(Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kriste. Vol. No. Desember 2025 . e-ISSN 2614-3135 p-ISSN 2615-739X https://w. id/e-journal/index. php/kurios Tamu yang menjamu: Pembacaan subversif atas hospitalitas profetik dalam Lukas 11:37-45 Ridwan Henry Simamora Sekolah Tinggi Teologi Transformasi Indonesia. Manado Correspondence: simamora68@gmail. DOI: https://doi. 30995/kur. Article History Submitted: July 07, 2025 Reviewed: Sep. 24, 2025 Accepted: Dec. 31, 2025 Keywords: authenticity of faith. Luke 11:37Ae45. narrative theology. prophetic hospitality. ritual critique. autentisitas iman. hospitalitas profetik. kritik ritual. Lukas 11:37Ae45. teologi naratif Copyright: A2025. Authors. License: Abstract: This research offers a subversive reading of Luke 11:37Ae45 by interpreting the meal scene through the framework of prophetic hospitality. Hospitality is not treated merely as a social convention but as a theological space in which Jesus, invited as a guest, assumes a prophetic role that redefines purity, justice, and authentic faith. Employing a qualitative, library-based method with historical, narrative, and theological analyses, this study situates the pericope within the socio-religious context of first-century Judaism, in which table fellowship functioned as a marker of ritual purity and social boundaries. The analysis shows that JesusAo refusal to perform ritual handwashing constitutes a deliberate act that disrupts performative piety and exposes the tension between external observance and ethical responsibility. By transforming the hostAos table into a site of prophetic critique, the narrative unmasks institutional hypocrisy embedded in religious practice. This study contributes to Lukan scholarship by framing hospitality as a prophetic practice that calls for justice, integrity, and embodied faith, and offers critical implications for contemporary ecclesial life amid the challenges posed by performative religiosity in the digital era. Abstrak: Penelitian ini menawarkan pembacaan subversif terhadap Lukas 11:37-45 dengan menempatkan perikop jamuan makan dalam kerangka hospitalitas profetik. Hospitalitas dipahami bukan sekadar praktik sosial, melainkan ruang teologis di mana Yesus, meskipun hadir sebagai tamu, bertindak sebagai penjamu yang menafsir ulang makna kesucian, keadilan, dan iman yang autentik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan analisis historis, naratif, dan teologis, dengan mempertimbangkan konteks sosio-religius Yudaisme abad pertama yang menjadikan meja makan sebagai penanda kemurnian ritual dan batas sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa penolakan Yesus terhadap ritual pencucian tangan merupakan tindakan hospitalitas yang bersifat subversif dan profetik, yang menyingkap ketegangan antara kesalehan lahiriah dan tanggung jawab etis. Narasi ini membongkar formalisme religius yang menutupi ketidakadilan struktural. Secara teologis. Injil Lukas menampilkan hospitalitas sebagai praksis profetik yang menuntut keadilan, belas kasih, dan integritas moral. Implikasinya, gereja masa kini dipanggil untuk menata ulang ibadah dan persekutuan sebagai ruang perjumpaan iman yang autentik dan bertanggung jawab secara etis di tengah budaya religius yang semakin performatif di era digital. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 828 R. Simamora. Tamu yang menjamuA Pendahuluan Dalam dua dekade terakhir, transformasi digital telah mengubah lanskap ekspresi keagamaan secara fundamental. Media sosial telah menjadi arena baru di mana identitas religius diperlihatkan, dinilai, dan dilegitimasi. Sebagaimana ditemukan Campbell tentang otoritas religius di era digital, praktik ibadah kontemporer semakin berorientasi pada "performa estetis" ketimbang transformasi etis, di mana nilai spiritualitas diukur melalui visibilitas dan daya tarik visual konten keagamaan. 1 Di Indonesia, fenomena ini terlihat jelas dalam tren live streaming ibadah yang lebih menekankan produksi visual megah ketimbang partisipasi jemaat yang autentik,2 viralnya konten "doa singkat" yang dikonsumsi sebagai komoditas spiritual tanpa refleksi mendalam,3 serta munculnya influencer religius yang popularitasnya diukur dari jumlah pengikut ketimbang integritas kehidupan. Pola kesalehan performatif ini bukan fenomena baru. Ia menggemakan kritik Yesus terhadap kaum Farisi dalam Lukas 11:37-45, di mana ritual kesucian lahiriah menutupi kekosongan integritas moral dan ketidakpedulian terhadap keadilan. Namun, sejauh mana teks kuno ini dapat berbicara profetis terhadap fenomena kontemporer? Bagaimana narasi jamuan makan di rumah Farisi dapat menjadi lensa teologis untuk membaca ketegangan antara simbol religius dan substansi iman di era digital? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong penelitian ini untuk menafsir ulang perikop tersebut sebagai kerangka kritik terhadap performativitas religius masa kini. Kajian terhadap hospitalitas dalam Injil sering kali dibaca sebagai praktik etis yang mencerminkan nilai keramahan, penerimaan, dan relasi sosial dalam konteks budaya Mediterania Jamuan makan dalam masyarakat Yahudi abad pertama bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan praktik religius yang sarat makna teologis. 5 Peristiwa jamuan makan dalam Lukas 11:37-45 bukan sekadar catatan sosial atau etis, melainkan sebuah ruang teologis di mana hospitalitas berfungsi sebagai praksis profetik yang menyingkap ketegangan antara kesalehan ritual dan tuntutan keadilan dalam iman yang autentik. Dalam perikop ini. Yesus tampil sebagai tamu yang justru mengambil posisi profetik, membalik peran sosial, dan menginterupsi hospitalitas Farisi dengan kritik tajam terhadap kemunafikan religius. Dalam Injil Lukas, motif jamuan makan berulang kali hadir: dari perjamuan bersama pemungut cukai (Luk. 5:29-. hingga Perjamuan Terakhir (Luk. 22:14-. Melalui konteks ini, jamuan tidak hanya menjadi ruang solidaritas, tetapi juga medan konflik. Lukas 11:37-45 menampilkan dimensi yang unik: memperlihatkan bagaimana teguran Yesus terhadap kaum Farisi justru terjadi di meja makan, ruang yang semestinya intim dan harmonis. 6 Dengan demikian, teguran Yesus dalam perjamuan makan bukan sekadar percakapan sehari-hari, tetapi sebuah kritik profetis yang menggugat legitimasi religius sekaligus struktur sosial yang menopang kelompok Farisi. Heidi A. Campbell. Digital Creatives and the Rethinking of Religious Authority (New York: Routledge, 2. , 2 Thomas Schlag and Sabrina Myller, "Digital Communication as Theological Productivity in a Participatory Church 'For and With All': Empirical Insights and Ecclesiological Reflection," in Ecclesiology for a Digital Church. Heidi A. Campbell and John Dyer (London: SCM Press, 2. , 156-159. 3 Campbell. Digital Creatives, 92-95. 4 Schlag and Myller, "Digital Communication as Theological Productivity," 162-165. 5 Dennis E. Smith. From Symposium to Eucharist: The Banquet in the Early Christian World (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 21. 6 Dennis E. Smith. Meals in the Early Christian World: Social Formation. Experimentation, and Conflict at the Table, ed. Taussig (London: Palgrave Macmillan, 2. , 44-47. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 829 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 Paralel antara kritik Yesus terhadap ritualisme Farisi dan fenomena performativitas religius kontemporer semakin jelas ketika kita mempertimbangkan dinamika media digital. Schlag dan Myller dalam studinya tentang komunikasi digital dalam ekklesiologi menemukan bahwa Gereja-gereja kontemporer menghadapi paradoks: di satu sisi, teknologi digital membuka peluang partisipasi yang lebih luas. di sisi lain, ia menciptakan tekanan untuk memproduksi "kesalehan yang dapat dikonsumsi" . onsumable piet. 7 Ketika ibadah dirancang untuk ditonton daripada dialami, ketika khotbah diukur dari jumlah views ketimbang transformasi jemaat, gereja berisiko terjebak dalam pola yang sama dengan yang dikritik Yesus: kesalehan performatif yang kehilangan substansi profetis. Kajian-kajian sebelumnya cenderung menyoroti kritik Yesus terhadap legalisme atau etika Farisi,8 tanpa memberi perhatian memadai pada dimensi sosial-teologis jamuan makan sebagai locus konflik. Pao, misalnya, menyoroti keterkaitan erat antara praktik meja makan dan identitas gereja mula-mula. 9 Parihala menekankan perjamuan sebagai wujud misi Yesus yang membuka ruang bagi kelompok terpinggirkan,10 sementara Moore menafsirkan jamuan sebagai medium pembentukan budaya komunitas iman. 11 Arah kajian tersebut memperlihatkan nilai penting dari dimensi sosial dan eklesial jamuan, tetapi umumnya belum memberi perhatian pada kritik profetik Yesus yang muncul dalam Lukas 11:37-45. Namun, pendekatan tersebut sering kali belum memberi perhatian memadai pada hospitalitas sebagai kerangka teologis utama dan pada fungsi meja makan sebagai ruang kritik profetis. Padahal, narasi ini memperlihatkan bahwa hospitalitas dapat berfungsi sebagai praktik profetik yang aktif, bukan sekadar sarana inklusi sosial, melainkan mekanisme teologis untuk menyingkap ketidakadilan yang tersembunyi di balik ritual. Beberapa kajian-kajian terdahulu belum secara eksplisit menghubungkan kritik Yesus terhadap performativitas religius dengan fenomena serupa di era digital. Brueggemann, dalam karyanya tentang imajinasi profetis, menegaskan bahwa tugas profetik adalah membongkar "liturgi kerajaan" . oyal liturg. , yakni praktik ibadah yang berfungsi melegitimasi status quo ketimbang mentransformasi masyarakat. 12 Namun, aplikasi kerangka ini pada konteks digital belum dikembangkan secara memadai dalam studi biblis. Demikian pula, meskipun Campbell telah memetakan fenomena otoritas religius di ruang digital,13 belum ada upaya sistematis untuk membaca teks-teks biblis klasikAiseperti Lukas 11:37-45Aisebagai sumber teologis untuk mengkritisi fenomena tersebut. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini menawarkan pembacaan ulang terhadap Lukas 11:37-45 dengan menempatkan hospitalitas bukan sekadar sebagai nilai etis atau praktik sosial, melainkan sebagai locus kritik profetik yang menyingkap ketegangan antara kesalehan ritual dan keadilan Kerajaan AllahAibaik dalam struktur religius Yahudi abad pertama maupun dalam praktik gereja kontemporer di era digital. Fokus kajian ini adalah meSchlag and Myller, "Digital Communication as Theological Productivity," 168-171. Scott Spencer. Luke: Two Horizons New Testament Commentary (Grand Rapids: Eerdmans Publishing, 2. , 451-454. 9 David W. Pao, "Waiters or Preachers: Acts 6:1-7 and the Lukan Table Fellowship Motif," Journal of Bible Literature 130, no. : 127-144, at 135-138, https://doi. org/10. 2307/41304191. 10 Yohanes Parihala, "Making Mega-Space for Others: Towards Theology of Mega-Friendship from the Table Fellowship Story According to Luke 5:27-32," Verbum et Ecclesia 42, no. : 1-7. 11 Nicholas J. Moore, "Eating with Jesus and Luke," The Expository Times 134, no. : 426-427, https://doi. org/10. 1111/j. 12 Walter Brueggemann. The Prophetic Imagination: 40th Anniversary Edition (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 28-32. 13 Campbell. Digital Creatives, 15-45. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 830 R. Simamora. Tamu yang menjamuA nunjukkan bagaimana Yesus mentransformasi ruang hospitalitas menjadi arena konfrontasi profetis yang menegaskan bahwa iman sejati diwujudkan bukan dalam kepatuhan ritual semata, melainkan dalam keadilan, belas kasih, dan integritas moral. Dengan demikian, studi ini tidak hanya memperkaya pemahaman teologis atas Injil Lukas, tetapi juga menawarkan landasan reflektif bagi gereja masa kini dalam menanggapi tantangan religiositas performatif, khususnya dalam konteks transformasi digital yang semakin mengutamakan citra ketimbang substansi, visibilitas ketimbang transformasi, dan popularitas ketimbang integritas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kepustakaan, dengan teks Alkitab sebagai sumber primer dan literatur teologi sepuluh tahun terakhir sebagai sumber sekunder. Analisis dilakukan dalam tiga tahap: Analisis historis, untuk menyingkap latar sosio-religius masyarakat Yahudi abad pertama dan praktik jamuan makan sebagai penanda status dan identitas. 14 Analisis naratif, di mana teguran Yesus dipahami sebagai strategi literer Lukas untuk menyingkap konflik dengan para pemimpin agama (Luk. 11:37-. 15 Analisis teologis, yang menafsirkan teguran Yesus sebagai pesan profetik yang relevan bagi gereja masa kini, agar Injil dapat berbicara secara hidup di tengah dinamika budaya kontemporer, khususnya dalam menghadapi tantangan performativitas religius di era digital. Jamuan Makan sebagai Penanda Batas: Politik Kemurnian dalam Yudaisme Abad Pertama Kehidupan masyarakat Yahudi abad pertama tidak bisa dilepaskan dari ikatan erat antara agama dan budaya. Identitas sosial, politik, dan religius melebur dalam satu kesatuan, di mana hukum Taurat bukan hanya panduan spiritual, tetapi juga peta kehidupan sehari-hari. Inilah konteks perjumpaan Yesus dengan kaum Farisi di meja makan yang harus dipahami. Pertama, jamuan makan menjadi ruang sosial yang sarat makna. Bukan hanya makanan yang dibagi, melainkan juga kehormatan dan identitas. Siapa yang duduk bersama siapa, aturan kesucian yang dipatuhi, serta tata cara ritual yang dijalankan, semuanya mencerminkan status sosial dan religius seseorang. 17 Dalam Yudaisme periode Bait Kedua, praktik kemurnian seperti pembasuhan tangan berfungsi sebagai penanda identitas yang membedakan kelompok dan menjaga batas komunitas. Namun, bukti teks dan arkeologi menunjukkan praktik ini tidak seragam: tiap kelompok (Farisi. Saduki. Qumra. memiliki variasi, sementara Auhukum sebagai ideologiAy kerap lebih ketat daripada praktik populer dalam common Judaism. Kedua, kelompok Farisi memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola pikir religius masyarakat Yahudi. Mereka menekankan kesalehan melalui ketaatan hukum dan memperluas standar kekudusan imam ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ruang privat seperti meja makan pun menjadi arena penerapan hukum kesucian. Ketiga, latar sosial abad pertama ditandai oleh ketegangan antara kelompok religius. Farisi. Saduki. Zelot, dan kelompok-kelompok lain memiliki tafsir berbeda tentang bagaimana 14 Christy Cobb, "Preparing and Sharing the Table: The Invisibility of Women and Enslaved Domestic Workers in Luke's Last Supper," Review & Expositor 117, no. : 555-559, at 556-557, https://doi. org/10. 1177/0034637320972181. 15 Joel B. Green. Luke as Narrative Theologian: Texts and Topics (Tybingen: Mohr Siebeck, 2. , 33-47. 16 Ruben T. Luka and Danjuma L. Byang, "Contextual Theology and the Challenge of Globalization," Humanities and Social Sciences 12, no. : 229-235, at 231-233, https://doi. org/10. 11648/j. 17 David A. Fiensy. Christian Origins and the Ancient Economy (Grand Rapids: Eerdmans, 2. , 34. 18 Thomas Kazen. Impurity and Purification in Early Judaism and the Jesus Tradition (Atlanta: SBL Press, 2. , 19 Amy-Jill Levine dan Joseph Sievers, eds. The Pharisees (Grand Rapids: Eerdmans, 2. , 12. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 831 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 umat Israel harus hidup setia di bawah penjajahan Romawi. Farisi menekankan kesucian hukum, menonjol sebagai penjaga kemurnian ritual, baik dalam ranah publik maupun privat. Melalui praktik seperti persepuluhan, pencucian ritual, dan Torah lisan, mereka dipandang sebagai simbol kesalehan yang konsisten sekaligus berperan penting dalam membentuk identitas Yahudi menghadapi pengaruh dan dominasi asing. 20 Saduki lebih dekat pada aristokrasi imam dan Bait Allah, sedangkan kelompok eskatologis seperti Qumran menarik diri dari masyarakat umum. Situasi ini menciptakan kompetisi religius yang sering memengaruhi cara mereka menilai satu sama lain, termasuk bagaimana mereka menanggapi pengajaran Yesus. Keempat, di balik praktik ritual yang ketat, ada dimensi politik yang tersembunyi. Mengikuti aturan kesucian bukan hanya soal iman pribadi, tetapi juga perlawanan budaya terhadap pengaruh dunia Yunani-Romawi. Dengan menjaga kemurnian ritual, orang Yahudi meneguhkan jati diri mereka sebagai umat Allah yang berbeda dari bangsa lain. Dengan memahami latar sosio-religius ini, kita dapat memahami bahwa teguran Yesus di meja makan bukan hanya kritik personal, melainkan kritik terhadap sistem religius yang membatasi makna kesucian pada ritual lahiriah. Hospitalitas Profetik: Membongkar Performativitas Religius Dalam Injil Lukas, praktik hospitalitas ini sering kali menjadi arena konfrontasi teologis. Yesus tidak hanya hadir sebagai tamu dalam berbagai perjamuan, tetapi justru menggunakan ruang hospitalitas tersebut untuk menantang pemahaman religius yang mapan. Lukas menampilkan adegan-adegan jamuan makan sebagai lokasi strategis bagi pewartaan Injil, di mana relasi antara ritual, keadilan, dan iman diuji secara kritis. Misalnya. Wright menunjukkan bagaimana perjamuan Yesus dengan pemungut cukai dan orang berdosa dalam Lukas 5 menjadi sarana pengungkapan anugerah Allah yang menyingkapkan batas sempit religiusitas Farisi. Sedangkan. Gaines menegaskan bahwa praktik jamuan dalam Injil Lukas dipahami bukan hanya sebagai pertemuan sosial, melainkan sebagai sarana pembentukan iman komunitas Kristen awal. Salah satu narasi yang paling tajam adalah Lukas 11:37-45, ketika Yesus diundang makan oleh seorang Farisi. Dalam perikop ini, hospitalitas yang seharusnya menciptakan keakraban justru berubah menjadi arena kritik profetis. Pola duduk bukan sekadar cerminan hierarki, tetapi juga sarana pembentukan identitas dan pesan teologis. Yesus justru menantang norma tersebut sebagai tanda inklusivitas dan kerendahan hati. 25 Teguran Yesus dipahami sebagai tindakan profetik yang menegaskan bahwa iman sejati tidak diukur melalui simbol dan tampilan kesalehan, melainkan melalui integritas etis dan keberpihakan pada keadilan. Dalam konteks digital, hospitalitas profetik menjadi paradigma teologis untuk membongkar spiritualitas yang berorientasi pada citra dan legitimasi publik. Dengan demikian, teks ini berfungsi 83Ae84. Liebowitz. AuHypocrites or Pious Scholars?Ay Ed Parish Sanders. Jewish Law from Jesus to the Mishnah: Five Studies (Minneapolis: Fortress Press, 2. Martin Goodman. A History of Judaism: From Its Origins to the Present (Princeton: Princeton University Press, 2. , 77. 23 Kathryn Wright, "The Lord's Eating With Sinners in Luke 5," Journal of the Grace Evangelical Society 36, 70 . : 53-68. 24 Gaines, 'Taken. Blessed. Broken. Given," 5-7. Anna Rebecca Solevyug dan Marianne Bjelland Kartzow. AuThe Ideal Meal: Masculinity and Disability among Host and Guests in Luke,Ay Journal of Biblical Theology 53, no. : 272Ae282, https://doi. org/10. 1177/01461079231210850. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 832 R. Simamora. Tamu yang menjamuA membentuk kesadaran teologis gereja agar ibadah dan persekutuan tetap bersifat transformatif. Meja Makan sebagai Arena Konflik Simbolik Lukas mendeskripsikan satu adegan jamuan seorang Farisi mengundang Yesus untuk makan. Yesus masuk dan duduk di meja makan. Namun, tuan rumah terkejut karena Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan. Reaksi tuan rumah berfungsi sebagai kunci naratif Lukas, dengan memaparkan harapan sosio-religius yang dilanggar oleh Yesus. Lukas 11:37Ae38 menampilkan jamuan makan sebagai ruang teologis untuk membongkar legalisme ritual. Dengan menolak pencucian tangan. Yesus mengalihkan makna kemurnian dari batas ritual menuju dimensi moral yang inklusif. Tindakan Yesus yang menolak pencucian tangan seremonial sebelum makan . , menyingkap legalisme ritual serta kepalsuan religiositas Farisi. Secara historis, teguran ini sejalan dengan konfrontasi-Nya terhadap kelompok religius yang mengikat Taurat pada tradisi buatan manusia . Mrk. 7:1Ae. 26 Menurut Kazen, praktik kemurnian tidak terbatas pada Bait Allah atau kalangan elit imam, melainkan meluas ke dalam kehidupan domestik. Praktik seperti pembasuhan tangan, perendaman, dan penggunaan bejana batu berfungsi sebagai penanda sosial yang membedakan kelompok-kelompok tertentu sekaligus mengekspresikan komitmen religius mereka. 27 Kenyataannya, tuan rumah terkejut karena Yesus tidak mencuci tangan. Hal ini dapat dipahami bahwa sesuatu yang lebih besar daripada kebersihan fisik sedang diuji, yakni norma ritual yang menjaga batas-batas kelompok. Pembacaan ini sejalan dengan studi-studi kontemporer tentang fungsi meja dalam Lukas. jamuan sebagai penegasan identitas dan kontrol sosial28 Lukas menggunakan simbol-simbol kenajisan, misalnya, citra kuburan tak bertanda di 11:44, untuk menunjukkan bahwa AokenajisanAo dalam teks bukan hanya masalah higienis, melainkan efek moral. pemimpin yang mempertontonkan ketaatan ritual menularkan ketidakadilan secara tidak langsung. Dengan menempatkan dialog di meja makan, ruang intim, dan publik sekaligus. Lukas menegaskan bahwa apa yang tampak suci secara ritual dapat menyembunyikan ketidakadilan yang merusak komunitas. Argumen semacam ini mendapat dukungan literatur yang memetakan relasi antara simbol purity/impurity dan dinamika identitas sosial-keagamaan di periode Bait Allah Kedua. 29 Oleh karena itu, tindakan Autidak mencuciAy di 11:37Ae38 berfungsi sebagai elemen dramatik yang melukiskan perbedaan antara Aumeja FarisiAy . ang menegakkan bata. dan Aumeja YesusAy . ang menandai inklusi dan prioritas mora. Kritik terhadap Estetika Kesalehan: Metafora Cawan dan Pinggan Dalam Lukas 11: 39-41. Kritik Yesus terhadap Aucawan dan pingganAy mengungkap kemunafikan yang membersihkan lahiriah tetapi mengabaikan keadilan. Yesus menggunakan metafora cawan dan pinggan untuk mengkritik Farisi yang menekankan kemurnian lahiriah, namun mengabaikan keadilan dan integritas batin. Frasa Aumembersihkan bagian luarAy mendeskripsikan kepatuhan terhadap ritual kemurnian, sedangkan frasa Aupenuh rampasan dan kejahatanAy menyingkapkan isi hati yang dikendalikan oleh kerakusan dan ketidakadilan. Kritik ini tidak menolak praktik kebersihan ritual itu sendiri, tetapi mengungkapkan ketidakseimbangan antara lahiriah dan batiniah. Furstenberg menyoroti bahwa kritik Yesus adalah kritik terhaSolevyug dan Kartzow. Kazen. Impurity and PurificationA, 277. 28 Paula Owens Parker. AuLuke 5:1Ae11,Ay Interpretation: A Journal of Bible and Theology 74, no. : 68Ae70, https://doi. org/10. 1177/0020964319876584. 29 Gaines. AuTaken. Blessed. Broken. Given. Ay KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 833 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 dap obsesi ritualisme yang menutupi kebobrokan moral batin: Yesus membongkar bahaya keterikatan berlebihan pada ritual, di mana kemurnian lahiriah menjadi topeng bagi kerusakan 30 Menurut Kazen bahwa praktik kemurnian pada masa Yudaisme awal bukanlah sesuatu yang seragam, melainkan sangat bervariasi tergantung pada konteks sosial dan kelompok religius. 31 Pendapat Kazen juga didukung oleh Furstenberg, tradisi para tua-tua tentang cuci tangan sebelum makan yang diacu paralel di Matius 15 dan Markus 7, lebih tepat dipahami sebagai ketegangan antar-sekte ketimbang aturan Taurat eksplisit. dan di sinilah wajar jika Yesus menantang praktik yang membesar-kan simbol eksternal kemurnian sambil mengabaikan keadilan dan kasih Allah (Luk 11:. 32 Pendapat tersebut menjelaskan mengapa Yesus menentang standar Farisi yang cenderung mengabsolutkan ritual lahiriah sebagai tanda identitas, tetapi mengabaikan dimensi etis dan sosial. Lukas menekankan ketaatan yang nyata dalam solidaritas sosial, bukan sekadar ritual. Kritik ini menyingkap kemunafikan yang menjadikan simbol kesalehan sebagai topeng ketidakadilan. Lebih dari itu, kritik ini menurut Furstenberg masuk dalam wacana hukum sekte yang lebih luas, membuka bahwa kemurnian lahiriah menjadi topeng bagi kerusakan batin. Sedangkan Gaines menjelaskan bahwa Injil Lukas secara konsisten menghadirkan ketegangan antara simbol keagamaan dengan praksis etis. Yesus memindahkan pusat kesucian dari praktik ritual ke dalam relasi sosial yang penuh kasih, bukan sekedar dalam kepatuhan legalistik. Retorika Profetis: "Celakalah Kamu" sebagai Pembongkaran Sistemik Retorika profetis dalam Lukas 11: 42-44 merupakan tindakan Yesus dalam meneruskan tradisi nabi Israel yang menyerukan keadilan sebagai inti ibadah. Bagian ini muncul setelah konflik awal di meja makan . , yang sudah membongkar ketidakselarasan antara kebersihan ritual dan hati yang menyimpang. Ayat 42-44 menjadi eskalasi retoris, di mana Yesus menggunakan istilah Aucelakalah kamuAy sebagai serangan langsung terhadap religiositas Farisi. Dengan pola paralel. Lukas menampilkan progresi konflik, yakni dari keheranan tuan rumah sebagai kritik etika . ke konfrontasi profetis . Menurut Furstenberg. Lukas 11:42Ae44 bukanlah sekadar menyampaikan kritik moral yang bersifat umum, melainkan bagian dari wacana hukum sectarian, di mana Yesus menentang prioritas orang Farisi terhadap praktik-praktik ritual dibandingkan keadilan sosial dan kasih Allah. Yesus menggunakan kata AucelakalahAy . uai hymi. , yang menggemakan tradisi kenabian atau tradisi nubuat . Yes. 5:8Ae23. Am. Dalam retorika profetis. AucelakalahAy bukan sekedar tindakan emosional, melainkan ungkapan penghakiman ilahi terhadap sistem religius yang tampak saleh tetapi gagal mewujudkan keadilan. Dalam Theological Dictionary of the New Testament (TDNT) dijelaskan bahwa, kata a . bukan sekedar seruan emosional, melainkan formulasi profetis yang berakar pada tradisi nubuatan Israel. Dalam Septuaginta, ouai muncul dalam konteks nubuat penghukuman . isalnya: Yes. 5:8. Hab. 2:6-. , yang berfungsi untuk menyingkap dosa struktural dan ketidakadilan sosial. Seruan ini memuat nuansa ratapan sekaligus penghakiman ilahi terhadap umat atau pemimpin yang menyeleweng Yair Furstenberg. AuJesus against the Laws of the Pharisees: The Legal Woe Sayings and Second Temple Intersectarian Discourse,Ay Journal of Biblical Literature 139, no. : 769Ae788, https://doi. org/10. 15699/jbl. 31 Kazen. Impurity and PurificationA, 44Ae45. 32 Furstenberg. AuJesus against the Laws of the Pharisees. Ay 33 Furstenberg. 34 Gaines. AuTaken. Blessed. Broken. Given. 35 Furstenberg. AuJesus against the Laws of the Pharisees. Ay KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 834 R. Simamora. Tamu yang menjamuA dari kehendak Allah. 36 Ucapan Yesus dalam Lukas 11:42Ae44, secara konsisten digunakan untuk mengecam kemunafikan dan formalitas religius juga panggilan keras agar pendengar mengubah hidup dan menghadirkan keadilan sejati. Metafora Aukuburan tak bertandaAy . mengakar pada hukum kenajisan jenazah (Bil. , yakni menyentuh kubur menajiskan dan kubur tanpa tanda menajiskan tanpa disadari. Yesus menyatakan dugaan para pemuka sebagai sumber penularan kenajisan sosial dengan menormalisasi kemurnian simbolik yang menutupi ketidakadilan, mereka menajiskan komunitas yang berinteraksi dengan mereka tanpa sadar. 37 Wiarda menggarisbawahi bahwa metafora Aokuburan tak bertandaAo dipakai Lukas sebagai ironi naratif, yakni mereka yang seharusnya menjaga kesucian justru menyebarkan ketidakmurnian retorika yang jauh melampaui kritik moral sederhana. Reaksi yang Mengungkap Kritik Sistemik Narasi jamuan dalam Lukas bukan sekadar etika sopan santun, melainkan kritik teologis yang menyingkap komunitas Kerajaan Allah melampaui status sosial dan ritual lahiriah. Suasana jamuan bergeser dari keakraban menjadi konflik, menegaskan bahwa kehadiran Yesus mengguncang kenyamanan religius yang palsu dan berfokus pada pembongkaran struktur penindasan, bukan sekadar kesalahan individu. Ahli Taurat mengatakan. AuGuru, dengan berkata demikian. Engkau menghina kami jugaAy merupakan reaksi langsung terhadap tuduhan publik Yesus yang menuduh kepura-puraan dan prioritas ritual di atas keadilan. Perkataan ahli Taurat menegaskan bahwa kritik Yesus bersifat sistemik, menyinggung struktur otoritas religius, bukan hanya perilaku individu. Hal ini menandai momen eskalasi yang menurut pendapat Mashau disebut sebagai Aukritik naskahAy (JesusAo prophetic denunciatio. yang dikenali oleh wakil otoritas agama, sehingga konflik menjadi terbuka. 39 Praktik yang selama ini tersembunyi atau diberi legitimasi . isalnya ritual yang menutupi ketidakadila. , sehingga status dan kehormatan sosial para ahli Taurat dan pemimpin agama dipertaruhkan. Menurut Raz, dalam budaya Israel kuno, serangan publik terhadap reputasi adalah ancaman serius terhadap posisi Kritik Yesus yang menyingkap penggunaan aturan ritual sebagai sarana penindasan secara langsung mengancam legitimasi profesi dan otoritas para ahli Taurat. Oleh karena itu, respons defensif berupa pernyataan. AuEngkau menyinggung kami,Ay dapat dipahami sebagai upaya untuk mempertahankan otoritas tersebut. Penelitian mengenai peran para penulis . dan elit keagamaan menegaskan betapa rentannya status otoritatif ini terhadap tudingan penyalahgunaan kewenangan. 41 Kritik Yesus tidak hanya soal tindakan pribadi tetapi mengganggu sistem sosial . turan, akses ke penghormatan, distribusi sumber daya/keadila. Ketika praktik ritual disebut sebagai AutopengAy bagi ketidakadilan, posisi ahli Taurat sebagai 36 Gerhard Kittel dan Geoffrey W. Bromiley. Theological Dictionary of the New Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 459Ae460. 37 Kazen. Impurity and PurificationA, 304. 38 Timothy Wiarda. Interpreting Gospel Narratives: Scenes. People, and Theology (Nashville: B&H Academic, 2. , 112. 39 Thinandavha Derrick Mashu. AuBetween the Altar and the Sanctuary: Reimagining the Missional Church on a Reading of Luke 11:47Ae51 in the Context of the Israeli-Palestinian Conflict,Ay Mission Studies 42, no. 302Ae18, https://doi. org/10. 1163/15733831-12342030. 40 Yosefa Raz. The Poetics of Prophecy: Modern Afterlives of a Biblical Tradition (Cambridge: Cambridge University Press, 2. , 4. 41 Candida Moss. GodAos Ghostwriters: Enslaved Christians and the Making of the Bible (New York: Little. Brown and Company, 2. , 88Ae89. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 835 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 mediator norma menjadi dipertanyakan, dan mereka bereaksi karena konsekuensi strukturalnya nyata. 42 Itu sebabnya, keluhan ahli Taurat berfungsi sebagai isyarat lawan bicara yang memberi Yesus kesempatan untuk mengalihkan kecaman dari sekedar tuan rumah (Faris. ke lembaga hukum yang lebih luas . ara ahli Taura. Secara naratif, respons ini membuka pernyataan berikutnya (AucelakalahAy kepada ahli Taura. dan menegaskan bahwa kritik Yesus bersifat institusional, bukan sekedar pribadi. Bagian ini memperlihatkan bahwa kritik Yesus menggunakan strategi profetis yang bersifat ekspositori, mengungkapkan dan menantang struktur . ukan sekadar memperbaiki kebiasaan individ. Dengan kata lain, reaksi AutersinggungAy adalah indikator bahwa narasi Yesus menyasar pusat legitimasi religius dan bukan hanya penyimpangan moral minor. Peringatan terhadap Formalisme Ibadah tanpa Spiritualitas Sejati Pembacaan terhadap Lukas 11:37Ae45 dalam penelitian ini tidak berhenti pada kritik Yesus terhadap praktik ritual Farisi semata, melainkan diarahkan pada konstruksi teologis mengenai hospitalitas sebagai praksis profetik yang menantang logika kesalehan performatif. Secara teologis, tindakan Yesus sebagai Autamu yang menjamuAy mengungkap bahwa iman tidak diukur melalui kepatuhan simbolik atau tampilan religius, tetapi melalui keberpihakan etis pada keadilan dan kasih. Yesus tidak meniadakan tradisi, melainkan menyingkap reduksi ibadah menjadi formalisme yang kehilangan orientasi batiniah dan sosial. Dalam konteks ini, kritik Yesus bersifat profetis karena membongkar jurang antara kesalehan ritual dan keadilan konkret. Sintesis teologis dari perikop ini menunjukkan bahwa ibadah tidak dapat dipisahkan dari praksis etis. Sebagaimana ditegaskan oleh Bovon, teguran Yesus di meja makan menghubungkan relasi dengan Allah secara langsung, dengan tanggung jawab terhadap sesama. Meja makan berubah menjadi Aualtar sosialAy, yakni ruang di mana kehadiran Allah diukur bukan oleh kepatuhan ritual, tetapi oleh solidaritas dan integritas moral. 44 Spiritualitas sejati tidak dihasilkan oleh performa liturgis, melainkan oleh orientasi hidup yang berpihak pada keadilan dan belas kasih. Karena itu, teguran Yesus di meja makan harus dibaca sebagai peringatan terhadap formalisme ibadah yang kehilangan dimensi profetis. Ibadah sejati bukanlah ritual yang tertutup di ruang sakral, melainkan partisipasi dalam karya Allah yang membebaskan dan memulihkan relasi sosial. Dalam semangat pedagogi pembebasan, sebagaimana ditekankan oleh Herbst, praksis iman yang autentik harus membentuk kesadaran etis dan keberpihakan kepada yang tertindas. Implikasinya bagi gereja masa kini adalah kritik terhadap kecenderungan liturgi yang megah secara simbolik, tetapi tumpul secara profetis. Ketika ibadah direduksi menjadi estetika dan performa, gereja berisiko kehilangan daya transformatifnya. Mengikuti Brueggemann, fungsi profetik ibadah adalah membongkar narasi religius yang menopang ketidakadilan dan menghadirkan imajinasi alternatif tentang kehidupan bersama yang setia pada kehendak Allah. 46 Karena itu, gereja dipanggil menata ulang praksis ibadahnya agar tidak berhenti pada Mashu. AuBetween the Altar and the Sanctuary. Ay Raz. The Poetics of Prophecy. 44 Franyois Bovon. Luke 2: A Commentary on the Gospel of Luke 9:51Ae19:27, trans. Donald S. Deer, ed. Helmut Koester (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 355. 45 Jan Hendrik Herbst. AuCurrent and Future Potentials of Liberation Pedagogies,Ay Religions 14, no. https://doi. org/10. 3390/rel14020145. 46 Walter Brueggemann. The Prophetic Imagination, 40th Anniversary ed. (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 15Ae16. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 836 R. Simamora. Tamu yang menjamuA ritual sakral, tetapi menjadi partisipasi nyata dalam karya Allah yang memulihkan relasi Persekutuan sebagai Ruang Perjumpaan, bukan Sekadar Ritual Sintesis lanjutan dari Lukas 11:37-45 menegaskan bahwa kritik Yesus tidak hanya menyasar ibadah sebagai ritus, tetapi juga persekutuan sebagai struktur relasional. Meja makan dalam Injil Lukas berfungsi sebagai simbol pembentukan komunitas, di mana identitas iman dinegosiasikan dan ditampilkan. Dalam perikop ini. Yesus tidak terutama berupaya mengoreksi individu Farisi, melainkan mentransformasi paradigma religius yang mengukur kesucian melalui kepatuhan formal dan status sosial. Secara teologis, tindakan Yesus memperlihatkan bahwa persekutuan sejati dibangun di atas integritas hati dan relasi yang adil. Gaines menunjukkan bahwa adegan perjamuan merupakan sarana utama Yesus dan gereja awal membentuk budaya pengikut-Nya baik dalam misi, inklusi, maupun ekspresi teologi. Perjamuan dinilai sebagai ruang transformatif yang membentuk nilai, perilaku, dan relasi komunitas. 47 Dengan duduk makan bersama (Luk. Yesus justru menjadikan meja makan sebuah simbol persekutuan, sebagai ruang perjumpaan yang transformatif. Yesus mentransformasi makna ruang sosial meja makan, bukan terutama mengubah individu Farisi, tetapi paradigma religius yang mereka wakili. Transformasi ini memiliki makna teologis dimana: meja makan menjadi lambang persekutuan baru. kesucian diukur oleh integritas hati, bukan kepatuhan formal. Melalui tindakan profetis itu. Yesus menyingkap bentuk ibadah yang sejati ibadah yang membangun relasi, bukan sekadar memperlihatkan kesalehan. Disana. Ia tidak sekedar makan, tetapi membongkar kepalsuan sosial-religius. Implikasinya bagi gereja masa kini adalah bahwa persekutuan . tidak boleh direduksi menjadi kehadiran ritual atau aktivitas internal gereja. Mengacu pada Paulus . Kor. 10:16Ae. , persekutuan adalah partisipasi dalam hidup Kristus yang menuntut keterlibatan nyata dalam kehidupan sesama. Jika perjamuan hanya dipraktikkan secara formal, ia kehilangan daya formatifnya. Oleh karena itu, gereja dipanggil menjadikan persekutuan sebagai ruang publik yang terbuka bagi kritik profetis, pembentukan kesadaran etis, dan praksis keadilan sosial. Meja makan ini mengingatkan bahwa persekutuan sejati menuntut perubahan cara pandang: dari ritual ke relasi, dari eksklusivitas ke solidaritas. Yang ditransformasi adalah cara komunitas memahami dan mempraktikkan iman, agar kehadiran Allah nyata dalam kasih dan keadilan di tengah dunia. Dengan demikian, persekutuan Kristen masa kini juga dipanggil bukan hanya untuk AubertemuAy secara ritual, tetapi berani membuka ruang untuk kritik profetis yang menumbuhkan kesadaran etis. Autentisitas Iman di Era Transformasi Teknologi Sintesis akhir dari teguran Yesus di meja makan menemukan relevansi yang tajam dalam konteks transformasi teknologi dan budaya digital. Pola kesalehan yang dikritik Yesus yang bertumpu pada tampilan lahiriah beresonansi dengan spiritualitas performatif masa kini, di mana iman kerap diukur melalui citra, visibilitas, dan popularitas. Dalam ruang digital, ekspresi iman mudah terjebak pada representasi simbolik yang tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman relasi dengan Allah dan kepekaan sosial. Dalam konteks ini. Lukas 11:37-45 tidak hanya berfungsi sebagai teks moral, tetapi sebagai kritik teologis terhadap produksi kesalehan yang berorientasi pada pengakuan publik. Spiritualitas performatif baik dalam liturgi maupun ruang digital menjadi bentuk baru dari Gaines. AuTaken. Blessed. Broken. Given. Ay KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 837 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 formalisme religius yang dikritik Yesus, karena memisahkan simbol iman dari tanggung jawab etis yang nyata. Sebagaimana ditegaskan Brueggemann, tugas profetis iman adalah membuka topeng performa religius yang menutupi ketidakadilan. 48 Dengan demikian, kritik Yesus terhadap kesalehan lahiriah menjadi lensa teologis untuk menilai praksis iman di ruang Bagi gereja masa kini, ruang sosial dan digital dapat dipahami sebagai Aumeja-meja baruAy tempat identitas iman dipertaruhkan. Gereja dipanggil hadir secara profetis di ruang-ruang tersebut, bukan hanya dengan produksi konten rohani, tetapi dengan kesaksian hidup yang menegakkan integritas, solidaritas, dan keadilan. Dengan cara ini, iman Kristen tidak terjebak dalam religiositas performatif, melainkan tetap berakar pada hospitalitas profetik yang menghidupi Injil secara nyata di tengah dunia. KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa Lukas 11:37Ae45 menghadirkan adegan jamuan makan sebagai bentuk hospitalitas profetik yang subversif, di mana Yesus, meskipun hadir sebagai tamu, bertindak sebagai penjamu yang mentransformasi meja makan menjadi arena kritik teologis. Melalui pembacaan naratif-teologis, studi ini menunjukkan bahwa konflik di meja makan bukan sekadar persoalan etika pribadi atau legalisme Farisi, melainkan pembongkaran profetis terhadap sistem religius yang menyamarkan ketidakadilan melalui ritual lahiriah. Meja makan berfungsi sebagai locus konflik dan counter narrative yang menyingkap kontradiksi antara kesalehan simbolik dan tuntutan keadilan Allah. Berbeda dari pembacaan profetik yang menekankan imajinasi sosial atau kritik ritual secara umum, penelitian ini menegaskan hospitalitas sebagai mekanisme profetik aktif yang secara naratif digunakan Lukas untuk membongkar produksi legitimasi religius melalui performa kesalehan. Dengan demikian, kritik profetis Yesus di meja makan berfungsi sebagai paradigma teologis untuk membaca fenomena religiositas kontemporer, khususnya dalam konteks digital, di mana ekspresi iman kerap direduksi menjadi performa publik, citra visual, dan legitimasi simbolik. Referensi