OPEN ACCESS Indonesian Journal of Spatial Planning P-ISSN: and E-ISSN: 2723-0619 http://journals. id/index. php/ijsp Vol 6. No 2. Tahun 2025, 50 Ae 59 KUALITAS VISUAL ELEMEN PERANCANGAN KOTA PADA ALUN Ae ALUN KAUMAN SEMARANG Andhika Rizal Saputraa. Wahjoerinib a,b Universitas Semarang. Jl. Soekarno-Hatta. Tlogosari Kulon,Kec. Pedurungan. Email: wahjoerini@usm. Info Artikel: a Artikel Masuk: 2025-09-09 a Artikel diterima: 2025-10-20 a Tersedia Online: 2025-10-30 ABSTRAK Pertumbuhan jumlah penduduk mendorong perkembangan pusat kegiatan yang merefleksikan identitas dan keragaman suatu kawasan. Dalam hal ini, perancangan kota menjadi bagian penting dari proses perencanaan fisik yang berorientasi pada kualitas estetika dan fungsional ruang kota. Mengacu pada teori Hamid Shirvani . dalam The Urban Design Process, terdapat delapan elemen pembentuk fisik kota: land use, building form and mass, circulation and parking, open space, signages, pedestrian ways, support activity, dan preservation. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kualitas visual elemen perancangan kota pada Kawasan Alun-Alun Kauman Semarang sebagai ruang publik hasil revitalisasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif melalui penyebaran kuesioner kepada pengunjung dan pedagang kaki lima (PKL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap kualitas visual elemen perancangan kota terbagi merata antara kategori cukup . %) dan baik . %). Elemen dengan nilai rendah mencakup sirkulasi dan parkir, signages, serta jalur pejalan kaki, yang membutuhkan perbaikan dan peningkatan desain. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan elemen visual dalam menunjang keberfungsian dan daya tarik ruang publik, serta menjadi dasar perencanaan lanjutan guna meningkatkan kualitas kawasan secara menyeluruh. Kata Kunci : Kualitas Visual 1. Elemen Perancangan Kota 2. Alun Ae alun Kauman 3 ABSTRACT Population growth encourages the development of activity centers that reflect the identity and diversity of an area. In this case, urban design becomes an important part of the physical planning process that is oriented towards the aesthetic and functional quality of urban space. Referring to Hamid Shirvani's . theory in The Urban Design Process, there are eight elements that form the physical city: land use, building form and mass, circulation and parking, open space, signages, pedestrian ways, support activities, and preservation. This research aims to evaluate the visual quality of urban design elements in Kauman Square Semarang as a revitalized public space. The method used was descriptive quantitative approach through distributing questionnaires to visitors and street vendors (PKL). The results showed that respondents' perceptions of the visual quality of urban design elements were evenly divided between fair . %) and good . %) Elements with low scores include circulation and parking, signages, and pedestrian paths, which require design improvements and enhancements. These findings emphasize the importance of strengthening visual elements in supporting the functionality and attractiveness of public spaces, and form the basis for further planning to improve the overall quality of the area. Keyword: Quality Visual 1. Urban Design Element 2. Kauman Square 3 PENDAHULUAN Pertumbuhan mencerminkan identitas dan keragaman Kota tidak hanya berfungsi sebagai pusat produktivitas, tetapi juga sebagai ruang aktivitas sosial, budaya, keagamaan, dan Perkembangan kota secara fisik sangat dipengaruhi oleh kualitas perancangan dan arsitektur kawasan yang membentuk wajah kota(Risdian. Sari and Rukayah, 2. Kualitas visual menjadi aspek penting dalam perancangan kota, di mana (Smardon and Felleman, 1. menyatakan bahwa tanda visual merupakan elemen fundamental dalam sistem visual kota yang membentuk karakter (Shirvani, 1. mengidentifikasi delapan elemen pembentuk fisik kota: tata guna lahan, bentuk dan massa bangunan, sirkulasi dan parkir, ruang terbuka, penanda, jalur pejalan kaki, aktivitas pendukung, dan Elemen-elemen ini menjadi dasar dalam menilai kualitas ruang publik, termasuk Saputra. Wahjoerini Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 50 Ae 59 alun-alun sebagai ruang terbuka tradisional di kota-kota Indonesia (Nathaniel and Indradjati. Alun Ae Alun Kauman Semarang merupakan ruang publik bersejarah yang memiliki nilai strategis dan simbolik. Alun Ae Alun Kauman Semarang yang terletak di kelurahan kauman kecamatan Semarang Tengah ini memiliki identitas visual yang kuat, ditandai dengan keberadaan Masjid Agung Kauman sebagai penanda utama kawasan. Arsitektur masjid yang khas dengan atap tajug bertumpang dan ornamen ukiran kayu tidak hanya memperkuat kesan religius, tetapi juga menegaskan nilai historis kawasan. Bangunanbangunan di sekitarnya, seperti Pendopo Kanjengan dan Pasar Johar, turut membentuk karakter kawasan dengan gaya kolonial dan art deco yang khas. Komposisi ruang terbuka yang luas, vegetasi yang rindang, serta orientasi kenyamanan visual bagi pengunjung. DATA DAN METODE Metode Penelitian yang digunakan dalam AuKualitas Visual Elemen Perancangan Kota Pada Alun Ae Alun Kauman SemarangAy yaitu menggunakan metode pendekatan deskriptif kuantitatif yaitu metode yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data berupa angka yang kemudian diolah untuk mendapat informasi ilmiah dibalik angka tersebut, kemudian informasi dan data tersebut dianalisis dan diringkas untuk menggambarkan suatu kondisi/ situasi dari berbagai data yang dikumpulkan mengenai masalah yang diteliti. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan data primer melalui observasi,wawancara dan dokumentasi, serta data sekunder. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu yaitu menggunakan accidental sampling. Dimana, ketika mengambil sampling responden secara kebetulan yaitu siapa saja yang bertemu peniliti di kawasan Alun Ae Alun Kauman Semarang dapat menjadi sumber data apabila memenuhi kriteria sebagai Pertimbangan tertentu itu maksudnya seperti orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek/situasi sosial yang Sampel merupakan pedagang dan pengunjung yang ada di kawasan Alun Ae Alun Kauman yang berjumlah total 96 responden. Dengan weekdays (Pagi. Siang. Sore. Mala. dan weekends (Pagi. Siang. Sore. Mala. Di sisi lain, karakter visual kawasan juga dibentuk oleh aktivitas yang berlangsung secara rutin. Tradisi Dugderan menjelang Ramadan menghadirkan suasana budaya yang semarak, sementara kegiatan keagamaan seperti salat Idulfitri, pengajian, dan perayaan Maulid Nabi menambah dinamika kawasan. Aktivitas-aktivitas ini memperkaya pengalaman visual secara temporer namun bermakna. Kombinasi elemen fisik dan non-fisik inilah yang membentuk karakter kawasan secara utuh, tidak hanya sebagai ruang struktural, tetapi juga sebagai wadah kehidupan sosial dan budaya yang terus berlangsung. Insiden kebakaran Pasar Johar tahun 2015 menjadi titik balik dalam penataan ulang . , menyisakan permasalahan visual seperti parkir liar dan keberadaan PKL. Penelitian ini perancangan Shirvani, guna merumuskan rekomendasi desain yang mendukung fungsi, identitas, dan daya tarik kawasan dalam konteks kota historis yang terus berkembang. HASIL DAN PEMBAHASAN Tata Guna Lahan Tata guna lahan di kawasan Alun-Alun Kauman Semarang campuran yang mencakup fungsi perdagangan, jasa, pelayanan umum, ruang terbuka, serta Bagian utara diisi oleh fasilitas komersial formal seperti hotel dan restoran. Sisi timur didominasi aktivitas perdagangan, terpusat di Pasar Johar sebagai pusat ekonomi Area selatan merupakan zona campuran dengan keberadaan Pasar Johar Saputra. Wahjoerini Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 50 Ae 59 Kanjengan, ruko. PKL. TPS, serta kantor Dinas Perdagangan. Sisi barat difungsikan sebagai zona keagamaan, ditandai oleh Masjid Agung Kauman, yang juga dikelilingi aktivitas komersial formal dan non-formal. Secara keseluruhan, kawasan ini mencerminkan integrasi fungsi ekonomi, sosial, keagamaan, dan administratif dalam satu kawasan historis yang padat. Gambar 3. 1 Peta Tata Guna Lahan Alun Ae Alun Kauman Semarang perkembangan kawasan dari era kolonial hingga kini. Bangunan umumnya bersifat permanen, dengan variasi skala dan gaya di tiap zona. Di sisi utara, bangunan tinggi seperti Hotel Metro Park tampil dominan dengan fasad modern yang mengadaptasi elemen heritage, memperkuat visual. Sisi timur didominasi bangunan dua lantai bergaya heritage dengan ritme fasad konsisten dan skala manusiawi, terutama di sekitar Pasar Johar. Sisi selatan menunjukkan keragaman bentuk, mulai dari Pasar Kanjengan berlantai empat bergaya modern, hingga deretan ruko satu lantai bergaya klasik serta kantor Dinas Perdagangan bergaya minimalis. Di sisi barat. Masjid Agung Kauman sebagai pusat peribadatan tampil monumental dengan arsitektur modern-Islami, dikelilingi ruko satu lantai bergaya sederhana Keseluruhan komposisi menciptakan kekayaan visual dan karakter kawasan yang dinamis namun tetap selaras. Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 3 Kondisi Bentuk dan Masa Bangunan Sisi Utara Gambar 3. 2 Peta Overlay Kawasan Alun Ae Alun Kauman Semarang Dari hasil skoring dan overlay peta disimpulkan bahwa elemen tata guna lahan yang ada di Kawasan Alun Ae Alun Kauman Semarang memiliki kesesuaian lahan yang baik dilihat dari dokumen RDTRK Kota Semarang yang sesuai dengan keadaan lapangan dengan keberagaman lahan mulai dari ruang terbuka, perdagangan dan jasa, perkantoran dan Bentuk dan Masa Bangunan Bentuk dan massa bangunan di Alun-Alun Kauman Semarang mencerminkan perpaduan arsitektur heritage Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 4 Kondisi Bentuk dan Masa Bangunan Sisi Timur Sumber: Dokumentasi, 2025 Saputra. Wahjoerini Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 50 Ae 59 Gambar 3. 5 Kondisi Bentuk dan Masa Bangunan Sisi Selatan Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 7 Kondisi Sirkulasi Sisi Utara Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 6 Kondisi Bentuk dan Masa Bangunan Sisi Barat Hasil skoring menyimpulkan bahwa ketinggian bangunan di kawasan ini masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu Fasad bangunan dinilai bersih dan berkarakter, terutama pada area pasar yang telah direvitalisasi. Sementara itu, langgam bangunan dianggap beragam namun tetap memberi identitas visual tersendiri bagi Sirkulasi dan Parkir Sirkulasi dan fasilitas parkir di kawasan Alun-Alun Kauman Semarang mengikuti struktur fungsi kawasan dan intensitas aktivitas. Jaringan jalan mengelilingi alun-alun dengan pola dua arah. Di sisi utara, jalan beraspal dua lajur menjadi akses utama ke area komersial, dilengkapi trotoar dan larangan parkir on-street. Sisi timur menghubungkan kawasan dengan Pasar Johar melalui jalan berpaving blok. Aktivitas perdagangan yang padat dan ketiadaan kantong parkir menyebabkan parkir liar di bahu jalan, memicu kemacetan saat jam Sisi selatan memiliki fungsi ganda: akses kendaraan di hari kerja dan lokasi bazar kuliner serta parkir saat akhir pekan malam. Halte bus di ruas ini tampak tidak aktif. Di sisi barat, jalan beraspal dua lajur menjadi akses utama menuju area Masjid Agung dan pintu masuk parkir basement. Sirkulasi di sisi ini umumnya lancar, dan parkir on-street tidak resmi tidak terlalu mengganggu alur lalu lintas. Secara keseluruhan, kawasan ini menunjukkan pola sirkulasi yang aktif namun menghadapi khususnya di zona perdagangan . Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 8 Kondisi Sirkulasi Sisi Timur Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 9 Kondisi Sirkulasi Sisi Selatan Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 10 Kondisi Sirkulasi Sisi Barat Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 11 Kondisi Parkir Kawasan Alun Ae Alun Kauman Semarang Dari hasil skoring mengindikasikan bahwa kualitas visual elemen sirkulasi dan parkir di kawasan Alun Ae Alun Kauman Semarang dinilai cukup baik oleh masyarakat, namun masih menyisakan beberapa persoalan seperti parkir on Ae street yang belum tertata, sirkulasi kendaraan yang padat di jam sibuk. Saputra. Wahjoerini Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 50 Ae 59 serta kondisi perkerasan jalan yang belum sepenuhnya optimal. Ruang Terbuka Ruang terbuka di kawasan Alun-Alun Kauman Semarang terbagi menjadi dua kategori utama: ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang terbuka non-hijau (RTNH). RTH utama terletak di lapangan tengah alunalun yang berfungsi sebagai pusat aktivitas publik, dilengkapi fasilitas seperti tempat sampah, lampu penerangan, tangga, ramp way, kamar mandi umum, dan CCTV untuk menunjang aksesibilitas dan keamanan. Jalur hijau juga terdapat di sisi selatan, timur, utara, dan barat kawasan, dilengkapi bangku planter, pohon peneduh, lampu taman, tempat sampah, dan hydrant. Di sisi selatan, terdapat taman rekreatif dengan bangku berkanopi, sementara jalur hijau di sisi timur berfungsi sebagai pembatas visual dengan Pasar Johar dan dilengkapi ramp way yang ramah disabilitas. Jalur hijau di sisi utara dan barat turut memperkuat pembatas visual antara lapangan, trotoar, dan jalan. Keseluruhan elemen tersebut mendukung kualitas visual dan fungsional kawasan sebagai ruang publik yang inklusif dan nyaman. Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 13 RTH Pasif Kawasan Alun Ae Alun Kauman Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 14 Fasilitas Pendukung RTH Dari hasil skoring masyarakat menilai keberadaan dan kondisi fisik ruang terbuka di kawasan ini sudah sangat baik, mencakup lapangan, vegetasi peneduh, dan ruang terbuka untuk aktivitas sosial. Sebaliknya fasilitas pendukung seperti bangku taman, tempat sampah, lampu, dan aksesibilitas bagi sepenuhnya memadai menurut persepsi Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 12 RTH Aktif Kawasan Alun Ae Alun Kauman Penanda Kawasan Alun-Alun Kauman Semarang memiliki dua titik utama signage identitas "Aloon-Aloon Masjid Agung Semarang", masing-masing terletak di RTH sisi utara dan di atas pintu masuk basement sisi Keduanya berukuran besar, mudah terbaca, dan terintegrasi dengan lanskap Selain itu, terdapat penanda "Selamat Datang di Pasar Johar Basement" berukuran besar berbahan MMT, tersebar di enam titik strategis pada sisi barat, selatan, timur, dan utara kawasan. Seluruh signage ini berfungsi sebagai identifikasi area serta Saputra. Wahjoerini Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 50 Ae 59 respondenAidengan tampilan yang jelas, kontras, dan selaras dengan karakter kawasanAiposisi penanda masih menjadi kelemahan utama. Penempatan yang kurang strategis menyebabkan beberapa signage sulit terbaca atau tidak terlihat dengan jelas oleh Oleh karena itu, perbaikan posisi dan orientasi penanda menjadi prioritas guna meningkatkan keterbacaan, fungsi informatif, dan kenyamanan visual dalam kawasan. Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 15 Penanda Identifikasi di Kawasan Jalur Pejalan Kaki Jalur pedestrian di Alun-Alun Kauman Semarang hanya tersedia di sisi utara dan barat dengan lebar A2 meter, dilengkapi guiding block dan permukaan paving block. Kedua jalur saling terhubung dan cukup fungsional, namun kenyamanannya terganggu oleh hambatan fisik seperti PKL, tiang lampu, dan pohonAi khususnya di sisi baratAiyang memaksa pejalan kaki turun ke jalan. Kebersihan umumnya terjaga, namun pada area padat aktivitas seperti sisi barat dan selatan masih ditemukan sampah yang tidak tertangani dengan baik. Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 16 Penanda Penunjuk Arah di Kawasan Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 19 Jalur Pejalan Kaki di Kawasan Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 17 Penanda Informasi di Kawasan Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 18 Penanda Regulasi dan Aturan Kawasan Berdasarkan hasil skoring, elemen signages di kawasan Alun-Alun Kauman Semarang dinilai memiliki kualitas visual yang Meskipun aspek estetika desain sudah Hasil kuisioner menunjukkan bahwa elemen jalur pejalan kaki di kawasan Alun-Alun Kauman dinilai dalam kategori AuCukupAy. Meskipun ketersediaan jalur pedestrian cukup diapresiasi, terutama di sisi utara dan barat, aspek kebersihan menjadi perhatian utama dengan skor terendah, menandakan adanya pengelolaan kebersihan di area padat aktivitas Aktivitas Pendukung Kawasan Alun-Alun Kauman memiliki beragam aktivitas pendukung, mulai dari fasilitas komersial formal seperti Pasar Johar. Kanjengan, dan ruko, hingga aktivitas informal seperti PKL yang Saputra. Wahjoerini Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 50 Ae 59 memadati sisi timur, barat, dan selatan pada waktu tertentu. Keberadaan halte BRT di sisi utara dan kantor Dinas Perdagangan mendukung fungsi kawasan. Aktivitas ini menambah vitalitas kawasan, namun juga keteraturan visual, terutama saat aktivitas informal mencapai puncaknya. Preservasi Alun-Alun Kauman Semarang terdapat dua bangunan utama yang memiliki nilai pelestarian, yaitu Masjid Agung Kauman dan Pasar Johar. Masjid Agung Kauman, sebagai cagar budaya, telah direnovasi dengan mempertahankan elemen utama seperti struktur kayu jati dan bentuk atap aslinya, meskipun terdapat tambahan unsur Sementara itu. Pasar Johar telah direvitalisasi untuk mengembalikan karakter arsitektur aslinya, seperti ventilasi silang dan bukaan besar. Meski tampak lebih tertata, nuansa modern masih terasa dominan pada beberapa bagian bangunan. Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 20 Aktivitas Pendukung berupa PKL Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 23 Bangunan Cagar Budaya sekitar Kawasan Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 21 Aktivitas Pendukung berupa Bazar Kuliner Sumber: Dokumentasi, 2025 Gambar 3. 22 Aktivitas Pendukung berupa Layanan Publik Hasil kuisioner menunjukkan bahwa elemen aktivitas pendukung memiliki kualitas visual dalam kategori AuBaikAy. Indikator kondisi fasilitas komersil memperoleh skor tertinggi, mengapresiasi keberadaan dan tampilan visual dari bangunan ruko, pasar, serta kegiatan usaha yang tertata. Sementara itu. Kondisi ketersediaan layanan publik mendapat skor terendah, yang mengindikasikan bahwa masyarakat menilai aktivitas tersebut kurang Elemen preservasi di kawasan AlunAlun Kauman dinilai cukup berhasil oleh masyarakat, dengan persepsi umum bahwa bangunan bersejarah telah dirawat dengan Namun, aspek interpretasi visual dan edukasi sejarah masih perlu ditingkatkan agar nilai historis kawasan lebih mudah dikenali dan dipahami oleh seluruh pengunjung, terutama yang tidak memiliki pengetahuan awal mengenai sejarah lokal. Skoring Tingkat Kualitas Visual Berdasarkan hasil analisis terhadap delapan elemen perancangan kota menurut Hamid Shirvani, diperoleh variasi kategori kualitas visual berdasarkan gabungan antara observasi lapangan dan persepsi masyarakat melalui kuisioner. Tabel 3. 1 Hasil Skoring Elemen Perancangan Kota Elemen Perancangan Kota Tata Guna Lahan (X. Skor Kriteria Baik Saputra. Wahjoerini Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 2. Tahun 2025, 50 Ae 59 Elemen Perancangan Kota Bentuk dan Masa Bangunan (X. Sirkulasi dan Parkir (X. Skor Kriteria Baik Cukup Ruang Terbuka (X. Cukup Penanda (X. Cukup Cukup Baik Baik Baik Jalur Pejalan Kaki (X. Aktivitas Pendukung (X. Preservasi (X. Rata - Rata Sumber : Analisis, 2025 Berdasarkan skoring terhadap delapan elemen perancangan kota, kawasan Alun-Alun Kauman Semarang memperoleh rata-rata skor 225,15, yang masuk dalam kategori AubaikAy. Sebanyak 4 elemen . %) dikategorikan AubaikAyAiyakni Tata Guna Lahan. Bentuk dan Massa Bangunan. Aktivitas Pendukung, dan PreservasiAisementara 4 elemen lainnya tergolong AucukupAy. Dengan tidak adanya elemen yang tergolong AukurangAy dan nilai ratarata melampaui batas kategori AubaikAy, maka hipotesis nol (HCA) ditolak dan hipotesis alternatif (HCA) diterima, yang menyatakan bahwa kualitas visual elemen perancangan kota dinilai baik secara signifikan oleh responden. SIMPULAN Kesimpulan berdasarkan hasil identifikasi dan analisis kualitas visual terhadap delapan elemen perancangan kota di kawasan Alun-Alun Kauman Semarang. Penilaian dilakukan melalui observasi lapangan dan penyebaran kuisioner kepada masyarakat. Secara umum, kawasan ini menunjukkan kualitas visual yang baik, dengan separuh elemen dinilai AubaikAy dan separuh lainnya AucukupAy. Elemen Tata Guna Lahan dinilai baik karena menunjukkan keragaman fungsi yang sesuai dengan pola ruang RDTRK. Bentuk dan Massa Bangunan juga memperoleh nilai baik karena harmonisasi antara arsitektur heritage dan Elemen Sirkulasi dan Parkir masuk kategori cukup akibat belum tertatanya parkir on-street dan kemacetan pada jam sibuk. Untuk elemen Ruang Terbuka, meskipun terdapat fasilitas penunjang, persepsi terhadap kenyamanan dan fungsionalitasnya masih terbatas, sehingga tergolong cukup. Penanda kawasan telah tersedia, namun aspek posisi dan keterbacaan masih kurang optimal. Jalur Pejalan Kaki juga masih terhambat oleh aktivitas informal dan hambatan fisik, terutama di sisi barat, sehingga turut dikategorikan Sebaliknya. Aktivitas Pendukung seperti perdagangan. PKL, dan transportasi publik dinilai sangat positif, menciptakan dinamika kawasan yang kuat. Terakhir, elemen Preservasi terhadap Masjid Agung Kauman dan Pasar Johar mendapat kategori baik, meskipun masih minim interpretasi sejarah secara visual. Secara keseluruhan, kawasan ini dinilai memiliki kualitas visual yang cukup baik, elemen-elemen berkontribusi terhadap karakter dan identitas ruang kota REFERENSI