Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 5. Nomor 1. Februari 2026 https://pusdikra-publishing. com/index. php/jkes/home Peran Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Toleran dan Inklusif di Era Multikultural Muhammad Saripuddin B STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil. Indonesia Corresponding Author : muhammadsaripudinb. staisar@gmail. ABSTRACT The multicultural context of contemporary society presents both challenges and opportunities for Islamic Religious Education (Pendidikan Agama Islam/PAI) in shaping studentsAo tolerant and inclusive character. IndonesiaAos socio-cultural diversity requires educational institutions not only to transmit religious knowledge but also to cultivate ethical and social values that strengthen social cohesion and harmonious coexistence. This study aims to analyze the role of PAI in fostering tolerant and inclusive character in the multicultural era. The research employs a qualitative approach using a library research design. Data were collected from scholarly books, national and international journal articles, and official policy documents related to religious moderation and multicultural education. The data were analyzed through content analysis, involving data reduction, thematic categorization, and inductive conclusion drawing. The findings reveal that PAI possesses strong normative and pedagogical foundations for character formation through the internalization of universal Islamic values such as compassion . , justice (Aoad. , brotherhood . , and respect for human The integration of religious moderation principles, multicultural approaches, dialogical learning, contextual case studies, and digital religious literacy emerges as effective strategies for nurturing inclusive attitudes among students. However, the implementation of multiculturalbased PAI still faces challenges related to teachersAo pedagogical competence, curriculum design, and institutional culture. Therefore, pedagogical transformation and institutional commitment are essential to ensure that PAI functions as a strategic instrument in developing religious yet humanistic generations capable of living peacefully within diverse Kata Kunci Islamic Religious Education, tolerance, inclusivity, multiculturalism, religious PENDAHULUAN Indonesia merupakan bangsa yang dibangun di atas realitas kemajemukan: perbedaan etnis, bahasa, budaya, kelas sosial, dan agama hadir secara berdampingan dalam ruang-ruang publik, termasuk sekolah dan Dalam konteks ini, pendidikan memiliki mandat strategis untuk memastikan keragaman tidak berkembang menjadi segregasi sosial, tetapi Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 5. Nomor 1. Februari 2026 Halaman 1-9 justru menjadi energi kebangsaan yang memperkuat kohesi. Pendidikan agama termasuk Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki posisi unik karena menyentuh dimensi nilai, keyakinan, dan pembentukan karakter peserta didik yang paling mendasar (Wahid, 2. Namun, era multikultural tidak selalu berjalan harmonis. Berbagai dinamika sosial menunjukkan adanya ketegangan identitas dan munculnya sikap AukitaAemerekaAy yang dapat mendorong eksklusivisme, stereotip, hingga Situasi ini semakin kompleks karena peserta didik tumbuh di tengah arus informasi yang cepat dan sering kali tidak terverifikasi, sehingga prasangka dapat terbentuk lebih dini. Di sinilah pendidikan bernilai . aluebased educatio. berperan sebagai Auruang amanAy untuk menumbuhkan cara pandang yang adil, empatik, dan menghormati perbedaan (Fitriyana, 2. PAI sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional pada hakikatnya tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi keagamaan, tetapi juga pembentukan akhlak dan karakter sosial yang selaras dengan kehidupan Orientasi ini menuntut PAI mampu menanamkan nilai rahmah, adil, musyawarah, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Dengan demikian. PAI idealnya menjadi medium pembelajaran yang membangun kesadaran keberagaman, bukan sekadar pemantapan identitas keagamaan yang kaku (Wahid, 2. Dalam beberapa tahun terakhir, wacana moderasi beragama menjadi salah satu kerangka penting dalam pendidikan di Indonesia. Moderasi beragama menegaskan sikap beragama yang seimbang tidak ekstrem, serta mengedepankan kemaslahatan, perdamaian, dan penghargaan pada Kerangka ini relevan untuk pendidikan karena memberi landasan etis agar agama hadir sebagai inspirasi kebajikan sosial dan bukan sumber polarisasi (Kementerian Agama RI, 2019. Fitriyana, 2. Karakter toleran dan inklusif pada peserta didik tidak lahir secara instan, melainkan dibentuk melalui proses belajar yang konsisten, pengalaman perjumpaan yang sehat, dan keteladanan. PAI dapat menjadi kanal penguatan karakter tersebut melalui pengembangan kompetensi spiritual, moral, dan Karena itu. PAI perlu didorong untuk mengintegrasikan nilai-nilai multikultural secara sadar dalam tujuan, materi, strategi, dan penilaiannya (Zubaidi, 2. Pendekatan multikultural dalam PAI menekankan bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan fakta sosial yang harus dikelola dengan prinsip keadilan dan penghormatan. Secara praksis, pendekatan ini dapat tampil dalam pembelajaran dialogis, studi kasus kehidupan nyata, kerja kolaboratif lintas kelompok, dan pemaknaan ajaran Islam yang menekankan persaudaraan Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 5. Nomor 1. Februari 2026 Halaman 1-9 Sejumlah kajian menunjukkan bahwa penguatan wawasan multikultural dalam pendidikan agama berkontribusi pada gerakan toleransi dan harmoni sosial (Zubaidi, 2024. Lestari, 2. Selain strategi pembelajaran, dimensi manajemen pembelajaran PAI juga menentukan berhasil-tidaknya pembentukan karakter toleran dan inklusif. Integrasi sekolah/madrasah, budaya organisasi yang menghargai perbedaan, serta kegiatan keagamaan yang tidak diskriminatif. Dengan kata lain, penguatan toleransi melalui PAI harus dipahami sebagai kerja sistemik, bukan hanya tugas guru di ruang kelas (Badruddin, 2. Di tengah keragaman peserta didik, tantangan PAI semakin nyata ketika pembelajaran masih dominan satu arah dan berfokus pada hafalan konsep, sementara ruang dialog, empati, dan refleksi sosial belum kuat. Padahal, toleransi menuntut keterampilan sosial: kemampuan mendengar, memahami perspektif orang lain, mengelola perbedaan, serta membedakan antara AuberbedaAy dan AubermusuhanAy. Jika PAI tidak bertransformasi, ia berisiko dipahami sebatas ritual dan identitas, bukan sebagai etika sosial yang memanusiakan (Wahid, 2. Era digital juga menghadirkan tantangan baru: penyebaran ujaran kebencian dan narasi intoleran dapat masuk melalui media sosial yang dikonsumsi peserta didik setiap hari. PAI perlu mengembangkan literasi keagamaan yang kritisAimengajarkan cara membaca teks dan konteks, menilai validitas informasi keagamaan, serta memahami prinsip-prinsip hidup damai dalam masyarakat majemuk. Kerangka moderasi beragama memberi pijakan kuat untuk menanamkan sikap anti-kekerasan, komitmen kebangsaan, serta akomodatif terhadap budaya lokal yang tidak bertentangan dengan nilai dasar agama (Kementerian Agama RI, 2019. Fitriyana, 2. Pada level praksis, berbagai studi menunjukkan bahwa pendidikan agama yang inklusif dapat membentuk iklim belajar yang lebih terbuka, mengurangi prasangka, dan memperkuat kerja sama sosial antar peserta didik. Pendidikan agama inklusif tidak berarti mengaburkan identitas keislaman, tetapi memfokuskan ajaran pada nilai universal: keadilan, kasih sayang, amanah, dan penghormatan martabat manusia. Dengan demikian, penguatan toleransi berjalan seiring dengan penguatan integritas keberagamaan (Hakim, 2. Di Indonesia, pembentukan toleransi melalui PAI juga berkaitan dengan konteks sosial yang sangat beragam, termasuk wilayah urban dan rural yang memiliki karakter budaya berbeda. Pembelajaran PAI yang berwawasan multikultural perlu peka terhadap konteks lokal: tradisi, pola relasi sosial, serta realitas perjumpaan antar kelompok. Pelajaran yang relevan dengan konteks Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 5. Nomor 1. Februari 2026 Halaman 1-9 akan lebih mudah diterima dan ditransformasikan menjadi kebiasaan sosial (Zubaidi, 2. Meskipun demikian, riset dan praktik di lapangan memperlihatkan bahwa penguatan karakter toleran dan inklusif melalui PAI masih menghadapi hambatan: kesiapan guru, dukungan kurikulum, keterbatasan model pembelajaran, serta penilaian yang lebih menekankan kognisi daripada sikap dan praktik sosial. Karena itu, dibutuhkan penguatan desain pembelajaran PAI yang menyeimbangkan aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan sosial. sisi lain, kajian-kajian mutakhir juga menawarkan best practice integrasi nilai multikultural dalam PAI yang dapat direplikasi sesuai kebutuhan (Lestari. Widat, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini menegaskan urgensi PAI sebagai instrumen strategis pembentukan karakter toleran dan inklusif di era Penguatan toleransi dan inklusivitas melalui PAI tidak cukup dengan narasi normatif, tetapi memerlukan transformasi pedagogis, penguatan budaya sekolah/madrasah, serta internalisasi kerangka moderasi beragama. Dengan menempatkan PAI sebagai pendidikan nilai yang dialogis, kontekstual, dan berorientasi kemanusiaan, diharapkan lahir generasi yang beriman, berakhlak, sekaligus mampu hidup damai dalam masyarakat yang majemuk (Wahid, 2024. Kementerian Agama RI, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan . ibrary researc. yang bertujuan untuk menganalisis secara mendalam peran Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membentuk karakter toleran dan inklusif di era multikultural. Pendekatan ini dipilih karena fokus penelitian berada pada eksplorasi konsep, teori, dan temuan empiris yang telah dipublikasikan dalam berbagai literatur ilmiah, baik berupa buku, artikel jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini berupaya memahami fenomena secara komprehensif dan kontekstual, bukan sekadar menguji hubungan antarvariabel secara kuantitatif (Creswell & Creswell, 2. Sumber data penelitian terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer berupa buku-buku dan artikel jurnal yang secara langsung membahas Pendidikan Agama Islam, moderasi beragama, pendidikan multikultural, serta pembentukan karakter toleran dan inklusif. Adapun data sekunder meliputi dokumen kebijakan pendidikan, laporan penelitian, dan publikasi ilmiah pendukung yang relevan dengan tema kajian. Kriteria literatur yang digunakan adalah terbitan sepuluh tahun terakhir untuk menjamin kebaruan dan relevansi Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 5. Nomor 1. Februari 2026 Halaman 1-9 kajian, kecuali karya-karya klasik yang memiliki signifikansi teoretis kuat (Zed. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan menelusuri basis data ilmiah seperti Google Scholar. DOAJ. Garuda, dan portal jurnal terindeks lainnya. Literatur yang diperoleh kemudian diseleksi berdasarkan kesesuaian topik, kredibilitas penerbit, serta kontribusi terhadap penguatan kerangka konseptual penelitian. Proses ini dilakukan secara sistematis agar data yang dianalisis benar-benar mendukung fokus penelitian mengenai internalisasi nilai toleransi dan inklusivitas dalam pembelajaran PAI. Analisis data menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. , yaitu mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menafsirkan tema-tema utama yang berkaitan dengan konsep toleransi, inklusivitas, moderasi beragama, dan strategi pembelajaran PAI. Tahapan analisis meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan secara induktif. Melalui analisis ini, peneliti berupaya menemukan pola-pola konseptual dan sintesis teoretis yang dapat menjelaskan bagaimana PAI berperan strategis dalam membentuk karakter toleran dan inklusif di masyarakat multikultural (Miles. Huberman, & Saldaya. Untuk menjaga validitas dan kredibilitas penelitian, dilakukan triangulasi sumber dengan membandingkan berbagai literatur dari perspektif yang berbeda serta melakukan pengecekan ulang terhadap argumentasi yang berkembang dalam kajian. Selain itu, peneliti menerapkan prinsip objektivitas dan konsistensi dalam proses analisis agar interpretasi yang dihasilkan tidak Dengan prosedur metodologis tersebut, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi konseptual yang kuat bagi pengembangan kajian Pendidikan Agama Islam berbasis multikultural. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki posisi strategis dalam pembentukan karakter toleran dan inklusif karena substansi ajarannya secara normatif mengandung nilai-nilai universal seperti keadilan . l-Aoad. , kasih sayang . , persaudaraan . , dan penghormatan terhadap martabat manusia. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi etis yang relevan dalam konteks masyarakat multikultural. Konsep Islam sebagai rahmatan lil Aoalamin menegaskan bahwa ajaran Islam tidak hanya diperuntukkan bagi komunitas tertentu, tetapi membawa misi kemaslahatan universal (Kementerian Agama RI, 2. Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 5. Nomor 1. Februari 2026 Halaman 1-9 Temuan kajian juga memperlihatkan bahwa integrasi perspektif moderasi beragama dalam PAI menjadi pendekatan efektif dalam mereduksi potensi Moderasi beragama mendorong sikap tengah . , menolak ekstremisme, dan mengedepankan dialog dalam menyikapi Dalam konteks pendidikan, moderasi beragama membantu peserta didik memahami bahwa keberagaman adalah sunnatullah yang tidak dapat dihindari, melainkan harus dikelola secara bijak (Wahid, 2. Secara konseptual, pendidikan multikultural dalam PAI menekankan pentingnya pengakuan terhadap pluralitas identitas. Banks . menjelaskan bahwa pendidikan multikultural tidak hanya bertujuan mengenalkan keberagaman, tetapi juga membangun kompetensi sosial untuk hidup bersama secara adil. Dalam konteks PAI, pendekatan ini diwujudkan melalui pembelajaran yang menanamkan sikap saling menghormati antaragama, antarsuku, dan antarbudaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa strategi pembelajaran dialogis menjadi salah satu praktik efektif dalam membentuk karakter inklusif. Pembelajaran dialogis memberi ruang bagi peserta didik untuk mengemukakan pandangan, berdiskusi, serta memahami perspektif yang berbeda secara terbuka. Freire . menekankan bahwa dialog dalam pendidikan membangun kesadaran kritis dan empati sosial, dua komponen penting dalam pembentukan toleransi. Selain pendekatan dialogis, penggunaan studi kasus kontekstual juga terbukti relevan dalam pembelajaran PAI berbasis multikultural. Studi kasus memungkinkan peserta didik menganalisis persoalan nyata terkait konflik sosial, keberagaman, atau isu intoleransi. Pendekatan ini mendorong kemampuan berpikir reflektif dan moral reasoning, sebagaimana dijelaskan oleh Lickona . bahwa pendidikan karakter efektif ketika peserta didik dilibatkan dalam analisis dilema moral yang nyata. Hasil kajian juga menunjukkan bahwa keteladanan guru memiliki peran sentral dalam membentuk karakter toleran. Guru PAI tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai role model dalam bersikap adil, terbuka, dan menghargai perbedaan. Keteladanan ini selaras dengan teori social learning yang menyatakan bahwa perilaku peserta didik banyak dipengaruhi oleh observasi terhadap figur signifikan (Bandura, 2. Di tingkat kelembagaan, budaya sekolah atau madrasah menjadi faktor determinan dalam keberhasilan internalisasi nilai toleransi. Sekolah yang mengembangkan budaya inklusifAimisalnya melalui kegiatan lintas budaya, diskusi interfaith, atau kolaborasi sosialAilebih efektif dalam menumbuhkan sikap terbuka pada peserta didik. Hal ini sejalan dengan temuan Zubaidi . Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 5. Nomor 1. Februari 2026 Halaman 1-9 bahwa integrasi wawasan multikultural dalam ekosistem pendidikan memperkuat gerakan toleransi. Hasil kajian juga mengindikasikan bahwa kurikulum PAI perlu dirancang secara integratif dengan memuat capaian pembelajaran yang tidak hanya berorientasi kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik. Penilaian sikap toleransi, empati, dan inklusivitas perlu mendapat porsi yang seimbang. Tanpa desain kurikulum yang sistematis, pembentukan karakter cenderung bersifat normatif dan kurang terukur (Banks, 2. Dalam era digital, tantangan intoleransi sering muncul melalui media Oleh karena itu. PAI perlu mengembangkan literasi keagamaan digital yang kritis. Literasi ini membantu peserta didik memilah informasi, memahami konteks keagamaan secara komprehensif, dan menolak narasi kebencian. Pendekatan ini relevan dengan gagasan moderasi beragama yang menekankan anti-kekerasan dan komitmen kebangsaan (Kementerian Agama RI, 2. Pembahasan juga menunjukkan bahwa pembentukan karakter toleran melalui PAI harus berbasis pengalaman langsung . xperiential learnin. Kolb . menjelaskan bahwa pembelajaran efektif terjadi melalui siklus pengalaman, refleksi, konseptualisasi, dan aplikasi. Dalam konteks PAI, pengalaman kolaboratif lintas kelompok dapat memperkuat empati dan solidaritas sosial. Namun demikian, hasil kajian mengidentifikasi sejumlah hambatan, seperti keterbatasan kompetensi pedagogik guru dalam mengelola diskusi sensitif, serta dominasi metode ceramah yang kurang partisipatif. Tantangan ini menunjukkan perlunya penguatan pelatihan guru PAI agar mampu mengimplementasikan pembelajaran inklusif secara efektif (Wahid, 2. Selain itu, resistensi terhadap pendekatan multikultural terkadang muncul karena kekhawatiran akan relativisme nilai. Padahal, inklusivitas dalam PAI tidak berarti mengaburkan prinsip akidah, melainkan mengajarkan cara bersikap adil dan bijaksana dalam kehidupan sosial. Pendidikan agama yang matang justru memperkuat identitas keagamaan sekaligus membangun penghargaan terhadap perbedaan (Lickona, 2. Secara teoretis, hasil kajian ini memperlihatkan bahwa pembentukan karakter toleran melalui PAI dapat dipahami sebagai integrasi antara dimensi spiritual, moral, dan sosial. Integrasi ini membentuk pribadi yang religius sekaligus humanis. Konsep ini sejalan dengan paradigma pendidikan Islam yang menekankan keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan . dan hubungan dengan sesama manusia . (Kementerian Agama RI, 2. Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 5. Nomor 1. Februari 2026 Halaman 1-9 Implikasi praktis dari temuan ini adalah perlunya pengembangan model pembelajaran PAI berbasis multikultural yang sistematis, mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Model ini dapat mengintegrasikan pendekatan dialogis, studi kasus, literasi digital, serta penguatan budaya sekolah inklusif sebagai satu kesatuan yang saling mendukung (Zubaidi, 2. Secara keseluruhan, hasil dan pembahasan ini menegaskan bahwa PAI memiliki potensi besar sebagai instrumen pembentukan karakter toleran dan inklusif di era multikultural. Namun, potensi tersebut hanya dapat terwujud apabila didukung oleh transformasi pedagogis, penguatan kompetensi guru, serta komitmen kelembagaan dalam membangun budaya pendidikan yang dialogis dan humanis (Wahid, 2024. Banks, 2. KESIMPULAN Pendidikan Agama Islam memiliki peran strategis dalam membentuk karakter toleran dan inklusif di era multikultural karena secara substansial memuat nilai-nilai universal seperti keadilan, kasih sayang, persaudaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Nilai-nilai tersebut, apabila diinternalisasikan melalui proses pembelajaran yang dialogis dan kontekstual, mampu membangun kesadaran peserta didik bahwa keberagaman merupakan realitas sosial yang harus disikapi dengan bijak dan konstruktif. Integrasi moderasi beragama dalam pembelajaran PAI terbukti menjadi kerangka penting dalam menumbuhkan sikap tengah . , antikekerasan, serta komitmen kebangsaan. Pendekatan multikultural yang diimplementasikan melalui diskusi reflektif, studi kasus, pembelajaran kolaboratif, dan penguatan literasi digital keagamaan memperkuat pembentukan empati dan kemampuan hidup berdampingan secara damai. Namun demikian, efektivitas peran PAI dalam membentuk karakter toleran dan inklusif sangat bergantung pada kesiapan guru, desain kurikulum yang integratif, serta budaya sekolah yang mendukung nilai-nilai inklusivitas. Tanpa transformasi pedagogis dan dukungan kelembagaan yang sistematis, pembelajaran PAI berisiko berhenti pada tataran normatif dan kurang berdampak pada perilaku sosial peserta didik. Dengan demikian. PAI perlu terus dikembangkan sebagai pendidikan nilai yang tidak hanya memperkuat identitas religius, tetapi juga membentuk pribadi yang humanis, terbuka, dan mampu berinteraksi secara harmonis dalam masyarakat multikultural. Peran ini menjadikan PAI bukan sekadar mata pelajaran, melainkan fondasi strategis dalam membangun peradaban yang damai dan berkeadaban. Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 5. Nomor 1. Februari 2026 Halaman 1-9 DAFTAR PUSTAKA