Center of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Dampak Pelatihan Pengelolaan Keuangan Terhadap Kesejahteraan Ekonomi Keluarga di Desa Paku Kecamatan Payung Bangka Selatan Nana Adriana1. Rahmad Firdaus2. Jufri Sani Akbar3. Mohammad Makrus4. Nur Hidayati5 1,2,3,4,5,6 Universitas Pertiba. Indonesia Corresponding Author : nana08082017@gmail. Keywords ABSTRACT Keterbatasan literasi keuangan menjadi salah satu penyebab rendahnya kesejahteraan ekonomi keluarga di wilayah pedesaan, termasuk di Desa Paku Kecamatan Payung. Bangka Selatan, yang mayoritas penduduknya bergantung pada sektor pertanian dan perikanan. Program ini bertujuan meningkatkan keterampilan pengelolaan keuangan rumah tangga melalui pelatihan berbasis partisipasi masyarakat yang menekankan pada penyusunan anggaran, kebiasaan menabung, serta pengendalian utang konsumtif. Kegiatan dilaksanakan dengan metode partisipatif-deskriptif, melibatkan warga sejak tahap perencanaan hingga evaluasi, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan diskusi kelompok terarah terhadap 40 peserta. Analisis dilakukan secara deskriptif-tematik untuk mengidentifikasi perubahan perilaku dan inisiatif ekonomi pascapelatihan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada kemampuan peserta mengatur anggaran, memprioritaskan kebutuhan, serta mengelola pendapatan secara lebih efektif. Selain itu, terbentuk kelompok simpan pinjam desa yang menjadi wadah keberlanjutan praktik keuangan sehat. Kesimpulannya, pelatihan pengelolaan keuangan berbasis partisipasi tidak hanya meningkatkan kapasitas literasi keuangan keluarga tetapi juga memperkuat modal sosial dalam mendorong kemandirian ekonomi desa. Pelatihan Pengelolaan Keuangan. Kesejahteraan Ekonomi Keluarga. Partisipasi Masyarakat. Literasi Keuangan PENDAHULUAN Pengelolaan keuangan keluarga yang baik merupakan salah satu kunci utama dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi, baik secara mikro maupun makro (Maria et al. , 2. Di tingkat nasional, sekitar 25% keluarga mengalami kesulitan dalam pengelolaan keuangan, berdampak negatif pada kesejahteraan dan ketahanan ekonomi (Goso, 2. Di Desa Paku. Kecamatan Payung. Kabupaten Bangka Selatan, kondisi ini diperparah oleh ketergantungan masyarakat terhadap sektor pertanian dan perikanan yang rentan terhadap fluktuasi harga dan cuaca, sehingga banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka. Fenomena serupa juga tercatat di berbagai komunitas pedesaan di Indonesia, yang menunjukkan pentingnya intervensi literasi keuangan sebagai strategi peningkatan kesejahteraan (Putra, 2. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 192-206 Temuan lintas studi menunjukkan bahwa literasi keuangan secara signifikan memengaruhi kesejahteraan rumah tangga. (Mas et al. misalnya, menemukan bahwa rumah tangga yang mengenal lembaga keuangan resmi dan memiliki tabungan memiliki peluang lebih tinggi untuk mencapai kesejahteraan dibanding yang tidak memilikinya. Studi lain diaya rumah tangga pedesaan memperlihatkan bahwa literasi dan inklusi keuangan berpengaruh pada pola konsumsi, yang merupakan indikator kesejahteraan (Hermawanti, 2. Namun, meskipun bukti empiris ada, ada kekurangan penelitian yang mengkaji pendekatan partisipatif berbasis masyarakat dalam konteks pedesaan spesifik seperti Desa Paku. Penelitian terdahulu umumnya berfokus pada pendekatan kuantitatif seperti survei nasional atau data longitudinal (Hermawanti, 2. , tanpa menekankan bagaimana keterlibatan aktif masyarakat dalam pelatihan keuangan dapat menginisiasi perubahan perilaku. Gap penelitian ini yakni minimnya penelitian partisipatif-deskriptif yang menekankan proses bersama warga desa mendorong urgensi untuk mengeksplorasi bagaimana pelatihan pengelolaan keuangan yang dikembangkan dan dilaksanakan secara partisipatif dapat berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga di Desa Paku. Tujuan penelitian ini secara eksplisit adalah untuk menilai dampak pelatihan pengelolaan keuangan terhadap kesejahteraan ekonomi keluarga di Desa Paku melalui pendekatan partisipatif-deskriptif. Pendekatan ini mencakup keterlibatan warga sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pelatihan, serta pemantauan perubahan perilaku keuangan keluarga pasca-pelatihan. Penelitian ini juga bermaksud mengidentifikasi inisiatif lokal, seperti pembentukan kelompok simpan pinjam sebagai hasil kolaboratif Kontribusi teoretis dari penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka integratif literasi keuangan masyarakat desa yang menggabungkan pendekatan partisipatif, yang hingga kini masih jarang dibahas dalam literatur ekonomi pembangunan Indonesia. Kontribusi ini membuka ruang bagi pemahaman baru bahwa literasi keuangan bukan hanya soal pengetahuan, tapi juga soal keterlibatan sosial dan kolektif dalam praktik ekonomi keluarga. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan memberikan rekomendasi bagi program pengabdian masyarakat, kebijakan desa, dan pemerintah daerah untuk merancang pelatihan keuangan yang lebih berbasis kebutuhan dan Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 192-206 METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan partisipatif-deskriptif, yang memadukan observasi langsung dan keterlibatan aktif peneliti bersama masyarakat dalam seluruh tahapan kegiatan (Anshari et al. , 2. Lokasi penelitian adalah Desa Paku. Kecamatan Payung. Kabupaten Bangka Selatan, dengan pelaksanaan program mulai tanggal 23 Juli 2025 hingga 29 Juli 2025, bertepatan dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 9 Universitas Pertiba. Tahap awal kegiatan dimulai dengan koordinasi dan perizinan kepada Pemerintah Desa Paku, diikuti dengan rapat persiapan program kerja bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan anggota kelompok KKN. Selanjutnya dilakukan pemetaan kondisi sosial-ekonomi desa melalui survei Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) serta observasi lingkungan untuk mengidentifikasi permasalahan yang relevan dengan tujuan program, yaitu peningkatan literasi dan pengelolaan keuangan keluarga. Pelaksanaan kegiatan melibatkan serangkaian metode yang saling melengkapi, yaitu observasi lapangan untuk mengamati langsung aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat, termasuk pola pengelolaan keuangan rumah wawancara terstruktur dan tidak terstruktur guna menggali informasi dari perangkat desa, pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM), serta warga terkait kebutuhan, hambatan, dan potensi desa. diskusi kelompok terarah . ocus group discussion/FGD) yang memfasilitasi warga dalam bertukar pengalaman dan pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan serta sosialisasi dan edukasi yang menyampaikan materi tentang penyusunan anggaran rumah tangga, pentingnya menabung, strategi menghindari utang konsumtif, dan pemanfaatan lembaga keuangan lokal. Peserta yang terlibat dalam program berjumlah 40 orang, terdiri atas perwakilan keluarga, pelaku UMKM, dan tokoh masyarakat. Materi pelatihan disusun secara kontekstual, menggunakan contoh nyata dari kehidupan seharihari warga Desa Paku, serta disertai praktik langsung penyusunan rencana anggaran keluarga. Pengumpulan data dilakukan melalui catatan lapangan, dokumentasi foto, dan transkrip hasil diskusi. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif-tematik untuk mengidentifikasi perubahan perilaku keuangan peserta dan inisiatif ekonomi yang muncul pasca pelatihan. Validasi data dilakukan melalui triangulasi sumber (Susanto & Jailani, 2. , dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi kegiatan. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 192-206 HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pelaksanaan program pelatihan pengelolaan keuangan di Desa Paku. Kecamatan Payung. Bangka Selatan, ditemukan sejumlah perubahan signifikan dalam perilaku keuangan keluarga peserta. Hasil ini diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan peserta, perangkat desa, dan pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM), serta diskusi kelompok terarah (FGD). Analisis tematik mengidentifikasi empat subtema utama yang mencerminkan dampak pelatihan, yaitu: . peningkatan kemampuan menyusun dan mengelola anggaran rumah tangga, . penguatan kebiasaan menabung, . pengendalian utang konsumtif, dan . lahirnya inisiatif kolektif berupa kelompok simpan pinjam desa. Gambar 1. Peserta Pelatihan Yang Hadir Peningkatan Kemampuan Menyusun dan Mengelola Anggaran Rumah Tangga Pelatihan pengelolaan keuangan yang dilaksanakan di Desa Paku memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kapasitas peserta dalam menyusun dan mengelola anggaran rumah tangga. Sebelum pelatihan, sebagian besar keluarga tidak memiliki kebiasaan untuk membuat rencana keuangan yang terstruktur. Pengeluaran dilakukan secara spontan, seringkali tanpa mempertimbangkan prioritas kebutuhan, sehingga pada pertengahan bulan banyak keluarga mengalami kekurangan dana untuk kebutuhan pokok. Melalui sesi pelatihan yang menekankan pentingnya perencanaan dan pencatatan, peserta mulai memahami bahwa anggaran berfungsi sebagai alat kendali dan panduan dalam mengatur arus keluar masuk keuangan keluarga. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 192-206 Perubahan ini tampak pada kebiasaan baru peserta yang mulai mencatat semua pemasukan dan pengeluaran secara rutin, baik harian maupun bulanan. Mereka diajarkan cara sederhana membuat daftar prioritas kebutuhan, memisahkan antara kebutuhan pokok dan keinginan, serta menyesuaikan rencana belanja dengan pendapatan aktual. Peserta juga memahami pentingnya mempersiapkan anggaran darurat untuk menghadapi pengeluaran tak terduga, seperti biaya kesehatan atau perbaikan rumah. Penerapan prinsip ini membantu keluarga menghindari pemborosan sekaligus menekan risiko berutang untuk kebutuhan konsumtif. Seorang peserta mengungkapkan, perubahan sederhana seperti mencatat pengeluaran harian telah membuatnya lebih sadar pola belanja yang tidak efisien: AuDulu saya tidak pernah mencatat pengeluaran, sekarang setiap belanja saya tulis dan lihat lagi mana yang bisa dikurangi untuk bulan depan. Ay (P1. Wawancara, 28 Juli 2. Peserta lain menegaskan manfaat membuat anggaran untuk memastikan kebutuhan pokok terpenuhi terlebih dahulu: AuSaya jadi tahu cara bikin anggaran, jadi bisa mengatur untuk kebutuhan pokok dulu sebelum membeli yang Ay (P7. Wawancara, 28 Juli 2. Sementara itu, salah satu responden menyoroti bahwa membuat anggaran bukan hanya soal administrasi, tetapi juga soal disiplin diri: AuPelatihan ini membantu saya memahami bahwa membuat anggaran itu bukan sekadar mencatat, tapi juga mengendalikan supaya tidak boros. Ay (P15. Wawancara, 28 Juli 2. Selain perubahan perilaku individu, kegiatan ini juga memunculkan kesadaran kolektif di antara peserta tentang pentingnya berbagi strategi pengelolaan keuangan. Dalam beberapa diskusi pascapelatihan, peserta saling bertukar tips menghemat pengeluaran, seperti membeli bahan pokok dalam jumlah besar untuk mendapatkan harga lebih murah atau memanfaatkan produk lokal sebagai pengganti produk pabrikan yang lebih mahal. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 192-206 Gambar 2. Peserta pelatihan sedang mempraktikkan penyusunan anggaran rumah Penguatan Kebiasaan Menabung Salah satu hasil penting dari pelatihan pengelolaan keuangan di Desa Paku adalah meningkatnya kesadaran peserta untuk menabung secara teratur. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 192-206 meskipun dalam jumlah kecil. Sebelum mengikuti pelatihan, sebagian besar peserta mengaku sulit menyisihkan pendapatan karena merasa semua penghasilan habis untuk kebutuhan sehari-hari. Kebiasaan menabung dianggap beban tambahan, bukan prioritas, sehingga hanya dilakukan ketika ada uang lebih. Melalui pelatihan ini, peserta diperkenalkan pada konsep pay yourself first, yaitu menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan sebelum digunakan untuk kebutuhan lain. Metode pembelajaran yang digunakan menekankan bahwa nominal tabungan tidak harus besar, asalkan konsisten dilakukan. Peserta diajak untuk menghitung kebutuhan bulanan secara realistis, kemudian menentukan persentase tertentu dari pendapatan untuk dialokasikan sebagai tabungan. Pendekatan ini membantu mengubah pola pikir dari Aumenabung jika ada sisaAy menjadi Aumenabung sebagai kewajiban awalAy. Bahkan, bagi keluarga dengan penghasilan rendah, fasilitator memberikan tips menabung dalam bentuk barang atau bahan kebutuhan pokok yang tahan lama, seperti beras atau minyak goreng, sehingga tetap terjaga nilainya. Salah satu peserta menyampaikan perubahan perilaku yang dirasakan setelah pelatihan:AuSekarang saya biasakan menyisihkan uang walau cuma sedikit, yang penting rutin tiap minggu. Ay (P3. Wawancara, 28 Juli 2. Peserta lain mengakui bahwa pelatihan memberikan pemahaman baru tentang pengelolaan prioritas sehingga tetap memungkinkan untuk menabung:AuDulu menabung rasanya sulit karena banyak kebutuhan, tapi setelah belajar mengatur, ternyata bisa menyisihkan uang. Ay (P9. Wawancara, 28 Juli 2. Selain itu, sebagian peserta mulai memanfaatkan lembaga keuangan lokal untuk menabung karena merasa lebih aman dan mendapatkan manfaat tambahan seperti bagi hasil: AuSaya mulai menabung di koperasi desa karena lebih aman dan ada bagi hasil tiap akhir tahun. Ay (P12. Wawancara, 28 Juli 2. Perubahan perilaku ini juga berdampak pada hubungan sosial di Kebiasaan menabung yang mulai terbentuk mendorong terbentuknya budaya saling mengingatkan antaranggota keluarga dan tetangga untuk menyisihkan pendapatan. Beberapa peserta bahkan mulai mengajak anggota keluarganya yang masih sekolah untuk menabung dari uang saku harian, sebagai langkah awal membangun kesadaran finansial sejak dini. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 192-206 Gambar 3. Pengarahan terkait pengadaan buku tabungan koperasi desa yang baru dibentuk pascapelatihan Pengendalian Utang Konsumtif Sebelum pelatihan dilaksanakan, perilaku berutang untuk kebutuhan konsumtif cukup umum di kalangan warga Desa Paku. Sebagian besar peserta mengaku terbiasa memanfaatkan pinjaman dari koperasi, rentenir, atau kredit barang dengan cicilan bulanan untuk membeli produk yang sebenarnya bukan kebutuhan mendesak, seperti peralatan elektronik terbaru atau barang-barang Perilaku ini seringkali menimbulkan beban finansial berkepanjangan, terutama karena adanya bunga pinjaman yang cukup tinggi. Dalam banyak kasus, penghasilan bulanan tersedot untuk membayar cicilan, sehingga kebutuhan pokok keluarga justru terabaikan. Pelatihan pengelolaan keuangan mengajarkan peserta untuk lebih kritis dalam mempertimbangkan setiap keputusan berutang. Materi pelatihan mencakup pemahaman mengenai jenis utang produktif dan konsumtif, dampak bunga pinjaman terhadap total pembayaran, serta risiko jangka panjang jika utang tidak dikelola dengan baik. Fasilitator juga memberikan simulasi perhitungan bunga pinjaman, sehingga peserta dapat melihat langsung perbedaan antara harga barang tunai dan total biaya yang harus dibayar jika dibeli secara kredit. Simulasi ini membuka mata peserta bahwa utang konsumtif sering kali membuat harga barang jauh lebih mahal dari nilai Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 192-206 Salah satu peserta menggambarkan perubahan cara pandangnya terhadap pembelian barang:AuDulu kalau ada barang baru langsung ingin beli, kadang pakai pinjaman, sekarang saya pikir-pikir lagi. Ay (P2. Wawancara, 28 Juli 2. Peserta lain menekankan kesadarannya akan pentingnya membedakan utang yang menghasilkan pendapatan dan utang yang justru menjadi beban:AuSaya jadi tahu bahwa utang untuk barang yang tidak menghasilkan malah bikin susah Ay (P8. Wawancara, 28 Juli 2. Selain itu, ada peserta yang kini menetapkan prinsip pribadi untuk hanya berutang jika benar-benar mendesak atau untuk keperluan usaha:AuSekarang saya hindari utang kalau bukan untuk usaha atau hal yang mendesak. Ay (P10. Wawancara, 28 Juli 2. Perubahan perilaku ini juga berdampak pada pola konsumsi keluarga. Peserta mulai membedakan dengan tegas antara kebutuhan mendesak dan keinginan, serta menunda pembelian barang-barang non-esensial hingga dana Bahkan, beberapa peserta mengaku kini lebih memilih menabung terlebih dahulu untuk membeli barang yang diinginkan daripada mengambil Selain mengurangi risiko terjerat utang, strategi ini juga menumbuhkan rasa puas dan bangga karena barang yang dibeli diperoleh dari hasil jerih payah sendiri tanpa beban cicilan. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 192-206 Gambar 4. Fasilitator menjelaskan risiko bunga pinjaman konsumtif dalam sesi diskusi kelompok terarah Lahirnya Inisiatif Kolektif: Kelompok Simpan Pinjam Desa Salah satu capaian paling signifikan dari pelatihan pengelolaan keuangan di Desa Paku adalah terbentuknya Kelompok Simpan Pinjam Desa yang digagas langsung oleh peserta pelatihan. Inisiatif ini muncul sebagai tindak lanjut nyata dari materi pelatihan, khususnya terkait pentingnya menabung, mengelola dana secara kolektif, dan menghindari praktik pinjaman berbunga tinggi dari pihak luar. Kesepakatan pembentukan kelompok ini lahir dari diskusi kelompok terarah, ketika peserta menyadari bahwa keterbatasan akses permodalan dan kebiasaan menabung dapat diatasi melalui mekanisme yang dikelola sendiri oleh warga. Kelompok simpan pinjam ini beranggotakan warga dari berbagai latar belakang, mulai dari ibu rumah tangga, pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga pemuda desa. Prinsip dasar yang dipegang adalah saling membantu, transparansi, dan tanggung jawab bersama. Setiap anggota menyetor sejumlah uang secara rutin sebagai simpanan pokok dan simpanan wajib, yang kemudian dapat dipinjam oleh anggota lain dengan bunga rendah. Keuntungan dari bunga tersebut kembali dibagikan kepada anggota pada akhir periode tertentu, sehingga manfaatnya dirasakan secara kolektif. Salah satu anggota mengungkapkan motivasi awal pembentukan kelompok ini:AuKami sepakat membentuk kelompok simpan pinjam supaya bisa saling bantu kalau ada yang butuh modal usaha. Ay (P5. Wawancara, 28 Juli 2. Peserta lain menambahkan bahwa keberadaan kelompok ini menjadi alternatif yang lebih aman Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 192-206 dibandingkan meminjam ke pihak luar yang sering menerapkan bunga tinggi:AuDengan kelompok ini, kami bisa menabung bersama dan pinjam uang dengan bunga rendah. Ay (P6. Wawancara, 28 Juli 2. Aspek transparansi menjadi nilai penting yang dijaga oleh kelompok ini. Semua catatan keuangan dibuka untuk seluruh anggota, dan setiap transaksi dicatat dalam buku keuangan yang dapat diakses secara berkala. Seorang anggota menegaskan hal ini: AuPengelolaan uang di kelompok dilakukan terbuka, semua anggota tahu arus masuk dan keluar dana. Ay (P14. Wawancara, 28 Juli 2. Keberadaan kelompok simpan pinjam ini bukan hanya menjadi sarana perputaran modal, tetapi juga memperkuat modal sosial warga desa. Rasa saling percaya dan gotong royong meningkat, karena setiap anggota merasa memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dalam menjaga keberlangsungan kelompok. Selain itu, mekanisme ini juga membantu mencegah ketergantungan warga pada sumber pinjaman eksternal yang sering kali menjerat mereka dalam beban utang. Gambar 5. Pertemuan perdana pembentukan kelompok simpan pinjam desa yang dihadiri anggota masyarakat dan perangkat desa Pembahasan Penelitian ini mengungkapkan bahwa pelatihan pengelolaan keuangan berbasis partisipasi masyarakat di Desa Paku memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga, khususnya melalui perubahan perilaku pengelolaan keuangan rumah tangga. Temuan ini sejalan dengan hasil studi (Fahdah & Nasrun, 2. yang menunjukkan bahwa literasi keuangan berkontribusi pada pola konsumsi yang lebih sehat dan stabil di Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 192-206 komunitas pedesaan. Namun, penelitian ini memperkaya literatur dengan menekankan peran aktif masyarakat dalam proses pelatihan, sehingga perubahan perilaku lebih berkelanjutan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pelatihan berhasil meningkatkan kemampuan peserta dalam menyusun anggaran keluarga secara terstruktur dan realistis. Sebelum pelatihan, pola pengeluaran yang cenderung spontan dan tidak terencana menyebabkan ketidakseimbangan antara pendapatan dan kebutuhan, yang mengakibatkan kesulitan keuangan di pertengahan bulan. Setelah pelatihan, peserta mulai menerapkan pencatatan pengeluaran secara rutin dan memprioritaskan kebutuhan pokok. Hal ini sejalan dengan temuan (Hernawati et al. , 2. yang menyatakan bahwa manajemen anggaran keluarga yang baik dapat menekan risiko pemborosan dan mengurangi ketergantungan pada utang konsumtif. Perubahan ini juga mendorong terbentuknya kesadaran kolektif untuk berbagi praktik pengelolaan keuangan yang lebih efektif, yang menunjukkan bahwa aspek sosial dari pelatihan berperan penting dalam memperkuat hasil Kesadaran bersama ini meningkatkan modal sosial desa yang berfungsi sebagai modal penting dalam pembangunan ekonomi lokal (Alfiansyah, 2. Salah satu hasil paling menonjol adalah terbentuknya kebiasaan menabung secara teratur, walaupun dengan nominal kecil, namun konsisten. Konsep pay yourself first yang diperkenalkan dalam pelatihan mampu mengubah paradigma masyarakat yang sebelumnya hanya menabung jika ada sisa uang menjadi menabung sebagai prioritas awal. Hal ini mengindikasikan peningkatan literasi keuangan praktis yang memudahkan peserta mengelola pendapatan terbatas secara lebih optimal. Temuan ini konsisten dengan penelitian (Sari, 2. yang mengaitkan kebiasaan menabung dengan peningkatan kesejahteraan rumah tangga, terutama di wilayah dengan pendapatan fluktuatif. Pelibatan lembaga keuangan lokal seperti koperasi desa dalam proses menabung juga memperkuat aspek keamanan dan insentif bagi peserta, sehingga memperkuat inklusi keuangan desa (Azizah et al. , 2. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan berhasil mengubah cara pandang masyarakat terhadap utang, terutama utang konsumtif yang selama ini menjadi sumber tekanan finansial. Peserta menjadi lebih kritis dalam mengambil keputusan berutang dan mampu membedakan antara utang produktif dan konsumtif. Materi simulasi perhitungan bunga pinjaman sangat efektif dalam memberikan gambaran nyata beban finansial akibat utang Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 192-206 konsumtif, sehingga banyak peserta memilih untuk menunda pembelian barang non-esensial dan menabung terlebih dahulu. Hasil ini berbeda dengan temuan beberapa studi sebelumnya yang lebih fokus pada peningkatan literasi tanpa pendalaman aspek perilaku berutang secara kritis (Muslim et al. , 2. Pendekatan partisipatif dalam penelitian ini memungkinkan peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga merumuskan aturan praktis dalam pengelolaan utang sesuai konteks lokal (Ridwan et al. Salah satu capaian paling strategis adalah lahirnya kelompok simpan pinjam yang dikelola secara mandiri oleh warga desa. Inisiatif ini merupakan bukti nyata keberhasilan pelatihan dalam membangun modal sosial dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Mekanisme simpan pinjam ini menyediakan alternatif modal usaha dan tabungan yang lebih aman dan terjangkau dibandingkan pinjaman eksternal berbunga tinggi. Kelompok simpan pinjam tidak hanya berfungsi sebagai lembaga keuangan informal tetapi juga memperkokoh rasa saling percaya dan tanggung jawab sosial antar anggota. Hal ini mendukung teori modal sosial yang dikemukakan oleh (Sasa & Sisi, 2. , bahwa partisipasi dan transparansi dalam pengelolaan sumber daya kolektif meningkatkan kemampuan komunitas dalam mengatasi keterbatasan ekonomi. Keberhasilan pembentukan kelompok ini menjadi rekomendasi penting bagi program pengembangan ekonomi desa lainnya. Pelatihan pengelolaan keuangan dengan pendekatan partisipatif memberikan dampak yang holistik terhadap kesejahteraan ekonomi keluarga di Desa Paku. Tidak hanya terjadi perubahan pada tingkat individu dalam hal literasi dan perilaku keuangan, tetapi juga terbentuk inisiatif kolektif yang menguatkan modal sosial dan keberlanjutan ekonomi desa. Penelitian ini merekomendasikan agar program pelatihan serupa dikembangkan lebih luas dengan memperhatikan konteks sosial dan kearifan lokal, serta memfasilitasi pembentukan kelompok ekonomi kolektif sebagai salah satu pilar kemandirian ekonomi desa. KESIMPULAN Pelatihan pengelolaan keuangan berbasis partisipasi masyarakat di Desa Paku. Kecamatan Payung. Kabupaten Bangka Selatan, terbukti efektif dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga. Kegiatan ini berhasil meningkatkan kemampuan peserta dalam menyusun dan mengelola anggaran rumah tangga secara lebih terstruktur dan realistis, membentuk kebiasaan menabung yang konsisten, serta mengendalikan utang konsumtif yang selama Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 192-206 ini menjadi beban finansial keluarga. Selain itu, pelatihan ini mendorong terbentuknya kelompok simpan pinjam desa yang menjadi wadah kolektif untuk memperkuat praktik keuangan sehat dan kemandirian ekonomi Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif yang melibatkan warga sejak tahap perencanaan hingga evaluasi pelatihan mampu membangun kapasitas literasi keuangan sekaligus memperkuat modal sosial Oleh karena itu, program pelatihan pengelolaan keuangan dengan model partisipatif direkomendasikan untuk diadopsi secara lebih luas sebagai strategi pemberdayaan ekonomi keluarga di wilayah pedesaan, khususnya yang memiliki ketergantungan pada sektor pertanian dan perikanan. Keberlanjutan kelompok simpan pinjam desa juga perlu didukung oleh pihak terkait agar dapat terus memberikan manfaat jangka panjang bagi kesejahteraan PENGAKUAN Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pemerintah Desa Paku dan seluruh warga Kecamatan Payung. Bangka Selatan, atas partisipasi aktif dan dukungannya selama pelaksanaan pelatihan pengelolaan keuangan ini. Terima kasih juga disampaikan kepada Universitas Pertiba, khususnya kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 9 dan Dosen Pembimbing Lapangan yang telah memberikan bimbingan dan bantuan selama kegiatan berlangsung. Apresiasi khusus ditujukan kepada seluruh peserta pelatihan yang antusias dan berkomitmen sehingga program ini dapat berjalan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA