JIGE 5 . JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige DOI: https://doi. org/10. 55681/jige. Analisis Strategi Linguistik Richard Eliezer: Penggunaan Frasa "Tidak Tahu" dan "Saya Rasa" di Pengadilan. Jefriyanto Saud1*. Miftahulkhairah Anwar2. Prihantoro3 Pendidikan Bahasa Inggris. Universitas Negeri Gorontalo. Gorontalo. Indonesia Linguistik Terapan. Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta. Jakarta. Indonesia Jurusan Bahasa Inggris. Universitas Diponegoro. Semarang. Indonesia *Corresponding author email: jefri. saud@ung. Article Info Article history: Received September 15, 2024 Approved December 12, 2024 Keywords: Forensik Linguistik. Corpus Linguistik. ABSTRACT Language serves as a strategic tool for managing legal and emotional pressures during trials. This study focuses on the use of the phrases "tidak tahu" and "saya rasa" in Richard Eliezer's testimony in the Brigadier J case, reflecting defensive communication strategies. The issues examined are how these phrases are used to evade legal responsibility and how emotional pressure influences speech patterns. Using a descriptive quantitative and qualitative approach, the results indicate that the phrase Autidak tahu" . sed 41 time. is employed to avoid accountability, while "saya rasa" . sed 4 time. reflects subjective opinions aimed at risk mitigation. These findings reveal a close relationship between the emotional pressure experienced by the witness and their language choices, as well as the importance of linguistic analysis in understanding legal communication. ABSTRAK Bahasa berperan sebagai alat strategis untuk mengelola tekanan hukum dan emosional selama persidangan. Penelitian ini berfokus pada penggunaan frasa "tidak tahu" dan "saya rasa" dalam kesaksian Richard Eliezer pada kasus Brigadir J, yang mencerminkan strategi komunikasi defensif. Masalah yang dikaji adalah bagaimana frasa tersebut digunakan untuk menghindari tanggung jawab hukum dan bagaimana tekanan emosional memengaruhi cara berbicara. Dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif, hasil menunjukkan bahwa frasa "tidak tahu" . digunakan untuk menghindar, sementara "saya rasa" . mencerminkan opini subjektif untuk mitigasi risiko. Temuan ini mengungkapkan hubungan erat antara tekanan emosional saksi dan pilihan bahasanya, serta pentingnya analisis linguistik dalam memahami komunikasi hukum. Copyright A 2024. The Author. This is an open access article under the CCAeBY-SA license How to cite: Saud. Anwar. , & Prihantoro. Analisis Strategi Linguistik Richard Eliezer: Penggunaan Frasa "Tidak Tahu" dan "Saya Rasa" di Pengadilan. Jurnal Ilmiah Global Education, 5. , 2109Ae2119. https://doi. org/10. 55681/jige. Analisis Strategi Linguistik Richard Eliezer Article A - 2109 Saud et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . PENDAHULUAN Bahasa adalah medium fundamental dalam komunikasi manusia yang mencerminkan kompleksitas pikiran, budaya, dan hubungan sosial. Dalam ranah linguistik, bahasa dipelajari secara sistematis untuk memahami struktur, fungsi, dan penggunaannya di berbagai konteks. Salah satu cabang linguistik yang semakin mendapat perhatian adalah linguistik forensik, yaitu kajian penggunaan bahasa dalam konteks hukum dan kriminal. Linguistik forensik memadukan analisis bahasa dengan aspek legal untuk mengungkap kebenaran atau menjelaskan fenomena komunikasi yang terkait dengan kasus hukum. Brezina . menyatakan bahwa linguistik forensik memberikan pendekatan berbasis data yang memungkinkan analisis bahasa dilakukan secara objektif dan terukur, terutama dalam konteks hukum yang membutuhkan keakuratan Sementara itu. Peng . menekankan pentingnya transfer pembelajaran dalam membangun model analisis bahasa yang dapat digunakan untuk skala besar, di mana efisiensi menjadi krusial dalam menganalisis data hukum yang masif. Pendekatan ini tidak hanya relevan untuk memahami pola linguistik, tetapi juga dapat mengidentifikasi makna tersembunyi yang mungkin digunakan untuk manipulasi dalam konteks hukum. Teknologi analisis teks berbasis pembelajaran mesin semakin memungkinkan penelitian terhadap data linguistik dilakukan secara lebih akurat dan efisien. Qi . mencatat bahwa perangkat lunak berbasis pemrosesan bahasa alami (Natural Language Processing/NLP) dapat mendukung analisis bahasa lintas budaya dan bahasa, dengan memberikan kerangka untuk memahami pola linguistik yang kompleks. Selain itu. Keung . menunjukkan bahwa data multibahasa memberikan peluang untuk mengidentifikasi pola linguistik universal yang relevan dalam berbagai konteks, termasuk persidangan. Pandangan ini didasarkan pada premis bahwa bahasa, meskipun beragam, memiliki struktur dan fungsi yang dapat dibandingkan secara sistematis, memungkinkan pendekatan lintas bahasa untuk diterapkan dalam konteks hukum. Kedua pandangan ini menggarisbawahi bagaimana teknologi memungkinkan analisis linguistik dilakukan secara lebih mendalam, sehingga menghasilkan temuan yang dapat diandalkan. Psikolinguistik, di sisi lain, menawarkan pendekatan yang berbeda dengan meneliti proses kognitif di balik produksi, pemahaman, dan interpretasi bahasa. Dhingra . berpendapat bahwa model bahasa berbasis waktu dapat menangkap dinamika temporal dalam penggunaan bahasa, yang menunjukkan bagaimana perubahan konteks waktu memengaruhi cara bahasa Perspektif ini menyoroti bahwa bahasa bukanlah fenomena statis. melainkan dinamis dan terus dipengaruhi oleh situasi serta kondisi emosional individu. Pereira et al. , di sisi lain, menunjukkan bahwa aktivitas otak manusia dapat dihubungkan secara langsung dengan proses pengkodean makna linguistik, memberikan wawasan baru tentang hubungan antara struktur neurologis dan produksi bahasa. Dengan menghubungkan proses kognitif dan linguistik, psikolinguistik memberikan alat penting untuk memahami bagaimana tekanan situasional memengaruhi narasi dan kesaksian yang diberikan di pengadilan. Dalam perspektif linguistik korpus, bahasa dianalisis melalui kumpulan data besar . yang mencakup teks atau transkrip dalam jumlah besar, yang sering kali mencerminkan pola kolektif dalam penggunaan bahasa. Analisis korpus memberikan alat penting untuk mendeteksi pola linguistik yang tidak terlihat melalui analisis manual. Chen . mengembangkan korpus domain-spesifik yang dirancang untuk mengidentifikasi kesetaraan semantik dalam kalimat, yang relevan untuk membandingkan pernyataan saksi atau terdakwa dalam konteks hukum. Studi ini menunjukkan bahwa analisis kuantitatif terhadap teks hukum dapat memberikan wawasan objektif tentang pola komunikasi yang digunakan dalam membangun narasi di pengadilan. Brezina . menunjukkan bagaimana statistik linguistik dapat digunakan untuk mengukur hubungan antara frekuensi kata dan pola komunikasi, yang sering kali mencerminkan niat atau motif dalam penggunaan bahasa. Qi . menegaskan bahwa analisis frekuensi kata dapat mengungkap pola sistemik yang tidak kasat mata dalam narasi, terutama ketika digunakan untuk analisis data hukum. Selain itu. Keung . memberikan wawasan tentang bagaimana pola Analisis Strategi Linguistik Richard Eliezer Article A - 2110 Saud et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . linguistik dapat berubah tergantung pada audiens, mengindikasikan bahwa bahasa sering kali dimodifikasi secara strategis dalam situasi tertentu, termasuk persidangan. Linguistik forensik, sebagai cabang yang menghubungkan linguistik dan hukum, telah digunakan dalam berbagai kasus, termasuk identifikasi plagiarisme, analisis dokumen palsu, dan bahkan analisis ancaman terorisme. Stanovsky . berpendapat bahwa linguistik forensik memiliki potensi untuk membongkar makna tersembunyi dalam teks hukum melalui analisis mendalam terhadap sintaksis dan semantik. Perspektif ini menyoroti pentingnya fokus pada elemen-elemen struktural bahasa yang mungkin digunakan untuk menyampaikan makna Sebaliknya. Li . lebih berfokus pada pentingnya representasi teks yang kuat untuk mencegah manipulasi data linguistik dalam kasus hukum. Dalam kasus persidangan, analisis linguistik dapat membantu memahami bagaimana bahasa digunakan untuk membangun narasi atau mempertahankan posisi hukum. Kudo . menunjukkan bahwa regularisasi subkata dapat meningkatkan analisis terhadap teks yang kompleks, seperti pernyataan hukum atau dokumen pengadilan. Pendekatan ini relevan dalam memahami bagaimana makna disusun secara strategis untuk memengaruhi audiens, termasuk hakim dan juri. Psikolinguistik memberikan wawasan penting tentang bagaimana tekanan emosional memengaruhi penggunaan bahasa. Trotzek et al. menunjukkan bagaimana pola teks dapat digunakan untuk mendeteksi indikasi depresi, yang sering kali terkait dengan tekanan emosional yang tinggi. Kajian ini mengungkapkan bahwa individu yang mengalami tekanan cenderung menggunakan struktur kalimat yang lebih sederhana dan menghindari penggunaan kata Hal ini mendukung temuan Pereira et al. , yang menunjukkan bahwa proses neurologis memainkan peran kunci dalam bagaimana bahasa dihasilkan dan dimodifikasi dalam situasi tekanan tinggi. Dalam kasus Brigadir J, psikolinguistik dapat digunakan untuk memahami bagaimana tekanan situasional memengaruhi kesaksian atau pernyataan yang diberikan oleh berbagai pihak. Sebagai contoh, individu yang mengalami tekanan tinggi mungkin menunjukkan pola penghindaran dalam penggunaan kata-kata tertentu atau struktur kalimat yang lebih Lample et al. menyatakan bahwa tekanan emosional sering kali menyebabkan ketidakkonsistenan linguistik, sementara Artetxe et al. menambahkan bahwa produksi bahasa yang tertekan dapat mencerminkan upaya untuk menyembunyikan informasi. Kasus Brigadir J merupakan salah satu contoh di mana bahasa memainkan peran sentral dalam memahami dinamika hukum dan sosial. Kasus ini menarik perhatian publik tidak hanya karena kompleksitas hukumnya tetapi juga karena bahasa yang digunakan dalam persidangan sering kali menjadi alat untuk membangun narasi atau memengaruhi pengadilan. Moreno . menunjukkan bahwa analisis narasi dapat memberikan wawasan tentang bagaimana cerita dibangun dalam konteks hukum. Dalam kasus ini, analisis linguistik dapat membantu mengidentifikasi pola komunikasi yang mencerminkan upaya manipulasi atau kejujuran. Clark et . mencatat bahwa bahasa dalam persidangan sering kali digunakan untuk memengaruhi persepsi hakim dan juri. Gu . menyoroti bahwa narasi yang berhasil biasanya ditandai oleh konsistensi linguistik yang tinggi, mengindikasikan bahwa elemen-elemen linguistik seperti struktur kalimat dan penggunaan kosa kata memiliki peran strategis dalam membangun Kasus Brigadir J tidak hanya menarik perhatian publik karena kompleksitasnya, tetapi juga karena bahasa yang digunakan oleh para pihak di persidangan mencerminkan dinamika psikologis dan strategis yang mendasari cerita. Dalam studi linguistik, pola penggunaan frasa seperti "tidak tahu" dan "saya rasa", yang sering menunjukkan ketidakpastian atau tekanan emosional, dapat mencerminkan cara seseorang menanggapi situasi tertentu, seperti tekanan yang dirasakan dalam persidangan. Oleh karena itu, melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap cara frasa-frasa ini digunakan dengan menggunakan pendekatan linguistik korpus dan psikolinguistik dapat memberikan gambaran yang sangat baik tentang cara Richard Eliezer menggunakan bahasa untuk menyampaikan maksudnya dalam keadaan yang penuh tekanan. Metode ini tidak hanya berguna untuk memahami aspek linguistik kasus ini, tetapi juga dapat Analisis Strategi Linguistik Richard Eliezer Article A - 2111 Saud et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . menjelaskan bagaimana terdakwa mengalami kondisi emosional dan pilihan bahasa mereka berkorelasi satu sama lain. Dengan demikian, dua pertanyaan utama menjadi fokus penelitian ini. Pertama, bagaimana analisis linguistik korpus digunakan untuk mengidentifikasi pola penggunaan frasa Richard Eliezer "tidak tahu" dan "saya rasa" dalam persidangan kasus Brigadir J? Tujuan pertanyaan ini adalah untuk menemukan pola linguistik yang mencerminkan bagaimana Richard Eliezer menceritakan atau menanggapi pertanyaan selama kesaksiannya di pengadilan. Kedua, berdasarkan penelitian psikolinguistik, apakah ada hubungan antara tekanan emosional Richard Eliezer dan frasa "tidak tahu" dan "saya rasa"? Pertanyaan ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara kondisi emosional yang dapat memengaruhi cara bahasa digunakan, terutama dalam situasi tekanan tinggi seperti persidangan. Penelitian ini memiliki dua tujuan utama untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, penelitian ini menggunakan analisis linguistik korpus untuk menemukan pola penggunaan frasa "tidak tahu" dan "saya rasa" dalam kesaksian Richard Eliezer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara frasa "tidak tahu" dan "saya rasa" dengan tekanan emosional yang dialami Richard Eliezer, berdasarkan kajian psikolinguistik, melalui pendekatan kuantitatif dan pendekatan ini. Metode ini akan digunakan untuk menyelidiki bagaimana kondisi emosional memengaruhi produksi bahasa terdakwa. Ini akan memberi kita pemahaman baru tentang hubungan antara elemen kognitif, emosional, dan linguistik dalam dunia hukum. METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yaitu pendekatan yang bertujuan untuk menggambarkan, menganalisis, dan menjelaskan fenomena tertentu secara sistematis berdasarkan data yang tersedia (Creswell, 2. Metode ini sering digunakan dalam penelitian linguistik untuk memahami pola-pola bahasa yang muncul dalam konteks tertentu, dengan fokus pada pengamatan dan analisis mendalam terhadap data yang relevan. Dalam penelitian ini, data diperoleh dari transkrip kesaksian Richard Eliezer yang diambil dari sumber video berikut: Kanal Youtube. Kompas TV Palembang dengan judul "BREAKING NEWS - Sidang Perdana Richard Eliezer di PN Jakarta Selatan", dan Kanal Youtube. KOMPASTV dengan judul "Keterangan Richard Eliezer dalam Sidang Pemeriksaan Saksi Ricky Rizal dan Kuat Ma'ruf". Sumber-sumber ini dipilih karena memberikan gambaran yang jelas tentang kesaksian verbal Richard Eliezer selama proses Metode deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi pola penggunaan frasa "tidak tahu" dan "saya rasa" dalam kesaksian Richard Eliezer, serta menganalisis hubungan antara pola-pola tersebut dengan tekanan emosional yang dialami saksi. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menggali makna linguistik dan psikologis di balik pilihan bahasa yang digunakan dalam situasi hukum yang penuh tekanan, sehingga memberikan pemahaman yang lebih kaya terhadap fenomena yang diamati. Pada analisis linguistik korpus, transkrip kesaksian Richard Eliezer dikumpulkan sebagai data utama, yang kemudian diproses dan dianalisis secara manual. Pembersihan teks dilakukan untuk menghilangkan elemen non-linguistik seperti komentar pengadilan atau penanda waktu. Analisis manual mencakup identifikasi frekuensi kemunculan frasa "tidak tahu" dan "saya rasa", serta teknik konkordansi untuk memahami konteks penggunaan frasa tersebut dalam kalimat yang lebih luas. Selain itu, kolokasi secara manual dilakukan untuk mengidentifikasi kata-kata yang sering muncul bersama kedua frasa, memberikan wawasan tambahan tentang hubungan semantis dan pragmatis. Pendekatan ini, berdasarkan teori McEnery dan Hardie . , memberikan kedalaman interpretasi dan memungkinkan peneliti untuk mengungkap pola spesifik seperti tanggapan terhadap pertanyaan langsung atau upaya meredam tekanan, yang mungkin tidak terlihat melalui analisis otomatis. Analisis Strategi Linguistik Richard Eliezer Article A - 2112 Saud et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . Sementara itu, analisis psikolinguistik bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara penggunaan frasa tersebut dengan tekanan emosional yang dialami saksi. Berdasarkan tinjauan psikolinguistik Vrij . dalam bukunya Detecting Lies and Deceit: Pitfalls and Opportunities, tekanan emosional dan kognitif sering kali tercermin dalam pola komunikasi seseorang. Vrij menjelaskan bahwa individu yang berada di bawah tekanan cenderung menggunakan strategi komunikasi tertentu untuk mengelola persepsi orang lain dan melindungi diri mereka dari konsekuensi negatif. Misalnya, frasa "tidak tahu" sering kali digunakan untuk menghindari jawaban yang dapat dianggap memberatkan, sementara frasa "saya rasa" mencerminkan ketidakpastian yang disengaja dalam memberikan informasi. Strategi ini dikenal sebagai bentuk mitigasi verbal, yang membantu individu untuk mengurangi risiko konsekuensi dari pernyataan Vrij . juga menekankan bahwa tekanan emosional dapat memengaruhi pola linguistik, seperti peningkatan penggunaan frasa yang menunjukkan keraguan, ketidakpastian, atau penghindaran. Dalam penelitian ini, teori ini digunakan untuk menginterpretasikan bagaimana frasa "tidak tahu" dan "saya rasa" mencerminkan kondisi psikologis Richard Eliezer selama persidangan, serta bagaimana tekanan emosional memengaruhi cara ia menyusun narasi atau memberikan kesaksian. Penelitian ini dilakukan secara manual dengan pendekatan kuantitatif untuk menghitung frekuensi penggunaan kata dan kualitatif untuk menganalisis konteks serta makna pragmatis dari frasa yang digunakan. Pendekatan manual ini memberikan keunggulan dalam mendeteksi nuansa dan pola linguistik yang tidak selalu terlihat melalui alat analisis otomatis. Dengan menggabungkan analisis linguistik korpus dan psikolinguistik, penelitian ini bertujuan untuk memahami pola bahasa dalam persidangan kasus Brigadir J, serta hubungan antara pilihan bahasa saksi dengan tekanan emosional yang dialami. HASIL DAN DISKUSI Gambaran melalui tabel dibawah ini menunjukkan frekuensi dan konteks penggunaan frasa "tidak tahu" dan "saya rasa" dalam kesaksian Richard Eliezer, yang mencerminkan pola komunikasi strategis yang digunakan untuk menghadapi tekanan hukum dalam persidangan. Frasa "tidak tahu" muncul dengan frekuensi tinggi sebanyak 41 kali, menandakan dominasi pola komunikasi defensif dalam menanggapi pertanyaan yang membutuhkan klarifikasi fakta, sementara frasa "saya rasa" yang hanya muncul 4 kali lebih sering digunakan dalam konteks reflektif atau spekulatif untuk menyampaikan opini pribadi secara hati-hati. Konkordansi dari masing-masing frasa memberikan wawasan tentang bagaimana saksi menggunakan bahasa untuk menjaga posisi hukum dan mengelola tekanan emosional selama proses persidangan. Frasa Frekuensi Konkordansi (Kalimat dalam Kontek. "Tidak tahu" 41 kali - "Saya tidak tahu siapa yang memerintahkan hal itu. - "Saya tidak tahu mengapa skenario ini dibuat. - "Saya tidak tahu bagaimana perintah itu diberikan. - "Saya tidak tahu apakah keputusan itu dibuat oleh FS. "Saya rasa" 4 kali - "Saya rasa kejadian itu terlalu cepat untuk dijelaskan. - "Saya rasa situasi ini sangat sulit untuk diungkapkan. - "Saya rasa itu bukan keputusan saya. - "Saya rasa situasinya sulit untuk dijelaskan secara rinci. Tabel 1. Frekuensi Frasa Analisis Strategi Linguistik Richard Eliezer Article A - 2113 Saud et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . Frasa "Tidak Tahu" Penggunaan frasa "tidak tahu" dalam kesaksian Richard Eliezer ditemukan sebanyak 41 Frasa ini menjadi salah satu pola komunikasi yang paling dominan dalam transkrip Secara linguistik, "tidak tahu" adalah bentuk negasi verbal, di mana kata "tidak" berfungsi untuk menyangkal kata kerja "tahu". Frasa ini mengungkapkan secara eksplisit bahwa pembicara tidak memiliki informasi atau kejelasan tentang suatu peristiwa atau fakta tertentu. Dalam konteks persidangan, struktur linguistik ini sering kali dipakai untuk memberikan jawaban yang netral, terutama ketika pembicara menghadapi situasi yang penuh tekanan dan Frekuensi tinggi dari "tidak tahu" menunjukkan bahwa frasa ini merupakan strategi komunikasi utama yang digunakan Richard Eliezer selama persidangan. Menurut teori McEnery dan Hardie . , pola linguistik yang muncul secara berulang dalam sebuah korpus mengindikasikan kebiasaan atau strategi tertentu yang disengaja. Dalam konteks ini, penggunaan "tidak tahu" tampaknya dimaksudkan untuk menavigasi situasi formal yang penuh tekanan, seperti persidangan pidana. Analisis kolokasi mengungkapkan bahwa frasa ini sering muncul bersama kata-kata seperti siapa, apa, mengapa, dan bagaimana, yang menunjukkan bahwa frasa ini paling sering digunakan sebagai respons terhadap pertanyaan langsung yang membutuhkan jawaban spesifik. Misalnya, dalam kesaksiannya. Richard Eliezer menggunakan ungkapan ini dalam pernyataan seperti "Saya tidak tahu siapa yang mengambil pistol itu," atau "Saya tidak tahu bagaimana perintah itu diberikan. Dalam situasi persidangan, fungsi pragmatis "tidak tahu" sangat jelas. Pertama, frasa ini digunakan sebagai strategi untuk menghindari tanggung jawab langsung terhadap fakta-fakta yang dapat memberatkan saksi. Sebagai contoh, ia menyatakan, "Saya tidak tahu siapa yang memerintahkan hal itu," untuk membatasi keterlibatannya dalam pengambilan keputusan yang sedang diperdebatkan di pengadilan. Kedua, "tidak tahu" juga membantu meredakan intensitas Dengan memberikan jawaban yang netral. Richard Eliezer dapat mengurangi risiko kesalahan atau ketidakkonsistenan dalam kesaksiannya. Ketiga, pola ini mencerminkan ketidakpastian kognitif dan tekanan emosional yang dirasakan oleh saksi. Dalam situasi stres tinggi, penggunaan pola komunikasi seperti ini adalah bentuk defensif untuk menghadapi pertanyaan yang sulit tanpa memberikan jawaban yang berpotensi merugikan. Dalam konteks persidangan kasus pembunuhan Brigadir J, penggunaan frasa "tidak tahu" mencerminkan strategi komunikasi yang defensif. Frasa ini tidak hanya menunjukkan ketidaktahuan, tetapi juga digunakan secara strategis untuk menjaga posisi hukum Richard Eliezer. Dengan memilih jawaban yang netral dan aman, saksi berhasil menavigasi situasi hukum yang kompleks dan penuh tekanan. Hal ini menunjukkan bahwa "tidak tahu" menjadi bagian integral dari adaptasi linguistik yang dilakukan oleh saksi untuk melindungi dirinya. Frekuensi tinggi dari "tidak tahu" menunjukkan bahwa frasa ini merupakan strategi komunikasi utama yang digunakan Richard Eliezer selama persidangan. Menurut teori McEnery dan Hardie . , pola linguistik yang muncul secara berulang dalam sebuah korpus mengindikasikan kebiasaan atau strategi tertentu yang disengaja. Dalam konteks ini, penggunaan "tidak tahu" tampaknya dimaksudkan untuk menavigasi situasi formal yang penuh tekanan, seperti persidangan pidana. Analisis kolokasi mengungkapkan bahwa frasa ini sering muncul bersama kata-kata seperti siapa, apa, mengapa, dan bagaimana, yang menunjukkan bahwa frasa ini paling sering digunakan sebagai respons terhadap pertanyaan langsung yang membutuhkan jawaban spesifik. Misalnya, dalam kesaksiannya. Richard Eliezer menggunakan ungkapan ini dalam pernyataan seperti "Saya tidak tahu siapa yang mengambil pistol itu," atau "Saya tidak tahu bagaimana perintah itu diberikan. Dalam konteks persidangan kasus pembunuhan Brigadir J, penggunaan frasa "tidak tahu" mencerminkan strategi komunikasi yang defensif. Frasa ini tidak hanya menunjukkan ketidaktahuan, tetapi juga digunakan secara strategis untuk menjaga posisi hukum Richard Eliezer. Dengan memilih jawaban yang netral dan aman, saksi berhasil menavigasi situasi Analisis Strategi Linguistik Richard Eliezer Article A - 2114 Saud et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . hukum yang kompleks dan penuh tekanan. Hal ini menunjukkan bahwa "tidak tahu" menjadi bagian integral dari adaptasi linguistik yang dilakukan oleh saksi untuk melindungi dirinya. Untuk memahami bagaimana tekanan emosional memengaruhi pilihan kata dalam kesaksian Richard Eliezer, frasa "tidak tahu" muncul dengan frekuensi yang signifikan dalam kesaksian Richard Eliezer dan sering kali digunakan dalam konteks tekanan emosional yang Berdasarkan teori Vrij . , penggunaan frasa ini sering kali mencerminkan adanya mekanisme perlindungan psikologis. Individu yang berada di bawah tekanan berat biasanya menggunakan frasa seperti ini untuk memberikan respons tanpa harus menyampaikan informasi yang dapat memperburuk posisi mereka atau membuka peluang pertanyaan lanjutan yang sulit Karakteristik frasa "tidak tahu" dalam konteks persidangan terlihat dalam beberapa aspek Pertama, frasa ini menjadi indikator ketidakpastian, di mana saksi memilih untuk tidak memberikan jawaban yang dapat diverifikasi dengan mudah. Misalnya, dalam pernyataan seperti, "Saya tidak tahu siapa yang mengambil pistol itu," atau "Saya tidak tahu mengapa skenario ini dibuat di Saguling," saksi menghindari tanggung jawab langsung atas informasi yang diminta. Kedua, frasa ini digunakan sebagai strategi penghindaran, yang memungkinkan saksi untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut yang dapat memunculkan kesan bahwa dirinya terlibat dalam keputusan atau tindakan tertentu. Hal ini terlihat jelas dalam pernyataan seperti, "Saya tidak tahu bagaimana perintah itu diberikan. " Ketiga, frasa ini mencerminkan reduksi beban kognitif, yang menjadi penting dalam situasi stres tinggi seperti persidangan. Ketika kapasitas mental terganggu oleh tekanan, frasa ini memberikan ruang bagi saksi untuk tetap memberikan respons tanpa terjebak dalam jawaban yang memberatkan. Tekanan emosional yang dihadapi Richard Eliezer dalam persidangan juga memengaruhi cara dia memilih frasa ini sebagai respons terhadap pertanyaan yang diajukan. Persidangan, dengan interogasi terus-menerus yang dilakukan oleh jaksa dan pengacara, menciptakan tekanan yang signifikan pada saksi. Vrij . menyebutkan bahwa dalam situasi seperti ini, penggunaan frasa ketidakpastian seperti "tidak tahu" dapat membantu individu menjaga jarak emosional dari pertanyaan yang sensitif. Dengan memilih untuk tidak memberikan jawaban definitif, saksi dapat melindungi dirinya dari jebakan pertanyaan atau konsekuensi yang mungkin muncul dari jawaban yang terlalu tegas. Frasa "Saya Rasa" Berbeda dengan "tidak tahu", frasa "saya rasa" hanya ditemukan sebanyak 4 kali dalam transkrip kesaksian Richard Eliezer. Secara linguistik, "saya rasa" adalah ekspresi evaluatif subjektif, di mana kata "saya" menandakan bahwa pernyataan tersebut berasal dari perspektif pribadi, sedangkan kata kerja "rasa" menunjukkan persepsi atau opini yang bersifat non-objektif. Dengan demikian, frasa ini sering digunakan untuk menyampaikan opini pribadi yang tidak bersifat mutlak, terutama dalam situasi formal seperti persidangan. Frekuensi rendah dari "saya rasa" menunjukkan bahwa Richard Eliezer cenderung menghindari penggunaan evaluasi subjektif selama memberikan kesaksiannya. McEnery dan Hardie . mencatat bahwa pola linguistik dengan frekuensi rendah dalam sebuah korpus dapat mencerminkan preferensi pembicara untuk menghindari bentuk komunikasi tertentu. Dalam kasus ini, rendahnya frekuensi "saya rasa" mengindikasikan bahwa saksi lebih memilih pola komunikasi yang netral dan defensif dibandingkan menyampaikan opini subjektif yang mungkin berisiko diperdebatkan. Analisis kolokasi menunjukkan bahwa frasa ini sering muncul bersama kata-kata seperti itu, sulit, dan tidak, yang menandai konteks reflektif atau spekulatif. Contoh pernyataan dalam kesaksian meliputi, "Saya rasa situasi ini sangat sulit untuk diungkapkan," dan "Saya rasa kejadian itu terlalu cepat untuk dijelaskan. Melalui analisis linguistik korpus, pola komunikasi ini tidak hanya memberikan wawasan tentang respons verbal saksi, tetapi juga mencerminkan adaptasi linguistik terhadap tekanan emosional dan kognitif yang dihadapi. Frasa "saya rasa" menjadi bukti bahwa bahasa dapat digunakan sebagai alat strategis untuk menjaga posisi hukum dan kredibilitas saksi dalam Analisis Strategi Linguistik Richard Eliezer Article A - 2115 Saud et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . Secara linguistik, "saya rasa" adalah ekspresi evaluatif subjektif, di mana kata "saya" menandakan bahwa pernyataan tersebut berasal dari perspektif pribadi, sedangkan kata kerja "rasa" menunjukkan persepsi atau opini yang bersifat non-objektif. Dengan demikian, frasa ini sering digunakan untuk menyampaikan opini pribadi yang tidak bersifat mutlak, terutama dalam situasi formal seperti persidangan. Frekuensi rendah dari "saya rasa" menunjukkan bahwa Richard Eliezer cenderung menghindari penggunaan evaluasi subjektif selama memberikan kesaksiannya. McEnery dan Hardie . mencatat bahwa pola linguistik dengan frekuensi rendah dalam sebuah korpus dapat mencerminkan preferensi pembicara untuk menghindari bentuk komunikasi tertentu. Dalam kasus ini, rendahnya frekuensi "saya rasa" mengindikasikan bahwa saksi lebih memilih pola komunikasi yang netral dan defensif dibandingkan menyampaikan opini subjektif yang mungkin berisiko diperdebatkan. Analisis kolokasi menunjukkan bahwa frasa ini sering muncul bersama kata-kata seperti itu, sulit, dan tidak, yang menandai konteks reflektif atau spekulatif. Contoh pernyataan dalam kesaksian meliputi, "Saya rasa situasi ini sangat sulit untuk diungkapkan," dan "Saya rasa kejadian itu terlalu cepat untuk dijelaskan. Dalam konteks persidangan kasus Brigadir J, rendahnya frekuensi "saya rasa" menunjukkan bahwa Richard Eliezer lebih sering memilih pola komunikasi yang aman, seperti penggunaan "tidak tahu", dibandingkan menyampaikan opini subjektif. Hal ini mengindikasikan preferensi saksi untuk menjaga netralitas dan menghindari interpretasi personal yang dapat digunakan untuk memberatkan posisinya di pengadilan. Melalui analisis linguistik korpus, pola komunikasi ini tidak hanya memberikan wawasan tentang respons verbal saksi, tetapi juga mencerminkan adaptasi linguistik terhadap tekanan emosional dan kognitif yang dihadapi. Frasa "tidak tahu" dan "saya rasa" menjadi bukti bahwa bahasa dapat digunakan sebagai alat strategis untuk menjaga posisi hukum dan kredibilitas saksi dalam persidangan. Tekanan emosional yang dihadapi Richard Eliezer dalam persidangan juga memengaruhi cara dia memilih frasa ini sebagai respons terhadap pertanyaan yang diajukan. Persidangan, dengan interogasi terus-menerus yang dilakukan oleh jaksa dan pengacara, menciptakan tekanan yang signifikan pada saksi. Berbeda dengan "tidak tahu", frasa "saya rasa" lebih jarang digunakan oleh Richard Eliezer, namun tetap memiliki fungsi yang penting dalam komunikasi persidangan. Frasa ini adalah bentuk ekspresi evaluatif yang mencerminkan pendapat subjektif pembicara. Menurut Vrij . , ungkapan seperti "saya rasa" sering kali digunakan oleh individu untuk menyampaikan opini dengan cara yang tidak tegas, memberikan fleksibilitas dalam jawaban Dalam situasi formal seperti persidangan, frasa ini memungkinkan saksi untuk menyampaikan pandangan tanpa harus terlalu berkomitmen pada kebenaran absolut. Karakteristik frasa "saya rasa" dalam konteks tekanan emosional dapat dilihat melalui beberapa aspek. Pertama, frasa ini digunakan untuk mengurangi ketegasan, yang memberikan ruang bagi saksi untuk menyampaikan opini tanpa memunculkan kesan bahwa ia benar-benar yakin dengan apa yang ia katakan. Sebagai contoh, dalam pernyataan seperti, "Saya rasa kejadian itu terlalu cepat untuk dijelaskan," saksi menggunakan frasa ini untuk menyampaikan opininya secara hati-hati. Kedua, penggunaan frasa ini mencerminkan strategi mitigasi, yang bertujuan untuk melemahkan intensitas pernyataan. Hal ini tampak dalam pernyataan seperti, "Saya rasa itu bukan keputusan saya. Yang Mulia," di mana saksi menghindari keterlibatan langsung dalam tanggung jawab atas keputusan tertentu. Ketiga, frasa ini menjadi alat untuk mengelola ketidakpastian, terutama dalam situasi di mana tekanan emosional tinggi memengaruhi kemampuan kognitif saksi untuk memberikan jawaban yang pasti. Dengan menyampaikan opini yang terbuka untuk interpretasi, saksi dapat menghindari risiko dari jawaban yang terlalu tegas. Dalam persidangan, penggunaan frasa ini juga mencerminkan upaya untuk menjaga stabilitas Menurut Vrij, frasa seperti "saya rasa" sering digunakan untuk mengurangi tekanan psikologis yang mungkin muncul akibat tuntutan untuk memberikan jawaban yang pasti. Dalam konteks Richard Eliezer, frasa ini membantu dia tetap fleksibel dalam memberikan kesaksian tanpa memberikan informasi yang berpotensi menimbulkan implikasi hukum yang berat. Analisis Strategi Linguistik Richard Eliezer Article A - 2116 Saud et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . Berdasarkan pola penggunaan frasa "saya rasa" oleh Richard Eliezer merupakan refleksi dari tekanan emosional yang dihadapinya selama persidangan. Frasa "tidak tahu" menjadi strategi utama untuk mereduksi tekanan kognitif dan menghindari pertanyaan yang memberatkan, sedangkan "saya rasa" digunakan untuk menyampaikan opini subjektif secara mitigatif. Kedua frasa ini tidak hanya menunjukkan strategi komunikasi yang cerdas dalam konteks hukum, tetapi juga mencerminkan bagaimana tekanan emosional dapat membentuk pilihan kata seseorang dalam situasi yang penuh tantangan. Dengan demikian, analisis ini memberikan wawasan mendalam tentang peran bahasa dalam mengelola tekanan psikologis dan hukum yang dihadapi oleh saksi selama persidangan. KESIMPULAN Studi ini menemukan bahwa penggunaan frasa "tidak tahu" dan "saya rasa" dalam kesaksian Richard Eliezer menunjukkan cara komunikasi adaptif dapat digunakan untuk mengatasi tekanan hukum dan emosional selama persidangan. Seperti yang ditunjukkan oleh fakta bahwa frasa "tidak tahu" muncul sebanyak 41 kali, menunjukkan bahwa frasa ini menjadi pola komunikasi yang dominan. Frasa ini tidak hanya secara literal menunjukkan ketidaktahuan, tetapi juga digunakan sebagai taktik untuk menghindari tanggung jawab langsung atas fakta-fakta yang dapat memberatkan saksi. Dalam situasi hukum, terutama dalam persidangan pidana, kata "tidak tahu" digunakan untuk memberikan jawaban yang netral, yang membantu saksi mengurangi kemungkinan melakukan kesalahan atau ketidakkonsistenan dalam kesaksian Oleh karena itu, frasa ini menunjukkan strategi pertahanan yang membantu saksi mempertahankan kepercayaan dan stabilitas emosionalnya di tengah tekanan interogasi yang Sebaliknya, frasa "saya pikir", yang hanya digunakan empat kali, digunakan dalam situasi yang lebih introspektif dan spekulatif. Saksi dapat dengan hati-hati menyampaikan pendapat mereka sendiri tanpa membuat klaim yang terlalu tegas atau mutlak dalam situasi ini. Frasa ini menunjukkan kehati-hatian dalam memberikan pernyataan yang dapat mengurangi kemungkinan saksi bertanggung jawab atas keputusan atau peristiwa. Frasa "saya rasa" digunakan untuk membuat pernyataan dapat ditafsirkan dan menghindari pertanyaan lanjutan yang dapat menimbulkan risiko hukum bagi saksi. Analisis linguistik menunjukkan bahwa kedua frasa ini menunjukkan strategi verbal dan mekanisme perlindungan psikologis untuk saksi saat berada di bawah tekanan tinggi. Teori Vrij . menyatakan bahwa orang yang menghadapi tekanan emosional berat cenderung menggunakan pola komunikasi yang menghindar atau tidak langsung untuk mengurangi tekanan emosional dan kognitif. Dalam konteks ini, kata "tidak tahu" digunakan untuk melindungi diri dari pertanyaan yang sulit dijawab secara tegas, sedangkan kata "saya rasa" digunakan untuk menyampaikan pendapat yang lebih rendah. Studi ini menunjukkan bahwa kondisi emosional dan kognitif saksi sangat memengaruhi bagaimana saksi menggunakan bahasa dalam konteks hukum. Sementara frase "saya rasa" digunakan untuk menghindari konfrontasi langsung dan mempertahankan hubungan formal dengan hakim dan pengacara, frase "tidak tahu" menunjukkan upaya untuk mempertahankan netralitas dan mengurangi intensitas komunikasi. Hasil ini meningkatkan pemahaman tentang peran bahasa pragmatik dalam konteks hukum dan menekankan betapa pentingnya analisis linguistik untuk memahami dinamika komunikasi persidangan. Selain itu, penelitian ini memberikan manfaat praktis bagi bidang komunikasi hukum dan linguistik forensik. Hasil ini menunjukkan bahwa analisis pola komunikasi sangat penting untuk memahami bagaimana bahasa digunakan sebagai alat taktik untuk menangani situasi hukum yang kompleks. Penelitian ini tidak hanya berkaitan dengan hukum tetapi juga psikolinguistik, karena menekankan hubungan antara tekanan emosional dan pola komunikasi. Secara keseluruhan, penelitian ini meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana bahasa seseorang beradaptasi dengan tekanan hukum. Bahasa adalah alat penting yang dapat digunakan untuk Analisis Strategi Linguistik Richard Eliezer Article A - 2117 Saud et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . menjaga kredibilitas dan posisi hukum dalam situasi persidangan, seperti yang ditunjukkan oleh pola penggunaan frasa "tidak tahu" dan "saya rasa". Oleh karena itu, penelitian ini memiliki konsekuensi teoretis dan praktis yang signifikan untuk studi psikolinguistik dan analisis komunikasi hukum. DAFTAR PUSTAKA