|ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. HIPERTENSI RESISTEN: DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA Yogi Puji Rachmawan1,2. Witri Pratiwi 3* Departemen Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. Fakultas Kedokteran. Universitas Swadaya Gunung Jati. Cirebon. Indonesia Rumah Sakit Jantung Hasna Medika. Cirebon. Indonesia Departemen Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran. Universitas Swadaya Gunung Jati. Cirebon. Indonesia *Email korespondensi: we3. borneo@gmail. ABSTRAK Hipertensi resisten masih menjadi salah satu masalah yang dihadapi oleh klinisi dalam praktek sehari-hari. Penegakan diagnosis hipertensi resisten memerlukan kriteria eksklusi adanya pseudo-resistensi. Namun kajian literatur mengenai hipertensi resisten yang dapat dijadikan pedoman tatalaksana pasien hipertensi resisten masih terbatas. Kajian literatur ini bertujuan untuk mengetahui kriteria diagnosis hipertensi resisten dan tatalaksananya sehingga dapat menjadi acuan dalam manajemen terapi yang optimal. Metode yang dilakukan adalah melalui kajian literatur . iterature revie. dari artikel ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal, data kementerian kesehatan, dan pedoman tatalaksana . , baik nasional maupun internasional. Literatur yang dikumpulkan berkaitan dengan data epidemiologi hipertensi, hipertensi resisten, diagnosis dan manajemen terapi. Pencarian data dilakukan melalui database Google Scholar. PubMed dan Scopus dengan memasukkan kata kunci. Hipertensi resisten didiagnosis bila tekanan darah belum terkontrol walaupun sudah mendapatkan obat anti hipertensi lebih dari 3 jenis dengan salah satunya golongan diuretik atau tekanan darah pasien baru terkontrol setelah mendapatkan C4 jenis obat anti hipertensi. Manajemen terapi meliputi non-farmakologis, farmakologis dan intervensi device. Kata kunci: hipertensi, hipertensi resisten, penyakit kardiovaskular, pseudo-resistensi RESISTANT HYPERTENSION: DIAGNOSIS AND MANAGEMENT ABSTRACT Resistant hypertension is still one of the problems faced by clinicians in daily practice. The diagnosis of resistant hypertension requires the exclusion criteria of pseudoresistance. However, literature reviews on resistant hypertension that can be used as guidelines for the management of patients with resistant hypertension are still limited. This literature review aims to determine the criteria of resistant hypertension and its management so that it can be reference of optimal management. The method used was through literature review of scientific articles published in journals, ministry of health data, and guidelines, both national and international. The literature collected was related to data on the epidemiology of hypertension, resistant hypertension, diagnosis and therapeutic management. Data searches were conducted through Google Scholar. PubMed and Scopus databases by entering keywords. Resistant hypertension is diagnosed when blood pressure has not been controlled despite receiving more than 3 Jurnal Teras Kesehatan -51 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. types of antihypertensive drugs with one of them is diuretics or the blood pressure is only controlled after receiving C4 types of antihypertensive drugs. Therapeutic management includes non-pharmacological, pharmacological and device intervention. Keywords: cardiovascular disease, hypertension, pseudo-resistance. PENDAHULUAN Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan baik di dunia maupun di Indonesia. Pasien dengan hipertensi dapat mengalami komplikasi penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung, gagal jantung, gagal ginjal, stroke dan kematian mendadak (Kario et al. , 2. Data World Health Organization (WHO) menunjukan prevalensi hipertensi di negara-negara Asia cukup bervariasi. Prevalensi hipertensi pada tahun 2019 di Asia Pasifik Barat (Australia. Selandia Baru. Korea. Filipina. Vietnam, dan Jepan. mencapai 28%. Sedangkan di wilayah Asia Tenggara (Malaysia. Indonesia, dan Thailan. mencapai 32% (Kario. Okura, et al. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi pada usia C18 tahun di Indonesia mencapai 30. 8% (KEMENKES RI, 2. Prevalensi hipertensi resisten secara global sulit ditentukan karena dipengaruhi beberapa faktor seperti komorbid, obat anti hipertensi yang diminum, kepatuhan minum obat, metode pengukuran tekanan darah, dan target tekanan darah yang digunakan. Berdasarkan sebuah penelitian metaanalisis, prevalensi hipertensi resisten mencapai 10% dari pasien hipertensi yang mendapatkan pengobatan (Buso et al. , 2024. Noubiap et al. , 2. Sedangkan belum ada data yang menunjukan prevalensi hipertensi resisten di Indonesia. Sebuah studi di Indonesia menunjukan hampir separuh pasien hipertensi yang berobat di klinik mengalami hipertensi resisten. Sebagian besar komorbid pada pasien tersebut adalah gagal ginjal (Hikmayani & Rachmawan, 2024. Diagnosis hipertensi resisten tidaklah mudah dan seringkali klinisi belum menyingkirkan kemungkinan adanya pseudo-resistensi. Sehingga dalam praktek sehari-hari terjadi overdiagnosis hipertensi resisten. Rumusan masalah pada kajian literatur ini adalah bagaimana pedoman diagnosis dan tatalaksana hipertensi resisten, terutama di Indonesia. Kajian literatur ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai kriteria diagnosis hipertensi resisten dan tatalaksananya. Kajian literatur ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam manajemen terapi hipertensi resisten yang optimal. METODOLOGI PENELITIAN Metode yang digunakan adalah kajian literatur dari artikel ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal, data kementerian kesehatan, dan pedoman tatalaksana dari perhimpunan, baik nasional maupun internasional. Literatur yang dikumpulkan berkaitan dengan data epidemiologi hipertensi, hipertensi resisten, diagnosis dan manajemen terapi. Pencarian data dilakukan melalui database Google Scholar. PubMed dan Scopus dengan memasukkan kata kunci: hipertensi, hipertensi resisten, pseudo-hipertensi, dan tatalaksana hipertensi. Pada pencarian literatur didapatkan 729 artikel. Kriteria inklusi adalah original article, review dan guidelines. Kriteria eksklusi adalah referensi yang ditulis menggunakan selain bahasa Indonesia dan Inggris. Referensi yang dimasukkan pada kajian literatur ini berjumlah 32. Pada kajian literatur ini beberapa penjelasan di tampilkan dalam tabel dan gambar untuk memudahkan dalam memahami hipertensi resisten. Jurnal Teras Kesehatan -52 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. HASIL DAN PEMBAHASAN Definisi Hipertensi Resisten Penegakan diagnosis hipertensi resisten memerlukan kehati-hatian karena harus mengeliminasi kemungkinan terjadinya pseudo-resistensi, yaitu kondisi dimana hipertensi yang terjadi bukan disebabkan karena tekanan darah yang tidak terkontrol dengan beberapa terapi, namun disebabkan karena hipertensi white-coat (HWC), ketidakpatuhan minum obat, pengukuran tekanan darah yang tidak akurat, dan lain-lain (Park et al. , 2023. Patil et al. , 2. Hipertensi Resisten Diagnosis resisten hipertensi sebaiknya ditegakkan menggunakan Ambulatory Blood Pressure Measurement (ABPM), yaitu suatu prosedur pemeriksaan tekanan darah yang dilakukan dalam 24 Pengukuran tekanan darah dalam 24 jam memungkinkan dokter untuk mendapatkan hasil pemeriksaan tekanan darah yang akurat dan reliabel. Pemeriksaan ABPM dapat mengenali kondisi HWC, hipertensi resisten dan hipertensi tersamar . asked hypertensio. yang sulit diketahui hanya dengan pemeriksaan darah sekali waktu (OAoBrien et al. , 2018. Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia, 2019. Samsu, 2. Adapun kriteria diagnosis hipertensi resisten ditampilkan pada Gambar 1 berikut ini. Tekanan darah belum terkontrol meskipun sudah mendapatkan 3 jenis obat dari golongan yang berbeda, salah satunya golongan diuretik Dosis obat anti hipertensi yang diberikan sudah maksimal atau dosis maksimal yang dapat ditoleransi oleh pasien Tekanan darah baru terkontrol dengan pemberian C4 jenis obat anti hipertensi pada dosis maksimal atau dosis maksimal yang dapat ditoleransi oleh pasien Gambar 1. Penegakkan diagnosis hipertensi resisten (Carey. Calhoun. Bakris. Brook. Daugherty. Dennison-Himmelfarb. Egan. Flack. Gidding. Judd. Lackland. Laffer. Newton-Cheh. Smith. Taler. Textor. Turan, & White, 2018. Cluett & William, 2. Penyebab Pseudo-Resistensi: Pengukuran Tekanan Darah Yang Tidak Tepat Salah satu penyebab terjadinya pseudo-resistensi adalah pengukuran tekanan darah yang tidak tepat (McEvoy et al, 2. Oleh karena itu, pengukuran tekanan darah hendaknya dilakukan dengan prosedur yang tepat. Gambar 2 dan 3 berikut menampilkan metode pengukuran tekanan darah yang direkomendasikan, baik untuk dilakukan di klinik maupun di rumah secara mandiri oleh pasien. Jurnal Teras Kesehatan -53 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. Pengukuran tekanan darah dilakukan setelah 5 menit pasien duduk nyaman di ruangan yang tenang Gunakan alat pengukur tekanan darah . yang tervalidasi dan ukuran manset yang sesuai lingkar lengan atas Tempatkan manset sejajar dengan posisi jantung dan posisi pasien duduk bersandar serta lengan tersangga dengan baik Ukur tekanan darah sebanyak 3 kali dengan jarak 1-2 menit dan rata-ratakan hasil 2 pengukuran terakhir Pada kunjungan pertama pasien ke klinik, lakukan pengukuran tekanan darah pada kedua lengan. Bila tekanan darah pada lengan kanan dan kiri berbeda >10 mmHg maka diperlukan evaluasi lebih lanjut Gambar 2. Metode pengukuran tekanan darah di klinik / Office Blood Pressure Measurement (OBPM) Pengukuran tekanan darah dilakukan setelah 5 menit pasien duduk nyaman di ruangan yang tenang dengan posisi punggung dan lengan tersangga dengan baik Gunakan tensimeter yang tervalidasi dan ukuran manset yang sesuai lingkar lengan atas Ukur tekanan darah sebanyak 2 kali dengan jarak 1-2 menit Ukur tekanan darah 2 kali dalam sehari, yaitu di pagi hari setelah bangun tidur . ebelum sarapan dan minum oba. dan di malam hari sebelum tidur Lakukan pengukuran tekanan darah sekurang-kurangnya selama 3 hari berturut turut atau selama 7 hari Gambar 3. Metode pengukuran tekanan darah di rumah / Home Blood Pressure Measurement (HBPM) Penyebab Pseudo-Resistensi: Faktor Kepatuhan Minum Obat Penyebab terjadinya pseudo-resistensi lainnya adalah faktor kepatuhan minum obat. Ketidakpatuhan pasien dalam pengobatan menjadi kontributor dalam hipertensi yang tidak terkontrol. Sebelum diagnosis hipertensi resisten ditegakkan, harus dikonfirmasi dan dipastikan terlebih dahulu apakah pasien mengkonsumsi obat anti hipertensi dengan rutin (Chan et al. , 2023. Eskyus et al. , 2. Evaluasi kepatuhan minum obat dapat dilakukan dengan metode langsung maupun tidak langsung. Metode tidak langsung adalah dengan menghitung jumlah obat atau menanyakan pola minum obat Metode ini murah dan bermanfaat sebagai deteksi awal kepatuhan, namun seringkali akurasinya dipertanyakan. Evaluasi menggunakan metode langsung, antara lain menggunakan directly observed therapy (DOT) dan therapeutic drug monitoring. Metode tersebut membutuhkan analisis urine atau darah pasien untuk mengevaluasi konsentrasi obat anti hipertensi. Namun kekurangan dari metode ini adalah biaya yang cukup mahal dan tidak praktis dalam penggunaan sehari-hari (Chan et al. , 2023. Eskyus et al. , 2. Jurnal Teras Kesehatan -54 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. Penyebab Pseudo-Resistensi: Hipertensi White-coat (HWC) Hipertensi white-coat merupakan peningkatan tekanan darah pasien ketika dilakukan pemeriksaan di klinik, yaitu C140/90 mmHg, namun ketika dilakukan pengukuran tekanan darah di rumah didapatkan hasil yang normal (<135/85 mmH. , seperti yang dirangkum dalam Tabel 2 (Penmatsa et al. , 2. Beberapa ahli berpendapat bahwa HWC tidak memiliki risiko kardiovaskular sehingga tidak memerlukan tindakan diagnostik atau pengobatan lebih lanjut (Mancia et al. , 2021. Sega et al. Data yang berbeda ditunjukan pada studi Pressioni Arteriose Monitorate eLoro Association (PAMELA) dimana prevalensi hipertrofi ventrikel kiri pada HWC lebih tinggi dibandingkan pada populasi normotensi. Selain itu, pada pasien HWC juga memiliki risiko terjadinya disfungsi diastolik ventrikel kiri, dilatasi atrium kiri, penebalan karotis intima, peningkatkan ekskresi protein urine dan infark serebral silent yang lebih sering dibandingkan populasi normotensi. Hasil studi tersebut mengindikasikan adanya kerusakan organ subklinik yang mungkin terjadi pada pasien HWC (Mancia et al. , 2021. Sega et al. , 2. Konfirmasi diagnosis HWC yang direkomendasikan adalah melalui pengukuran tekanan darah menggunakan Office Blood Measurement (OBPM). Home Blood Pressure Measurement (HBPM) dan ABPM. Tabel 1 berikut menunjukan perbandingan pengukuran tekanan darah OBPM. HBPM, dan ABPM dalam diagnosis hipertensi. Tabel 1. Diagnosis hipertensi berdasarkan beberapa metode pengukuran Tidak Meningkat Hipertensi OBPM HBPM . Daytime ABPM . 24 h ABPM . Night-time ABPM . <120/70 <120/70 <120/70 <115/65 <110/60 120/70 hingga <140/90 C140/90 120/70 hingga <135/85 C135/85 120/70 hingga <135/85 C135/85 115/65 hingga <130/80 C130/80 110/60 hingga <120/70 C120/70 OBPM: Office Blood Pressure Measurement. HBPM: Home Blood Pressure Measurement. ABPM: Ambulatory Blood Pressure Measurement Tabel 2. Klasifikasi tipe hipertensi HBPM atau ABPM TINGGI HBPM atau ABPM NORMAL OBPM TINGGI OBPM NORMAL HIPERTENSI HIPERTENSI TERSAMAR HIPERTENSI WHITE COAT NORMAL OBPM: Office Blood Pressure Measurement. HBPM: Home Blood Pressure Measurement. ABPM: Ambulatory Blood Pressure Measurement Penyebab Pseudo-Resistensi: Inersia Klinis Terapi anti hipertensi yang tidak optimal menyebabkan target penurunan tekanan darah tidak Berdasarkan studi Antihypertensive and Lipid-Lowering Treatment to Prevent Heart Attack Trial (ALLHAT), hanya 49. 6% pasien hipertensi resisten yang mendapatkan terapi optimal. Hal ini menunjukan sebenarnya pasien hipertensi resisten mungkin adalah pseudo-resistensi akibat obat yang tidak optimal (Muntner et al. , 2. Definisi terapi yang tidak optimal adalah dosis dan Jurnal Teras Kesehatan -55 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. kombinasi obat yang tidak sesuai rekomendasi. Manajemen kesehatan yang terpadu dan multidisiplin diperlukan untuk mengatasi inersia klinis. Manajemen tersebut meliputi identifikasi faktor risiko hipertensi, standarisasi metode pengukuran tekanan darah, dan penggunaan algoritme terapi anti hipertensi yang sesuai rekomendasi (Carey et al. , 2. Penyebab Pseudo-Resistensi: Fenomena Osler (Kalsifikasi Arteri Brachiali. Kesalahan pengukuran tekanan darah dapat terjadi pada kondisi penebalan dan kalsifikasi dinding arteri brachialis, terutama pada pasien usia lanjut. Pada usia muda dapat juga terjadi akibat cedera vaskular pada area fossa cubiti yang membuat kalsifikasi di arteri yang mengalami cedera. Kalsifikasi ini membuat pembuluh darah arteri sulit dikompresi oleh sphygmanometer. Manuver Osler dapat dilakukan untuk memprediksi adanya kalsifikasi pada arteri brachialis. Manuver tersebut dilakukan dengan cara melakukan kompresi manset diatas tekanan darah sistolik. Kemudian pemeriksa meraba arteri radialis atau brachialis. Bila arteri tersebut masih dapat teraba (Osler positi. maka diduga terdapat kalsifikasi pada arteri brachialis (Cheng, 1999. Patil et al. , 2. Penyebab Hipertensi Resisten Beberapa faktor diketahui berhubungan dengan terjadinya hipertensi resisten. Tabel 3 berikut ini adalah beberapa penyebab terjadinya hipertensi resisten yang harus dipertimbangkan (Carey et al. Schiffrin & Fisher, 2. Tabel 3. Beberapa penyebab terjadinya hipertensi resisten Faktor gaya hidup Pengaruh obat Pola tidur Hipertensi sekunder Obesitas, diet rendah garam, konsumsi alkohol berlebih, aktifitas fisik rendah atau kurang olahraga Nonsteroidal anti-inflammatory agents (NSAID. , kontrasepsi oral dan terapi hormon, imunosupressan . yclosporine, tacrolimu. , obat lain: eritropoitin rekombinan, penghambat tirosin kinase, kokain, amfetamin, antidepresan Sulit tidur dan pseudopheochromocytoma, obstructive sleep apnea Aldosteronism primer, penyakit parenkim ginjal, stenosis arteri renalis, pheochromocytoma, sindroma cushing, koartasio aorta Pasien dengan hipertensi resisten memerlukan evaluasi terhadap terjadinya kerusakan pada target organ atau hypertension mediated organ damage (HMOD). HMOD akan menyebabkan risiko terjadinya morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi pada pasien hipertensi resisten. Gambar 4 dan Tabel 4 berikut ini menunjukan algoritma dalam mengevaluasi HMOD pada pasien dengan hipertensi (Carey et al. , 2018. Chattranukulchai et al. , 2024. Hung-Ju Lin et al. , 2020. Schiffrin & Fisher, 2. Tabel 4. Evaluasi HMOD pada pasien hipertensi Organ Otak Mata Jantung Ginjal Arteri HMOD Stroke . skemik/perdaraha. TIA Gangguan kognitif Retinopati hipertensi Hipertrofi ventrikel kiri Atrial fibrilasi non valvular Gagal jantung Gagal ginjal kronis Proteinuria/albuminuria Aterosklerosis carotis Kekakuan aorta . aPWV C18 m/det, cfPWV >10 m/de. Aneurisma aorta Penyakit arteri perifer (ABI <0. Jurnal Teras Kesehatan -56 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. HMOD: Hypertension-mediated organ damage. TIA: Transient ischemia attack. baPWV: brachial-ankle pulse wave cfPWV: carotid-femoral pulse wave velocity. ABI: Ankle-brachial index Tatalaksana Hipertensi Resisten: Perubahan Gaya Hidup Modifikasi gaya hidup merupakan komponen penting dari manajemen terapi hipertensi resisten karena tanpa perbaikan gaya hidup target tekanan darah yang terkontrol akan sulit dicapai. Berikut ini adalah beberapa rekomendasi gaya hidup yang dianjurkan pada pasien hipertensi (Tabel . (Carey et al. , 2018. Schiffrin & Fisher, 2. Konfirmasi terapi anti hipertensi yang optimal Singkirkan kemungkinan pseudo-resistensi: Konfirmasi kepatuhan minum obat dan lakukan ABPM untuk menegakkan diagnosis hipertensi resisten Pertimbangkan hipertensi sekunder Evaluasi kerusakan target organ (HMOD) Gambar 4. Algoritma evaluasi hipertensi resisten ABPM: Ambulatory Blood Pressure Measurement. HMOD: Hypertension Mediated Organ Damage Tatalaksana Hipertensi Resisten: Perubahan Gaya Hidup Modifikasi gaya hidup merupakan komponen penting dari manajemen terapi hipertensi resisten karena tanpa perbaikan gaya hidup target tekanan darah yang terkontrol akan sulit dicapai. Berikut ini adalah beberapa rekomendasi gaya hidup yang dianjurkan pada pasien hipertensi (Tabel . (Guo et al. , 2021. Kim et al. , 2022. Simanjuntak et al. , 2023. Unger et al. , 2. Tabel 5. Rekomendasi perubahan gaya hidup pada pasien hipertensi Mengurangi konsumsi garam . iet rendah Studi menunjukan adanya hubungan antara diet tinggi garam dengan peningkatan tekanan darah. Oleh karena itu, pasien hipertensi hendaknya menghindari atau batasi konsumsi makanan tinggi garam seperti kecap, makanan cepat saji, makanan olahan dan sereal tinggi garam. Pola diet sehat . Mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung biji-bijian, buahbuahan, sayuran, lemak tak jenuh ganda dan produk susu. Mengurangi makanan tinggi gula, lemak jenuh dan lemak trans, seperti diet Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH). Meningkatkan asupan sayuran tinggi nitrat yang diketahui dapat menurunkan tekanan darah, seperti sayuran berdaun . eafy vegetable. dan buah Jurnal Teras Kesehatan -57 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. Memperbanyak konsumsi makanan dan nutrisi lain yang tinggi magnesium, kalsium dan kalium, seperti alpukat, kacang-kacangan dan biji-bijian. Minuman sehat Mengkonsumsi kopi, teh hijau dan teh hitam dalam jumlah sedang. Minuman lain yang dapat bermanfaat, antara lain teh hibiscus, jus delima dan jus bit. Penurunan berat badan Mengontrol berat badan dan menghindari obesitas merupakan hal yang penting, terutama obesitas sentral. Rekomendasi penurunan berat badan menurut body mass index (BMI) harus diikuti sesuai rekomendasi. Rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan direkomendasikan <0,5. Stop merokok Merokok merupakan faktor risiko utama untuk penyakit jantung, penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) dan kanker. Menghentikan kebiasaan merokok sangat dianjurkan pada pasien hipertensi, termasuk tidak menggunakan vape atau rokok elektrik. Perokok pasif juga sebaiknya dihindari. Olahraga teratur Studi menunjukkan bahwa olahraga aerobik dan ketahanan otot secara teratur dapat bermanfaat untuk pencegahan dan pengobatan hipertensi. Olahraga aerobik intensitas sedang . erjalan kaki, jogging, bersepeda, yoga, atau berenan. direkomendasikan selama 30 menit dan 5-7 hari/minggu. Atau olahraga dengan interval intensitas tinggi yang melibatkan latihan berat periode singkat bergantian dengan fase latihan yang lebih ringan. Latihan kekuatan juga dapat membantu menurunkan tekanan darah. Lakukan olahraga secara teratur baik ketahanan atau kekuatan otot selama 2-3 hari/minggu. Kurangi stres Stres kronis berhubungan dengan peningkatan tekanan darah di masa yang akan Mengurangi stress dapat dilakukan dengan meditasi ataupun penenangan diri. Tatalaksana Hipertensi Resisten: Terapi Farmakologis Pasien dengan hipertensi resisten memerlukan terapi antin hipertensi minimal 3 jenis obat yang berbeda dengan salah satunya adalah golongan diuretik. Gambar 5 menunjukan kemungkinan kombinasi obat anti hipertensi yang diberikan pada pasien hipertensi resisten (Hikmayani & Rachmawan, 2024b. Mancia et al. , 2021. Unger et al. , 2. ACEi/ARB Thiazide like diuretics/HCT CCB-DHP Hipertensi Resisten Obat lain: BBs, alfa-agonis. Gambar 5. Kombinasi terapi anti hipertensi pada pasien hipertensi resisten CCB-DHP: Calcium channel blocker-Dihydropyridine. ACEi: Angiotensin converting enzyme inhibitors. ARB: Angiotensin receptor blocker. BBs: Beta-blockers. HCT: Hydrochlorothiazide Jurnal Teras Kesehatan -58 |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 8 | No. 1 | [Januar. DOI: https://doi. org/10. 38215/jtkes. Tatalaksana Hipertensi Resisten: Terapi Intervensi Device Salah satu rekomendasi terapi intervensi device pada pasien hipertensi resisten adalah denervasi ginjal, yaitu prosedur tindakan ablasi pada saraf simpatis arteri renalis dengan tujuan untuk menurunkan respon simpatis (Cluett et al. , 2024. Rey-Garcya & Townsend, 2. Data penelitian yang mendukung keberhasilan terapi denervasi ginjal masih sangat terbatas. Studi Symplicity HTN3 menunjukan keberhasilan penurunan tekanan darah hingga 3 tahun setelah dilakukan denervasi Saat ini perhimpunan ahli hipertensi baik di Eropa ataupun di Indonesia belum memberikan rekomendasi kelas I terhadap terapi denervasi ginjal. Namun terapi denervasi ginjal mungkin dapat dilakukan pada pasien hipertensi resisten disertai penyakit kardiovaskular (Cluett et al. , 2024. McEvoy et al. , 2. KESIMPULAN Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyebab penyakit kardiovaskular. Pasien hipertensi dapat jatuh pada kondisi hipertensi resisten yang memerlukan pendekatan multidisiplin dalam Terapi non-farmakologis seperti perubahan gaya hidup merupakan bagian penting dalam manajemen hipertensi resisten. Pasien dengan hipertensi resisten memerlukan kombinasi beberapa obat anti hipertensi yang optimal untuk mencapai penurunan tekanan darah yang Terapi denervasi ginjal merupakan pilihan terapi yang menjanjikan dalam tatalaksana hipertensi resisten namun rekomendasi terkait intervensi tersebut masih belum cukup mendukung. Berdasarkan kajian literatur ini, diharapkan semakin banyak kajian literatur berikutnya mengenai terapi denervasi ginjal, terutama di Indonesia. UCAPAN TERIMA KASIH Tim peneliti mengucapkan terima kasih kepada institusi Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon. Indonesia atas dukungan dalam proses pembuatan kajian literatur ini. DAFTAR PUSTAKA