Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 2044 - 2056 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Watu Gilesan Jagung: Deskripsi. Eksistensi. Nilai Edukasi dan Rekomendasi Kebijakan Konservasi 1Kalvin Edo Wahyudi, 2Supranoto 1Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur, 2Universitas Jember adne@upnjatim. id, 2supranoto. fisip@unej. ABSTRACT Watu gilesan jagung . he corn grinding ston. is a historical relic that had an important use in its time, namely for grinding corn kernels into corn rice or smaller grains. As technology develops, watu gilesan jagung are becoming obsolete. Some were even damaged or thrown away. In fact, watu gilesan jagung has symbolic values that are relevant for education. This research aims to describe, reveal the existence, outline symbolic values that are relevant for education and recommend conservation policies. The research approach used is qualitative. Data was collected using observation, interviews. FGD and document collection techniques. Data analysis uses interactive models and the validity of the data is tested using triangulation. The research results show several important things. First, watu gilesan jagung has a unique description/profile and is different from other relics. Second, the existence of watu gilesan jagung is considered threatened, because many are thrown away, damaged or removed because they are considered Third, watu gilesan jagung has values that are relevant to education, namely the value of religiosity, social values and the value of struggle. Apart from that, there is also learning potential that can be applied, namely appropriate technology and character education. Fourth, for conservation policy recommendations, we suggest that watu gilesan jagung can be registered as a cultural heritage object. However, if this recommendation is not acceptable, we propose another conservation policy recommendation, namely an integrated approach, including integration with education, tourism, community and social media. Keywords: watu gilesan jagung . he corn grinding ston. character education. policy recommendations ABSTRAK Watu gilesan jagung merupakan salah satu peninggalan sejarah yang memiliki kegunaan penting pada masanya, yaitu untuk menggiling biji jagung menjadi beras jagung atau butiran yang lebih kecil. Seiring berkembangnya teknologi, watu gilesan jagung mulai Bahkan ada yang dirusak atau dibuang. Padahal, watu gilesan jagung memiliki nilai-nilai simbolis yang relevan untuk pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, mengungkap eksistensi, menguraikan nilai-nilai simbolis yang relevan untuk pendidikan dan merekomendasikan kebijakan konservasi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara. FGD dan pengumpulan dokumen. Analisa data menggunakan interaktif model dan keabsahan data diuji dengan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan beberapa hal penting. Pertama, watu gilesan jagung memiliki deskripsi/profil yang unik dan berbeda dengan peninggalan lain. Kedua. Eksistensi watu gilesan jagung tergolong terancam, karena banyak yang dibuang, dirusak atau dihilangkan karena dianggap tak terpakai. Ketiga, watu gilesan jagung memiliki nilai-nilai yang relevan dengan pendidikan, yaitu nilai religiusitas, nilai sosial dan nilai perjuangan. Selain itu, terdapat juga potensi pembelajaran yang dapat diterapkan yaitu teknologi tepat 2044 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 2044 - 2056 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. guna dan pendidikan karakter. Keempat, untuk rekomendasi kebijakan konservasi kami menyarankan bahwa watu gilesan jagung dapat didaftarkan sebagai benda cagar budaya. Namun, jika rekomendasi ini tidak dapat diterima, kami mengajukan rekomendasi kebijakan konservasi yang lain yaitu dengan pendekatan integrasi, baik integrasi dengan pendidikan, pariwisata, komunitas, dan media sosial. Kata kunci: watu gilesan jagung. pendidikan karakter. rekomendasi kebijakan konservasi PENDAHULUAN Peradaban adalah buah dari masyarakat yang berkebudayaan dan selalu berkembang seiring bergulirnya zaman1. Perkembangan ini tentu menimbulkan konsekuensi, yaitu keusangan. Munculnya peradaban baru mengakibatkan sebagian peradaban lama dianggap usang. Selanjutnya peradaban tersebut tersisihkan dan tidak lagi terpakai. Peninggalan peradaban tersebut kemudian menjadi jejak masa lalu2 yang sering kali diacuhkan, dilupakan, bahkan dirusak atau dihilangkan. Padahal, peninggalan peradaban masa lalu memiliki nilai historis/sejarah yang sangat penting sebagai fondasi untuk memajukan kebudayaan dan peradaban Dalam perspektif administrasi publik, perusakan peninggalan bernilai historis tersebut merupakan masalah publik4 yang perlu mendapat perhatian serius bagi kepentingan pendidikan karakter atau jati diri bangsa. Inilah esensi utama dari artikel ini, yaitu mencoba untuk mendeskripsikan, mengungkap eksistensi, menguraikan nilai-nilai simbolis yang relevan untuk pendidikan dan merekomendasikan kebijakan konservasi. Semoga artikel ini dapat memperkaya pembahasan atas perjalanan panjang peradaban bangsa Indonesia. Salah satu peradaban yang terus mengalami perkembangan adalah pengolahan bahan makanan pokok. Bahan makanan pokok merupakan kebutuhan primer manusia5. Oleh sebab itu, peradaban dalam pengolahan bahan makanan pokok mengalami perkembangan yang sangat pesat. Peralatan-peralatan dalam pengolahan bahan makanan pokok sebagai manifestasi ilmu pengetahuan dan teknologi terus mengalami perkembangan. Peralatan-peralatan baru yang lebih efektif dan efisien diperkenalkan dan digunakan. Hal ini secara otomatis AumengusangkanAy peralatan lama dan menjadikannya sebagai peninggalan peradaban 1 Relasi antara peradaban dan kebudayaan bersifat kausal sebagaimana disampaikan oleh Bakker dalam Sutrisno . Auculture and civilization as cause to effectAy. Pandangan ini menunjukkan bahwa kebudayaan merupakan pemicu/pendorong terbentuknya peradaban. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Sutrisno . Aujika kebudayaan adalah aspirasi, peradabanlah bentuk konkretnyaAy. Artinya, kemajuan peradaban sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat. Semakin maju kebudayaan dalam masyarakat, maka semakin pesat pula perkembangan peradaban dalam masyarakt tersebut sebagai wujud konkretnya. 2 Peninggalan peradaban ini memiliki beberapa variasi penyebutan, misalnya peninggalan sejarah dalam Mursidi dan Soetopo . peninggalan purbakala dalam Susanti . atau cagar budaya dalam UU No. 11 Tahun 2010. 3 Wartha . menguraikan bahwa peninggalan sejarah memiliki manfaat yang penting dalam kehidupan manusia, seperti pada aspek agama, sosial budaya, ekonomi, pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. 4 Masalah publik didefinisikan oleh Subarsono . sebagai Aubelum terpenuhinya kebutuhan, nilai, atau kesempatan yang diinginkan oleh publik dan pemenuhannya hanya mungkin melalui kebijakan pemerintahAy. 5 Bahan makanan pokok sebagai kebutuhan primer dan sangat penting untuk dijaga ketahanannya diungkapkan oleh Biantoro dan Purnomo . 2045 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 2044 - 2056 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. masa lalu. Salah satu peralatan dalam pengolahan bahan makanan pokok tersebut adalah Auwatu gilesan jagungAy. Pada sebagian masyarakat Indonesia dengan lahan pertanian yang kering, jagung adalah tanaman penghasil bahan makanan pokok yang utama. Sedangkan di beberapa wilayah dengan lahan pertanian musiman, jagung merupakan alternatif kedua setelah padi yang ditanam saat musim kemarau. Jadi, pada saat musim kemarau jagung menjadi tanaman utama penghasil bahan makanan pokok yaitu biji Agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok, biji jagung diolah menjadi butiran-butiran kecil . yang disebut beras jagung. Beras jagung inilah yang kemudian diolah menjadi nasi jagung untuk dikonsumsi. Sebagai bahan makanan pokok alternatif, beras jagung memiliki kandungan nilai gizi yang tinggi dan masyarakat sudah terbiasa untuk mengonsumsinya sehingga tidak perlu Untuk memproduksi beras jagung, tentu membutuhkan peralatan. Masyarakat zaman dahulu menggunakan alat yang disebut watu gilesan untuk mengubah biji jagung menjadi beras jagung. Oleh sebab itu, watu gilesan jagung sangat fungsional pada masanya. Terlebih lagi pada wilayah pertanian lahan kering atau musiman yang menjadikan jagung sebagai komoditi bahan pangan utama atau alternatif pengganti padi. Namun, seiring bergulirnya zaman, watu gilesan jagung ini mulai tergantikan oleh mesin penggilingan modern yang dinilai lebih efektif . kuran butir beras lebih homoge. dan efisien . roses penggilingan jauh lebih cepat dan hemat tenaga Selanjutnya, watu gilesan jagung tidak lagi terpakai dan menjadi peninggalan peradaban masa lalu7. Banyak diantaranya yang dibuang, dirusak, atau Dengan demikian, eksistensi watu gilesan jagung semakin terancam. Jika tidak diberi perhatian serius, ada kemungkinan watu gilesan jagung akan hilang. Sehingga generasi mendatang tidak dapat lagi melihat dan mempelajari watu gilesan jagung secara langsung. Padahal, peninggalan peradaban masa lalu atau peninggalan sejarah memiliki nilai edukasi yang tinggi. Nilai edukasi sebagaimana dimaksud adalah terkait dengan pembentukan warga negara Indonesia yang bijaksana, berkarakter, bermartabat, sadar akan perjalanan bangsa dan negara serta memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air8. Oleh sebab itu, eksistensi peninggalan peradaban masa lalu wajib untuk Berkaitan dengan hal tersebut, maka artikel ini disusun atas dasar keinginan untuk menceritakan kembali watu gilesan jagung sebagai salah satu peninggalan peradaban masa lalu. Setelah melakukan berbagai penelusuran, 6 Pemanfaatan beras jagung sebagai bahan makanan pokok ditinjau dari nilai gizi, selera masyarakat dan daya beli terhadap beras jagung, dapat dilihat dalam Tangkilisan, dkk . 7 Ini hanya kecenderungan secara umum. beberapa lokasi di Indonesia batu gilesan jagung mungkin masih tetap digunakan, misalnya bisa dilihat dalam artikel berjudul Augilesan watuAy pada https://w. com/2017/07/dusun-busu-1. html atau pada https://w. com/watch?v=wqsDYtbuVhw 8 Pandangan yang menjelaskan bahwa pembelajaran sejarah memiliki fungsi yang sangat strategis dalam pembentukan karakter warga negara dapat dilihat dalam artikel-artikel seperti: Sulaiman . Rulianto & Hartono . Hasan . Jumardi dan Pradita . dan Zahro, dkk . 2046 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 2044 - 2056 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. penelitian terdahulu dengan tema watu gilesan jagung masih sangat terbatas bahkan mungkin belum ada. Hal ini tentu menambah urgensi dari tema tentang watu gilesan Artikel ini menganalisis watu gilisan jagung dalam empat aspek, yaitu deskripsi . , eksistensi, nilai-nilai yang relevan untuk edukasi dan rekomendasi kebijakan konservasi. Khusus analisis pada aspek rekomendasi kebijakan merupakan bidang utama yang ditekuni penulis, yaitu administrasi publik dan kebijakan publik. METODE PENELITIAN Lokasi penelitian adalah di Desa Sumberrejo. Kecamatan Candipuro. Kabupaten Lumajang. Provinsi Jawa Timur. Pemilihan lokasi ini dikarenakan masih adanya watu gilesan jagung yang masih utuh dan dapat berfungsi dengan baik, namun sudah sangat lama tidak terpakai. Selain itu, di lokasi tersebut masih terdapat tokohtokoh masyarakat . yang masih memiliki pengetahuan terkait watu gilesan Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan deskriptif9. Data dikumpulkan dengan teknik utama yaitu wawancara dan didukung dengan teknik observasi, focus group discussion (FGD) dan pengumpulan dokumen seperti artikel ilmiah dan pemberitaan online. Adapun teknik analisis data menggunakan model interaktif dari Miles dan Huberman yang terdiri atas tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan10. Sedangkan uji kredibilitas data menggunakan teknik triangulasi, khususnya triangulasi sumber11. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Watu Gilesan Jagung Berikut akan diuraikan deskripsi/profil watu gilesan jagung yang terdiri dari aspek penamaan/penyebutan, umur, fungsi, bahan, komponen dan cara kerja. Adapun deskripsinya diuraikan di bawah ini. Penamaan dalam Bahasa Indonesia adalah batu penggiling jagung. Adapun sebutan lokal di beberapa daerah cukup variatif, seperti watu gilesan, betoh gilisen, iseran, dll. Untuk daerah berbahasa Jawa, yaitu pada lokasi penelitian di Kecamatan Candipuro Lumajang, penyebutannya adalah watu gilesan12. Watu bermakna batu dan gilesan bermakna penggilas . Adapun pada kawasan yang berbahasa Madura . isalnya di daerah Tapal Kuda/Jawa 9 Sebenarnya, dalam ilmu sejarah dikenal metode penelitian tersendiri yaitu historiografi, misalnya dapat dilihat dalam artikel Sukmana . Atau lebih detail dapat dilihat dalam Wardah . yang menjelaskan bahwa metode penelitian sejarah setidaknya ada empat tahap: heuristik, kritik . , interpretasi dan historiografi. Namun dikarenakan peneliti tidak memiliki latar belakang pendidikan/keahlian dalam Ilmu Sejarah, maka peneliti memilih menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif. Penggunaan pendekatan kualitatif-deskriptif juga dapat diterapkan dalam penelitian bertema sejarah. seperti yang diungkapkan oleh Subandi . yang menyatakan bahwa penelitian kualitatif dapat bertipe/berjenis deskriptif, studi kasus, fenomenologis, dan historis. 10 Penjelasan lebih lanjut terkait dengan model interaktif dari Miles dan Huberman dapat dilihat dalam Rijali . 11 Penjelasan lebih mendalam tentang triangulasi dapat dilihat dalam Bachri . 12 Penamaan dalam masyarakat berbahasa jawa dapat dilihat pada artikel dalam https://w. com/2017/07/dusun-busu-1. 2047 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 2044 - 2056 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Timur Bagian Timu. penyebutannya adalah betoh gilis atau betoh gilisen13. Betoh bermakna batu dan gilis/gilisen bermakna penggilas . Adapun pada daerah lain misalnya di Palembang disebut dengan iseran14. Umur watu gilesan jagung yang menjadi objek penelitian ini diperkirakan sekitar 100-150 tahun lalu dan sudah tidak digunakan sekitar 50 tahun. Perkiraan umur ini didasarkan atas hasil wawancara dan FGD pada silsilah tingkat keluarga yang terlacak pertama kali memiliki watu gilesan tersebut. Watu gilesan jagung di tempat lain bisa jadi lebih tua atau lebih muda. Selanjutnya, dengan kemunculan mesin penggiling jagung modern pada dekade 1970-an, menyebabkan watu gilesan dianggap usang dan tersisihkan. Fungsi utama dari watu gilesan jagung adalah untuk mengubah biji jagung menjadi butiran atau serpihan kecil yang disebut beras jagung. Beras jagung ini yang nantinya akan diubah menjadi nasi jagung dan dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok. Tetapi ada pula hasil gilesan yang lebih halus disebut empok yang dapat dimanfaatkan untuk bubur/jenang jagung atau kue jagung. Empok bisa juga ditanak sebagai nasi yang disebut sego empok. Berikut ini adalah gambar biji jagung, beras jagung dan empok. Bahan dari watu gelisan jagung adalah dari batu sungai / batu kali. Ada kemungkinan bahan batu yang digunakan adalah jenis batu andesit. Hal ini dikarenakan batu andesit lazim digunakan untuk membuat perkakas rumah tangga berbahan batu misalnya cobek dan uleg-uleg15. Akan tetapi, belum bisa dipastikan apakah watu gilesan dalam penelitian ini memang menggunakan bahan batu andesit. Hal ini dikarenakan belum dilakukan uji laboratorium atau pendapat ahli dalam bidangnya untuk menentukan jenis bahan watu gilesan jagung yang menjadi objek penelitian ini. Oleh sebab itu, dalam artikel ini tetap diakui berbahan batu sungai seperti yang terungkap dalam hasil wawancara dan FGD. Masyarakat kita secara umum mengenal dua jenis batu sungai, yaitu yang bertekstur halus dan kasar. Watu gilesan terbuat dari batu 13 Penamaan dalam masyarakat berbahasa Madura dapat dilihat pada artikel dalam https://w. com/gilis-dan-jurung/2/ masyarakat Palembang dapat dilihan pada artikel dalam http://barangbari. com/2014/09/iseran-batu-gilingan-batu. 15 Kelaziman perkakas rumah tangga terbuat dari batu andesit, bahkan untuk arca dan candi diungkapan oleh Lelono . 14 Penamaan di 2048 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 2044 - 2056 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. yang bertekstur kasar. Hal ini dikarenakan batu gilesan membutuhkan tekstur batu kasar untuk menggilas jagung menjadi butiran/serpihan kecil Komponen watu gilesan jagung terdiri atas komponen utama dan komponen Komponen utama terdiri atas dua batu, yaitu batu atas dan batu Gambar di bawah ini. Batu atas memiliki berbentuk seperti tabung pendek dengan tinggi kurang lebih 18 cm dan diameter 30 cm. Bagian samping ada lubang . sedalam kurang lebih 5-7 cm untuk tempat pemasangan pegangan . Adapun pada bagian atas terdapat satu lubang . untuk memasukkan biji Biji yang dimasukkan dari atas akan turun dan terperangkap pada bagian . yang berbentuk mirip bulan sabit. Selanjutnya biji akan terjepit dan tergilas manakala batu atas diputar pada porosnya. Lubang . adalah dudukan as/poros yang menjaga batu atas berputar stabil pada as/poros. Gambar detail batu atas ditampilkan di bawah ini. 2049 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 2044 - 2056 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Adapun batu bawah juga memiliki bentuk seperti tabung dengan tinggi 18 cm dan diameter 30 cm. Pada bagian atas terdapat lubang . yang tembus ke bawah untuk dudukan as/poros. Lubang tersebut berbentuk kecil di bagian atas dan membesar di bagian bawah . Lubang bawah yang lebih besar ini berfungsi untuk memasukkan as/poros dan sebagai jangkar/penahan agar as/poros tidak bergoyang pada saat menggilas. Gambar di bawah ini. Komponen pendukung terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama adalah as/poros. As/poros ini berfungsi untuk menyatukan batu atas dan bawah serta menjadi titik putar batu atas pada saat penggilasan. As/poros pada era sebelumnya terbuat dari kayu aren tua yang sangat keras. Perkembangan selanjutnya as/poros dinasti dengan besi. Komponen pendukung yang kedua . Pegangan menggerakkan/memutar batu atas sehingga berputar pada as/poros. Pegangan . ini biasanya terbuat dari kayu utuh/tunggal yang dibentuk AuLAy. Biasanya menggunakan bahan kayu kopi, karena kayu ini memiliki percabangan yang tegak lurus sehingga mudah untuk membentuk AuLAy. Komponen pendukung yang ketiga adalah tempeh sebagai wadah dari hasil gilesan biji jagung yaitu beras jagung dan empok. Tempeh ini ditempatkan di bawah watu gilesan sehingga butiran beras jagung atau empok yang jatuh akan tertampung dalam tempeh dan selanjutnya dapat dikumpulkan. Cara kerja watu gilesan jagung terdiri dari tiga langkah. Pertama adalah memasukkan biji jagung pada lubang . Biji jagung tersebut akan turun ke bawah dan terperangkap dalam . yang merupakan bagian dalam di antara batu atas dan batu bawah. Kedua, dengan menggunakan pegangan . , batu atas digerakkan berputar pada as/poros. Kalau menggunakan tangan kanan gerakan dorong-putar berlawanan arah jarum jam. Sedangkan jika menggunakan tangan kiri gerakan dorong-putar yang dihasilkan akan searah jarum jam. Tergantung mana yang lebih nyaman. Gerakan berputar ini 2050 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 2044 - 2056 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. menimbulkan gaya gesek . antara batu atas dan batu bawah. Gaya gesek . ini yang dimanfaatkan untuk menghancurkan biji jagung yang terperangkap/terjepit dalam celah tersebut menjadi butiran/serpihan kecil yang disebut menir atau beras jagung. Ketiga, beras jagung sebagai hasil gilesan akan keluar dari celah antara batu atas dan batu bawah dan terjatuh ke bawah. Beras jagung yang terjatuh ke bawah ini akan tertampung dalam wadah yaitu tempeh dan selanjutnya bisa dikumpulkan. Setelah dikumpulkan, beras jagung diayak. Hasil yang halus seperti tepung . akan Empok bisa dimanfaatkan untuk bubur/jenang, kue, atau sego Adapun butiran kecil . eras jagun. akan dimanfaatkan untuk makanan pokok yaitu nasi jagung. Namun, jika ada butiran yang dirasa terlalu besar akan kembali digilas dengan memasukkannya kembali pada x2. Eksistensi Batu Gilesan Berdasarkan hasil pengumpulan data dapat diketahui bahwa watu gilesan jagung dipandang sebagai alat yang AumewahAy pada masanya. Karena pembuatan watu gilesan jagung tergolong sulit dan mahal pada masanya. Oleh sebab itu, tidak semua keluarga memiliki watu gilesan jagung. Sehingga watu gilesan jagung tergolong sebagai peralatan yang langka. Bahkan berdasarkan hasil wawancara dan FGD terungkap bahwa di Dusun Sumberejo. Desa Sumberrejo hanya 3 keluarga yang memiliki watu gilesan jagung pada masanya . ebelum tahun 1970-a. Padahal, masyarakat sangat membutuhkan watu gilesan untuk mengubah biji jagung menjadi beras jagung sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok. Pada masa itu, merupakan hal yang sangat lazim dijumpai adanya aktivitas pinjam-meminjam . olong-menolon. di tengah masyarakat dalam penggunaan watu gilesan jagung. Hal ini menunjukkan bawa dilihat dari eksistensinya, watu gilesan jagung juga dapat dipandang menjadi simbol kerukunan di tengah masyarakat. Kerukunan adalah salah satu karakter yang harus dipelihara dan ditumbuhkan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di Indonesia. Setelah memasuki era modern dengan munculnya alat/mesin penggilingan jagung modern yang dipandang lebih efektif dan efisien, maka aktivitas menggilas jagung menjadi ditinggalkan. Selain itu, optimalisasi hasil pertanian padi juga membuat penggunaan jagung sebagai bahan makanan pokok menjadi berkurang. Dibangunnya irigasi teknis pada lahan-lahan yang semula kering atau musiman menjadikan petani lebih memilih menanam padi dibandingkan jagung. Selanjutnya, pemuliaan tanaman juga menjadikan jenis padi saat ini lebih produktif. Jenis padi zaman dahulu berumur 5-6 bulan dengan hasil kurang lebih 4 ton per hektar dibandingkan padi saat ini yang berumur 3-4 bulan dengan hasil kurang lebih 7 ton per hektar16. Produktivitas ini menyebabkan banyak petani yang menanam padi 16 Perbadingan produktivitas varietas padi lokal zaman dahulu dengan varietas unggul saat ini diungkapakan oleh Suwarni dalam Budiwati, dkk . Juga bisa dilihat dalam https://indonesia. id/ragam/keanekaragamanhayati/sosial/galur-baru-bercita-rasa-lama 2051 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 2044 - 2056 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. sepanjang tahun. Hal ini menyebabkan jagung sebagai bahan makanan pokok mulai Kondisi-kondisi di atas mengakibatkan watu gilesan jagung dianggap usang, tersisihkan dan tidak lagi terpakai. Karena tidak lagi terpakai, watu gilesan jagung banyak yang dibuang, dirusak atau dihilangkan. Dibuang biasanya disungai. Dirusak, biasanya dipecah atau dihancurkan. Dihilangkan biasanya digunakan untuk fondasi rumah atau dipendam bersama sumur yang tidak terpakai dan ditutup. Kondisi ini tentu menyebabkan eksistensi watu gilesan jagung menjadi kian tersisihkan dan menjadi semakin langka. Berdasarkan penelusuran, di Dusun Sumberrejo Desa Sumberrejo tersisa satu watu gilsesan dalam kondisi baik . tuh dan masih dapat berfungsi dengan bai. Jika ancaman pembuangan, perusakan dan penghilangan tidak segera dihentikan, maka bukan tidak mungkin watu gilesan jagung akan hilang dan tidak lagi dapat dijumpai. Padahal, eksistensi watu gilesan jagung masih dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran pada masa kini. Relevansi dalam Edukasi Hasil wawancara mendalam mengungkapkan bahwa ada beberapa makna filosofis yang ada pada watu gilsean jagung. Makna ini dapat digunakan sebagai pembelajaran untuk generasi muda. Ditinjau dari bentuk dan pengoperasiannya, watu gilesan jagung dimungkinkan memiliki tiga nilai utama yang secara simbolis yang terkandung di dalamnya. Pertama, adalah nilai religiusitas. Nilai ini disimbolkan dengan adanya kemiripan bentuk lingga-yoni17 pada watu gilesan Bentuk lingga diwakili oleh paduan batu bawah dan as/poros. Adapun bentuk yoni diwakili oleh batu atas. Lingga-yoni merupakan simbol untuk melambangkan nilai religiusitas atau keberagamaan18. Nilai religiusitas yang lain juga disimbolkan dari gerakan berputar batu atas yang tetap pada as/poros. Ini menyimbolkan bahwa kehidupan manusia itu sangat dinamis. Namun harus tetap berada pada as/poros yang dalam hal ini adalah agama/religi. Nilai yang kedua juga disimbolkan pada aspek gerakan berputar yang mirip gerakan merangkul. Ini juga dapat dimaknai sebagai simbol dari nilai sosial yaitu kepedulian terhadap lingkungan sekitar, kerukunan, dan gotong royong. Hal ini juga telah dibuktikan di atas bahwa pada zaman dahulu keberadaan watu gilesan jagung juga mencerminkan kerukunan, tolong menolong dan gotong royong di tengah Nilai ketiga adalah nilai perjuangan. Nilai ini dapat dilihat dari bagaimana pengoperasian watu gilesan yang tidak mudah dan membutuhkan tenaga fisik yang Artinya, masyarakat zaman dahulu untuk membuat beras jagung sebagai bahan makanan pokok membutuhkan upaya yang tidak mudah. Inilah yang dimaksud dengan nilai perjuangan yang perlu dihayati oleh generasi muda yang saat ini tumbuh dalam masa yang serba berkemudahan. Salah seorang narasumber memandang bahwa dahulu, rasa beras jagung hasil gilingan watu gilesan jagung lebih enak 17 Bentuk dan penjelasan lengkap tentang lingga-yoni disampaikan dalam Suta . 18 Lingga-yoni sebagai simbol religiusitas diungkapakan dalam penelitian Wibowo . Suta . 2052 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 2044 - 2056 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. daripada beras jagung hasil gilingan pabrik. Hal ini dimungkinkan karena aspek perjuangan tadi. Semakin besar perjuangan, semakin nikmat hasil yang dirasakan. Selain itu, watu gilesan jagung memiliki beberapa aspek yang juga dapat menjadi bahan pembelajaran, khususnya untuk generasi muda. Pertama adalah pembelajaran tentang teknologi tepat guna. Watu gilesan jagung memiliki teknologi tepat guna yang sederhana namun mutakhir di zamannya. Bahkan teknologi tepat guna tersebut masih dapat dikembangkan untuk saat ini. Teknologi tepat guna tersbut adalah aplikasi gaya gesek . untuk dimanfaatkan sebagai penghancur biji-bijian dan mengubahnya dalam bentuk yang lebih kecil. Teknologi ini tentu masih bermanfaat untuk saat ini. Kedua adalah pembelajaran terkait dengan pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang dimaksudkan adalah religiusitas, kerukunan/gotong royong dan kerja keras. Watu gilesan menunjukkan betapa masyarakat tempo dulu membutuhkan upaya yang keras untuk mengolah bahan Hal ini tentu dapat menjadi cerita teladan bagi generasi muda akan kerja keras dan rasa syukur. Uraian di atas menunjukkan betapa pentingnya untuk menjaga eksistensi watu gilesan jagung. Oleh sebab itu, diperlukan upaya konservasi agar eksistensi watu gilesan jagung tetap terjaga. Rekomendasi Untuk Konservasi Konservasi peninggalan sejarah pada dasarnya adalah upaya untuk memberikan perlindungan dan pemeliharaan terhadap peninggalan-peninggalan sejarah dari ancaman yang mungkin ada, baik itu pengerusakan, penghancuran, penghilangan dan lain-lain. Rekomendasi kebijakan19 untuk konservasi yang bisa ditawarkan adalah dengan mendaftarkan watu gilesan jagung sebagai benda cagar budaya. Benda cagar budaya di Indonesia diatur dalam UU No. 11 Th. tentang cagar budaya. Berdasarkan UU tersebut, watu gilesan jagung layak untuk didaftarkan sebagai benca cagar budaya dikarenakan memenuhi empat kriteria sebagai berikut: berusia lebih dari 50 tahun. mewakili masa gaya minimal 50 tahun. memiliki makna khusus dalam pengembangan pendidikan, agama dan budaya. memiliki nilai penguatan kepribadian bangsa. Uraian sebelumnya menunjukkan bahwa watu gilesan jagung memenuhi keempat syarat tersebut. Akan tetapi, penetapan suatu peninggalan peradaban/sejarah menjadi cagar budaya hanya dapat dilakukan oleh pemerintah atas saran tim ahli cagar budaya. Kami selaku penulis, bukanlah tim ahli cagar budaya, bahkan kurang memiliki kompetisi di bidang tersebut. Namun sebagai akademisi yang cinta tanah air dan memandang pentingnya eksistensi watu gilesan jagung untuk dipertahankan guna keperluan pendidikan dan kebudayaan, maka hati penulis tergerak untuk juga memikirkan dan memberikan rekomendasi kebijakan terkait hal tersebut. Jika rekomendasi untuk menjadikan watu gilesan jagung sebagai cagar budaya dipandang tidak tepat, mungkin ada rekomendasi lain yang bisa kami tawarkan yaitu upaya konservasi dengan pendekatan integrasi. Upaya Konservasi dengan pendekatan 19 Ripley, dikutip Subarsono . menjelaskan bahwa rekomendasi kebijakan sebagai salah satu tahap kebijakan yang bertujuan untuk memberikan alternatif-alternatif kebijakan yang dianggap paling unggul. 2053 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 2044 - 2056 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. integrasi yaitu pendekatan untuk menggabungkan konsep konservasi dengan bidang Berikut penjelasannya. Konservasi melalui integrasi dengan bidang pendidikan. Dalam model ini, watu gilesan jagug dapat dijadikan salah satu alat/media peraga untuk pembelajaran di sekolah, baik mata pelajaran sejarah atau IPA untuk teknologi tepat guna. Konservasi melalui integrasi dengan bidang pariwisata. Dalam model ini, watu gilesan jagung dapat ditampilkan dalam tempat wisata agar dapat dikenal dan dipelajari oleh wisatawan. Konservasi melalui integrasi dengan komunitas. Yaitu dengan pendekatan kepada komunitas, misalnya pecinta bawang antik/kuno/tempoe Dalam hal ini watu gilesan dapat dijadikan salah satu alat yang dapat dipergunakan untuk membuat beras jagung tempoe doeloe. Konservasi melalui integrasi dengan media sosial. Pendekatan ini menggunakan media sosial untuk mengenalkan kembali watu gilesan jagung kepada generasi muda, misalnya melalui kanal Youtube. Agar generasi muda menjadi tertarik terhadap watu gilesan jagung. Dengan demikian kelestarian watu gilesan jagung dapat terjaga. Kami sebagai penulis juga mempersiapkan video tentang watu gilesan jagung agar bisa diunggah di YouTube untuk kepentingan edukasi. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa kesimpulan penting. Pertama, watu gilesan jagung memiliki deskripsi/profil yang unik dari aspek penamaan/penyebutan, umur, fungsi, bahan, komponen dan cara kerjanya. Kedua, eksistensi watu gilesan jagung tergolong terancam, karena banyak yang dibuang, dirusak atau dihilangkan. Ketiga, watu gilesan jagung memiliki nilai-nilai yang relevan dengan pendidikan, yaitu nilai religiusitas, nilai sosial dan nilai perjuangan. Selain itu, terdapat juga potensi pembelajaran yang dapat diterapkan yaitu teknologi tepat guna dan pendidikan karakter. Keempat, untuk rekomendasi kebijakan konservasi kami menyarankan bahwa watu gilesan jagung dapat didaftarkan sebagai benda cagar Namun, jika rekomendasi ini tidak dapat diterima, kami mengajukan rekomendasi kebijakan konservasi yang lain yaitu dengan pendekatan integrasi, baik integrasi dengan pendidikan, pariwisata, komunitas, dan media sosial. DAFTAR PUSTAKA