PROFESI (Profesional Isla. : Media Publikasi Penelitian. Volume 22. No 1. Website: https://journals. id/index. php/profesi/ Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Fungsi Kognitif Pada Lansia Youshyda Novia Maharani1*. Ida Untari2. Siti Sarifah3 Di Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan ITS PKU Muhammadiyah Surakarta S1Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan ITS PKU Muhammadiyah Surakarta *email: youshydanovia@gmail. Kata Kunci: Abstrak Aktivitas Fisik. Fungsi Kognitif. Lansia Lansia merupakan keadaan yang ditandai dengan perubahan, diantaranya perubahan fungsi kognitif. Terlihat pada lansia yang mengalami gangguan orientasi, perhatian, konsentrasi, berpikir, mengingat, dan bahasa. Aktivitas fisik pemicu terjadinya penurunan fungsi kognitif. Penurunan fungsi kognitif terjadi ketika aktivitas fisik menurun, otak tidak terstimulasi dengan baik dan protein di otak menurun yang mengakibatkan kepikunan. Tujuan penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada Desain penelitian menggunakan metode korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi lansia di Posyandu Lansia Budi Sehat dengan teknik purposive sampling sejumlah 36 lansia. Data diperoleh menggunakan kuesioner PASE untuk mengukur aktivitas fisik dan MMSE untuk mengukur fungsi kognitif. Uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk dan analisa data korelasi Spearman Rank. Hasil ini adalah lansia dengan aktivitas kurang . ,4%) sebanyak 7 responden, aktivitas sedang . ,1%) sebanyak 13 responden, aktivitas baik . ,4%) sebanyak 16 responden. Lansia dengan gangguan fungsi kognitif berat . ,9%), gangguan fungsi kognitif ringan . ,6%) sebanyak 11 responden dan tidak ada gangguan kognitif . ,6%) sebanyak 20 responden. Ada hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia dengan nilai p-value 0,009<0,05, diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,427 berada pada kategori hubungan cukup. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia. The Relationship Between Physical Activity and Cognitive Function in the Elderly Keyword: Physical Activity. Cognitive Function. Elderly Abstract Elderly is a condition characterized by changes, including changes in cognitive function. It is seen in the elderly who experience impaired orientation, attention, concentration, thinking, memory, and Physical activity triggers a decrease in cognitive function. A decrease in cognitive function is occured when physical activity decreases, the brain is not stimulated properly and the protein in the brain decreases which results in dementia. This study aims to determine the relationship between physical activity and cognitive function in the elderly. The study design used a correlation method with a cross-sectional approach. The elderly population at the Budi PROFESI (Profesional Isla. : Media Publikasi Penelitian. Volume 22. No 1. Website: https://journals. id/index. php/profesi/ Sehat Elderly Posyandu with a purposive sampling technique was 36 Data were obtained using the PASE questionnaire to measure physical activity and MMSE to measure cognitive function. The normality test used Shapiro-Wilk and Spearman Rank correlation data analysis. Results this research was found that the elderly with less activity . 4%) were 7 respondents, moderate activity . were 13 respondents, good activity . 4%) were 16 respondents. Elderly with severe cognitive impairment . 9%), mild cognitive impairment . 6%) as many as 11 respondents and no cognitive impairment . 6%) as many as 20 respondents. There is a relationship between physical activity and cognitive function in the elderly with a p-value of 0. 009 <0. 05, a correlation coefficient value 427 is obtained in the category of sufficient relationship. Conclusion this research was there is a relationship between physical activity and cognitive function in the elderly. Pendahuluan Lansia atau lanjut usia ialah seorang yang dikaruniai umur panjang, dan sudah melewati tahap kehidupannya yaitu anak sampai World Health Organization (WHO) menyatakan lanjut usia merupakan seseorang yang berusia minimal 60 tahun dan jumlah lansia di seluruh dunia mengalami peningkatan pada tahun 2022 dan hampir disemua negara, terutama di Kawasan Asia Tenggara jumlahnya terus meningkat sekitar 8% atau 142 juta orang dan diperkirakan terus bertambah tiga kali lipat pada 2050 (Arlansyah & Sari, 2. Meningkatnya populasi lansia terutama di Indonesia, menjadikan meningkat pula potensi munculnya masalah kesehatan akibat proses penuaan yang membuat lansia tidak dapat hidup produktif, hal ini diperkuat oleh Kiik et . Penurunan fungsi kognitif, yang mengakibatkan perubahan struktur dan fungsi otak, adalah masalah kesehatan yang sering terjadi pada lanjut usia. Fungsi kognitif adalah proses kompleks dari otak manusia yang mencakup berbagai komponen seperti daya ingat, fungsi eksekutif, fungsi psikomotorik, persepsi, bahasa dan kosa kata, serta strategi berpikir melalui perhatian, perencanaan dan penalaran (Ajul et al. , 2021. Untari. Badan Pusat Statistik . menyebutkan sepuluh tahun terakhir, jumlah penduduk lansia di Indonesia telah meningkat dari 7,57% pada tahun 2012, menjadi 10,48% pada tahun Angka ini diperkirakan akan terus meningkatan hingga mencapai 19,9% pada Sedangkan prevelensi lansia di Provinsi Jawa Tengah tahun 2022, menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah . tercatat mencapai 4,86 juta jiwa dengan persentase 13,07% dari keseluruhan penduduk di Jawa Tengah. Berdasarkan kabupaten/kota provinsi Jawa Tengah tahun 2020-2035, proporsi lansia di Jawa Tengah akan terus mengalami peningkatan. Berdasarkan WHO . prevelensi angka kejadian gangguan kognitif pada lansia di dunia saat ini tinggi yaitu sebanyak 65,6 juta orang dan diperkirakan pada tahun 2030 sebanyak 75,6 juta orang dan 2050 sebanyak 135,4 juta orang. Sedangkan data prevalensi penurunan kemampuan fungsi kognitif pada lansia di Indonesia berada diangka 121 juta dengan presentase pada lanjut usia laki-laki 5,8% sedangkan pada lanjut usia perempuan 9,5%. Data tersebut menunjukan bahwa banyak lansia saat ini mengalami gangguan kognitif atau penurunan fungsi kognitif yang mungkin dapat mengakibatkan perubahan pada aspek lain. PROFESI (Profesional Isla. : Media Publikasi Penelitian. Volume 22. No 1. Website: https://journals. id/index. php/profesi/ Faktor penyebab penurunan fungsi kognitif menurut Manungkalit et al. antara lain akibat bertambahnya usia, gangguan fungsi fisik, kurangnya aktivitas, dukungan sosial yang kurang asupan nutrisi dan paparan radikal bebas yang berdampak pada timbulnya perubahan saat proses menua. Salah satu faktor yang paling umum dihadapi lansia dengan gangguan kognitif adalah keterbatasan orientasi terhadap waktu, ruang dan tempat, serta ketidkmampuan untuk menerima konsep dan ide baru. Penurunan fungsi kognitif merupakan masalah yang tidak dapat dihindari oleh lansia, namun dalam faktanya dapat dicegah (Putri, 2. Desa Karangpelem. Kedawung. Sragen. Peneliti melakukan wawancara dan menilai fungsi kognitif pada lima orang lansia dengan alat ukur kuesioner Mini Mental State Examination (MMSE) (Untari, 2. MMSE telah banyak digunakan selama lebih dari 30 tahun sebagai instrumen penyaringan untuk pengembangan gangguan kognitif. Hal ini terbukti sangat berguna dalam evaluasi delirium dan kortikal demensia seperti Alzheimer (AD). Namun, memang demikian kurang berguna dalam mendeteksi bentuk kognitif yang lebih ringan penurunan nilai seperti MCI, dan dalam evaluasi demensia frontal/subkortika. Hasilnya tiga lansia mengatakan tubuhnya mudah lelah jika melakukan aktivitas fisik, sehingga merasa malas saat berolahraga dan lebih memilih menonton TV dirumah, skor fungsi kognitif berada dibawah rata-rata normal, yang berarti lansia mengalami gangguan kognitif ringan. Ketika mereka ditanya hari ini hari apa dan tanggal lahirnya berapa, mereka tidak dapat mengingat, bahkan terkadang lupa nama anakanaknya sendiri. Sedangkan dua lansia sisanya didapatkan skor fungsi kognitif baik atau normal, saat diwawancara mengatakan sering melakukan aktivitas fisik seperti jalan-jalan pagi dan berkebun. Terdapat beberapa tindakan preventif menurunnya fungsi kognitif pada lansia, salah satunya melakukan aktivitas fisik. Aktivitas fisik pada lansia yang dimaksud adalah kegiatan sehari-hari seperti dalam hal bekerja, olahraga, kegiatan rumah tangga serta kegiatan lainnya. Aktivitas fisik mengacu pada gerakan tubuh yang dilakukan dengan otot tubuh untuk menghasilkan energi dan dapat mengurangi kemungkinan penurunan fungsi kognitif yang terkait dengan usia. Namun, sebagian lansia banyak yang mengurangi aktivitas fisiknya, karena saat memasuki usia lanjut sering mengalami kesulitan melakukan pergerakan fisik, karena merasa badannya sudah tidak sehat lagi. Faktanya, selama aktivitas fisik otak distimulasi untuk menghasilkan lebih banyak protein di otak yang disebut Brain Derived Neutrophic Factor (BDNF). Protein BDNF sangat penting untuk menjaga sel saraf tetap bugar dan sehat. Supriadi & Washudi . menyatakan kepikunan dapat terjadi karena tingkat BDNF yang rendah. Ada sebagian lanjut usia jarang melakukan aktivitas fisik bahkan ada yang sama sekali tidak melakukan aktivitas fisik sehingga ada lansia yang dengan gangguan atau penurunan fungsi kognitif, termasuk kehilangan ingatan serta lebih cenderung lupa. Berdasarkan latar belaang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan tujuan menganalisis hubungan aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada Metode Penelitian Rancangan penelitian ini menggunakan metode korelasi analitik untuk menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia dengan pendekatan cross Penelitian ini telah dilakukan uji 587/LPPM/ITS. PKU/XII/2023. Populasi pada penelitian ini adalah lansia yang tercatat di Posyandu Lansia Budi Sehat. Karangpelem. Kedawung. Sragen dengan total sampling yang bersedia mengikuti penelitian sebanyak Hasil dilaksanakan di Posyandu Lansia Budi Sehat. PROFESI (Profesional Isla. : Media Publikasi Penelitian. Volume 22. No 1. Website: https://journals. id/index. php/profesi/ 36 responden. Variabel independen adalah aktivitas fisik dinilai dengan kuesioner Physical Activities Scale for Elderly (PASE) sedangkan variabel dependen fungsi kognitif diukur dengan kuesioner Mini Mental State Examination (MMSE). Analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji Spearman Rank pada signifikansi 5%. berpendidikan terakhir SD dengan jumlah 20 responden . ,6%), mayoritas lansia pada penelitian ini tidak bekerja dengan jumlah 21 responden . ,3%), sebagian besar lansia pada penelitian ini tidak ada riwayat penyakit dengan jumlah 21 responden . ,3%). Pengumpulan sata terkait aktivitas fisik dalam penelitian ini, disajikan dalam kategori meliputi kurang, sedang, baik yang tersaji dalam tabel distribusi frekuensi berikut ini: Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Aktivitas Fisik Aktivitas Frekuensi Presentase Fisik . (%) Kurang Sedang Baik Total Hasil Karakteristik reponden pada penelitian ini disajikan dalam tebal meliputi usia, jenis tingkatpPendidikan, pekerjaan, riwayat penyakit dalam tabel Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Frekuensi Presentase Variabel (%) Usia (Tahu. >90 Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan SMP SMA Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Riwayat Penyakit Tidak Ada Hipertensi Asam Urat Diabetes Militus Gastritis Berdasakan hasil distribusi frekuensi pada tabel 2, menunjukan bahwa sebagian besar lansia dalam penelitian ini memiliki aktivitas fisik baik dengan jumlah 16 responden . ,4%). Adapun data terkait fungsi kognitif disajikan dalam kategori kurang, sedang, baik yang disajikan dalam tabel distribusi frekuensi Tabel 3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Fungsi Kognitif Frekuensi Presentase Fungsi Kognitif . (%) Gangguan Kognitif Berat Gangguan Kognitif Ringan Tidak Ada Gangguan Kognitif Total Berdasakan hasil distribusi frekuensi pada tabel 3, menunjukan bahwa sebagian besar lansia dalam penelitian ini tidak ada gangguan kognitif dengan jumlah 20 responden . ,6%). Berdasarkan pada tabel 1 menunjukan bahwa sebagaian besar lansia dalam penelitian ini berusia 60-74 tahun dengan jumlah 28 responden . ,8%), mayoritas berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 31 responden . ,1%), sebagian besar lansia Hasil uji prasyarat menggunakan Shapiro Wilk disajikan dalam tabel berikut: PROFESI (Profesional Isla. : Media Publikasi Penelitian. Volume 22. No 1. Website: https://journals. id/index. php/profesi/ Tabel 5. Uji Normalitas. Variabel Nilai p Aktivitas Fisik 0,004 Fungsi Kognitif 0,002 fisik biasanya semakin turun, sehingga fleksibilitasnya akan menurun. Usia adalah komponen yang berpengaruh terhadap fungsi kognitif lansia, semakin tua seorang lansia, menyebabkan kecepatan berfikir pusat saraf menurun, dan akan meningkatkan resiko mengalami gangguan fungsi kognitif. Responden perempuan sebanyak 31 responden . ,1%) sedangkan laki-laki sebanyak 5 responden . ,9%). Berdasarkan penelitian (Firdaus, 2. menyatakan bahwa fungsi kognitif perempuan menurun lebih cepat daripada lakilaki, karena perempuan kadar esterogen ditubuh saat menjelang menopause dan seterusnya akan mengalami penurunan, laki-laki sepenuhnya stabil pada setiap tahap perkembangan usia. Fungsi esterogen adalah dinding untuk mmpertahankan pembuluh darah dan menurunnya hormon esterogen akan menjadikan pelindung pembuluh darah diotak akan berkurang (Maulidia et al. , 2. Tingkat pendidikan responden mayoritas adalah tingkat SD sebanyak 20 responden . ,6%), tingkat SMP sebanyak 6 responden . ,6%), tingkat SMA sebanyak 5 responden . ,9%) dan tingkat pendidikan S1 sebanyak 5 responden . ,9%). Salah satu faktor penting dalam menangani masalah adalah tingkat pendidikan, karena semakin tinggi pendidikan seorang, semakin banyak pula pengalaman yang dihadapi. Serta semakin mudah menangkap informasi yang menjadikan bertambahnya pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya, tingkat pendidikan rendah akan menjadikan perkembangan fungsi kognitif terhadap penerimaan informasi yang diterima juga terhambat (Aulinia et al. , 2. Data pekerjaan responden mayoritas tidak bekerja sebanyak 21 responden . ,3%) dan bekerja 15 responden . ,7%). Pengalaman kerja seorang lansia berpengaruh terhadap aktivitas fisik dan fungsi kognitif. Pekerjaan dapat membantu melatih gerak tubuh dan melatih fungsi otak untuk terus melakukan aktivitas rutin, sehingga fungsi kognitif menjadi baik dan tidak terjadi penurunan (Ramli & Fadhillah . Keterangan <0,05 <0,05 Berdasarkan tabel 4. hasil uji normalitas menggunakan Shapiro wilk menghasilkan nilai aktivitas fisik 0,004<0,05 dan nilai fungsi 0,002<0,05, berdistribusi tidak normal. Hasil analisis bivariat dalam penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia menggunakan uji Spearman Rank sebai berikut: Tabel 6. Uji Spearman Rank Koefisien Nilai Berdasarkan tabel 6 uji Spearmen Rank menunjukan hasil p-value adalah 0,009 artinya p-value <0,05 yang memiliki arti Ho ditolak dan Ha diterima, dapat diambil kesimpulan ada hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia. Kekuatan korelasi hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif berada pada kategori hubungan cukup didapat nilai r 0,427 dan arah hubungan kedua variabel bernilai positif artinya semakin tinggi aktivitas fisik semakin tinggi fungsi kognitif atau semakin rendah aktivias fisik semakin rendah fungsi kognitif. Pembahasan Hasil analisis data dari frekuensi usia mayoritas responden berusia 60-74 tahun sejumlah 28 responden . ,8%), 75-90 tahun 6 responden . ,7%) dan usia 90 tahun keatas 2 orang . ,6%). Tubuhnya akan mengalami penuaan yang termasuk kehilangan kekuatan otot, perubahan jaringan organ tubuh serta terjadi penurunan fungsional tubuh. Sesar et meningkatnya usia, kemampuan beraktivitas PROFESI (Profesional Isla. : Media Publikasi Penelitian. Volume 22. No 1. Website: https://journals. id/index. php/profesi/ Riwayat penyakit lansia mayoritassehat atau tidak mempunyai riwayat penyakit sebanyak 21 responden . ,3%), tetapi ada juga yang memiliki Riwayat penyakit seperti Hipertensi sebanyak 6 responden . ,7%). Asam Urat sebanyak 2 responden . ,6%). Diabetes Militus sebanyak 4 responden . ,1%) dan Gastritis sebanyak 3 responden . ,3%). Usia lanjut sering mempunyai kasus riwayat penyakit yang banyak. Penurunan Cadangan fisiologis tubuh pada lansia akan meningkatkan resiko penyakit. Hasil pemeriksaan aktivitas fisik pada lansia menggunakan Kuesioner PASE (Physical Activity Scale for Elderl. diketahui sebagian besar lansia aktivitas fisiknya baik sebanyak 16 responden . ,4%), aktivitas fisik sedang sebanyak 13 responden . ,1%) dan aktivitas fisik kurang sebanyak 7 responden . ,4%). Hasil penelitiaan menunjukan sebagian besar responden hanya melakukan aktivitas dengan duduk seperti menonton TV, serta melakukan rumah tangga seperti menyapu, mengepel, mencuci pakaian, mencuci alat rumah tangga dan berkebun. Responden jarang mengerjakan aktivitas fisik seperti jalan pagi setiap pagi, olahraga dan Seseorang yang mempunyai aktivitas fisik kurang atau rendah akan mempercepat penurunnya fungsi kognitif. Sehingga melakukan aktivitas fisik dengan rutin sangat perlu untuk lansia mempertahankan fungsi otak guna menjaga aliran darah dan memberikan nutrisi otak secara optimal, sehingga dapat mengurangi resiko penurunan fungsi kognitif. (Dese & Wibowo, 2. Berdasarkan hasil pemeriksaan aktivitas fisik pada lansia dengan Kuesioner MMSE (Mini Mental State Examinatio. diketahui sebagian besar lansia normal tidak mengalami gangguan kognitif sebanyak 20 responden . ,6%), gangguan kognitif ringan sebanyak 11 responden . ,6%) dan gangguan kognitif berat 5 orang . ,9%). Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil mayoritas responden tidak mengalami gangguan kognitif, ditandai lansia masih dapat mengingat dengan baik, bisa menulis membaca, berhitung dan meniru gambar sederhana tetapi ada beberapa lansia yang tidak mampu mengikuti. Peneliti oleh Riani & Halim . menjelaskan fungsi kognitif ialah suatu proses yang mencakup semua sensori yaitu sentuhan, penglihatan serta pendengaran akan dapat diubah, dipergunakan sebagai penalaran. Beberapa faktor yang mempengaruhi fungsi kognitif antara lain usia, pendidikan dan aktivitas fisik. Hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif memiliki hubungan yang cukup dan bernilai positif dengan r hitung 0, 427, artinya semakin tinggi aktivitas fisik semakin tinggi fungsi kognitif atau semakin rendah aktivias fisik semakin rendah fungsi Hasil penelitian ini didukung oleh Cahyaningrum . terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia dengan nilai p-value 0,00<0,05. Hutahuruk et al. , . menunjukan terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi p-value 0,001<0,05. Melakukan aktivitas fisik secara rutin dapat mencegah penurunan fungsi Jika seorang lansia aktivitas fisiknya tidak dilakukan dengan teratur, aliran darah menuju otak akan turun dan otak mengalami kekukarangan oksigen. Aktivitas fisik adalah cara terbaik untuk mengoptimalkan aliran darah dan memberikan nutrisi ke otak (Argonita, 2. Sesuai dengan hasil analisis peneliti, menunjukan bahwa lansia di Posyandu Lansia Budi Sehat sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik baik dan tidak memiliki gangguan fungsi kognitif atau normal. Hal ini ditunjukan bahwa rata-rata lansia masih aktif melakukan rutinitas aktivitas rumah tangga sebagai contoh membersihkan rumah dengan menyapu, mengepel dan berkebun. Sedangkan responden yang memiliki aktivitas kurang dan sedang mempunyai gangguan fungsi kognitif ringan hingga ada yang berat. Kesimpulannya, jika responden mempunyai aktivitas fisik baik maka fungsi kognitif responden akan baik atau normal tidak ada gangguan, jika responden memiliki aktivitas fisik yang kurang dan sedang maka kualitas fungsi kognitif PROFESI (Profesional Isla. : Media Publikasi Penelitian. Volume 22. No 1. Website: https://journals. id/index. php/profesi/ responden akan terganggu. Hal tersebut didukung oleh penelitian Wahyuni dan Berawi . bahwa aktivitas fisik dan latihan fisik yang teratur dapat mengurangi resiko menurunnya fungsi kognitif pada usia. Arlansyah. , & Sari. Penerapan Terapi Senam Otak Terhadap Fungsi Kognitif Pada Pralansia Di Desa Bororejo Kelurahan Jagalan. Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan. :101Ae110. Aulinia. Budhiana. , & Wahyudi. Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Fungsi Kognitif Pada Lansia Di Kelurahan Nyomplong Wilayah Kerja Puskesmas Pabuaran Kota Sukabumi. Jurnal Kesehatan Panrita Husada. : 127Ae141. Badan Pusat Statistik. Statistik Penduduk Lanjut Usia 2022. https://w. id/publication/20 22/12/27/3752f1d1d9b41aa69be4c65 c/statistik-penduduk-lanjut-usia2022. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah. Profil Lansia Provinsi Jawa Tengah https://jateng. id/publication/2 023/08/25/b2eabd6ca0af55c7bc2815 58/profil-lansia-provinsi-jawatengah-2022. Cahyaningrum. Hubungan aktivitas fisik dengan fungsi kognitif Jurnal Surya Muda. : 2736. Dese. , & Wibowo. Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Fungsi Kognitif Lansia Di Panti Wredha Yayasan Sosial Salib Putih Salatiga. Jurnal Kesehatan Kusuma Husada. 137Ae143. Firdaus. Hubungan Usia. Jenis Kelamin dan Status Anemia dengan Fungsi Kognitif pada Lanjut Usia. Faletehan Health Journal. : 12Ae Kiik. Vanchapo. Elfrida. Nuwa. , & Sakinah. Effectiveness of Otago Exercise on Health Status and Risk of Fall Among Elderly with Chronic Illness. Jurnal Keperawatan Indonesia. : 15Ae Simpulan Hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang cukup kuat dan positif antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia. Semakin tinggi aktivitas fisik semakin tinggi fungsi kognitif atau semakin rendah aktivias fisik semakin rendah fungsi kognitif Kami memberikan saran bagi Posyandu Lansia Budi Sehat untuk meningkatkan lagi dorongan untuk beraktivitas fisik, contohnya sehari-hari melakukan pekerjaan rumah tangga, berjalan kaki, berkebun, senam dan lainnya. Serta perlu merangsang kemampuan kognitif pada lansia dengan games seperti mencocokan gambar atau foto, mengerjakan soal teka-teki dan membuat kerajinan tangan. Hal tersebut dapat dimanfaatkan kader posyandu untuk membina kesejahteraan lansia. Pendanaan Penelitian ini dilakukan oleh tim dengan pendanaan mandiri. Referensi