelaksanaan petik laut Dilanjutkan dengan memasang kail pancing emas di mulut kambing yang merupakan sesaji utama bertempat di Perahu Gitik. Setelah itu dilanjukan dengan upacara larung sesaji ke laut di pantai Muncar. Saat akan melarung sesaji ini diiringi oleh suasana tarian gandrung dengan pola gerak jejer sebelum sesaji di larung ke tengah laut sebagai acara/rangkaian puncak upacara petik laut di pantai muncar seperti foto berikut ini. Volume 32. Nomor 1. Februari 2017 Gambar 2. Gerak jejer Tari Gandrung dalam Tradisi Petik Laut . umber: Dok. Relin D. November 2. Menurut Jufri, persiapan pelaksanaan petik laut di pantai Muncar dilakukan 1 bulan sebelum pelaksanaan dihari puncaknya, diawali dengan melakukan persiapan administrasi sampai pembentukan kepanitian petik laut. Dalam penyelenggraan Petik Laut di pantai Muncar ini ada kepanitian khusus yang dibentuk oleh kelompok masyarakat nelayan Muncar, persiapan upacara hingga hari puncak Semua lapisan Masyarakat nelayan Muncar, yang dihadiri para pejabat dan undangan serta hadirin para pengunjung dari masyarakat disekitar Muncar ikut memeriahkan kegiatan Petik Laut Muncar tersebut (Wawancara, 23 Nopember Di dalam tradisi petik laut tahun 2015 dihadiri langsung oleh pejabat Pemerintah kabupaten Banyuwangi. Gambar 3. Bupati Banyuwangi Aswar Anaz sedang meninjau Pelaksanaan Petik Laut di pantai Muncar. Dok. Relin D. Nopember 2. Haji Slamet selaku tokoh masyarakat Muncar menjelaskan bahwa, dana petik laut di pantai Muncar ini diperoleh oleh Swadaya Nelayan, para Pengusaha Industri perikanan, dari para pihak Sponsor, dan bantuan dari pemerintah Daerah Banyuwangi. Relin D. E (Pementasan Tari Gandrung. Doa-doa yang digunakan adalah pengajian Istigosah, dan ritual macapat. Kelengkapan upacara yang dianggap penting adalah berbentuk sesaji berupa kue, masakan dan makanan yang berasal dari palawija yang bergantung dan bentuk lainnya. Sesaji yang paling menonjol berupa : kepala kambing AuKenditAy. Kue-kue sebanyak 44 macam. Buahbuahan, pancing emas. Candu, pisang saba mentah, pisang raja, nasi tumpeng, nasi gurih, nasi lawuh, ayam jantan hidup 2 ekor, kinangan dan lain-lain. Semua kelengkapan sesaji tersebut disusun sedemikian rupa dimasukkan ke dalam sebuah perahu kecil yang dihiasi beraneka ragam warna hiasan dari kertas dan biasanya disebut Gitik, dan kemudian dilabuh atau dilarung di laut. Dalam pelarungan tersebut selalu diiringi dengan tarian Gandrung (Wawancara,20 Nopember 2. Di dalam proses pelaksanaan tradisi petik laut juga selalu dimeriahkan dengan tarian Gandrung, tarian ini merupakan tari khas kabupaten Banyuwangi. Tari gandrung dipentaskan sebelum acara larung saji ke tengah laut. Tarian ini disaksikan oleh para undangan mulai dari Bupati Banyuwangi sampai masyarakat yang berkunjung saat pelaksanaan upacara petik laut. Tari Gandrung dalam tradisi petik laut mempunyai makna sakral. Adapun gerakannya tari gandrung dalam upacara petik laut ini menurut salah satu seniman Banyuwangi Endri Wahyuningsih sebagai berikut. Gerakan tari gandrung terdiri dari 1. Jingket, gerakan bahu ke atas dan ke bawah atau ke samping. Egol pantat yang lombo dan kerep, yakni gerakan pantat ke kanan ke kiri mengikuti iringan musik gendang. Sikap dan gerak jari, gerakan ini ada 3 . macam diantaranya: . Jejeb, yaitu posisi tiga jari merapat telunjuk merapat pada ibu jari. Cengkah, yaitu keempat jari merapat dan ibu jari tegak kearah telapak tangan. Ngeber, yaitu telapak tangan terbuka, tangan lurus sejak pangkal lengan sampai ujung jari. Permainan sampur, merupakan komunikasi antara pria dan wanita. Dalam hal ini ada beberapa macam antara lain: . Nantang yaitu sampur di lempar ke arah penari pada gong pertama dan seterusnya. Ngiplas atau nolak kanan dan kiri satu persatu. Ngumbul yaitu membuang ujung sampur ke atas ke dalam atau ke luar. Ngebyar, yaitu kedua ujung sampur dikibaskan arah ke dalam atau ke luar. MUDRA Jurnal Seni Budaya Ngiwir yaitu ujung sampur dijipit dan digetarkan. Nimpah yaitu ujung sampur disampirkan ke lengan kanan atau kiri pada gerakan sagah atau ngalang (Wawancara,19 Nopember 2. Gerakan tersebut digambarkan dalam foto sebagai berikut. Gambar 4. Gerak Seblang-Seblang Tari Gandrung dalam tradisi petik laut di Pantai Muncar . umber : Dok. Relin D. Nopember 2. Gerakan tari gandrung seperti seblang-seblang semua mengandung makna kehidupan sehingga tarian ini dipentaskan dalam tradisi petik laut membawa makna tersendiri sesuai dengan tujuan dilaksanakannya tradisi petik laut ini. Esensi tradisi petik laut yang dilakukan oleh masyarakat Jawa di pantai Muncar adalah sebagai upaya untuk menemukan jati dirinya agar selalu tetap eling lan waspada. Eling artinya harus tetap ingat siapa dirinya dan dari mana . angkan paraning dumad. 'asal mulanya', kedudukannya sebagai makhluk Tuhan, tugasnya sebagai manusia di bumi baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Waspada, artinya harus tetap cermat, terjaga, dan waspada terhadap segala godaan yang sifatnya menyesatkan. Karena sebenarnya godaan itu bisa menjauhkan diri dari sang Pencipta, sehingga dapat menjauhkan diri mencapai Manunggaling Kawula Gusti 'bersatunya makhluk dengan Sang Pencipta. Keyakinan semacam ini masih banyak diyakini dan dianut oleh sebagian masyarakat Jawa. Namun masyarakat modern sering memandang secara negatif. Sura dikaitkan dengan paham syirik dan kemusrikan. seperti itu timbul karena disebabkan kurangnya pemahaman sebagian masyarakat akan makna yang mendalam dibaliknya. Masyarakat Jawa mempunyai kesadaran makrokosmos. Dalam kesadaran ini diyakini bahwa Tuhan menciptakan kehidupan di alam semesta ini mencakup berbagai dimensi yang fisik maupun metafisik . MUDRA Jurnal Seni Budaya Sarjono mengatakan bahwa, tradisi Petik Laut ini juga merupakan ucapan rasa syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas hasil laut yang dianugrahkan kepada masyarakat Muncar dan sekitarnya. Penghasilan ikan di laut Muncar merupakan penghasilan pokok untuk keberlangsungan hidup masyarakat Muncar. Maka tradisi ini sangat tetap dipelihara sebagai wujud rasa syukur kehadapanNya ( Wawancara 23 Nopember,2. Menurut kepercayaan masyarakat Muncar bahwa Petik Laut adalah sebagai bentuk rasa bakti umat manusia kepada Tuhan . apa akasa, ibu bumi, bapa rina, ibu weng. dan segala manivestasi Tuhan dan sebagai ucapan terimakasih atas segala anugrah yang diberikan kepadanya. Sebagai bentuk hubungan manusia dengan Tuhan maka masyarakat Muncar menjaga kesimbangan antara manusia dengan Tuhan Hyang Maha Esa, pada masyarakat Desa Kedungrejo diwujudkan dengan melaksanakan Larung Saji dipantai Muncar. Serta acara selamatan, untuk membuang sengkala yang melambangkan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sebagai ucapan terima kasih kepada beliau sebagai Sang Pencipta alam semesta. Sehingga terwujud keharmonisan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. VI. FILOSOFIS TARI GANDRUNG DALAM TRADISI PETIK LAUT DI PANTAI MUNCAR Pementasan dan gerakan tari gandrung dalam tradisi petik laut mempunyai makna tersendiri. Setiap peragaan Gandrung Banyuwangi selalu berpola jejer, paju, dan seblang-seblang. Pola ini, merupakan filosofis hidup tentang manusia. Filosofis yang diekspresikan dalam bentuk tari dan nyanyi, pesan tentang hidup dan kehidupan nampak jelas di dalamnya. Terutama dalam adegan Auseblang-seblangAy, disini dari gerak tari dan nyanyi, merupakan satu kesatuan menjelma dalam bentuk yang indah untuk menyampaikan pesanpesan tentang hidup dan kehidupan, dengan segala suka dukanya sebagai manusia, kemudian akhir dari manusia itu sendiri, diaktualisasikan keberadaan manusia secara hitam dan putih. Perjuangan dan pergulatan akhirnya dengan hentakan atau kelembutan dalam menjawab semua pertanyaan yang muncul, suatu pertanyaan yang tak pernah habishabisnya, seperti memasuki dunia pengalaman dan dunia kenyataan sekaligus. Volume 32. Nomor 1. Februari 2017 Tradisi Petik laut sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan hasil laut yang melimpah, melalui tarian gandrung tersebut symbol suka duka, rasa syukur diekspresikan melalui gerakan tari. Menurut Armaya . diuraikan bahwa apa yang kita saksikan dalam peragaan Gandrung Banyuwangi, memasuki tahapan atau babak yang berjumlah tiga tahap atau babak. Babak pertama disebut jejer, gending yang dibawakan adalah lagu AuPadha NontonAy yang terdiri dari delapan bait 32 baris yang dibagi yang dibagi setiap baitnya menjadi empat baris. Kemudian babak kedua disebut AuPajuAy,gending yang dibawakan bebas sesuai permintaan yang akan ikut menari . aju gandrun. Dan, dibabak ketiga AuSeblang-seblangAy, yang selalu diawali dengan gending atau lagu yang berjudul AuSeblang LukitoAy,dan gending-gending lainnya. Babak pertama yang disebut jejer itu,selalu membawakan lagu Padha Nonton yang terdiri dari 32 baris, dibagi menjadi 8 bait, setiap baitnya terdiri empat baris. Biasanya setiap gending dinyanyikan satu baitnya . mpat bari. , diselingi dengan gending atau lagu lain, baru kemudian dilanjutkan dengan gending Padha Nonton bait-bait berikutnya, dengan gerak tari yang sesuai dengan dengan warna lagu yang dibawakan itu. Apabila kita amati lagu Padha nonton, syairnya berbentuk bebas. Sedangkan pada tahun 1945 penyair Chairil Anwar mencanangkan tentang puisi bebas, padahal puisi bebas itu telah dikenal dalam zaman Blambangan. Agar ada gambaran yang jelas, disini kami kutipkan syair lagu Padha Nonton itu sebagai berikut: Podho Nonton: Podho nonton Pudak sempal ring lelurung Yo pendite Pudak sempal lambeane poro putro Poro putro Kejolo ring kedung lewong Jalane jolo sutro Tampange tampang kencono Kembang menur Melik-melik ring bebentur Sun siram alom Sun petik mencirat ati Relin D. E (Pementasan Tari Gandrung. Lare angon Panculane gomok iku Tandurane kacang lanjaran Sak onting kanggo perawan Kembang gadong Sak golong ditowo sewu Nora murah nora larang Hang nowo wong adol kembang Kembang abang Selebrang tibo ring kasor Balenono mbah Teji Sun anteni ring paseban Ring paseban Dung Ki Demang mangan nginom Seleregan wong ngunus keris Gendam gendis buyar abyur Syair . Padha Nonton ini, merupakan puisi yang indah. Maka beralasan bila puisi ini selalu dibawakan dalam pembukaan dalam peragaan Gandrung, selain puisi ini indah isinyapun menggambarkan perjuangan rakyat Blambangan terhadap penjajah. Walaupun saat ini puisi Padha Nonton itu dibawakan tidak secara utuh, tidak mengurangi arti puisi sebagai puisi yang indah dan padat makna sejarah di dalamnya. Gandrung berdasar perjalanan sejarahnya dilakukan oleh seorang laki-laki, berasal dari prajurit Blambangan, mereka menyamar sebagai gandrung sebagai alat perjuangan. Mereka dapat berkomunikasi sesamanya, dari para prajurit sisa-sisa pasukan Blambangan yang cerai berai itu. Dari pertemuan mereka, terbentuk pasukan kecil-kecilan yang sering mengganggu pasukan kompeni Belanda. Maka sangat beralasan jika lagu Padha Nonton merupakan lagu wajib pembukaan peragaan Gandrung, kepada para penonton. Hanya dalam perkembangan selanjutnya. Gandrung laki-laki digantikan oleh Gandrung perempuan, tentu dalam rangka menyesuaikan terhadap perkembangan jaman. Dan gending-gending yang dibawakan oleh Gandrung perempuan, cenderung bernada erotis dan romantis, walau lagu seperti Padha nonton mereka bawakan kendati tidak secara Perubahan Gandrung laki-laki ke Gandrung perempuan ini ada sejarahnya, yaitu oleh Semi anak Mak Midah pada tahun 1895 dari desa Cungking. MUDRA Jurnal Seni Budaya Menurut Ilham . 6: . puisi Padha Nonton kalau kita amati, selalu timbul pertanyaan. Siapa yang harus ditonton? Sedang jika kita analisa dari baris-baris puisinya, kita mendapatkan kata AukembangAy sebanyak empat kata bahkan ada kata Aupenjual kembangAy, siapa mereka ini? Puisi Padha nonton ini indah sekali penuh nada simbolisme, hal ini bisa kita tangkap pada bait ketujuh dari bait kedelapan, yang brekaitan dengan makna kembang Pengertian AukembangAydisini banyak berkaitan dengan hal-hal kematian. Lalu siapa yang mati dalam puisi Padha nonton ini? Hal ini bisa kita lihat pada bait-bait awal dari puisi ini yaitu para putra . aksudnya para putra Blambanga. Ada apa dengan putra Blambangan itu? Disini kita tangkap pada bait ke dua yang berbunyi Aupara putra kena jala, jalane jala sutra,tampange tampang kenconoAy. Jelas maknanya tentang bujuk rayu Kompeni Belanda dengan iming-iming harta benda, yang menimbulkan perpecahan diantara para putra Blambangan. Ada yang kena jala sutra itu, tapi ada pula yang menolak bekerjasama dengan Kompeni Belanda. Dari kata Aujala sutraAy ini, terbuka tabir simbolis puisi ini. Bila hal ini kita konfrontasikan dengan cerita dalam babad Blambangan ,yaitu disaat terjadinya Perang Bayu atau Puputan Bayu, dimana terjadi pembantaian para putra Blambangan. Dan seperti kita ketahui bahwa pihak Kompeni Belanda dalam menghadapi kerajaan Aekerajaan di Nusantara (Indonesi. selalu menggunakan politik adu domba . evide at imper. yang diteruskan oleh pemerintah Hindia Belanda saat menjajah di Banyuwangi. Dengan politik adu domba atau pecah belah ini, terkoyak persatuan dan kesatuan pasukan Blambangan. Dimana sesama putra Blambangan saling diadu domba dengan politik pecah belah yang licik. Kehancuran Blambangan seperti yang diceritakan dalam babad Blambangan ternyata pejuang-pejuang Blambangan bukan hanya menghadapi Belanda saja, tetapi mereka yang bergabung dalam pasukan Kompeni Belanda,yang di dalamnya banyak bangsa sendiri termasuk pasukan Blambangan sendiri yang bekerjasama dengan Kompeni. Peristiwa sejarah inilah selalu AuditontonAy . ntuk dibaca dihayati dan dipelajar. sebagai pesan penulis puisi AuPadha NontonAy kepada generasi muda Blambangan. Sebagai suatu suatu pelajaran sejarah, untuk mengambil hikmahnya, yaitu dengan kesatuan dan persatuanlah penjajah dapat kita MUDRA Jurnal Seni Budaya Tragis memang sejarah Blambangan masa lalu,hal ini tepat digambarkan pada bait ketujuh dan kedelapan yang berbunyi sebagai berikut: Kembang abang . unga mera. Selebrang tiba ring kasur. elendang jatuh dikasu. Balenono mbah Teji. embalilah mbah Tej. Sun anteni ring paseban . aya tunggu di paseba. Kembang abang . unga mera. merupakan gambaran peperangan yang banyak menimbulkan jatuh korban . Kemudian pada baris kedua AuSelebrang tiba ring kasurAy, hal ini menggambarkan jatuh korban terkapar di bumi Blambangan . iba ring kasu. , sedang baris ketiga dan keempat . ait ketuju. , sebaliknya dihubungkan dengan bait kedelapan sebab disini kata AupasebanAy sebagai petunjuk hal ini. Bahasa yang dituangkan dalam nyanyian padha nonoton menurut teori semiotika oleh Saussure dalam Chris Barker . 4: . bahasa adalah medium utama yang digunakan dalam pembentukan dan penyampaian makna-manka cultural. Bahasa adalah medium yang dipakai untuk membentuk pengetahuan tentang diri kita dan dunia Dalam hal tari gandrung yang melantunkan slagu padha nonton mengandung bahasanya mengandung makna relegi, sosial, budaya, magis sebagai bentuk ekspresi pengetahuan, cultural, sosial dan kepercayaan masyarakat setempat. Misalnya pada saat petik laut lagu padha nonton mempunyai Balenono mbah Teji, mengandung makna filosofis yaitu mengidentifikasikan tentang Auorang tua yang dihormatiAy, bisa juga Auorang tua yang saktiAy, tetapi juga berkonotasi Aubinatang yang dikeramatkanAy. Suatu kebiasaan dimasyarakat kita, bila kita berada di tengah hutan rimba, untuk binatang harimau . kita tidak menyebut harimau melainkan dengan sebutan AuMbahAy. Dan kata AuTejiAu sering digunakan untuk kuda, misalnya Aujaran tejiAy. Kalau Mbah Teji disini AukudaAy sesuai benar baris keempat pada bait ketujuh yang berbunyi AySun anteni ring pasebanAy artinya kutunggu di paseban . empat Lalu bisa terjadi Auorang saktiAy atau Auorang yang dihormatiAy untuk menghadap dengan menunggang kuda, mungkin pula kata Teji berasal dari Taji, karena perubahan pengucapan dari Teji menjadi Taji. Arti kata Taji adalah alat ampuh dari ayam jago yang berupa jalu, suatu alat pembunuh yang ada pada kaki ayam jago. Hal ini tak merubah arti simbolis puisi ini yaitu Auorang tua yang sakti Auatau Auorang tua yang dihormatiAy. Volume 32. Nomor 1. Februari 2017 Mengingat taji atau teji suatu alat atau kekuatan yang dimiliki oleh orang yang memilikinya itu ,kemudian apa yang terjadi setelah mereka tiba diAyPasebanAy?. Suatu kejadian yang tragis tak terelakkan,hal ini tergambar pada bait kedelapan yang merupakan bait penutup dalam puisi Padha Nonton yang berbunyi sebagai berikut: Ring Paseban Dung Ki Demang lagi makan nginum Seleregan suarane wong ngunus keris Gendam gendis buyar abyur Terjemahan: Di Paseban . empat menghadap,pertemua. Saat ini Ki Demang makan minum . enang-senan. Berderet suara keris terhunus oleh seseorang Hancur dalam kemusnahan . Jelas dalam bait kedelapan ini,orang tua yang dihormati atau orang sakti itu tak lain adalah Ki Demang. Seperti kita ketahui bahwa tidak semua bangsawan Blambangan itu bekerjasama dengan Kompeni Belanda. Ternyata Ki Demang orang yang tak mau Kompeni Belanda,dengan berbagai usaha Ki Demang dapat datang ke paseban yang kemudian dibunuh. Muslihat Kompeni belanda yang diteruskan dengan pemerintah Hindia Belanda, berunding kemudian ditangkap atau dibunuh mewarnai sejarah perkembangan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang Apabila dihubungan dengan paandangan Berger, 2000:55. Simbol-simbol merupakan ungkapan aksidental yang sifatnya lebih individu, tertutup dan berhubungan dengan sejarah kehidupan Dalam kontek ini Puisi padha nonton ini sifatnya sangat tertutup berbahasa klise dan merupakan berceritra tentang individu ki demang sebagai seorang pemimpin yang siap melakukan peperangan sampai titik darah penghabisan. Puisi Padha Nonton ini dibawakan oleh Gandrung dengan bermacam versi yang berlainan. Disinilah letak uniknya puisi atau lagu Padha Nonton itu. Dengan sendirinya untuk menafsirkan makna puisi ini,mungkin bisa berbeda. Ada juga yang menafsirkan dengan gaya romantis, tentang para pembesar yang suka mengumbar hawa nafsunya dengan perempuan-perempuan di sini. Apa yang diberikan terhadap makna puisi Padha Nonton membuat puisi ini mempunyai arti penting, setidak-tidaknya sesuatu yang yang harus diperhitungkan dalam Relin D. E (Pementasan Tari Gandrung. membahas karya sastra. Ada satu lagi pertanyaan kapan sebenarnya puisi ini diciptakan?. Mengingat karya-karya seni jaman kuno tidak mencantumkan nama pengarangnya. Oleh karena itu lagu selalu dibawakan sebagai pembukaan peragaan Gandrung dan sebagai alat perjuangan. Maka dapat diperkirakan bahwa lagu Padha Nonton tercipta pada abad ke-18,setidaknya diakhir abad ke-17,karena seluruh Blambangan Kompeni Belanda. (Armaya,2007: . Gambar 5. Gerakan Padha Nonton Penari Gandrung Dalam Tradisi Petik Laut. (Dok. Relin. November 2. Gerakan pada nonton dalam Tari gandrung di atas mengandung nilai yang dalam sebagai gambaran peristiwa sejarah yang direkam dalam puisi atau lagu Padha Nonton juga mengandung ajaran yang Karena merupakan pendidikan politik bagi generasi penerus waktu itu atas sejarah Intinya kesalahan-kesalahan dimasa lalu tidak terulang lagi. Sejarah masa lalu yang terekam dalam puisi Padha Nonton kini tak pernah basi untuk digali. Sebagai bahan yang harus direnungkan oleh generasi penerus Blambangan pada jamannya ketika menghadapi musuh dari luar bumi Blambangan. Babak kedua yang disebut AuPajuAy merupakan peragaan kegembiraan. Disini bermacam jenis lagu muncul sesuai dengan permintaan si paju . ang maj. ikut menari bersama Gandrung. Antara lagu dengan lagu lainnya mempunyai perbedaan gerak tari yang selaras dengan semangat dan citraan dari lagu yang dibawakannya. Sebagai contoh lagu AuPecariPutihAy dimana tarian yang disuguhkan adalah tarian Bali yang penuh dengan dinamika Setiap lagu dan tarian yang disuguhkan itu,antara si paju dan Gandrung cenderung dalam MUDRA Jurnal Seni Budaya persaingan untuk mampu menari yang baik. Disinilah terasa kepuasan dalam kebebasan yang artistik, disaat mereka yang tengah menari sebagai seniman pencipta karya seni yang kreatif. Demikianlah babak kedua AypajuAy mempunyai arti penting dalam proses penciptaan seni . yanyi dan tar. Peragaan yang mengandung ajaran dan pelajaran seni untuk pengembangan kesenian kepada generasi penerus Sampailah pembicaraan kita pada babak ketiga yang dinamakan AuSeblang-seblangAy. Seblang adalah upacara adat yang diselenggarakan dalam bentuk tarian dengan iringan gamelan dan paduan Karena itu seblang ini merupakan upacara adat yang mengandung unsur kesenian. Kegiatan ini bersifat ritual dan dianggap sakral oleh penduduk setempat, karena penari seblang menari dalam keadaan trans (Sudibyo,hal. Upacara seblang ini tidak diketahui lagi sejak kapan adanya, namun yang jelas sekitar tahun 1770-an Mas Ayu (Say. Wiwit,salah seorang pejuang Blambangan dalam VOC, (Pigeaud,1932: . Semi yang legendaris peneri gandrung pertama sebelum menjadi gandrung profesional pada sekitar 1895 juga pernah menarikan seblang (Scholte,1927:. Pada waktu ini upacara seblang,hanya diselenggarakan di desa Ulihsari dan Bakungan kecamatan Glagah. Gerakan seblang-seblang pada gandrung saat petik laut menyimbolkan gerakan untuk menetralisir bahaya dan masyarakat Muncar sangat percaya, apabila tidak melakukan ritual petik laut maka desa yang bersangkutan akan mengalami musibah atau pageblug,bencana alam, banyak pencuri, piaraan dan tanaman yang gagal karena hama, hasil tangkapan ikan di laut juga akan minim dan lain-lain (Sudibyo,1994: . Gerakan seblang-seblang ini di mana penari gandrung mengangkat selendang dengan jalan berputar-putar/ider bumi dengan melantunkan lagu AuSeblang LukitoAy, sedang lagu AuSeblang LukitoAy adalah lagu yang harus dibawakan, mengingat lagu ini mempunyai kedudukan khusus sebagai berikut: Seblang Lukito : Seblang Lukito Wis wayahe bang bang wetan Kakang kakang ngliliro Wis wayahe suwung kokoroyuk Lawang gede wonten kang jagi MUDRA Jurnal Seni Budaya Medalo ring lawang butulan Wis biasane ngemong adine Sak tinjak balia mulih Dalam pandangan Standey j. Grenz . kata-kata adalah sebagai ekspresi sepanjang sejarah yang mempengaruhi prilaku liguistik manusia. Syair Tari Gandrung dengan lagu seblang lukito merupakan ekspresi sejarah yang terkandung dalam liguistik masyarakat banyuwangi yang ditembangkan dalam pementasan tari gandrung dan juga mengandung makan filosofis. Makna filosofis kata Seblang adalah suatu gerak tarian secara tidak sadar untuk menolak penyakit,rintangan,tantangan. Agar desanya bersih dari gangguan penyakit ,dalam suasana hidup sehat. Untuk kajian yang mendalam tentang Seblang, harus diadakan penelitian agar ditemukan jawaban yang tuntas tentang Seblang itu Kemudian penulis telusuri arti kata Lukento, ada juga yang menulis dengan Lukito yang mungkin sebenarnya harus ditulis dengan kata Lokato . ejala bahasa apoko. Kata AuLokatoAy adalah bahasa Banyuwangi yang berarti pergi ,meskipun kata AuLokatoAy berkonotasi menyuruh pergi . engusir/mara. tetapi artinya juga pergi. Menjelang akhir pementasan, apabila terdengar gending Candra dewi, tari gandrung dalam gerakan seblang seakan menunjukan kegembiraannya dan melakukan AutundhikanAo . dengan cara melempar AusampurAy . kepada penonton. Pementasan Tari Gandrung dalam petik laut apabila dilihat dari teori relegi Durkheim, dasar-dasar religi ada lima komponen religi yaitu: . Emosi keamanan . etaran jiw. yang menyebabkan manusia didorong untuk berprilaku keagamaan, . Sistem kepercayaan atau bayangan-bayangan manusia tentang bentuk dunia, alam gaib, hidup, maut, dan sebagainya, . Sistem ritual dan upacara keagamaan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia gaib berdasarkan sistem kepercayaan tersebut, . Kelompok keagamaan atau kesatuan-kesatuan sosial yang mengkonsepsikan dan mengaktifkan religi berikut upacara-upacara keagamaan, . Alat-alat fisik yang digunakan (Koentjaraningrat, 1997: 201-. Pementasan Gandrung di tengah acara petik laut sebenarnya mempunyai fungsi relegi dan ajaran-ajaran tentang manusia dan hakekat hidup dan manusia yakni hendaknya selalu bersikap menghormati Volume 32. Nomor 1. Februari 2017 Hyang maha Kuasa. Tari gandrung berkaitan dengan system relegi petik laut yang mengandung emosi keagamaan masyarakat Banyuwangi serta mengandung unsur kepercayaan yang kuat bahwa dengan dipentaskannya tari gandrung diyakini berbagai kendala dan rintangan yang dihadapi masyarakat akan sirna dengan sendirinya. Pementasan Tari Gandrung dilihat dari teori fungsi dari Talcott Parson dalam Hamilton . 0 : . menguraikan bahwa fungsional/ function yang artinya kegunaan, dalam usaha untuk mencapai kegunaan yang maksimal terlihat berbagai fungsi secara Suatu masyarakat yang hidup merupakan sistem sosial dan suatu sistem sosial mempunyai struktur juga seperti halnya bumi, makhluk atau Bentuk dan struktur sosial pada dimensi didik maupun diferensinya dapat memahami dan mengerti latar belakang kehidupan kekerabatan, ekonomi, religi, mithologi dan sektor-sektor lain dalam kehidupan masyarakatAy Berkaitan dengan fungsi tari Gandrung mempunyai kegunaan dan fungsi secara bersama sesuai dengan latar belakang relegi, mithologi dan kehidupan bersama dalam kehidupan masyarakat muncar yang dalam tradisi petik laut sebagai simbol tarian ucapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang sudah diberikan kepada masyarakat Muncar Banyuwangi. Bila perhatikan dengan cermat peragaan tari Gandrung selalu dimulai dengan adegan AujejerAo, kemudian AupajuAy dan Auseblang-seblangAy, itu semua menggambarkan perjalanan hidup manusia. Jika dikaitkan dengan pandangan Spradley . menguraikan bahwa semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan simbol-simbol dan makna hanya dapat disimpan dalam simbol. Berdasarkan pendapat ini bahwa gerakan dan nyanyian tari gandrung dalam petik laut semua merupakan simbol budaya yang tersimpan melalui simbol-simbool tari gandrung baik dalam gerakannya dan dalam nyanyiannya. Sepertti misalnya adegan AujejerAy menceritakan tentang manusia dengan perjuangannya, pengenalan tentang arti hidup, hidup sebagai kenyataan . yang berjuang terus menerus untuk mencapai kebahagiaan hidup baik yang bersifat material dan spiritual. Sedang dalam adegan AupajuAy melukiskan keberhasilan dalam hidupnya, lalu mengadakan pesta pora dengan bersenang-senang. Bersenangsenang disini mempunyai makna untuk sekedar melupakan perjuangan yang berat dalam hidup ini Relin D. E (Pementasan Tari Gandrung. yang penuh derita. Sebab untuk memenangkan sesuatu perjuangan dalam hidup, penuh duka dan air mata dan kemudian penuh tawa ria, merupakan gambaran yang manusiawi. Dan akhirnya adegan Auseblang-seblangAy merupakan akhir dari perjalanan hidup manusia ini,penuh upacara, memuja dan memuji Hyang Murbeng Dumadi/Tuhan Yang Esa. Rasa bersalah atau berdosa, bertobat dan minta Kita datang dari Hyang Murbeng Dumadi dan kembali kepada-Nya. Tuhan Yang Maha Kuasa pemberi hidup dan mati, akhirnya manusia meninggalkan alam fana ini . okat-perg. menuju alam Sehingga pada akhirnya peragaan Gandrung dengan jejer, paju, dan Seblang-seblang merupakan ekspresi filosofis hidup manusia. VII. SIMPULAN Tari gandrung merupakan puncak hasil budaya daerah Banyuwangi dengan unsur-unsur seni yang fundamental yang berakar pada sejarah lokal Banyuwangi. Bahkan tari Gandrung Banyuwangi merupakan sumber atau inti dari kesenian yang ada di Banyuwangi. Baik dari nyanyianya dan juga bentuk tariannya. Pementasan tari gandrung dalam tradisi petik laut merupakan salah satu syarat kesempurnaan jalannya tradisi ini. Dalam tradisi petik laut Tari gandrung dipentaskan bersamaan dengan persiapan larung sesaji ke laut. Tahapan pementasan ada tiga pola yakni pertama jejer, paju dan seblang-seblang. Di dalam gerakan jejer, gending terdiri dari lagu Padha Nonton yang berjumlah delapan bait, 32 baris. Setiap baitnya terbagi menjadi empat baris, baru kemudian dilanjutkan dengan gending Padha Nonton pada baitbait berikutnya dengan gerak tari yang sesuai warna lagu yang dibawakan. Kemudian babak kedua disebut Paju gending yang dibawakan bebas sesuai permintaan yang akan ikut menari . aju gandrun. dan ketiga Seblang-seblang yang selalu diawali dengan gending atau lagu yang berjudul Seblang Lukito dan gending-gending lainnya. Pementasan tari gandrung dalam tradisi Petik laut merupakan wujud filosfis yang disimbolkan oleh puisi atau lagu Seblang Lukento sebagai simbol akhir perjalanan hidup manusia dalam memuja dan memuji Hyang Murbeng Dumadi. Akhirnya, hakekat gerak Gandrung dengan jejer, paju dan Seblang-seblang merupakan ekspresi falsafah hidup manusia dalam prilaku keseharian dalam kehidupan sosial relegius. MUDRA Jurnal Seni Budaya DAFTAR RUJUKAN Armaya,2007: Upaya Pelestarian Kesenian Banyuwangi di Era Globalisasi, kumpulan makalah dari Ufuk Kebudayaan Banyuwangi tahun 2007. Barker,Chris, 2004. Cultural Studies Teori dan Praktek. Yogjakarta. Bentang (PT Bentang Pustak.