Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 REVITALISASI WAYANG BEBER SEBAGAI UPAYA MEMPERSIAPKAN REGENERASI PELUKIS DAN DALANG DI SANGGAR NALADERMA BALUWARTI SURAKARTA Sri Marwati1. Neni Nurul Rosalina 2, dan Halintar Cakra Padnobo3 1,2,3 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta 1srirose1201@gmail. com, 2neni. nurul@isi-ska. id, 3halintar@isi-ska. ABSTRAK Sanggar Naladerma sebagai tempat belajar wayang beber satu-satunya di lingkungan kompleks Keraton Surakarta belum dikelola dengan baik. Jadwal belajar, materi ajar, modul, anggota/anak didik, maupun koleksinya kurang ditata dengan baik. Sementara, keberadaan Sanggar Naladerma turut mendukung Keraton Surakarta sebagai pusat budaya tradisi Jawa, meskipun kontribusinya kurang terekspos. Joko Sriyono selaku pemilik sanggar Naladerma sudah lama dikenal sebagai seniman sungging wayang beber dan warga sekitar sudah mengenalnya sebagai juru sungging Wayang Beber. Kondisi Joko Sriyono pun tidak seperti dulu lagi, disebabkan karena usia yang semakin menua dan sakit-sakitan. Hal tersebut menyebabkan kegiatan melukisnya tidak produktif lagi bahkan projek Wayang Beber yang dirancangnya sepanjang 21 meter belum terselesaikan. Saat ini, tidak ada lagi penerus yang mengelola Sanggar Naladerma, padahal dulu Joko mendirikan sanggar didorong oleh keresahannya terhadap kelestarian wayang beber di Solo. Terlebih, di tengah perkembangan zaman yang makin modern ini. Ia merasa khawatir apabila kelak kebudayaan wayang beber ini Melalui sanggarnya. Joko bisa membagikan ilmu tentang wayang beber kepada siapapun, baik pengunjung maupun siswa-siswanya. Untuk itu perlu ada revitalisasi untuk menyiapkan regenerasi baik pelukis maupun dalang dari Wayang Beber itu sendiri sebagai bentuk dan upaya pelestarian Wayang Beber agar tidak punah. Kata Kunci: revitalisasi,Wayang Beber, regenerasi ABSTRACT Naladerma Studio as the only place to learn Wayang Beber in the Surakarta Palace complex is not well managed. The study schedule, teaching materials, modules, members/students, and collections are not well organized. Meanwhile, the existence of Naladerma Studio also supports Surakarta Palace as a center of Javanese traditional culture, although its contribution is not well exposed. Joko Sriyono as the owner of Naladerma Studio has long been known as a Wayang Beber sungging artist and local residents already know him as a wayang beber sungging artist. Joko Sriyono's condition is not like it used to be, due to his increasing age and Volume 16 Nomor 2 Desember 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 This has caused his painting activities to be no longer productive and even the 21-meter wayang beber project he designed has not been completed. Currently, there is no longer a successor to manage Naladerma Studio, even though Joko previously founded the studio driven by his concern for the preservation of wayang beber in Solo. Moreover, in the midst of the increasingly modern era. He is worried that in the future the wayang beber culture will be Through his studio. Joko can share knowledge about wayang beber to anyone, both visitors and students. For that, there needs to be revitalization to prepare the regeneration of both painters and puppeteers of Wayang Beber itself as a form and effort to preserve Wayang Beber so that it does not become extinct. Keywords: revitalization. Wayang Beber, regeneration PENDAHULUAN Wayang Beber merupakan salah satu jenis pertunjukan wayang dengan gambar-gambar sebagai objek pertunjukan. Gambar-gambar tersebut dilukiskan pada selembar kertas atau kain. Gambar dibuat dari satu adegan menyusul adegan yang lain, berurutan sesuai narasi cerita. Pada masa lalu, material yang digunakan yaitu kertas daluang yang diolah dari pohon daluang. Masa sekarang, material diganti dengan kain yang berukuran lebar 1 meter, panjang 4 meter. Biasanya terdiri atas empat adegan yang digulung dalam satu gulung, ketika dipertunjukkan maka gulungan tersebut dibentangkan. Wayang beber merupakan salah satu karya peninggalan masa kerajaan Majapahit. Wayang Beber Majapahit Wonosari/Gunungkidul dan Pacitan, yang dikenal dengan lukis Wayang Beber tradisi gaya Pacitan dan gaya Wonosari. Akan tetapi, wayang beber tradisi kini mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan karena sudah tidak banyak generasi muda yang berminat melukis dan/atau melakonkannya . Salah satu pelestari wayang beber tradisi di Surakarta, yaitu Joko Sriyono. Dia merupakan satu-satunya pelukis Wayang Beber di lingkungan Keraton Surakarta. Joko Sriyono belajar melukis dari juru sungging Keraton Surakarta yaitu alm. Raden Ngabei Atmosoepomo. AySejak kecil saya membantu Eyang Bei Atmo, magang nggambar Wayang Beber, waktu itu upahnya cuma makan siangAy . Dia melukis sejak kelas V di Sekolah Rakyat . ekarang Sekolah Dasa. Joko Sriyono sudah belajar Wayang Beber sejak dulu, sempat Volume 16 Nomor 2 Desember 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 beralih menjadi desainer batik, tapi kemudian kembali lagi menekuni Wayang Beber . , hingga Ia menekuni Wayang Beber hingga mencapai hari tuanya. Joko berpendapat Wayang Beber harus terus dilestarikan dan ia pun melakukannya. Kecintaannya pada Wayang Beber mendorong dia mendirikan Sanggar bernama Naladerma. Sanggarnya terbuka bagi siapa saja yang ingin mendalami lukis Wayang Beber. Selama ini, banyak siswa SMK dan mahasiswa yang magang Wayang Beber di sanggarnya. "Saya senang banyak yang datang belajar ke sini, kebanyakan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) SurakartaAy kata Joko Sriyono . Terkadang Joko Sriyono juga melakukan pelatihan lukis Wayang Beber di daerah sekitar Surakarta. Bahkan, dulu Joko Sriyono sering memberikan pelatihan menggambar batik ke Papua bersama dengan Sri Wuryani, dosen Kriya ISI Surakarta. Sanggar Naladerma sebagai tempat belajar Wayang Beber satu-satunya di lingkungan kompleks Keraton Surakarta kurang dikelola dengan baik. Jadwal belajar, materi ajar, modul, anggota/anak didik, maupun koleksinya belum ditata dengan baik. Sementara, keberadaan Sanggar Naladerma turut mendukung Keraton Surakarta sebagai pusat budaya tradisi Jawa, meskipun kontribusinya kurang terekspos. Namun demikian, pemerintah kota telah mengapresiasinya dalam website resminya. Bahkan, koran online Detik. com menyebutnya Maestro pada judul beritanya tanggal 08 Jan 2024. Joko Sriyono sudah lama dikenal sebagai seniman sungging Wayang Beber dan warga sekitar sudah mengenalnya sebagai juru sungging wayang beber . Kondisi Joko Sriyono pun tidak seperti dulu lagi, disebabkan karena usia yang semakin menua dan sakit-sakitan. Hal tersebut menyebabkan kegiatan melukisnya tidak produktif lagi bahkan proyek Wayang Beber yang dirancangnya sepanjang 21 meter belum terselesaikan. Saat ini, tidak ada lagi penerus yang mengelola Sanggar Naladerma, padahal dulu Joko mendirikan sanggar didorong oleh keresahannya terhadap kelestarian wayang beber di Solo. Terlebih, di tengah perkembangan zaman yang makin modern ini. Ia merasa khawatir apabila kelak kebudayaan wayang beber ini musnah . Melalui sanggarnya. Joko bisa membagikan ilmu tentang Wayang Beber kepada siapapun, baik pengunjung maupun siswa-siswanya . Pembelajaran wayang pasti memberikan makna bagi siapa saja. Arti penting wayang bagi kehidupan budaya di Jawa dan pengaruhnya tidak hanya terbatas pada seni saja . Volume 16 Nomor 2 Desember 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Sanggar seni Wayang Beber sangat langka, bahkan se-Jawa jumlahnya dapat dihitung dengan jari tangan sebelah saja. Sanggar Naladerma merupakan sanggar seni yang fokus pada pembuatan Wayang Beber. Wayang Beber laku . ibeli tam. , terjadi sekali dalam sebulan pun tidak pasti. Wayang Beber tidak bisa diharapkan sebagai sumber penghasilan utama. Kondisi sanggar cukup memprihatinkan seperti dipaparkan pada latar belakang. Kondisi Sanggar Naladerma tersebut mendorong Tim untuk melakukan kegiatan pengabdian yang memiliki tujuan untuk . Sanggar Naladerma bisa berkembang dan tetap ada keberadaannya sebagai pelestari budaya wayang beber . tempat pelatihan menyungging, tempat pelatihan mendalang Wayang Beber serta menyediakan pelatihan teknologi tata ruang penyimpanan koleksi wayang dengan teknologi tradisional kearifan lokal yang ramah lingkungan. Dari sekian banyak problem yang dimiliki Sanggar Naladerma, terdapat dua permasalahan, terkait dengan: Permasalahan kegiatan sanggar Kegiatan sanggar belum dikelola dengan baik. Tidak ada pembelajaran menggambar dan melukis Wayang Beber yang rutin dan memadai bagi anggota sanggar dan anak-anak di Demikian juga tidak ada aktivitas belajar mendalang Wayang Beber. Peserta dan jadwal tidak tentu dan tidak teratur. Belajar menggambar diselenggarakan dengan apa adanya dan minim fasilitas. Bahkan, materi atau modul tidak tersedia, karena semua mengandalkan pembelajaran informal. Model belajar menggambar wayang kurang menjadi perhatian. Kegiatan belajar di sanggar tidak dikaitkan dengan lingkungan dan jejaring sekitarnya, termasuk kegiatan di lingkungan keraton. Permasalahan koleksi Wayang Beber Koleksi Wayang Beber yang dimiliki Sanggar Naladerma tidak disimpan dan diarsip dengan baik. Wayang Beber hanya digulung dan dimasukkan ke dalam laci, padahal bisa menjadi media belajar ketika dipajang. Wayang Beber baik ukuran panjang maupun pendek/kecil dapat disajikan seperti galeri mini di sanggar tersebut. Terlebih, lokasi Sanggar Naladerma sangat strategis karena berada di lingkungan kompleks Keraton Surakarta. Kelak Volume 16 Nomor 2 Desember 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 wisatawan yang jumlahnya banyak ke keraton dapat diarahkan juga ke Sanggar Naladerma. Kedua permasalahan utama jika ditangani melalui pengabdian masyarakat ini akan dapat Sanggar Naladerma, keberlangsungan seni budaya di lingkungan Keraton Surakarta. Solusi terhadap Permasalahan Mitra Memberikan pelatihan tentang pengelolaan kegiatan melukis Wayang Beber Pengurus Sanggar Naladerma perlu dilatih dalam mengelola kegiatan sanggar khususnya: menggambar anatomi, . menggambar ornamen, . , dan mendalang Wayang Beber. Jadwal belajar melukis Wayang Beber dilakukan rutin, demikian juga peserta anak didiknya. Anak-anak di sanggar akan dipersiapkan sebagai peserta atau anggota sanggar, agar jumlahnya bertambah dari sebelumnya. Peserta pelatihan tidak hanya siswa, tetapi juga masyarakat umum dalam dan luar kompleks . Keraton Surakarta. Selain itu, akan dilakukan kerjasama dengan sekolah di sekitarnya baik SD maupun SMK. Bahan dan peralatan sanggar perlu disiapkan, agar memudahkan anak didik belajar melukis Wayang Beber. Agenda belajar melukis Wayang Beber akan dipublikasikan ke media sosial, agar sanggar semakin dikenal dan anak didiknya semakin bertambah. Memberikan pelatihan pengelolaan koleksi Wayang Beber Pelatihan juga akan diberikan dengan fokus pada pengelolaan koleksi Wayang Beber yang dimiliki oleh Sanggar Naladerma. Pengurus dilatih tentang cara merawat koleksi Wayang Beber kuno dengan teknologi tradisional yang ramah lingkungan berbasis kearifan lokal. Materi pelatihan juga terkait dengan tata ruang dan tata cahaya sebagai bekal mereka menata ruangruang yang ada di Sanggar Naladerma, agar dapat dikemas menjadi galeri mini yang berisi koleksi Wayang Beber. Selain itu, tata kelola informasi dan pelayanan pengunjung akan dilatihkan kepada pengurus sanggar. Pelatihan merancang galeri mini Wayang Beber perlu memperhatikan esensi wayang beber dalam budaya Jawa. Desain perlu dimulai dengan memahami makna dan pentingnya budaya sehingga dapat berkontribusi terhadap warisan Volume 16 Nomor 2 Desember 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 METODE Tahapan yang dilakukan dalam pengabdian ini antara lain: Sosialisasi Langkah awal yang dilakukan dalam program PKM ini yaitu melakukan sosialisasi program PKM dengan cara melakukan pemaparan maksud dan tujuan PKM kepada pengurus Sanggar Naladerma. Adapun peserta yang hadir nantinya adalah pimpinan sanggar, anggota sanggar, remaja, dan anak didik sanggar bertempat di Sanggar Naladerma. Selain itu, rencana pelatihan yang akan diselenggarakan juga disosialisasikan yaitu pelatihan-pelatihan terkait dengan pembuatan dan penataan koleksi Wayang Beber. Pelatihan Pelatihan yang diselenggarakan nantinya sasarannya adalah pengurus sanggar, anak-anak dan remaja. Adapun materi-materi pelatihan meliputi: Menggambar anatomi wayang beber ditujukan untuk anak-anak SD anggota sanggar & . Menggambar ornamen wayang beber ditujukan untuk anak-anak SD anggota sanggar & . Sungging wayang beber ditujukan untuk anak-anak SD anggota sanggar & sekitarnya. Mendalang wayang beber yang ditujukan untuk remaja Sekolah Menengah Pertama (SMP) tetapi tidak menutup kemungkinan juga remaja Sekolah Menengah Atas (SMA) anggota sanggar & sekitarnya. Mengiringi . pertunjukan wayang beber yang ditujukan untuk remaja seperti poin AudAy . Mengelola kegiatan-kegiatan berkesenian bagi pengurus sanggar. Menata ruang galeri mini wayang beber . Penyimpanan koleksi wayang beber . Penyajian koleksi wayang beber . Penyajian informasi koleksi galeri mini. Volume 16 Nomor 2 Desember 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Materi pelatihan Aua - eAy ditujukan kepada anak-anak dan remaja anggota sanggar maupun non-anggota, sedangkan materi Auf - kAy dikhususkan kepada pengurus sanggar, namun juga terbuka bagi kalangan umum dan mahasiswa. Penerapan Teknologi Penerapan teknologi yang dilaksanakan yaitu teknik lukis tradisonal Wayang Beber. Teknik Wayang Beber mencakup menggambar anatomi wayang, ornamen, dan sungging . wayang beber. Selain itu, teknik mendalang wayang beber dan iringan musik gamelan. Teknologi itu akan diberikan pada pelatihan 1. Pelatihan 2 akan fokus pada teknologi tata ruang dengan fokus desain interior, mencakup tata ruang, tata cahaya, penyimpanan koleksi, penyajian koleksi dan informasi. Penyimpanan koleksi wayang dengan teknologi tradisional kearifan lokal yang ramah lingkungan. Partisipasi Mitra Mitra akan berpartisipasi dalam bentuk in-kind berupa tenaga dan jasa, mengingat sanggar merupakan usaha non-profit. Pengurus sanggar akan membantu penyediaan peserta pelatihan baik murid SD. SMP. SMK, atau umum baik dalam lingkungan dalam keraton ataupun di luar lingkungan keraton. Pengurus juga mempersilakan sanggarnya untuk dikembangkan menjadi semacam galeri mini, tidak hanya menjadi tempat belajar melukis sebagaimana umumnya sanggar. Evaluasi dan Pendampingan Evaluasi akan dilakukan antara tim pengusul dengan pimpinan dan pengurus Sanggar Naladerma untuk meninjau pelaksanaan dan hasil pelaksanaan program PKM ini. Dalam evaluasi itu juga akan mengundang perwakilan dari Kelurahan dan Dinas Kebudayaan setempat sebagai pemangku kepentingan. Evaluasi akan diformat dalam FGD . ocus group discussio. bertempat di Sanggar Naladerma. Hasil FGD akan dijadikan perbaikan program, dan berguna juga untuk diimplementasikan oleh mitra ketika melanjutkan kegiatan yang sudah diinisiasi dari program PKM ini. Pendampingan terhadap Sanggar Naladerma usai pelaksanaan program akan dilakukan oleh ISI Surakarta melalui banyak program, misalnya kunjungan berkala tim Volume 16 Nomor 2 Desember 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 pengusul ke sanggar, melatih pengurus sanggar jika membutuhkan tambahan materi tertentu, mengirimkan mahasiswa membantu aktivitas di sanggar, membantu penataan cahaya ruang galeri mini Wayang Beber. HASIL DAN PEMBAHASAN NO. KEGIATAN LUARAN Pelatihan 1 Melatih menggambar anatomi dan Anak didik sanggar mampu menggambar Melatih menyungging . Anak didik sanggar mampu Melatih penyediaan sarana pembelajaran melukis Wayang Beber Sarana menggambar tersedia Melatih penataan ruang sanggar menjadi galeri mini Pengurus mampu menata ruang sanggar menjadi galeri ini Pelatihan 2 Gambar 1. Pelatihan Wayang Beber untuk Siswa Sanggar Kategori SMP dan SMA Volume 16 Nomor 2 Desember 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 2. Pelatihan Wayang Beber untuk Siswa Sanggar Kategori TK dan SD Gambar 3. Pelatihan mewarna Wayang Beber Volume 16 Nomor 2 Desember 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Teknologi yang diterapkan dalam pengabdian ini: Teknik Sungging Teknik sungging akan diterapkan dalam pelatihan melukis Wayang Beber menekankan pada gradasi warna sehingga terbentuk karakteristik wayang beber tradisional. Teknik lukis tradisional disebut teknik sungging . , merupakan ciri khas seni lukis Nusantara yang berbeda dengan teknik lukis Barat. Teknik sungging akan dilatihkan pada anak-anak di Sanggar Seni Naladerma. Pelatihan ini diberikan untuk menjadikan transformasi keterampilan anak-anak menjadi lebih terstruktur . Teknik ini juga akan diterapkan dalam pembuatan gulungan Wayang Beber sepanjang 21 meter. Teknik Tata Ruang Mixed Teknik Mixed akan diterapkan dalam pengabdian ini, yaitu menjadikan sanggar sekaligus menjadi galeri. Penggabungan beberapa fungsi dalam satu bangunan memerlukan strategi desain yang baik sehingga tercipta konfigurasi antar ruang yang saling terintegrasi sehingga dapat mengakomodasi aktivitas serta kebutuhan industri kreatif . Hal ini cocok bagi Sanggar Naladerma yang berada di kampung Baluwarti dalam lingkungan Keraton Surakarta, di mana rumahnya kecil dan pada hakekatnya milik keraton. Pengubahan ruang-ruang sanggar agar menjadi multi fungsi, yaitu tempat belajar melukis Wayang Beber sekaligus galeri seni (Wayang Bebe. Teknik Catur Catur adalah ungkapan deskripsi dalang melalui tutur kata untuk menggambarkan keadaan atau mendramatisir pertunjukan wayang. Catur terdiri dari Ginem. Pocapan, dan Janturan. Ginem adalah dialog antar tokoh wayang yang ada dalam pertunjukan wayang. Pocapan adalah ilustrasi penggambaran suasana menurut adegan tanpa diiringi oleh instrumen Janturan adalah mendeskripsikan situasi kenegaraan, tempat, identitas sebuah kerajaan secara lengkap dengan diiringi dengan instrumen tertentu. Unsur garap tersebut akan mengikuti perkembangan pasar, dengan bentuk komposisi, catur yang lebih merakyat . Gending adalah vokabuler atau repertoar sebuah bentuk iringan dalam pertunjukan wayang seperti lancaran, ketawang, ladrang, gending, lagon, dan lainnya yang berhubungan dengan seluruh Volume 16 Nomor 2 Desember 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 kebutuhan adegan wayang yang akan digunakan untuk mendukung suasana pertunjukan Teknik gending yang akan dikembangkan lebih mengarah pada pengembangan garap vokal, mudah dipahami, menggunakan model gending atau lagu kekinian, sebagai penciri khas pengembangan Wayang Beber. Gambar 4. Pelatihan mendalang Wayang Beber Teknik Iringin Wayang Beber Teknik iringan wayang beber awalnya diiringi dengan tiga/empat instrumen terbatas, seperti gender, rebab, kendang dan kempul dalam laras gamelan slendro. Selain itu, teknik lagu, dan tabuhan gamelan tergolong monoton dan lebih sederhana tanpa adanya perkembangan. Namun, saat ini Wayang Beber dapat dikembangkan mengikuti zaman, dengan indikasi masuknya iringan laras pelog dalam gamelan, instrumen lebih dilengkapi dan terkadang menggunakan instrumen non-tradisi untuk mendukung suasana pertunjukan Wayang Beber. Teknik pengembangan iringan terdapat dalam beberapa penambahan instrumen pengiring, di antaranya teknik gamelan saron bilah sembilan dikembangkan untuk memberikan suasana lebih ramai, penggunaan intrumen kemanak digunakan untuk membantu meningkatkan suasana seperti agung, magis, dan tenang. Penggunaan drum, simbal, dan gamelan kecer Surakarta Volume 16 Nomor 2 Desember 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 untuk memberikan suasana yang lebih mantab, riang, ramai, dan kompak. Selain itu, menambah gending-gending baru yang disusun sendiri dan disesuaikan dengan suasana yang dibutuhkan . Hal ini dapat menjadi penciri Wayang Beber bentuk baru yang lebih memasyarakat, komunikatif terhadap audiens, dan menarik untuk dipergelarkan. Target Luaran dan Indikator Pelatihan I : tentang pengelolaan kegiatan sanggar, ditargetkan menghasilkan target luaran sebagai berikut. Lima . pengurus mampu menyelenggarakan kegiatan belajar menggambar anatomi dan ornamen, serta menyungging . di sanggar dengan baik. Dua puluh . anak didik di lingkungan keraton memperoleh pembelajaran melukis Wayang Beber. Dua puluh . masyarakat umum dalam dan luar kompleks . keraton memperoleh pembelajaran melukis Wayang Beber. Materi, modul, jadwal, dan bahan/media ajar tersedia untuk pembelajaran melukis Wayang Beber. Volume 16 Nomor 2 Desember 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Pelatihan II : tentang pengelolaan koleksi wayang beber, ditargetkan akan menghasilkan target luaran sebagai berikut. Satu . set media penyimpanan wayang beber kuno agar tidak cepat rusak dan aman. Satu . ruang galeri mini di Sanggar Naladerma berisi koleksi wayang beber beserta papan informasi. Lima . pengurus mampu merintis, menata, dan mengelola galeri mini di Sanggar Naladerma serta melayani pengunjung. Pelatihan yang sudah berjalan antara lain pelatihan mendalang, pelatihan anatomi dan sungging Wayang Beber, serta pelatihan tata kelola mini galeri. Gambar 5. Pelatihan tata kelola mini galeri. PENUTUP Pelatihan Wayang Beber yang sudah dilakukan sejauh ini sangat menarik siswa sanggar maupun masyarakat sekitar. Pelatihan ini apabila dikelola dengan baik maka akan besar kemungkinan menambah jumlah siswa Sanggar Naladerma. Joko Sriyono mendirikan sanggar didorong oleh keresahannya terhadap kelestarian Wayang Beber di Solo. Terlebih, di tengah perkembangan zaman yang makin modern ini. Ia merasa khawatir apabila kelak kebudayaan Wayang Beber ini musnah. Melalui sanggarnya. Joko bisa membagikan ilmu tentang Wayang Volume 16 Nomor 2 Desember 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Beber kepada siapapun, baik pengunjung maupun siswa-siswanya. Untuk itu revitalisasi untuk menyiapkan regenerasi baik pelukis maupun dalang dari Wayang Beber itu sendiri sebagai bentuk dan upaya pelestarian Wayang Beber agar tidak punah. DAFTAR PUSTAKA