Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 25-32 Contents list available at JKP website Jurnal Kesehatan Perintis Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/JKP Analisis Case Control: Paparan Asap Rokok Ibu Hamil terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Rendah Neri Aziza*. Dien Gusta Anggrani Nursal. Vivi Triana. Mery Ramadani. Anggela Pradiva Putri Magister Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas. Sumatera barat. Indonesia Article Information : Received 10 May 2025 . Accepted 28 June 2025. Published 30 June 2025 *Corresponding author: neriaziza89@gmail. ABSTRAK Ibu hamil yang terpapar asap rokok sebagai perokok pasif berisiko mengalami komplikasi kehamilan, salah satunya adalah BBLR yang menjadi penyebab utama kematian bayi. Kondisi ini memerlukan perhatian karena berkaitan dengan peningkatan angka kesakitan dan kematian neonatal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paparan asap rokok dengan kejadian BBLR di Kota Padang. Penelitian dilakukan pada JanuariAeJuli 2024 dengan desain case control, menggunakan teknik purposive sampling. Sampel terdiri dari 102 responden, yaitu 51 bayi BBLR . dan 51 bayi BBLN . , di Puskesmas Lubuk Begalung dan Pegambiran Kota Padang. Data diperoleh melalui kuesioner dan rekam medis, lalu dianalisis menggunakan uji univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil menunjukkan bahwa paparan asap rokok berhubungan signifikan dengan kejadian BBLR (OR=3,. , demikian pula dengan variabel confounding umur kehamilan (OR=4,. dan status gizi ibu (OR=10,. Analisis multivariat menunjukkan ibu hamil perokok pasif memiliki risiko 11,5 kali lebih tinggi melahirkan bayi BBLR setelah dikontrol dengan variabel usia ibu, paritas, pekerjaan, umur kehamilan, dan status gizi (OR=11,. Penelitian ini menyimpulkan bahwa paparan asap rokok pada ibu hamil secara signifikan meningkatkan risiko BBLR, sehingga diperlukan upaya pencegahan melalui edukasi, pemantauan kehamilan, dan intervensi gizi. Kata kunci : BBLR, asap rokok, ibu hamil ABSTRACT Pregnant women exposed to cigarette smoke as passive smokers are at risk of experiencing pregnancy complications, one of which is low birth weight (LBW), a leading cause of infant This condition requires serious attention as it is associated with increased neonatal morbidity and mortality rates. This study aimed to analyze the relationship between exposure to cigarette smoke and the incidence of LBW in Padang City. The research was conducted from January to July 2024 using a case-control design and purposive sampling technique. The sample consisted of 102 respondents, including 51 LBW infants . and 51 normal birth weight infants . , recruited from Lubuk Begalung and Pegambiran Public Health Centers in Padang City. Data were collected through questionnaires and medical records, and Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 25-32 analyzed using univariate, bivariate, and multivariate tests. The results showed a significant association between cigarette smoke exposure and LBW incidence . =0. OR=3. , as well as with confounding variables such as gestational age . =0. OR=4. and maternal nutritional status . =0. OR=10. Multivariate analysis indicated that pregnant women exposed to secondhand smoke had an 11. 5 times higher risk of delivering LBW infants after controlling for maternal age, parity, occupation, gestational age, and nutritional status (OR=11. This study concludes that exposure to cigarette smoke among pregnant women significantly increases the risk of LBW, highlighting the need for prevention efforts through education, pregnancy monitoring, and nutritional interventions. Keywords: LBW, cigarette smoke exposure, pregnant mother PENDAHULUAN Masalah merokok telah menjadi isu kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat setiap tahun. Menurut data Statista Consumer Insights, jumlah perokok di seluruh dunia diperkirakan akan mencapai puncaknya sebesar 1,1 miliar orang pada tahun 2029. (J. Degenhard, 2. (Annur, 2. Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara dengan jumlah perokok tertinggi di dunia, yaitu 112 juta orang, dan diprediksi meningkat menjadi 123 juta pada (J. Degenhard, 2. Prevalensi perokok di Provinsi Sumatera Barat pada Ou15 menunjukkan tren meningkat, dari 30,27% pada tahun 2022 menjadi 30,42% pada tahun 2023 (Sabri. L & Hastono, 2. Kondisi ini meningkatkan risiko paparan asap rokok terhadap kelompok rentan, terutama perempuan dan ibu hamil. Paparan asap rokok pada ibu hamil merupakan salah satu bentuk paparan lingkungan yang dapat mengganggu pertumbuhan janin. Data Kemenkes RI . menunjukkan bahwa dari 96,9 juta orang Indonesia yang terpapar asap rokok, sebanyak 66,7 juta di antaranya adalah perempuan, menjadikan mereka sebagai kelompok perokok pasif terbesar. Jika perempuan dalam kondisi hamil, paparan ini berisiko menghambat penyerapan nutrisi meningkatkan kemungkinan kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), yaitu <2. 500 gram (Riskesdas, 2. BBLR menjadi perhatian serius karena merupakan penyebab kematian neonatal terbanyak di Indonesia, yakni sebesar 28,2%, disusul oleh asfiksia . ,3%) (Kemenkes RI. Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi BBLR nasional adalah 6,2%, sedangkan di Provinsi Sumatera Barat tercatat sebesar 3,61% pada tahun 2022. Di Kota Padang, dari 148 bayi baru lahir yang ditimbang, ditemukan 296 kasus . ,3%) BBLR, dengan Puskesmas Pegambiran . dan Lubuk Begalung . (Profil Kesehatan Kota Padang Penelitian membuktikan bahwa paparan asap rokok selama kehamilan berkaitan signifikan dengan kejadian BBLR. Penelitian Nadia Ulfa E. , menunjukkan hasil uji statistic yang berhubungan signifikan antara paparan asap rokok dan BBLR . -value = 0,000. OR = 7,06. 95% CI: 3,73Ae13,. Hal ini, menyatakan bahwa ibu hamil yang terpapar asap rokok memiliki risiko 7,06 kali lebih besar melahirkan bayi BBLR dibandingkan yang tidak terpapar (Nadia Ulfa E. Ricardi Wicaksono A. dan Uswatun Khasanah, 2. Penelitian serupa telah banyak dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, namun hingga kini belum ditemukan kajian khusus di Kota Padang, terutama di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Begalung dan Pegambiran yang mencatat kasus BBLR tertinggi pada tahun 2024. Sebagian besar penelitian yang ada masih berskala nasional atau regional dan belum memperhatikan konteks lokal secara mendalam, padahal data lokal sangat penting sebagai dasar dalam merancang intervensi yang tepat Hal ini menjadi celah penelitian yang penting untuk ditinjau lebih dalam, mengingat Kota Padang termasuk kota dengan jumlah kelahiran tinggi dan angka BBLR yang masih cukup signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 25-32 hubungan antara paparan asap rokok dengan kejadian BBLR di Kota Padang. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain kasus-kontrol hubungan antara paparan asap rokok pada ibu hamil . ariabel independe. dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) pada bayi . ariabel depende. di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Begalung dan Pegambiran. Kota Padang, tahun 2024. Penelitian dilaksanakan selama enam bulan, yaitu dari Januari hingga Juli 2024. Variabel confounding yang diperhitungkan dalam penelitian ini meliputi usia ibu, paritas, usia kehamilan, status gizi, status sosial ekonomi, dan pekerjaan ibu. Populasi kasus adalah bayi dengan status BBLR yang lahir sepanjang tahun 2023 di kedua puskesmas, sedangkan populasi kontrol adalah bayi dengan berat lahir normal yang lahir pada periode dan wilayah yang sama. Jumlah sampel ditentukan secara purposive, dengan rasio 1:1, yaitu 51 responden untuk kelompok kasus dan 51 responden untuk kelompok control. Kriteria inklusi kelompok kasus mencakup bayi dengan BBLR yang lahir pada tahun 2023, berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Begalung dan Pegambiran, serta ibu bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi adalah ibu yang merupakan perokok aktif selama kehamilan, tidak dapat dijumpai dalam dua kali kunjungan, atau dalam kondisi sakit yang menghambat pengisian kuesioner. Kriteria inklusi dan eksklusi kelompok kontrol menggunakan ketentuan serupa, namun bayi yang dilibatkan memiliki berat lahir normal. Pengumpulan data dilakukan melalui data sekunder yang diperoleh dari rekam medis puskesmas, dan primer melalui wawancara menggunakan kuesioner baku yang terdiri atas tiga bagian utama. Bagian karakteristik ibu mencakup data seperti usia, kelahiran hidup, riwayat kelahiran BBLR, riwayat lahir mati, dan status gizi . iukur melalui LILA), kadar hemoglobin. Bagian karakteristik bayi mencakup usia, jenis kelamin, serta berat dan panjang badan Bagian paparan asap rokok memuat informasi mengenai tingkat keterpaparan ibu terhadap asap rokok pasif, termasuk lamanya berada di rumah bersama suami yang merokok, jumlah rokok yang dihisap suami di dalam rumah, serta paparan dari anggota keluarga atau tamu yang merokok. Selain itu, turut dicatat durasi ibu berada di ruangan tertutup bersama perokok, baik di lingkungan kerja maupun tempat umum seperti pasar dan restoran. Penilaian tingkat paparan dilakukan dengan menjumlahkan total skor dari seluruh item pertanyaan terkait paparan asap rokok. Selanjutnya, dilakukan uji normalitas menggunakan SPSS dengan metode Kolmogorov-Smirnov karena jumlah sampel melebihi 30 responden. Hasil uji menunjukkan nilai signifikansi . -valu. > 0,05, yang berarti data berdistribusi normal. Oleh karena itu, kategori paparan ditentukan berdasarkan nilai mean: total skor < mean dikategorikan sebagai paparan ringan, sedangkan total skor Ou mean dikategorikan sebagai paparan berat. Analisis data dengan menggunkan uji chi-square untuk melihat hubungan antara variabel, dan regresi logistik berganda guna mengontrol variabel confounding. Seluruh analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS dan hasil disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Penelitian ini telah mendapat persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas B/59/UN16. D/PT. 00/2024. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik responden dapat dilihat pada tabel 1. Berdasarkan tabel 1, persentase ibu hamil yang terpapar asap rokok berat lebih tinggi pada kelompok kasus . ,3%) dibandingkan kelompok kontrol . ,7%). Persentase usia ibu berisiko lebih tinggi terdapat pada kelompok kontrol . ,4%) dibandingkan kelompok kasus . ,6%). Paritas dan usia kehamilan berisiko juga lebih tinggi pada kelompok kasus, masing-masing sebesar . ,7%) dan . ,2%), dibandingkan kelompok kontrol . ,9%) dan . ,8%). Persentase status gizi berisiko lebih tinggi pada kelompok kasus . ,2%) dibandingkan kelompok kontrol . ,9%). Status sosial ekonomi tidak berisiko Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 25-32 Tabel 1. Faktor risiko kejadian berat badan lahir rendah Variabel Paparan Asap Rokok Terpapar berat Terpapar ringan Usia Ibu Berisiko Tidak berisiko Paritas Berisiko Tidak berisiko Umur Kehamilan Berisiko Tidak berisiko Status Gizi Berisiko Tidak berisiko Sosial Ekonomi Berisiko Tidak berisiko Pekerjaan Tidak bekerja Bekerja Berat Lahir Kasus Kontrol lebih tinggi pada kelompok kasus . ,2%) dibandingkan kelompok kontrol . ,3%). Sementara itu, persentase ibu yang tidak bekerja lebih tinggi pada kelompok kasus . ,3%) dibandingkan kelompok kontrol . ,5%). Berdasarkan tabel 1. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara paparan asap rokok dan kejadian BBLR . = 0,021. p O 0,. Ibu hamil dengan tingkat paparan asap rokok berat memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi BBLR dibandingkan yang terpapar ringan. Kandungan nikotin dan karbon monoksida dalam asap rokok dapat menghambat aliran darah ke plasenta, sehingga berdampak negatif pada kehamilan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Nadia Ulfa E. , yang menunjukkan hubungan signifikan antara paparan asap rokok dan BBLR . value = 0,000. OR = 7,06. 95% CI: 3,73Ae 13,. (Nadia Ulfa E. Ricardi Wicaksono A. and Uswatun Khasanah, 2. Hasil penelitian menujukkan bahwa sebagian besar ibu hamil, baik dalam kelompok kasus . ,5%) maupun kontrol . ,5%), terpapar asap rokok dari suami di rumah selama kehamilan, meskipun hanya kurang dari 1 hari >15 menit per minggu. Total . %C. 3,429 . ,2839,. 0,660 . ,2691,. 1,630 . ,7363. 4,839 . ,74413,. 10,323 . ,6253,. 0,420 ,1541,. p value 0,021 0,495 0,314 0,003 0,000 0,539 0,142 Paparan paling tinggi terjadi di rumah saat suami merokok, terutama pada kelompok kasus . ,4%) dibanding kelompok kontrol . ,9%). Paparan ini sering terjadi sejak trimester pertama dan terus berlanjut hingga trimester ketiga, terutama ketika ibu berada dekat dengan suami yang merokok 4Ae15 batang per hari. Trimester kedua merupakan masa krusial perkembangan organ janin, sehingga paparan asap rokok yang mengandung nikotin dan karbon monoksida dapat mengganggu suplai oksigen dan nutrisi ke Ini meningkatkan risiko gangguan tumbuh kembang dan bayi lahir dengan BBLR. Selain dari suami, paparan juga berasal dari tamu, teman, atau tetangga yang merokok saat berkunjung. Sebagian ibu terpapar hampir setiap hari, bahkan ketika ventilasi rumah kurang memadai, sehingga asap rokok tetap tinggal lama di ruangan. Sementara, di tempat kerja dan tempat umum seperti pasar atau angkutan umum, paparan juga terjadi meski durasinya lebih Namun, tetap berisiko karena paparan berulang bisa mengakumulasi zat berbahaya di tubuh ibu. Sedangkan, hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 25-32 hubungan signifikan antara usia ibu dan kejadian BBLR . = 0,495. p > 0,. Ibu hamil yang berusia 20Ae29 tahun umumnya berada dalam kondisi fisik optimal untuk menjalani kehamilan, sedangkan peluang kehamilan menurun secara signifikan setelah usia 35 tahun. Temuan ini sejalan dengan penelitian Fitri Handayani dkk. di Puskesmas Wates. Kulon Progo, yang juga tidak menemukan hubungan signifikan antara usia ibu dan BBLR . -value = 0,310. OR = 0,519. 95% CI: 0,187Ae1,. (Handayani. Fitriani and Lestari, 2. Sebagian besar ibu hamil dalam penelitian ini berada pada usia aman . Ae35 Namun, masih ditemukan ibu hamil pada usia berisiko (<20 tahun dan >35 Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan risiko kehamilan, serta penggunaan kontrasepsi yang belum optimal. Hasil uji statistik juga menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara paritas dan kejadian BBLR . = 0,314. Ibu dengan riwayat kehamilan pengetahuan dan akses lebih baik terhadap pelayanan antenatal dibandingkan ibu Temuan ini sejalan dengan penelitian Refni Yulisa dkk. di RSUDZA Banda Aceh, yang menunjukkan bahwa dari 63 responden, sebanyak 91,7% dengan paritas berisiko mengalami BBLR, namun p-value 0,314 menandakan tidak ada hubungan yang signifikan (Yulisa and Imelda, 2. Dalam penelitian ini, paritas berisiko paling banyak ditemukan pada kelompok primipara dan grande multipara. Kehamilan pertama . cenderung berisiko karena ibu belum memiliki pengalaman dan cukup informasi dan pengetahuan dalam menjalani kehamilan dan persalinan. Selain itu, penggunaan kontrasepsi yang masih rendah dan kurangnya pengetahuan tentang risiko kehamilan juga menjadi penyebab tingginya paritas berisiko. Beberapa ibu juga tetap ingin menambah anak karena belum memiliki anak dengan jenis kelamin yang Hasil uji statistik juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara status sosial ekonomi dengan kejadian BBLR . = 0,539. p > 0,. Hal ini dapat disebabkan oleh keterbatasan kemampuan ibu untuk memenuhi kebutuhan gizi dan mengakses layanan Kesehatan, dan emndapatkan fasilitas yang layak. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh MS Anggun Handhika Riska et al . yang juga menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara status sosial ekonomi dan kejadian BBLR . -value = 0,. (Riska. Hanifa and Ola, 2. Di Indonesia, terutama di Kota Padang pendapatan diukur menggunakan Upah Minimum (UMP) Provinsi Sumatera Barat, yang menjadi standar upah minimum. Dalam penelitian ini, banyak keluarga UMP 0,. Kemungkinan faktor penyebabnya adalah pekerjaan fisik berat, baik di luar rumah maupun di rumah. Temuan ini sejalan dengan penelitian Namiroh Falah Hasibuan, dkk . , yang juga menemukan tidak ada hubungan signifikan antara pekerjaan ibu dan BBLR, dengan p-value 0,252 (Falah Hasibuan et , 2. Ibu hamil yang melakukan pekerjaan berat dan melelahkan berisiko mengalami gangguan kesehatan yang memengaruhi perkembangan janin. Kelelahan dan kurang istirahat dapat berdampak negatif pada kondisi fisik dan mental ibu serta janin. Dalam penelitian ini, sebagian kecil ibu bekerja di berbagai bidang seperti wiraswasta, pegawai swasta. PNS, dan pekerja harian lepas, sementara sebagian besar adalah ibu rumah tangga. Banyak dari ibu tetap bekerja meski berisiko, karena tekanan ekonomi rendah, kebutuhan memenuhi biaya keluarga, serta faktor lain seperti komitmen karir dan dukungan keluarga yang minim juga mendorong mereka bekerja. Selain itu, kondisi lingkungan kerja yang tidak sehat dan stres Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 25-32 tinggi juga dapat memperburuk risiko Sebaliknya, menunjukkan terdapat hubungan antara umur kehamilan dengan kejadian BBLR. Ini sejalan dengan penelitian Amima Fajriana, dkk . , yang menemukan hasi uji statistik p-value 0,006 dan OR 6,198. Ibu dengan umur kehamilan normal biasanya melahirkan bayi dengan berat badan normal karena organ bayi berkembang sempurna dan mendapat nutrisi serta oksigen yang cukup (Fajriana and Buanasita, 2. Umur kehamilan adalah usia janin yang dihitung dari hari pertama haid terakhir hingga kelahiran, dan dibagi menjadi preterm (<37 mingg. , aterm . -42 mingg. , dan postterm (>42 mingg. Pertumbuhan janin terjadi dengan lambat di trimester pertama, meningkat pada trimester kedua, dan cepat di trimester ketiga dengan kebutuhan nutrisi tinggi. Semakin lama kehamilan, pertumbuhan janin semakin optimal (Anindyasari Rahadinda. Kurniati Dwi Utami, 2. Dalam penelitian ini, risiko tinggi ditemukan pada bayi yang lahir prematur . , karena mereka rentan mengalami gangguan pertumbuhan akibat sirkulasi plasenta yang terganggu dan kekurangan Banyak ibu melahirkan prematur karena pecah ketuban dini, sehingga kelahiran terjadi lebih awal dari perkiraan. Hasil uji statistik juga menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara status gizi dan kejadian BBLR . -value < 0,000. O 0,. Faktor penyebabnya adalah penurunan nafsu makan, keterbatasan ekonomi, dan anemia selama kehamilan, sehingga menyebabkan kekurangan asupan zat bergizi selama keahmilan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Hasriyani, et all. , yang menunjukkan ibu dengan status gizi berisiko memiliki kemungkinan 3,1 kali lebih besar melahirkan bayi BBLR . -value = 0,004. OR = 3,. (Hasriyani. Suharyo Hadisaputro. Kamilah Budhi. Mexitalia Setiawati, 2. Status gizi ibu sebelum dan selama pertumbuhan janin yang dikandungnya. Ibu dengan status gizi normal cenderung melahirkan bayi dengan berat badan normal pada usia kehamilan cukup bulan. Penilaian status gizi ibu hamil dapat dilakukan menggunakan parameter kadar hemoglobin (H. dan lingkar lengan atas (LILA). Kadar Hb normal pada ibu hamil adalah Ou11 g/dL, sedangkan LILA normal adalah Ou23,5 cm. jika nilai tersebut kurang, ibu berisiko mengalami gangguan pertumbuhan janin dan BBLR. (Mayanda, 2. Tabel 2. Hasil Uji Regresi Logistik Variabel Paparan Asap rokok Usia Ibu Paritas Umur Kehamilan Status Gizi 95% CL Lower Upper 0,008 5,611 1,558 20,204 0,433 0,952 0,007 0,652 5,180 0,223 0,394 1,560 1,902 2,688 17,195 0,002 9,315 2,274 38,157 Berdasarkan tabel 2, ditemukan bahwa paritas, usia ibu, umur kehamilan, dan status gizi merupakan variabel confounding dalam hubungan antara paparan asap rokok pada ibu hamil dan kejadian BBLR. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa status gizi ibu memiliki hubungan paling kuat dengan Odds Ratio (OR) sebesar 9,315 dan p-value = 0,000 . O 0,. , menandakan hubungan yang signifikan. Artinya, ibu hamil dengan status gizi berisiko memiliki peluang 9,3 kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan BBLR dibandingkan ibu dengan status gizi Hasil ini sejalan dengan penelitian Hasriyani, dkk . , yang menemukan OR 3,188, menunjukkan risiko 3,1 kali lebih besar untuk BBLR pada ibu dengan status (Hasriyani. Suharyo Hadisaputro. Kamilah Budhi. Mexitalia Setiawati, 2. Status yang buruk memperburuk dampak paparan asap rokok terhadap berat badan lahir bayi. Ibu dengan status gizi rendah tidak memiliki nutrisi yang cukup untuk mendukung perkembangan janin secara optimal. Paparan asap rokok, yang mengandung zat beracun seperti nikotin dan karbon monoksida, dapat mengurangi aliran oksigen dan nutrisi ke janin serta merusak plasenta. Kombinasi antara paparan asap rokok dan kekurangan pertumbuhan janin sehingga meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah. Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 25-32 Kondisi ini terjadi karena status gizi buruk mengurangi kemampuan tubuh menyediakan nutrisi yang diperlukan janin, memperparah efek negatif asap rokok, dan akhirnya meningkatkan risiko BBLR. Variabel-variabel berinteraksi dan memperkuat hubungan antara paparan asap rokok dan BBLR melalui pengaruh langsung terhadap kesehatan ibu dan janin. KESIMPULAN Risiko BBLR terkait usia, paritas, umur kehamilan, status gizi, status sosial ekonomi, dan pekerjaan, dengan paparan asap rokok berat menunjukkan hubungan . -value 0,. meningkatkan risiko BBLR sebesar 3,4 kali. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Puskesmas Lubuk Begalung dan Puskesmas Pegambiran Kota Padang atas partisipasi dan bantuan yang diberikan sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. REFERENSI