TEKNIK DESINFEKSI PENYEMPROTAN EKSTRAK DAUN SIRIH MERAH (Piper Ornatu. TERHADAP PERUBAHAN STABILITAS DIMENSI CETAKAN ALGINAT Kadek Sugianitri1,Ria Koesoemawati2. Ida Ayu Km. Trisna Mega Putri3 Program Studi Pendidikan Dokter Gigi. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar *email: idaayutrisnaa1@gmail. ABSTRAK Bahan cetak kedokteran gigi merupakan salah satu agen penularan infeksi pada lingkungan kerja dokter gigi. Infeksi silang dapat terjadi melalui interaksi mikroorganisme dan bahan cetak. Untuk mencegah adanya infeksi silang maka perlu dilakukan desinfeksi pada hasil cetakan alginat. Salah satu bahan alami yang efektif dapat dimanfaatkan sebagai desinfektan yakni daun sirih merah. Efek pemakaian desinfektan dapat berpengaruh terhadap stabilitas dimensi cetakan alginat. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah tindakan desinfikasi dengan teknik penyemprotan ekstrak daun sirih merah (Piper Ornatu. dengan konsentrasi 50%, 35%, 20% dapat mempengaruhi stabilitas dimensi pada model studi cetakan alginat. Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian dengan post-test only control group design dengan menggunakan 24 sampel yang terdiri dari tiga perlakuan . elompok kontrol dan kelompok perlakua. yang diukur menggunakan jangka sorong. Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini yakni dengan teknik penyemprotan pada sampel dengan waktu penyimpanan selama 10 menit. Hasil penelitian berdasarkan uji statistik menggunakan uji Man-Whitney menujukkan bahwa perbedaan kelompok yang signifikan diperoleh nilai p < 0,05. Hasil menunjukkan terdapat perbedaan kelompok kontrol dengan ekstrak 20%,35% dan tidak terdapat perbedaan pada ekstrak 50%. Sedangkan, tidak terdapat perbedaan pada kelompok perlakuan 20% dengan ekstrak 35%, 50% dan terdapat perbedaan antara kelompok kontrol 35% dengan ekstrak 50%. Sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat pengaruh dengan penggunaan bahan desinfektan alami yaitu ekstrak daun sirih merah 20%. Sedangkan adanya pengaruh dengan penggunaan bahan desinfektan alami yaitu ekstrak daun sirih merah 35%, 50% terhadap stabilitas dimensi cetakan alginat. Kata Kunci: Desinfeksi cetakan alginat. Daun sirih merah. Stabilitas dimensi cetakan. ABSTRACT Dental impression materials are an agent of infection transmission in the dentist's work Cross infection can occur through the interaction of microorganisms and the impression material. To prevent cross-infection, it is necessary to disinfect the alginate One of the effective natural ingredients that can be used as a disinfectant is red betel leaf. The effect of using disinfectants can affect the dimensional stability of alginate impressions. The purpose of this study was to find out whether the disinfection action by spraying red betel leaf extract (Piper Ornatu. with concentrations of 50%, 35%, 20% could affect the dimensional stability of the alginate mold study model. The research method used was laboratory experimental with a research design with a posttest only control group design using 24 samples consisting of three treatments . ontrol group and treatment grou. as measured using calipers. The technique used in this study is by spraying the sample with a storage time of 10 minutes. The results of the study based on statistical tests using the Man-Whitney test showed that significant group differences obtained a sig value p <0. The results showed that there was a difference in the control group with the 20%, 35% extract and there was no difference in the 50% extract. Meanwhile, there was no difference in the 20% treatment group with 35%, 50% extract and there was a difference between the 35% control group and 50% extract. So it can be concluded that there is no effect with the use of natural disinfectants, namely 20% red betel leaf extract. Meanwhile, there is an effect of the use of natural disinfectants, namely red betel leaf extract 35%, 50% on the dimensional stability of alginate impressions. Keywords: Disinfection of alginate molds. Red betel leaves. Dimensional stability of mold PENDAHULUAN Lingkungan kerja selama praktik klinis dokter gigi tidak dapat terlepas dari sebuah reaksi kontiminasi mikroorganisme atau yang sering disebut dengan infeksi silang. Keberadaan berbagai macam virus dan bakteri seperti spesies Staphylococcus Bacillus. Enterobacter. Virus Hepatitis. Virus Herpes Simplex dan bahkan Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang biasanya dapat ditemukan dalam saliva dan darah pada rongga mulut. Menurut dari berbagai penelitian, salah satu prosedur perawatan dalam kedokteran gigi yang berpotensi untuk terjadinya infeksi silang ialah pencetakan. Mikroorganisme patogen dapat dengan mudah menyebar melalui bahan cetak dan menjadi agen penyebab infeksi silang sehingga dapat menjadi pencetus penularan penyakit. Pencetakan rahang berfungsi untuk mendapatkan bentuk negatif dari jaringan rongga mulut yang didapat dari peletakan bahan cetak ke dalam rongga mulut samapai bahan cetak setting. Pencetakan rahang sangat menentukan hasil tahap-tahap pekerjaan kedokteran gigi selanjutnya. Penggunaan bahan hydrocolloid irreversible telah dianjurkan berdasarkan beberapa faktor seperti bahan digunakan secara luas dalam praktik kedokteran gigi, kemudahan penanganan dan manipulasi oleh dukungan personal, dan relatif murah serta tidak memerlukan peralatan khusus 1. Bahan cetak merupakan bahan yang digunakan untuk membuat replika atau cetakan yang akurat dari jaringan keras maupun jaringan lunak rongga mulut. Salah satu bahan yang sering digunakan di kedokteran gigi adalah bahan cetak alginat. Alginat merupakan salah satu bahan cetak hidrokoloid irreversibel yang paling banyak digunakan dalam kedokteran gigi. Alginat memiliki karakteristik yang unik, yaitu memiliki sifat sineresis dan Sifat sineresis adalah hilangnya kandungan air melalui penguapan sehingga terjadi pengerutan, sedangkan sifat imbibisi adalah terjadinya penyerapan bila berkontak dengan air sehingga terjadi ekspansi. 2 Sifat imbibisi dapat menyebabkan perubahan bentuk atau dimensi hasil cetakan karena adanya ekspansi yang berdampak pada ketidakakuratan hasil cetakan alginat. Stabilitas dimensi pada hasil cetakan alginat merupakan hal yang penting dalam keberhasilan pembuatan model cetakan yang akurat. Menurut beberapa penelitian, pada saat prosedur pencetakan dilakukan, saliva akan menempel pada hasil cetakan, yang merupakan sumber kontaminasi dan memungkinkan berbagai macam virus dan bakteri dari rongga mulut melekat pada cetakan tersebut. Oleh sebab itu, terdapat resiko penularan infeksi ke dokter gigi maupun ke petugas laboratorium ketika pencetakan rahang pasien. 4 The British Dental Association merekomendasikan untuk melakukan pencegahan kontaminasi dan menggunakan desinfektan pada hasil cetakan negatif sebelum dikirim ke laboratorium. American Dental Association (ADA) menganjurkan untuk membersihkan hasil cetakan terlebih dahulu menggunakan air untuk menghilangkan saliva, darah, dan jaringan yang menempel, selanjutnya diberi larutan desinfektan. Metode desinfeksi yang disarankan oleh ADA dan Center of Disease Control and Prevention (CDC) antara lain metode perendaman dan penyemprotan. Kedua metode tersebut telah teruji sama efektif dalam proses desinfeksi permukaan hasil cetakan. Metode penyemprotan dianggap sebagai metode yang efektif untuk mengurangi terjadinya imbibisi pada cetakan dibandingkan dengan metode perendaman. Bahan desinfektan yang sering digunakan dalam kedokteran gigi dapat dibagi menjadi bahan desinfektan kimia dan bahan alami. Bahan desinfektan kimia yang dapat digunakan untuk bahan cetak adalah natrium hipoklorit, iodophor, fenilfenol, dan 7 Saat ini masyarakat dunia dan juga Indonesia mulai mengutamakan penggunaan obat dari bahan alami, karena secara umum obat-obatan alami memiliki harga yang lebih relatif murah dan sangat terjangkau. Hal ini dikarenakan bahanbahannya berasal dari tanaman yang mudah di dapat disekitar kita. Daun sirih merah merupakan salah satu tanaman obat alami potensial yang diketahui secara empiris memiliki khasiat. Kandungan senyawa pada sirih merah berupa flavonoid, alkaoloid senyawa polifenolat, tanin dan minyak atsiri yang diketahui memiliki sifat anti bakteri 8 Namun, belum ada penelitian tentang pengaruh penyemprotan ekstrak daun sirih merah pada cetakan alginat terhadap perubahan dimensi cetakan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas konsentrasi ekstrak daun sirih merah . %, 35%, 50%) sebagai desinfektan cetakan alginat. TUJUAN Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Untuk mengetahui bagaimanakah desinfeksi penyemprotan ekstrak daun sirih merah (Piper Ornatu. terhadap stabilitas dimensi pada hasil cetakan alginat. Untuk mengetahui bagaimanakah desinfeksi penyemprotan ekstrak daun sirih merah (Piper Ornatu. dengan konsentrasi 20%, 35%, 50% terhadap stabilitas dimensi pada hasil cetakan alginat. METODE Jenis Penelitian ini merupakan eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian yang digunakan post-test only control group design, yang dilakukan dengan mengukur perubahan stabilitas dimensi pada cetakan alginat setelah dilakukan desinfeksi yaitu penyemprotan pada sampel dengan waktu penyimpanan yang telah ditentukan\ HASIL PENELITIAN Pada penelitian ini jumlah sampel yang digunakan adalah sebanyak 24 sampel yang terdiri dari 4 bagian yaitu kelompok kontrol negatif . anpa perlakua. , perlakuan I . kstrak daun sirih merah 20%), perlakuan II . kstrak daun sirih merah 35%), perlakuan i . kstrak daun sirih merah 50%) dilakukan pengulangan setiap kelompok perlakuan sebanyak 6 kali percobaan. Jarak yang diukur AB . arak vertikal diukur dari anterior yaitu dari mesial gigi insicivus satu kiri ke cusp mesiobukal gigi molar satu kir. dan BC . arak horizontal diukur dari posterior yaitu dari cusp mesiobukal gigi molar satu kanan ke cusp mesiobukal gigi molar satu kir. Hasil desinfikasi dengan teknik penyemprotan ekstrak daun sirih merah (Piper Ornatu. konsentrasi 20%, 35% dan 50% selengkapnya dapat ditunjukkan pada Tabel 1 sebagai berikut. Tabel 1 Stabilitas Dimensi pada Model Studi Cetakan Alginat Perlakuan N Rerata AB . BC . 37,09 53,83 37,07 53,87 37,20 53,74 37,05 53,73 Tabel 1 menunjukan bahwa rerata stabilitas pada dimensi panjang AB yang tertinggi ditunjukan pada kelompok P3 . onsentrasi 50%) sebesar 37,20 dan pada stabilitas dimensi panjang BC yang tertinggi ditunjukan pada kelompok P2 . onsentrasi 35%). Stabilitas dimensi panjang AB yang terendah ditunjukan pada kelompok K sebesar 37,05 dan pada stabilitas dimensipanjang BC yang terendah ditunjukan pada kelompok K sebesar 53,73 Untuk mengetahui apakah data yang didapatkan dari penelitian ini berdistribusi normal atau tidak sehingga dilakukan uji normalitas dengan menggunakan uji Saphiro-wilk dengan taraf signifikansi (> 0,. dapat dikatakan data yang diperoleh terdistribusi Tabel 2 Hasil Uji Normalitas Data Tests of Normality Shapiro-Wilk KolmogorovSmirnova Statistic df Sig. Statisti df Sig. K_AB K_BC I_AB I_BC II_AB II_BC i_AB . i_BC . Berdasarkan hasil uji normalitas data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa stabilitas pada dimensi pada model studi cetakan alginat pada kelompok kontrol dan perlakuan ekstrak 20% tidak berdistribusi normal karena nilai signifikansi < 0,05. Pengujian dengan Man Whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan dari masingmasing kelompok perlakuan Hasil pengujian ditunjukkan pada Tabel 4 sebagai berikut. Tabel 4 Hasil Uji Kruskal Wallis Stabilitas Dimensi Panjang AB Variabel Rerata Kelompok Kontrol Tabel 5 Hasil Uji Kruskal Wallis Stabilitas Dimensi Panjang BC Variabel Kelompok Kontrol Rerata Hasil uji Tabel 5 data yang diperoleh daya uji Kruskal Wallis diperoleh nilai p = 020 dimana nilai p > 0,05 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dimensi panjang BC stabilitas dimensi pada model cetakan alginant. Hasil pengujian menggunakan dengan uji Mann Whitney perbedaan stabilitas dimensi pada model studi cetakan alginat dimensi panjang BC ditunjukkan pada Tabel 6 berikut. Tabel 6 Hasil uji Mann Whitney Dimensi Panjang BC. Perbandingan Antar Kelompok Rerata Perlakuan Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5. 6 dapat dijelaskan bahwa perbedaan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya dengan melihat nilai signifikansi. Perbedaan kelompok yang signifikan diperoleh nilai p < 0,05. Hasil menunjukkan adanya perbedaan antara kelompok kontrol dengan perlakuan ekstrak daun sirih merah 20% dan 35% dan tidak terdapat perbedaan antara kelompok kontrol dengan perlakuan ekstrak daun sirih merah 50%. Tidak adanya perbedaan antara kelompok perlakuan ekstrak 20% dengan perlakuan ekstrak daun sirih merah 35% dan 50%. Terdapat perbedaan antara kelompok perlakuan ekstrak 35% dengan perlakuan ekstrak daun sirih merah 50%. PEMBAHASAN Lingkungan kerja klinis dokter gigi rentan terhadap infeksi silang dari mikroorganisme yang menempel pada cetakan saat prosedur pencetakan rahang. Teknik desinfeksi seperti penyemprotan dan perendaman dapat digunakan untuk mendisinfeksi cetakan alginat. Penelitian menunjukkan bahwa teknik penyemprotan ekstrak daun sirih merah (Piper ornatu. dengan konsentrasi 20%, 35%, dan 50% tidak terlalu mempengaruhi stabilitas dimensi cetakan dibandingkan perendaman. Hasil penelitian menunjukkan stabilitas dimensi cetakan alginat setelah penyemprotan dengan ekstrak sirih merah. Pada konsentrasi 20%, perubahan stabilitas dimensi masih dalam batas toleransi, tetapi pada konsentrasi 35% dan 50%, terjadi perubahan stabilitas dimensi karena proses imbibisi. Kandungan fenol dalam sirih merah dapat bereaksi dengan alginat, menyebabkan perubahan dimensi cetakan. Stabilitas dimensi cetakan alginat dipengaruhi oleh sineresis dan imbibisi serta proses disinfeksi. Teknik penyemprotan menjaga keseimbangan antara imbibisi dan Penelitian lain menunjukkan bahwa bahan desinfektan alami seperti ekstrak daun alpukat juga dapat menyebabkan perubahan dimensi alginat melalui proses esterifikasi yang menghasilkan air, mempengaruhi imbibisi. Tekanan osmotik antara gel alginat dan larutan desinfektan juga berkontribusi pada ekspansi alginat. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun sirih merah (Piper Ornatu. 20%, 35%, dan 50% terhadap stabilitas dimensi pada cetakan alginat dapat disimpulkan sebagai berikut: Desinfeksi penyemprotan ekstrak daun sirih merah (Piper Ornatu. 20% tidak mengubah stabilitas dimensi hasil cetakan alginat. Desinfeksi penyemprotan ekstrak daun sirih merah (Piper Ornatu. 35%, 50% dapat mengubah stabilitas dimensi hasil cetakan alginat. DAFTAR PUSTAKA