Journal of S. Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Training E-ISSN 2620-7699 | P-ISSN 2541-7126 https://doi. org/10. 37058/sport Perbandingan Tingkat Berpikir Kritis Mahasiswa Prodi Pendidikan Jasmani Anggota Organisasi dan Non Anggota Organisasi Di Universitas Bengkulu Andika Prabowo1. Mayang T Afriwilda2. Oddie Barnanda Rizky3. Andes Permadi4. Septian Raibowo5 Pendidikan Jasmani. Universitas Bengkulu Pedidikan Bimbingan Konseling. Universitas Bengkulu Pendidikan Jasmani. Universitas Bengkulu Pendidikan Jasmani. Universitas Bengkulu Pendidikan Jasmani. Universitas Bengkulu Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan Tingkat Berpikir Kritis Mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani anggota Organisasi dan Non Organisasi Di Universitas Bengkulu. Penelitian ini merupakan penelitian analisis komparatif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 50 orang, 25 orang mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani anggota organisasi dan 25 orang mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani non anggota organisasi. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, analisis data yang digunakan adalah nilai rata-rata. Uji Prasyarat menggunakan Uji Normalitas dengan sebaran data menggunakan uji liliefors. Uji Homogenitas menggunakan Uji F, setelah Uji prasyarat dilanjutkan dengan Uji t untuk menguji hipotesis signifikansi perbedaan antara kedua jenis sampel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat berpikir kritis mahasiswa anggota organisasi berada dalam tingkat rata-rata 93,5% dikategorikan AutinggiAy, sedangkan tingkat berpikir kritis mahasiswa non anggota organisasi berada pada rata-rata 84,9% dikategorikan sedang. Hasil uji beda dengan taraf signifikan 0,05 maka didapatkan nilai hitung t hitung 6,564 > ttabel 2,010. Kata kunci: Berpikir. Kritis. Mahasiswa Abstract The purpose of this study is to find out the comparison of the level of critical thinking of members of organizations and non-organizations of the physical education curriculum of Bengkulu University. This study is a comparative analysis with a quantitative approach. The population is 50 people, 25 physical education students are members of the association and 25 physical education students are not members of the association. The data collection technique uses a questionnaire, the data analysis uses the mean value, the hypothesis test uses the Normality Test with data distribution using the Liliefors test, the homogeneity test uses the F-test, after the hypothesis test we continue with t. test to test the hypothesis of the significance of the difference between two types of samples. The results of this study show that the average level of critical thinking of students belonging to an Correspondence author: Andika Prabowo. Universitas Bengkulu. Indonesia. Email: andikaprabowo@unib. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Volume 7 2023 | 327-337 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. organization is in the "high" category of 93. 5%, while the level of critical thinking of students not belonging to an organization is. an average of 8. 9%, which is classified as average. Different test results at 0. 05 significance level, calculated value of t number is 6. 56 > t table 2. Keywords: Thinking. Critical. Students PENDAHULUAN Sebuah lingkup kampus terdapat sebuah bentuk perkumpulan mahasiswa yang membentuk sebuah forum diskusi yaitu sebuah Organisasi merupakan wadah bagi sekelompok orang yang bekerja secara terkoordinasi untuk mencapai tujuan bersama, dalam suatu organisasi terdapat tugas-tugas yang harus dikoordinasikan sehingga dapat mewujudkan tujuan dari organisasi yang telah dibentuk. (Fullman et , 2. Setiap organisasi apapun jenisnya membutuhkan aplikasi manajemen dalam mengelolah tugas serta sumber daya yang dimiliki. Kebutuhan masyarakat yang semakin beragam dan kompleks membawa konsekuensi pada mahasiswa yang termasuk kedalam organisasi untuk berpikir lebih kritis dan bekerja keras mengerahkan segala strategi, metode, teknik dan segala upaya lain agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara (Zulfiana, 2. Mahasiswa diharapkan untuk bisa lebih berpikir kritis dalam segala hal, terutama dalam menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi oleh setiap individu mahasiswa, mahasiswa dituntut untuk lebih cerdas dalam berfikir dan mengembangkan pengetahuan . idak monoto. untuk menyelesaikan setiap masalah yang tengah dihadapi baik di dalam internal organisasi maupun di eksternal organisasi. Pada prinsipnya, orang yang mampu berpikir kritis adalah orang yang tidak begitu saja menerima atau menolak sesuatu. Mereka akan (Fakhriyah, 2. Jika belum memiliki cukup pemahaman, maka mereka juga mungkin menangguhkan keputusan mereka tentang informasi itu. Dalam berpikir kritis mahasiswa dituntut menggunakan strategi kognitif Andika Prabowo. Mayang T Afriwilda. Oddie Barnanda Risky. Andes Permadi. Septian Raibowo Perbandingan Tingkat Berpikir Kritis Mahasiswa Prodi Pendidikan Jasmani Anggota Organisasi dan Non Anggota Organisasi Di Universitas Bengkulu tertentu yang tepat untuk menguji kehandalan gagasan, pemecahan masalah, dan mengatasi masalah serta kekurangannya. (Yasinta et al. Setelah melakukan observasi, mahasiswa Pendidikan Jasmani Universitas Bengkulu kurang berminat dalam berorganisasi karena beberapa faktor yang membuat kurangnya minat mahasiswa Pendidikan Jasmani Universitas Bengkulu untuk mengikuti organisasi, seperti jarak dari kampus 3 yang cukup jauh dari kampus utama, kurangnya antusias mahasiswa Pendidikan Jasmani untuk berorganisasi berdampak pada diri mereka sendiri yang membuat mahasiswa Pendidikan Jasmani ketinggalan akan berita baru yang muncul di wilayah kampus dan tidak bisa mengkaji pengetahuan baru yang muncul. Organisasi dapat merubah pola pikir mahasiswa menjadi lebih kritis, akan tetapi ada juga mahasiswa yang sudah mengikuti organisasi, mereka belum mampu untuk berpikir secara kritis. (Cahyorinartri, 2. Banyaknya asumsi masyarakat kampus bahwasannya mahasiswa organisasi itu lebih mementingkan organisasi dibandingkan kewajibannya sebagai mahasiswa mementingkan organisasi daripada kuliahnya, dan kenyataannya beberapa mahasiswa yang mengikuti organisasi itu IPK nya masih di bawah 3,0 inilah salah satu dampak dari kelalaian mahasiswa yang mengikuti organisasi, satu hal yang perlu dipertanyakan mereka mampu untuk berpikir secara kritis menyaring informasi dan pengetahuan baru yang masuk akan tetapi akibat kelalaian mereka itu berdampak pada kuliah mereka yang mengakibatkan keterlambatan untuk mencapai kelulusan. Tidak menutup kemungkinan adapun mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi tetapi mereka mampu untuk berpikir lebih kritis dibandingkan dengan mahasiswa yang berkecimpung dalam organisasi. Oleh karena itu, akibat dari jarak kampus Pendidikan Jasmani dengan kampus utama yang jauh dan pergaulan mereka yang kurang dengan mahasiswa dari prodi lain membuat potensi mereka belum bisa berkembang. Kemudian di satu sisi lain keadaan kampus Pendidikan Jasmani belum bisa dikatakan layak. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Volume 7 2023 | 327-337 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. minimnya keperluan untuk memperlancar kondisi belajar mahasiswa menjadi salah satu faktor penghambat, ketersediaan lapangan yang masih kurang, fasilitas di dalam ruangan yang kurang mendukung, sarana dan prasarana untuk berkegiatan di luar ruangan yang kurang memadai. Berdasarkan beberapa uraian di atas terbentuklah satu pembahasan yang akan peneliti ambil yaitu AuPerbandingan tingkat berpikir kritis mahasiswa Pendidikan Jasmani yang mengikuti organisasi dan yang tidak mengikuti organisasi serta perbedaan tingkat berpikir kritisnyaAy. METODE Penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan komparasi atau perbedaan yaitu jenis penelitian yang bertujuan untuk membedakan atau membandingkan hasil. Penelitian ini dilakukan dengan dua kelompok Penelitian komparatif yang membandingkan keadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau dua waktu yang berbeda (Raibowo & Nopiyanto, 2. Populasi merupakan suatu wilayah yang mempunyai generasigenerasi yang berurutan, tersusun atas subjek/objek dengan kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan diambil kesimpulannya (Sugiyono, 2. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Pendidikan Jasmani semester 6 Universitas Bengkulu yang masih aktif mengikuti kuliah di tahun 2022 ini berjumlah 50 orang. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah Purposive sampling. Sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini berjumlah 25 orang mahasiswa dalam kepengurusan yang aktif dalam organisasi dan 25 orang mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti yaitu wawancara, kuisioner, dan dokumentasi. Setelah mengumpulkan data, peneliti melakukan analisis data. Teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. (Sari et al. , 2. Uji Normalitas Andika Prabowo. Mayang T Afriwilda. Oddie Barnanda Risky. Andes Permadi. Septian Raibowo Perbandingan Tingkat Berpikir Kritis Mahasiswa Prodi Pendidikan Jasmani Anggota Organisasi dan Non Anggota Organisasi Di Universitas Bengkulu Pengujian dilakukan tergantung variabel yang akan diolah. Pengujian normalitas sebaran data menggunakan uji liliefors. Jika nilai L hitung < Ltabel maka data berdistribusi normal, akan tetapi sebaliknya jika hasil analisis menunjukkan nilai Lhitung > Ltabel maka data berdistribusi tidak normal. Uji Homogenitas Homogenitas dicari dengan uji F dari data Mahasiswa Organisasi dan Mahasiswa Non Organisasi dengan menggunakan bantuan program Ms Excel. Jika hasil analisis menunjukkan nilai Fhitung < Ftabel maka data tersebut homogen, akan tetapi jika hasil analisis data menunjukkan nilai F hitung > F tabel, maka data tersebut tidak homogen. HASIL Hasil analisis statistik deskriptif perbandingan tingkat berpikir kritis mahasiswa penjas yang mengikuti organisasi dan yang tidak mengikuti organisasi dapat dilihat pada diagram batang berikut: Histogram 1. Perbandingan Tingkat Berpikir Kritis Mahasiswa Penjas Anggota Organisasi dan Non Anggota Organisasi Perbandingan tingkat berpikir kritis mahasiswa yang mengikuti organisasi menunjukkan hasil 93,5% dengan kategori yang sangat tinggi sedangkan mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi menunjukkan hasil persentase 84,9%, dengan demikian terdapat perbandingan yang cukup jauh antara mahasiswa yang mengikuti organisasi dan yang tidak mengikuti Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Volume 7 2023 | 327-337 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. Penghitungan Normalitas Hasil pengujian normalitas untuk data Mahasiswa organisasi diperoleh Lo = 0,1683 dengan N = 25, dan Ltab pada taraf pengujian signifikan = 0. 05 yang diperoleh 0,173 yang lebih besar dari pada Lo. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang di uji tersebut berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Tabel 1. Rangkuman Uji Normalitas Data Mahasiswa Organisasi 0,1683 Ltab 0,173 Distribusi Normal Selanjutnya dari hasil pengujian normalitas untuk data Mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi diperoleh Lo = 0,166 dengan N = 25, dan Ltab pada taraf pengujian signifikan = 0. 05 yang diperoleh 0,173 yang lebih besar dari pada Lo. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data perbandingan tingkat berpikir tersebut berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Tabel 2. Rangkuman Uji Normalitas Data Mahasiswa non Organisasi 0,166 Ltab Distribusi 0,173 Normal Perhitungan Homogenitas Hasil dari pengujian homogenitas untuk data perbandingan tingkat berpikir kritis mahasiswa organisasi dan non organisasi dimana skor yang diperoleh Fhitung = 1,83 dan F tabel = 1,98, maka F tabel lebih besar dari pada F hitung, sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua data tersebut homogen. Tabel 4. Rangkuman Uji Homogenitas 1,83 1,98 Andika Prabowo. Mayang T Afriwilda. Oddie Barnanda Risky. Andes Permadi. Septian Raibowo Perbandingan Tingkat Berpikir Kritis Mahasiswa Prodi Pendidikan Jasmani Anggota Organisasi dan Non Anggota Organisasi Di Universitas Bengkulu Hasil Uji t Hasil analisis uji t menyatakan terdapat perbedaan tingkat berpikir mahasiswa yang mengikuti organisasi dan yang tidak mengikuti organisasi. Hal ini didasari dari hasil analisis uji t, dimana diperoleh thitung = 6,654 > ttabel = 2,010 pada taraf signifikansi = 0. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan tingkat berpikir mahasiswa penjas organisasi dan mahasiswa penjas non organisasi. Tabel. 5 Hasil Uji-t Df=n1 n Kesimpulan 6,654 2,00 Signifikan PEMBAHASAN Berpikir kritis merupakan pengambilan keputusan terhadap sesuatu masalah berdasarkan atas pertimbangan-pertimbangan yang matang misalnya baik dan buruk akibat dari keputusan yang akan diambil, menurut Poerwadarminta . alam Ekawati dkk, 2. Berpikir memungkinkan seseorang untuk merepresentasikan dunia sebagai model dan memberikan perlakuan terhadapnya secara efektif sesuai dengan tujuan, rencana, dan Proses pembentukan pemikiran tidak lepas dari dunia pendidikan, dalam proses pembentukan pemikiran akan melewati beberapa fase pendidikan yang pertama adalah pendidikan Sekolah Dasar (SD). Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Perguruan Tinggi. Empat kriteria atau ciri-ciri berpikir kritis, yaitu berpikir terbuka, rasa ingin tahu intelektual, perencanaan dan strategi, serta kehati-hatian Berpikiran terbuka artinya menghindari pemikiran sempit, membiasakan mengeksplorasi opsi-opsi yang ada. Rasa ingin tahu menyelidiki dan meneliti. Perencanaan dan strategi artinya menyusun rencana, menentukan tujuan, mencari arah untuk menciptakan hasil. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Volume 7 2023 | 327-337 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. Kehati-hatian intelektual artinya upaya mengecek ketid akakuratan atau kesalahan, bersikap cermat dan teratur. (Paskalia Yasinta et al. , 2. Berpikir kritis adalah salah satu sisi menjadi orang kritis. Pikiran harus terbuka, jelas dan berdasarkan fakta. Seorang pemikir kritis harus mampu: memberi alasan atas pilihan keputusan yang diambilnya, . menjawab pertanyaan mengapa keputusan seperti itu diambil, . terbuka terhadap perbedaan keputusan dan pendapat orang lain, serta . sanggup menyimak alasan-alasan mengapa orang lain memiliki pendapat dan keputusan yang (Noviana, 2. Prinsip untuk menuju kehidupan yang lebih berarti, seseorang tidak dapat melarikan diri dari berpikir, dan berpikir kritis menjadikan hidup lebih bermakna, (Dwijananti & Yulianti, 2. Meningkatkan kompetensi diri biasanya menjadi tujuan utama dari melanjutkan pendidikan. Dengan kompetensi yang dimiliki dari lulusan perguruan tinggi, tentunya menjadikan solusi untuk meraih karir yang lebih baik. Mahasiswa dikatakan bertanggung jawab apabila dapat memanfaatkan pengetahuannya untuk memecahkan masalah dalam situasi kehidupan nyata, memahami arti belajar, mengadopsi sikap dan sudut pandang sendiri, dan memperkuat tanggung jawab untuk belajar mandiri. Organisasi mahasiswa adalah organisasi yang beranggotakan mahasiswa untuk mewadahi bakat, minat dan potensi mahasiswa yang dilaksanakan di dalam kegiatan. Keikutsertaan atau partisipasi dalam organisasi menekankan pada pembagian wewenang atau tugas-tugas dalam melaksanakan kegiatannya dengan maksud meningkatkan efektif tugas yang diberikan secara terstruktur dan lebih jelas menurut. (Pujiastuti. Organisasi mengembangkan kapasitas kemahasiswaannya berupa aspirasi, inisiasi, atau gagasan-gagasan positif dan kreatif melalui berbagai kegiatan yang relevan dengan tujuan pendidikan nasional serta visi dan misi institut perguruan tinggi yang mendasari setiap kegiatannya. Andika Prabowo. Mayang T Afriwilda. Oddie Barnanda Risky. Andes Permadi. Septian Raibowo Perbandingan Tingkat Berpikir Kritis Mahasiswa Prodi Pendidikan Jasmani Anggota Organisasi dan Non Anggota Organisasi Di Universitas Bengkulu Dapat disimpulkan melalui hasil penelitian dan dalam aspek indikator yang disajikan terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa penjas anggota organisasi dan non anggota organisasi. Beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan antara kedua mahasiswa tersebut adalah pemahaman tentang definisi berpikir kritis, budaya mahasiswa yang berbeda, proses dalam pemecahan masalah dan penerapan dalam setiap masalah yang muncul. Melalui pembahasan di atas mahasiswa harus dapat terus mengasah kemampuan yang dimiliki, seperti melatih leadership, belajar mengatur waktu, memperluas jaringan atau networking, mengasah kemampuan sosial, problem solving, dan manajemen konflik. Seperti yang kita ketahui dalam dunia kerja kita tidak hanya dituntut dalam kemampuan hard skill . saja, namun juga harus menguasai soft skill . , yang dimana bisa kita kembangkan sejak dini mungkin, terutama sebagai seorang Dengan adanya hasil penelitian ini, diharapkan mahasiswa mengembangkan kemampuan dan tingkat berpikirnya agar dapat mampu berkembang, menjadi lebih baik, dan bermanfaat bagi kita semua orang KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat berpikir kritis mahasiswa Penjas organisasi dan non organisasi Universitas Bengkulu. Hal itu diperkuat berdasarkan hasil dari analisis uji t, dimana diperoleh t hitung = 6,654 > ttabel = 2,010 pada taraf signifikansi = 0. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan tingkat berpikir kritis mahasiswa yang mengikuti organisasi dan yang tidak mengikuti organisasi. Dari kedua poin di atas maka muncul perbedaan yang signifikan antara mahasiswa yang mengikuti organisasi dan yang tidak mengikuti organisasi, dari perhitungan rata-rata telah mendapatkan hasil 93,5% untuk mahasiswa organisasi dan 84,9% untuk mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Volume 7 2023 | 327-337 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. REFERENSI