Original Research Paper Analisis Kulit Marmut sebagai Model Hewan dalam Penelitian Dermatologi dan Kedokteran Estetika Analysis of Guinea Pig Skin as Animal Model in Dermatology and Aesthetic Medicine Laksmindra Fitria1, *dan Isma Cahya Putri Gunawan1 Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada. Jalan Teknika Selatan. Sekip Utara. Yogyakarta, 55281. Indonesia. *Corresponding Author: laksmindraf@ugm. Abstrak: Kulit memegang peranan penting sebagai proteksi terhadap pengaruh buruk lingkungan, salah satunya radiasi sinar ultraviolet (UVR) yang berasal dari pancaran sinar matahari. Oleh karena itu, kerusakan kulit akibat UVR . menjadi topik utama dalam kajian dermatologi dan kedokteran estetika, terutama di negaranegara tropis. Marmut sebagai mammal tropis berpotensi dikembangkan menjadi model hewan dalam penelitian terkait kulit karena memiliki coat dengan pola pigmentasi yang mirip dengan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kondisi kulit dan struktur histomorfometri kulit marmut berdasarkan variasi warna coat. Sampel berupa enam individu marmut betina dewasa dengan corak tricolor dan tortoiseshell. Rambut punggung dicukur bersih dengan luas area 2 cm x 2 cm, kemudian dilakukan pemeriksaan kondisi kulit menggunakan Skin Analyzer. Selanjutnya, sampel kulit dibuat preparat histologis metode parafin dengan fiksatif NBF 10 % dan pewarnaan Hematoxylin & Eosin (H&E) untuk diukur ketebalan epidermis dan dermisnya. Hasil menunjukkan bahwa semakin gelap warna coat maka sebum dan pigmentasi semakin tinggi, sebaliknya elastisitas dan kolagen semakin rendah, dan tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap kelembapan kulit pada semua warna coat. Pemeriksaan histomorfometri menunjukkan bahwa pada marmut tortoiseshell semakin gelap warna coat maka epidermis dan dermis semakin tebal, sedangkan pada marmut tricolor ketebalan epidermis dan dermis bervariasi. Selain itu, marmut tortoiseshell memiliki epidermis dan dermis yang lebih tebal dibandingkan marmut tricolor. Kesimpulan menunjukkan bahwa warna coat mempengaruhi ketebalan epidermis dan dermis serta pola pigmentasi tortoiseshell cocok digunakan sebagai hewan model untuk manusia. Kata kunci: Analisis kulit. Cavia porcellus. warna kulit. UVR Abstract: Skin is the main barrier to protect against harmful environmental influences, one of which is ultraviolet radiation (UVR) which comes from sunlight. Therefore, skin damage due to UVR . has gained prominence in dermatology and aesthetic medicine, especially in tropical countries. Guinea pig (GP) as tropical mammal is potential to serve as animal model for skin-related research due to the similarity of their coat pigmentation to that of humans. This research aims to study the skin condition and histomorphometric structure of GP skin with coat color variations. Samples consisted of six adult female GP with tricolor and tortoiseshell After neatly shaved in 2 x 2 cm2 area, skin condition is then evaluated using Skin Analyzer. Skin samples were processed into histological preparations using paraffin method with 10 % NBF as fixative and stained with Hematoxylin & Eosin (H&E) to measure the thickness of epidermis and dermis. Results demonstrated that skin moisture levels do not significantly differ between coat colors, higher levels of sebum and pigmentation correspond with darker coat colors, whereas lower levels of elasticity and collagen are associated with lighter coat Histomorphometric examination showed that in tortoiseshell GP, the thickness of the epidermis and dermis increased with the coat color, but in tricolor GP, the thickness of epidermis and dermis varied. Furthermore, tortoiseshell GP have thicker epidermis and dermis than tricolor GP. It can be concluded that coat color influences the thickness of epidermis and dermis as well as pigmentation pattern of tortoiseshell is suitable as animal model for humans. Keywords: Skin analysis. Cavia porcellus. skin tone. UVR Dikumpulkan: 30 Oktober 2023 Direvisi: 28 Juni 2024 Diterima: 9 Agustus 2024 Dipublikasi:31 Agustus 2024 A 2024 Fitria, dkk. This article is open acces Fitria & Gunawan. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 64 Ae 74 DOI: 10. 22146/bib. Pendahuluan Kulit memiliki peranan sangat penting yaitu sebagai pelindung fisik, salah satunya sebagai pelindung tubuh dari bahaya radiasi sinar ultraviolet (UV) yang berlebihan (Debeer et al. Di negara-negara tropis termasuk Indonesia, matahari bersinar sepanjang tahun sehingga secara alami terjadi paparan UV lebih Radiasi UV yang berlebihan berdampak buruk terhadap kesehatan kulit (Ipina et al. Kerusakan kulit akibat sinar UV . menjadi salah satu topik utama di bidang kedokteran tropis, baik digunakan dalam kajian dermatologis maupun estetika (Cadet et , 2. Marmut merupakan mammal tropis yang berasal dari Pegunungan Andes Tengah. Amerika Selatan. Setelah didomestikasi oleh penduduk setempat sejak tahun 5000 SM, hewan ini dibawa oleh para pedagang Belanda dan Portugis ke berbagai negara termasuk Indonesia. Marmut adalah spesies hewan pertama yang dikembangkan sebagai model hewan dalam penelitian biologis dan kedokteran (Fitria et al. Menurut Choi & Kim . , marmut dapat dikembangkan sebagai model hewan untuk penelitian dermatologi dan kedokteran estetika. Hal tersebut karena kulit marmut memiliki karakteristik yang mirip dengan kulit manusia dalam hal ketebalan, keberadaan melanosit, dan melanosom di epidermis, serta respons terhadap radiasi UV B. Marmut banyak dijumpai di Indonesia, namun demikian belum lazim digunakan sebagai hewan coba. Salah satu penyebabnya adalah belum ada fasilitas hewan yang secara komersial mengembang-biakkan marmut khusus untuk keperluan riset. Sebagian besar masyarakat memelihara marmut sebagai hewan kesayangan (Fitria et al. , 2. Watson et al. dan Zvyagintseva1 et . menggunakan marmut Hartley yang merupakan individu albino sebagai model hewan terkait efek radiasi UVB terhadap kulit. Menurut Konger et al. , individu albino dan berpigmen menunjukkan respons yang berbeda terhadap radiasi UV. Watson et al. dan Harlisa et al. menggunakan marmut American shorthair dengan warna coat yang Menurut Fajuyigbe & Young . , variasi warna kulit juga memberikan respons yang berbeda terhadap radiasi UV. Yoshida et al. Choi et al. , dan Tobiishi et al. menggunakan marmut coklat . rownish A. , namun marmut jenis ini tidak tersedia di Indonesia sehingga harus diimpor yang berarti memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi marmut lokal yang dikembangbiakkan di Indonesia sebagai model hewan dalam penelitian praklinis bidang dermatologi dan kedokteran estetika, terutama yang berkaitan dengan efek radiasi UV terhadap kesehatan kulit. Temuan dalam penelitian ini ke depannya dapat dilanjutkan dengan publikasi penyajian data melalui open science dan pengembangan artificial intelligence (AI) berupa 3D-imaging system untuk keperluan diagnosis (Zhouxiao et , 2. Kedua gebrakan di bidang teknologi digital tersebut diketahui sangat membantu para peneliti di seluruh penjuru dunia untuk dapat mengakses referensi secara luas maupun berbagi data dan informasi penunjang yang diperlukan. Bahan dan Metode Pengadaan dan pemeliharaan hewan coba Hewan coba berupa enam marmut betina dewasa tipe breed American shorthair dengan corak tricolor . utih, oranye/coklat, hita. dan tortoiseshell . oklat, hita. Marmut berusia enam bulan dengan kisaran berat badan 500-600 gram yang merupakan hasil pengembangbiakan (F. di fasilitas hewan Fakultas Biologi UGM (Animal Hous. Marmut dipelihara dalam kandang tipe floor pen yang ditempatkan di ruang khusus marmut di Animal House Fakultas Biologi UGM dengan memperhatikan prosedur standar pemeliharaan marmut laboratorium atau husbandry (Clemons & Seeman, 2. yang meliputi pengandangan, pemberian pakan, pemantauan kesehatan, dan sanitasi (Fitria et al. Selama percobaan, marmut diberi makan pelet (OxbowA. USA) dan air minum mineral isi ulang (Berkah Tirta Jaya. Yogyakart. Sumber fiber berupa timothy hay (OxbowA. USA) dan sumber vitamin C diperoleh dari sayuran/buah segar dan tablet vitamin C (Supra Ferbindo. Bekas. Prosedur penanganan marmut dalam penelitian ini telah disetujui oleh Komisi Ethical Clearance Fakultas Kedokteran Hewan UGM melalui Surat Keterangan Kelaikan Etik Nomor: 039/EC-FKH/Eks. /2023. A 2024 Fitria, dkk. This article is open acces Fitria & Gunawan. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 64 Ae 74 DOI: 10. 22146/bib. Pengambilan data Rambut punggung marmut dicukur bersih menggunakan baby clipper (KemeiAKM-1. sehingga berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 2 cm x 2 cm. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan kondisi kulit menggunakan Skin Analyzer EH900U (Shining. Chin. Parameter yang diamati meliputi: gambaran permukaan kulit, kadar sebum (%), kelembapan (%), pigmentasi (%), elastisitas (%), dan kolagen (%). Selanjutnya menggunakan cocktail Ketamine-XylazineAcepromazine (K= 50 mg/kg bb. X= 5 mg/kg bb. A= 1 mg/kg b. dengan volume 0,1 mL/100 g bb melalui rute injeksi intramuskular (Gourdon & Jimenez, 2. sebelum dilakukan biopsi untuk pengambilan sampel kulit punggung guna pemeriksaan histomorfometri. Proses biopsi menggunakan dermal biopsy punch ukuran 6 mm (RibbelA. Indi. Sampel kulit diproses untuk pembuatan preparat histologi rutin metode parafin dengan fiksatif NBF 10 % dan pewarnaan Hematoxylin & Eosin (H&E). Pengukuran ketebalan epidermis (AA. dan dermis (AA. dilakukan dengan bantuan mikroskop cahaya OlympusACX33A dan MiconosAOptilabAv. menjadi dua, yaitu: piebald dan tortoiseshell (Wright, 1. Marmut piebald memiliki coat berwarna putih dengan corak hitam, cokelat, oranye, atau kombinasinya. Marmut piebald dengan corak kombinasi tiga warna disebut tricolor (Chase, 1939. Sementara itu, marmut tortoiseshell memiliki coat dengan corak warna hitam, cokelat, dan oranye yang bercampur (Chase, 1939. Contoh individu marmut tricolor dan tortoiseshell disajikan pada Gambar 1. Analisis Data Data kuantitatif direkap dan ditabulasi MicrosoftAExcelAv. secara statistik menggunakan IBMASPSSAv. 25 berdasarkan one-way ANOVA dilanjutkan dengan post hoc Duncan (=0,. Data disajikan dalam bentuk tabel secara deskriptif . ilai rerataAsimpanga. Selain tabel, data histomorfometri juga divisualisasi dalam gambaran fotomikrografi. Pola pigmentasi pada marmut tricolor dan tortoiseshell memiliki kemiripan dengan warna kulit . kin ton. pada manusia berdasarkan Skala Fitzpatrick (Sachdeva, 2. Pigmentasi marmut tricolor dapat mewakili kulit fair . , tan . ipe i-IV), dan dark . ipe V-VI). Sementara itu, marmut tortoiseshell memiliki kemiripan dengan warna kulit orang Asia di daerah tropis, yaitu tipe IV-V (Chan et al. , 2. Hasil analisis kondisi kulit menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada kulit marmut dengan variasi warna coat. Makin gelap warnanya, kadar sebum dan pigmentasi makin meningkat . Sebaliknya, makin gelap warnanya, kadar kolagen dan elastisitas makin menurun . Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kelembapan kulit yang signifikan pada warna coat yang bervariasi. Variasi warna coat yang sama antara marmut tricolor dan tortoiseshell tidak menunjukkan adanya perbedaan kondisi kulit yang signifikan (Tabel . Gambar 1. Contoh individu marmut American tricolor . dan tortoiseshell . yang digunakan dalam penelitian ini Hasil dan Pembahasan Menurut Clemons & Seeman . , marmut dapat dibedakan menjadi tiga breed berdasarkan ukuran dan pola pertumbuhan rambut . , yaitu: American yang berambut pendek dan rapi. Peruvian yang berambut dan Abyssinian yang berambut pendek dengan pertumbuhan khas karena adanya struktur rosette. Di antara ketiga breed tersebut, yang sering digunakan sebagai hewan percobaan adalah tipe American . i Eropa dikenal sebagai marmut Englis. Berdasarkan corak atau pola warnanya, marmut American dapat dibedakan Tabel 1. Hasil pemeriksaan kondisi kulit marmut menggunakan Skin Analyzer EH900UA. A 2024 Fitria, dkk. This article is open acces Fitria & Gunawan. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 64 Ae 74 DOI: 10. 22146/bib. Sebum Kelembapan Pigmentasi Elastisitas Kolagen (%) (%) (%) (%) (%) Putih 3,67A0,75 a 20,00A5,35 a 40,83A12,14 a 58,33A5,62 a 48,50A12,15 a Marmut Oranye 7,09A4,03 a 15,27A6,17 a 63,64A10,26 b 33,36A11,03 c 43,00A8,74 a Hitam 17,60A6,84 b 18,50A5,22 a 56,60A8,65 b 21,80A5,71 d 28,90A5,05 b Marmut Coklat 8,13A4,94 a 15,88A10,69 a 55,63A15,57 b 44,00A13,44 b 48,38A13,99 a Hitam 14,38A5,57 b 16,88A3,26 a 61,38A4,87 b 23,25A7,26 d 31,00A7,26 b Keterangan: nilai yang diikuti dengan huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak ada beda nyata . >0,. Kelompok Warna coat Sebum merupakan minyak alami tubuh yang diproduksi oleh kelenjar sebasea dan memiliki peranan untuk menjaga kesehatan kulit. Sebum tersusun dari campuran lipid kompleks berupa trigliserida, asam lemak bebas, squalene, wax ester, dan sterol (Honari & Maibach, 2. Marmut dengan warna coat lebih gelap memiliki kadar sebum yang lebih tinggi. Pendapat ini sesuai dengan pernyataan Rawlings . bahwa kulit gelap memiliki kelenjar sebasea lebih banyak . ekitar 60-70%) daripada kulit terang, sehingga produksi sebum menjadi lebih Penelitian klinis oleh Pappas et al. juga menyatakan hal yang sama, bahwa wanita Afro-Amerika . ulit gela. memiliki kadar sebum lebih tinggi dibandingkan wanita Kaukasia . ulit teran. Sebum memiliki peranan penting dalam skin barrier yaitu memantulkan radiasi berlebih UV dari permukaan kulit (Banys et al. , 2. Individu yang tinggal di kawasan tropis atau sering terpapar sinar matahari akan memproduksi sebum lebih banyak dalam rangka perlindungan terhadap kulit mereka. Akitomo et al. menyatakan bahwa UV dapat meningkatkan aktivitas kelenjar sebasea sehingga sekresi sebum meningkat. Peningkatan produksi sebum pada manusia dapat merangsang perkembangan jerawat acne vulgaris (Taylor et al. , 2. Kelembapan atau hidrasi bersifat esensial untuk mempertahankan integritas struktural dan fungsional kulit, terutama di epidermis bagian Secara alami, di dalam kulit mengandung faktor-faktor pelembap . atural moisturizing factors. NMF) yang tersusun dari asam amino, pyrrolidone carboxylic acid (PCA), urocanic acid, lactic acid, dan urea. Komponenkomponen ini berfungsi sebagai humectant, yaitu mengikat air dan menyimpannya di dalam korneosit . tratum korneu. Selain itu korneosit juga mengandung sejumlah ceramide, asam lemak bebas, dan kolesterol yang berfungsi untuk mencegah kehilangan air. Sebum juga berperan dalam menjaga kelembapan kulit dengan cara membentuk lapisan hidrofobik di permukaan kulit (Spada et al. , 2. Kelembapan kulit marmut pada penelitian ini bervariasi dan tidak berkorelasi dengan warna kulit karena hasil uji statistik menyatakan tidak ada perbedaan yang signifikan. Hal ini sesuai dengan studi klinis oleh Alexis et al. yang menyatakan bahwa data mengenai kelembapan pada warna kulit yang bervariasi . elompok etnis berbed. saling bertentangan sehingga belum dapat disimpulkan. Empat dari tujuh data menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan, satu data berkulit gelap memiliki kelembapan yang lebih tinggi, satu data sebaliknya, dan satu data berkulit terang memiliki kelembapan yang lebih tinggi namun tidak signifikan. Menurut Takahashi et al. kelembapan kulit marmut sekitar 20% sedangkan pada manusia sekitar 60%. Hasil pengukuran kelembapan kulit marmut pada penelitian ini sesuai dengan Takahashi et al. Kelembapan kulit yang rendah karena tubuh marmut senantiasa tertutup rambut tebal sehingga tidak memerlukan kelembapan tinggi untuk menjaga kesehatan kulitnya. Pencukuran rambut menyebabkan kulit marmut menjadi sangat kering . sehingga cocok dijadikan sebagai model Dry Skin Syndrome (Sagiv et al. , 2. Pigmentasi sangat erat kaitannya dengan kadar melanin. Melanin adalah pigmen alami tubuh yang dihasilkan oleh melanosit, berperan sebagai fotoproteksi atau perlindungan terhadap paparan berlebih sinar matahari (Souci & Denesvre, 2. Banyaknya melanin dalam tubuh menentukan warna kulit atau coat. Semakin banyak melanin maka warna kulit/coat menjadi semakin gelap (Thawabteh et al. , 2. Pada manusia, jumlah melanosit menyebabkan variasi warna kulit dan rambut yang dikenal A 2024 Fitria, dkk. This article is open acces Fitria & Gunawan. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 64 Ae 74 DOI: 10. 22146/bib. sebagai phototype (Solano, 2020. Souci & Denesvre. Skala Fitzpatrick mengkategorikan enam phototype pada manusia (I-VI), di mana tipe I adalah warna kulit yang paling terang dan tipe VI adalah yang paling Warna kulit berkorelasi dengan kadar melanin, sensitivitas kulit terhadap paparan UV, respons inflamasi, dan risiko kanker kulit (D'Orazio et al. , 2. Marmut memiliki dua macam melanin yang identik dengan pada manusia, yaitu: eumelanin yang menyebabkan warna coat lebih gelap . oklat, hita. dan pheomelanin yang menyebabkan warna coat lebih cerah . uning, merah, oranye/kecokelata. Ito et al. membandingkan persentase eumelanin dan pheomelanin (E:P) pada marmut, diperoleh hasil sebagai berikut: marmut hitam= 0,85:0,08, marmut kuning= 0,06:0,77, dan marmut putih= 0,02:0,005. Ia juga membandingkannya dengan mencit albino= 0,003:0,005. Temuan ini membuktikan bahwa marmut berpigmen lebih sesuai digunakan sebagai model hewan untuk penelitian kulit terkait UV di kawasan tropis daripada tikus atau mencit albino. Selain itu, penjelasan ini mempertegas pernyataan Konger et al. bahwa fisiologis kulit berpigmen dan albino berbeda karena adanya melanin yang berperan sebagai fotoproteksi atau tabir surya. Kolagen merupakan komponen matriks ekstrasel pada jaringan kulit yang paling banyak, merupakan protein utama yang bertanggung jawab terhadap fisiologis kulit. Matriks ekstrasel berfungsi untuk menahan air dan mendukung kulit sehingga tampak halus, lembap, kencang dan kuat, namun tetap elastis atau kenyal. Struktur kolagen menyerupai tali triple helix yang bergabung menjadi satu membentuk serat Serat kolagen disintesis oleh fibroblas di lapisan dermis. Sintesis kolagen secara alami berkurang seiring dengan penuaan . Faktor-faktor seperti paparan matahari, polusi, gaya hidup, dan nutrien dapat mempercepat proses ini (Bolke et al. , 2. Berkurangnya kuantitas maupun kualitas kolagen menyebabkan penurunan elastisitas kulit, muncul garis-garis, kerutan, kulit menipis, dan kering (Tzaphlidou. Pada kulit manusia yang sehat, persentase kolagen sekitar 70-80% (Tzaphlidou, 2. , sementara itu kami belum menemukan acuan mengenai persentase kolagen pada kulit marmut. Pada penelitian ini, kisaran kolagen adalah 2565%. Marmut dengan coat gelap memiliki kolagen yang lebih rendah daripada marmut dengan coat yang lebih terang. Hal ini berbeda dari Montagna & Carlisle . yang menyatakan bahwa kulit gelap memiliki serat kolagen yang lebih padat dibandingkan kulit Sementara itu, menurut Inforzato et al. mempengaruhi jumlah kolagen, namun kulit gelap memiliki serat kolagen yang lebih tebal dibandingkan kulit yang lebih cerah. Paparan UV secara terus menerus dapat menyebabkan penurunan kolagen dan elastisitas kulit yang dikenal sebagai penuaan dini atau photoaging (Tzaphlidou, 2. Kulit yang memiliki banyak melanin dapat mencegah degradasi kolagen secara intensif karena melanin berfungsi untuk menyerap radiasi UV sehingga mengurangi dampak negatifnya terhadap fibroblas dan kolagen (Loh, 2. Kulit terang dan albino hanya memiliki sedikit melanin sehingga lebih sensitif terhadap radiasi UV, oleh karena itu memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kerusakan kulit . mulai dari sunburn, photoaging, hingga kanker kulit (D'Orazio et al. , 2. Sebagaimana kulit manusia, kulit marmut tersusun dari epidermis dan dermis. Epidermis memiliki empat lapisan, dari distal . ke proksimal . , yaitu: stratum basal/germinativum, stratum spinosum, stratum granulosum, dan stratum korneum (Alhacham. Epidermis didominasi oleh keratinosit . %) dan sisanya berupa melanosit, sel-sel Merkel, dan sel-sel Langerhans . %). Melanosit menghasilkan melanin yang berfungsi sebagai pigmen fotoprotektif (Souci & Denesvre, 2. Melanin menyerap radiasi UV yang berlebihan untuk mencegah kerusakan DNA pada sel-sel Melanin juga berperan dalam melawan radikal bebas seperti reactive oxygen species (ROS) yang terbentuk selama kulit terpapar UV (Solano, 2. Hasil pengamatan preparat histologis menunjukkan adanya perbedaan antara kulit marmut tricolor dan tortoiseshell, terutama pada ketebalan epidermis. Dibandingkan marmut tricolor, kulit marmut tortoiseshell memiliki lebih banyak keratinosit, melanosit, dan keratinosit yang mengandung Selain itu, kulit marmut tortoiseshell A 2024 Fitria, dkk. This article is open acces Fitria & Gunawan. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 64 Ae 74 DOI: 10. 22146/bib. juga memiliki stratum korneum yang lebih tebal dan intact di permukaan kulit (Gambar . Gambar 2. Perbandingan struktur histologis kulit marmut (H&E, perbesaran 400C). Keterangan: A. Tricolor putih. Tricolor oranye. Tricolor hitam. Tortoiseshell coklat. Tortoiseshell hitam. Tanda panah E = epidermis. D = dermis. Scale bar = 100 AAm. Hasil menunjukkan adanya perbedaan ketebalan epidermis dan dermis antara marmut tricolor dan Pada marmut tricolor, ketebalan epidermis dan dermis bervariasi tergantung warna coat . idak signifika. Sementara itu, pada marmut tortoiseshell makin gelap warna coat maka epidermis dan dermis makin tebal . Selain itu, marmut tortoiseshell juga memiliki epidermis dan dermis yang relatif lebih tebal dibandingkan marmut tricolor (Tabel . Tabel 2. Hasil pemeriksaan histomorfometri kulit marmut menggunakan OptilabA4. Epidermis (AA. Dermis (AA. Kisaran Rata-rata Kisaran Rata-rata Putih 20,22 Ae 51,66 30,84A8,59 a 812,00 Ae 1046,16 938,68A94,10 b Marmut 22,46 Ae 51,82 691,82 Ae 853,54 Oranye 32,19A7,89 a ,97A52,30 a Hitam 20,22 Ae 40,43 31,28A7,20 a 759,77 Ae 894,54 814,02A51,48 ab Marmut Coklat 22,24 Ae 57,28 36,72A10,97 b 895,10 Ae 979,34 926,78A31,07 b 30,03 Ae 56,15 1115,23 Ae 1163,52 Hitam 42,97A8,12 c 1146,22A16,33 c Keterangan: nilai yang diikuti dengan huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak ada beda nyata . >0,. Kelompok Warna coat Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa marmut dengan warna coat lebih gelap memiliki epidermis dan dermis yang lebih tebal dibandingkan marmut dengan warna coat yang lebih cerah. Hal ini selaras dengan penelitian klinis oleh Inforzato et al. yang menyatakan bahwa epidermis dan dermis pada kulit gelap lebih tebal daripada kulit cerah. Selain itu menurut Vashi et al. , kulit coklat atau sawo matang . dan kulit hitam memiliki epidermis dan dermis yang lebih tebal dan padat dibandingkan kulit putih, dengan ketebalan yang berbanding lurus dengan derajat pigmentasinya. Epidermis pada kulit gelap lebih tebal karena mengandung lebih banyak korneosit, kandungan lipid dan air. Sementara itu, dermis pada kulit gelap memiliki fibroblas yang lebih banyak dan lebih besar sehingga memiliki serat kolagen yang A 2024 Fitria, dkk. This article is open acces Fitria & Gunawan. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 64 Ae 74 DOI: 10. 22146/bib. lebih bayak dan padat. Kulit gelap juga memiliki kelenjar apokrin, ekrin, dan sebasea yang lebih banyak daripada kulit terang sehingga berkorelasi positif dengan populasi mikroflora kulit (Rawlings, 2. Epidermis dan dermis yang tebal sangat menguntungkan bagi individu yang bertempat tinggal di kawasan tropis atau sering terpapar sinar matahari. Hal ini karena kulit yang tebal dapat mengurangi risiko kerusakan kulit akibat radiasi UV atau photodamage (Vashi et al. Radiasi UV yang berlebihan dapat menyebabkan penebalan epidermis karena menginduksi proliferasi keratinosit. Peningkatan laju pembelahan keratinosit akan menyebabkan akumulasi keratinosit sehingga epidermis menjadi tebal sebagai respons perlindungan kulit terhadap penetrasi UV (DAoOrazio et al. , 2. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, terdapat perbedaan yang signifikan antara kulit marmut tricolor dan tortoiseshell, sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan dalam rangka membuat database kulit marmut untuk kontrol atau kondisi normal sebagai rujukan dalam penelitian-penelitian terkait kulit . ermatologi dan kedokteran estetik. yang menggunakan marmut sebagai hewan coba. Penggunaan marmut sebagai hewan coba dalam penelitian biologis dan biomedis sangat popular, dimulai sejak akhir tahun 1700an hingga akhir tahun 1900an yang kemudian digantikan oleh tikus dan mencit dengan berbagai pertimbangan (Taylor & Lee, 2. Dengan demikian, sebagian besar publikasi ilmiah terkait penggunaan marmut sebagai hewan coba telah Secara fisiologis, marmut memiliki lebih banyak kemiripan dengan manusia dibandingkan tikus dan mencit, salah satunya adalah ketidakmampuan tubuhnya mensintesis vitamin C. Vitamin C diketahui merupakan antioksidan terkuat yang memegang peranan penting dalam menangani kondisi stres oksidatif, salah satunya adalah paparan UV (Kawashima et al. , 2. Selain itu, kulit marmut memiliki struktur yang mirip dengan kulit manusia, antara lain ketebalan dan pigmentasi (Padmavathi et al. , 2. Berdasarkan hal ini, maka marmut lebih sesuai menjadi model hewan dalam penelitian kulit daripada tikus dan mencit, seperti yang telah dilakukan oleh para peneliti di era 1900an. Kesimpulan Variasi warna coat pada marmut mempengaruhi kondisi kulit yang meliputi: kadar sebum, kelembapan, pigmentasi, elastisitas, dan Variasi warna coat juga menyebabkan perbedaan ketebalan epidermis dan dermis. Berdasarkan data yang diperoleh, jenis marmut yang cocok digunakan sebagai model hewan dalam rangka mewakili kulit manusia tropis adalah tortoiseshell. Ucapan terima kasih Penelitian ini didanai melalui Skema Program Hibah Penelitian Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa (KDM) Fakultas Biologi UGM dengan Surat Kontrak Penelitian Nomor: 1507/UN1/FBI. 1/KSA/PT. 03/2023, tanggal 20 Maret 2023. Kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala Laboratorum Fisiologi Hewan UGM dan Pengelola Animal House Fakultas Biologi UGM yang telah memberikan izin dan fasilitas untuk pelaksanaan penelitian ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Diaz Ayu Anjani. Si. SyifaAo Aulia Rahmah. Si. Putri Nur Aida. Si. , dan Pricellita NurAoaivy Alvianti. Si. yang telah membantu dalam perawatan marmut selama percobaan ini Referensi