Jurnal Teknik Sipil Unaya. Vol. No. Januari 2026: 9-21 Jurnal Teknik Sipil Unaya. Vol. No. Januari 2026: 9-21 http://jurnal. id/tekniksipilunaya http://jurnal. id/tekniksipilunaya Available online at w. id/tekniksipil ISSN 2407-9200 (Onlin. Universitas Abulyatama Jurnal Teknik Sipil Unaya Pengaruh Variasi Faktor Air Semen Terhadap Sifat Reologi dan Kuat Tekan Pada Self Compacting Concrete (SCC) Dengan Campuran Zeolit Putra Andika*1. Mery Silviana1. Muhammad Zardi1 Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Abulyatama. Aceh Besar, 23372. Indonesia. *Email korespondensi: andikapa900306@gmail. Diterima Desember 2025. Disetujui 31 Januari 2026. Dipublikasi 31 Januari 2026 Abstract: This study aims to analyze the effect of W/C variations on the rheological properties and compressive strength of SCC with zeolite mixed as a 10% substitute for cement weight. The method used was a laboratory experiment with three FAS variations, namely 0. 4, 0. 45, and 0. 5, on SCC concrete with zeolite and non-zeolite The rheological properties of fresh concrete were tested using the Slump Test/Flow Ability, while the compressive strength was tested on 15 y 15 cm cube specimens at 28 days of age. The results showed that an increase in FAS improved workability, as indicated by an increase in the Slump Test/Flow Ability value. However, the use of zeolite tended to reduce compressive strength compared to normal concrete. At FAS 0. the compressive strength of zeolite-mixed concrete decreased by 12. At FAS 0. 45, there was a decrease Meanwhile, at FAS 0. 5, the decrease reached 30. Despite the decrease in compressive strength, concrete with zeolite mixture showed better stability of fresh concrete flow. The FAS value of 0. 45 is recommended because it provides a balance between workability and compressive strength. Proper FAS adjustment is very important in designing SCC, and the use of zeolite can be an environmentally friendly alternative without sacrificing concrete performance. Keywords: Self Compacting Concrete. Cement Water Content. Zeolite. Rheology. Compressive Strength. Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi FAS terhadap sifat reologi dan kuat tekan SCC dengan campuran zeolit sebagai substitusi 10% dari berat semen. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan tiga variasi FAS, yaitu 0,4 0,45 dan 0,5, pada beton SCC dengan campuran zeolit dan non-zeolit. Sifat reologi beton segar diuji menggunakan Slump Test/Flow Ability, sedangkan kuat tekan diuji pada benda uji kubus berukuran 15 y 15 cm pada umur 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan FAS meningkatkan workability, yang ditunjukkan oleh kenaikan nilai Slump Test/Flow Ability. Namun, penggunaan zeolit cenderung menurunkan kuat tekan dibandingkan beton normal. Pada FAS 0,4, beton campuran zeolit kuat tekan menurun sebesar 12,15%. Pada FAS 0,45 terjadi penurunan sebesar 12,76%. Sedangkan pada FAS 0,5 penurunan mencapai 30,11%. Meskipun mengalami penurunan kuat tekan, beton dengan campuran zeolit memperlihatkan kestabilan aliran beton segar yang lebih baik. Nilai FAS 0,45 direkomendasikan karena memberikan keseimbangan antara workability dan kekuatan tekan. Pengaturan FAS yang tepat sangat penting dalam merancang SCC, dan penggunaan zeolit dapat menjadi alternatif ramah lingkungan tanpa mengorbankan performa beton. Kata kunci : Self Compacting Concrete. Faktor Air Semen. Zeolit. Reologi. Kuat Tekan. Pengaruh Variasi Faktor Air Semen. (Andika. Silviana. Zardi, 2. -9 - ISSN 2407-9200 (Onlin. Beton Bagaimana FAS konstruksi utama yang banyak digunakan karena terhadap sifat reologi beton SCC dengan campuran zeolit dan tanpa zeolit, yang Seiring perkembangan teknologi, meliputi nilai Slump Test/Flow Ability. lahirlah Self Compacting Concrete (SCC), yaitu Bagaimana FAS beton inovatif yang mampu mengalir dan memadat terhadap kuat tekan beton SCC dengan sendiri tanpa pemadatan mekanis. campuran zeolit dan tanpa zeolit pada Kinerja SCC sangat dipengaruhi oleh Faktor umur 28 hari. Air Semen (FAS) yang menentukan kemampuan Bagaimana perbandingan hasil uji reologi alir . dan kekuatan tekan beton. FAS dan kuat tekan beton SCC antara yang terlalu tinggi dapat menurunkan kekuatan campuran zeolit dan tanpa zeolit, serta beton, sedangkan FAS yang terlalu rendah dapat penentuan nilai FAS yang optimal Penggunaan KAJIAN PUSTAKA Kajian pustaka berisi tentang teori-teori workability tanpa harus menambah jumlah air ataupun kepustakaan yang melandasi penelitian ini. berlebih, sehingga mutu beton tetap terjaga. Kajian pustaka akan terdiri dari beberapa judul sub Di sisi lain, produksi semen memberikan dampak lingkungan yang cukup besar, seperti Beton tingginya emisi COCC. Oleh karena itu, diperlukan Beton tidak diragukan lagi merupakan bahan upaya pengurangan penggunaan semen dengan bangunan yang menarik. Di satu sisi, ini sangat memanfaatkan bahan tambahan mineral yang sederhana siapa pun dapat mencampur air, semen, ramah lingkungan. Salah satu alternatifnya adalah dan agregat, menuangkannya ke dalam cetakan dari zeolit alam, yang memiliki sifat pozzolanik dan hampir semua bentuk dan akhirnya mendapatkan mampu bereaksi dengan kalsium hidroksida hasil batu buatan dengan kekuatan tertentu. Di sisi lain, hidrasi semen untuk membentuk senyawa yang ini adalah bahan yang sangat sulit tidak ada yang memperbaiki kekuatan dan durabilitas beton. sepenuhnya memahami perilaku kompleksnya baik Penelitian ini diharapkan dapat memberikan saat segar maupun saat mengeras. Ambiguitas ini membuat beton menjadi bahan bangunan yang informasi mengenai komposisi FAS yang optimal paling banyak digunakan di dunia dan bahan yang sehingga diperoleh beton SCC yang memiliki menciptakan banyak masalah jika tidak dirancang keseimbangan antara kemampuan alir dan kekuatan atau ditempatkan dengan benar (De Schutter, 2. tekan, sekaligus lebih ramah lingkungan serta Self Compacting Concrete (SCC) memanfaatkan potensi bahan lokal yang melimpah. Self Compacting Concrete (SCC) adalah Berdasarkan latar belakang tersebut maka sebuah inovasi dalam teknologi pembuatan beton dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian yang tidak memerlukan proses pemadatan untuk ini adalah sebagai berikut : menepati bekistingnya tanpa bantuan pemadatan Pengaruh Variasi Faktor Air Semen. ( Andika. Silviana. Zardi, 2. - 10 - Jurnal Teknik Sipil Unaya. Vol. No. Januari 2026: 9-21 http://jurnal. id/tekniksipilunaya Tabel 1 Analisa Saringan Berdasarkan (ASTM, 1. sama sekali. (Sutrisno, 2. Ukuran Lubang Persenan Lolos Komposisi Self Compacting Concrete (SCC) Ayakan . Kumulatif SCC terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu: Semen 4,75 Menurut (Mulyono 2. Jenis-jenis semen 2,36 dapat dibedakan melalui kandungan kimianya 1,18 maupun kehalusan butirannya, perbandingan bahan-bahan utama semen Portland tersusun dari kapur (CaO) 60%-65%, alumina (Al2O. serta 0,15 oksida besi (Fe2O. 7%-12% dan silika (SiO. Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Air 20%-25%, bahan - bahan tersebut merupakan Agregat Halus penyusun utama semen. Pengujian dilakukan dengan mengacu pada Air BSN . , dengan langkah langkah sebagai Air merupakan bahan dasar dalam pembuatan beton dengan harganya paling murah, fungsi air . Berat jenis curah = B 500OeBt untuk berinteraksi dengan semen dan sebagai bahan . Berat jenis jenuh kering muka = pelumas antara butir-butir agregat agar mudah B 500OeBt . Berat jenis semu = B BkOeBt . Penyerapan = B 500OeBt Agregat halus Agregat halus adalah salah satu bahan Dengan: pembuatan beton yang berupa pasir, agregat ini = berat benda uji kering oven . terdiri dari butiran-butiran yang keras, tajam, kuat = berat piknometer berisi air . dan memiliki ukuran antara 0,075 mm-5 mm. = berat piknometer berisi benda uji dan air Sebelum . dilakukan pengujian agregat terlebih dahulu, tahap- tahap pengujian agregat halus sebagai berikut : kering muka . Pengujian Gradasi Agregat Halus = berat benda uji dalam keadaan jenuh Pengujian berat satuan agregat halus Pada pengujian gradasi, digunakan metode Pengujian berat satuan dilakukan mengacu analisis saringan dengan menggunakan pedoman pada BSN . , dengan langkah-langkah sebagai dari ASTM, . Jumlah maximum yang diizinkan dari agregat yang tertahan saringan dapat dilihat pada Tabel 1 (GOeT) Dengan : = Berat isi agregat dalam kondisi kering oven . g/m. Pengaruh Variasi Faktor Air Semen. (Andika. Silviana. Zardi, 2. - 11 - = Berat agregat dan penakar . ISSN 2407-9200 (Onlin. = Berat Penakar . T = Berat Penakar . = Volume penakar . V = Volume penakar . Agregat kasar Berat volum agregat Agregat kasar merupakan salah satu bahan Pengujian dan perhitungan Berat volume dalam pembuatan beton yang berupa batu-batu agregat sesuai dengan ASTM C127, 1. dihitung pecah yang biasa disebut dengan istilah split dan dengan Persamaan sebagai berikut : kerikil dengan ukuran lebih besar dari 4,80 mm. Wv = Agregat yang baik adalah tidak berpori, tidak W caOe Dengan : mudah rapuh, bersih dan kuat terhadap kondisi = berat volume . Agregat kasar terdapat beberapa pengujian. Wca = berat wadah berisi agregat . tahap pengujian agregat kasar sebagai berikut : = berat wadah . Pengujian berat jenis dan penyerapan agregat = volume wadah . Superplasticizer Pengujian dilakukan dengan mengacu pada Pembuatan (SCC), diperlukan suatu zat aditif BSN . , dengan langkah langkah sebagai yaitu superplasticizer. Superplasticizer memiliki yaAya Berat jenis curah = yaAycOeyaAyca . Berat jenis jenuh kering muka = mengoptimalkan kohesi pada beton. juga bersifat memadatkan beton karena mampu mengurangi yaAyc yaAycOeyaAyca FAS hingga 30. yaAya Berat jenis semu = yaAycoOeyaAyca . Penyerapan = yaAycOeyaAyco x 100% yaAyco Dengan : = berat benda uji kering oven . = berat benda uji dibawah air . = berat benda uji dalam keadaan jenuh kering muka . Pengujian berat satuan agregat kasar Gambar 1 Superplasticizer Pengujian berat satuan dilakukan dengan Zeolit adalah mineral yang terdiri dari mengacu pada BSN . , dengan langkah- langkah sebagai berikut : mengandung kation alkali atau alkali 7 (GOeT) Zeolit memiliki luas permukaan spesifik Dengan : yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai M = Berat isi agregat dalam kondisi kering oven bahan penyerap . g/m. G = Berat agregat dan penakar . Pengaruh Variasi Faktor Air Semen. ( Andika. Silviana. Zardi, 2. Zeolit - 12 - Jurnal Teknik Sipil Unaya. Vol. No. Januari 2026: 9-21 http://jurnal. id/tekniksipilunaya Tabel 2 Komposisi Kimia Semen Dan Zeolit Alam menunjukkan peningkatan kuat tekan hingga 10- Jumlah . assa %) Komponen 20% dibandingkan (SCC) tanpa zeolit pada W/C Semen Zeolit SiO2 21,89 68,15 Peningkatan kuat tekan ini terjadi karena efek filler Al2O3 5,60 12,30 dari zeolit yang memperbaiki kepadatan pasta Fe2O3 3,75 1,30 CaO 62,33 2,63 MgO 1,04 0,90 K2 O 0,92 2,80 Na2O 0,11 0,75 TiO2 0,30 0,20 P2O5 0,17 SO3 2,88 METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode eksperimental yakni uji laboratorium dan analisis data. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan menambahkan zeolit pada campuran beton. Dari hasil penelitian dan perencanaan campuran, diharapkan dapat diketahui Zeolit alam merupakan salah satu pozzolan pengaruh penambahan zeolit terhadap kuat tekan alami, istilah pozzolan dikaitkan dengan abu vulkanik alami dan tanah yang dikalsinasi yang Mulai bereaksi dengan kapur. Persiapan Bahan & Peralatan Campuran beton dengan zeolit telah banyak digunakan dalam konstruksi sejak zaman dahulu. Pengujian Sifat Fisis Agregat Halus & Kasar Saat ini, lebih dari 50 zeolit alam dan 150 zeolit Mix Desain sintetik dikenal dan digunakan di berbagai Pembuatan Benda Uji Yes Pengujian Beton Segar - Flow Test Perawatan Benda Uji Uji Kuat Tekan 28 hari Analisi Data Hasil & Pembahasan Kesimpulan Selesai Gambar 3. Bagan Alir Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 2 Zeolit Pengujian Hasil Penelitian Terdahulu Beberapa studi empiris telah menunjukkan pengujian untuk memperoleh data karakteristik bahwa peningkatan kadar zeolit dalam SCC dapat material serta performa beton SCC dengan meningkatkan kuat tekan pada rasio air-semen campuran zeolit. Pengujian awal dilakukan (SCC) dengan tambahan zeolit 10% Pengaruh Variasi Faktor Air Semen. (Andika. Silviana. Zardi, 2. terhadap agregat halus dan agregat kasar, yang - 13 - ISSN 2407-9200 (Onlin. Tabel 3. Analisa Saringan Agregat Halus meliputi analisis gradasi melalui uji saringan, penentuan MHB, pengujian berat jenis dan penyerapan air, kadar air, serta kandungan Selain itu, dilakukan pula pengujian terhadap bahan pengikat, yaitu semen dan zeolit, guna mengetahui berat jenis dan karakteristik fisisnya. Selanjutnya, dilakukan Modulus Kehalusan (MK) pengujian terhadap beton segar untuk menilai Oc sifat reologi campuran SCC, yaitu berupa Slump % ycNyceycycycaEaycaycu 370,000 = 3,700 Test/Flow Ability yang mengukur kemampuan Material agregat halus tersebut dapat alir, beton yang telah mengeras diuji kuat dikatakan bahwa pasir ini termasuk batas tekannya menggunakan Compression Testing gradasi no. 2 yang berarti gradasi pasir sesuai Machine pada umur 28 hari, guna mengetahui dengan ketentuan. Sebagian besar butiran seberapa besar daya tahan beton dalam berada pada ukuran sedang hingga halus, serta menahan beban tekan. Seluruh pengujian hampir seluruhnya lolos pada saringan 4,75 tersebut dilakukan sesuai standar yang berlaku untuk menjamin akurasi dan validitas hasil Hasil Pengujian Agregat Halus Pengujian agregat halus terdiri dari analisa saringan agregat halus, pemeriksaan modulus kehalusan, gradasi pasir, kadar lumpur. Analisa saringan agregat halus Gambar 4 Grafik Analisa Saringan Agregat Halus Pengujian analisis saringan agregat halus Gambar 4 menunjukkan grafik hasil analisa bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran butiran pasir yang digunakan dalam campuran persentase kumulatif butiran yang lolos saringan. Adapun hasil pemeriksaan agregat halus Kurva lolos berada di antara batas atas dan batas dapat dilihat pada Tabel bawah standar. Secara . menunjukkan bahwa pasir yang diuji memiliki distribusi ukuran butir yang baik dan sesuai standar, sehingga layak digunakan dalam campuran beton, termasuk pada jenis SCC yang membutuhkan agregat halus dengan gradasi baik untuk mencapai sifat reologi yang optimal. Pengaruh Variasi Faktor Air Semen. ( Andika. Silviana. Zardi, 2. - 14 - Jurnal Teknik Sipil Unaya. Vol. No. Januari 2026: 9-21 http://jurnal. id/tekniksipilunaya Pengujian kandungan lumpur Dari Analisa saringan agregat kasar Pengujian dilakukan Pengujian kandungan lumpur pada agregat kasar dilakukan untuk mengetahui agregat bertujuan untuk mengetahui persentase distribusi ukuran butiran kerikil yang digunakan kandungan lumpur yang menempel pada permukaan agregat. Oleh karena itu, perlu pemeriksaan agregat kasar dapat dilihat pada dilakukan pengujian sesuai dengan standar SNI Tabel Adapun Tabel 5. Analisa Ayakan Agregat Kasar 03-4142-1996. Adapun hasil kandungan lumpur agregat halus dapat dilihat pada tabel Tabel 4. Pengujian Kandungan Lumpur Kadar Lumpur ycO1 ycO2 x 100 % Modulus Kehalusan (MK) ycya x 100 % = x 100 = 4,76 % yiyaya ycya Hasil pengujian menunjukkan bahwa Oc % ycyeIyeeyeiyeCyeOyeCyea yayayi,yeyaya = yayaya = 2,175 Berdasarkan kandungan lumpur sebesar 4,76%, yang masih agregat kasar, diperoleh nilai Modulus Halus berada di bawah batas maksimum yang Butir (MHB) sebesar 2,175. Nilai tersebut diperbolehkan, yaitu 5% menurut standar. menunjukkan bahwa agregat kasar tersebut Dengan demikian, agregat tersebut memenuhi tergolong ke dalam Zona 1 berdasarkan grafik syarat untuk digunakan dalam campuran beton gradasi dalam standar SNI 03-2834-2000 untuk karena tidak mengandung lumpur dalam jumlah agregat dengan ukuran maksimum 20 mm. yang dapat mengganggu kualitas beton. Hasil pengujian agregat kasar Dari dilakukan dalam tahap uji bahan, maka dapat diperoleh hasil yang menggambarkan sifat serta karakteristik terhadap agregat kasar. Untuk pengujian agregat kasar terdiri dari pemeriksaan Gambar 5 Grafik Analisa Saringan Agregat Kasar analisa saringan agregat kasar, pengujian berat Gambar 5 menunjukkan grafik hasil jenis dan penyerapan air agregat kasar, modulus analisa saringan agregat kasar berupa batu Grafik ini menggambarkan persentase kumulatif butiran agregat kasar yang lolos dari berbagai ukuran saringan. Terdapat tiga garis Pengaruh Variasi Faktor Air Semen. (Andika. Silviana. Zardi, 2. - 15 - ISSN 2407-9200 (Onlin. pada grafik, yaitu kurva lolos . sebagai merencanakan mix design beton. hasil pengujian, serta kurva batas atas . Pengujian Slump Test/Flow Ability dan batas bawah . bu-ab. sebagai acuan Uji Slump adalah suatu uji empiris/metode Berdasarkan grafik, kurva lolos berada di antara batas atas dan batas bawah, yang konsistensi/kekakuan . apat dikerjakan atau berarti gradasi agregat kasar memenuhi standar tida. dari campuran beton segar untuk menentukan tingkat workability nya. Adapun menunjukkan sebaran yang merata dan sesuai hasil pengujian nilai Slump Test/Flow Ability untuk digunakan dalam campuran beton. dapat dilihat pada tabel Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Tabel 7 Air Agregat Kasar. Dengan Faktor Air Semen Distribusi Pengujian Nilai Slump Test/Flow Ability Pengujian dilakukan sesuai dengan standar SNI 1970-2008 tentang metode uji berat jenis dan penyerapan agregat kasar. Sampel batu pecah yang telah dibersihkan dan dikeringkan terlebih dahulu direndam dalam air selama 24 Berdasarkan hasil pengujian flowability jam, kemudian ditimbang dalam kondisi jenuh diperoleh nilai slump flow yang bervariasi permukaan kering (SSD), terendam air, dan sesuai dengan nilai FAS yang digunakan. Pada kering oven. Dari hasil penimbangan tersebut campuran zeolit, nilai slump flow berkisar dihitung berat jenis kering oven, berat jenis antara 595 mm hingga 680 mm, sedangkan pada SSD, dan penyerapan air. campuran tanpa zeolit berada pada rentang 625 Tabel 6 Pengujian Berat Jenis Dan Penyerapan Air mm hingga 695 mm. Agregat Kasar Berdasarkan standar EFNARC, maka pada FAS 0,4 dan 0,45, baik campuran zeolit maupun non-campuran zeolit termasuk dalam kelas SF1 . Ae650 m. Sementara itu, pada FAS 0,50, baik beton dengan campuran zeolit maupun tanpa campuran zeolit masuk ke dalam kelas SF2 . Ae750 m. Hal ini menunjukkan peningkatan kemampuan alir beton seiring Dari hasil pengujian penyerapan air senilai bertambahnya nilai FAS. 2,5% dan berat jenis yang didapat yaitu 3,007 Keadaan SSD adalah bila semua pori terisi Dengan demikian, dapat disimpulkan oleh air atau yang disebut dengan keadaan jenuh bahwa peningkatan FAS memberikan dampak dan kering muka. Hasil dari berat jenis yang positif terhadap nilai flowability beton SCC, penambahan zeolit sedikit menurunkan nilai Pengaruh Variasi Faktor Air Semen. ( Andika. Silviana. Zardi, 2. - 16 - Jurnal Teknik Sipil Unaya. Vol. No. Januari 2026: 9-21 http://jurnal. id/tekniksipilunaya slump flow dibanding beton tanpa zeolit, meskipun keduanya masih berada dalam kelas yang sesuai untuk digunakan. Tabel 8 Perhitungan nilai slump test/flow ability Gambar 6 Grafik Analisa Pengujian Kuat Tekan Beton Umur 28 Hari Dengan Campuran Zeolit Hasil Pengujian Kuat Tekan Dengan Dari hasil grafik tersebut menunjukkan Campuran Zeolit bahwa semakin tinggi nilai FAS, semakin Pengujian kuat tekan dilakukan pada beton rendah kuat tekan beton yang dihasilkan, nilai SCC yang menggunakan zeolit sebagai bahan kuat tekan beton mengalami penurunan seiring Adapun variasi kadar zeolit yang dengan meningkatnya nilai FAS, sehingga digunakan adalah sebesar 10% dari berat kekuatannya menurun. Namun demikian, beton semen, dengan tiga variasi FAS 0,4, 0,45 dan SCC dengan campuran zeolit 10% masih 0,5. Pengujian dilakukan pada umur 28 hari menunjukkan kuat tekan yang cukup baik dan untuk mengetahui pengaruh variasi FAS memenuhi standar. Hal ini menunjukkan bahwa terhadap kuat tekan beton SCC dengan zeolit dapat digunakan sebagai bahan substitusi campuran zeolit terhadap benda uji berbentuk sebagian semen tanpa mengurangi performa kubus berukuran 15 y 15 cm sesuai dengan beton secara signifikan, terutama pada nilai FAS 0,4. 1974:2. Hasil (SNI rata-rata Berdasarkan hasil uji kuat tekan beton SCC ditampilkan dalam Tabel 9. dengan campuran zeolit 10% pada umur 28 hari. FAS 0,4 menghasilkan kuat tekan rata-rata Tabel 9 Pengujian Kuat Tekan Beton Umur 28 Hari 33,47 MPa yang termasuk kategori beton mutu Dengan Campuran Zeolit menengah-tinggi. FAS 0,45 menghasilkan kuat tekan rata-rata 24,13 MPa yang termasuk bangunan bertingkat rendah hingga sedang, balok lantai, pelat, dinding penahan ringan, sloof, serta pondasi dangkal untuk gedung perumahan atau komersial ringan. FAS 0,5 menghasilkan kuat tekan rata-rata 17,81 MPa menengah, lebih sesuai digunakan untuk elemen non-kritis atau struktur ringan seperti Pengaruh Variasi Faktor Air Semen. (Andika. Silviana. Zardi, 2. - 17 - ISSN 2407-9200 (Onlin. lantai gudang, dinding pembatas non-struktural. Gambar ini menunjukkan grafik kuat tekan elemen prasarana ringan, pelat kerja, dan beton pada umur 28 hari tanpa campuran zeolit perkerasan ringan. Penggunaan di lapangan . on-campura. dengan variasi FAS 0,4 0,45 dan 0,5. Grafik ini memperlihatkan bahwa struktural sesuai SNI 2847:2019, kondisi semakin tinggi nilai FAS, kuat tekan beton lingkungan, serta kontrol mutu pelaksanaan. Hasil Pengujian Kuat Tekan Non Campuran Perbandingan Kuat Tekan Beton SCC Zeolit Campuran Zeolit dan Tanpa Campuran Pengujian kuat tekan dilakukan pada beton Perbandingan antara beton SCC dengan SCC tanpa campuran zeolit atau non-campuran campuran zeolit 10% dan tanpa campuran zeolit digunakan sebagai kontrol dalam penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi sejauh mana untuk mengetahui pengaruh penambahan zeolit pengaruh penggunaan zeolit terhadap kekuatan terhadap kuat tekan beton. Pengujian dilakukan Pengujian dilakukan pada umur 28 hari pada umur 28 hari dengan tiga variasi FAS 0,4 dengan tiga variasi FAS 0,4 0,45. dan 0,5. Hasil 0,45. dan 0,5. Hasil rata-rata kuat tekan rata-rata kuat tekan beton dari kedua jenis ditampilkan dalam Tabel 10 campuran tersebut disajikan pada Grafik Tabel 9 Pengujian Kuat Tekan Beton Umur 28 Hari Dengan Non Campuran Gambar 7 Grafik Pengujian Kuat Tekan Beton RataRata Umur 28 Hari Dengan Campuran Zeolit dan Non Campuran Zeolit memperlihatkan grafik perbandingan ratarata kuat tekan beton umur 28 hari antara beton dengan campuran zeolit dan tanpa campuran Untuk tiga variasi FAS yaitu 0,4, 0,45, dan 0,5. Grafik ini menunjukkan bahwa: Secara umum, kuat tekan beton menurun seiring dengan kenaikan FAS untuk kedua jenis beton . eolit dan non-zeoli. Gambar 6 Grafik Analisa Pengujian Kuat Tekan Beton Umur 28 Hari Non Campuran Zeolit Pengaruh Variasi Faktor Air Semen. ( Andika. Silviana. Zardi, 2. Beton tanpa zeolit memiliki kuat tekan - 18 - Jurnal Teknik Sipil Unaya. Vol. No. Januari 2026: 9-21 http://jurnal. id/tekniksipilunaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan Penggunaan beton yang menggunakan zeolit, pada tambahan sebesar 10% juga berpengaruh semua variasi FAS. terhadap peningkatan kekuatan beton. Zeolit Penambahan zeolit berpotensi menurunkan memiliki sifat pozzolan yang memungkinkan kuat tekan, kemungkinan disebabkan oleh: reaksi tambahan dengan kalsium hidroksida (Ca Reaktivitas zeolit yang lebih lambat (OH)CC) dari hasil hidrasi semen, membentuk dibanding semen. Beton dengan FAS 0,4 memberikan hasil (C-S-H) tambahan yang memperkuat struktur beton. kuat tekan terbaik. Reaksi ini berlangsung lebih signifikan pada Penggunaan zeolit cenderung menurunkan umur beton yang lebih panjang, kekuatan lebih kuat tekan beton pada umur 28 hari, terlihat dibandingkan pada umur 28 hari. meskipun bisa jadi memiliki keunggulan Interpretasi hubungan antara reologi lain seperti kinerja jangka panjang atau dan kuat tekan efisiensi biaya dan lingkungan. Terdapat memengaruhi antara sifat reologi dan kuat Analisis Dan Interpretasi Beton dengan FAS tinggi memiliki Pada bagian ini dilakukan analisis terhadap workability yang baik tetapi kekuatan yang hasil pengujian yang telah diperoleh, baik rendah, sedangkan beton dengan FAS rendah terkait sifat reologi maupun kuat tekan beton SCC dengan variasi FAS dan campuran zeolit workability yang terbatas. Oleh karena itu, sebesar 10% dari berat semen. Data yang dianalisis mencakup hasil pengujian Slump tujuan penggunaan beton. Test/Flow Ability, dan kuat tekan umur 28 hari. FAS dilakukan mengenai pengaruh variasi faktor air semen (FAS) terhadap sifat reologi dan kuat menghasilkan kuat tekan yang paling tinggi tekan beton Self Compacting Concrete (SCC) pada umur 28 hari. Sebaliknya, beton dengan dengan campuran zeolit, maka diperoleh FAS tinggi 0,5 menunjukkan kuat tekan yang beberapa kesimpulan sebagai berikut: paling rendah. Hal ini sesuai dengan teori Penambahan zeolit sebesar 10% sebagai bahwa semakin rendah FAS, semakin padat dan substitusi semen pada Self Compacting kuat struktur beton yang terbentuk karena Concrete (SCC) berpengaruh terhadap jumlah air yang lebih sedikit menyebabkan sifat reologi dan kuat tekan. Hasil uji kuat pori-pori yang terbentuk setelah penguapan tekan menunjukkan penurunan dibanding juga lebih sedikit. Pengaruh Variasi Faktor Air Semen. (Andika. Silviana. Zardi, 2. Berdasarkan hasil penelitian yang telah Hasil pengujian kuat tekan menunjukkan Kesimpulan tekan SCC FAS KESIMPULAN DAN SARAN Pengaruh variasi FAS terhadap kuat - 19 - ISSN 2407-9200 (Onlin. beton non-zeolit pada semua variasi FAS. DAFTAR PUSTAKA yaitu 12,15% pada FAS 0,4, 12,76% pada Cusens. AuConcrete technology: D. Orchard 3rd Edition. Volume 3. The Properties and FAS 0,45 dan 30,11% pada FAS 0,5. Peningkatan FAS Testing of Aggregates. Applied Science. London. 281 pp. A10. ,Ay Building penurunan kuat tekan baik pada beton and Environment, vol. 11, no. normal maupun zeolit. FAS rendah . FAS De chutter. Pedoman Pengujian Beton Pemadatan Mandiri Segar. De Schutter. Pemompaan beton yang menghasilkan kuat tekan terendah. memadat sendiri: kenyataan tersembunyi. Nilai FAS 0,45 dengan campuran zeolit Beton-Teknologi. Konstrukce. Sanace, . EFNARC. AuSpecification and Guidelines for Self- antara workability dan kuat tekan, serta Compacting masih memenuhi kriteria beton struktural EFNARC, no. May, p. 68, 2005. pengganti semen pada campuran beton self Saran