(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. HUBUNGAN LAMA PENGOBATAN PASIEN TB PARU TERHADAP RASIO MONOSIT DAN LIMFOSIT (MLR) DI PUSKESMAS THE RELATIONSHIP BETWEEN THE LENGTH OF TREATMENT FOR PULMONARY TB PATIENTS AND THE MONOCYTE AND LYMPHOCYTE RATIO (MLR) AT COMMUNITY HEALTH CENTER Info Artikel Diterima:1 September 2025 Direvisi:5 Desember 2025 Disetujui: 30 Desember 2025 1,2,3,4 Sohibatul Islamiah1. Ersandhi Resnhaleksmana2. Maruni Wiwin Diarti3. Urip4 Departemen Teknologi Laboratorium Medis. Poltekkes Kemenkes Mataram. Indonesia (E-mail penulis korespondensi: sohibatulislamiah26@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Tuberculosis TB merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, terutama menyerang paru-paru. Pengobatan TB terdiri dari dua tahap yaitu intensif . dan lanjutan, yang dilakukan minimal selama 6 bulan. Salah satu indikator imunologi yang dapat digunakan untuk memantau respon terapi TB adalah rasio monosit dan limfosit (MLR). Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode accidental sampling. Jumlah sampel sebanyak 30 pasien TB paru. Data dianalisis menggunakan uji SpearmanAos Rho. Hasil: Karakteristik pasien TB paru didominasi oleh perempuan . %) dan usia <46 tahun . ,3%). Pada fase awal pengobatan . ulan 1Ae. , rata-rata monosit 0,4, limfosit 2,2, dan MLR 0,20. Pada fase lanjutan . ulan 3Ae. , rata-rata monosit 0,4, limfosit 4,1, dan MLR 0,1. Hasil uji Spearman menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara lama pengobatan dan MLR . = -0,84. , dengan arah hubungan negatif dan kekuatan hubungan sangat kuat. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara lama pengobatan TB paru dengan rasio MLR, di mana semakin lama pengobatan, rasio MLR cenderung menurun. Kata kunci : Tuberkulosis paru, monosit, limfosit. MLR, lama pengobatan. ABSTRACT Background: Tuberculosis (TB) is a chronic infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis, primarily affecting the lungs. TB treatment consists of two phases: intensive . and continuation, which are carried out for a minimum of 6 months. One immunological indicator that can be used to monitor the response to TB therapy is the monocyte-to-lymphocyte ratio (MLR). Methods: This study used a quantitative approach with accidental sampling. The sample size was 30 pulmonary TB patients. Data were analyzed using the Spearman's Rho test. Results: Pulmonary TB patients were predominantly female . %) and aged <46 years . 3%). the initial phase of treatment . onths 1Ae. , the average monocyte count was 0. 4, lymphocyte count 2, and MLR 0. In the continuation phase . onths 3Ae. , the average monocyte count was 0. lymphocyte count 4. 1, and MLR 0. Spearman's test results showed a significant relationship between treatment duration and MLR . = -0. p = 0. , with a negative correlation and very strong correlation. Conclusion: There is a significant relationship between the duration of pulmonary TB treatment and the MLR ratio, with the longer treatment duration tending to decrease. Keywords: Pulmonary tuberculosis, monocytes, lymphocytes. MLR, duration of treatment. (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. PENDAHULUAN Tuberkulosis (TB) penyakit menular kronis yang ditimbulkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yaitu bakteri berbentuk btg yang tahan asam atau dikenal menjadi Basil Tahan Asam (BTA). Menurut global TB Report 2022, jumlah perkara TB pada dunia pada 2021 diperkirakan 10,lima prevalensi tertinggi pada Asia Tenggara, disusul Afrika dan Pasifik Barat. Pada Indonesia, khususnya pada Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Dinas Kesehatan mencatat 6. 509 masalah TB di 2019 serta menurun menjadi lima. 430 kasus di 2020 . enurunan 16,58%). tetapi, pada 2022 Kabupaten Lombok Timur justru sebagai penyumbang terbanyak menggunakan 1. perkara, tertinggi pada NTB. TB biasanya lebih banyak ditemukan pada daerah padat penduduk dengan sanitasi yang kurang baik. Sinkron SOP Kementerian Kesehatan 2020, terapi TB terdiri dari dua fase. Fase awal berlangsung 2 bulan menggunakan anugerah obat setiap hari buat menekan jumlah kuman serta menurunkan risiko resistensi. pada fase ini, penularan biasanya berkurang signifikan sehabis dua minggu pengobatan rutin. Fase lanjutan diberikan selama empat bulan buat membasmi kuman persisten, mencegah kekambuhan, serta memastikan kesembuhan pasien. Secara imunologis, monosit berperan pembentukan tuberkel. Di awal infeksi, monosit meningkat jumlahnya, ad interim limfosit yang bertugas mengenali serta menghancurkan antigen asing cenderung kondisi ini menyebabkan rasio monosit-limfosit (MLR) meningkat pada fase awal penyakit. Seiring berjalannya pengobatan dan pemulihan, jumlah kedua sel ini balik normal, begitu juga rasio MLR. METODE Penelitian ini memakai desain observasional analitik dengan metode cross Lokasi penelitian ditetapkan pada Puskesmas Lenek dan dilaksanakan di bulan April hingga Mei 2025. Populasi penelitian mencakup seluruh pasien TB paru yang sedang menjalani pengobatan, dengan jumlah sampel sebesar 30 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan accidental sampling. Sampel darah pasien lalu diperiksa menggunakan hematology analyzer buat menerima akibat investigasi darah lengkap. Selanjutnya, data dianalisis dengan uji statistik SpearmanAos rho. HASIL Data hasil penelitian karaktristik pasien TB parudi Puskesmas Lenek berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4 1Karaktristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Jumlah . Persentase (%) Berdasarkan tabel 4. 1 diatas dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin sebagian besar pasien TB paru dalam penelitian ini adalah perempuan yaitu sebanyak 21 orang . %) lebih mendominasi dibandingkan dengan laki-laki berjumlah 9 orang . %). Data hasil penelitian karaktristik pasien TB parudi Puskesmas Lenek berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. 2 Karaktristik Berdasarkan Umur Umur <46 >46 Total Jumlah . Persentase (%) Berdasarkan tabel 4. 2 diatas dapat diklasifikasikan berdasarkan umur responden didapatkan bahwa Sebagian besar pasien TB paru berada pada kelompok umur <46 tahun yaitu sebanyak 25 orang . ,3%) sementara itu pasien dengan umur >46 tahun berjumlah 5 orang . ,7%). Berdasarkan hasil penelitian hitung jumlah monosit, limfosit dan MLR pada 30 penderita TB yang menjalani pengobatan fase awal dengan lama pengobatan 1-2 bulan di puskesmas lenek dapat dilihat pada tabel 4. (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. Tabel 4. 3 Distribusi Data Hasil Hitung Jumlah Monosit. Limfosit dan MLR pasa Pengobatan Fase Awal Hasil Pemeriksaan Lama No. pengobatan Monosit Limfosit MLR (Fase Awa. 0,18 0,16 0,29 0,17 0,19 0,22 0,28 0,20 0,19 0,18 0,21 0,21 0,19 0,20 0,16 Total 3,03 Rerata 0,20 Berdasarkan tabel 4. 3 menunjukkan bahwa rata-rata jumlah monosit pada pengobatan bulan ke-1 . , limfosit . dan MLR . Pada bulan ke-2 pengobatan nilai rata-rata monosit . , limfosit . dan MLR . Jika dirata-ratakan berdasarkan fase pengobatan awal . ulan 1-. maka diperoleh rata-rata jumlah monosit . , limfosit . dan MLR . Berdasarkan hasil penelitian hitung jumlah monosit, limfosit dan MLR pada 30 penderita TB yang menjalani pengobatan fase lanjutan dengan lama pengobatan 3-6 bulan di puskesmas lenek dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. 4 Distribusi Data Hasil Hitung Jumlah Monosit. Limfosit dan MLR pasa Pengobatan Fase Awal No. Hasil pemeriksaan Lama Monosit Limfosit (Fase Lanjuta. MLR 0,08 0,16 0,11 0,11 0,15 0,11 0,11 0,08 0,08 0,08 0,07 0,10 0,09 0,08 0,09 Total Rerata Berdasarkan tabel 4. 4 menunjukkan bahwa rata-rata jumlah monosit pada pengobatan bulan ke-3 . , limfosit . dan MLR . Pada bulan ke-4 pengobatan nilai ratarata monosit . , limfosit . dan MLR . Pada bulan ke-5 pengobatan nilai ratarata monosit . , limfosit . dan MLR . Pada bulan ke-6 pengobatan nilai ratarata monosit . , limfosit . dan MLR . Jika dirata-ratakan berdasarkan fase pengobatan awal . ulan 3-. maka diperoleh rata-rata jumlah monosit . , limfosit . dan MLR . Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara lama pengobatan pasien TB paru dengan rasio monosit dan limfosit (MLR), maka dilakukan uji korelasi SpearmanAos Uji ini digunakan karena data berskala ordinal dan tidak berdistribusi normal. Data hasil uji statistik dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. 5 Pasien TB Paru terhadap Rasio Monosit dan Limfosit (MLR) Correlations SpearmanAos Correlation Lama Obat MLR Lama obat Sig. MLR Correlation Sig. Berdasarkan tabel 4. 5 didapatkan hasil uji SpearmanAos Rho yaitu p valeu adalah 0,00 yang menunjukkan kurang dari 0. sehingga ho ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. lama pengobatan dengan rasio monosit limfosit (MLR). Kekuatan hubungannya sangat kuat karena memiliki nilai koefisien korelasi Arah hubungan kedua variabel ini adalah negatif ,artinya semakin lama pengobatan, rasio monosit limfosit (MLR) semakin turun. PEMBAHASAN Pada karaktristik jenis kelamin dalam penelitian ini didapatkan Sebagian besar dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 21 . %) dari 30 total sampel dibandingkan lakilaki sebanyak 9 . %). Hal ini menunjukkan bahwa populasi dalam penelitian ini perempuan lebih banyak terinfeksi TB paru dibandingkan laki-laki. Temuan ini berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh (Sunarmi & Kurniawaty, 2. yang menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak terinfeksi TB paru karna laki-laki kurang menjaga pola hidup sehat ditambah lagi laki-laki suka merokok dan minum alkohol dibandingkan perempuan. Beberapa kemungkinan populasi dalam penelitian ini mungkin memiliki perbedaan karaktristik sosial,ekonomi, atau lingkungan Kemungkinan perempuan dalam wilayah penelitian ini lebih aktif memeriksakan diri kelayanan Kesehatan sehingga banyak kasus TB yang terdeteksi pada perempuan. Kebanyakan perempuan dalam rumah tangga lebih sering mengurus keluarga yang sakit sehingga rentan terkena TB. Karena data ini mencerminkan kondisi sosial masyarakat lokal, di mana perempuan lebih mungkin melakukan kunjungan ke fasilitas kesehatan, baik untuk dirinya maupun anggota keluarga lain. Hal ini menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis, tetapi juga oleh faktor sosial dan perilaku. Pada karaktristik usia didapatkan mayoritas penderita TB berasal dari kelompok usia di bawah 46 tahun, karena pada rentang usia ini umumnya memiliki tingkat mobilitas yang tinggi, sehingga risiko terpapar kuman TB menjadi lebih besar. Hal ini dapat diasumsikan karena kelompok usia 15Ae46 tahun memiliki mobilitas yang tinggi, sehingga meningkatkan kemungkinan terpapar kuman Mycobacterium tuberculosis paru. Selain itu, pada usia lanjut, reaktivasi endogen . uman yang sebelumnya sudah ada dalam tubuh menjadi aktif kembal. juga dapat terjadi. Kelompok usia produktif juga cenderung mengalami kelelahan fisik akibat pekerjaan atau stres, yang secara tidak langsung dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga meningkatkan risiko tertular TB. TB menular melalui udara dan erat kaitannya dengan lingkungan padat, ventilasi buruk, dan interaksi sosial yang tinggi. Usia produktif lebih banyak berkegiatan di luar rumah atau bekerja di tempat umum, sehingga peluang terpapar Mycobacterium tuberculosis lebih tinggi dibanding usia lanjut atau anakanak. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh(Sunarmi & Kurniawaty, 2. yang menyatakan bahwa berdasarkan hasil uji statistik Chi-Squaredidapatkan P-Value= 0,093 . <0,. yang artinya ho ditolak, hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna secara statistik antara usia dan kejadian TB paru. Sesuai yang akan terjadi penelitian, mayoritas pasien TB paru memiliki nilai monosit, limfosit, dan MLR yg berada pada katagori normal. pada fase awal pengobatan, nilai MLR sebagian besar masih berada pada rentang normal, tetapi pada fase lanjutan pengobatan terjadi penurunan nilai MLR. Penurunan MLR pada fase lanjutan pengobatan memberikan kemungkinan terjadi pemugaran syarat peradangan sistemik di MLR yg tinggi acapkali dikaitkan menggunakan kegiatan inflamasi, sedangkan penurunan MLR dapat mencerminkan respon terapi yang efektif serta berkurangnnya beban infeksi tuberculosis didalam tubuh. Temuan ini dilakukan oleh (La Manna, 2. , yang membagikan bahwa rasio monosit terhadap limfosit . asio m. di pasien menggunakan tuberkulosis (TB) aktif jauh lebih tinggi dibandingkan dengan individu sehat,pasien TB yg sedang terapi OAT, maupun pasien yg telah sembuh berasal TB. Hal ini menandakan bahwa terapi anti-TB berperan pada menurunkan rasio mililiter, sebagai akibatnya parameter ini berpotensi digunakan menjadi indikator buat mengevaluasi keberhasilan pengobatan TB. di pasien TB aktif, peningkatan rasio mililiter berkorelasi signifikan dengan meningkatnya jumlah monosit serta menurunnya jumlah limfosit, yang berarti bahwa ke 2 jenis sel ini sama156 (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. sama mensugesti perubahan rasio mililiter. Selain itu, analisis menggunakan kurva ROC serta plot cross-over memberikan bahwa rasio mililiter relatif efektif pada membedakan pasien TB aktif asal individu sehat dimana nilai yg menurun menunjukkan perbaikan Berdasarkan dilakukan didapatkan bahwa data dengan uji SpearmanAos rho didapatkan hasil yaitu p value adalah 0,00 yang menunjukkan <0,05 sehingga ho ditolak. Sehingga ini menunjukkan bahwa adanya hubungan antara lama pengobatan pasien TB paru terhadap rasio monosit dan limfosit (MLR). Secara spesifik nilai MLR cendrung menurun seiring dengan berjalannya Penurunan mencerminkan respons imunologis terhadap terapi anti-TB yang efektif. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Anggela,2. , yang menunjukkan bahwa rata-rata MLR pada pasien TB paru menurun dari 0,55 pada fase awal pengobatan menjadi 0,36 pada fae lanjutan. Meskipun penurunan ini tidak signifikan secara statistik . =0,. , tren penurunan MLR menunjukkan perbaikan kondisi pasien seiring dengan pengobatan. Penelitian ini diperkuat oleh hasil uji SpeamanAos rho dalam penelitian ini yang menunjukkan hubungan negative yang sangat kuat . = -0,84. p= 0,. antara lama pengobatan dengan MLR, yang berarti bahwa semakin lama pengobatan dijalani maka nilai MLR semakin menurun. Secara fisiologis, hal ini dapat dijelaskan karena pada awal infeksi tuberkulosis, tubuh merespons dengan meningkatkan jumlah monosit sebagai upaya Mycobacterium tuberculosis, dan terjadi penurunan limfosit akibat tekanan imunologis. Namun seiring berkurangnya beban bakteri, sistem imun tubuh membaik, jumlah limfosit meningkat, dan aktivitas monosit menurun, sehingga rasio MLR pun ikut menurun. Penelitian ini sejalan denganpenelitian oleh . an Ginderdeuren dkk. yang menyebutkan bahwa rasio MLR tinggi ditemukan pada tahap aktif infeksi, dan akan menurun setelah terapi berjalan dengan Hal ini juga sejalan dengan hasil studi oleh (La Manna dkk. , 2. , yang menyatakan bahwa MLR menurun seiring keberhasilan terapi TB dan dapat menjadi indikator sederhana dalam pemantauan respons imun terhadap pengobatan. KESIMPULAN DAN SARAN Karaktristik pasien TB paru yang mengalami pengobatan di puskesmas lenek didominasi oleh perempuan sebanyak 21 orang sedangkan laki-laki sebanyak 9 orang, dan Sebagian besar pada kelompok usia <46 yaitu sebanyak 25 orang sedangkan pada kelompok usia >46 sebanyak 5 orang. Pada pasien TB paru yang mengalami pengobatan fase awal . -2 bula. rata-rata monosit 0,4, limfosit 2,2 dan MLR 0,20. Pada pasien TB paru yang mengalami pengobatan fase lanjutan . -6 bula. rata- rata monosit 0,4, limfosit 4,1 dan MLR 0,1. Terdapat hubungan yang signifikan antara lama pengobatan dengan rasio monosit dan limfosit (MLR), dengan arah hubungan negatif dan kekuatan hubungan yang sangat kuat . =0,84, p= 0,. hal ini menunjukkan bahwa semakin lama pengobatan rasio MLR cenderung menurun. Untuk disarankan agar dapat melibatkan jumlah mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi Rasio Monosit dan Limfosit (MLR) , seperti status imun pasien, komorbiditas, dan kepatuhan terhadap Selain itu perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan pendekatan longitudinal untuk melihat perubahan MLR secara lebih mendalam selama periode UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Puskesmas Lenek yang telah memberikan izin dan fasilitas selama proses penelitian, ucapan terimakasihjuga disampaikan kepada dosen pembimbing, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan danberperan dalam terselesaikannya penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA