Journal Genta Mulia Volume 16. Number 1, 2024 pp. 97- 105 P-ISSN 23553790 E-ISSN: 25794655 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm PENERAPAN KEGIATAN LITERASI DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH PADA KELAS X SMAN 1 JAWAI Rusmida*1 . Ika Rahmatika Chalimi2. Astrini Eka Putri3 123Pendidikan Sejarah. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Unversitas Tanjungpura * Corresponding Author: rusmidabakrie@gmail. Abstrak Penelian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai penerapan kegiatan literasi dalam pembelajaran sejarah pada kelas X SMAN 1 Jawai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskripif. Pengumpulan data dalam penelitian ini melalui observasi, wawancara dengan guru sejarah dan peserta didik, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan pengambilan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru telah menerapkan kegiatan literasi, terutama literasi membaca yang di dalam kegiatan tersebut melibatkan berbagai aspek literasi seperti membaca teks baik dari bukumaupun dari teks yang disiapkan guru, diskusi kelompok membahas teks, presentasi, dantanya jawab. Proses penerapan kegiatan literasi melibatkan perencanaan, penerapan, dan evaluasi dengan memperhatikan prinsipprinsip pembelajaran literasi seperti aktivitasprabaca, membaca, dan pascabaca. Penerapan kegiatan literasi masih mengalami beberapa hambatan, terutama dalam kurangnya minat membaca peserta didik dan keterbatasan sumber daya seperti buku dan teknologi. Kata Kunci : Kegiatan. Literasi. Pembelajaran Sejarah Abstract This research aims to describe the implementation of literacy activities in history lessons for grade X at SMAN 1 Jawai. This research employs a descriptive qualitative approach. Data collection methods used observation, interviews with history teachers and students, and documentation. The data analysis techniques used involve data reduction, data presentation, and decision-making. The results showing that the teacher has implemented literacy activities, particularly reading literacy, which includes various literacy aspects such as reading texts from both books and teacher-prepared materials, group discussions of texts, presentations, and Q&A sessions. The process of implementing literacy activities involves planning, execution, and evaluation, adhering to literacy learning principles such as pre-reading, reading, and post-reading activities. However, the implementation of literacy activities faces several challenges, notably a lack of student interest in reading and limited resources such as books and technology. Keywords:Activities. Literacy. History Learning PENDAHULUAN Mata pelajaran sejarah memegang peranan yang sangat penting dalamsuatu bangsa. Oleh karena itu, mata pelajaran sejarah wajib untuk disampaikan kepada siswa dimana setelah mengikuti proses pembelajaran sejarah diharapkan agar peserta didik mampu mengetahui, memahami, berpikir kritis, dan mengambil pelajaran-pelajaran penting dari peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi, baik di itu Indonesia maupun di negara lain. Pembelajaran sejarah memiliki fungsi yang sangat penting bagi peserta didik. Oleh sebab itu, mata pelajaran sejarah wajib untuk diajarkan mengingat banyak terdapat manfaat yang bisa diambil setelah mengikuti pembelejaran sejarah. Rusmida. Penerapan Kegiatan Literasi Dalam Pembelajaran Pada praktiknya, pembelajaran sejarah masih menghadapi banyak kendala antara lain, rendahnya minat baca peserta didik padahal pelajaran sejarah sebenarnya kaya akan Kemajuan zaman yang pesat saat ini meminta setiap individu untuk memiliki minat membaca, karena hal tersebut diperlukan untuk mendapatkan pengetahuan yang luas. Untuk menyikapi masalah rendahnya minat membaca. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan pendekatan yang dirancang secara khusus ditujukan untuk mengatasi masalah ketertarikan dalam membaca pada siswa. Strategi yang diterapkan oleh pemerintah tersebut diterapkan melalui program untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis di sekolah (Gerakan Literasi Sekola. yang diatur dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015, dengan Salah satu tujuannya adalah untuk mengembangkan budipekerti pada diri siswa. Adanya gerakan literasi sekolah merupakan harapan banyak pihak mengingat rendahnya minat baca di Indonesia. Peran penting dalam meningkatkan budaya membaca membuat Gerakan Literasi Sekolah penting untuk diterapkan di setiap sekolah. Gerakan Literasi Sekolah dapat menjadi sarana untuk mengenali dan memahami pengetahuan yang diperoleh siswa di sekolah. Selain itu, melalui gerakan literasi, siswa juga dapat mengembangkan moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari (Rohim et al. , 2. Program literasi juga mendorong siswa untuk terus mencari ilmu pengetahuan, membuat mereka senang membaca, dan dapat membantu mereka memiliki wawasan yang lebih luas serta memperoleh informasi baru (Gede Kamardana et al. , 2. Literasi pada awalnya didefinisikan sebagai kemampuan untuk membaca dan Namun, dalam pengertian yang lebih luas, literasi dapat diartikan sebagai ketempila untuk mengakses, memahami, dan memanfaatkan informasi secara cerdas melalui berbagai kegiatan, seperti membaca, menulis, dan berbicara. Berdasarkan hal ini, dapat disimpulkan bahwa budaya literasi yang baik dapat menghasilkan generasi muda yang terampil baik dalam membaca, menulis, memahami teks, serta menyampaikan ide dengan baik (Kurniawan, 2. Pembelajaran sejarah ditahap ini berkaitan dengan tahap Pada tahap ini dalam Gerakan Literasi Sekolah (GLS), semua kegiatannya bertujuan untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 2013. adapun tujuannya adalah agar siswa lebih semangat dan tertarik untuk membaca. Dengan demikian, siswa diharapkan lebih mampu memahami dan memberikan makna pada kejadian-kejadian bersejarah dalam kehidupan Pada tahap pembelajaran ini, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan lingkungan sekitar baik itu fisik, sosial, emosional, maupun akademis. Selain itu, berbagai jenis bacaan seperti bahan cetak, visual, audio, dan digital, yang kaya akan literasi di luar buku teks, bisa digunakan untuk memperluas pengetahuan siswa dalam Penggunaan kemampuan literasi dalam proses pembelajaran akan memperdalam pemahaman peserta didik terhadap teks, keahlian menulis, dan kemampuan berkomunikasi. Untuk itu, aktivitas kegiatan belajar yang dilakukan guru harusnya menekankan pada pembelajaran literasi guna meningkatkan kemampuan literasi peserta didik untuk membantu peserta didik memahami berbagai aspek kehidupan. Menurut hasil penelitian awal yang dilakukan oleh peneliti di SMA Negeri 1 Jawai, peneliti masih menemukan peserta didik yang tidak mempunyai buku Sejarah. Hal ini dikarenakan, buku yang disediakan dari sekolah terbatas sehingga tidak seluruh peserta didik memiliki buku sehingga saat pembejaran sejarah di dalam kelas siswa belajar dengan satu buku dipakai untuk 2 siswa dan untuk menambah sumber belajar sejarah guru meminta peserta didik untuk membeli buku dari kakak tingkat. Beberapa peserta didik yang P-ISSN: 23553790. E-ISSN 25794655 | 98 Rusmida. Penerapan Kegiatan Literasi Dalam Pembelajaran memiliki buku juga tidak dibaca selama proses pembelajaran dikelas. Hal ini menunjukkan kurangnya ketertarikan untuk membaca di kelas. Di samping itu, sepinya perpustakaan sekolah baik selama jam pelajaran maupun waktu istirahat mengindikasikan rendahnya minat baca siswa di sekolah. Berdasarkan masalah tersebut, peneliti fokus pada pengamatan di SMA Negeri 1 Jawai, terutama pada kelas X mengenai penerapan literasi dalam pembelajaran sejarah. Aktivitas literasi dalam kegiatan pembelajaran sejarah merupakan sebuah usaha yang dilakukan oleh guru sejarah untuk mengatasi kurangnya minat membaca siswa di kelas adalah dengan menerapkan kegiatan literasi membaca. Guru mengadakan aktivitas literasi ini agar siswa tertarik untuk membaca dan lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran sejarah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMAN 1 Jawai, peneliti bertemu dengan guru yang mengajarkan pelajaran sejarah di kelas X, yang mana masih terdapat kendala dalam proses pembelajaran sejarah baik itu minat membaca maupun minimnya sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Saat ini, minat membaca peserta didik masih terbilang Peneliti masih menemukan peserta didik yang tidak membawa buku pelajaran sejarah, sehingga dalam pembelajaran sejarah peserta didik hanya mendengarkan guru Selain itu terdapat juga peserta didik yang sudah memiliki buku namun saat pembelajaran tidak dibaca dan asik bermain dengan teman sebangku. Hal ini disebabkan rendahnya minat baca di kalangan peserta didik. Selain itu, perpustakaan yang dimiliki sekolah juga sering sepi di jam istirahat yang menandakan minat baca peserta didik kurang. Jika keadaan seperti ini terus berlangsung dikhawatirkan proses pembelajaran yang dilakukan akan membosankan sehingga dapat mengurangi minat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran sejarah sehingga akan berdampak terhadap kualitas pembelajaranpeserta didik. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti menjadi tertarik untuk mengetahui dan melakukan penelitian dengan Judul AuPenerapan Kegiatan Literasi Dalam Pembelajaran Sejarah Pada Kelas X IPS 1 SMAN 1 JawaiAy. METODE PENELITIAN Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif deskriptif untuk mengkaji penerapan kegiatan literasi dalam pembelajaran sejarah pada kelas X di SMAN 1 Jawai. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti untuk menggali dan menggambarkan kondisi alami serta makna dari fenomena yang diteliti. Penelitian ini melibatkan peneliti sebagai instrumen utama, dengan data yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung, wawancara, dan pengumpulan dokumen. Sumber data primer meliputi guru mata pelajaran sejarah, peserta didik kelas X, dan dokumen pembelajaran. Adapun data sekunder diperoleh dari artikel dan buku terkait penerapan literasi dalam pembelajaran. Teknik pengumpulan data terdiri dari observasiterhadap proses pembelajaran, wawancara dengan guru dan siswa, serta penelaahan dokumen. Analisis data dilakukan dengan metode kualitatif yang terdiri dari pengolahan data, penyajian data, dan validasi hasil. Reduksi data melibatkan pemilihan dan penyederhanaan informasi penting, penyajian data dilakukan dalam format uraian, dan verifikasi dilakukan melalui perbandingan data dari berbagai sumber. Keabsahan data diuji menggunakan teknik triangulasi yang mencakup triangulasi sumber dan teknik. Triangulasi sumber memastikan data yang diperoleh konsisten antara berbagai informan, sementara triangulasi teknik mengecek kesesuaian data dari berbagai teknik pengumpulan data. HASIL DAN PEMBAHASAN P-ISSN: 23553790. E-ISSN 25794655 | 99 Rusmida. Penerapan Kegiatan Literasi Dalam Pembelajaran Bentuk kegiatan literasi dalam pembelajaran sejarah pada kelas X di SMAN 1 Jawai Upaya dalam rangka meningkatkan pemahaman dan keterampilan literasi peserta didik, kegiatan literasi dalam pembelajaran sejarah dapat diwujudkan melalui berbagai Pada dasarnya. Kemampuan membaca dan menulis adalah dasar utama untuk memperluas pemahaman tentang literasi (Amri et al. , 2. Bentuk kegiatan literasi dalam proses pembelajaran sejarah merujuk pada berbagai metode dan aktivitas yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara siswa dalam konteks pembelajaran sejarah. Kemampuan dasar literasi, seperti membaca dan menulis, harus menjadi fokus utama dalam pendidikan. Membaca menawarkan berbagai manfaat, seperti meningkatkan minat membaca, memenuhi kebutuhan kognitif, menumbuhkan minat di bidang tertentu, dan meningkatkan konsentrasi (Komalasari & Riani, 2. Kegiatan literasi dalam pembelajaran sejarah telah diimplementasikan dengan fokus utama pada literasi membaca. Guru telah menciptakan lingkungan pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif,memanfaatkan berbagai metode dan tahapan pembelajaran. Guru memulai pembelajaran dengan persiapan yang matang, termasuk memastikan fisik dan fisikis peserta didik dalam kondisi yang optimal. Pembelajaran dimulai dengan mengingatkan siswa tentang materi yang telah dipelajari sebelumnya, sehingga terjalin hubungan yang jelas dengan materi yang akan dipelajari. tujuannya adalah untuk meningkatkan minat dan keterlibatan siswa sejak awal pembelajaran. Pembelajaran sejarah pada kelas X di SMAN 1 Jawai sudah menerapkan kegiatan Hal ini dapat dilihat dalam pembelajaran terdapat penugasan kepada peserta didik untuk membaca buku tertentu kemudian mendiskusikan isi buku tersebut di kelas dan adanya waktu khusus dalam jadwal pelajaran yang didedikasikan untuk membaca. Bentuk kegiatan literasi yang diterapkan dalam pembelajaran sejarah yaitu literasi Dasar yang berfokus pada literasi membaca. Banyak kegiatan literasi yang diterapkan guru dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membaca, menulis, dan berdiskusi serta dapat berfikir kritis. Kegiatan literasi yang diterapkan oleh guru dalam pembelajaran dikelas X, yaitu mengajak peserta didik untuk membaca kemudian berdiskusi dengan kelompok dan hasilnya kemudian dipersentasikan. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat (Abidin. Mulyati, and Yunansyah 2. , yang menyatakan bahwa pembelajaran membaca bukan hanya bertujuan supaya peserta didik bisa membaca, tetapi juga menjalani proses yang melibatkan semua aspek mental dan keterampilan berpikir mereka dalam memahami, mengkritisi, dan mereproduksi sebuah teks tertulis . Penerapan kegiatan literasi dalam pembelajaran sejarah padakelas X di SMAN 1 Jawai Menurut (Sari, 2. Literasi merujuk pada kemampuan untuk memanfaatkan bahasa dan gambar dalam berbagai variasi, termasuk membaca, menulis, mendengarkan, berbicara, melihat, menyajikan, serta berpikir kritis terhadap gagasan-gagasan. Situasi ini memungkinkan peserta didik untuk memahami dan menguraikan kegiatan sosial dan budaya beserta makna yang terkandung di dalamnya, baik dalam teks yang cetak maupun bentuk multidimensi dan interaktif dianalisis dengan pendekatan yang kritis. Penggunaan aktivitas literasi khususnya literasi membaca dalam proses pembelajaran sejarah bertujuan agar peserta didik bisa mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah. Menurut Abidin. Literasi membaca merujuk pada kemampuan seseorang untuk memahami, menggunakan, dan merefleksikan teks dengan cara berinteraksi secara langsung. P-ISSN: 23553790. E-ISSN 25794655 | 100 Rusmida. Penerapan Kegiatan Literasi Dalam Pembelajaran mendapatkan pengalaman. langsung dalam rangka mencapai tujuan tertentu (Carmila & Ramadan, 2. Menurut (Abidin. Mulyati, and Yunansyah 2. , untuk mencapai tujuan pembelajaran literasi membaca yaitu membangun kebiasaan dan kemampuan membaca. Proses pembelajaran harus melalui tiga tahap, yaitu aktivitas prabaca, proses membaca, dan aktivitas pasca membaca . Penerapan kegiatan literasi dalam pembelajaran sejarah pada kelas X di SMAN 1 Jawai dimulai pada perencanaan kegiatan literasi, penerapan kegiatan literasi, dan evaluasi. Perencanaan kegiatan literasi menurut Uno perencanaan adalah proses menghubungkan kondisi saat ini dengan kondisi yang diinginkan, yang berkaitan dengan kebutuhan, penetapan tujuan, prioritas, dan program (Sadli & Saadati, 2. Perencanaan pemanfaatan kegiatan literasi dalam pembelajaran sejarah adalah langkah awal yang perlu dipersiapkan dengan baik sebelum proses pembelajaran dimulai. Dengan demikian, diharapkan proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif sesuai dengan persiapan yang telah dibuat. pada tahap ini guru telah menyusun rencana pembelajaran berupa modul ajar yang akan digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran. ada tahap ini, guru juga telah menyiapkan materi pembelajaran dengan teliti dan merancang strategi yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Berdasarkan data diatas sesuai dengan prosedur dalam pembelajaran literasi membaca yang diungkapkan oleh Abidin yaitu aktivitas prabaca. Hasil penelitian ini sejalan dengan Pendapat Lapp . yang dikutip dalam (Abidin. Mulyati, and Yunansyah 2. yang menyatakan bahwa Aktivitas pra-baca yang perlu dilakukan oleh guru mencakup beberapa langkah yaitu memilih teks yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, mengidentifikasi bagian-bagian teks yang mungkin sulit bagi siswa dan menetapkan fokus pembelajaran, menyusun pertanyaan yang berkaitan dengan teks. Mempersiapkan teks untuk kegiatan membaca yang teliti, dan menyusun model pengutipan serta metode membaca secara cermat jika diperlukan. Namun, dalam penerapan kegiatan literasi pada pembelajaran sejarah, pelaksanaannya masih belum optimal karena terbatasnya jumlah buku yang dimiliki siswa. Penerapan kegiatan literasi adalah suatu upaya untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan membaca, dan kecintaan terhadap literasi pada berbagai tingkatan masyarakat. Menurut (Fahrianur et al. , 2. menyebutkan bahwa kemampuan literasi atau membaca peserta didik bukan hanya bisa membaca melainkan juga bisa menulis dan menalar. Penerapan kegiatan literasi merupakan strategi efektif untuk mendorong pembelajaran sepanjang hayat dan membentuk masyarakat yang cerdas dan kritis. Aktivitas membaca, baik secara individu maupun kelompok, memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan, memperluas wawasan, dan meningkatkan keterampilan Melalui diskusi, presentasi, dan interpretasi bahan bacaan, peserta tidak hanya belajar tentang isi teks, tetapi juga melatih keterampilan analisis dan evaluasi. Membaca adalah proses memahami kata-kata, menggabungkan makna kata dalam kalimat dan strukturnya, sehingga menjadi makna yang utuh. Tujuan utama dari membaca adalah agar seseorang bisa merangkum inti dari bacaan yang dibaca (Rohman, 2. Pada tahap ini kegiatan membaca yang guru lakukan yaitu memberikan sebuah teks bacaan kepada peserta didik. Selanjutnya, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok dan meminta mereka untuk mengadakan diskusi. Selanjutnya guru mendorong peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran melalui aktivitas presentasi hasil P-ISSN: 23553790. E-ISSN 25794655 | 101 Rusmida. Penerapan Kegiatan Literasi Dalam Pembelajaran diskusinya yang kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab tentang hasil diskusinya untuk mendorong peserta didik dapat mencapai sasaran pembelajaran. Berdasarkan data diatas sejalan dengan prosedur dalam pembelajaran literasi membaca yaitu aktivitas membaca. Penjelasan tersebut sejalan dengan pendapat Abidin . Terkait dengan aktivitas yang perlu dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran membaca, antara lain mengajukan pertanyaan kepada siswa yang relevan dengan teks, mendorong diskusi dan pengalaman yang mendalam terkait teks untuk mencapai tujuan pembelajaran, mengamati siswa saat berbicara dan mencatat respons mereka untuk mengidentifikasi pertanyaan lanjutan, memberikan tugas kepada siswa untuk membaca ulang teks beberapa kali guna melakukan analisis yang lebih mendalam, mengumpulkan data observasi selama siswa membaca ulang untuk menyusun pertanyaan lanjutan atau menentukan bagian pembelajaran yang mendukung analisis mendalam, menilai informasi melalui pertanyaan yang mencerminkan perhatian siswa terhadap makna dan kinerja, dan menginisiasi kegiatan yang memungkinkan siswa berbagi pemahaman dengan teman-teman mereka melalui diskusi, kolaborasi, dan kerja sama, serta menciptakan informasi baru. Namun, dalam praktiknya, guru belum sepenuhnya melaksanakan semua aktivitas tersebut. Guru baru melakukan beberapa kegiatan, yaitu dengan menanyakan siswa tentang teks, mendorong percakapan seputar teks, mengamati siswa saat berdiskusi, serta meninjau kembali informasi melalui pertanyaan. dan menginisiasi aktivitas yang tepat bagi siswa. Evaluasi adalah faktor penting dalam proses pembelajaran. Menurut (Firmansyah et al. mengatakan bahwa evaluasi adalah Salah satu aspek penting dalam proses pembelajaran yang perlu dilakukan oleh guru adalah untuk menilai sejauh mana keberhasilan dan pencapaian pembelajaran yang telah dilaksanakan. Pendapat lain juga mengungkapkan bahwa melalui evaluasi guru dapat menilai efektivitas pengelolaan pembelajaran serta pencapaian siswa. dalam mencapai tujuanpembelajaran (Agung & Wahyuni, 2. Pada tahap ini guru meminta siswa untuk merangkum materi yang telah diajarkan dengan menggunakan bahasa yang mereka pahami. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian hasil rangkuman tersebut didepan teman-teman yang lain. selanjutnya guru memberikan tindaklanjut pembelajaran berupa penugasan untuk membuat makalah. Berdasarkan data diatas sesuai dengan prosedur dalam pembelajaran literasi membaca yaitu aktivitas prabaca. Hasil penelitian ini sependapat dengan (Kurniawan, 2. yang menyatakan bahwa aktivitas prabaca bertujuan untuk menguji dan memantapkan kemampuan membaca siswa meliputi menyimpulkan, mengevaluasi, dan mengkonfirmasi isi bacaan . Peneliti melihat sebagian peserta didik sudah terlihat aktif berpartisipasi mengikuti Hal ini dapat terlihat ketika guru meminta siswa agar maju kedepan untuk menyampaikan hasil kesimpulannya, mereka sudah dengan suka rela untuk maju tanpa Akan tetapi, dalam pelaksanaan kegiatan literasi tersebut Tidak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat siswa yang kurang minat dalam membaca dapat terlihat ketika proses pembelajaran berlangsung peserta didik ada yang berbicara satu sama lain dan sementara yang lain tampak asik dengan diri mereka sendiri. Hambatan penerapan kegiatan literasi dalam pembelajaran sejarahpada kelas X di SMAN 1 Jawai P-ISSN: 23553790. E-ISSN 25794655 | 102 Rusmida. Penerapan Kegiatan Literasi Dalam Pembelajaran Menurut Sobadin (Safitri & Dafit, 2. menyatakan bahwa Ada beberapa indikator dalam proses pembelajaran, yaitu minat belajar, perhatian dalam proses belajar, motivasi belajar, dan pengetahuan. Berdasarkan hasil penelitian, hambatan yang muncul pada penerapan kegiatan literasi dalam pembelajaran sejarah kelas X SMAN 1 Jawai yaitu minat membaca yang dimiliki peserta didik kurang dan keterbatasan sumber daya yang dimiliki seperti buku dan tekonlogi. Untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia, kita biasanya memulainya di Sekolah adalah tempat yang dirancang untuk proses pembelajaran, di mana kegiatan membaca menjadi bagian penting dari aktivitas siswa (Jatnika, 2. Minat baca dapat ditanamkan, dibina, dan dikembangkan, karena minat baca adalah keterampilan yang diperoleh setelah seseorang lahir, bukan keterampilan bawaan (Suswandari, 2. Hendrayanti juga menyebutkan bahwa adanya motivasi untuk membaca yang mendorong siswa agar tertarik untuk memperhatikan dan menikmati kegiatan membaca, sehingga mereka dapat melakukannya atas inisiatif sendiri (Rokmana,dkk. , 2. Berdasarkan hasil penelitian kurangnya minat membaca pada peserta didik dapat menjadi hambatan utama dalam penerapan kegiatan literasi pada pembelajaran sejarah. Kurangnya minat membaca yang dimilik peserta didik dapat terlihat dari masih terdapat peserta didik yang memilih berbicara dengan temannya dalam pembelajaran dan perpustakaan yang sering sepi di jam Jika peserta didik tidak memiliki minat yang cukup terhadap membaca, mereka mungkin kurang termotivasi untuk mengeksplorasi sumber-sumber sejarah yang memerlukan pemahaman mendalam. Hal ini pula didukung oleh pernyataan Anisa . alam Agustina,2. menyebutkan bahwa salah satu penyebab pendidikan di Indonesia masih berada di bawah standar jika dibandingkan dengan negara-negara yang lain ialah di pengaruhi oleh kurangnya Minat baca dan literasi di kalangan peserta didik maupun mahasiswa, serta kemampuan berpikir kritis mereka, masih tergolong rendah. Upaya untuk meningkatkan minat membaca, seperti memilih materi yang relevan dan menarik, serta menerapkan pendekatan kreatif dalam penyampaian informasi sejarah, dapat membantu mengatasi hambatan ini. Keterbatasan sumber daya seperti buku dan teknologi dapat menjadi hambatan dalam menerapkan kegiatan literasi pada pembelajaran sejarah. Salah satu komponen yang sangat penting dalam kegiatan literasi adalah buku. Apabila ketersediaan buku masih terbatas, maka pelaksanaan literasi juga akan terpengaruhi (Bungsu & Dafit, 2. Kurangnya akses terhadap buku-buku sejarah atau bahan bacaan yang memadai dapat menghambat pengembangan pemahaman mendalam siswa terhadap materi sejarah. Selain itu, keterbatasan teknologi, seperti kurangnya perangkat seperti proyektor dan akses internet serta adanya peraturan larangan membawa handphone, membatasi kemampuan siswa untuk mengakses sumber daya digital dan menggunakan teknologi sebagai alat Upaya untuk mengatasi hambatan ini dapat melibatkan peningkatan akses terhadap sumber daya dan integrasi teknologi secara bijak dalam pembelajaran sejarah. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa bentuk literasi dalam pembelajaran sejarah pada kelas X SMAN 1 Jawai yaitu literasi dasar membaca. Bentuk kegiatan literasi yang diterapkan guru dalam pembelajaran sejarah termasuk kedalam beberapa aktivitas seperti membaca, menulis, berdiskusi, dan berfikir kritis sesuai dengan prinsip- prinsip dalam implementasi dari pembelajaran literasi. P-ISSN: 23553790. E-ISSN 25794655 | 103 Rusmida. Penerapan Kegiatan Literasi Dalam Pembelajaran Penerapan kegiatan literasi pada pembelajaran sejarah di kelas X SMAN 1 Jawai yaitu Proses penerapan kegiatan literasi melibatkan perencanaan, penerapan, dan evaluasi. Pada tahap perencanaan guru menyusun modul ajar, memilih teks yang relevan dengan materi yang diajarkan dan merancang strategi pembelajaran. Pada tahap penerapan literasi, guru memberikan teks kepada siswa, memfasilitasi diskusi dalam kelompok, serta mendorong siswa untuk berpartisipasi dengan aktif dalam kegiatan persentasi kelompok dan tanya Pada tahap evaluasi guru memberikan instruksi untuk membuat resume dan penugasan siswa seperti membuat makalah. Hambatan dalam menerapkan kegiatan literasi dalam pembelajaran sejarah pada kelas X SMAN 1 Jawai memiliki hambatan utama yaitu termasuk kurangnya minat peserta didik dalam membaca dan keterbatasan sumber daya buku dan teknlogi. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut seperti memilih teks yang menarik serta meningkatkan akses terhadap sumber daya buku dan teknologi dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti berharap guru dapat lebih kreatif dalam memilih metode pembelajaran saat menerapkan kegiatan literasi. Memberikan peserta didik izin dalam penggunaan handphone apabila memang diperlukan dalam pembelajaran dan memastikan semua peserta didik memiliki buku agar dapat belajar dirumah. Peneliti juga berharap siswa lebih berperan aktif dalam pembelajaran serta meningkatkan rasa ingin tahu mereka terhadap sejarah serta lebih sering untuk mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku. Perpustakaan yang dimiliki sekolah harus di berdayakan supaya siswa lebih termotivasi untuk membaca di perpustakaan, dan untuk peneliti selanjutnya yang akan melakukan kajian serupa, diharapkan dapat mengembangkan penelitian dan lebih fukus pada tujuan penelitian dan apa yang ingin diteliti serta mempelajari lebih banyak literatur terkait untuk memahami fokus penelitian. DAFTAR PUSTAKA