e-ISSN:2827-9883 e-journal. id/index. php/talim fai@unmuhkupang. Volume 6, . Februari 2026 IMPLEMENTASI NILAI KARAKTER KERJASAMA DALAM PEMBINAAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER MELALUI KOLABORASI ANTAR LEMBAGA DI LINGKUNGAN YAYASAN PENDIDIKAN Eva Farkha Najwa. Dzawata Afnanin. Ririn Inayatul Mahfudho. Qomaruddin. Universitas Qomaruddin. Gresik. Email: evafarkhanajwan@gmail. Abstract This research is motivated by the importance of planting character values to students through extracurricular activities as part of character education in schools. Cooperation is not only understood as a concept, but needs to be built through direct experience in collective This study aims to describe the form of collaboration that wakes up in integrated extracurricular activities along with the supporting and inhibiting factors in its The research method used is a qualitative approach with the type of descriptive research. Data collection techniques are conducted through interviews, observations, and documentation by involving extracurricular activities and students. The results show that cooperation between extracurricular activities can work well due to the same guidance, intensive communication, and support from the school and foundational Collaborative activities provide space for students to learn to interact, share roles, and complete tasks together so that the character value of cooperation develops in a real However, the implementation of activities still faces obstacles, especially in adjusting schedules between activities. The conclusion of this study indicates that integrated extracurricular activities have a strategic role in forming studentsAo cooperation characters if supported by planned activity management and the synergy between educational Keywords: Implementation. Character Education. Cooperation. Integrated Extracurricular Activities. Students. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penanaman nilai karakter kerja sama pada peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler sebagai bagian dari pendidikan karakter di Kerja sama tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi perlu dibangun melalui pengalaman langsung dalam aktivitas kolektif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kerja sama yang terbangun dalam kegiatan ekstrakurikuler terpadu serta faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan melibatkan pembina ekstrakurikuler dan peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerja sama antar ekstrakurikuler dapat berjalan dengan baik karena adanya pembina yang sama, komunikasi yang intensif, serta dukungan dari pihak sekolah dan yayasan. Kegiatan kolaboratif memberikan ruang bagi peserta didik untuk belajar berinteraksi, berbagi peran, dan menyelesaikan tugas secara bersama sehingga nilai karakter kerja sama berkembang secara nyata. Namun demikian, pelaksanaan kegiatan masih menghadapi kendala, terutama dalam penyesuaian jadwal antar kegiatan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 kegiatan ekstrakurikuler terpadu memiliki peran strategis dalam membentuk karakter kerja sama peserta didik apabila didukung oleh manajemen kegiatan yang terencana dan sinergi antar lembaga pendidikan. Kata Kunci: Implementasi. Pendidikan Karakter. Kerjasama. Ekstrakurikuler Terpadu. Peseerta Didik PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu aspek penting yang berperan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan adanya pendidikan semua warga negara dapat mengembangkan seluruh potensi dan menambah wawasan yang dimilikinya sehingga dapat digunakan dalam membentuk negara yang kokoh dan berdaulat (Maryati et al. , 2. Keberhasilan bangsa dalam mencapai tujuan nasional tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam yang melimpah, akan tetapi juga ditentukan oleh sumber daya manusianya. Dalam kaitannya dengan pendidikan karakter, bangsa Indonesia sangat memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang besar dan bermutu untuk mendukung terlaksanannya program pembangunan dengan baik (Abidin, n. Pendidikan karakter bangsa adalah suatu upaya untuk membentuk nilai-nilai dan sikap positif pada generasi muda, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, gotong royong, dan cinta tanah air. Ini merupakan fondasi yang penting dalam membangun kepribadian yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat (NurAoaini, 2. Pendidikan karakter adalah suatu usaha manusia secara sadar dan terencana untuk mendidik dan memberdayakan potensi peserta didik guna membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya (Arianti et al. , 2. Pendidikan karakter merupakan salah satu prioritas utama dalam mengembangkan peserta didik, karena karakter menentukan perilaku, sikap dan pola interaksi seseorang dalam kehidupan sosial. Menurut Thomas Lickona dalam (Fitria, 2. pendidikan karakter adalah pendidikan yang bisa membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, dan nanti hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya. Kemendikbud menegaskan bahwa pembentukan karakter tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui aktivitas nonformal seperti kegiatan ekstrakurikuler. Dalam konteks tersebut, nilai kerjasama menjadi salah satu karakter penting yang perlu ditanamkan karena berhubungan dengan kemampuan bekerja dalam kelompok, saling membantu, serta membangun tanggung jawab bersama. Penelitian dari (Ramadhanti & Handayani, 2. menjelaskan karakter kerjasama dapat ditanamkan dan dikembangkan melalui berbagai macam kegiatan pendidikan salah satunya dengan kegiatan ekstrakurikuler. Melalui aktivitas yang menuntut interaksi dan koordinasi, peserta didik berlatih memahami peran masing-masing, untuk bisa melakukan komunikasi yang efektif, serta menyelesaikan tugas secara bersama-sama. Melalui penelitian berjudul AuPembentukan Karakter Kerja Sama Siswa Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler EntrepreneurAy, mereka menunjukkan bahwa kegiatan seperti praktik, seminar, lomba, dan kegiatan sosial mampu membentuk sikap menghargai, empati, dan solidaritas antar siswa. Para ahli pendidikan karakter seperti Lickona dalam (Wahyu Sudrajat, 2. menyebutkan bahwa kerjasama terbentuk melalui pembiasaan dalam aktivitas nyata yang melibatkan hubungan interpersonal dan tujuan bersama. Dengan demikian, pembinaan ekstrakulikuler menjadi sarana yang sangat potensial untuk menanamkan nilai karakter ini. Namun keberhasilan pembinaan tidak hanya ditentukan oleh peserta didik dan pembina saja, tetapi juga ditentukan oleh kolaborasi antar lembaga di dalam yayasan pendidikan. Lembaga TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 seperti sekolah, bagian kesiswaan, unit ekstrakurikuler, dan pengelola fasilitas pendidikan perlu memiliki koordinasi yang baik agar kegiatan berjalan terarah dan berkelanjutan. Berbeda dengan dua penelitian terdahulu, dalam (Ramadhanti & Handayani, 2. yang berjudul AuPembentukan Karakter Kerja Sama Siswa Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler EntrepreneurAy penelitian tersebut hanya menyoroti satu jenis kegiatan ekstrakurikuler di satu sekolah menengah atas dan belum membahas dimensi kolaborasi kelembagaan dalam pembinaan karakter siswa. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh (Wahyu Sudrajat, 2. menekankan peran kegiatan kepramukaan dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter di madrasah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kepramukaan menjadi sarana efektif pembentukan nilai tanggung jawab, kerja sama, dan disiplin melalui pembiasaan aktivitas sosial dan bimbingan pembina. Meskipun demikian, fokus penelitian tersebut masih berada pada tataran implementasi kegiatan di satu lembaga pendidikan, tanpa menelaah kerja sama antar unit atau lembaga dalam satu yayasan pendidikan. Penelitian ini memiliki kebaruan pada aspek ruang lingkup dan pendekatan. Penelitian ini menelaah implementasi nilai karakter kerja sama yang dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler terpadu dengan melibatkan kolaborasi antar lembaga di bawah satu yayasan pendidikan. Pendekatan ini tidak hanya melihat kegiatan siswa sebagai sarana pembentukan karakter, tetapi juga menyoroti peran sistem kelembagaan, koordinasi pembina, serta kebijakan pendidikan dalam memperkuat budaya kerja sama di lingkungan Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi baru terhadap pengembangan model pendidikan karakter berbasis kolaborasi lintas lembaga yang bersifat sistematis dan berkelanjutan. Secara khusus, rumusan masalah dalam penelitian ini mencakup: . Bagaimana penerapan nilai karakter kerja sama dalam kegiatan ekstrakurikuler di lingkungan yayasan . Bagaimana pola kerja sama dan kolaborasi yang terbentuk antar peserta didik serta antar lembaga dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler. Bagaimana peran pembina dan lembaga pendidikan dalam menanamkan serta membina nilai karakter kerja sama melalui kegiatan ekstrakurikuler. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi nilai karakter kerja sama antar kegiatan ekstrakurikuler. Bagaimana dampak kegiatan ekstrakurikuler terpadu terhadap pembentukan dan penguatan karakter kerja sama peserta didik. Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan memberikan gambaran nyata tentang . mendeskripsikan penerapan nilai karakter kerja sama dalam kegiatan ekstrakurikuler di lingkungan yayasan pendidikan. menganalisis pola kerja sama dan kolaborasi antar peserta didik dan antar lembaga dalam kegiatan ekstrakurikuler. mengidentifikasi peran pembina dan lembaga dalam membina serta menanamkan nilai kerja sama pada peserta didik. menjelaskan faktor pendukung dan penghambat implementasi nilai karakter kerja sama dalam kegiatan ekstrakurikuler terpadu. menelaah dampak kegiatan ekstrakurikuler terpadu terhadap pembentukan karakter kerja sama peserta Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam penguatan budaya kerjasama dan peningkatan kualitas program ekstrakurikuler di lingkungan yayasan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memahami dan mendeskripsikan secara mendalam pelaksanaan nilai karakter kerjasama dalam pembinaan kegiatan ekstra kurikuler melalui kolaborasi antar lembaga di lingkungan yayasan pendidikan. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini menekankan pada pemahaman proses, interaksi, serta makna kerjasama yang dibangun antar lembaga berdasarkan realita yang terjadi di lapangan. Pelaksanaan penelitian diawali dengan TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 penentuan fokus dan lokasi penelitian di lingkungan yayasan pendidikan yang memiliki keterlibatan aktif antar lembaga dalam pembinaan ekstrakurikuler. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Peneliti melakukan wawancara mendalam dengan waka kesiswaan dan pembina ekstrakurikuler. Analisis data dilakukan secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data diseleksi dan difokuskan sesuai tujuan penelitian, kemudian disajikan dalam uraian naratif. Kesimpulan ditarik berdasarkan pola dan makna yang muncul dari hasil analisis data. Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik Triangulasi. Dalam Triangulasi yang digunakan oleh peneliti adalah triangulasi teknik. Dalam penelitian (Ramadhanti & Handayani, 2. menjelaskan menurut (Sugiyono, 2. Triangulasi teknik berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang Peneliti menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara sinkron. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Nilai Karakter Kerjasama dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Nilai karakter kerjasama dalam kegiatan ekstrakurikuler di lingkungan yayasan pendidikan tampak diterapkan secara nyata melalui berbagai aktivitas bersama yang melibatkan peserta didik dari lebih satu lembaga. Kerjasama tidak hanya dipahami sebagai kegiatan bekerja bersama, tetapi juga tercermin dalam sikap saling membantu, berbagi peran, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang telah disepakati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler menjadi ruang bagi peserta didik untuk belajar bekerjasama secara langsung melalui pengalaman nyata, bukan sekadar melalui penyampaian materi di kelas, sebagaimana yang disampaikan oleh informan. AuImplementasi nilai karakter kerjasama terlihat dalam kegiatan kolaborasi antar ekstrakurikulerAAy AuNilai kerjasama dibentuk melalui kegiatan praktik yang menuntut koordinasi antarsiswaAy Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai karakter kerja sama telah diterapkan secara nyata dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler di lingkungan yayasan pendidikan. Kerja sama tidak hanya tampak dalam bentuk kegiatan kelompok, tetapi juga melalui sikap saling membantu, berbagi peran, dan tanggung jawab bersama terhadap tugas yang telah Dengan demikian, kegiatan ekstrakurikuler berfungsi sebagai ruang praktik langsung pembelajaran nilai karakter, bukan hanya wadah aktivitas tambahan semata. Sejalan dengan hasil temuan (Ramadhanti & Handayani, 2. yang menunjukkan bahwa Karakter kerja sama dapat ditanamkan dan dikembangkan melalui berbagai macam kegiatan pendidikan salah satunya dengan kegiatan ekstrakurikuler. Mereka menegaskan bahwa melalui kegiatan bersama yang melibatkan komunikasi, koordinasi, dan pemecahan masalah kelompok, peserta didik dapat mempraktikkan nilai-nilai kerja sama, empati, dan tanggung jawab sosial. Hal ini sejalan dengan pendapat Lickona . dalam penelitian (Hanifah et , 2. yang menyatakan bahwa karakter terbentuk melalui integrasi antara moral knowing, moral feeling, dan moral action. Kegiatan ekstrakurikuler memungkinkan siswa belajar kerja sama melalui tindakan nyata, bukan hanya pemahaman teoretis. Dalam situasi ini, peserta didik berinteraksi dengan rekan sebaya, memecahkan masalah bersama, dan membangun hubungan sosial yang memperkuat nilai kerja sama. TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 Dengan demikian, kegiatan ekstrakurikuler bukan sekadar tempat siswa belajar keterampilan atau ikut aktivitas sosial, tetapi juga menjadi wadah penting untuk menumbuhkan nilai kerjasama. Melalui pengalaman langsung, interaksi dengan teman, dan tanggung jawab terhadap peran masing-masing, siswa bisa belajar bagaimana bekerja sama dengan baik. Pola Kerjasama dan Kolaborasi Antar Peserta Didik dan Antar Lembaga Kerjasama yang terbangun dalam kegiatan ekstrakurikuler tidak berlangsung secara spontan, melainkan melalui pola kolaborasi yang jelas dan terarah. Peserta didik bekerja sama sesuai dengan peran dan tugas masing-masing, namun tetap berada dalam satu tujuan yang sama. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kolaborasi antar peserta didik dan antar lembaga dalam satu yayasan bersifat fungsional, di mana setiap kelompok memiliki tanggung jawab tertentu yang saling melengkapi satu sama lain, sebagaimana yang disampaikan oleh informan. AuPola kolaborasi yang muncul bersifat kolaborasi fungsional, yaitu peserta didik bekerja sama berdasarkan peran dan tugas masing-masing ekstrakurikuler. Ay AuKolaborasi dilakukan antara SMA dan SMK dalam satu yayasan melalui kegiatan PMR bersamaAy Dalam penelitian (Auliya et al. , 2. menjelaskan bahwa salah satu keterampilan sosial yang sangat penting untuk dikembangkan di kalangan siswa adalah kemampuan untuk bekerja sama atau berkolaborasi. Keterampilan kolaborasi merupakan salah satu bentuk social skill yang sangat penting dikembangkan pada peserta didik karena berperan dalam meningkatkan empati, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja dalam tim lintas latar belakang sosial dan akademik. Kolaborasi ini, jika diterapkan secara efektif, dapat memperkaya pengalaman belajar siswa, meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi, serta melatih mereka untuk menjadi individu yang lebih terbuka, empatik, dan siap bekerja dalam tim. Penelitian ini juga memperkuat temuan (Ramadhanti & Handayani, 2. bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi sebagai experiential learning environment, di mana nilainilai karakter seperti kerja sama dan tanggung jawab terbentuk melalui pengalaman langsung, bukan hanya pembelajaran teoretis di kelas. Secara keseluruhan, kerja sama yang terstruktur dan jelas antara siswa maupun antar lembaga menunjukkan bahwa kerjasama bisa dibangun secara sistematis. Setiap kelompok atau individu memiliki peran dan tanggung jawabnya sendiri, sehingga semua bisa ikut berkontribusi untuk mencapai tujuan bersama dan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler berperan strategis sebagai wadah pendidikan karakter yang berbasis pengalaman langsung. Nilai kerja sama tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan melalui praktik sosial yang menuntut interaksi nyata, tanggung jawab kelompok, dan empati antar individu. Proses ini menjadikan kegiatan ekstrakurikuler sebagai sarana penting dalam menanamkan nilai-nilai karakter yang berkelanjutan di lingkungan pendidikan. Peran Pembina dan Lembaga dalam Menanamkan Nilai Kerjasama TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 Pembentukan nilai karakter kerja sama dalam kegiatan ekstrakurikuler sangat dipengaruhi oleh peran aktif pembina dan dukungan dari pihak sekolah. Dalam kegiatan ekstrakurikuler tidak terlepas dari peran pembina dan dukungan lembaga pendidikan. Pembina memiliki peran penting dalam mengarahkan, membimbing, dan memberikan contoh kepada peserta didik agar mampu bekerja sama dengan baik. Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Syafrina et al. , 2. menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa, terutama nilai-nilai seperti tanggung jawab, disiplin, kejujuran, dan kerja sama. Nilai-nilai ini tidak muncul begitu saja, tetapi tumbuh melalui pengalaman langsung ketika siswa terlibat aktif dalam kegiatan kelompok dan belajar menghargai peran satu sama lain. Berdasarkan hasil penelitian, pembina tidak hanya berfungsi sebagai pengawas kegiatan, tetapi juga sebagai pendamping yang secara aktif menanamkan nilai kerjasama melalui materi, praktik kegiatan, serta pengelolaan dinamika kelompok, sebagimana yang disampaikan oleh informan. AuFaktor pendukung utama terlaksananya kerja sama adalah adanya kesamaan pembina atau fasilitator. Ay AuPembina membimbing siswa melalui materi kepemimpinan dan keorganisasian. Pembinaan dilakukan melalui kegiatan praktik yang menuntut interaksi dan koordinasiAy Berdasarkan hasil wawancara dengan informan menunjukkan bahwa peran pembina sangat dibutuhkan untuk memberikan bimbingan kepada siswa dan pembina telah menunjukkan sikap kepemimpinan tersebut. Hal ini sejalan dengan temuan (Lala & Rohyana, 2. bahwa pendidikan karakter yang efektif membutuhkan figur otoritas yang konsisten dalam nilai dan tindakan. Selain peran pembina, dukungan dari lembaga pendidikan juga tidak kalah penting. Sekolah perlu menyediakan wadah kegiatan yang mendorong kolaborasi, misalnya dengan mengadakan program ekstrakurikuler yang beragam dan menarik. Dengan kata lain, pembina dan lembaga memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan nilai kerjasama. Pembina tidak hanya mengawasi kegiatan, tetapi juga memberi contoh, membimbing, dan memfasilitasi siswa agar mereka bisa bekerja sama secara aktif dan konsisten. Ketika keduanya berjalan seimbang, nilai kerja sama akan tertanam kuat dalam diri siswa, tidak hanya selama kegiatan ekstrakurikuler, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan membangun nilai kerja sama lewat kegiatan ekstrakurikuler sangat bergantung pada kerja sama antara pembina dan pihak sekolah. Pembina berperan sebagai panutan yang memberi contoh dan membimbing siswa secara langsung, sementara sekolah menyediakan dukungan dan fasilitas agar kegiatan bisa berjalan baik. Jika keduanya saling mendukung, siswa akan terbiasa bekerja sama, saling menghargai, dan menerapkan nilai-nilai tersebut tidak hanya di sekolah, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Nilai Karakter Kerjasama Pelaksanaan kerja sama dalam kegiatan ekstrakurikuler terpadu dapat berjalan dengan baik karena adanya pembina atau fasilitator yang sama di kedua lembaga. Kesamaan pembina ini memudahkan proses komunikasi dan koordinasi antar kegiatan. Pembina yang sudah saling mengenal umumnya memiliki pemahaman yang sejalan mengenai tujuan TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 pembinaan, sehingga perencanaan kegiatan bisa dilakukan dengan lebih terarah tanpa banyak penyesuaian. Hubungan yang sudah terbangun dengan baik antar pembina juga membuat kerja sama antarkegiatan terasa lebih lancar. Selain itu, kolaborasi antar ekstrakurikuler memungkinkan pemanfaatan sarana dan prasarana secara bersama, sehingga pelaksanaan kegiatan menjadi lebih efisien. Peserta didik juga akan terbiasa bekerja dalam kelompok yang anggotanya berasal dari ekstrakurikuler yang berbeda. Melalui situasi ini, nilai karakter kerja sama dapat berkembang karena peserta didik belajar berinteraksi, berkomunikasi, dan menyelesaikan tugas secara bersama-sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlangsungan kerja sama antar ekstrakurikuler sangat dipengaruhi oleh dukungan dari pihak sekolah dan yayasan. Sekolah memberikan ruang, izin, serta kebijakan yang mendorong terlaksananya kegiatan Dukungan tersebut diberikan karena kegiatan bersama dinilai mampu menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik, terutama sikap kerja sama dan rasa tanggung jawab, sebagaimana yang disampaikan oleh informan. AuKesamaan pembina memudahkan komunikasi dan koordinasi, dengan adanya sarana dan prasarana antar lembaga dapat membantu saling melengkapiAy AuKolaborasi membantu kelancaran kegiatan dan meningkatkan keterampilan siswaAy Di sisi lain, pelaksanaan kerja sama antar ekstrakurikuler juga menghadapi sejumlah Hambatan yang paling sering muncul adalah kesulitan dalam menentukan waktu Perbedaan jadwal antar lembaga kerap membuat kegiatan harus disesuaikan kembali, bahkan tidak jarang mengalami penundaan, sebagaimana yang disampaikan oleh AuKendala utamanya berupa kesulitan penentuan waktu pelaksanaan kegiatan akibat perbedaan jadwal antar lembaga. Ay AuBenturan jadwal dengan agenda sekolah, menjadikan kurangnya keaktifan sebagian peserta didikAy Hal ini sejalan dengan pendapat E. Mulyasa . dalam penelitian (Makassar et , 2. menyatakan bahwa kualitas sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam keberhasilan program ekstrakurikuler, hal ini terjadi karena manajemen program yang kurang terencana, terutama dalam hal penjadwalan, dapat menghambat keberhasilan kegiatan pendidikan karakter. Benturan jadwal sering membuat kegiatan tertunda atau tidak berjalan maksimal. Secara keseluruhan, kerja sama antar ekstrakurikuler memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter peserta didik, khususnya dalam hal kerja sama dan tanggung Kesamaan pembina, komunikasi yang terjalin dengan baik, serta dukungan dari sekolah dan yayasan menjadi faktor utama yang membuat kolaborasi ini dapat berjalan dengan lancar. Namun demikian, hambatan berupa benturan jadwal masih menjadi tantangan yang perlu diperhatikan. Tanpa pengelolaan waktu yang matang, kegiatan berpotensi tertunda atau tidak berjalan maksimal. Oleh karena itu, perencanaan dan koordinasi yang lebih baik sangat dibutuhkan agar kerja sama antar ekstrakurikuler dapat berlangsung lebih efektif dan berkelanjutan. TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 Dengan demikian, adanya pembina yang sama membuat komunikasi dan koordinasi jadi lebih mudah, sementara dukungan dari sekolah dan yayasan membantu kegiatan berjalan lancar lewat penyediaan fasilitas dan kebijakan yang mendukung. Meski begitu, masalah perbedaan jadwal masih sering jadi kendala dan perlu diatasi dengan perencanaan yang lebih baik. Kalau semua pihak bisa bekerja sama dengan teratur, kegiatan ekstrakurikuler tidak hanya akan berjalan lebih efektif, tapi juga membantu siswa belajar tanggung jawab, saling menghargai, dan bekerja sama dengan orang lain. Dampak Kegiatan Ekstrakurikuler Terpadu terhadap Karakter Kerjasama Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler terpadu memberikan dampak yang signifikan terhadap pembentukan karakter kerjasama peserta didik. Nilai karakter kerja sama tidak selalu diajarkan secara langsung, peserta didik belajar melalui pengalaman selama mengikuti kegiatan bersama. Mereka belajar berbagi tugas, saling membantu, serta menyesuaikan diri dengan teman dari ekstrakurikuler lain. Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan kolaboratif, peserta didik memperoleh pengalaman sosial yang berkontribusi pada perkembangan sikap dan perilaku kerjasama. Berdasarkan hasil penelitian, dampak tersebut dapat dilihat dari perubahan sikap peserta didik dalam aspek tanggung jawab, komunikasi, kepedulian sosial, dan kemampuan bekerja dalam tim, sebagaimana yang disampaikan oleh AuProgram berdampak pada terbentuknya sikap kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggung jawabAy AuAdanya perubahan sikap siswa menjadi lebih peduli dan bertanggung jawabAy Hal ini sejalan dengan pendapat Thomas lickona dalam penelitian (Hrp et al. , 2. bahwa karakter yang baik terbentuk melalui integrasi antara pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Program ekstrakurikuler terpadu memfasilitasi ketiga aspek tersebut karena peserta didik tidak hanya mengetahui pentingnya kerja sama, tetapi juga merasakan manfaatnya dan membiasakannya dalam tindakan nyata. Secara keseluruhan, program ekstrakurikuler terpadu membantu membentuk karakter kerja sama peserta didik melalui pengalaman langsung dalam kegiatan kolaboratif. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik tidak hanya memahami pentingnya kerja sama, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Berdasarkan uraian tersebut, terlihat bahwa kegiatan ekstrakurikuler terpadu benarbenar memberi pengaruh pada terbentuknya sikap kerja sama peserta didik. Nilai kerja sama tumbuh secara alami karena siswa mengalaminya langsung dalam kegiatan bersama, bukan sekadar memahaminya secara teori. Melalui proses ini, siswa menjadi lebih terbiasa bertanggung jawab, mampu berkomunikasi dengan baik, dan memiliki kepedulian terhadap orang lain, sehingga sikap kerja sama berkembang sebagai bagian dari kebiasaan mereka dalam kehidupan sehari-hari. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa sikap kerja sama pada peserta didik tidak muncul begitu saja, tetapi tumbuh melalui proses pembinaan yang dirancang dengan baik dalam kegiatan ekstrakurikuler. Melalui keterlibatan langsung dalam berbagai aktivitas bersama, siswa belajar berinteraksi, berbagi tanggung jawab, dan saling membantu untuk mencapai tujuan kelompok. Nilai kerja sama bukan hasil dari pengajaran teoritis, melainkan TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 berkembang secara alami dari pengalaman sosial yang mereka jalani, dengan dukungan pembina yang aktif, komunikasi yang terjalin baik, serta kebijakan lembaga pendidikan yang mendorong kolaborasi. Dari sisi teori, hasil penelitian ini memperkuat pandangan bahwa pendidikan karakter yang efektif harus berbasis pada pengalaman nyata . xperiential character Pembentukan karakter moral dan sosial tidak cukup hanya melalui penyampaian nilai, tetapi harus dihidupkan melalui tindakan nyata dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Kerja sama antara pembina, peserta didik, dan pihak sekolah menjadi dasar penting dalam menumbuhkan budaya kerja sama yang konsisten dan berkelanjutan. Kegiatan ekstrakurikuler terpadu memiliki peran penting dalam memperkuat karakter kerja sama karena mampu menggabungkan unsur pengetahuan, perasaan, dan tindakan moral siswa. Dengan pengelolaan yang baik dan dukungan kolaborasi antar lembaga, kegiatan semacam ini dapat menciptakan lingkungan belajar yang terbuka, partisipatif, dan mendukung terbentuknya karakter sosial yang kuat di kalangan peserta DAFTAR PUSTAKA