Volume 6 No. Tahun 2026 Halaman 82 Ae 91 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Sinergitas Peran Orang Tua dengan Sekolah dalam Program Kegiatan Wisata Edupark untuk Memperkuat Nilai Mandiri dan Peduli Lingkungan di SMPN 61 Surabaya Alya Fikriyah Dzihni Kusnanda . Sarmini . Nuansa Bayu Segara . Hendri Prastiyono . Program Studi S1 Pendidikan IPS. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya Abstrak Program wisata Edupark memiliki potensi besar dalam menanamkan nilai karakter mandiri dan peduli lingkungan pada siswa melalui pengalaman langsung yang kontekstual. Tantangan yang paling signifikan untuk dihadapi berupa minimnya peran orang tua pada program ini menjadi suatu hal yang perlu dikaji untuk memperkuat kolaborasi antara sekolah dengan orangtua. Penelitian ini bertujuan menganalisis sinergi antara peran orang tua dengan sekolah dalam memperkuat nilai karakter mandiri serta peduli lingkungan siswa SMP Negeri 61 Surabaya melalui kegiatan wisata Edupark, sekaligus mengidentifikasi tantangan dan solusi yang muncul dalam proses kolaboratif tersebut. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan subjek orang tua, kepala sekolah, serta guru koordinator adiwiyata. Teknik pengumpulan data penelitian ini melalui wawancara, observasi serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bentuk sinergi antara sekolah dan orang tua dalam program wisata Edupark bersifat partisipatif teknis yang terarah. Namun, bentuk sinergi belum mencapai bentuk kolaborasi deliberatif yang komprehensif, akibat keterbatasan waktu dan kurangnya komunikasi dua arah yang menghambat pemaknaan kolektif terhadap tujuan dan tantangan kegiatan. Meskipun demikian, sekolah telah mengupayakan solusi berkelanjutan melalui penjadwalan kegiatan yang lebih fleksibel di akhir pekan dan membangun ruang dialog dua arah melalui channel WhatsApp. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi teoritis terhadap pengembangan konsep kolaborasi dalam konteks pendidikan berbasis lingkungan maupun komunitas. Kata Kunci: sinergi, wisata edupark, peran orang tua, peran sekolah, penguatan karakter Abstract The Edupark tourism program has great potential in instilling the values of independence and environmental awareness in students through direct and contextual experiences. The most significant challenge to be addressed is the limited involvement of parents in this program, which needs to be examined in order to strengthen collaboration between schools and parents. This study aims to analyze the synergy between the role of parents and schools in reinforcing the values of independence and environmental awareness among students of SMP Negeri 61 Surabaya through Edupark tourism activities, while also identifying the challenges and solutions that arise in the collaborative process. The research method employs a qualitative case study approach with subjects consisting of parents, the principal, and the Adiwiyata coordinator Data collection techniques include interviews, observations, and documentation. The findings show that the synergy between schools and parents in the Edupark tourism program takes the form of directed technical participation. However, this synergy has not yet reached a comprehensive deliberative collaboration, due to time constraints and the lack of two-way communication, which hinders collective understanding of the goals and challenges of the activities. Nevertheless, the school has made sustainable efforts by scheduling activities more flexibly on weekends and creating two-way dialogue spaces through WhatsApp channels. These research findings contribute theoretically to the development of collaboration concepts in the context of environment-based and community-based education. Keywords: synergy, edupark tour, parental role, school role, character development How to Cite: Kusnanda. , dkk. Sinergitas Peran Orang Tua dengan Sekolah dalam Program Kegiatan Wisata Edupark untuk Memperkuat Nilai Mandiri dan Peduli Lingkungan di SMPN 61 Surabaya. Dialektika Pendidikan IPS. Vol (N. : halaman Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 82-91 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan wadah bagi individu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan perilaku melalui proses pengajaran yang diberikan oleh pendidik, dengan tujuan menghasilkan perubahan positif dalam diri peserta didik (Rahman et al. , 2. Dalam dinamika masyarakat yang semakin kompleks, pendidikan berperan esensial sebagai sarana peningkatan kualitas sumber daya manusia yang adaptif terhadap lingkungannya. Selain itu, pendidikan juga berfungsi membentuk karakter siswa, baik melalui pembinaan watak . ujur, cerdas, peduli, tanggu. maupun perubahan kebiasaan buruk secara bertahap (Hubi et al. , 2. Penanaman nilai karakter menjadi penting untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan global dengan bekal keterampilan dan nilai yang diperlukan, sehingga mereka mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan. Pemahaman serta internalisasi nilai karakter diyakini dapat mendorong generasi muda mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (Firdaus & Nugraheni, 2. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), yang menekankan pentingnya nilai mandiri dan peduli lingkungan sebagai fondasi pembentukan generasi emas Indonesia 2045 (Yulianti, 2. Nilai mandiri mencakup kemampuan mengambil inisiatif, beradaptasi, dan bertanggung jawab, sedangkan nilai peduli lingkungan diwujudkan melalui program penghijauan dan pengelolaan sampah. Kerangka kerja ini juga selaras dengan agenda Sustainable Development Goals (SDG. , khususnya poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (Ambarita, 2. , serta Asta Cita dalam RPJPN 2025Ae2045 yang menekankan kemandirian generasi muda melalui swasembada pangan, energi, dan ekonomi hijau (Kementerian Perencanaan Pembangunan, 2. Pada lanskap daerah, visi RPJPD Jawa Timur 2025Ae2045 menekankan pembangunan berkelanjutan dengan pendekatan partisipatif, termasuk keterlibatan orang tua dalam pendidikan karakter berbasis lingkungan (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur, 2. Sinergi antara sekolah dan orang tua mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memperkuat karakter siswa, serta mendukung strategi pembangunan daerah berorientasi pada ketahanan ekologi. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Lestari dalam (Hanifah et al. , 2. , orang tua memainkan peran penting melalui cara - cara yang digunakan mereka mengenai tugas - tugas yang seharusnya dijalankan dalam mendidik anak memainkan peran yang penting bagi keberhasilan siswa dalam proses belajar, dimana orang tua menjadi aktor yang melakukan interaksi intens serta memiliki hubungan khusus dengan siswa dapat mendorong tumbuh kembang karakter positif dalam diri Keterlibatan orang tua dalam proses belajar anak menjadi pondasi awal untuk memperkuat karakter yang telah dibentuk di lingkungan keluarga. Adapun pada lanskap kota, visi pembangunan Kota Surabaya dalam RPJMD 2021Ae2026 menekankan aspek berkelanjutan mendorong Dinas Pendidikan untuk mengembangkan program inovatif berbasis lingkungan di sekolah (Surabaya, 2. Sebagaimana diuraikan oleh (Fitriyah & Aji, 2. , implementasi pendidikan karakter berbasis lingkungan mencakup kebijakan berwawasan lingkungan, kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan partisipatif, serta pengelolaan sarana ramah Melihat hal ini, keterlibatan orang tua dalam kegiatan ataupun program yang berbasis partiisipatif menjadi faktor penting agar siswa memperoleh dukungan berkelanjutan di luar sekolah. Hal ini sejalan dengan konsep outdoor class yang memberi kesempatan siswa belajar langsung melalui studi lapangan ke objek wisata edukatif, seperti situs bersejarah, museum, kebun binatang, atau agrowisata, yang terbukti mampu memperluas wawasan dan pengalaman belajar (Bayu, 2. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 82-91 Singkatnya, sinergi antara sekolah dan orang tua melalui pendekatan partisipatif menjadi kunci dalam memperkuat pendidikan karakter siswa secara holistik. Keterlibatan orang tua dalam pembelajaran siswa tidak cukup dilakukan hanya di lingkungan rumah, melainkan perlu diperluas melalui keterlibatan langsung dalam berbagai program sekolah, khususnya kegiatan berorientasi pada nilai peduli lingkungan. Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia menekankan pentingnya upaya mengubah perilaku dan sikap masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan serta kesadaran terkait isu lingkungan (Rohinah et al. , 2. Hal ini diperkuat dengan SK bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Pendidikan Nasional Nomor: Kep. No. 07/MENLH/06/2005 dan No. 05/VI/KB/2005 tentang pembinaan dan pengembangan pendidikan lingkungan hidup, yang menekankan integrasi pendidikan lingkungan dalam kurikulum sekolah sebagai pendekatan partisipatif untuk mencegah dan memecahkan masalah lokal maupun global. Sebagai salah satu inovasi. SMP Negeri 61 Surabaya mengembangkan program Sekolah Wisata Edupark yang memanfaatkan lahan sekolah untuk budidaya ikan, peternakan, kebun sayur, hidroponik, hingga camping ground (Tim Guru SMP Negeri 61 Surabaya, 2. Program ini bertujuan menanamkan nilai peduli lingkungan melalui pembelajaran luar kelas yang menyenangkan (Rahmadyanti et al. , 2. Wisata Edupark SMP Negeri 61 Surabaya dirancang sebagai program pembelajaran luar kelas yang menekankan perubahan perilaku, pengetahuan, dan keterampilan siswa, khususnya dalam membentuk karakter peduli lingkungan. Selaras dengan hal ini, program wisata edupark telah mendapatkan dukungan Pemerintah Kota Surabaya dan Dinas Pendidikan pada tahun 2020 yang mendorong pemanfaatan lahan kosong untuk ladang sayur, pengolahan pupuk, peternakan, hingga kolam perikanan (Darto, 2. Konsep Wisata Edupark School tidak hanya menjadi inovasi lokal, tetapi juga dapat direkomendasikan bagi sekolah lain untuk mengadopsi program serupa yang menekankan pembentukan karakter melalui kegiatan edukatif. Sebagaimana ditegaskan oleh (Margaretha et al. , 2. , pembelajaran luar ruang . utdoor learnin. memberi kesempatan siswa berinteraksi langsung dengan alam, mengeksplorasi kreativitas, serta memperkuat keterampilan motorik. Dengan demikian, wisata edupark menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus menjadi sarana strategis untuk menanamkan nilai karakter penting bagi siswa. Sejumlah penelitian mendukung efektivitas pembelajaran luar ruang dalam membentuk karakter siswa, seperti peningkatan rasa ingin tahu dan komunikasi (Bayu, 2. , pembiasaan perilaku positif (Hamara et al. , 2. , serta kreativitas dan sikap moderat (Suprapti & Suhardi, 2. Meskipun banyak sekolah telah menerapkan program outdoor learning berbasis pendidikan karakter yang melibatkan orang tua, tantangan yang dihadapi masih cukup signifikan karena sebagian besar orang tua hanya berfokus pada aspek akademik anak tanpa menyadari pentingnya keterlibatan mereka dalam kegiatan sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Sejalan dengan yang dikemukakan oleh (Hendra, 2. , beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendidikan anak di Indonesia yang melibatkan orang tua masih tergolong rendah. Selaras dengan pernyataan tersebut, (Heatubun, 2. menegaskan bahwa tidak semua orang tua dapat berkontribusi maksimal karena keterbatasan waktu, kurangnya pemahaman, serta komunikasi yang kurang efektif dengan pihak sekolah. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 82-91 Problematika ini juga dihadapi dalam program wisata edupark SMP Negeri 61 Surabaya. Berdasarkan data pra-penelitian, terungkap bahwa keterlibatan orang tua dalam program wisata edupark SMP Negeri 61 Surabaya masih terbatas. Pada tahun ajaran 2024/2025 Genap, hanya 136 orang tua yang aktif memberikan dukungan donasi materi, sementara 572 lainnya semi-aktif dari total 708 orang tua siswa. Sebagai perbandingan. SMPN 24 Surabaya mencatat 128 orang tua aktif dan 682 semiaktif dari 810 orang tua siswa dalam kegiatan lingkungan sederhana seperti kerja bakti. Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun SMPN 61 Surabaya memiliki inovasi program wisata edupark dengan dukungan relatif lebih tinggi, partisipasi orang tua masih belum optimal. Dengan demikian, urgensi dalam penelitian ini adalah mengungkap bagaimana sinergi antara peran orang tua dengan peran sekolah dengan belum optimalnya keterlibatan orang tua dalam program wisata edupark yang berpotensi menghambat pencapaian tujuan pembentukan karakter mandiri dan peduli lingkungan. Penelitian ini berfokus pada analisis bentuk sinergi peran orang tua dan sekolah dalam program wisata edupark SMPN 61 Surabaya, sekaligus mengidentifikasi tantangan serta solusi yang dapat memperkuat sinergi peran orang tua dan peran sekolah dalam pendidikan karakter berbasis METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus Robert K. Yin dengan tujuan untuk melakukan eksplorasi secara mendalam terhadap proses sinergi keterlibatan orang tua dengan sekolah dalam menjalankan perannya secara aktif pada program wisata edupark. Penggunaan studi kasus menurut Yin dalam (Poltak & Widjaja, 2. , digunakan peneliti untuk mengeksplorasi secara mendalam, baik menghubungkan data dengan analisis, serta kriteria untuk menafsirkan temuan, utamanya dalam bentuk kasus tunggal dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 61 Surabaya yang beralamat di Jl. Tengger Raya Kandangan No. Kelurahan Kandangan. Kecamatan Benowo, 60199. Kota Surabaya. Jawa Timur. Subjek penelitian ini ditentukan melalui penggunaan teknik purposive sampling yang dipilih berdasarkan karakteristik dan memiliki kriteria yang memenuhi tujuan penelitian. Adapun subjek penelitian yang sesuai dengan kriteria penelitian adalah enam orang tua siswa adiwiyata tahun ajaran 2024/2025 ataupun anggota komite, tiga guru koordinator adiwiyata tahun ajaran 2024/2025 serta kepala sekolah SMP Negeri 61 Surabaya. Fokus dalam penelitian ini adalah sinergi peran orang tua dengan peran sekolah dalam program kegiatan wisata edupark, dimana sinergi tersebut merujuk pada keterlibatan ataupun kontribusi dari orang tua dan sekolah yang berkolaborasi dalam persiapan, pelaksanaan, serta setelah pelaksanaan kegiatan . presiasi-evaluas. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik observasi partisipatif, wawancara semi terstruktur dan wawancara mendalam, hingga dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model analisis Miles & Hubberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Adapun teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber dengan melakukan pengecekan dari berbagai sumber. HASIL DAN PEMBAHASAN Sinergi antara Peran Orang Tua dengan Peran Sekolah dalam Program Wisata Edupark Persiapan Kegiatan Wisata Edupark Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 82-91 Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergi antara sekolah dan orang tua selama persiapan program wisata edupark di SMP Negeri 61 Surabaya terwujud melalui bentuk kontribusi material dan komunikasi aktif. onasi tetap berupa bibit tanaman toga dan pupuk organik diberikan secara rutin oleh orang tua kelas VII setiap awal tahun ajaran baru. Donasi ini mencerminkan adanya kesepakatan bersama yang terstruktur, sehingga membangun rasa kepemilikan orang tua terhadap program sekolah. Temuan ini selaras dengan (Wardhani & Gunawan, 2. yang menegaskan bahwa donasi berupa barang lebih inklusif dibandingkan kontribusi finansial, karena mampu menghindari kesenjangan sosial antar orang tua. Dengan demikian, kontribusi material yang konsisten menjadi pilar penting dalam menciptakan budaya partisipatif dan memperkuat keberlanjutan program wisata edupark. Selain donasi tetap, temuan penelitian juga menunjukkan adanya donasi tidak tetap yang diberikan secara sukarela oleh orang tua, seperti minyak jelantah, pakan ikan, dan sisa sayur setiap kegiatan Jumat bersih. Pernyataan Ibu Riski, salah satu orang tua siswa adiwiyata tahun ajaran 2024/2025 menunjukkan bahwa donasi sukarela ini lahir dari kesadaran orang tua terhadap manfaat program wisata edupark, sehingga mereka berperan sebagai mitra aktif dalam mendukung pembelajaran berbasis lingkungan. Praktik ini mencerminkan bentuk sinergi partisipatif yang fleksibel, di mana orang tua berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing. Hal ini sejalan dengan teori kolaborasi Ansell dan Gash yang menekankan commitment to process, yakni kesediaan aktor untuk terus berpartisipasi secara konsisten dalam seluruh tahapan kolaborasi. Dukungan sukarela ini juga memperkuat rasa kepemilikan terhadap sekolah, sebagaimana ditegaskan oleh (Wardhani & Gunawan, 2. , bahwa keterlibatan aktif orang tua mendorong keberlanjutan program Temuan lain menunjukkan bahwa sosialisasi program wisata edupark dilakukan melalui dua pendekatan, yakni tatap muka dan media komunikasi. Sosialisasi tatap muka diwujudkan melalui rapat rutin awal tahun ajaran, di mana kepala sekolah menyampaikan tujuan, manfaat, serta keterbatasan program, seperti yang diungkapkan Bapak Darto, selaku kepala sekolah SMP Negeri 61 Surabaya dan Ibu Amelia Rosita, selaku ketua kader adiwiyata tahun ajaran 2024/2025. Strategi ini mencerminkan transparansi dan komunikasi dua arah yang membangun kepercayaan orang tua, selaras dengan (Risnajayanti & Nurlina, 2. yang menekankan pentingnya keterbukaan dalam memperkuat partisipasi berkelanjutan. Sementara itu, sosialisasi berbasis media komunikasi melalui grup WhatsApp memudahkan distribusi informasi, meskipun pada tahap persiapan, program ini masih menghadapi kendala teknis seperti pesan yang tenggelam dalam obrolan informal. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas sinergi yang terbangun masih berada pada tahap partisipatif, belum sepenuhnya deliberatif. Namun, keterlibatan orang tua melalui berbagai mekanisme komunikasi tetap menjadi modal sosial penting dalam memperkuat pendidikan karakter berbasis lingkungan. Pelaksanaan Kegiatan Wisata Edupark Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program wisata edupark di SMP Negeri 61 Surabaya berjalan melalui sinergi antara sekolah dan orang tua, khususnya dalam kegiatan penanaman bibit toga, budidaya ikan lele, serta pembuatan pupuk organik. Sekolah berperan menyediakan fasilitasi edukasi berupa peralatan, pupuk tambahan, dan pendampingan guru, sebagaimana diungkapkan oleh Ibu Amelia Rosita, ketua kader adiwiyata tahun ajaran 2024/2025 SMP Negeri 61 Surabaya yang menekankan peran guru dalam menjelaskan cara menanam dan merawat tanaman toga. Donasi orang tua berupa bibit dan pupuk terintegrasi ke dalam sistem fasilitasi sekolah, sehingga menunjukkan adanya interdependensi antar aktor. Temuan ini selaras Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 82-91 dengan teori kolaborasi Ansell & Gash mengenai trust-building dan commitment to process, di mana kolaborasi tidak bersifat simbolik tetapi konkret melalui penyediaan sumber daya yang mendukung keberlanjutan program. Selain itu, partisipasi orang tua dalam pendampingan kegiatan juga teridentifikasi dalam bentuk kehadiran langsung pada acara panen raya dan gelar karya. Ibu Riski, orang tua siswa adiwiyata tahun ajaran 2024/2025 yang juga menjadi salah satu anggota komite menuturkan bahwa dirinya hadir sebagai juri untuk menilai hasil karya siswa, sementara Bapak Mataji, salah satu orang tua siswa adiwiyata tahun ajaran 2024/2025 berperan dalam mendukung logistik dekorasi stand bazaar. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya menginformasikan kegiatan, tetapi juga membuka ruang bagi orang tua untuk berperan fungsional dalam evaluasi dan dukungan teknis. Hal ini sesuai dengan perspektif Ansell & Gash tentang shared motivation dan commitment to process, serta sejalan dengan temuan (Suprapti & Suhardi, 2. yang menekankan pentingnya keterlibatan pihak eksternal dalam pembelajaran luar ruang untuk memperkuat karakter siswa. Dengan demikian, partisipasi orang tua tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga memberikan pengakuan sosial yang memperkuat rasa percaya diri siswa. Namun, penelitian juga menemukan adanya tantangan berupa konflik komunikasi dan koordinasi. Informasi yang disampaikan melalui WhatsApp sering kali mendadak dan tidak jelas, sebagaimana diungkapkan oleh Ibu Arum, orang tua siswa adiwiyata tahun ajaran 2024/2025 juga salah satu anggota komite, sehingga menimbulkan miskomunikasi dan perbedaan persepsi terkait teknis Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem komunikasi sekolah belum terstruktur dengan baik, sehingga partisipasi orang tua tidak optimal. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Lesmana, 2. yang mengungkapkan bahwa penggunaan aplikasi WhatsApp memiliki hambatan berupa keterbatasan akses teknologi dan rendahnya literasi digital di kalangan orang tua. Dengan demikian, meskipun sinergi yang terbangun melalui fasilitasi edukasi dan pendampingan dapat dikategorikan sebagai sinergi partisipatif terstruktur, kualitasnya belum mencapai deliberatif karena masih terbatas pada komunikasi satu arah. Melihat hal ini, maka perlu adanya perbaikan sistem komunikasi dan koordinasi yang lebih transparan serta inklusif untuk memperkuat kolaborasi berkelanjutan antara sekolah dan orang tua dalam mendukung pendidikan karakter berbasis lingkungan. Setelah Kegiatan Wisata Edupark Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap pasca kegiatan wisata edupark di SMP Negeri 61 Surabaya ditandai dengan adanya apresiasi dari orang tua terhadap sekolah dan siswa melalui gelar Bentuk apresiasi muncul baik secara tidak langsung melalui pesan digital di grup WhatsApp, seperti ungkapan doa dan harapan yang disampaikan oleh orang tua, maupun secara langsung melalui partisipasi aktif dalam kegiatan gelar karya. Ibu Arum, orang tua siswa adiwiyata tahun ajaran 2024/2025 juga salah satu anggota komite, menuturkan bahwa orang tua ikut membeli produk hasil olahan siswa sekaligus berperan sebagai juri. Temuan ini menunjukkan bahwa apresiasi tidak hanya berfungsi sebagai pengakuan, tetapi juga memperkuat hubungan emosional dan sosial antara sekolah dan orang tua. Hal ini selaras dengan pernyataan (Ayub et al. , 2. yang menekankan bahwa apresiasi dari orang tua terhadap guru dan sekolah mempererat kerja sama, serta sesuai dengan teori kolaborasi Ansell & Gash mengenai commitment to process dan trust-building. Apresiasi kolaboratif yang diberikan orang tua juga memiliki implikasi pada penguatan karakter mandiri siswa. Dukungan berupa pembelian produk dan penilaian karya memberi ruang bagi siswa Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 82-91 untuk mengelola hasil panen, menentukan strategi penjualan, dan menampilkan karya mereka secara bertanggung jawab. Hal ini sesuai dengan kerangka Steinberg dalam (Karomah et al. , 2. yang menekankan aspek kemandirian perilaku, nilai, dan emosional. Siswa belajar mengambil keputusan secara mandiri, menyadari nilai kerja keras mereka, serta membangun kepercayaan diri melalui pengakuan orang tua sebagai mitra yang menghargai usaha mereka. Temuan ini juga selaras dengan (Suprapti & Suhardi, 2. yang menegaskan bahwa keterlibatan pihak eksternal dalam pembelajaran luar ruang memperkuat motivasi dan karakter siswa. Dengan demikian, apresiasi orang tua dalam kegiatan gelar karya menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran berbasis lingkungan mampu mengintegrasikan aspek kemandirian siswa secara holistik. Selain apresiasi, temuan penelitian menunjukkan bahwa sekolah melakukan evaluasi teknis setelah kegiatan selesai. Evaluasi mencakup alur acara, kendala lapangan, pembagian tugas guru, serta kebutuhan tambahan seperti pupuk dan pakan ikan, sebagaimana diungkapkan oleh Ibu Retno Mustika Rini, wakil urusan kesiswaan SMP Negeri 61 Surabaya. Evaluasi ini menunjukkan komitmen internal sekolah untuk memperbaiki kualitas pelaksanaan secara berkelanjutan. Namun, evaluasi masih dilakukan secara internal tanpa melibatkan orang tua secara langsung, sehingga sinergi yang terbentuk lebih tepat dikategorikan sebagai sinergi partisipatif. Hal ini sesuai dengan teori Ansell & Gash yang menekankan pentingnya face-to-face dialogue dan joint ownership dalam mencapai kolaborasi deliberatif. Meskipun apresiasi dan evaluasi telah memperkuat hubungan emosional dan teknis, kualitas sinergi masih terbatas pada partisipasi responsif. Untuk berkembang menuju sinergi deliberatif, sekolah perlu membuka ruang evaluasi bersama yang melibatkan orang tua sebagai mitra reflektif dalam perencanaan dan tindak lanjut program wisata edupark. Tantangan dan Solusi Sinergi Peran Orang Tua dengan Peran Sekolah Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama dalam sinergi peran orang tua dan sekolah di SMP Negeri 61 Surabaya adalah kurangnya komunikasi efektif dan keterbatasan waktu. Hambatan komunikasi muncul baik secara struktural maupun psikologis. Ibu Arum, orang tua siswa adiwiyata tahun ajaran 2024/2025 juga salah satu anggota komite, menuturkan bahwa informasi kegiatan sering kali mendadak dan tidak jelas karena belum adanya sistem komunikasi yang terstruktur, sementara Ibu Maimunah, salah satu orang tua siswa adiwiyata tahun ajaran 2024/2025 mengungkapkan rasa enggan untuk menyampaikan masukan karena belum terbiasa dengan forum rapat. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun ada commitment to process dari orang tua, desain institusional yang inklusif belum sepenuhnya tersedia. Hal ini selaras dengan teori kolaborasi Ansell & Gash yang menekankan pentingnya institutional support dan interdependence of actors agar partisipasi dapat berjalan konsisten dan bermakna. Selain itu, keterbatasan waktu juga menjadi kendala dalam pelaksanaan kegiatan, terutama pada tahap apresiasi dan refleksi. Ibu Maimunah, salah satu orang tua siswa adiwiyata tahun ajaran 2024/2025 menyampaikan bahwa kegiatan gelar karya berlangsung terlalu singkat sehingga apresiasi hanya dapat disampaikan melalui WhatsApp grup. Kondisi ini menunjukkan minimnya ruang deliberatif untuk dialog mendalam antar aktor, sehingga partisipasi orang tua cenderung bersifat simbolik. Temuan ini sejalan dengan (Lesmana, 2. yang menekankan bahwa penggunaan media digital seperti WhatsApp sering kali menimbulkan ketimpangan akses informasi akibat rendahnya literasi digital. Dengan demikian, keterbatasan waktu dan komunikasi yang tidak efektif menjadi faktor penghambat utama yang menurunkan kualitas sinergi, sehingga kolaborasi yang terbentuk masih berada pada kategori partisipatif, belum mencapai deliberatif. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 82-91 Untuk mengatasi hambatan tersebut, sekolah telah merancang solusi berupa penjadwalan agenda yang lebih fleksibel dan peningkatan dialog dua arah. Ibu Retno Mustika Rini, wakil urusan kesiswaan SMP Negeri 61 Surabaya menjelaskan bahwa sekolah berupaya mengadakan forum refleksi akhir pekan agar orang tua dapat hadir tanpa terganggu jadwal kerja, sekaligus membentuk grup komunikasi yang lebih terstruktur melalui WhatsApp channel. Strategi ini memperkuat aspek institutional design, inclusive participation, dan commitment to process sebagaimana dijelaskan Ansell & Gash. Implikasinya, solusi ini tidak hanya mengatasi hambatan komunikasi dan waktu, tetapi juga membuka peluang bagi kolaborasi yang lebih deliberatif. Melihat hal ini, maka keberhasilan program wisata edupark dalam membentuk karakter mandiri dan peduli lingkungan siswa sangat bergantung pada kualitas sinergi yang berkelanjutan, sehingga perbaikan sistem komunikasi dan fleksibilitas agenda menjadi kunci untuk memperkuat kolaborasi antara sekolah dan orang tua. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sinergi yang terbangun antara sekolah dan orang tua dalam pelaksanaan kegiatan wisata Edupark menunjukkan pola kolaborasi yang bersifat partisipatif terarah, yakni bentuk kerja sama yang telah berjalan secara fungsional namun belum mencapai tahap deliberatif. Keterlibatan kedua pihak tampak konsisten pada tahap persiapan, pelaksanaan, hingga gelar karya, tetapi interaksi yang terjadi masih berfokus pada dukungan teknis seperti donasi, pendampingan kegiatan, dan kehadiran dalam acara. Pola ini menunjukkan bahwa sinergi telah terbentuk, namun belum berkembang menjadi kolaborasi reflektif yang memungkinkan kedua pihak membangun pemahaman bersama mengenai tujuan, nilai karakter, dan tantangan program. Dengan demikian, sinergi yang ada dapat dipahami sebagai fondasi awal menuju bentuk sinergi yang lebih bermakna secara kolektif. Pada sisi orang tua, sinergi yang muncul tampak melalui kontribusi nyata dalam bentuk bantuan material, kehadiran dalam rapat, serta keterlibatan langsung dalam kegiatan seperti menjadi juri pada gelar karya. Keterlibatan ini menunjukkan adanya rasa memiliki terhadap program sekolah dan dukungan terhadap pembelajaran anak. Namun, karena komunikasi yang terbangun cenderung dilakukan secara satu arah, orang tua belum memiliki ruang deliberatif untuk menyampaikan pandangan, melakukan refleksi bersama, atau ikut merumuskan arah kegiatan. Akibatnya, partisipasi orang tua lebih bersifat kontributif daripada kolaboratif, sehingga pemaknaan bersama terhadap nilai karakter,seperti peduli lingkungan dan kemandirian, belum sepenuhnya terbentuk. Sementara itu, sinergi dari pihak sekolah tampak melalui upaya mengorganisasi kegiatan, menyusun agenda, dan mengundang orang tua untuk terlibat. Sekolah telah membuka ruang partisipasi, tetapi desain kelembagaannya belum sepenuhnya adaptif untuk mengakomodasi dialog dua arah. Keterbatasan waktu dan pola komunikasi yang belum terstruktur membuat proses refleksi bersama tidak berjalan optimal. Oleh karena itu, sinergi yang terbentuk masih bersifat fungsional, belum mencapai tahap deliberatif reflektif. Dengan memperkuat mekanisme komunikasi dua arah, menyediakan ruang refleksi pasca kegiatan, dan menyusun agenda yang lebih fleksibel, sinergi ini berpotensi berkembang menjadi kolaborasi yang lebih bermakna dan mampu memperkuat nilai karakter melalui pengalaman langsung siswa. DAFTAR PUSTAKA