Teknik Pengendalian Hama Tikus dengan Metode Gropyokan Di Desa Sumbersari Kecamatan Sumberharta Sumini . Wartono . Alfiana . 1,2,) Fakultas Pertanian Universitas Musi Rawas 3,) Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Email: sumini. fpunmura@gmail. 2 wartono@gmail. 3 alfiana@gmail. ARTICLE HISTORY Received . Mei 2. Revised . Juli 2. Accepted . Juli 2. KEYWORDS Gropyokan. Rice. Rat Pest. This is an open access article under the CCAeBY-SA license ABSTRAK Tanaman padi menjadi sumber pangan utama di Indonesia yang mempunyai potensi untuk terus ditingkatkan dalam mendukung swasembada beras dengan produksi yang signifikan. Namun serangan hama tikus dapat mengurangi produksi padi hingga mencapai 37%. Melalui program kegiatan pengabdian ini bertujuan agar petani di Desa Sumbersari Kecamatan Sumberharta dapat melakukan teknik pengendalian hama yang lebih efisien dan efektif melalui metode Kegiatan ini berlangsung dari Juni hingga Agustus 2024 dan melibatkan partisipasi aktif lebih dari 80% petani setempat. Hasil dari kegiatan gropyokan ini didapat bahwa lebih dari 500 tikus berhasil ditangkap. Dari kegiatan ini juga menunjukkan bahwa serangan hama tikus menurun sebesar 30% setelah pelaksanaan kegiatan. Disamping itu juga dari program ini tidak hanya meningkatkan efektivitas pengendalian hama tetapi juga memperkuat solidaritas dan kerjasama antar petani. Kesadaran akan pentingnya metode ramah lingkungan dalam pengendalian hama semakin tumbuh, mendorong petani untuk menjadwalkan kegiatan gropyokan secara rutin. Kegiatan ini tidak hanya memberikan solusi praktis terhadap masalah hama tikus, tetapi juga menumbuhkan semangat kolaborasi dan kesadaran lingkungan di kalangan masyarakat desa. ABSTRACT Rice plants are the main food source in Indonesia which has the potential to continue to be increased in supporting rice self-sufficiency with significant production. However, rat pest attacks can reduce rice production by up to 37%. Through this community service program, the aimed is for farmers in Sumbersari Village. Sumberharta District to be able to carry out more efficient and effective pest control techniques through the gropyokan method. This activity will take place from June to August 2024 and will involve the active participation of more than 80% of local farmers. The results of this gropyokan activity showed that more than 500 rats were successfully caught. This activity also showed that rat pest attacks decreased by 30% after the implementation of the Besides that, this program not only increases the effectiveness of pest control but also strengthens solidarity and cooperation between farmers. Awareness of the importance of environmentally friendly methods in pest control is growing, encouraging farmers to schedule regular gropyokan activities. This activity not only provides a practical solution to the problem of rat pests, but also fosters a spirit of collaboration and environmental awareness among village PENDAHULUAN Tanaman padi (Oryza sativa L) merupakan komoditas utama dalam pertanian yang berfungsi sebagai sumber pangan bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Badan Pusat Statistik Nasional tercatat bahwa produksi padi di Musi Rawas selama tiga tahun terakhir selalu mengalami peningkatan yaitu dari tahun 2022 produksi padi mencapai 100. 005,52 ton/tahun, dan pada tahun 2023 meningkat sebesar 7,35 % yaitu mencapai 107. 355,30 ton/tahun. kemudian pada tahun 2024 terjadi peningkatan kembali sebesar 8,38 % menjadi 116. 076,29 ton/tahun (Badan Pusat Statistik, 2. Peningkatan produksi padi ini terus harus dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan di Kabupaten Musi Rawas. Di Desa Sumbersari Kecamatan Sumberharta tanaman padi tidak hanya menjadi penopang ekonomi keluarga, tetapi juga memiliki nilai budaya yang mendalam bagi masyarakat Namun, keberadaan hama terutama hama tikus dapat menjadi permasalahan serius yang dapat mengancam produksi padi di Desa ini. Serangan hama tikus ini mampu menurunkan hasil mencapai 37% (SaAodiyah et al. , 2. Hama ini mampu merusak tanaman padi pada semua fase pertumbuhan (Baco, 2. Tikus ini juga dapat menyebabkan tingkat serangan puso tertinggi dengan luas serangan mencapai 66,087 ha/th dengan 1,852 ha (Siregar et al. , 2. Hama tikus dikenal memiliki kebiasaan yang merusak tanaman di mana dapat menyerang tanaman padi sejak awal pertumbuhan hingga masa panen hingga sampai penyimpanan (Sepe dan Suhardi, 2. Tingginya populasi tikus yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerugian dan kerusakan tanaman secara signifikan, di mana kerusakan berat yang ditimbulkan oleh hama ini dimulai dari tengah petakan dan meluas ke arah pinggiran petakan hingga tersisa 1-2 baris tanaman yang ada dipinggir petakan (Sudarmaji et al. , 2017 . Rahman et al. , 2. Hal ini tentu saja berdampak pada pendapatan petani dan ketahanan pangan masyarakat desa. Jurnal Dehasen Untuk Negeri. Vol. 4 No. 2 Juli 2025 page: 195 Ae 200 | 195 Masyarakat Desa Sumbersari memiliki berbagai cara dalam mengatasi masalah tikus. Secara tradisional mereka sering kali mengandalkan metode manual seperti memasang perangkap atau menggunakan suara dan bau untuk mengusir tikus. Namun, cara-cara ini sering kali tidak efektif dalam jangka panjang dan tidak mampu mengatasi populasi tikus yang terus berkembang. Oleh karena itu, adanya pembinaan kelompok tani menjadi sangat penting untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik dalam pengendalian hama tikus. Pembinaan kelompok tani di Desa Sumbersari bertujuan untuk mengedukasi para petani mengenai teknik pengendalian hama yang lebih efisien salah satunya melalui metode gropyokan, di mana sekelompok petani bekerja sama untuk mengendalikan populasi tikus secara kolektif. Metode ini melibatkan partisipasi aktif dari seluruh anggota kelompok tani dalam mengendalikan populasi tikus secara kolektif. Melalui pendekatan ini diharapkan petani dapat bekerja sama, saling berbagi informasi, dan mengimplementasikan strategi yang lebih efektif untuk mengatasi hama tikus. Metode ini tidak hanya meningkatkan efektivitas pengendalian hama, tetapi juga memperkuat solidaritas dan kerjasama antar petani di desa. Oleh karena itu, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan solusi yang berkelanjutan dalam pengendalian hama tikus, serta mendorong peningkatan produktivitas pertanian di Desa Mataram. Permasalahan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini yang dihadapi petani di Desa Sumbersari Kecamtan Sumberharta adalah bahwa hama tikus masih menjadi kendala dalam melakukan budidaya tanaman dan masih membutuhkan bimbingan dan pendampingan dalam mengendalikan hama tikus secara efektif dan lebih ramah lingkungan. Adapun tujuan dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah agar petani di Desa Sumbersari Kecamatan Sumberharta mempunyai pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan pengendalian hama tikus secara efektif dan lebih ramah lingkungan sehingga populasi dan tingkat serangan hama tikus dapat berada dibawah ambang ekonomi dan tidak merusak tanaman yang dibudidayakan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat bermanfaat sebagai sumber informasi dan sumbangan pemikiran bagi pemerintah setempat dalam mengambil kebijakan dan keputusan untuk memaksimalkan teknik pengendalian hama tikus yang lebih ramah lingkungan dan manfaat bagi masyarakat akan mendapatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan serta informasi yang lebih baik dalam mengendalikan hama tikus. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Desa Sumbersari Kecamatan Sumberharta Kabupaten Musi Rawas yang melibatkan kelompok tani padi yang membudidayakan tanaman padi sawah. Kegiatan dilakukan pada bulan Juni sampai dengan bulan Agustus 2024. Kegiatan pengabdian dilakukan dengan cara penyuluhan dan pendampingan serta kegiatan pelaksanaan percontohan . raktek langsung dilapanga. Kegiatan pengendalian hama tikus ini menerapkan metode dengan pendekatan PHTT. Kegiatan PHTT ini dilakukan dengan cara melakukan sanitasi habitat, tanam serempak, fumigasi, penggunaan pestisida . dan kegiatan gropyokan masal. Kegiatan gropyokan ini dilakukan berdasarkan kondisi dilapangan dan kondisi sawah. Dalam hal ini kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam melakukan pengendalian hama tikus dilakukan secara gropyokan. Tahapan awal dalam kegiatan pengabdian ini melakukan penjelasan dan penyuluhan kepada petani tentang bahaya hama tikus dan tingkat kerugian yang disebabkan oleh hama tikus. Kegiatan pengabdian ini juga melibatkan petugas penyuluh dilapangan dan semua petani yang ada pada kelompok tani di Desa Mataram Kecataman Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas. Tahapan selanjutnya tim pengabdian masyarakat juga harus memastikan petani akan terus menerapkan kegiatan ini dalam menekan perkembangan dan populasi hama tikus. Tahapan terakhir dalam kegiatan ini dilakukan Evaluasi dilakukan untuk melihat tingkat keberhasilan dari penerapan kegiatan goproyokan dalam mengendalikan hama tikus. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Desa Sumbersari. Kecamatan Sumberharta, telah berhasil terlaksana dengan baik dengan melibatkan kelompok tani lokal, perangkat desa, serta penyuluh pertanian. Fokus utama kegiatan adalah pengendalian hama tikus yang selama ini menjadi salah satu ancaman utama bagi hasil panen petani, terutama padi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan sebagai upaya dalam memberikan solusi bagi kelompok tani dalam menekan dan memberantas populasi dari hama tikus di sawah. Kegiatan pengabdian ini dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan karena para masyarakat atau petani mempunyai partisipasi yang aktif. Petani juga sangat antusias dalam berdikusi tentang hama tikus 196 | Sumini. Wartno. Alfiana. Teknik Pengendalian Hama Tikus dengan Metode Gropyokan Di Desa Sumber. dan cara pengendaliannya, dengan tim pengabdian kepada masyarakat dan para penyuluh pertanian. Saat melakukan diskusi dengan petani dan petugas penyuluh pertanian dilapangan, dijelaskan tentang sistem pengendalian hama tikus secara efektif, terpadu dan lebih ramah lingkungan (Gambar . Gambar 1. Diskusi Dengan Petugas Penyuluh Pertanian Dan Petani Tentang Teknik Pengendalian Hama Tikus Pada tahapan awal kegiatan pengabdian masyarakat ini, tim pengabdian melakukan survei awal untuk menentukan lokasi dan mengetahui permasalahan yang sering dihadapi oleh petani dalam melakukan budidaya tanaman padi, terutama pada permasalahan hama dan penyakitnya. Umumnya petani di Desa Sumbersari Kecamatan Sumberharta di Kabupaten Musi Rawas melakukan kegiatan bertani dengan menanam padi, jagung dan sayuran dengan teknik budidaya masih secara konvensional dan dalam melakukan budidaya tanaman tersebut petani di Desa Sumbersari selalu mengalami kendala dengan adanya serangan hama tikus yang dapat merusak hasil tanaman. Walaupun hama ini telah dikendalikan dengan berbagai sistem pengendalian akan tetapi populasi hama tersebut masih saja ada dengan tingkat serangan yang masih tinggi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini juga tidak hanya dilakukan sebatas sosialisasi dan ceramah saja namun dilakukan kegiatan diskusi dan demonstrasi atau pelaksanaan secara langsung dilapangan bersama-sama dengan petani dan penyuluh pertanian dalam mengendalikan hama tikus. Sehingga tim pengabdian kepada masyarakat memberikan solusi untuk melakukan kegiatan pengendalian yang lebih efektif dan ramah lingkungan dan dilakukan secara serentak serta bersamasama sebelum memasuki musim tanam, yaitu melalui sistem gropyokan. Sistem gropyokan dalam mengendalikan hama tikus ini menjadi pilihan utama untuk diterapkan karena dalam kegiatan gropyokan ini dapat mengendalikan dan menekan perkembangan populasi hama tikus serta melakukan pembongkaran tanah yang berpotensi menjadi sarangnya (Gambar . Gambar 2. Pembongkaran Sarang Tempat Persembunyian Tikus Jurnal Dehasen Untuk Negeri. Vol. 4 No. 2 Juli 2025 page: 195 Ae 200 | 197 Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dalam melakukan pengendalian hama tikus melalui metode gropyokan dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat pada kelompok tani di Desa Sumbersari Kecamatan Sumberharta Kabupaten Musi Rawas No Komponen Hasil kegiatan Sebelum Sesudah Keterlibatan petani A 50% petani mengikuti A 80% petani mengikuti kegiatan Populasi hama tikus yang tertangkap A 200 ekor tikus yang tertangkap melalui A 500 ekor tikus yang tertangkap melalui kegiatan Gropyokan Serangan hama tikus Mencapai 65% Menurun mencapai Pengetahuan petani untuk penerapkan PHTT dalam teknik budidaya padi Masih 40% Meningkat mencapai Pengetahuan petani tentang PHTT terutama kegiatan gropyokan Masih rendah dibawah Meningkat menjadi Pengetahuan petani tentang pestisida Masih rendah dibawah Meningkat menjadi Selama kegiatan gropyokan berlangsung partisipasi petani sangat tinggi. Dalam kegiatan ini terlihat petani sangat antusias dan kooperatif untuk mengikuti pengabdian kepada masyarakat ini, hal ini terlihat dari banyaknya petani yang datang dan mengikuti kegiatan ini sampai selesai. Dari seluruh anggota kelompok tani yang ada di Desa Sumbersari, lebih dari 80% ikut serta secara langsung dalam kegiatan ini. Mereka secara sukarela turun ke sawah untuk bersama-sama memburu tikus, yang dilakukan tidak hanya sekali, tetapi secara berkala selama tiga minggu. Antusiasme ini menunjukkan bahwa para petani sangat peduli terhadap upaya pengendalian hama dan memahami pentingnya kerja sama dalam melindungi tanaman mereka dari serangan tikus. Kegiatan pengendalian tikus dengan sistem gropyokan ini bertujuan untuk membasmi populasi tikus sampai tuntas sampai ke anak-anaknya dan membongkar semua tempat yang berpotensi menjadi tempat persembunyian tikus. Dalam pelaksanaannya pada kegiatan gropyokan ini para petani berhasil menangkap tikus dalam jumlah yang cukup besar. Secara keseluruhan, tercatat sebanyak 500 ekor lebih tikus tertangkap selama kegiatan berlangsung. Jumlah ini menunjukkan bahwa populasi hama tikus di area persawahan Desa Sumbersari memang cukup tinggi dan perlu penanganan serius. Dengan hasil tangkapan sebanyak itu, kegiatan gropyokan terbukti efektif dalam mengurangi jumlah tikus yang selama ini merusak tanaman padi milik petani. Setelah kegiatan gropyokan dilakukan, terlihat adanya dampak positif yang cukup signifikan terhadap kondisi lahan pertanian. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, serangan hama tikus menurun sekitar 30% dibandingkan dengan kondisi sebelum kegiatan dilaksanakan. Hal ini menunjukan bahwa kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh serangan hama ini akan jauh menjadi lebih sedikit. Penurunan ini menjadi bukti bahwa gropyokan yang dilakukan secara bersama-sama dapat membantu menekan jumlah tikus di sawah dan melindungi hasil panen petani secara lebih efektif. Selama proses pendampingan dan pelaksanaan gropyokan, para petani mulai menyadari bahwa pengendalian hama tikus tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Petani juga sangat memahami bahwa cara yang paling efektif adalah dengan bekerja sama secara kolektif dan serempak. Kegiatan ini juga membuka wawasan petani tentang pentingnya menggunakan metode yang ramah lingkungan seperti gropyokan, dibandingkan cara-cara kimiawi yang bisa merusak tanah dan lingkungan sekitar. Kesadaran ini menjadi langkah awal yang penting untuk membangun kebiasaan pengendalian hama yang berkelanjutan dan aman bagi ekosistem pertanian. Setelah melihat hasil positif dari kegiatan gropyokan, para anggota kelompok tani di Desa Sumbersari sepakat untuk tidak menjadikannya sebagai kegiatan satu kali saja. Mereka memutuskan untuk menetapkan jadwal rutin, yaitu melakukan gropyokan setiap awal musim tanam dan di pertengahan Keputusan ini diambil agar pengendalian hama tikus bisa dilakukan secara lebih teratur dan berkelanjutan, sehingga populasi tikus tidak sempat berkembang kembali dan merusak tanaman. Dengan 198 | Sumini. Wartno. Alfiana. Teknik Pengendalian Hama Tikus dengan Metode Gropyokan Di Desa Sumber. adanya jadwal ini, diharapkan petani menjadi lebih siap dan responsif dalam menjaga hasil pertanian mereka sejak dini. Tahapan akhir dalam kegiatan pengabdian kepada masyrakat ini, selanjutnya melakukan foto bersama antara tim pengabdian kepada masyarakat dengan penyuluh pertanian dan perangkat desanya (Gambar . Gambar 3. Foto bersama tim pengabdian dengan penyuluh pertanian KESIMPULAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam melakukan pengendalian hama tikus melalui metode gropyokan di Desa Sumbersari. Kecamatan Sumberharta. Kabupaten Musi Rawas, memberikan hasil yang positif dan signifikan. Dengan melibatkan lebih dari 80% petani setempat, kegiatan ini berhasil menangkap lebih dari 500 ekor tikus, yang sekaligus menurunkan tingkat serangan hama tikus hingga 30%. Selain itu, program ini tidak hanya meningkatkan efektivitas pengendalian hama, tetapi juga memperkuat solidaritas dan kerjasama antar petani. Kesadaran akan pentingnya metode ramah lingkungan dalam pengendalian hama semakin tumbuh di kalangan petani, yang dapat menciptakan kebiasaan bertani yang lebih berkelanjutan dan aman bagi lingkungan. SARAN Demi keberlanjutan hasil yang telah dicapai dalam kegiatan pengabdian ini, maka kami tim pengabdian mendorong para petani untuk menjadwalkan kegiatan gropyokan secara rutin, terutama sebelum dan selama musim tanam. Hal ini penting untuk menjaga populasi tikus tetap terkendali dan mengurangi kerusakan pada tanaman padi. Selain itu, disarankan agar petani terus melibatkan diri dalam program penyuluhan dan pelatihan yang disediakan oleh pihak terkait, guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengendalian hama secara efektif dan ramah lingkungan. UCAPAN TERIMA KASIH Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat dilaksanakan dengan baik dengan adanya kerjasama antara Faklutas Pertanian Universitas Musi Rawas. Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit dan Kelompok Tani Di Desa Sumbersari Kecamatan Sumberharta. Tim pengabdian mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memfasilitasi dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini, sehingga kegiatan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Harapan kedepannya dapat bekerjasama dengan baik dengan kegiatan yang lain yang dapat bermanfaat bagi orang lain. DAFTAR PUSTAKA