Majamath: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika e-ISSN 2614-4204 dan p-ISSN 2615-465X Volume 9 Nomor 1 Maret 2026 ANALISIS DESKRIPTIF MINAT DAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMA DAN FAKTOR PENYEBABNYA Grace C. Sihaloho1*). Rohmendena Sri Putri Manik2. Sutan Surya Darpan Siregar3 Universitas Negeri Medan. Kota Medan. Sumatera Utara *)gracehaoho550@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat minat dan motivasi belajar matematika serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya kedua aspek tersebut di kalangan siswa Sekolah Menengah Atas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam kepada guru dan siswa untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai kondisi aktual di lapangan. Partisipan penelitian terdiri atas guru matematika yang telah lama mengajar di sekolah serta siswa yang terindikasi memiliki minat dan motivasi belajar matematika rendah, yang ditentukan berdasarkan hasil observasi awal dan rekomendasi guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya minat dan motivasi belajar matematika disebabkan oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi persepsi negatif terhadap matematika sebagai pelajaran yang sulit, rendahnya rasa percaya diri, serta kecemasan belajar . ath anxiet. Sementara itu, faktor eksternal meliputi metode pembelajaran yang masih konvensional, kurangnya variasi media pembelajaran, serta minimnya dukungan lingkungan belajar. Ditemukan pula bahwa siswa cenderung belajar karena dorongan nilai dan tuntutan orang tua, bukan karena minat intrinsik. Oleh karena itu, peningkatan minat dan motivasi belajar matematika memerlukan strategi pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan berpusat pada siswa, disertai dukungan emosional dari guru dan lingkungan sekolah yang positif. Kata Kunci: Minat Belajar. Motivasi Belajar. Matematika. Siswa Sekolah Menengah Abstract This study aims to describe the level of studentsAo interest and motivation in learning mathematics and to identify the factors contributing to their low levels among senior high school students. The research employed a descriptive qualitative method through in-depth interviews with teachers and students to obtain a comprehensive understanding of the real conditions in schools. The findings revealed that the low interest and motivation in learning mathematics are influenced by both internal and external factors. Internal factors include negative perceptions of mathematics as a difficult subject, low self-confidence, and math External factors consist of conventional teaching methods, limited use of learning media, and insufficient support from the learning environment. It was also found that most students study mathematics mainly for grades and parental demands rather than intrinsic Therefore, enhancing studentsAo interest and motivation in learning mathematics requires innovative, contextual, and student-centered learning strategies, along with emotional support from teachers and a positive school environment. Keywords: Learning Interest. Learning Motivation. Mathematics. High School Students Majamath: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika e-ISSN 2614-4204 dan p-ISSN 2615-465X Volume 9 Nomor 1 Maret 2026 Pendahuluan Matematika memegang peran fundamental dalam membentuk kemampuan berpikir logis, kritis, dan analitis yang esensial bagi peserta didik. Namun demikian, berbagai temuan menunjukkan bahwa mata pelajaran ini masih dianggap sulit oleh sebagian besar siswa, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah (Oktavia dkk. , 2. Gejala ini tampak dari menurunnya partisipasi aktif siswa di kelas, tingginya tingkat kecemasan terhadap matematika . ath anxiet. , serta hasil belajar yang tidak optimal. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa rendahnya minat dan motivasi belajar matematika berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Siswa dengan motivasi dan minat yang tinggi cenderung memiliki hasil belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan motivasi rendah (Syafii, 2021. Trisnowali, 2. Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa rendahnya minat belajar menyebabkan siswa kurang aktif dan mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika (Nuraziza et al. , 2. Rendahnya minat dan motivasi ini menjadi masalah serius karena kedua aspek tersebut merupakan penggerak utama dalam proses pembelajaran. Tanpa adanya minat dan motivasi yang memadai, upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan matematika menjadi kurang efektif (Budi, dkk. , 2. Berdasarkan kajian pustaka, faktor penyebab rendahnya minat dan motivasi belajar matematika bersifat multifaset, yang dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal Faktor internal mencakup persepsi negatif bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan abstrak, kurangnya rasa percaya diri . elf-efficac. , serta inteligensi dan kondisi fisiologis siswa (Anggraeni, dkk. , 2. Sementara itu, faktor eksternal didominasi oleh metode pembelajaran yang masih konvensional dan kurang variatif, minimnya pemanfaatan media pembelajaran, kurangnya dukungan dari orang tua, serta lingkungan belajar yang tidak kondusif (Nurhangesti, dkk. , 2. Di sisi lain, beberapa penelitian terdahulu, yaitu penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya dan relevan dengan topik minat dan motivasi belajar matematika, menunjukkan bahwa penerapan strategi pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa variasi metode pembelajaran dan pendekatan yang sesuai dapat meningkatkan keterlibatan serta motivasi belajar matematika siswa (Lestari et al. , 2022. Mardiati et al. , 2. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif dan deskriptif mengenai tingkat serta faktor-faktor yang memengaruhi minat dan motivasi belajar matematika pada siswa Sekolah Menengah menjadi langkah kritis dan Majamath: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika e-ISSN 2614-4204 dan p-ISSN 2615-465X Volume 9 Nomor 1 Maret 2026 Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini dirancang dengan tujuan untuk: . Mendeskripsikan tingkat minat belajar matematika pada siswa Sekolah Menengah, . Mendeskripsikan tingkat motivasi belajar matematika pada siswa Sekolah Menengah, dan . Mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang menyebabkan rendahnya minat dan motivasi belajar matematika. Kajian teoritis dalam penelitian ini berlandaskan pada konsep minat belajar sebagai rasa ketertarikan dan keterikatan pada suatu aktivitas serta motivasi sebagai dorongan dari dalam dan luar diri siswa (Budi dkk. , 2. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa minat dan motivasi belajar memiliki hubungan serta pengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi dan minat belajar berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar baik secara parsial maupun simultan (Choliza, 2026. Kismurdiani, 2. Selain itu, penelitian lain juga menemukan adanya hubungan positif antara motivasi belajar dengan hasil belajar matematika siswa (Wijayanti & Widodo, 2. , serta minat belajar yang berkorelasi signifikan terhadap hasil belajar matematika (Nasir, 2. Namun demikian, penelitian-penelitian tersebut umumnya hanya berfokus pada hubungan atau pengaruh antara minat, motivasi, dan hasil belajar, sehingga belum memberikan gambaran secara mendalam mengenai tingkat minat dan motivasi belajar serta faktor-faktor dominan yang memengaruhinya. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pada analisis deskriptif yang komprehensif untuk mengidentifikasi tingkat serta faktor dominan yang memengaruhi minat dan motivasi belajar matematika siswa Sekolah Menengah. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih spesifik dan kontekstual sebagai dasar dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif. Melalui penelitian deskriptif ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang jelas dan objektif mengenai kondisi aktual minat dan motivasi belajar matematika siswa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar empiris bagi para pendidik dan pengambil kebijakan di sekolah untuk merancang intervensi dan strategi pembelajaran yang lebih efektif, inovatif, serta dapat menumbuhkan iklim belajar yang positif, sehingga pada akhirnya mampu meningkatkan hasil belajar matematika siswa secara keseluruhan. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Arkandito, . , penelitian kualitatif memanfaatkan teknik wawancara terbuka untuk memahami Majamath: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika e-ISSN 2614-4204 dan p-ISSN 2615-465X Volume 9 Nomor 1 Maret 2026 persepsi, sikap, dan pengalaman subjek penelitian, baik secara individual maupun dalam konteks Sejalan dengan itu. Fadli . menyatakan bahwa pendekatan kualitatif bertujuan untuk mendeskripsikan secara naratif berbagai aktivitas serta dampaknya dalam konteks kehidupan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji minat dan motivasi belajar matematika di kalangan siswa Sekolah Menengah. Subjek penelitian terdiri dari guru matematika dan siswa. Guru yang dipilih sebagai informan adalah guru yang memiliki pengalaman mengajar minimal 7 tahun, aktif mengajar di kelas, serta terlibat langsung dalam proses pembelajaran matematika di jenjang tersebut. Sementara itu, siswa yang menjadi responden adalah siswa yang sedang mengikuti pembelajaran matematika di kelas yang diampu oleh guru tersebut. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur kepada guru dan siswa untuk memperoleh informasi yang mendalam mengenai persepsi, pengalaman, serta faktor-faktor yang memengaruhi minat dan motivasi belajar matematika. Teknik analisis data menggunakan analisis tematik, yang meliputi proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai fenomena yang diteliti. Hasil dan Pembahasan Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan salah satu guru matematika dan siswa dari SMA Negeri 6 Medan. Wawancara dilakukan untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai kondisi aktual minat dan motivasi belajar matematika. Proses wawancara dilakukan secara semi-terstruktur dengan pertanyaan yang mengacu pada indikator minat dan motivasi belajar. Melalui pendekatan ini, diperoleh berbagai temuan yang mencerminkan persepsi, pengalaman, serta faktor-faktor yang memengaruhi sikap siswa terhadap pembelajaran matematika. Secara umum, hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih memiliki persepsi negatif terhadap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit dan abstrak. Kondisi ini berpengaruh terhadap minat dan motivasi belajar mereka. Sementara itu, guru mengonfirmasi bahwa variasi metode pembelajaran dan penggunaan media yang masih terbatas turut menjadi faktor penghambat dalam menumbuhkan antusiasme siswa. Berikut disajikan ringkasan hasil wawancara guru matematika yang telah lama mengajar di sekolah serta siswa-siswa yang terindikasi memiliki minat dan motivasi belajar matematika rendah, yang ditentukan berdasarkan hasil observasi awal dan rekomendasi guru mengenai aspek minat dan motivasi belajar matematika siswa Sekolah Menengah Atas. Majamath: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika e-ISSN 2614-4204 dan p-ISSN 2615-465X Aspek Indikator Ketertarikan Terhadap Matematika Persepsi terhadap kesulitan pelajaran Minat Belajar Penggunaan media Ketertarikan situasional Kecemasan belajar . ath Penguatan positif Motivasi Belajar Ketekunan dalam belajar Strategi pembelajaran Jenis motivasi Volume 9 Nomor 1 Maret 2026 Tabel 1. Temuan Wawancara. Hasil Wawancara Sebagian besar siswa mengikuti pelajaran matematika karena kewajiban, bukan karena ketertarikan pribadi. Banyak siswa menganggap matematika sulit dan menakutkan, sehingga menurunkan minat di tingkat Media pembelajaran yang digunakan masih terbatas pada papan tulis dan buku teks, menyebabkan siswa mudah bosan. Minat siswa meningkat apabila guru menyampaikan materi secara menarik. Jika tidak, mereka tidak suka Sebagian siswa merasa takut terhadap matematika, sehingga menurunkan kepercayaan diri dan motivasi Pemberian apresiasi dan pujian oleh guru terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Siswa bermotivasi tinggi aktif bertanya dan mencoba menyelesaikan soal, sementara yang rendah cenderung pasif dan mudah menyerah. Metode pembelajaran konvensional dinilai kurang mampu memunculkan motivasi belajar yang kuat. Kebanyakan siswa termotivasi belajar matematika dikarenakan faktor nilai, tuntutan orang tua, dan Sehingga kesannya terpaksa. Sumber Siswa Siswa Guru Siswa dan Guru Siswa Guru Guru Guru Siswa Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan siswa di SMA Negeri 6 Medan, diketahui bahwa sebagian besar siswa memiliki persepsi negatif terhadap mata pelajaran matematika. Mereka menilai matematika sebagai pelajaran yang sulit, membingungkan, dan tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Persepsi ini berkontribusi terhadap rendahnya minat belajar, karena siswa cenderung mengikuti pelajaran hanya sebagai kewajiban, bukan karena rasa ingin tahu atau ketertarikan pribadi. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang menyebutkan bahwa rendahnya minat belajar matematika siswa disebabkan oleh anggapan bahwa matematika adalah pelajaran sulit dan menakutkan, sehingga mengurangi antusiasme belajar di tingkat menengah atas (Masfufah & Imami, 2. Anggapan negatif ini pada akhirnya membentuk sikap pasif siswa terhadap pembelajaran, yang berdampak pada hasil belajar mereka. Selain persepsi, motivasi belajar siswa juga ditemukan cukup rendah, baik secara internal maupun eksternal. Berdasarkan wawancara, sebagian besar siswa belajar matematika karena tuntutan nilai, dorongan orang tua, atau syarat kelulusan, bukan karena motivasi intrinsik. Faktor internal seperti rasa percaya diri yang rendah dan tujuan belajar yang tidak jelas memperparah kondisi ini. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa motivasi belajar berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar matematika, di mana siswa dengan motivasi tinggi Majamath: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika e-ISSN 2614-4204 dan p-ISSN 2615-465X Volume 9 Nomor 1 Maret 2026 memiliki performa akademik yang lebih baik (Syafii, 2. Lebih lanjut, penelitian lain juga menegaskan bahwa motivasi belajar siswa bersumber dari faktor internal dan eksternal, seperti dorongan pribadi, kondisi keluarga, serta lingkungan sosial sekolah (Dewi et al. , 2. Faktor metode pembelajaran yang digunakan guru turut berperan besar dalam rendahnya minat dan motivasi belajar siswa. Guru dalam wawancara menyatakan bahwa pembelajaran matematika masih didominasi metode pembelajaran dan latihan soal tanpa variasi media atau aktivitas yang menarik. Hal ini membuat siswa cepat bosan dan kurang terlibat aktif dalam Penelitian yang dilakukan oleh Lestari et al. juga menunjukkan bahwa metode konvensional yang berpusat pada guru membuat siswa kurang termotivasi untuk memahami konsep matematika secara mendalam. Dengan demikian, pembelajaran yang kurang inovatif menjadi salah satu penyebab utama rendahnya motivasi belajar matematika di sekolah. Temuan lainnya menunjukkan adanya kecemasan atau math anxiety di kalangan siswa. Banyak siswa merasa takut melakukan kesalahan saat mengerjakan soal matematika dan khawatir mendapat nilai rendah. Kondisi ini menurunkan kepercayaan diri dan memengaruhi ketekunan mereka dalam belajar. Menurut penelitian oleh Fitri et al. , motivasi belajar yang rendah sering kali disertai dengan kecemasan dan rasa takut terhadap matematika yang membuat siswa menghindari aktivitas belajar yang menantang (Fitri et al. , 2. Hal serupa juga dijelaskan oleh Trisnowali . yang menemukan bahwa minat dan sikap positif terhadap matematika berkorelasi dengan hasil belajar yang lebih baik (Trisnowali, 2. Secara keseluruhan, hasil wawancara menunjukkan bahwa rendahnya minat dan motivasi belajar matematika siswa bukan hanya disebabkan oleh kesulitan materi, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti metode pembelajaran, dukungan lingkungan, dan kondisi psikologis Penelitian oleh Nuraziza et al. mengonfirmasi bahwa faktor-faktor tersebut saling berhubungan dan memengaruhi minat belajar siswa terhadap matematika di sekolah menengah atas (Nuraziza et al. , 2. Sementara itu, penelitian Tadjuddin . menunjukkan bahwa minat belajar berperan sebagai variabel intervening antara aktivitas belajar dan hasil belajar matematika, yang berarti peningkatan minat akan berdampak langsung pada peningkatan hasil belajar (Tadjuddin, 2. Berdasarkan keseluruhan temuan ini, diperlukan strategi pembelajaran yang lebih inovatif, kontekstual, dan berpusat pada siswa. Guru dapat menerapkan pendekatan projectbased learning atau problem-based learning yang terbukti dapat meningkatkan partisipasi dan motivasi siswa (Mardiati et al. , 2. Selain itu, penguatan positif seperti pemberian pujian dan Majamath: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika e-ISSN 2614-4204 dan p-ISSN 2615-465X Volume 9 Nomor 1 Maret 2026 apresiasi atas usaha belajar siswa juga terbukti efektif meningkatkan motivasi mereka. Dengan demikian, peningkatan minat dan motivasi belajar matematika memerlukan kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan pihak sekolah agar pembelajaran matematika menjadi lebih menyenangkan, bermakna, dan mendorong hasil belajar yang optimal. Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa rendahnya minat dan motivasi belajar matematika di kalangan siswa Sekolah Menengah Atas disebabkan oleh faktor internal dan eksternal yang saling berpengaruh. Faktor internal meliputi persepsi negatif terhadap matematika sebagai pelajaran yang sulit dan menakutkan, rendahnya rasa percaya diri, serta lemahnya dorongan intrinsik untuk belajar. Sedangkan faktor eksternal mencakup metode pembelajaran yang masih bersifat konvensional, kurangnya variasi media dan strategi pembelajaran, serta minimnya dukungan lingkungan belajar baik dari keluarga maupun Kondisi tersebut menyebabkan siswa memandang matematika hanya sebagai kewajiban akademik, bukan sebagai sarana pengembangan berpikir logis dan kritis. Selain itu, munculnya kecemasan terhadap matematika . ath anxiet. semakin memperburuk minat dan motivasi belajar siswa karena menurunkan keberanian mereka untuk mencoba dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Oleh karena itu, upaya peningkatan minat dan motivasi belajar matematika perlu dilakukan secara menyeluruh melalui penerapan strategi pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan berpusat pada siswa, seperti pendekatan problem-based learning dan projectbased learning. Dukungan emosional dan apresiasi dari guru juga berperan penting dalam menumbuhkan rasa percaya diri serta semangat belajar siswa. Berdasarkan simpulan tersebut, disarankan agar guru matematika lebih kreatif dalam merancang pembelajaran yang menarik, interaktif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari agar siswa merasa termotivasi dan terlibat aktif selama proses belajar. Pihak sekolah diharapkan memberikan dukungan berupa fasilitas dan pelatihan bagi guru untuk mengembangkan kompetensi pedagogik dan penggunaan media pembelajaran yang variatif. Orang tua juga diharapkan berperan aktif dalam memberikan dorongan positif serta menciptakan suasana rumah yang mendukung semangat belajar anak terhadap matematika. Selain itu, peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan kajian yang lebih mendalam dan melibatkan lebih banyak responden agar dapat menemukan strategi konkret yang efektif dalam meningkatkan minat dan motivasi belajar matematika di berbagai konteks pendidikan. Majamath: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika e-ISSN 2614-4204 dan p-ISSN 2615-465X Volume 9 Nomor 1 Maret 2026 Referensi