Jurnal Teologi Pambelum Volume 4. Nomor 1 (Agustus 2. : 30-41 ISSN: 2088-8767 (Prin. , 2829-0550 (Onlin. Link Jurnal: https://jurnal. stt-gke. id/index. php/pambelumjtp Published by: Unit Penerbitan dan Informasi STT GKE Doi Artikel: 10. 59002/jtp. Studi Teologis Bubun ToAosaruran Sebagai Media Penyembuhan Bagi Masyarakat Pangrorean di Tana Toraja Natalia Tosuli1. Henri Sirangki2* Institut Agama Kristen Negeri Toraja Correspondence: henrisirangki11@gmail. Abstract The Toraja are a tribe loaded with local wisdom, one of which is bubun to'saruran that exists in Pangrorean. The presence of such dew . is believed to cure various diseases. This is certainly not in line with Christian teachings, which teach that the only healing comes from God. The aim of this study was to describe toologically bubun to'saruran as a medium of healing for Pangrorean The method used in this study was a descriptive culitative method with interview techniques and field observation. The result of the research is that the existence of Bubun To'Saruran is a gift of God for the Pangrorean people. Bubun To'Saruran is one of the local wisdom for local people as a medium that can cure diseases. Theologically, the author finds that society does not have dualistic beliefs with the presence of the divination, but is purely theocentric. Keywords: Healing. Theological. Bubun To'Saruran. Toraja. Abstrak Toraja merupakan suku yang sarat akan kearifan lokal, salah satunya bubun toAosaruran yang ada di Pangrorean. Kehadiran bubun . tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Hal ini tentu tidak sejalan dengan ajaran Kristen, yang mengajarkan bahwa kesembuhan satusatunya berasal dari Allah. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan secara teologis bubun toAosaruran sebagai media penyembuhan bagi masyarakat Pangrorean. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara dan observasi Hasil dari penelitian adalah keberadaan Bubun ToAoSaruran merupakan suatu karunia Tuhan bagi masyarakat Pangrorean. Bubun ToAoSaruran merupakan salah satu kearifan lokal bagi masyarakat setempat sebagai suatu media yang bisa menyembuhkan penyakit. Secara teologis, penulis menemukan bahwa masyarakat tidak mempunyai kepercayaan dualisme dengan hadirnya bubun tersebut, tetapi semata semunya bersifat teosentris. Kata kunci : Penyembuhan. Teologis. Bubun ToAoSaruran. Toraja. Diterima Redaksi: 21-2-2024 | Selesai Revisi: 29-08-2. Diterbitkan Online: 31-08-2024 Studi Teologis Bubun ToAosaruran sebagai Media Penyembuhan bagi Masyarakat Pangrorean di Tana Toraja Pendahuluan Meningkatnya kompetensi tenaga medis dan kemajuan alat-alat medis membuat masyarakat tidak lagi ragu menjadikan rumah sakit dan sejenisnya sebagai tempat dalam upaya memperoleh kesembuhan atau sekadar memeriksa kesehatan mereka. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya pasien yang selalu berdatangan di rumah sakit. Selain itu, untuk mengetahui seseorang terpapar suatu penyakit tertentu, dokter dengan mudah mengetahui penyakit mereka dengan bantuan alat medis atau sekadar menganalisis gejala yang dirasakan oleh pasien lalu memberikannya obat untuk menyembuhkan penyakit Hal ini merupakan keunggulan yang dimiliki oleh bidang kesehatan . umah saki. dalam hal pengobatan dibanding dengan proses pengobatan secara tradisional. Meski demikian, tidak semua masyarakat mencari pengobatan terhadap tenaga medis untuk memperoleh kesembuhan, tetapi mereka justru menggunakan pengobatan secara Misalnya obat-obat herbal, atau menggunakan media tertentu yang dipercaya dapat menyembuhkan mesti secara nalar susah diterima. Seperti dahulu kala, seorang ibu yang akan melahirkan anaknya, tidak harus pergi ke rumah sakit atau puskesmas untuk bersalin, tetapi mereka bisa bersalin di rumah mereka dengan bantuan seseorang yang mempunyai telanta khusus dalam membantu seseorang yang akan melahirkan. Proses persalinan yang dilakukan pun berjalan dengan lancar sehingga ibu dan anaknya dapat terselamatkan, tanpa ada bantuan dari tenaga medis. Namun di era sekarang ini, hampir semua ibu yang akan melahirkan pergi ke rumah sakit atau puskesmas untuk bersalin. Apalagi dengan dikeluarkannya peraturan menteri kesehatan (PERMENKES) nomor 21 tahun 2021 yang menyatakan bahwa persalinan harus dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, puskesmas, klinik bersalin atau bidan praktik. Tentu tujuan dari peraturan menteri kesehatan ini adalah baik serta membuat ibu hamil terasa aman karena mendapat pelayanan dari tenaga medis Jika berkaca pada Alkitab, maka kita menemukan pola penyembuhan yang nampaknya juga bersifat tradisional yang menggunakan media tertentu bahkan kesembuhan dapat terjadi dengan sekadar percaya . Kisah Yesus yang menyembuhkan orang yang buta di Betsaida (Mrk. 8:22-. menjadi bukti bahwa hanya dengan meludahi mata orang itu, maka dia dapat melihat. Markus pasal 5 juga mencatat bagaimana seorang perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun tidak kunjung sembuh kendati sudah diobati oleh tabib berulang-ulang, namun hanya dengan menyentuh jubah Yesus, ia menjadi sembuh. Tentu secara medis hal ini sulit diterima, namun kita tidak dapat menolak sebab Alkitab telah merekam peristiwa itu. Penyembuhan yang dialami oleh penderita sebagaimana yang telah dikutip dari Alkitab di atas, menunjukkan bahwa iman kepada Yesus merupakan substansi terkabulnya permohonan manusia. (Hidayat, 2. Sebelum Injil masuk ke Toraja, kehidupan suku Toraja masih penuh dengan misteri yang percaya kepada hal-hal mistik. Hal ini karena masyarakat Toraja sejak dulu tidak mengenal pembedaan antara yang profan dan sakral, yang manusiawi dan yang suci dan yang religius dan yang tidak religius. Salah satu kepercayaan mistik yang masih kuat Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Studi Teologis Bubun ToAosaruran sebagai Media Penyembuhan bagi Masyarakat Pangrorean di Tana Toraja dipercaya masyarakat Pangrongrean di Toraja saat ini adalah bubun toAo saruran. Bubun ToAoSaruran adalah sumur tua di Pangrorean yang dulunya dipercaya masyarakat bahwa airnya dapat menyembuhkan. Bubun toAosaruran diyakini memiliki beberapa khasiat yang secara nalar susah diterima oleh akal sehat manusia pada umumnya. Situs ini memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Pangrorean. Bubun toAosaruran diperkirakan memiliki usia yang sama dengan perkampungan di Pangrorean. Menurut masyarakat Pangrorean, meskipun terjadi kemarau panjang di wilayah Toraja, bubun toAosaruran ini tidak pernah kering. Menurut cerita masyarakat setempat, sumur ini mempunyai kisah-kisah magis, konon sumur ini dijaga oleh sidat yang tidak sembarang orang dapat melihatnya. Mata air bubun toAosaruran yang tidak pernah kering ini merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat Pangrorean, karena menjadi salah satu sumber air untuk mengairi persawahan masyarakat setempat, juga untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, diyakini bahwa mata air dari sumur ini mampu menyembuhkan beberapa penyakit seperti cacar air, sakit kepala, sakit perut dan berbagai penyakit lainnya. Kepercayaan masyarakat Pangrorean akan khasiat dari sumur ini, menjadikan sebagian besar warga Pangrorean singgah di sumur untuk sekadar membasuh muka atau pun mandi (Kendek, 2. Masyarakat setempat sebagian besar sudah menganut agama Kristen, akan tetapi mereka masih percaya akan situs sumur ini yang dapat menyembuhkan, sehingga mereka sering mandi di sumur atau meminum air itu, meskipun sudah 80% beragama Kristen, akan tetapi masih memiliki kepercayaan yang konservatif. Masyarakat percaya terhadap eksistensi bubun toAosaruran karena mereka sudah mengalami secara langsung dan sudah dibuktikan dari generasi ke generasi. Sejauh pengamatan, penulis melihat bahwa sebagian besar masyarakat Pangrorean menggantungkan hidup pada sumber air dan khasiat serta kesakralan yang dipercayai dapat menolong masyarakat setempat. Khasiat Bubun ToAoSaruran tentu saja memberikan pengaruh terhadap kepercayaan iman seseorang, bukan saja dalam kalangan masyarakat bahkan dalam jemaat pun turut dipengaruhi. Injil Yohanes 5:1-18, dijelaskan bahwa Yesus melakukan mukjizat penyembuhan di kolam Betesda. Betesda artinya Aurumah anugerahAy. Yohanes mencatat dalam pasal 5 bahwa ketika para malaikat Tuhan turun ke dalam kolam itu dan mengguncangkan airnya, maka siapa yang terdahulu masuk, penyakit apa pun itu dapat sembuh. Tetapi ada seorang yang menderita penyakit lumpuh selama 38 tahun selalu ketinggalan ketika air kolam tersebut Namun tampaknya dia selalu bersabar hingga dia bertemu dengan Yesus kendati awalnya ia tidak mengetahui bahwa itu Yesus, tetapi karena imannya maka Yesus kemudian berkenan untuk menyembuhkannya. Tidak lama kemudian orang lumpuh tadi bertemu dengan Yesus di dalam Bait Allah, dan Yesus berkata kepadanya: AuEngkau telah jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk. Ay Setelah orang lumpuh itu keluar dari Bait Suci, ia lalu menceritakan kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkannya. Dari kisah di atas memberi penjelasan yang gamblang bahwa, bukan air dalam kolam Betesda yang dapat menyembuhkan, tetapi kemudian kepercayaan kepada Yesus yang menjadi substansi atas Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Studi Teologis Bubun ToAosaruran sebagai Media Penyembuhan bagi Masyarakat Pangrorean di Tana Toraja Tentu dari penjelasan ayat di atas, menampakkan kekontrasan diantara keduanya, karena air dari kolam Betesda, tidak sepenuhnya dapat menyembuhkan, namun orang yang lumpuh tadi sembuh karena kepercayaannya terhadap Yesus yang dapat menyembuhkan penyakit. Karena itu kehadiran bubun toAosaruran bagi masyarakat Pangrongrean membuat penulis tertarik untuk menyelisik lebih jauh untuk menemukan makna teologisnya. Bubun ToAoSaruran merupakan salah satu aset kebanggaan dan keunikan tersendiri bagi masyarakat Pangrorean sebagai pewaris, dan kehadiran bubun toAosaruran dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Pertanyaan mendasar, ada apa di sana? Dari latar belakang inilah yang membuat penulis tertarik mengkaji dari perspektif teologis kepercayaan masyarakat Pangrorean terhadap Bubun ToAoSaruran yang dipercaya sebagai tempat/obat untuk menyembuhkan penyakit dengan menggunakan Alkitab (PL dan PB) sebagai alat analisis dalam menemukan konsep teologisnya. Metode Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif yang bersifat Penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, di mana instrumen kunci adalah peneliti itu Hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna generalisasi (Sugiyono, 2. Jadi dapat dikatakan bahwa metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, dan mengandung makna. Dalam pengumpulan data, peneliti menentukan teknik yang akan digunakan untuk memperoleh informasi yang akurat dan relevan sesuai dengan karakteristik dari tujuan penelitian yang hendak dicapai. Dalam penelitian ini, adapun teknik pengumpulan yang digunakan penulis sebagai berikut: pertama, studi pustaka yang mana dimaksudkan untuk mengumpulkan berbagai informasi dari berbagai sumber seperti: buku-buku karangan, dokumen, kamus, internet serta karya-karya tulis lainnya. Kedua, wawancara adalah pengumpulan data dengan bertanya langsung kepada informan. Dalam proses wawancara, penulis menggunakan teknik wawancara tidak terstruktur dengan mengajukan pertanyaan secara bebas. Sebagai bahan pembedah, penulis menggunakan Alkitab (PL dan PB) yang merekam peristiwa atau yang berkaitan dengan alat dan proses penyembuhan untuk menemukan konsep teologis dari bubun ToAoSaruran di Toraja. Penulis berusaha mendialogkan media penyembuhan yang dipercaya masyarakat dengan metode penyembuhan dalam Alkitab sehingga kita tidak terjebak dalam sikap mengkafirkan budaya atau kepercayaan masyarakat tertentu dan upaya ini tentu bertujuan memperkaya pemahaman teologis kita. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Studi Teologis Bubun ToAosaruran sebagai Media Penyembuhan bagi Masyarakat Pangrorean di Tana Toraja Hasil dan Pembahasan Kearifan Lokal masyarakat Toraja Kearifan adalah produk budaya. Budaya berasal dari bahasa sansekerta budhaya yaitu bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi . inta, karsa dan ras. atau akal. Dalam bahasa Inggris disebut culture, dan dalam bahasa latin colera yang berarti mengelola, mengerjakan (Setiadi, 2. Setiap daerah memiliki apa yang disebut dengan kearifan lokal dalam budaya yang berlaku dan diterima baik oleh anggota masyarakatnya. Seperti halnya masyarakat Toraja yang masih kental dengan budaya dan berbagai kearifannya yang harus tetap dipelihara. Nilai-nilai kearifan lokal dalam budaya masyarakat Toraja yang diwariskan oleh leluhur sangat memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Toraja. Sebelum Injil masuk dan berkembang di Toraja, kehidupan masyarakat diatur oleh suatu sistem nilai yang terkristalisasi di dalam budaya itu sendiri. Nilai-nilai tersebut meliputi: karapasan . etentraman, kedamaia. , kasiangkaran . otong royon. , kasiturusan . , sikamasean . aling mengasihi, saling mendukun. , to mealuk . (Kombong. Menurut masyarakat Toraja, kehidupan yang terjadi di langit hanya bisa dibayangkan dan dicerminkan dalam pengalaman dunia. Kehidupan dunia ini menentukan kehidupan di seberang sana. Kehidupan ini berada di bawah perintah dan ketentuan religius yang mempengaruhi gerak kehidupan. Dalam artian nilai dasar tersebut merupakan penuntun dalam keseluruhan cara hidup mulai kehidupan awal manusia kelahiran sampai mati (Kobong, 2. Oleh karena itu, nilai-nilai dasar dalam kearifan lokal tersebut dalam budaya masyarakat Toraja perlu untuk dilestarikan. Salah satu kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Toraja secara khusus masyarakat Pangrorean yang diwariskan secara turun temurun adalah bubun . toAosaruran. Sejarah Singkat Bubun ToAo Saruran Sebelum memaparkan bubun toAosaruran sebagai media penyembuhan bagi masyarakat Pangrorean Lembang Gasing, penulis akan terlebih dahulu menguraikan asalusul bubun toAosaruran. Sejak terbentuknya lepongan tondok na liliAo Pangrorean . ampung di seluruh daerah Pangrorea. , dibentuk tongkonan . umah adat Toraj. empat pada Sumur ini merupakan sumur tertua di wilayah adat Pangrorean na liliAo adat tongkonan karua. Dulu ada empat tongkonan, tetapi dua tongkonan yang mempunyai bubun . toAosaruran yaitu tongkonan tau annan dan tongkonan toAokaluku, dan seiring perkembangan menjadi tongkonan karua (Pakambanan, 2. Seperti yang diungkapkan informan sebelumnya. PasangkaAo juga menyebutkan bahwa dulu ada empat tongkonan yang menjadi bagian dari sumur toAo saruran ini yaitu: tongkonan toAokaluku, tongkonan tau annan, tongkonan pealla dan tongkonan toAonangkaAo. Lalu turun beberapa rumah yang disebut batu aAoriri menggabung yang disebut toAosaruran artinya semua orang gabung tetapi yang menjadi bagian dari bubun . ini adalah empat tongkonan itu (PasangkaAo, 2. Bubun toAosaruran memiliki dua saruran . ada sebelah kiri dan kanan, lalu yang dipakai untuk menyembuhkan adalah bagian sebelah kanan. Iamo garontoAona toAo Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Studi Teologis Bubun ToAosaruran sebagai Media Penyembuhan bagi Masyarakat Pangrorean di Tana Toraja sabaAo mui sangtumba uran taeAo nabisa malutu . tulah akarnya bahwa meskipun hujan airnya tidak pernah keru. Menurut Parenggo, sumur ini berasal dari Gasing yang memiliki ikan Sidat yang tidak sembarang orang dapat melihatnya. Itu merupakan suatu keajaiban bagi sumur itu, karena ketika seseorang melihat ikan itu maka dalam hidupnya selalu madalleAo . Lalu ketika air sumur itu mengalir ke persawahan, maka padi yang ada di sekitar sumur itu yang dialiri air itu, akan mengalami hasil panen yang berlimpah atau hasil panen selalu baik (Parenggo, 2. Keberadaan sumur adat di Pangrorean pertama kali ditemukan oleh leluhur keluarga tongkonan karua. Oleh sebab itu sumur adat ini dinamakan bubun toAosaruran (Mangampa, 2. Melalui pengamatan penulis, sumur tua ini merupakan sumur yang sangat unik karena memang memiliki dua saruran . orong air dari bamb. yang keduanya memiliki manfaat tersendiri. Gambar 1. 1 Bubun ToAoSaruran Ket: Bubun ToAoSaruran memiliki dua saluran yang corongnya dari bambu. Saluran sebelah kanan adalah media yang digunakan sebagai penyembuhan. Awal bubun toAosaruran digunakan sebagai media penyembuhan yaitu dimimpikan oleh salah seorang To ParengngeAo . enanggung jawab dalam sebuah kampun. bahwa sumur tersebut dapat menyembuhkan, lalu ia kemudian pergi ke sumur tersebut. kemudian mandi, dan setelah selesai mandi di tempat tersebut, ia kemudian sembuh dari penyakitnya yang mana dulunya mengidap penyakit barakapaAo . ahasa Toraj. yang artinya penyakit cacar air (Patamba, 2. Eksistensi Bubun ToAo Saruran Sumur . toAosaruran adalah salah satu peninggalan leluhur Pangrorean yang memiliki cerita-cerita supranatural yang diwariskan secara turun-temurun di mana khasiatnya sudah dibuktikan oleh beberapa orang. Dalam pembahasan sebelumnya dituliskan bahwa mata air bubun toAosaruran yang tak pernah kering ini merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat Pangrorean, karena menjadi salah satu sumber air untuk mengairi persawahan masyarakat setempat dan juga untuk keperluan hidup lainnya. Pakambanan mengatakan bahwa air sumur tersebut tidak pernah kering meskipun kemarau panjang (Pakambanan, 2. Juga. Mangampa menyebut bahwa mata air dari sumur ini mampu menyembuhkan beberapa penyakit seperti sakit perut, cacar air, sakit kepala. Menariknya sumur ini, jika airnya dibawa ke perantauan maka kampung halaman di Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Studi Teologis Bubun ToAosaruran sebagai Media Penyembuhan bagi Masyarakat Pangrorean di Tana Toraja Pangrorean akan selalu dirindukan, ungkap Parenggo (Parenggo, 2. Keunikan itu membuat sumur tersebut berbeda dengan sumur pada umumnya. Eksistensi bubun toAosaruran bukan hanya sebagai media penyembuhan bagi masyarakat setempat, namun ternyata masyarakat memilik kepercayaan yang terwariskan turun-temurun, yakni situs sumur tersebut bisa membahayakan jika orang tidak menghargai adat setempat atau pun yang berkeinginan jahat terhadap lingkungan setempat. Bubun ToAo Saruran sebagai Media Penyembuhan bagi Masyarakat Pangrorean Eksistensi bubun toAosaruran diyakini oleh masyarakat Pangrorean membawa dampak positif dalam keberlangsungan hidup mereka, secara khusus dalam hal penyembuhan. Kendek dan Andarias Mangampa mengatakan bahwa eksistensi bubun toAosaruran sangat bermanfaat karena dapat menyembuhkan penyakit seperti cacar air, sakit kepala dan bahkan bisa membuat masyarakat menjadi awet muda. Hal ini dibuktikan oleh masyarakat dengan pergi ke sumur itu untuk meminum air dari saruran yang berada di sebelah kanan. Bangun menyebut bahwa bubun toAosaruran memiliki dampak positif yang dapat membuat seorang ibu dapat melahirkan dengan baik tanpa melakukan sesar. Hal ini terjadi ketika seorang ibu sedang hamil pergi ke sumur itu untuk mandi akan tetapi harus berangkat dini hari tanpa ada yang mendahului dan melihat ketika berada di sumur itu (Patamba, 2. PasangkaAo dan Radius Parenggo, mengatakan bahwa ketika kita berada di lokasi bubun toAosaruran, kita mesti meminta izin terlebih dahulu sebelum mengambil air dari sumur tersebut. Salah satu informan mengatakan bahwa kesembuhan akan dialami melalui media bubun toAosaruran ini jika kita percaya atau meyakininya (Pakambanan, 2. Di samping dampak positif dari eksistensi bubun toAosaruran, rupanya ada dampak negatif yang ditimbulkan. Dampak itu terjadi ketika ada masyarakat melanggar aturan atau melakukan sesuatu yang tidak baik di tempat itu atau berbicara sembarangan, maka akan terjadi malapetaka kepada orang yang melanggar aturan di tempat tersebut. Praktik Penyembuhan Dalam Alkitab Alkitab mencatat terkait beberapa tokoh yang kemudian menolong orang-orang yang sakit. Seperti Nabi Elisa yang menyembuhkan anak dari perempuan Sunem yang mati . 2 Raj. Elisa menyembuhkan anak itu dengan berdoa kepada Tuhan lalu ia membaringkan dirinya di atas anak itu dengan mulutnya di atas mulut anak itu, dan matanya di atas mata anak itu dan telapak tangannya di atas telapak tangan anak itu, maka panaslah badan anak itu. Setelah itu Elisa berdiri kembali dan berjalan di dalam rumah sekali ke sana dan ke sini kemudian Elisa meniarap di atas anak itu. Maka bersinlah anak itu sampai tujuh kali, lalu membuka matanya kemudian anak itu hidup kembali . Terkait kisah penyembuhan seperti yang disebutkan di atas. Stevanus menyebut bahwa penyembuhan secara adikodrati . dalam Alkitab tidak dapat dibantah karena benar-benar alkitabiah. (Stevanus, 2. Selain itu Nabi Elia yang juga menyembuhkan anak seorang janda di Sarfat. Elia mengambil anak seorang janda itu, membawanya ke kamarnya dan membaringkan anak itu di tempat tidurnya. Lalu Elia mengunjurkan badannya di atas anak itu tiga kali dan Ia Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Studi Teologis Bubun ToAosaruran sebagai Media Penyembuhan bagi Masyarakat Pangrorean di Tana Toraja berseru kepada Tuhan katanya: AuYa Tuhan . Allahku, pulangkan nyawa anak ini ke dalam tubuhnyaAy. Tuhan mendengarkan permintaan Elia dan anak itu pun hidup kembali . Raj. 17:19-. David Smith dalam bukunya yang berjudul AuBagaimana Aku dapat Meminta untuk Kesembuhan Fisik?: Panduan AlkitabiahAy sebagaimana yang dikutip oleh Stevanus mengatakan bahwa Tuhan dapat menyembuhkan manusia dengan cara yang dipilih-Nya . ak prerogatif. (Stevanus, 2. Karena itu penulis berasumsi bahwa Tuhan pun menyembuhkan orang melalui orang yang dipilih-Nya untuk menyembuhkan orang yang sakit atau sekadar menggunakan media tertentu. Jika melihat praktik yang dilakukan Yesus dalam melakukan penyembuhan bagi orang-orang sakit, tidak dilakukan dengan cara yang sama untuk semua penyakit. Terkadang Yesus menggunakan media sederhana seperti jubah sebagai sarana dalam proses Seperti dalam kisah Perempuan yang sakit pendarahan (Mat. Ayat tersebut menjelaskan bahwa perempuan itu sangat percaya bahwa penyakitnya dapat sembuh hanya dengan menyentuh jumbai Yesus tanpa izin lebih dulu. Dia sembuh dan Yesus mengatakan bahwa bukan karena sentuhan itu yang membuatnya sembuh, melainkan karena imannya terhadap Yesus (Mat. 9:20-. Selain melalui jubah Yesus, beberapa sarana lain yang digunakan seperti kolam Betesda. Sungai Yordan . alam peristiwa kesembuhan Naama. terekm dalam Alkitab dalam proses penyembuhan. Selain melalui media sederhana. Yesus juga melakukan penyembuhan dengan cara menyentuh langsung orang yang sakit, seperti ketika menyentuh mata orang buta dan ia dapat melihat Hal itu pun adalah hasil iman (Mat. 9:27-31. 20:29-. ketika Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahirnya (Yoh. (Munthe, 2. Yesus menyembuhkan orang bisu dan orang-orang lumpuh (Mat. 9:29. Mat. 9:23. Mat. Ia juga mengusir rohroh jahat yang merasuki orang-orang agar keutuhan manusiawinya menjadi pulih (Mat. 8:16-. Yesus menyembuhkan seorang yang lumpuh selama 38 tahun di kolam Betesda. Dalam kisah ini banyak orang sakit seperti orang buta, orang timpang dan lumpuh. Mereka berkumpul di kolam Betesda mengharapkan kesembuhan dengan menantikan kolam itu Dan orang lumpuh ini disembuhkan Yesus karena terus berpengharapan untuk memperoleh kesembuhan (Yoh. 5:1-. Mukjizat penyembuhan melambangkan suatu perubahan yang hanya dilaksanakan oleh Allah. Mukjizat itu menandakan kejayaan Yesus atas kejahatan serta tanda dimulainya kerajaan Allah di atas bumi, artinya bahwa mukjizat penyembuhan merupakan bukti dari kuasa kerajaan Allah yang didapatkan manusia sesuai dengan janji Allah kepada manusia. Yesus menjanjikan keselamatan bagi manusia, oleh karena itu manusia menganggap bahwa kesembuhan yang diterima atas penyakit adalah sebuah keselamatan yang diterima dari Allah. Penyelamatan itu berarti bahwa terhindar dari bahaya, diampuni dosanya, sembuh dari berbagai sakit penyakit dan diberi hidup kekal oleh Allah (Kusuma, 2. Jadi penyembuhan yang dilakukan Yesus tidak terikat kepada satu metode atau satu sarana saja tetapi Yesus melakukan penyembuhan kepada setiap orang dengan cara yang unik melalui kata-kata, sentuhan, alat bahkan tanpa sarana sesuai dengan kondisi dan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Studi Teologis Bubun ToAosaruran sebagai Media Penyembuhan bagi Masyarakat Pangrorean di Tana Toraja keadaan orang-orang yang datang kepada-Nya. Sering kali Yesus juga menguji iman seseorang sebelum memberi kesembuhan seperti pada peristiwa anak perempuan Yairus. Jika dilihat dari proses penyembuhan di atas ada beberapa media yang digunakan dalam menyembuhkan yaitu: Elisa menggunakan media sungai Yordan untuk menyembuhkan Naaman yang sakit kusta. Yesus sering menggunakan media penyembuhan yaitu jubah yang disentuh perempuan yang sakit pendarahan kemudian menjadi sembuh, selain itu Yesus juga menggunakan media tanah dan ludah dalam menyembuhkan orang sakit (Yoh. Adapun media lain yang digunakan dalam penyembuhan dalam Alkitab yaitu kolam Betesda di mana ketika para malaikat turun ke kolam Betesda itu maka air itu akan berguncang dan orang yang terdahulu turun akan menjadi sembuh. Di dalam Alkitab beberapa nabi menggunakan media atau alat dalam menyembuhkan Media adalah salah satu bentuk sarana yang dipakai Tuhan untuk menunjukkan mukjizat-Nya, namun media itu bukan substansi yang menyembuhkan namun karena percaya dan mengimani bahwa media adalah alat yang dipakai Tuhan untuk menyembuhkan orang atau menyatakan kuasa-Nya. Salah satu contoh yang membuktikan bahwa kuasa Tuhan lebih dahsyat dari pada media yang sering digunakan Tuhan, dapat dilihat dari peristiwa di kolam Betesda di mana orang lumpuh tanpa masuk ke dalam kolam tersebut dapat memperoleh kesembuhan dengan cara percaya kepada Yesus dan berpengharapan kepada Yesus. Teologi Penyembuhan Menurut Clydo M. Narramere penyembuhan dapat dilakukan dengan berdamai dan hidup bersama Kristus (Abineno, 1. Dalam artian perlu penyadaran yang mendasar dalam hidup manusia, bahwa setiap manusia yang meninggalkan Allah hidupnya tidak akan sehat atau mengalami penderitaan mental dan juga penderitaan rohani sebab keduanya berhubungan erat. Kesembuhan diberikan kepada orang-orang yang percaya dan terpanggil dalam nama-Nya serta taat akan perintah-Nya. Itu sangat terbukti dalam Alkitab terkait kisah orang yang disembuhkan oleh karena mereka percaya akan kuasa Tuhan. Berbicara tentang kepercayaan berarti bicara tentang doa, karena keduanya tidak dapat dipisahkan. Berdoa berarti kita percaya terhadap yang Kuasa, karena itu kita meminta penyembuhan. Di dalam Mazmur terdapat beberapa permohonan atas kesembuhan, seperti ratapan untuk membuktikan keampuhan doa dalam keadaan sakit. Mazmur 38 adalah sebuah permohonan untuk kesembuhan bagi seseorang yang penyakitnya nyata, bukan hanya bersifat metafora. Mazmur 30 terdapat ungkapan syukur atas kesembuhan dari penyakit (King dan Stager, 2. Kisah Hizkia yang berdoa kepada Yahweh untuk mengalami kesembuhan, dan doa kesembuhan yang dilantunkan akhirnya didengarkan Oleh Tuhan . apat dilihat dalam Kitab Yesaya 38:1-. Charles Frances Hunter berpendapat, mukjizat merupakan suatu kejadian atau peristiwa ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Kesembuhan ilahi tidak dapat diukur dengan pola pikir manusia, karena itu tindakan Allah sendiri (Hunter, 2. Elter juga menyebut kesembuhan ilahi merupakan hal yang diharapkan oleh setiap orang yang berada dalam Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Studi Teologis Bubun ToAosaruran sebagai Media Penyembuhan bagi Masyarakat Pangrorean di Tana Toraja suatu kondisi yang sakit, baik secara mental maupun spiritual. Kesembuhan ilahi pasti selalu terjadi dengan adanya iman . (Etter, 2. Alkitab mencantumkan susunan beberapa teks yang merupakan konsep Alkitabiah tentang kesembuhan Ilahi. Hal itu dapat ditunjukkan dalam pelayanan Yesus di muka bumi dengan mengadakan berbagai macam tanda dan mukjizat, termasuk kesembuhan. Berdasarkan sikap orang Kristen, kesembuhan itu dapat terjadi jika berharap dan berdoa kepada Allah. Kesembuhan orang sakit didapatkan dengan harapan dan doa kepada Allah dari setiap orang Kristen . menurut kitab Yakobus 5:16-17. Orang yang sakit disembuhkan oleh Yesus dan Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk menyembuhkan juga. Kisah Para Rasul menjelaskan kejadian-kejadian penyembuhan dalam nama Yesus oleh para rasul (Kis 3:. Paulus menuliskan bahwa penyembuhan itu juga merupakan salah satu karunia dari Roh Kudus (Metzner dan Renner. Mukjizat-mukjizat penyembuhan yang dikerjakan oleh Yesus merupakan tanda pengenal untuk menunjukkan bahwa Dialah Mesias. Penyembuhan dapat diberikan dengan berbagai cara, ada yang mewujudkan kuasa penyembuhan dengan percakapan penggembalaan ada yang mewujudkan kuasa penyembuhan dengan sentuhan mereka dan juga secara medis dan pembedahan. Analisis Teologis Eksistensi Bubun ToAo Saruram Berdasarkan hasil penelitian di atas maka penulis menyimpulkan bahwa sumur adat di Pangrorean memiliki peran yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat Pangrorean. Masyarakat menilai bahwa kepercayaan terhadap sumur tersebut, tidaklah salah dan keliru ketika ingin mengambil atau meminum air tersebut mengingat bahwa itu adalah sebuah berkat dari Tuhan dengan menghadirkan sumur tersebut. Masyarakat melihat bahwa itu adalah sebuah situs bersejarah yang turun temurun diwariskan dari leluhur untuk dijaga dan dilestarikan. Hal ini merupakan aset terpenting dalam menunjang taraf kehidupan masyarakat Pangrorean, baik dalam bertani maupun sebagai sumber mata air untuk kehidupan sehari-hari. Bubun toAosaruran merupakan salah satu ciptaan Tuhan yang baik dan anugerah yang luar biasa diberikan kepada masyarakat Pangrorean. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bubun toAosaruran memiliki banyak manfaat yang luar biasa bagi kehidupan masyarakat Pangrorean, baik dalam menyambung kehidupan maupun secara religius lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta yang telah memberikan sumur itu sebagai salah satu sumber mata air yang banyak memberi manfaat termasuk di dalamnya membawa kesembuhan. Masyarakat meyakini bahwa sumber kesembuhan itu asalnya dari Tuhan dalam berbagai bentuk. Tuhan memakai cara dalam menyembuhkan umat-Nya. Itulah sebabnya sebelum masyarakat menggunakan air dari sumur tersebut mereka berdoa, karena mereka menyadari bahwa kesembuhan datangnya dari Sang Pencipta melalui sumur tersebut. Hal inilah alasan masyarakat masih mempercayai atau melakukan praktik-praktik tersebut sekalipun sudah beragama Kristen. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Studi Teologis Bubun ToAosaruran sebagai Media Penyembuhan bagi Masyarakat Pangrorean di Tana Toraja Jika berkaca pada pola pelayanan Yesus, secara khusus pelayanan mengenai kesembuhan. Ia juga menggunakan sarana kolam Betesda, sungai Yordan dalam peristiwa kesembuhan Naaman bahkan media yang lain dalam proses penyembuhan. Alkitab memandang bahwa semua yang diciptakan Tuhan itu baik adanya sama dengan sumur yang ada di Pangrorean, itu adalah sebuah berkat dari sang Pencipta bagi masyarakat Pangrorean karena tidak pernah kering dan memiliki khasiat-khasiat dan manfaat. Pada zaman dahulu sumur merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan orangorang pada saat itu. Karena merupakan hal yang terpenting, masyarakat dahulu sangat Pada zaman PL, dituliskan bahwa memanfaatkan sumur tanpa izin tampaknya dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak milik (Bil. 20:17,19. 21: . Sumur menjadi bagian yang berharga karena air sangat langkah dan dituntut kerja keras untuk menggalinya. Tidak jarang kepemilikan sumur menimbulkan perbantahan dan Karena alasan itulah Abraham pada satu peristiwa secara resmi menetapkan kepemilikannya atas sumur di Bersyeba (Kej. 21:25-31. 26:20-. Akan tetapi, setelah kematiannya orang-orang Filistin mengabaikan hak-hak putra dan ahli warisnya yaitu Ishak, malahan menutup sumur-sumur yang sudah digali oleh hamba-hamba Abraham (Kej. 26:15,. Sebagai ciptaan Allah, manusia tentunya menyadari bahwa semua yang diciptakan pada hakikatnya adalah baik. Allah menjadikan banyak hal dalam dunia agar manusia mempergunakan sesuai dengan kebutuhan mereka, karena itu Tuhan tidak menciptakan sesuatu yang tidak berguna. Kehadiran bubun toAosaruran dipandang oleh masyarakat setempat sebagai anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada masyarakat Pangrorean secara khusus. Implikasi Dari data yang diterima, penulis memberi interpretasi bahwa rupanya masyarakat Pangrorean percaya dengan bubun toAosaruran sebagai media penyembuhan, karena mereka mengimani peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Alkitab mengenai kesembuhan yang dialami oleh orang-orang yang sakit dengan menggunakan berbagai media, seperti salah satu contoh kolam Betesda. Karena itu harapan penulis, semoga setiap pembaca juga menghidupi bahwa apa pun bentuk sarana yang dipakai dalam upaya mencari kesembuhan, asal kita mengimani bahwa Tuhan dapat menyembuhkan, akan terjadi sesuai kehendakNya. Rekomendasi Untuk Penelitian Lanjutan Menurut hemat penulis, topik tentang penyembuhan sudah pasti banyak ditulis oleh para cendekiawan terkhusus dibidang teologi. Namun, mengenai proses penyembuhan menggunakan media seperti bubun . yang ada di Pangrorean masih sangat jarang Oleh karena itu, penulis merekomendasikan kepada para peneliti untuk menjadikan tulisan ini sebagai referensi dalam menulis kajian serupa. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Studi Teologis Bubun ToAosaruran sebagai Media Penyembuhan bagi Masyarakat Pangrorean di Tana Toraja Kesimpulan Keberadaan Bubun ToAoSaruran merupakan suatu karunia Tuhan bagi masyarakat Pangrorean. Bubun ToAoSaruran merupakan salah satu kearifan lokal bagi masyarakat setempat sebagai suatu media yang bisa menyembuhkan penyakit. Secara teologis, penulis menemukan bahwa, ketika masyarakat hendak mengambil atau menggunakan air dari bubun toAosaruran untuk kesembuhan bagi penyakit yang mereka derita, mereka mendasarinya dengan berdoa kepada Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa, masyarakat tidak mempunyai kepercayaan dualisme dengan hadirnya bubun tersebut, tetapi semata semunya bersifat teosentris. Daftar Rujukan Munthe. Tema-Tema Perjanjian Baru. BPK Gunung Mulia. Elly M. Setiadi. Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar. Prenada Media Grup. Etter. Tanda-Tanda Dan Keajaban Tuhan. Yayasan Kalam Hidup. Renner. Penelahaan Alkitab Tentang Hidup Baru. BPK Gunung Mulia. Hidayat. Memandang Mijizat Penyembuhan Dalam Terang Iman. Studia Philosophica et Theologica, 18 no 1, 56. Hunter. Menyembuhkan Orang Sakit. Yayasan Kalam Hidup. Ch Abineno. Penyakit Dan Penyembuhan. BPK Gunung Mulia. Kombong. Injil Dan Tongkonan: Inkarnasi. Kontekstual,Transformatif. Gunung Mulia. Mentari. Sikap Gereja Terhadap Sakit Penyakit Serta Tanggung Jawab Pelayanan Terhadapnya. Universitas Kristen Duta Wacana. Philip J. King dan Lawrenge E. Stager. Kehidupan Orang Israel Alkitabiah. BPK Gunung Mulia. Stevanus. Questioning The Concept Of Body Healing: A Theological Study. PASCA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, 17 no 2, 166. Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. Alfabeta. Th. Kombong. Manusia Toraja: Darimana Bagaimana-Ke Mana. Institut Theologia. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024