FAKTOR PENENTU INNOVATIVE BEHAVIOR: BUKTI DARI MAHASISWA/I STAB MAHA PRAJNA JAKARTA Ghana Yoga MahardikaA. Bondan Ade PrasetyaA Sekolah Tinggi Agama Buddha Maha Prajna. Indonesia Ghanayoga152@gmail. Bondanadeprasetya@gmail. Abstrak Innovative behavior sebagai perilaku individu yang bertujuan untuk mencapai inisiasi dan pengenalan yang disengaja . alam peran kerja, kelompok atau organisas. dan ide, proses, produk, atau prosedur yang baru dan berguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor Innovative Behavior Mahasiswa/i STAB Maha Prajna. Jakarta. Penelitian ini menggunakan 129 sampel yang dikumpulkan dengan teknik convenience sampling. Data primer dikumpulkan melalui survei langsung terhadap mahasiswa dan mahasiswi. Pengukuran Innovative Behavior terdiri dari 10 indikator. Berdasarkan analisis faktor, terbentuk 3 faktor Innovative Behavior. Faktor pertama adalah Eksplorasi peluang . pportunity exploratio. , faktor kedua generativitas . , dan faktor ketiga sugesti formatif . ormative suggestio. Kata kunci: Eksplorasi peluang . pportunity exploratio. , generativitas . , sugesti formatif . ormative suggestio. Innovative Behavior Mahasiswa/i STAB Maha Prajna. Abstract Innovative behavior as individual behavior that aims to achieve deliberate initiation and introduction . n a work role, group or organizatio. and new and useful ideas, processes, products, or procedures. This research aims to find out factors of Innovative Behavior of STAB Maha Prajna students. Jakarta. This study used 129 samples collected by convenience sampling technique. Primary data were collected through direct surveys of students and female students. Innovative Behavior measurement consists of 10 indicators. Based on factor analysis, 3 Innovative Behavior factors were formed. The first factor is opportunity exploration, the second factor is generativity, and the third factor is formative suggestion. Keywords: Opportunity exploration, generativity, formative suggestion. Innovative Behavior STAB Maha Prajna Students. PENDAHULUAN Innovative Behavior diartikan oleh West dan Farr . adalah untuk tujuan investigasi ini sebagai semua tindakan individu yang diarahkan pada pembangkitan, pengenalan, dan atau penerapan hal baru yang bermanfaat di tingkat organisasi mana pun. Mengenai yang berkenaan dengan Innovative Behavior, beberapa peneliti telah melakukan penelitian untuk memahami berbagai faktor yang dapat memprediksi Innovative Behavior seseorang, baik secara personal maupun kontekstual, hal tersebut menunjukkan bahwa Innovative Behavior merupakan topik penting dan (Afsar & Umrani, 2020. Agung et al. , 2020. Akram et al. , 2020. Asbari et al. Asurakkody & Kim, 2020a, 2020b. Dwiastuti & Etikariena, 2020. El-Manurwan & Sawitri, 2017. Endang Kusmaryani, 2020. Hadi et al. , 2020. Hardianto et al. , 2021. Hosseini & Haghighi Shirazi, 2021. Ismiantari & Mulyana, 2021. Kang et al. , 2022. Karimi et al. , 2023. Kura et al. , n. Li et al. , 2019. Messmann et al. , 2022. Omar et al. Palevi et al. , 2020. Pandanningrum & Nugraheni, 2021. Qaiser et al. , 2020. Rizana, 2022. Santoso & Nugraheni, 2022. Shaikh, n. Tun & Onn Malaysia, 2021. Widyani et al. , 2017. Zhang et al. , 2. Perubahan yang terjadi dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak masyarakat akibat pengaruh internal atau eksternal merupakan bentuk dari adanya perkembangan perilaku manusia. Perkembangan perilaku dirasakan semua elemen masyarakat, meskipun besar kecilnya perubahan tidak sama. Hal tersebut juga terjadi di kalangan mahasiswa dan mahasiswi. Mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk menciptakan sesuatu yang baru, menyampaikan ide kreatif, menciptakan kreasi yang bermanfaat, dan berkolaborasi dengan mahasiswa dari latar belakang yang berbeda. Mahasiswa juga dapat berperan sebagai agen perubahan sosial yang menghasilkan inovasi dan kewirausahaan, mengadvokasi perubahan sosial, dan mengembangkan Mahasiswa mengembangkan potensinya semaksimal mungkin selama kuliah di kampus dalam bentuk inovasi, karena mahasiswalah yang menjadi pemeran utama dalam menghadapi tantangan yang ada (Asih et al. , 2. Mahasiswa menampilkan perilaku kerja inovatif untuk menguntungkan individu pada hal yang berhubungan dengan tugas-tugas akademis. Mahasiswa cenderung melakukan hal tersebut untuk menyelesaikan atau mengerjakan tuntutan tugas akademis dengan lebih baik (Firdausiah & Etikariena, 2. Hal tersebut yang mendorong penelitian ini mengenai Innovative Behavior di kalangan Mahasiswa dan Mahasiswi STAB Maha Prajna. Maka dari itu kajian terhadap Mahasiswa dan Mahasiswi STAB Maha Prajna dalam kaitannya dengan Innovative Behavior sangat diperlukan untuk mengembangkan konstruk Innovative Behavior dengan menentukan dimensidimensinya. KAJIAN TEORITIS Spreitzer . mendefinisikan inovatif dalam perilaku sebagai kontemplasi terhadap sesuatu yang baru atau berbeda. Perilaku kerja inovatif didefinisikan sebagai jumlah perilaku yang melibatkan pengembangan ide baru, implementasi ide, dan akhirnya aktualisasi suatu gagasan untuk kepentingan organisasi secara (Andrabi & Rainayee, 2. Dilanjutkan oleh West dan Farr . mendefinisikan perilaku inovatif sebagai generasi yang disengaja, promosi, dan realisasi ide-ide baru dalam peran kerja, kelompok kerja atau organisasi di untuk memberi manfaat bagi kinerja peran, kelompok atau organisasi (Suhaimi & Panatik. Dan juga dijelaskan oleh Farr dan Ford . mendefinisikan perilaku inovatif sebagai perilaku individu yang bertujuan untuk mencapai inisiasi dan pengenalan yang disengaja . alam peran kerja, kelompok atau organisas. yang baru dan ide, proses, produk, atau prosedur yang baru dan bergun. (De Jong & Den Hartog, 2. Dimensi dari perilaku inovatif dapat diklasifikasikan dalam 3 aspek. Pertama, eksplorasi peluang . pportunity exploratio. Eksplorasi peluang mencakup beberapa perilaku, yakni memberikan perhatian pada sumber peluang, mencari peluang untuk inovasi, mengenali peluang, dan mengumpulkan informasi tentang peluang. Kedua, generativitas . Aspek ini bertujuan untuk memperluas gagasan pembentukan ide ke organisasi. Generativitas mencakup perilaku yang diarahkan pada menghasilkan perubahan yang bermanfaat untuk tujuan menumbuhkan organisasi, orang-orang yang berada dalamorganisasi, produk, sistem, dan pelayanan dalam organisasi. Generativitas ditunjukkan dengan sikap seseorang yang mampu menghasilkan ide dan solusi, menghasilkan ide yang representatif pada peluang, dan membangun asosiasi antara ide serta informasi. Ketiga, sugesti formatif . ormative suggestio. Aspek ketiga ini menjelaskan bahwa perilaku kerja inovatif berkaitan dengan memberi bentuk dan menyempurnakan ide,solusi, dan opini serta mencoba untuk melakukan penyelidikan terhadap hal-hal tersebut. Aspek ini ditunjukkan dengan perilaku untuk merumuskan ide dan solusi, melakukan eksperimen terhadap ide dansolusi tersebut, serta mengevaluasinya (Kleysen & Street, 2. METODE PENELITIAN Exploratory Factor Analysis adalah analisis faktor memungkinkan pengurangan sekumpulan variabel yang diamati menjadi sekumpulan variabel yang lebih kecil (Hinkin, 1. Hardjodipuro . berpendapat, dalam AF eksploratori peneliti berusaha merangkum data dengan cara mengelompokkan variabel yang saling berinterkorelasi yang mana variabel-variabel tersebut dipilih tanpa praduga adanya sruktur dasar potensial (Purwanto, 2. Asumsi dasar dari EFA adalah bahwa di dalam kumpulan variabel yang diamati, terdapat sekumpulan faktor yang mendasari, yang jumlahnya lebih kecil daripada variabel yang diamati, yang dapat menjelaskan keterkaitan di antara variabel-variabel tersebut (Pett et al. , 2. Sehinga, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dimensi-dimensi Innovative Behavior. Dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari 10 indikator, data primer dikumpulkan dari 54 Mahasiswa STAB Maha Prajna. Jakarta. Prosedur dalam EFA dimulai dengan uji kecukupan ukuran sampel. Pengujian ini menerapkan kriteria dalam menilai kecukupan data dalam analisis faktor yang terdiri dari Kaiser Meyer Olkin - Measure of Sampling Adequacy (KMO - MSA) dengan ketentuan melebihi 0,5 maka dapat dikatakan data tersebut layak untuk dianalisis faktor dan Bartlett's Test of Sphericity dengan ketentuan signifikan . <0,. , oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa analisis faktor sesuai. Kriteria kedua adalah Uji Kebulatan Bartlett Test of Sphericity. Jika syarat ukuran sampel sudah terpenuhi, maka langkah selanjutnya adalah mereduksi variabel yang jumlahnya besar menjadi beberapa dimensi dengan menggunakan analisis komponen utama (PCA), sebagai salah satu metode ekstraksi. Beberapa pendekatan dapat digunakan untuk menentukan ekstraksi faktor, antara lain nilai Eigen, persen kumulatif varians yang diekstraksi, dan uji scree plot. Faktor akan terbentuk jika nilai eigen lebih dari 1, sedangkan persen variansi kumulatif dihasilkan dari nilai eigen. Matriks struktur faktor yang menjelaskan persentase yang tinggi dari varians total item diperoleh 60% dapat berfungsi sebagai target minimum yang dapat diterima (Hinkin, 1. Kriteria lain dalam menentukan ekstraksi faktor adalah metode rotasi. Penelitian ini menggunakan rotasi varimax untuk mewakili faktor-faktor yang tidak berkorelasi. Setelah langkah rotasi, prosedur terakhir adalah memberi label pada faktor-faktor yang diekstraksi dengan mengacu pada teori atau penelitian yang relevan. HASIL DAN PEMBAHASAN Exploratory Factor Analysis adalah penggunaan analisis faktor untuk mengetahui faktor-faktor yang melandasi sehimpunan variabel atau sehimpunan ukuran (Purwanto, 2. Tabel 1 menunjukkan nilai korelasi anti-image untuk setiap item yang mengukur Innovative Behavior. Berdasarkan korelasi anti-gambar, semuanya diketahui benar atau valid karena nilai korelasi anti-image melebihi 0,5. Tabel 1 Anti Image Correlation Item IB1 IB2 IB3 IB4 IB5 Anti image correlation Item Anti image correlation 0,913 0,855 0,939 0,826 0,779 IB6 IB7 IB8 IB9 IB10 0,897 0,911 0,925 0,863 0,809 Tahapan selanjutnya dalam Exploratory Factor Analysis setelah uji validitas, adalah uji kecukupan ukuran sampel berdasarkan KMO-MSA yang diperlukan untuk melihat kecukupan sampel yang dianalisis dan Bartlett yang diperlukan untuk melihat normalitas data yang akan dianalisis dan uji kebulatan. Apabila nilai KMO antara 0,5 sampai 1 maka dapat disimpulkan analisis faktor tepat digunakan . imamora, 2. Berdasarkan hasil pada Tabel 2, penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran sampel berdasarkan KMO-MSA sebesar 0,872, sedangkan uji kebulatan Bartlett memiliki signifikan pada taraf signifikansi 5%. Maka, berdasarkan hasil dari uji yang telah dilakukan, berarti penelitian ini mempunyai jumlah sampel yang cukup untuk dianalisis menggunakan EFA. Tabel 2 Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Approx. Chi-Square Bartlett's Test of Sphericity Sig. Pada penelitian ini, ekstraksi faktor dilakukan dengan menggunakan PCA. Scree plot ditunjukkan pada Gambar 1 yang mewakili jumlah faktor yang diekstraksi berdasarkan Eigenvalue > 1. Angka tersebut diperkuat dengan hasil ekstraksi faktor berdasarkan Eigenvalue yang disajikan pada Tabel 3. Angka. Scree Plot for Factors Extraction Berdasarkan Tabel 3, terdapat dua faktor yang diambil dari analisis ini. Masingmasing faktor mempunyai Eigenvalue sebagai berikut: 6,178 untuk faktor pertama dan 0,935 untuk faktor kedua, dan 0,668 untuk faktor ketiga. Kriteria lain dalam ekstraksi faktor adalah total varian kumulatif. Matriks struktur faktor yang menjelaskan persentase yang tinggi dari varians total item diperoleh 60% dapat berfungsi sebagai target minimum yang dapat diterima (Hinkin, 1. Berdasarkan pada pedoman tersebut, dari 3 faktor memiliki hasil total variansi sebesar 77,81%. Tabel 3 Total Variance Explained Component Initial Eigenvalues Extraction Sums of Squared Loadings Total % of Variance Cumulative % Total % of Variance Cumulative % Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotated component matrix berguna untuk memperjelas variabel-variabel mana yang masuk ke dalam tiap-tiap faktor. Suatu variabel dapat dimasukkan ke dalam suatu faktor jika nilai korelasinya di atas 0,50 (Purba, 2. Berdasarkan data pada tabel 4, maka komponen faktor terdiri dari 3 faktor yang memiliki nilai korelasi yang Faktor pertama terdiri dari item 3, 6, 7, 8, dan 9. Faktor kedua terdiri dari item 1, 2, dan 4. Faktor ketiga terdiri dari item 5 dan 10. Rincian item tiap dimensi ditampilkan pada Tabel 5. Tabel 4 Rotated Component Matrix Component IB9 IB6 IB7 IB8 IB3 IB4 IB2 IB1 IB5 IB10 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. Rotation converged in 9 iterations. Tabel 5 Dimensions of Innovative Behavior Dimension No of Items IB9 IB6 IB7 IB8 IB3 IB4 IB2 IB1 IB5 IB10 Items of OCB Membantu teman dalam menyelesaikan pekerjaan Membantu teman dengan pekerjaan yang sama Membantu teman yang mempunyai masalah Berperilaku sopan untuk melindungi perasaan orang Bersedia menerima tugas mendadak Selesaikan masalah tanpa menyalahkan orang lain Mampu mengendalikan emosi Patuhi aturan Melaksanakan tugas kepemimpinan Loading Setelah melakukan metode rotasi dengan Varimax, 3 faktor yang diekstraksi diberi label berdasarkan penelitian sebelumnya. Faktor pertama dinamakan Eksplorasi peluang . pportunity exploratio. Menurut Eksplorasi peluang . pportunity exploratio. dalam definisi ini, faktor pertama dari perilaku inovatif mengacu pada metafora sering bepergian melalui peluang inovatif untuk belajar atau menemukan lebih banyak tentang peluang tersebut (Amabile, 1988. Drucker, 2002. Howell & Higgins, 1990. Kanter, 1988. Roberts, 1988. Staw, 1990. Van De Ven, 1. Faktor kedua dinakaman generativitas . Memperluas gagasan untuk menciptakan generasi berikutnya ke dalam organisasi, generativitas . adalah tentang perilaku yang bertujuan untuk menciptakan perubahan yang bermanfaat dengan tujuan berkembang untuk organisasi, karyawan, produk, proses dan layanan (Amabile, 1988. Basadur et al. , 1982. Ford, 1996. Howell & Higgins. Kanter, 1988. Keller et al. , 1994. Lovelace, 1986. Maute & Locander, 1994. Roberts, 1988. Staw, 1990. Van De Ven, 1. Faktor ketiga dinamakan sugesti formatif . ormative suggestio. Perilaku inovatif berkaitan dengan memberikan bentuk dan menyempurnakan ide, solusi, dan pendapat serta mencobanya melalui investigasi adalah sugesti formatif . ormative suggestio. (Amabile, 1988. Basadur et , 1982. Damanpour, 1991. Kanter, 1988. Kirton, 1984. Maute & Locander, 1994. Roberts, 1. Berdasarkan analisis data, temuan menunjukkan bahwa dimensi Innovative Behavior dalam penelitian ini dikategorikan menjadi 3 dimensi, yaitu Eksplorasi peluang . pportunity exploratio. , generativitas . , sugesti formatif . ormative KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dimensi yang mendasari Innovative Behavior. Berdasarkan analisis faktor yang telah dilakukan, didapatkan ada 3 faktor perilaku Innovataive Behavior, dan pelabelan 3 faktor tersebut ialah Eksplorasi peluang . pportunity exploratio. sebagai faktor pertama, generativitas . sebagai faktor kedua, dan sugesti formatif . ormative suggestio. faktor ketiga. Penelitian ini menggunakan responden mahasiswa dan mahasiswi STAB Maha Prajna. Jakarta tanpa mengelompokkan sampel yang berbeda. Oleh karena itu, penelitian di masa depan perlu mendeskripsikan setiap jenis perilaku mahasiswa dan mahasiswi dari instansi pendidikan yang berbeda. Hal ini berimplikasi pada penelitian selanjutnya untuk mengeksplorasi setiap dimensi yang terkait dengan variabel lain dalam menjelaskan konsekuensi dari perilaku inovatif atau Innovative Behavior. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kepada Jurnal DharmaEd. Sekolah Tinggi Agama Buddha Maha Prajna, telah mempublish artikel jurnal REFERENSI