Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Evaluasi Pelaksanaan Kebijakan Program Guru Penggerak dalam Meningkatkan Mutu Guru di SMPN 42 Pekanbaru Muhammad Adam Subhan1. Rayendra2. Novrianti3. Mutiara Felicita Amsal4 1, 2, 3, 4 Universitas Negeri Padang Email: adamsbhn2406@gmail. Abstrak Peningkatan mutu guru merupakan kebutuhan strategis dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21, terlebih dalam konteks kebijakan Merdeka Belajar yang menempatkan guru sebagai penggerak perubahan. Salah satu program unggulan Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi adalah Program Guru Penggerak, yang bertujuan menciptakan pemimpin pembelajaran berdaya ubah dan Namun demikian, sejauh mana program ini benar-benar menjawab kebutuhan peningkatan mutu guru di tingkat satuan pendidikan belum banyak dikaji secara mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan kebijakan Program Guru Penggerak di SMPN 42 Pekanbaru melalui pendekatan model CIPP (Context. Input. Process. Produc. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas satu kepala sekolah, enam guru penggerak, dan tiga guru non penggerak. Model evaluasi CIPP digunakan untuk menilai secara sistematis empat aspek utama: kebutuhan dan latar belakang program . , kesiapan sumber daya dan perencanaan . , pelaksanaan kegiatan dan dinamika proses . , serta hasil dan dampaknya terhadap peningkatan mutu guru . Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Guru Penggerak di SMPN 42 Pekanbaru telah menjawab kebutuhan sekolah dalam meningkatkan kompetensi guru. Secara kontekstual, program ini selaras dengan visi sekolah dan kebutuhan profesionalisme guru. Sumber daya manusia cukup mendukung meskipun sarana prasarana digital masih terbatas. Pelaksanaan program berjalan efektif dengan partisipasi aktif guru, meskipun monitoring eksternal belum maksimal. Dampak program terlihat pada perubahan strategi mengajar, meningkatnya refleksi guru, dan mulai terbentuknya budaya kolaboratif. Namun demikian, pengimbasan masih belum sepenuhnya Oleh karena itu, perlu strategi lanjutan untuk memastikan keberlanjutan dan pelembagaan dampak program secara menyeluruh. Kata Kunci: Program Guru Penggerak. Evaluasi CIPP. Mutu Guru. Merdeka Belajar. SMPN 42 Pekanbaru PENDAHULUAN Pendidikan merupakan proses sadar dan terencana yang bertujuan mengembangkan potensi peserta didik secara optimal, baik secara spiritual, intelektual, sosial, maupun keterampilan hidup (Indonesia, 2. Dalam praktiknya, pendidikan tidak hanya sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai pengalaman yang membentuk kepribadian dan kesadaran peserta didik terhadap potensi diri (Suriansyah, 2. Di era transformasi digital saat ini, pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kemajuan bangsa, terutama dalam mendorong lahirnya generasi yang inovatif dan adaptif terhadap perubahan zaman. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Sebagai bagian dari reformasi pendidikan nasional, kebijakan Merdeka Belajar diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi untuk menghadapi tantangan Revolusi Industri 4. Salah satu program unggulannya adalah Program Guru Penggerak (PGP), yang bertujuan melahirkan pemimpin pembelajaran yang mampu membangun budaya positif dan komunitas belajar yang berkelanjutan (Savitri, 2. Program ini diatur dalam Permendikbudristek No. 26 Tahun 2022 dan diperbarui melalui Permendikbudristek No. 52 Tahun 2023 serta No. 40 Tahun 2024. Dalam implementasinya. PGP memberikan ruang refleksi, pembelajaran, dan penguatan karakter bagi guru agar dapat menjadi agen transformasi di sekolah dan masyarakat. Peran guru sebagai penggerak perubahan menuntut pergeseran paradigma: dari peran sebagai pusat informasi . eacher-centere. menuju fasilitator pembelajaran yang mendorong kemandirian dan partisipasi aktif siswa (Rayendra, 2. Oleh karena itu, pengembangan sumber daya manusia guru harus membuka ruang bagi mereka untuk mengekspresikan diri, mengembangkan potensi sesuai minat dan kondisi sekolah masing-masing (Rayendra, 2. Hal ini juga menuntut kepala sekolah untuk menjalankan kepemimpinan yang partisipatif dan kolaboratif agar tercipta sinergi antara harapan, proses, dan hasil pembelajaran (Rayendra & Amsal, 2. Dalam konteks ini. Program Guru Penggerak tidak hanya mendukung transformasi guru secara personal, tetapi juga membentuk ekosistem pendidikan yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berpihak pada murid (Fatimatuzzahroh & Zumrotun, 2. Program ini secara eksplisit diarahkan untuk memperkuat kompetensi guru dalam dimensi pedagogik, sosial, kepribadian, profesional, serta kepemimpinan pembelajaran (Hendri, 2020. Tangahu. Tujuan akhirnya adalah melahirkan guru yang mampu menanamkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dan membangun pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik zaman (Kurniawaty et al. , 2022. Nafiah & Dafit, 2. Namun, implementasi program ini di tingkat satuan pendidikan menghadapi sejumlah Sodik . mengungkapkan bahwa keterbatasan sarana prasarana, tingginya biaya pendidikan, serta rendahnya literasi digital di kalangan guru masih menjadi hambatan serius dalam menciptakan sistem pembelajaran yang adaptif. Selain itu, belum semua guru mampu menerapkan pembelajaran yang kontekstual dan berpihak pada murid secara SMPN 42 Pekanbaru merupakan salah satu sekolah yang telah mengikuti Program Guru Penggerak, dengan enam guru aktif terlibat dan membentuk komunitas belajar. Meski demikian, belum ada evaluasi akademik yang sistematis mengenai efektivitas pelaksanaan program ini dalam meningkatkan mutu guru. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan Program Guru Penggerak di SMPN 42 Pekanbaru dengan menggunakan model evaluasi CIPP (Context. Input. Process. Produc. Evaluasi ini penting untuk menilai efektivitas, mengidentifikasi tantangan, serta memberikan rekomendasi tindak lanjut dalam peningkatan mutu pendidikan di tingkat sekolah. METODE Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan model evaluasi CIPP (Context. Input. Process. Produc. yang dikembangkan oleh Stufflebeam. Model ini dipilih karena mampu memberikan gambaran menyeluruh mengenai kebutuhan, pelaksanaan, hingga hasil suatu program. Fokus penelitian ini adalah mengevaluasi pelaksanaan kebijakan Program Guru Penggerak dalam meningkatkan mutu guru di SMPN 42 Pekanbaru. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara semiterstruktur, dan studi dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas satu kepala sekolah, enam guru penggerak, dan tiga guru non penggerak, yang dipilih secara purposive sampling berdasarkan keterlibatannya dalam program. Observasi digunakan untuk merekam aktivitas guru penggerak di kelas dan lingkungan sekolah, sedangkan wawancara digunakan untuk menggali persepsi, pengalaman, dan refleksi para informan. Dokumentasi yang dikumpulkan meliputi laporan kegiatan, kondisi pelatihan, dan produk-produk refleksi dari guru penggerak. Data dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan Menurut Miles & Huberman . validitas data diperoleh melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Keandalan temuan dijaga dengan pencatatan rinci selama observasi serta pengkodean tematik berdasarkan aspek CIPP. Dengan pendekatan ini, diharapkan hasil penelitian dapat memberikan gambaran yang akurat dan mendalam terhadap efektivitas implementasi Program Guru Penggerak di satuan pendidikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Aspek Context Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pelaksanaan Program Guru Penggerak (PGP) di SMPN 42 Pekanbaru relevan dengan kebutuhan pengembangan mutu guru. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah dan guru penggerak, diketahui bahwa masih banyak guru yang memerlukan penguatan dalam kompetensi reflektif, inovatif, dan kolaboratif. Ibu Hj. Misrawati. Pd. M selaku kepala sekolah SMPN 42 Pekanbaru menyatakan bahwa Auguru harus diberi ruang untuk berkembang, bukan hanya memenuhi beban kerja. Ay Hal ini sejalan dengan semangat Program Guru Penggerak yang bertujuan melahirkan pemimpin Selain itu, program ini selaras dengan visi sekolah untuk membangun budaya pembelajaran yang partisipatif dan berkelanjutan. Secara substansial. Program Guru Penggerak dipandang sangat relevan dengan kondisi nyata di sekolah. Sebagian besar guru di SMPN 42 Pekanbaru menunjukkan kebutuhan untuk mengembangkan kompetensi pedagogik, kemampuan coaching, serta keterampilan dalam asesmen formatif dan pembelajaran berdiferensiasi. Guru penggerak yang diwawancarai menyebutkan bahwa motivasi mereka mengikuti program muncul dari rasa stagnasi dalam metode mengajar. Salah satu guru penggerak menyatakan. AuSaya ikut program ini karena saya ingin berubah. Saya merasa cara saya mengajar itu itu saja. Program ini membuat saya berpikir ulang tentang cara membangun pembelajaran yang bermakna. Ay Program ini juga dinilai selaras dengan visi dan arah strategis sekolah. Visi SMPN 42 Pekanbaru yang mengedepankan inovasi, kolaborasi, dan profesionalisme guru sejalan dengan nilai-nilai inti yang diusung dalam PGP. Kepala sekolah menyebut bahwa PGP mendukung pencapaian budaya sekolah belajar, reflektif, dan berbasis komunitas. AuSaya ingin Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 guru-guru di sini tidak hanya jadi pelaksana kurikulum, tapi pemimpin pembelajaran. Program ini membuka jalan ke sana,Ay ujarnya. Program ini juga dinilai selaras dengan visi dan arah strategis sekolah. Visi SMPN 42 Pekanbaru yang mengedepankan inovasi, kolaborasi, dan profesionalisme guru sejalan dengan nilai-nilai inti yang diusung dalam PGP. Kepala sekolah menyebut bahwa PGP mendukung pencapaian budaya sekolah belajar, reflektif, dan berbasis komunitas. AuSaya ingin guru-guru di sini tidak hanya jadi pelaksana kurikulum, tapi pemimpin pembelajaran. Program ini membuka jalan ke sana,Ay ujarnya. Namun, meskipun program ini diterima dengan baik dan secara filosofis mendukung arah pengembangan sekolah, terdapat kesenjangan dalam sosialisasi nilai-nilai program kepada guru non-penggerak. Hal ini berpotensi menimbulkan jarak partisipatif dan resistensi terhadap perubahan jika tidak ditangani secara strategis. Dalam konteks ini, penting bagi sekolah untuk memperluas penyelarasan visi program dengan seluruh warga sekolah melalui forum reflektif dan kolaboratif yang lebih inklusif. Aspek Input Aspek input dalam evaluasi ini mencakup analisis terhadap strategi pelaksanaan, kesiapan sumber daya manusia, serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung di SMPN 42 Pekanbaru selama pelaksanaan Program Guru Penggerak (PGP). Tujuannya adalah untuk menilai sejauh mana input yang tersedia dapat mendukung efektivitas program secara Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, ditemukan bahwa secara umum, dukungan kepala sekolah terhadap pelaksanaan program sangat kuat. Kepala sekolah memberikan fleksibilitas waktu bagi guru penggerak untuk mengikuti pelatihan daring dan Ia menyatakan. AuKami atur jadwal agar guru penggerak tetap bisa ikut pelatihan tanpa meninggalkan tugas utama secara berlebihan. Mereka diberi kepercayaan penuh. Ay Komitmen ini menjadi faktor kunci dalam keberlangsungan program di sekolah. Dari sisi kesiapan sumber daya manusia, guru-guru penggerak menunjukkan antusiasme tinggi dan kemampuan adaptasi terhadap tugas-tugas pelatihan yang cukup padat. Mereka mampu menyelesaikan modul, mengikuti sesi sinkronus, serta terlibat aktif dalam forum diskusi. Salah satu guru menyampaikan bahwa meskipun pelatihan cukup intensif, ia merasa terdorong untuk terus berkembang. AuSaya harus belajar manajemen waktu, karena pelatihan ini tidak hanya mengasah pengetahuan, tapi juga membentuk cara berpikir,Ay ujarnya. Namun, kendala utama yang ditemukan berkaitan dengan sarana dan prasarana, khususnya dalam pemanfaatan teknologi. Meskipun sekolah sudah memiliki perangkat pendukung, ketersediaan dan kualitas jaringan internet masih menjadi tantangan. Beberapa guru harus menggunakan kuota pribadi dan perangkat sendiri saat mengikuti pelatihan Selain itu, ruang belajar reflektif atau fasilitas yang mendukung kegiatan komunitas belajar belum tersedia secara khusus. Ini menunjukkan bahwa dukungan infrastruktur masih perlu ditingkatkan agar proses belajar dalam program tidak terhambat oleh faktor teknis. Dukungan dari pihak eksternal seperti Dinas Pendidikan dinilai masih minim. Guru penggerak dan kepala sekolah menyatakan bahwa mereka belum merasakan pendampingan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 langsung atau supervisi rutin dari dinas. Padahal, keterlibatan pemangku kebijakan sangat diperlukan untuk memastikan kesinambungan dan integrasi program dalam sistem pendidikan daerah. Aspek Process Evaluasi aspek proses berfokus pada bagaimana pelaksanaan Program Guru Penggerak (PGP) berjalan di tingkat sekolah, termasuk keterlibatan peserta dalam pelatihan, efektivitas metode yang digunakan, bentuk penugasan, kerja sama antarguru, sistem pemantauan, serta tantangan-tantangan yang muncul selama proses pelaksanaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelatihan berjalan cukup sistematis, meliputi kombinasi antara kegiatan sinkronus . atap muka daring bersama fasilitato. dan asinkronus . elajar mandiri melalui platform digita. Guru penggerak mengikuti pelatihan selama kurang lebih enam bulan, dengan beban penugasan yang intens namun aplikatif. Salah satu guru menyatakan. AuMateri-materinya berat, tapi tidak mengawang. Semua bisa diterapkan langsung di kelas, seperti pembelajaran berdiferensiasi dan coaching untuk rekan sejawat. Ay Kegiatan pelatihan juga dilengkapi dengan lokakarya dan sesi refleksi kelompok, yang memungkinkan para peserta bertukar pengalaman dan menguatkan identitas profesional Pengajar praktik memiliki peran penting dalam mendampingi guru selama proses ini. Banyak guru merasa pendampingan yang diberikan bersifat personal, tidak menilai, dan mendorong refleksi mendalam. Seorang peserta mengatakan. AuPengajar praktik bukan hanya tempat konsultasi, tapi teman refleksi. Kami didorong berpikir, bukan diberi solusi. Ay Ini menunjukkan bahwa pendekatan andragogis dalam program berjalan efektif. Kolaborasi juga menjadi bagian penting dari proses. Beberapa guru penggerak aktif membentuk komunitas belajar mini di sekolah dan mendorong keterlibatan guru nonpenggerak. Diskusi informal, berbagi praktik baik, dan co-teaching mulai dilakukan, meskipun masih terbatas pada guru-guru yang memiliki kedekatan personal atau ketertarikan yang sama. Meski begitu, kehadiran guru penggerak mulai memengaruhi atmosfer kolaboratif antar guru. Namun, proses pelaksanaan tidak tanpa tantangan. Beban tugas dari program yang cukup padat seringkali bersinggungan dengan tanggung jawab guru di sekolah, terutama menjelang masa penilaian akhir semester. Keterbatasan waktu menjadi kendala utama dalam menyelesaikan tugas refleksi dan aksi nyata. Selain itu, meskipun sekolah telah memberikan dukungan, monitoring dari pihak luar, seperti pengawas atau dinas pendidikan, masih belum dilakukan secara berkala. Padahal, keberadaan sistem pemantauan formal diperlukan untuk menjamin kesinambungan pelaksanaan program dan sebagai bagian dari pengukuran kualitas Aspek Product Evaluasi aspek produk bertujuan untuk mengidentifikasi hasil akhir dari pelaksanaan Program Guru Penggerak (PGP) di SMPN 42 Pekanbaru, baik dalam bentuk peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap guru, maupun dampaknya terhadap budaya pembelajaran, kolaborasi, dan mutu pendidikan di sekolah. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi dalam Program Guru Penggerak telah menghasilkan perubahan signifikan dalam kompetensi personal dan profesional guru. Para guru penggerak melaporkan bahwa mereka kini lebih reflektif dalam merancang dan mengevaluasi pembelajaran, serta lebih percaya diri dalam memimpin forum diskusi, mempraktikkan coaching sejawat, dan mengambil inisiatif dalam mengembangkan komunitas belajar. Salah satu guru menyampaikan. AuDulu saya hanya mengikuti instruksi Sekarang saya mulai bertanya, apakah murid saya benar-benar belajar? Itu yang saya refleksikan terus. Ay Peningkatan kompetensi juga terlihat dalam penggunaan metode pembelajaran inovatif, seperti pembelajaran berdiferensiasi, asesmen diagnostik, dan pendekatan berbasis Beberapa guru mengembangkan modul pembelajaran kontekstual, memproduksi video pembelajaran mandiri, serta mengintegrasikan teknologi sederhana untuk menunjang proses belajar. Hal ini sejalan dengan tujuan program untuk mencetak pemimpin pembelajaran yang adaptif dan kreatif. Dari sisi budaya organisasi sekolah, kehadiran guru penggerak mulai mendorong terbentuknya lingkungan kerja yang lebih kolaboratif. Guru penggerak menjadi inisiator dalam diskusi reflektif, pengembangan RPP bersama, dan berbagi praktik baik dalam forum Kepala sekolah menyebutkan bahwa dinamika kerja guru mengalami perubahan AuSekarang saya tidak perlu mendorong terus. Guru mulai punya kesadaran kolektif untuk berkembang,Ay ungkapnya. Namun demikian, proses pengimbasan atau transfer pengetahuan dari guru penggerak ke guru non-penggerak belum berjalan secara optimal. Kegiatan berbagi masih bersifat informal dan tergantung inisiatif individu. Belum ada sistem yang terstruktur atau kebijakan internal sekolah yang mewajibkan atau memfasilitasi pengimbasan secara sistematis. Selain itu, praktik baik guru penggerak belum seluruhnya terdokumentasi atau dipublikasikan dalam bentuk yang dapat diakses dan direplikasi oleh guru lain. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun capaian individu guru penggerak telah cukup kuat, dampak sistemik pada tingkat sekolah belum sepenuhnya terbentuk. Ini sejalan dengan temuan Fatimatuzzahroh & Zumrotun . , yang menyatakan bahwa keberhasilan guru penggerak perlu dikawal oleh sistem dan kebijakan sekolah yang mendorong keberlanjutan Program ini tidak cukup hanya membentuk guru sebagai agen perubahan, tetapi harus dibarengi dengan struktur pendukung kelembagaan yang memungkinkan perubahan itu mengakar dalam budaya sekolah. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa Program Guru Penggerak (PGP) di SMPN 42 Pekanbaru telah menunjukkan efektivitas yang cukup signifikan dalam meningkatkan mutu guru, baik dari segi penguatan kapasitas individu maupun perubahan budaya kerja di sekolah. Pelaksanaan program ini mampu mendorong guru menjadi lebih reflektif, kreatif, dan kolaboratif dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Kesesuaian antara kebutuhan sekolah, kesiapan sumber daya manusia, serta dukungan kepemimpinan kepala sekolah menjadi faktor pendukung utama keberhasilan program. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Namun demikian, efektivitas program belum sepenuhnya optimal karena masih terdapat hambatan pada aspek sarana prasarana digital, keterbatasan monitoring eksternal, dan kurangnya sistem pengimbasan yang terstruktur. Temuan ini menegaskan pentingnya sinergi antara kebijakan sekolah dan dukungan dari pemangku kebijakan eksternal agar dampak program dapat menyebar secara kolektif dan berkelanjutan. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti menyarankan beberapa langkah strategis ke depan. Pertama, sekolah perlu membangun sistem dokumentasi dan replikasi praktik baik sebagai bagian dari pengimbasan internal. Kedua, perlu adanya penguatan peran dinas pendidikan dalam pendampingan dan monitoring program secara berkala. Ketiga, guru penggerak didorong untuk menjadi mentor aktif dalam komunitas belajar guru dan menjadi penghubung antara kebijakan pusat dan pelaksanaan di sekolah. Terakhir, peneliti merekomendasikan penelitian lanjutan yang mengevaluasi pengimbasan program ini pada tingkat jaringan sekolah atau antar wilayah untuk melihat efek sistemik dari kebijakan Merdeka Belajar secara lebih luas. DAFTAR PUSTAKA