PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. 1, 2026 e-ISSN : 2622-6383 Analisis Dampak Fluktasi Harga Sayuran Terhadap Pendapatan Pedagang Sayuran di Pasar Jatimulyo Lampung Selatan Menurut Perspektif Ekonomi Islam Rian Tasaka 1. Liya Ermawati 2 Dan Weny Rosilawati 3* tasakarian@gmail. com1, liyaermawati@radenintan. wenyrosilawati@radenintan. Ekonomi Syariah. Uin Raden Intan Lampung. Indonesia 1,2,3* Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak fluktuasi harga sayuran terhadap pendapatan pedagang di Pasar Jatimulyo. Lampung Selatan, serta meninjau fenomena tersebut berdasarkan perspektif ekonomi Islam. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, di mana pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam terhadap informan yang terdiri dari 20 pedagang eceran dan 10 pedagang grosir. Analisis data dilakukan dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memberikan gambaran deskriptif yang komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluktuasi harga sayuran di Pasar Jatimulyo berlangsung dinamis dan tidak seragam antar komoditas, yang secara langsung berimplikasi pada ketidakstabilan pendapatan pedagang. Pedagang eceran ditemukan sebagai kelompok yang paling terdampak dengan penurunan pendapatan mencapai 1927% saat harga naik, sementara pedagang grosir memiliki ketahanan lebih baik dengan penurunan hanya berkisar 913%. Dalam perspektif ekonomi Islam, kondisi ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan . hayr al-tawazu. distribusi pendapatan yang memerlukan penguatan prinsip keadilan (Aoad. dan larangan praktik yang menzalimi . A taelimna wa lA tuelam. Implikasi penelitian ini menyarankan perlunya transparansi penetapan harga dan peran aktif pemangku kebijakan dalam stabilisasi harga pasar untuk melindungi kesejahteraan pedagang kecil, serta merekomendasikan studi lebih lanjut mengenai mekanisme dukungan sosial bagi pedagang tradisional dalam menghadapi ketidakpastian pasar. Kata Kunci: Fluktuasi Harga. Pendapatan Pedagang. Pasar Jatimulyo. Ekonomi Islam. Sayuran. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Pasar jatimulyo merupakan pusat kegiatan ekonomi yang vital di kecamatan jati agung, terutama bagi pedagang sayuran yang menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat. Fluktuasi harga sayuran yang kerap terjadi di pasar tradisional dapat berdampak langsung pada kondisi ekonomi dan kualitas kerja para pedagang. Fluktuasi harga yang tidak menentu seringkali menyebabkan ketidakstabilan pendapatan, sehingga mempengaruhi semangat dan produktivitas kerja pedagang. Sayuran merupakan bagian dari kelompok tanaman hortikultura berperan penting sebagai sumber vitamin, mineral, dan serat yang dibutuhkan oleh masyarakat (Irawan, 2. Sayuran atau bahan pangan yang berasal dari tumbuhan ini biasanya mengandung kadar air tinggi dan dikonsumsi Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 365 dalam keadaan segar maupun diolah. Fluktuasi harga telah menjadi permasalahan yang sering terjadi dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Fluktuasi harga dapat menyebabkan ketidakpastian terutama pada pedagang yang bergantung pada harga-harga tersebut untuk menentukan pendapatan mereka. Pedagang seringkali mengalami kesulitan dalam menentukan harga jual barang dikarenakan harus mengikuti fluktuasi harga secara cepat dan tidak terduga. Berdasarkan hasil prariset yang dilakukan di Pasar Jatimulyo. Kecamatan Jati Agung. Lampung Selatan, ditemukan bahwa sebagian besar pedagang sayuran mengalami tekanan akibat fluktuasi harga yang tajam dalam waktu singkat. Sebanyak 70% pedagang mengaku pendapatan mereka menurun ketika harga sayuran tidak stabil, yang berujung pada penurunan motivasi dan kualitas pelayanan kepada konsumen. Selain itu, 60% pedagang merasa kesulitan dalam mengatur stok barang karena ketidakpastian harga di tingkat Fenomena ini tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi secara umum, tetapi juga pada kualitas kerja pedagang yang mencakup kehadiran, produktivitas, dan interaksi dengan konsumen. Dalam konteks ekonomi Islam, prinsip keadilan, keseimbangan, dan tanggung jawab sosial sangat penting dalam menjaga kelangsungan usaha dan kesejahteraan pelaku usaha. Namun, prariset menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara nilai-nilai tersebut dengan realitas yang dialami pedagang, seperti praktik penetapan harga yang kurang transparan dan minimnya dukungan sosial dalam menghadapi fluktuasi harga(Bps Lampung, 2. Teori fluktuasi harga dapat diambil dari hukum permintaan dan penawaran di pasar. Hukum Permintaan dan Penawaran menjelaskan bahwa Jika semua faktor dianggap tetap dan hanya harga yang dapat mempengaruhi permintaan dan penawaran . eteris paribu. : Jika harga semakin rendah maka permintaan atau pembeli akan semakin banyak dan sebaliknya. Jika harga semakin rendah maka penawaran akan semakin sedikit dan sebaliknya. Semua terjadi karena semua ingin mencari kepuasan . sebesar-besarnya dari harga yang ada. Apabila harga terlalu tinggi maka konsumen mungkin akan membeli sedikit karena uang yang dimiliki terbatas, namun bagi pedagang dengan tingginya harga pedagang akan mencoba memperbanyak barang yang dijual atau diproduksi agar keuntungan yang didapat semakin besar. Harga yang tinggi juga bisa menyebabkan konsumen akan mencari produk lain sebagai pengganti barang yang harganya mahal (Birusman Nuryadin et al. , 2. Dalam konsep Islam, yang paling prinsip adalah harga ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan penawaran. Keseimbangan ini terjadi bila antara penjual dan pembeli bersikap saling merelakan. Kerelaan ini ditentukan oleh penjual dan pembeli dan pembeli dalam mempertahankan barang tersebut. Jadi, harga ditentukan oleh kemampuan penjual untuk menyediakan barang yang ditawarkan kepada pembeli, dan kemampuan pembeli untuk mendapatkan harga barang tersebut dari penjual. Akan tetapi apabila para pedagang sudah Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 366 menaikkan harga di atas batas kewajaran, mereka itu telah berbuat zalim dan sangat membahayakan umat manusia, maka seorang penguasa (Pemerinta. harus campur tangan dalam menangani persoalan tersebut dengan cara menetapkan harga standar (Muflihin, 2. Dengan maksud untuk melindungi hakhak milik orang lain, mencegah terjadinya penimbunan barang dan menghindari dari kecurangan para pedagang. Inilah yang pernah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab. Permasalahan mengenai penetapan harga atau fluktuasi harga merupakan fenomena yang sering terjadi baik di pasar tradisional maupun pasar modern di Indonesia. Salah satu komoditas yang kerap mengalami fluktuasi harga adalah sembako . embilan bahan poko. , yang memiliki peranan penting dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Perubahan harga pada komoditas sembako dapat mencerminkan kondisi kestabilan ekonomi, daya beli masyarakat, serta mekanisme pasar yang berlangsung. Adapun data mengenai fluktuasi harga sembako dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1 Data Pra-Riset Pedagang Eceran . Oran. Nama Jenis Pendapatan Stabil Pendapatan Saat Harga Naik Penurunan (%) Rojali Eceran Rp 600. Rp 450. -25% Isa Eceran Rp 580. Rp 420. -27% Asmi Eceran Rp 550. Rp 410. -25% Rini Daud Eceran Eceran Rp 620. Rp 630. Rp 500. Rp 480. -19% -23% Rosidah Eceran Rp 540. Rp 400. -25% Legi Eceran Rp 610. Rp 480. -21% Ita Eceran Rp 580. Rp 430. -26% Yatemi Eceran Rp 590. Rp 450. -23% Eko Eceran Rp 560. Rp 420. -25% Lasmi Eceran Rp 600. Rp 470. -21% Sarjono Eceran Rp 650. Rp 520. -20% Yono Eceran Rp 580. Rp 440. -24% Ngadimin Eceran Rp 600. Rp 460. -23% Jumilah Eceran Rp 620. Rp 500. -19% Subir Eceran Rp 610. Rp 470. -23% Manji Eceran Rp 540. Rp 400. -25% Yangimah Eceran Rp 600. Rp 450. -25% Denok Eceran Rp 590. Rp 460. -22% Leman Eceran Rp 630. Rp 510. -19% Catatan Pembeli mengurangi Mengurangi stok harian Mengeluhkan harga kiriman mahal Tetap jual meski margin tipis Pembeli beralih ke warung lain Tidak berani ambil stok Mempertahankan harga agar tetap laku Mengurangi variasi barang jual Mengandalkan pelanggan Menurunkan volume belanja ke pemasok Tetap buka agar tidak kehilangan pelanggan Mengandalkan harga pasar induk Sering tawar- menawar dengan pembeli Mengurangi jam operasional Mengatur strategi Pembeli menawar lebih agresif Stok cepat habis, tapi margin Tetap jaga etika jual menurut syariah Mengurangi jenis sayuran yang Menyesuaikan harga bertahap Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 367 Tabel 2. Data Pra-Riset Pedagang Grosir . Oran. Nama Jenis Pendapatan Stabil Pendapatan Saat Harga Naik Penurunan (%) Siti Grosir Rp 1. Rp 900. -10% Putri Grosir Rp 950. Rp 830. -12% Agung Grosir Rp 900. Rp 780. -13% Mahmud Grosir Rp 1. Rp 950. -9% Yuli Grosir Rp 920. Rp 820. -11% Tarjan Grosir Rp 980. Rp 850. -13% Lehan Grosir Rp 1. Rp 980. -11% Mar Grosir Rp 950. Rp 850. -10% Toni Grosir Rp 1. Rp 890. -11% Sulami Grosir Rp 1. Rp 930. -11% Catatan Masih bisa tahan stok sebelum Mengatur margin untuk tetap Lebih fleksibel dibanding Punya langganan tetap dari luar pasar Masih bisa nego harga Menunggu momentum harga turun untuk beli Menjual ke pedagang eceran dalam jumlah Lebih stabil karena pembeli grosir tetap Modal besar, penyesuaian harga tidak drastis Tidak langsung terpengaruh harga harian untuk beli stok Berdasarkan hasil pra-riset terhadap 30 pedagang sayuran di Pasar Jatimulyo, diketahui bahwa fluktuasi harga memiliki dampak yang lebih signifikan terhadap pedagang eceran dibandingkan pedagang grosir. Rata-rata penurunan pendapatan pedagang eceran berkisar antara 19Ae30%, sedangkan pada pedagang grosir hanya berkisar antara 8Ae15%. Perbedaan ini terjadi karena pedagang eceran memiliki keterbatasan modal dan harus menjual barang lebih cepat agar modal segera berputar. Sebaliknya, pedagang grosir cenderung memiliki kemampuan menahan stok dan menyesuaikan strategi harga, sehingga dampak fluktuasi tidak terlalu besar. Dalam perspektif ekonomi islam, kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan . hayr al-tawazu. antara pelaku usaha kecil dan pemilik modal besar(Husaini, 2. Prinsip keadilan (Aoad. dan larangan saling menzalimi . A taelimna wa lA tuelam. sebagaimana tercantum dalam Q. Al-Baqarah . : 279 menjadi relevan untuk dijadikan landasan etis dalam menganalisis distribusi pendapatan pedagang di pasar tradisional. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Ibu Isa selaku pedagang eceran, beliau menyampaikan bahwa harga jual produknya berada pada kisaran Rp 580. 000, sedangkan harga beli dari pemasok sebesar Rp 420. Dengan demikian, margin keuntungan yang diperoleh sekitar 27%. Namun. Ibu Isa menjelaskan bahwa akhir-akhir ini terjadi penurunan permintaan dari konsumen akibat fluktuasi harga di pasar, sehingga ia terpaksa mengurangi stok harian untuk menyesuaikan dengan daya beli masyarakat. Menurutnya, kondisi pasar yang tidak menentu membuat pedagang eceran harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian, agar tidak terjadi penumpukan barang yang berisiko menurunkan kualitas atau menimbulkan kerugian. Ibu Isa juga Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 368 menambahkan bahwa dalam sistem penjualan eceran, perputaran modal memang lebih lambat dibandingkan dengan penjualan grosir karena transaksi dilakukan dalam jumlah kecil dan bergantung pada pembelian konsumen akhir. Berbeda halnya dengan Ibu Asmi selaku pedagang eceran, beliau menyampaikan bahwa harga jual produknya saat ini berada pada kisaran Rp 000, sedangkan harga beli dari pemasok sebesar Rp 410. 000, sehingga diperoleh margin keuntungan sekitar 25%. Namun. Ibu Asmi mengeluhkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir biaya kiriman dari pemasok mengalami kenaikan yang cukup tinggi, sehingga berpengaruh terhadap harga jual di tingkat eceran. Kenaikan ongkos kirim tersebut menyebabkan pedagang seperti dirinya harus menyesuaikan harga jual agar tetap memperoleh keuntungan, namun di sisi lain berisiko mengurangi minat beli konsumen. Beliau juga menambahkan bahwa kondisi ini membuatnya harus lebih selektif dalam menentukan jumlah barang yang akan dibeli serta waktu pemesanan agar tidak mengalami kerugian. Menurut Ibu Asmi, tantangan utama pedagang eceran adalah menjaga keseimbangan antara harga jual yang kompetitif dan keuntungan yang layak, terutama ketika biaya operasional meningkat akibat fluktuasi harga kiriman dan bahan baku. Sementara itu, hasil wawancara dengan Bapak Agung sebagai pedagang grosir menunjukkan kondisi yang relatif berbeda. Beliau menjelaskan bahwa harga jual produknya saat ini berkisar Rp 900. 000, dengan harga beli dari pemasok sebesar Rp 780. 000, sehingga memperoleh keuntungan sekitar 13%. Menurut Bapak Agung, meskipun persentase keuntungannya lebih kecil dibandingkan dengan pedagang eceran, namun sistem perdagangan grosir dinilai lebih Hal ini disebabkan karena transaksi grosir dilakukan dalam jumlah besar sehingga modal dapat berputar lebih cepat dan stabilitas usaha lebih terjaga. Selain itu, hubungan kerja sama dengan pedagang kecil atau pelanggan tetap juga membantu menjaga kestabilan penjualan, meskipun terjadi fluktuasi harga di Bapak Agung menilai bahwa fleksibilitas dalam menentukan harga, sistem pembayaran, dan volume penjualan membuat pedagang grosir memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap perubahan kondisi ekonomi dibandingkan dengan pedagang eceran. Sama halnya dengan bapak agung, hasil wawancara dengan Bapak Tarjan sebagai pedagang grosir menunjukkan strategi yang berbeda dalam menghadapi dinamika pasar. Beliau menjelaskan bahwa harga jual produknya mencapai Rp 000, dengan harga beli dari pemasok sekitar Rp 850. 000, sehingga menghasilkan margin keuntungan sebesar 13%. Menurut Bapak Tarjan, meskipun margin yang diperoleh relatif kecil, sistem perdagangan grosir tetap memberikan keuntungan dari segi volume penjualan dan kestabilan pasar. Saat ini, beliau memilih untuk menunggu momentum harga turun sebelum menambah pasokan barang dalam jumlah besar. Strategi tersebut dianggap lebih bijak agar modal tidak terlalu banyak tertahan pada stok yang berisiko turun harga di kemudian hari. Bapak Tarjan juga menuturkan bahwa dalam perdagangan grosir, keputusan untuk Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 369 membeli dalam jumlah besar sangat bergantung pada analisis harga pasar dan permintaan dari pedagang kecil yang menjadi langganannya Tabel 3. Data Harga Sayuran di Pasar Jatimulyo Juli-September 2025 Sayuran Juli Agustus September Kentang Sawi Kacang Panjang Kangkung Tomat Bawang Merah Timun Bawang Bombay Bawang Putih Cabe Jagung Sumber: Dinas Pertanian dan Perdagangan Lampung Dari data lapangan sebagaimana tampilan tabel 3, terlihat bahwa terjadi fluktuasi harga sayuran di pasar Jatimulyo menjadi permasalahan yang menarik untuk diulas apakah fluktuasi harga sayuran berdampak bagi pendapatan pedagang yang ada di pasar Jatimulyo. Dari tabel terlihat terdapat beberapa perbedaan yang tidak beda jauh, ada kalanya harga di pasar Jatimulyo memiliki harga yang lebih mahal dari harga eceran nasional dikarenakan pedagang ingin memiliki keuntungan yang lebih untuk mencegah kerugian pada saat terjadi fluktuasi harga. Sayuran di pasar Jatimulyo sering mengalami fluktuasi harga, salah satu penyebab kenaikan harga dikarenakan ketersediaan barang sedikit namun permintaan konsumen pada barang tersebut tinggi, begitu pula sebaliknya jika ketersediaan barang meningkat maka harga akan mengalami penurunan yang Terjadinya fluktuasi harga di pasar Jatimulyo sangat berpengaruh bagi pedagang khususnya bagi pedagang sembako. Dilihat dari jumlah pendapatan yang tidak stabil terkadang mengalami kenaikan dan mengalami penurunan yang Namun saat terjadi fluktuasi harga jumlah pendapatan tidak langsung mengalami kenaiakan atau penurunan, tetapi adakalanya mengalami kestabilan pendapatan hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor tertentu yang terjadi di pasar. Fluktuasi Harga dan Dampaknya Fluktuasi harga adalah fenomena yang sangat umum terjadi di pasar tradisional, terutama pada komoditas yang sifatnya mudah rusak dan sangat dipengaruhi oleh faktor musiman seperti sayuran. Menurut Mankiw harga barang di pasar dipengaruhi oleh interaksi antara penawaran . dan permintaan . Pada komoditas sayuran, faktor-faktor seperti musim tanam, cuaca, ketersediaan stok, dan perubahan preferensi konsumen dapat menyebabkan fluktuasi harga yang cukup signifikan. Misalnya, saat musim panen melimpah. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 370 pasokan sayuran meningkat sehingga harga cenderung turun, sedangkan pada musim paceklik, pasokan menurun dan harga bisa melonjak tajam (Mankiw, 2. Fluktuasi harga ini tidak hanya berpengaruh pada konsumen, tetapi juga sangat memengaruhi perilaku ekonomi para pedagang di pasar tradisional. Samuelson dan Nordhaus menjelaskan bahwa fluktuasi harga yang tidak stabil dapat menimbulkan ketidakpastian dalam perencanaan usaha pedagang, yang pada akhirnya berdampak pada pendapatan mereka (Ermawati- & Haryadi. Ketidakpastian harga memaksa pedagang untuk mengubah strategi bisnisnya secara adaptif, misalnya dalam hal penentuan harga jual, pengelolaan stok, dan strategi pemasaran agar tetap bisa memperoleh keuntungan yang optimal (Samuelson & Nordhaus, 2. Menurut Robbins dalam teori ekonomi mikro, fluktuasi harga yang berfluktuasi dan tidak dapat diprediksi dapat menyebabkan ketidakpastian yang berdampak negatif pada motivasi kerja dan produktivitas tenaga kerja. Ketika pedagang merasa pendapatan mereka tidak stabil akibat harga yang berubah-ubah, hal ini dapat menurunkan semangat dan kualitas kerja mereka, seperti kurangnya perhatian dalam pelayanan kepada konsumen, pengelolaan produk yang kurang optimal, dan bahkan kelelahan akibat tekanan finansial (Robbins & Judge, 2. Oleh karena itu, fluktuasi harga yang terjadi secara dinamis di pasar tradisional menjadi salah satu faktor utama yang perlu dianalisis secara mendalam, khususnya dalam hubungannya dengan kualitas kerja pedagang sayuran. Pemahaman ini menjadi penting agar dapat ditemukan solusi yang tidak hanya secara ekonomi menguntungkan, tetapi juga berlandaskan keadilan dan keseimbangan sesuai dengan prinsip ekonomi Islam (Salimah et al. , 2. Peran atau Fungsi Harga Harga memiliki peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli produk, sehingga sangat menentukan keberhasilan pemasaran suatu produk(Nasution, 2. Harga merupakan keseluruhan nilai suatu barang maupun jasa yang diberikan dalam bentuk uang. Harga memiliki 2 peranan utama yaitu: n n Peranan alokasi dari harga yaitu: fungsi dari harga dalam membantu para pembeli untuk memutuskan cara memperoleh manfaat atau utilitas tertinggi yang diharapkan berdasarkan daya belinya. Dengan demikian, adanya harga dapat membantu para pembeli untuk memutuskan cara mengalokasikan daya belinya pada berbagai jenis barang dan jasa. Pembeli membandingkan harga dari berbagai alternatif yang tersedia, kemudian memutuskan alokasi dana yang dikehendaki. Peranan Informasi dari harga yaitu: Peranan informasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam AomendidikAo konsumen mengenai faktor-faktor produk, seperti Hal ini terutama bermanfaat dalam situasi di mana pembeli mengalami kesulitan untuk menilai faktor produk atau manfaatnya secara Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 371 objektif. Persepsi yang sering berlaku adalah bahwa harga yang mahal mencerminkan kualitas yang tinggi Harga juga memiliki peran penting bagi perekonomian secara makro, konsumen dan perusahaan yaitu : n n n Bagi perekonomian: Harga produk mempengaruhi tingkat upah, sewa, bunga dan laba. Harga merupakan regulator dasar dalam sistem perekonomian, karena harga berpengaruh terhadap alokasi faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, tanah, modal, dan kewirausahaan. Bagi konsumen: Mayoritas konsumen agak sensitif terhadap harga, namun juga mempertimbangkan faktor lain . eperti citra, merek, lokasi toko, layanan, nilai . dan kualita. Selain itu, persepsi konsumen terhadap kualitas produk sering kali dipengaruhi oleh harga. Dalam beberapa kasus, harga yang mahal dianggap mencerminkan kualitas tinggi, terutama dalam kategori specialty Bagi perusahaan: Harga produk adalah determinan utama bagi permintaan pasar atas produk bersangkutan. Harga mempengaruhi posisi bersaing dan pangsa pasar perusahaan. Dampaknya, harga berpengaruh pada pendapatan dan laba bersih perusahaan. Singkat kata, perusahaan mendapatkan uang melalui harga yang dibebankan atas produk atau jasa yang dijualnya. Dari sudut pemasaran terdapat beberapa peran atau fungsi pemasaran: n n n Menetukan volume penjualan: Dengan mengacu pada kurva penawaran dan kurva permintaan, kita dapat mengetahui bahwa harga berbanding terbalik dengan volume penjualan. Semakin tinggi tingkat harga pada suatu barang, maka volume pembelian atau tingkat pembelian akan semakin rendah. Namun kita ingat bahwa kurva permintaan tidaklah berbentuk garis lurus dari titik tinggi digaris sumbu horizontal, tetapi pada titik tertentu sebelum menyentuh garis sumbu horizontal, garis akan melengkung dan menurun ke Muhammad Farid. Teori Permintaan Dalam Pandangan Islam, 2016. Melengkungnya kurva permintaan disebabkan dengan adanya persepsi konsumen terhadap produk dengan harga yang murah berarti kualitas produk juga rendah. Sehingga keinginan untuk membeli produk tersebut juga semakin Menentukan besarnya laba: Laba sebuah produk ditentukan oleh harga jual per unit dikurangi dengan biaya-biaya atau harga pokok penjualan. Pada tingkat harga pokok, jika semakin tinggi harga jual maka akan semakin tinggi laba yang diperoleh dan juga dengan sebaliknya. Menentukan citra produk: Salah satu unsur yang dapat membentuk citra pada sebuah produk adalah persepsi mengenai kualitas produk. artinya jika semakin mahal harga sebuah produk maka persepsi konsumen mengenai kualitas Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 372 produk akan semakin tinggi dan begitu juga sebaliknya (Purnamasari et al. Perspektif Ekonomi Islam Ekonomi Islam didasarkan pada prinsip-prinsip moral dan etika yang menekankan keadilan, keseimbangan, dan tanggung jawab sosial dalam seluruh aktivitas ekonomi. Tujuan utama ekonomi Islam adalah mencapai kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan sosial dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Hal ini menuntut agar kegiatan ekonomi tidak hanya fokus pada keuntungan semata, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan keadilan bagi semua pihak yang terlibat (Satria et al. , 2. Ekonomi Islam melarang praktik-praktik yang mengandung unsur riba . unga atau keuntungan yang tidak sa. , gharar . etidakpastian atau spekulasi berlebihan dalam transaks. , dan maysir . erjudian atau spekulasi berlebiha. Larangan ini bertujuan untuk menciptakan sistem ekonomi yang etis, adil, dan berkelanjutan, yang meminimalkan risiko dan ketidakpastian yang dapat merugikan pihak-pihak dalam transaksi. Dengan demikian, prinsip-prinsip ini menjadi landasan bagi terciptanya iklim ekonomi yang stabil dan harmonis, khususnya dalam konteks perdagangan di pasar tradisional (Dewi, 2. Prinsip-prinsip tersebut juga mengarahkan pelaku usaha untuk mengedepankan nilai tanggung jawab sosial, dimana keuntungan yang diperoleh tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk kesejahteraan masyarakat luas dan keberlangsungan usaha jangka panjang (Rijki et al. , 2. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan . ield researc. dan strategi studi kasus, yang bertujuan untuk menganalisis secara mendalam dampak fluktuasi harga sayuran terhadap pendapatan serta kualitas kerja pedagang di Pasar Jatimulyo. Kecamatan Jati Agung. Kabupaten Lampung Selatan, berdasarkan perspektif ekonomi Islam. Penelitian dilaksanakan pada periode September hingga Oktober 2025 dengan populasi seluruh pedagang sayuran yang beraktivitas di Pasar Jatimulyo. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada peran Pasar Jatimulyo sebagai pasar pusat di wilayah Kecamatan Jati Agung. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pedagang, observasi langsung terhadap aktivitas perdagangan, serta pencatatan lapangan yang relevan, sedangkan data sekunder bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), instansi terkait, dan dokumen resmi pasar (Sugiyono, 2. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi secara berkelanjutan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 373 hingga diperoleh data yang jenuh dan konsisten (Sari, 2. Data yang telah dianalisis kemudian disajikan dalam bentuk uraian naratif untuk menggambarkan hubungan antara fluktuasi harga sayuran dan pendapatan pedagang, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Keabsahan data dalam penelitian ini diuji melalui teknik triangulasi sumber, dengan cara membandingkan dan memverifikasi data yang diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumentasi, sehingga hasil penelitian yang diperoleh memiliki tingkat validitas dan kredibilitas yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hasil dan Pembahasan Dampak Fluktuasi Harga Sayuran Di tingkat pedagang mengalami fluktuasi yang cukup signifikan dalam periode bulanan. Berdasarkan data harga bulan Juli hingga September, perubahan harga terjadi secara tidak seragam antar komoditas. Beberapa komoditas mengalami kenaikan harga, seperti kentang yang meningkat dari Rp16. 000/kg menjadi Rp18. 000/kg, tomat dari Rp14. 000/kg menjadi Rp17. 000/kg, serta bawang bombay dari Rp35. 000/kg menjadi Rp40. 000/kg. Sebaliknya, komoditas seperti sawi dan bawang merah mengalami penurunan harga yang cukup tajam. Kondisi ini mengindikasikan adanya dinamika pasar yang dipengaruhi oleh faktor pasokan dan distribusi, serta karakteristik masing-masing Frekuensi perubahan harga tergolong tinggi, sebagaimana diungkapkan oleh informan pedagang yang menyatakan bahwa harga dapat berubah lebih dari satu kali dalam satu bulan, terutama pada sayuran segar dengan daya simpan pendek. Fluktuasi harga tersebut memiliki amplitudo yang bervariasi, mulai dari komoditas yang relatif stabil seperti kangkung, bawang putih, dan cabai, hingga komoditas dengan fluktuasi tinggi seperti bawang merah dan Temuan ini memperkuat hasil wawancara yang menunjukkan bahwa stabilitas harga sangat bergantung pada kontinuitas pasokan dan kondisi cuaca di daerah produksi. (Salsabila et al. , n. Dampak fluktuasi harga terhadap pendapatan pedagang terlihat berbeda antara pedagang eceran dan pedagang grosir. Pedagang eceran mengalami penurunan pendapatan yang relatif besar, dengan kisaran 1927% ketika harga sayuran meningkat. Penurunan ini dipengaruhi oleh berkurangnya daya beli konsumen, meningkatnya aktivitas tawar-menawar, serta strategi pedagang yang memilih menurunkan volume penjualan untuk menghindari risiko kerugian. Sebaliknya, pedagang grosir menunjukkan tingkat penurunan pendapatan yang lebih rendah, yaitu sekitar 913%. Kondisi ini menunjukkan bahwa pedagang grosir memiliki ketahanan usaha yang lebih baik karena didukung oleh modal yang lebih besar, jaringan pelanggan tetap, serta fleksibilitas dalam pengelolaan stok dan waktu transaksi. Dari perspektif pedagang, harga sayuran dipersepsikan cenderung tidak stabil dan sulit diprediksi. Ketidakstabilan harga tersebut menimbulkan ketidakpastian pendapatan, khususnya bagi pedagang eceran yang bergantung Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 374 pada penjualan harian. Untuk merespons kondisi ini, pedagang menerapkan berbagai strategi adaptif, seperti pengurangan stok, penyesuaian harga secara bertahap, pembatasan jenis sayuran yang dijual, serta mempertahankan hubungan dengan pelanggan tetap. Strategi ini dipandang sebagai upaya untuk menjaga keberlanjutan usaha di tengah ketidakpastian pasar. Adapun penyebab utama fluktuasi harga sayuran berdasarkan hasil wawancara meliputi faktor cuaca yang memengaruhi hasil panen, kenaikan harga dari pemasok atau pasar induk, biaya distribusi, serta perubahan permintaan konsumen pada periode tertentu. Selain itu, ketergantungan pada daerah penghasil dan keterbatasan daya simpan sayuran turut memperbesar risiko fluktuasi harga di tingkat pedagang. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menegaskan bahwa fluktuasi harga sayuran tidak hanya berdampak pada dinamika harga pasar, tetapi juga berimplikasi langsung terhadap pendapatan dan strategi usaha pedagang, terutama pada skala eceran. (Zhang et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluktuasi harga sayuran terjadi secara dinamis dan tidak seragam antar komoditas dalam periode bulanan. Data harga bulan Juli hingga September memperlihatkan adanya kenaikan harga pada beberapa komoditas seperti kentang, tomat, dan bawang bombay, sementara komoditas lain seperti sawi dan bawang merah mengalami penurunan harga yang cukup signifikan. Frekuensi perubahan harga tergolong tinggi, terutama pada sayuran dengan daya simpan pendek, sehingga harga dapat berubah lebih dari satu kali dalam satu bulan. Besarnya fluktuasi harga . bervariasi, mulai dari komoditas yang relatif stabil seperti kangkung, cabai, dan bawang putih, hingga komoditas dengan fluktuasi tinggi seperti bawang merah dan jagung. Kondisi ini mencerminkan ketidakstabilan pasar sayuran yang sangat dipengaruhi oleh pasokan, cuaca, dan distribusi. Fluktuasi harga tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan pedagang. Rata-rata pendapatan harian pedagang eceran pada kondisi harga stabil berada pada kisaran Rp540. 000 hingga Rp650. 000, namun menurun menjadi sekitar Rp400. 000 hingga Rp520. 000 ketika harga mengalami kenaikan. Jika diakumulasi, penurunan ini berdampak pada pendapatan mingguan dan bulanan yang menjadi kurang stabil. Sebaliknya, pedagang grosir memiliki rata-rata pendapatan yang lebih tinggi dan relatif stabil, yakni berkisar antara Rp900. 000 hingga Rp1. 000 per hari, dengan penurunan yang lebih terbatas saat terjadi fluktuasi harga. (Hendra & Bukittinggi, 2. Perbandingan pendapatan antar periode menunjukkan bahwa kenaikan harga sayuran tidak diikuti oleh peningkatan pendapatan pedagang. Pedagang eceran mengalami penurunan pendapatan sebesar 1927% dibandingkan periode sebelumnya, sedangkan pedagang grosir mengalami penurunan yang lebih kecil, yaitu sekitar 913%. Penurunan pendapatan ini terutama disebabkan oleh perubahan perilaku konsumen, seperti pengurangan volume pembelian, meningkatnya aktivitas tawar-menawar, serta peralihan konsumen ke pedagang lain yang menawarkan harga lebih rendah. Temuan ini menegaskan bahwa fluktuasi harga berimplikasi langsung terhadap kestabilan pendapatan pedagang. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 375 khususnya pada skala eceran. Dari total aktivitas usaha, mayoritas informan menyatakan bahwa lebih dari 80% pendapatan mereka bersumber dari penjualan Tingginya ketergantungan terhadap satu jenis komoditas menyebabkan pedagang menjadi lebih rentan terhadap fluktuasi harga. Kondisi ini paling dirasakan oleh pedagang eceran yang tidak memiliki diversifikasi usaha, sehingga perubahan harga secara langsung memengaruhi pendapatan harian dan keberlanjutan usahanya. Kemampuan pedagang dalam mengatur harga beli dan harga jual menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan antara pedagang eceran dan pedagang grosir. Pedagang grosir memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam menentukan harga beli karena volume pembelian yang besar serta hubungan langsung dengan pemasok atau pasar induk. Hal ini memberikan fleksibilitas dalam mengatur margin keuntungan. Sebaliknya, pedagang eceran memiliki ruang yang lebih terbatas dalam menyesuaikan harga jual dan sering kali harus menerima margin keuntungan yang lebih kecil. Dalam kondisi fluktuasi harga, pedagang eceran cenderung mempertahankan harga jual agar tetap kompetitif, meskipun berdampak pada penurunan keuntungan. Dari sisi persepsi, pedagang menilai fluktuasi harga sebagai faktor risiko utama dalam usaha perdagangan sayuran. Pedagang eceran memandang fluktuasi harga meningkatkan risiko kerugian akibat menurunnya jumlah pembeli dan potensi kerusakan stok. Namun demikian, sebagian pedagang juga memandang fluktuasi harga sebagai peluang keuntungan, terutama bagi pedagang yang mampu memperoleh stok pada harga rendah dan menjualnya ketika harga pasar meningkat. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga sayuran tidak hanya memengaruhi dinamika harga pasar, tetapi juga berdampak signifikan terhadap pendapatan, strategi penetapan harga, dan persepsi risiko usaha pedagang, terutama pada skala eceran. Berdasarkan temuan dari studi yang telah dilakukan, perubahan harga sayuran di Pasar Jatimulyo yang terletak di Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan terbukti memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan para pedagang, terutama bagi pedagang eceran. Dalam sudut pandang ekonomi Islam, pergeseran harga sebenarnya merupakan hal yang wajar selama hal itu terjadi secara alami akibat interaksi antara permintaan dan penawaran serta tidak melibatkan praktik-praktik terlarang seperti penimbunan, kecurangan, dan Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan harga ini menciptakan ketidakmerataan pendapatan antara pedagang eceran dan grosir, di mana pedagang eceran mengalami penurunan pendapatan yang lebih besar akibat keterbatasan modal dan ketergantungan pada harga yang ditetapkan oleh pemasok. Dampak Fluktuasi Harga Sayuran Dalam perspektif ekonomi Islam Situasi ini menggambarkan bahwa prinsip keadilan dan keseimbangan dalam perdagangan belum sepenuhnya terwujud. Islam menekankan bahwa setiap transaksi ekonomi harus berdasarkan prinsip saling merelakan dan tidak Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 376 boleh ada unsur penzaliman satu sama lain, sebagaimana dijelaskan dalam QS. AlBaqarah . : 279 yang melarang tindakan zalim. Ketika perubahan harga merugikan pedagang kecil secara sistematis, maka seluruh peserta pasar perlu memperhatikan agar mekanisme perdagangan tetap adil dan seimbang. Studi ini juga mengungkapkan bahwa beberapa pedagang masih berusaha untuk memelihara etika bisnis Islam meski mengalami perubahan harga, seperti tidak menaikkan harga secara berlebihan, menjaga kualitas produk, serta bersikap jujur dan transparan kepada konsumen. Sikap ini mencerminkan penerapan nilai amanah dan kejujuran yang merupakan landasan utama dalam ekonomi Islam. Pedagang yang mengadopsi nilai-nilai ini cenderung dapat menjaga kepercayaan konsumen dan kelangsungan usaha, meskipun pendapatan yang diperoleh tidak selalu tinggi secara nominal. Dengan demikian, penelitian ini menekankan bahwa ekonomi Islam tidak menolak mekanisme pasar dan perubahan harga, tetapi menyediakan kerangka etis supaya fluktuasi tersebut tidak menimbulkan ketidakadilan serta ketimpangan sosial. Penerapan prinsip keadilan, keseimbangan, transparansi, dan tanggung jawab sosial dapat menjadi solusi yang baik dalam menghadapi dampak fluktuasi harga sayuran, sehingga kegiatan perdagangan di pasar tradisional tidak hanya fokus pada keuntungan, tetapi juga pada keberkahan dan kesejahteraan bersama. Kondisi ini menunjukkan adanya perbedaan . hayr al-tawazu. dalam pembagian pendapatan antara pelaku usaha kecil dan pemilik modal yang besar. Prinsip utama dalam ekonomi Islam yang menekankan pada keadilan ('ad. dan larangan untuk saling menzalimi . A taelimna wa lA tuelam. menjadi basis etika yang sangat penting dalam mengamati keadaan di pasar tradisional ini. Dalam pandangan Islam, harga seharusnya ditentukan oleh interaksi antara permintaan dan penawaran yang didasarkan pada rasa saling ridha atau kerelaan . n-taradi. antara penjual dan pembeli. Namun, saat terjadi perubahan harga yang sangat signifikan dan membahayakan kesejahteraan pelaku ekonomi kecil, keterlibatan pemerintah melalui penetapan harga standar atau dukungan sosial menjadi sangat penting untuk melindungi hak-hak masyarakat dan mencegah praktik curang seperti penimbunan barang . (Devina Indah Syafitri, 2. Simpulan dan Saran Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluktuasi harga sayuran di Pasar Jatimulyo merupakan fenomena dinamis yang dipengaruhi oleh faktor pasokan, kondisi cuaca, dan biaya distribusi. Ketidakstabilan harga ini berdampak langsung pada penurunan pendapatan pedagang, namun dengan tingkat kerentanan yang berbeda. Pedagang eceran menjadi kelompok yang paling terdampak dengan penurunan pendapatan mencapai 1927% karena keterbatasan modal dan berkurangnya daya beli konsumen. Sementara itu, pedagang grosir memiliki ketahanan ekonomi yang lebih baik dengan penurunan hanya berkisar 913%, berkat skala modal yang besar serta fleksibilitas dalam pengelolaan stok barang. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 377 Secara implikatif, kondisi ini mencerminkan adanya ketidakseimbangan distribusi pendapatan . hayr al-tawazu. antara pedagang kecil dan pemilik modal besar. Dalam perspektif ekonomi Islam, fenomena ini menekankan pentingnya penerapan prinsip keadilan (Aoad. dan larangan praktik yang saling menzalimi . A taelimna wa lA tuelam. Penelitian ini mengimplikasikan perlunya transparansi dalam penetapan harga dan peran aktif pemerintah dalam stabilitas harga pasar untuk melindungi kesejahteraan pedagang kecil serta memastikan transaksi berjalan atas dasar kerelaan bersama . n-taradin. Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya berfokus pada pedagang sayuran di satu pasar tradisional dalam periode waktu tertentu. Oleh karena itu, disarankan bagi penelitian di masa depan untuk memperluas cakupan lokasi penelitian dan mengeksplorasi lebih dalam mengenai mekanisme dukungan sosial bagi pedagang kecil dalam menghadapi ketidakpastian pasar. Selain itu, direkomendasikan adanya studi lanjutan mengenai efektivitas kebijakan pemerintah dalam intervensi harga serta pencegahan praktik penimbunan barang . guna mewujudkan iklim perdagangan yang lebih adil dan berkelanjutan sesuai nilai-nilai syariah. Referensi